Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Sila, Perumah Tangga dan Bhikkhu

Posted by chanyan pada 2010/04/29

Oleh : Hananto 

 

Setelah mendengar dari Sang Buddha bahwa syarat untuk bertahan lamanya Sasana di dunia ini adalah (ajaran) Dhamma dan Vinaya, sementara Dhamma telah diajarkan, Sariputta Thera mengajukan usul kepada Sang Buddha agar segera menetapkan peraturan kedisiplinan (Vinaya) terhadap para bhikkhu. Saat itu, Sang Buddha belum memandang perlu karena belum ada alasan yang kuat untuk itu. Baru setelah ada alasan yang kuat dan saatnya juga tepat, maka Sang Buddha mulai menetapkan peraturan kedisiplinan setahap demi setahap, sesuai dengan kejadian-kejadian yang muncul.

Penetapan peraturan kedisiplinan (Vinaya) tersebut biasanya didahului oleh protes atau celaan perumah tangga yang melihat perilaku seorang bhikkhu yang tak pantas.

Jadi, dalam hal ini, peran para perumah tangga amat penting bagi ditetapkannya Vinaya oleh Sang Buddha.

Begitupun, setelah peraturan-peraturan kedisiplinan telah ditetapkan, peran perumah tangga tetap diperlukan untuk membantu mengontrol dan meluruskan tingkah laku salah dari para bhikkhu yang dengan sengaja maupun tidak sengaja dilakukan. Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara umat Buddha (upasaka/sika, bhikkhu, termasuk samanera dan bhikkhuni) untuk mencapai kemajuan bersama.

Masing-masing pihak tidak selayaknya menyalahgunakan peran – peran tersebut, misalnya: upasaka/sika tanpa pengetahuan Vinaya yang cukup, hanya bisa mencela dan memprotes perilaku seorang bhikkhu yang ‘dianggapnya’ salah. Apalagi terhadap seorang bhikkhu yang tidak disenangi. Atau sebaliknya, selalu membela dan menutup-nutupi kesalahan pelaksanaan Vinaya seorang bhikkhu idola. Atau, upasaka/sika bersikap acuh tak acuh (cuek) terhadap apapun yang dilakukan seorang bhikkhu karena takut berbuat akusala-kamma bila memperingatkan seorang bhikkhu. Dan menganggap itu bukanlah urusannya, sebab dunia bhikkhu seperti dunia dewa di kahyangan yang tertutup bagi perumah tangga.

Begitupun bagi para bhikkhu. Lebih senang berceramah tentang doktrin Dhamma yang tinggi-tinggi daripada menerangkan bagaimanakah Vinaya kebhikkhuan itu. Menganggap Vinaya adalah mutlak urusan para bhikkhu. Bila sampai upasaka/sika mengerti tentang Vinaya, khawatir hanya dipakai untuk ‘memukul’ para bhikkhu. Merupakan kecurigaan yang berlebihan. Memang ada bagian Vinaya kebhikkhuan yang tidak perlu diketahui oleh perumah tangga. Namun ada pula yang perlu diketahui oleh perumah tangga.

Dan banyak misal-misal lain yang tidak menunjukkan etikat kerja sama yang baik antar perumah tangga dan para bhikkhu. Amat tidak etislah bila kerja sama antara mereka hanya sebatas pada dukungan materiil (tempat tinggal, jubah, makanan dan obat-obatan) dari perumah tangga kepada para bhikkhu. Atau para bhikkhu membangun vihara yang megah (dananya tetap dari para perumah tangga) untuk kegiatan keagamaan bagi para bhikkhu maupun perumah tangga. Kerja sama sebatas ini hanyalah akan membawa kemerosotan pada kedua belah pihak.

Berikut ini adalah salah satu dari sekian banyak contoh peran perumah tangga dalam penetapan Vinaya kebhikkhuan yang dikutip dari Vinaya Pitaka, Culavagga bagian kedua:

Suatu kali, di Rajagaha ada keramaian yang diadakan di atas gunung. Kelompok bhikkhu Chabbaggiya pergi melihat keramaian itu. Penduduk desa mencela dan mengkritik perbuatan mereka: ‘ Kenapa para samana sakyaputta itu pergi melihat orang-orang menari, menyanyi dan main musik seperti layaknya perumah tangga yang senang bersuka ria menikmati nafsu duniawi. ‘ ……………..

Mendengar itu, Sang Buddha memerintahkan untuk mengadakan pertemuan Sangha. Lalu bertanya kepada para bhikkhu: ‘ Wahai para bhikkhu, terdengar berita bahwa bhikkhu Chabbaggiya pergi menonton keramaian, orang menari, menyanyi dan main musik. ‘ ……………..

‘ Wahai para bhikkhu, seorang bhikkhu tak layak pergi menonton keramaian, orang menari,menyanyi dan main musik. Barang siapa melakukan itu, melanggar vinaya dukkata. ‘

Bila dilihat sepintas lalu, betapa usilnya para perumah tangga mencampuri urusan para bhikkhu. Kenapa mereka tidak membiarkan saja apa yang diperbuat oleh para bhikkhu. Toh ada Sang Buddha yang bertanggung jawab atas pendidikan para bhikkhu. Beliau bisa tahu dengan mata dewa-Nya segala perbuatan para bhikkhu.

Namun, yang dilakukan para perumah tangga itu sebenarnya merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap kebaikan para bhikkhu dan kebaikan BuddhaSasana. Pada pandangan mereka, bhikkhu adalah sosok yang patut dihormat, bhikkhu adalah pertapa yang tingkah lakunya seharusnya berbeda dengan para perumah tangga. Pergi menonton keramaian, menonton tari-tarian, menonton orang menyanyi dan main musik, apalagi ikut menyanyi, main gitar dan mengarang lagu bukanlah perbuatan yang baik bagi para bhikkhu. Bukan pula perbuatan yang baik bila seorang bhikkhu menonton sepak bola, film silat, dan lain-lain di TV. Itu semua termasuk yang dilarang oleh Sang Buddha.

Seorang pertapa seharusnya mengerjakan tugas-tugas kepertapaan mereka terlebih dulu sebelum pekerjaan lain yang patut mereka kerjakan. Bukan sebaliknya!

Maka, begitu melihat ada bhikkhu yang tidak mengindahkan lagi tugas-tugas kepertapaan, para perumah tangga yang kritis mencela dan memprotes perilaku itu. Bahkan, ada pula yang mengadu langsung kepada Sang Buddha.

Tapi, kini Sang Buddha telah tiada. Tiada lagi tempat mengadu. Memang, Sang Buddha telah berpesan, Dhamma dan Vinayalah sebagai pengganti Beliau setelah Beliau parinibbana. Tapi, itu hanya berlaku bagi umat Buddha yang mempunyai saddha dan panna yang tinggi. Selain mereka, umat Buddha yang lain masih perlu melestarikan tradisi sehat semasa Sang Guru masih hidup, yaitu saling mengingatkan dan memperingatkan demi kemajuan bersama dan demi lestarinya agama Buddha.

Untuk itu, seluruh umat Buddha dituntut untuk melakukan reposisi dan menambah pengetahuan tentang Dhamma dan (terutama) Vinaya.

Dunia bhikkhu bukanlah dunia dewa dari kahyangan. Dunia perumah tangga bukanlah dunia umat manusia di Arcapada. Seluruh umat Buddha, upasaka/sika (termasuk anagarini) dan bhikkhu (termasuk samanera) bisa saling bahu membahu demi kemajuan bersama sesuai dengan khitah yang digariskan Sang Guru Agung Buddha Gotama.

Seperti pada jaman Sang Buddha, perumah tangga berhak mengingatkan dan memperingatkan para bhikkhu yang tindakannya tidak sesuai dengan Vinaya. Untuk itu, perumah tangga, haruslah menambah pengetahuan tentang Vinaya kebhikkhuan di samping Sila dan Dhamma bagi dirinya sendiri.

Para anggota Sangha bertindak sesuai posisinya, yaitu pertapa. Tidak bertindak sebagai paranormal, dukun pengobatan, peramal, hongsui, biro jodoh dan lain-lain. Sebab, itu semua bukanlah tugas para bhikkhu. Itu semua disebut sebagai tiracchanavijja (ilmu kebinatangan).

Alangkah hinanya agama Buddha ini bila pertapa-pertapanya mempraktekkan ilmu kebinatangan, suatu perbuatan yang melanggar Vinaya.

Perumah tangga yang baik, juga tidak akan memaksa orang-orang yang patut dihormat, sebagai ladang berbuat jasa, untuk melakukan hal yang hina atau pelanggaran Vinaya yang lain dengan alasan demi ‘umat’ .

Demi kejayaan dan lestarinya BuddhaSasana, mari kita bangun sistem kerja sama yang baik dan sehat di antara perumah tangga dan para pertapa (bhikkhu). 

***

Dalam kesempatan mendatang, akan diuraikan peraturan-peraturan (Vinaya) kebhikkhuan yang patut diketahui oleh perumah tangga, guna bisa membantu para bhikkhu melaksanakan praktek-praktek kepertapaan dengan tenang dan lancar sehingga mampu menjadikan dirinya sebagai Supatipanno (bertindak baik), Ujupatipanno (bertindak lurus), Nayapatipanno (bertindak benar), Samacipatipanno (bertindak patut), ladang untuk berbuat jasa yang layak bagi perumah tangga.

***

‘Seperti halnya bulan dan matahari yang menyuram (tidak cemerlang, tidak gemilang, tidak gemilau cahayanya) karena empat hal, yaitu kabut, embun, asap, dan gerhana; demikian pula halnya pertapa dan brahmana niscaya akan menyuram (tidak cemerlang, tidak gemilang, tidak gemilau cahayanya) karena empat hal, yaitu peminuman minuman keras, pemuasan nafsu birahi, penerimaan serta penggunaan emas dan perak, dan penghidupan salah. ‘

Mangala Berkah Utama (I)
hal. IX-40, LPD

 

[Samma-Ditthi, edisi 1, Juni 2000, SILA]

Iklan

3 Tanggapan to “Sila, Perumah Tangga dan Bhikkhu”

  1. cakureh said

    tes tes kok cuman tes doank bro..lam kenal

  2. williamhalim said

    Bro… mohon izin copas soal bhikkhu menonton, untuk didiskusikan di DC

  3. williamhalim said

    anumodana Bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: