Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dia Datang Menagih Hutang

Posted by chanyan pada 2010/05/01

Oleh: Nanda Kesawa

Mereka berkenalan dalam acara kebaktian di suatu Vihara. Saat itu, Bram baru pulang berlibur dari kuliahnya di Jerman. Dia mengambil jurusan desain pakaian jadi untuk mendukung perusahaan garment milik ayahnya.

Dan Ditta, sebagai aktivis pemuda-pemudi Vihara. Dialah yang bertugas mengatur kegiatan-kegiatan pemuda-pemudi Vihara; acara diskusi keagamaan, kegiatan sosial sampai acara hiburan dan rekreasi.

Dalam acara rekreasi di Kebun Raya minggu itulah, membuat keduanya bisa lebih saling dekat, setelah sebelumnya memang telah saling tertarik.

Di bawah sinar mentari pagi yang cerah serta kesejukan hawa pegunungan, Bram, dalam pandangan Ditta, bagaikan sosok ksatria Arjuna yang mengejawantah kembali ke bumi. Tampan, lembut, berwibawa dan bisa mengayomi.

Begitu pun bagi Bram, Ditta, bagaikan dewi Srikandi yang bijak, lincah dan ceria, diperuntukkan khusus baginya. Minggu itu, keduanya bagaikan Arjuna dan Srikandi yang sedang berceng-kerama, saling mengajuk dan saling membuka tabir hati.

Dalam kisah pewayangan, Srikandi adalah istri kedua Arjuna sesudah Subadra di samping istri-istri dan daun-daun muda lainnya. Arjuna, mungkin, bisa dibandingkan dengan James Bond yang mempunyai lisensi bebas berpacaran dan membunuh; dengan Ursula Anders atau gadis-gadis Bond lainnya.

Tapi dalam kisah ini, Bram bukanlah seperti Arjuna dalam kisah pewayangan, bukan pula seperti James Bond-nya Ian Fleming. Dia mempunyai cinta dan kesetiaan yang sejati. Dia hanya mau Ditta sebagai Srikandi satu-satunya baginya tanpa embel-embel Subadra, Larasati dan daun-daun muda lainnya. Jadi kesimpulannya, dia tidak mempunyai istilah perselingkuhan dalam kamus hatinya; setia seratus persen.

Singkat cerita, kedua sejoli yang bermodalkan cinta murni itu, membangun mahligai rumah tangga dengan direstui orang tua masing-masing. Mereka menempati sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas, penuh tanaman hias dan bunga-bunga yang indah bak taman Sriwedari di Sorga Loka.

Sebuah Mercy biru tua metalik khusus untuk Bram pergi ke kantor, mengendalikan perusahaan ayahnya yang kini menjadi tanggung jawabnya. Sebuah mobil lagi dengan seorang sopir, siap mengantar Ditta bila ia ingin bepergian. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Punya cinta dan punya harta yang melimpah. Membuat iri orang-orang yang hanya mempunyai cinta tapi tak mempunyai harta atau mempunyai harta tapi tak mempunyai cinta, apalagi bagi yang tak mempunyai cinta dan juga tak mempunyai harta. Lengkaplah sudah, derita ini!

Senyum dan kecup mesra Ditta selalu mengantar dan menyambut kedatangan Bram dari kantor setiap harinya.

Mahligai indah dan megah itu selalu penuh tawa keceriaan dan kemesraan dua sejoli itu. Demikian pun para pembantu dan sopir selalu kelihatan berseri atas kebahagiaan tuannya.

Setahun, dua tahun, keadaan itu masih bertahan dengan baik. Sampai lima tahun kemudian pun bunga kebahagiaan itu masih mekar indah walau desir angin sumbang mulai berhembus. Mulanya dari kawan-kawan seangkatan dengan perkawinan Bram dengan Ditta. Mereka telah mempunyai momongan satu atau dua orang, buah dari bunga cinta mereka. Bram dan Ditta sering mendapat pertanyaan :”Kok, tenang-tenang saja? Kapan punya momongan?” Ada lagi yang bertanya :”Apa nggak kesepian hanya berduaan terus?” sambil menyodorkan makhluk kecil berpipi montok, bermata kocak dan berbibir mungil, amat manis dan menggemaskan. Dalam dekapan Ditta, makhluk itu membuat hatinya hangat, penuh tarikan bahagia. Naluri keibuan Ditta pun muncul. “Alangkah bahagianya bila bisa mempunyai anak sendiri”, pikirnya.

Sebenarnya Bram dan Ditta pun telah lama merasakan ada sesuatu yang kurang beres, ada suatu kekurangan dalam keluarga bahagianya. Tapi mereka tak berani saling berterus terang, khawatir akan saling menyinggung perasaan. Kini, mereka harus saling terbuka, karena mereka berdua sebenarnya memang merindukan kehadiran malaikat kecil lambang cinta kasih mereka. Lebih-lebih orang tua Bram dan Ditta pun ikut mempertanyakan. Mereka telah ingin menimang cucu.

Sejak saat itu, mereka rajin memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Mereka juga berkonsultasi pada seorang seksolog kondang yang sering muncul di TV.

Setelah setahun kemudian belum juga berhasil, mereka pun meningkatkan usaha dengan memeriksakan diri pada para ahli di luar negeri. Namun anehnya, dokter-dokter ahli itu mengatakan, tak ada kelainan pada Bram dan Ditta. Mereka menasehati agar bersabar. Bram dan Ditta pun bersabar.

Kembali mereka menikmati madu kebahagiaan hanya berdua. Duduk berdua, makan berdua, nonton, bercanda ria dan jalan-jalan dalam maupun luar negeri berdua.

Sepuluh tahun telah berlalu. Mereka pun tetap bersabar karena mereka mempunyai cinta dan kesetiaan.

Tapi, ya ampun, lima belas tahun pun telah berlalu, bunga cinta itu pun masih mekar. Tetap sebagai bunga, tak pernah menghasilkan buah.

Maka, walau tetap mekar, keharuman yang merupakan kebahagiaan pun memudar. Tawa dan canda ria pun mulai berkurang. Para sopir dan pembantu pun kelihatan berwajah sendu. Bahkan taman bunga di halaman rumah pun kelihatan tak seindah dulu lagi – seiring gersangnya taman bunga di hati tuannya. Rumah besar dan megah itu kelihatan semakin lengang.

“Mas …..”, sapa Ditta saat Bram duduk di teras rumah dengan secangkir kopi di meja, senja itu. Ditta berdiri di belakang Bram. Kedua tangannya melingkar di leher kekasihnya, sambil mengusap-usap dada bidang itu. Bram tahu, Ditta tetap mencintai dan menyayanginya. Diraihnya tangan Ditta dan dikecupnya dengan lembut sebagai tanda kasih. Ditariknya Ditta, agar duduk di tangan kursi. Lalu, dipeluknya pinggang Ditta yang masih ramping, seramping pinggang Ditta lima belas tahun yang lalu. Madu cinta itu masih terasa manis dirasa Bram. Tak ingin rasanya berpisah dengan Ditta walau dengan alasan apapun juga.

“Tadi pagi aku bertemu dengan Sonia.”

“Lalu…”

” Dia baru datang dari shopping di luar negeri.”

“Lalu…”

“Kok, Mas, lalu, lalu terus.”

“’Kan aku ingin tahu kelanjutan ceritamu.”

“Begini Mas, mereka shopping ke Hongkong, Bangkok dan Singapur.”

“Kebetulan, bulan depan aku ada waktu senggang. Kita bisa pergi kalau kau mau”, sela Bram.

“Bukan begitu, Mas”, Ditta agak kesal, karena pembicaraannya disela terus sebelum maksud sebenarnya diutarakan.

“Maksudku…., kata Sonia, tak jauh di luar kota Bangkok, ada satu biara yang mempunyai patung Buddha keramat. Seseorang yang ingin tercapai cita-citanya, bila berdoa di depan patung itu, akan terkabul permintaannya.”, Ditta diam sejenak.

“Mmmm….Mas, kita telah berusaha ke sana ke mari, tapi tak berhasil. Kenapa kita tak mencoba ke tempat yang diceritakan Sonia? Siapa tahu kali ini kita berhasil.”

Kening Bram berkerut mendengar tutur Ditta. Sebenarnya, dia telah hampir melupakan keinginan untuk mempunyai anak, mengingat umur mereka yang telah beranjak tua.

“Ditta, aku kini telah empat puluh lima dan kau telah tiga tujuh. Wanita seumurmu akan menanggung resiko terlalu besar untuk melahirkan.” Diremasnya tangan Ditta.

“Tak menjadi soal bagiku, kita punya anak atau tidak. Yang penting kita selalu bersama.”

“Tapi Mas, apa salahnya kita berusaha sekali lagi, mumpung aku belum terlalu tua, …ya, Mas. Sekali ini saja,” kata Ditta manja.

Bram tercenung sejenak. Lalu……, “Baiklah, sekali ini saja.”

*******

Biara itu memang kelihatan angker dan sakral. Banyak pengunjung yang datang untuk meminta berkah dan keberhasilan hidup duniawinya. Setelah mengikuti upacara dan tata cara kunjungan, Bram dan Ditta pun berdoa agar mereka mempunyai keturunan, penerus nama keluarga yang mereka rindukan.

Dalam kekhusukan berdoa itu, terjadi sesuatu yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Dihadapan mereka, samar-samar muncul bayangan makhluk hitam dan lenyap seiring dengan kejapan mata mereka.

Muka Ditta kelihatan pucat karena takut. Namun Bram menghiburnya bahwa itu hanyalah illusi, walau dia sendiri juga merasa takut.

Dan Ditta pun kembali cerah setelah shopping di Bangkok. Bahkan, sekembali mereka ke Denpasar, peristiwa kecil itu telah mereka lupakan. Mereka kembali pada kehidupan mereka semula hingga suatu kejadian yang membuat mereka takut, datang lagi.

Senja itu, Bram dan Ditta sedang nonton TV di ruang tamu. Tiba-tiba terdengar gonggongan si Putih, anjing mereka. Tapi, suara gonggongan itu tak seperti yang biasa mereka dengar. Suara gonggongan itu, seolah-olah si Putih telah melihat sesuatu yang menakutkan, seperti lolongan anjing di film-film horor. Membuat bulu kuduk mereka berdiri. Tapi, tak berapa lama kemudian si Putih pun kembali tenang, tidur melingkar di bawah meja taman. Bram dan Ditta pun kembali asyik menikmati acara TV senja hari.

Namun, kembali mereka dikejutkan oleh sesuatu. Dari pintu depan, tiba-tiba muncul sesosok tubuh tinggi besar berkulit gelap. Sosok itu seolah-olah tak mempedulikan keberadaan mereka, terus berjalan menuju kamar tidur mereka, sambil menggumam : “Aku datang menagih hutang pada keluarga ini”, dan menghilang tepat di depan pintu kamar tidur mereka yang sedang tertutup. Desir angin dingin mengiringi lenyapnya sosok tubuh itu. Bram dan Ditta saling pandang. Lalu, dengan cepat Ditta memeluk Bram.

“Aku takut, Mas! Siapa orang itu tadi? Dan kemana dia pergi?”

“Tenanglah Ditta, aku akan cari ke dalam.” Bram berusaha menghibur. Bersama-sama para pembantu, mereka mencari orang misterius itu di setiap bagian rumah. Namun usaha mereka sia-sia.

Orang itu raib tak berbekas.

Sejak saat itu, Ditta selalu dihantui oleh perasaan takut dan cemas. Dia tak lagi ceria seperti dulu. Dia jadi penakut. Hanya untuk buang air kecil di malam hari saja, ia selalu membangunkan Bram untuk menemani. Padahal, ia tak perlu ke luar dari kamar mewah itu untuk mencapai toilet. Ditta ingin selalu ditemani Bram. Dan dia semakin manja saja. Tak bosan-bosannya dia bermanja-manja dan bermesraan dengan Bram sepanjang hari sehingga Bram merasa sebagai pengantin baru saja. Bram merasa heran atas kelakuan Ditta. Namun, di samping itu dia merasa amat berbahagia, menga-lami masa bulan madu kembali pada tahun perkawinannya yang ke enam belas. Hingga suatu hari Bram merasa perlu mengajak Ditta pergi ke dokter, karena telah beberapa hari ini Ditta merasa tak sehat, demam, pusing kepala serta muntah-muntah.

Dan apa kata dokter? Ditta positif hamil! Hal yang dianggap ajaib ini dengan cepat menyebar sebagai berita yang menggembira-kan. Berita yang membuat perasaan bahagia bagi keduanya, bagi kedua orang tua mereka yang telah renta, bagi para supir dan babu, juga bagi para sahabat dan kolega Bram.

Tapi, sejak kehamilannya, Ditta tak pernah lagi sehat. Dia selalu mempunyai keinginan yang aneh-aneh, yang bila tak kesampaian membuatnya sakit. Pernah ia mengajak berlibur ke Eropa padahal saat itu sedang musim dingin. Tentu saja hal ini membuat Ditta sakit dan harus selalu dalam perawatan dokter. Anehnya, dia tak mau diajak pulang. Dia memilih menderita bersakit-sakit tanpa alasan yang bisa diterima akal.

Pernah pula Bram harus pergi ke Thailand hanya untuk membeli buah-buahan yang diinginkan Ditta, karena di Indonesia sedang tidak musim.

Semakin tua kandungannya, semakin parah pula keadaan Ditta. Selama itu harus terus menerus berurusan dengan dokter. Entah telah berapa ratus juta rupiah telah habis untuk merawat dan menuruti keinginan Ditta. Bram harus banyak mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk merawat Ditta dan kandungannya.

Badan Bram yang dulu begitu tegap dan gagah, kini mulai mengurus dan terbongkok-bongkok digerogoti perasaan cemas terus menerus, membuatnya tak enak makan dan tidur. Dia tak bisa lagi sepenuhnya mengelola perusahaan, membuat roda perusahaan mulai gontai. Ia amat mencintai Ditta dan anak yang bakal dilahirkannya. Menguras habis perhatiannya, hingga lupa dan tak sempat memperhatikan hal-hal yang lain. Padahal, waktu sembilan bulan lebih kandungan Ditta hingga melahirkan, merupakan saat-saat penderitaan yang luar biasa bagi Bram dan juga bagi Ditta.

*******

Bram mengawasi anak muda kerempeng yang sedang turun dari BMW merah hati keluaran mutakhir. Mobil yang diminta Ditto, anaknya itu, sebagai pengganti Terano yang hancur karena terjun bebas ke dasar sungai Blongkeng di Magelang. Kecelakaan yang membuat banyak orang terheran-heran, karena pengendaranya hanya mengalami luka-luka ringan. Tapi, tidak bagi Bram. Kecelakaan fatal yang membuat mobil-mobil mewah Ditto hancur telah terjadi beberapa kali. Namun, Ditto tetap selamat.

Anak muda itu berjalan ke arahnya. Melewatinya, seolah-olah tak melihat ayahnya yang sedang duduk di serambi itu. Tak lama kemudian, Ditto pun ke luar menuju mobilnya dan menghilang bersama mobilnya itu.

Selalu begitu! Ditto berbicara dengan ayahnya bila ia perlu uang atau urusan-urusan yang berkenaan dengan itu.

“Kemana Ditto tadi, Mas?” tiba-tiba Ditta muncul dan bertanya.

“Entahlah, dia tak berbicara apa-apa”, jawab Bram seperti biasa. Jawaban yang selalu ia berikan pada Ditta ketika melihat Ditto datang dan pergi. Bram dan Ditta amat mencintai anak itu. Anak yang sejak dari kandungan hingga kini telah menghabiskan hampir seluruh kekayaan Bram. Tapi, Ditto begitu acuh dan cuek, seolah-olah tak mempunyai perasaan apa-apa. Tidak menunjukkan rasa sayang ataupun benci pada orang tuanya. Jarang berada di rumah. Entah apa saja kerjanya di luaran sana bersama teman-temannya. Pulang ke rumah bila ada sesuatu yang perlu diambilnya, atau meminta uang pada ayahnya atau meminta mobil baru bila mobilnya telah hancur, kecelakaan. Telah beberapa kali pula Bram harus menebusnya dari kantor polisi karena kedapatan mengkonsumsi narkotik atau terlibat dalan suatu perkelahian.

Ia tak peduli pada ibu dan ayahnya yang telah renta dan mulai sakit-sakitan.

Bila kehendaknya tak dituruti, ia tak marah atau berontak, tapi ia akan sakit, bahkan sakit parah, yang selalu mengundang rasa iba Bram dan Ditta. Tak ada yang bisa dilakukan Bram dan Ditta selain selalu menuruti permintaan Ditto. Tapi, kekayaan mereka yang dulu melimpah, bukanlah datang dari langit. Lambat laun harta mereka semakin habis. Perusahaan Bram pun telah bangkrut. Bram telah kehabisan akal, bagaimana caranya memberi pengertian pada Ditto. Karena, bila sekali lagi Ditto minta dibelikan mobil, tentu Bram tak mampu lagi menurutinya. Yang tersisa hanya rumah sederhana yang mereka tempati dan simpanan uang di bank yang hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Ditta, sebaiknya kita pergi ke biara itu lagi”, kata Bram memecah keheningan.

“Untuk apa, Mas?”

“Dulu kita pernah minta supaya mempunyai anak dan berhasil. Siapa tahu kini pun kita bisa tahu bagaimana mengatasi persoalan kita ini.”

*******

Biara itu tetap ramai oleh pengunjung seperti dulu. Tak ada kejadian yang berarti selama mereka berada dalam biara itu. Mereka ke luar dengan perasaan lesu dan putus asa.

Keesokan harinya, mereka bangun pagi, membeli makanan karena ingin berdana makanan pada para bhikkhu.

Di suatu jalan yang sepi, tiba-tiba muncul seorang bhikkhu tua yang sedang pindapata. Bram mempersilakan untuk menerima dana makanan. Setelah menerima dana, bhikkhu tua itu memandang mereka dan bertanya:

“Saya lihat wajah kalian mengandung kedukaan. Apa yang telah terjadi?”

Bram menjawab dengan bahasa Thai semampunya, apa yang membuatnya berduka. Tentang hidupnya, tentang anaknya.

Mendengar itu, bhikkhu tua itu tersenyum kecil.

“Dia datang menagih hutang. Dia menginginkan hartamu habis tak tersisa. Bicaralah padanya seperti kepada seorang penagih hutang. Katakan bahwa kalian minta maaf atas hutang-hutang kalian yang lalu. Mintalah keringanan padanya. Mudah-mudahan dia masih mempunyai perasaan belas kasihan pada kalian. Sesudah itu, jangan lupa melaksanakan ajaran Sang Buddha dengan baik.”  Bhikkhu tua itupun berlalu meninggalkan Bram dan Ditta terheran-heran dan termangu.

Mereka kembali ke Indonesia pada hari berikutnya.

Sesampai di rumah, dilihatnya Ditto duduk tepekur di ruang tamu. Bram tahu, pasti telah terjadi sesuatu. Benar saja!

“Pa, aku ditodong. Mobilku dirampas. Padahal, minggu depan aku ada acara ke Bandung bersama teman-teman.” Itu berarti, Ditto minta mobil baru lagi!

Bila tak ingat kata-kata bhikkhu tua itu, tentu jantung Bram ngambek saat itu juga. Ditta langsung masuk ke kamar, berjuang mati-matian agar jantungnya tetap mau berdetak. Kasihan suami istri tua itu!

Keesokan harinya, sesudah makan pagi, terlihat Ditto duduk di ruang tamu. Dengan hati-hati Bram dan Ditta duduk di hadapannya. Dikuatkannya hatinya untuk berbicara seperti yang dinasehatkan oleh bhikkhu tua itu.

“Saya ingin bicara…….”, Bram bingung dan ragu. Ditto tak menunjukkan perubahan apapun. Tenang tanpa ekspresi.

“Kami mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan-kesalahan kami masa lampau…..Kasihanilah kami. Kami telah tua. Harta kami hampir tak tersisa lagi. Kami mohon, anggaplah hutang kami telah lunas. Harta kami yang tersisa ini hanya cukup untuk menghabiskan masa tua kami.” Bram tak mampu berbicara lagi. Ditto pun tetap diam, seolah-olah tak sesuatupun telah terjadi. Lama ketiganya terdiam.

Suasana terasa semakin hening dan senyap.

Tiba-tiba Ditto berdiri, memandang kedua suami istri tua itu sejenak. Lalu, pelan-pelan berjalan menuju kamarnya meninggal-kan Bram dan Ditta termangu di tempat duduknya.

Sore harinya, ketika duduk-duduk di ruang tamu kembali, Bram dan Ditta dikejutkan oleh lolongan anjing mereka. Mereka teringat lolongan si putih, anjing mereka yang telah lama mati, dua puluh tahun yang lalu. Bulu kuduk mereka berdiri.

Tak lama kemudian, mereka melihat sesosok tubuh tinggi besar berkulit gelap ke luar dari kamar Ditto yang masih tertutup, melewati mereka diiringi desir angin dingin. Dan lenyap di pintu depan. Bram dan Ditta saling berpandangan. Napas Ditta tersengal-sengal sambil memegangi dadanya. Ketakutan!

Setelah Ditta agak tenang, Bram membimbingnya menuju kamar Ditto. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar itu. Ditto terbaring dengan tenangnya. Dirabanya tangan anak yang selama ini tak pernah bisa dimengertinya itu. Dingin. Tanpa napas, tanpa denyut jantung. Ditto telah meninggal.

Kedua suami istri tua itu lemas tak berdaya. Mereka terjongkok sambil saling berpandangan.

Bram dan Ditta tak tahu, harus bersedih ataukah harus bersenang……..

[Samma Ditthi, edisi 1, Juni 2000, KAMMA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: