Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

YANG SUDAH BERLALU BIARLAH BERLALU

Posted by chanyan pada 2010/04/26

Oleh : Yoe Chandra
Editor: Chan Yan
Sejak kecil, kita selalu diajarkan untuk melupakan semua keburukan yang pernah kita terima. Kita diajarkan untuk melupakan perlakuan kasar kepada kita. Kita diajarkan untuk melupakan ketidakadilan yang menimpa kita.
“Tapi itu kan mainanku, mengapa dirampas lalu dirusak?”
“Yah, biarkan sajalah. Mungkin orang tuanya tidak mampu beli. Nanti kita beli lagi yang baru ya…”
Ketika kita diajarkan melupakan semua keburukan yang kita derita, sebetulnya kita diajarkan untuk menjadi seorang yang penyabar dan pemaaf!
Mereka yang memendam kebencian di dalam dirinya dan berpikir: “Ia telah menyiksa diriku, ia telah memukul tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan telah merampas barang-barangku”, maka kebencian tidak akan lenyap dari batinnya. (Dhammapada syair ke-3)
Memang ada juga yang tidak mengajarkan demikian, mungkin disebabkan oleh faktor orang tua yang kurang pengetahuan.
Namun bagi orang tua yang berpendidikan, umumnya cenderung mengajarkan demikian.
Sering juga kita diajarkan untuk melupakan semua keburukan yang pernah kita lakukan. Tujuannya supaya kita tidak mengulangi perbuatan buruk itu kelak. Memang mulanya kita akan ditegur agar bisa membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Tetapi sesudahnya, perbuatan buruk kita itu tidak akan diingat-ingatkan kembali, terkecuali pada saat kita akan mengulanginya. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu.
Sebaliknya, sekali-kali kita diajarkan untuk tidak melupakan begitu saja kebaikan yang pernah kita terima. Kepada orang tua yang telah bersusah payah membesarkan kita, dan juga kepada teman-teman yang mengulurkan tangan dikala kita susah. Hutang budi itu bukan dimaksudkan agar kita menjadi terbebani, tetapi supaya kita tidak sampai berbuat jahat kepada mereka dan mampu berbuat kebajikan pada mereka jika saatnya tiba.
Berkenaan dengan balas budi orang tua, Sang Buddha mengatakan, “…seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan – orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.” (Anguttara Nikaya II,iv,2)
Umumnya orang tua menginginkan anaknya lebih hebat, lebih berprestasi, menjadi orang yang lebih berguna. Sejak kecil, kita didorong untuk menabung, berdana, menyayangi makhluk hidup, melepaskan binatang, menolong orang yang sedang dilanda kesusahan, dan perbuatan baik lainnya.
Dengan menolong orang lain, tidaklah menghalangi kemajuan batin seseorang. Dengan menyadari apa yang terbaik bagi dirinya ia akan mempercepat tercapainya tujuan yang lebih mulia. (Dhp 166)
Oleh karenanya, kita didorong untuk terus berbuat baik. Namun, sejak kecil kita sangat jarang sekali diajarkan untuk melupakan semua kebaikan yang pernah kita lakukan. Hampir tidak pernah disinggung supaya setelah itu kita harus melupakannya. Perlukah melupakan semua kebaikan itu?
Secara umum, kita tentu sepakat bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan menghindari perbuatan buruk. Tapi satu yang istimewa dalam Buddha Dharma, kita tidak hanya diajarkan untuk menghindari keburukan dan melakukan kebaikan, tapi juga “melupakan” dan “tak mempermasalahkan” keduanya!
Lepaskan masa lalu, lepaskan masa depan, lepaskan masa kini. Mendekati akhir dari tumimbal lahir, dengan batin terbebas dari semua yang berkondisi (saling bergantungan), anda tidak akan terlahir lagi dan tidak akan mengalami kematian (kehancuran) lagi. [Dhp 348]
Ketika kita diajarkan untuk melupakan semua kebaikan yang telah kita lakukan, sebetulnya kita diajarkan untuk menjadi seorang yang RENDAH HATI, tiada sombong dan IKHLAS, tanpa pamrih, tidak munafik!
Setelah seseorang brahmana membunuh ibu (kemelekatan), ayah (keangkuhan atau kesombongan), dua raja (pandangan tentang hidup kekal dan pemusnahan diri); setelah menghancurkan kerajaan (kemelekatan pada nafsu indria), termasuk para pengikutnya (objek-objek yang berhubungan dengan nafsu indria), maka ia dapat pergi bebas tanpa beban perasaan (maksudnya arahat). [Dhp 295]
Jika demikian halnya, marilah kita hindari perbuatan buruk, terus lakukan perbuatan baik. Kemudian lupakan. Setelah itu, kita kembali hindari perbuatan buruk, terus lakukan perbuatan baik. Kemudian lupakan. Demikian seterusnya. Akhir kata, selamat mencoba.***
[artikel jadul]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: