Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Menjelang Menjadi Samana (1)

Posted by chanyan pada 2010/04/30

Oleh : Luang Pho Jah Subhaddo
Vat Nhong Pah Phong
Ubol Rajathani
Thailand

(Diterjemahkan oleh: Hananto) 

Luang Pho Jah, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Acharn Chah adalah salah satu dari murid Acharn Man Bhuridatto. Vihara  beliau mempunyai puluhan cabang di Thailand dan beberapa di luar negeri, diantaranya di Inggris. Seperti murid Acharn Man lainnya,  beliau melaksanakan dan mengajarkan Vinaya kebhikkhuan dengan ketat. Begitupun dengan pelaksanaan Dhutanga. Beliau  dikenal sebagai seorang bhikkhu hutan dan guru meditasi/bhavana yang tenar di Thailand. Beliau  mengalami  kelumpuhan  dan  dalam keadaan tidak sadar selama kurang lebih 15 tahun, yang kemudian meninggal dunia pada usia 75 tahun  beberapa  tahun  yang  lalu. 

———————-

Hari ini saya akan memberi ceramah khusus bagi para bhikkhu dan samanera.

Harap kalian mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Hal yang akan kita bicarakan dan pelajari ini, tiada lain adalah  tentang  pelaksanaan Dhamma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari.

Harap kalian mengerti dan camkan bahwa saat ini kita adalah seorang pabbajita, seorang yang telah ditahbiskan  menjadi  bhikkhu  atau menjadi samanera. Kehidupan sebagai perumah tangga telah kita lalui, suatu kehidupan yang penuh dengan  kesibukan  dan kurang mempunyai kedisiplinan diri yang ketat. Oleh karena itu, sesudah kita beralih pada  kehidupan  seorang  samana di dalam Buddhasasana, seharusnyalah kita merubah nuansa batin kita yang telah berbeda dengan  kehidupan  perumah tangga.

Cara berucap dan berbicara, cara bertindak dan berlaku, maupun cara makan dan minum haruslah sesuai, selayaknya  seorang  pabbajita atau samana yang penuh dengan keheningan dan pengendalian yang baik. Berbeda dengan sebelumnya, saat sebagai perumah tangga yang tak mengerti tentang istilah samana yang berarti hening; membiarkan pikiran  tanpa  kendali,  terlarut menuruti kilesa dan tanha.

Saat mendapat keuntungan dan kesenangan, pikiran pun terlarut dalam kegembiraan. Saat mendapat kerugian atau  kesedihan,  pikiran pun terlarut dalam kedukaan. Pikiran yang masih selalu terombang-ambing di antara emosi seperti itu, menunjukkan  bahwa pikiran belum terlatih dengan baik. Belum mempunyai tempat berlindung. Seseorang yang mempunyai  batin yang demikian, hanya bisa membiarkan pikirannya mengembara di antara kegembiraan, hura-hura  maupun  kesedihan, duka nestapa atau keluh kesah tanpa perenungan dan penganalisaan.

Di dalam Buddhasasana, bila seseorang telah ditahbiskan sebagai bhikkhu maupun samanera, haruslah mengenakan jubah kuning  yang merupakan lambang kejayaan para Ariya. Lambang kejayaan Sang Buddha dan para Arahat.

Seseorang yang telah ditahbiskan dalam Buddhasasana, berarti menggantungkan diri pada warisan Sang Buddha, Sang Tathagata,  sehingga mendapat sarana untuk mempertahankan kehidupannya, seperti, senasana (tempat tinggal) yang disediakan  atas kebaikan hati para perumah tangga. Makanan pun tak perlu memasak sendiri. Begitu pula obat-obatan dan jubah.  Semua karena parami Sang Buddha yang memungkinkan untuk itu.

Namun, seseorang yang telah ditahbiskan dalam Buddhasasana, barulah diumpamakan sebagai bhikkhu. Bhikkhu  dalam perumpamaan, belum sebagai bhikkhu yang sebenarnya. Dalam arti, hanya secara lahiriah  telah  menjadi bhikkhu. Hanya jasmaninya sebagai bhikkhu, dengan kepala gundul dan mengenakan jubah kuning.  Inilah yang disebut : ‘bhikkhu masih dalam perumpamaan, belum sebagai bhikkhu yang sebenarnya’ .

Ibarat sepotong kayu besar yang dipahat menjadi Buddha rupang, diumpamakan sebagai Sang Buddha. Itu hanyalah  diumpamakan,  bukan Sang Buddha yang sebenarnya. Begitu pun terhadap sebongkah emas, kuningan, tembaga, timah, batu  ataupun gips yang dibentuk menjadi Buddha rupang. Itu hanyalah diumpamakan sebagai Sang Buddha, sama sekali  bukanlah Sang Buddha yang sebenarnya.

Begitu pun kita para bhikkhu. Begitu diupasampada, bukanlah berarti telah menjadi bhikkhu. Hanya  diumpamakan  sebagai bhikkhu, bukan bhikkhu yang sebenarnya. Karena, metta, karuna, mudita dan upekkha  belum muncul dengan sempurna dalam batin. Batin belum bersih. Lobha (keserakahan), dosa (kemarahan dan dendam) dan moha (kebodohan dan keras kepala) masih dengan kuatnya  menghalangi  kemunculan  ‘bhikkhu’ dalam batin. Sebab, pikiran telah dikuasai anggapan bahwa ketiganya telah ada dan telah berurat  berakar sejak dulu. Sejak kehidupan-kehidupan lampau dan memberi kehidupan hingga kini.

Karenanya, bila batin masih dalam keadaan begini, walau telah diupasampada, seseorang masih  belum  bisa  disebut  sebagai bhikkhu. Baru diumpamakan sebagai bhikkhu, karena masih dalam kekuasaan lobha, dalam kekuasaan  dosa dan dalam kekuasaan moha.

Kalau benar-benar telah menjadi bhikkhu, ia harus mengeluarkan keserakahan, kemarahan dan dendam, mengeluarkan  kebodohan   dan  keras kepala dari batinnya. Bebas dari racun-racun yang jahat. Selama masih dikuasai racun yang jahat itu, ia tetap belum layak disebut sebagai seorang bhikkhu  atau  seorang  samana walau masyarakat  menyebutnya  sebagai bhikkhu.

Keluarkanlah racun jahat itu dari batin kalian. Hancurkanlah keserakahan. Hancurkanlah kemarahan dan dendam. Hancurkanlah  kebodohan dan keras kepala yang ada pada diri kalian. Kesemuanya itu telah menghambat, menghalangi  kita  untuk mencapai keheningan dalam kehidupan yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Bila keheningan batin belum mampu kita capai, kita belum patut disebut ‘samana’ . Karena, batin kita belum hening dari  keserakahan.  Belum hening dari kemarahan dan dendam. Belum hening dari kebodohan dan keras kepala.

Hanya dengan mempraktekkan atau melaksanakan Dhamma dan Vinaya dengan benar, batin kita bisa menjadi bersih, bebas dari racun, membuat kita patut disebut sebagai bhikkhu atau samana. Bukan sekedar bhikkhu  atau  samana dalam  perumpamaan.

Di dalam usaha membangkitkan ‘kebhikkhuan’ dalam batin kita, bukanlah hanya tergantung pada pikiran saja. Melainkan  juga  harus didukung oleh tindakan jasmani maupun ucapan. Ketiganya saling berhubungan. Sebelum tubuh melakukan  suatu  tindakan atau mulut mengeluarkan suatu ucapan, tentu berawal dari pikiran. Bila pikiran ingin melakukan sesuatu, tapi tubuh tak bergerak atau mulut tetap diam, berarti tak sesuatu pun terjadi. Ketiganya harus saling berhubungan dan saling mendukung.

Suatu perbuatan tentu didahului oleh kehendak pikiran.

Berbicara tentang keindahan (kelembutan dan kebersihan) batin, bisa diibaratkan dengan pembicaraan  tentang  sebatang  tiang kayu yang telah indah penuh ukiran yang artistik. Maksudnya, sebelum mendapatkan tiang kayu  dengan ukiran  yang  indah  (atau benda-benda lain yang terbuat dari kayu), terlebih dahulu kita harus menebang pohon di hutan. Memotong  cabang-cabang dan ranting-rantingnya yang tak diperlukan. Mengelupas kulitnya atau hal-hal yang kasar  lainnya  lebih dahulu, sebelum melanjutkan pekerjaan membentuk dan kemudian pekerjaan yang halus, seperti, mengukir  dan  memperindah sesuai dengan kehendak kita.

Begitu pun dalam hal membuat sebuah meja. Berawal dari menebang kayu di hutan, dibuat sebagai kayu gelondongan, dibelah menjadi papan, menjadi kaki meja, dan lain-lain. Dilanjutkan  dengan membentuk kemudian  merakitnya menjadi  sebuah  meja.  Dipahat, diukir dan diwarnai yang akhirnya menjelma menjadi sebuah meja yang indah dipandang mata. Padahal, sebelumnya hanyalah merupakan sebuah materi yang kasar.

Begitu pun dalam memperlakukan batin dan pikiran kita. Untuk membuat batin kita bersih dan cemerlang, Sang Buddha mengajarkan Sãla. Mengajarkan Samàdhi dan pa¤¤a. Ini merupakan cara, merupakan jalan menuju kesamanaan, menuju  kesucian.  Cara untuk mengeluarkan keserakahan, kemarahan dan dendam, kebodohan dan keras kepala dari batin kita. Kesemuanya  harus muncul dari Sila,dari Samadhi dan dari panna.

Tapi, jalan itu bukanlah jalan yang mudah. Kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal yang baik secara terus menerus.  Misalnya, dengan melaksanakan Sila dengan sebaik-baiknya, belajar dan mendengarkan Dhammadesana, membaca paritta maupun melaksanakan bhavana.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, merupakan usaha kita untuk menggosok, menyikat dan memoles pikiran kita hingga menjadi cemerlang. Kita perlu menggosok, menyikat dan memolesnya, karena biasanya pikiran kita  selalu  dikotori  oleh perasaan malas, lesu tak bersemangat. Kita harus membasmi perasaan malas dan lesu. Membangkitkan  semangat  dalam  melakukan kebaikan.

Membangkitkan semangat untuk melakukan kebaikan bukanlah hal yang mudah. Misalnya, bagaimana sulitnya kita  mengendalikan  pikiran dan tingkah laku yang dulu tak pernah terkendali. Bagaimana sulitnya  kita mengendalikan  ucapan  dan perkataan kita yang dulu tak pernah terkendali. Tapi, walau sulit bagaimanapun, kita harus melaluinya.

Murid-murid Sang Buddha, bhikkhu maupun upasaka-upasika yang telah mencapai kesucian, semuanya berasal dari puthujjana,  seperti kita. Punya mata punya telinga. Mempunyai badan jasmani, sukha vedana (perasaan senang), dukkha vedana (perasaan sedih), sanna (ingatan), sankhara (bentuk-bentuk pikiran) dan vinnana (kesadaran). Juga dikuasai oleh  keserakahan dan kemarahan. Persis seperti kita ini. Berasal dari petani, pedagang dan lain-lain. Pernah sibuk dalam  keduniawian.  Kemudian upasampada/tahbis menjadi bhikkhu dalam Buddhasasana. Belajar dan berlatih Dhamma untuk  mencapai kesucian. Kita adalah salah satu dari mereka.

Sila, Samadhi dan panna adalah cara untuk mencapai keberhasilan. Kita praktekkan Sila, kita berlatih Samadhi, kita  kembangkan  panna; semuanya kita laksanakan dalam diri kita. Di badan jasmani kita, di batin atau di pikiran kita. Sila kita ekspresikan di seluruh anggota tubuh kita. Kita kendalikan seluruh anggota tubuh kita dengan Sila. Gerakan kaki, gerakan tangan, gerakan mulut (berkata), seluruhnya kita kendalikan dengan Sila. Sesuai dengan Sila, sesuai dengan  Dhamma;  supaya jasmani, kaki, tangan tidak melakukan pembunuhan, pencurian, tidak melakukan perbuatan asusila. Mulut tidak berbicara kasar, memfitnah, menghasut tidak juga berbohong dan menipu. Tidak berbicara yang tak ada  manfaatnya.

Perhatikan dengan baik semua yang kita perbuat! Maka, ‘kita’ akan menjadi orang pertama yang tahu tentang  segala  perbuatan  yang telah kita perbuat, baik ataupun buruk. (‘kita’ : sebagai si ‘tahu’ , sesuatu yang tahu dan mempunyai penyadaran.  Dalam agama Buddha disebut Sati yang berpasangan dengan Sampajanna).

Kaki dan tangan tak akan tahu bahwa dia telah melakukan pembunuhan. Kaki dan tangan tak akan tahu bahwa dia telah melakukan pencurian. Mulut tak akan tahu bahwa dia telah berkata bohong, menipu, menghasut dan lain-lain. Jasmani tak akan tahu bahwa dia telah berbuat asusila. Tapi, ‘kita’ lah yang tahu. Sebagai seseorang yang tahu dan sadar, maka  seharusnya  ‘kita’lah yang mengajak pikiran dan jasmani untuk berbuat baik, menghindari perbuatan buruk/kejahatan. Sebelum berbuat sesuatu ‘kita’ akan tahu dan menyadarinya. Jadi, bila pikiran telah kita kuasai, tak akan sulit  untuk  mengendalikan  pikiran, mengendalikan jasmani, kaki, tangan maupun mulut. Maka, kita harus melatih Sati agar bisa  menguasai  pikiran. Karena, semua berawal dari pikiran.

Kita bisa merawat pikiran kita. Bisa membersihkan pikiran dari debu-debu kilesa yang kotor, hingga pikiran  menjadi  bersih  dan jernih. Seperti Dhamma Sala atau kuti kita yang setiap hari kita rawat, kita sapu, kita gosok. Tentu  kelihatan  bersih,  rapi dan indah, sedap dipandang mata.

Keindahan pikiran melebihi segala keindahan. ‘Adikalyanam majjhekalyanam pariosanakalyanam’ , indah pada awal, indah  pada tengah dan indah pada akhirnya. Semua itu karena Sila, Samadhi dan Panna yang indah.

Kepekaan dan keligatan dalam mengendalikan badan jasmani dinamakan Sila. Batin yang hening dan kokoh  dengan  pengarahan / pengendalian yang baik dinamakan Samadhi. Batin yang jernih terarah, ligat  dalam  penganalisaan dinamakan  panna.  

( Bersambung )

Peringatkan dan periksalah dirimu sendiri. O bhikkhu, apabila dapat menjaga diri sendiri dan memiliki penyadaran jeli, Engkau niscaya hidup dalam kebahagiaan.

Dhammapada XXV:379, LPD

[Samma Ditthi, edisi 1, Juni 2000, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: