Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Keluarga Sebagai Lembaga Perdana Bagi Pendidikan Anak-Anak

Posted by chanyan pada 2010/05/01

Beberapa tahun yang lalu merebak berita di koran-koran ibu kota maupun daerah tentang  tertangkapnya seorang  wanita  muda  cantik, bintang sinetron yang juga pernah menjadi pemain bulu tangkis nasional yang handal.

Wanita cantik itu kedapatan menyimpan pil-pil neraka yang oleh sementara orang disebut sebagai pil sorga, dalam  lemari  besi di rumahnya yang mewah. Selama ini ia telah dikenal sebagai gadis selebriti yang kaya dan terkenal di tingkat  nasional.  Namun, rupanya kebahagiaan yang selama itu dinikmati belum juga membuatnya puas. Maka, ia merasa perlu  untuk masuk kedunia narkoba. Namanyapun melambung ke dunia internasional. Bahkan, dinobatkan sebagai ratu ekstasi, walau  harus ditebusnya dengan mendekam di penjara wanita selama kurang lebih dua tahun.

Terbetik berita bahwa selama di penjara ia rajin ber-sembahyang, mengaji dan belajar Al Qur’an, mendekatkan diri pada  Tuhannya.

Dasar masih mempunyai keberuntungan yang baik. Sekeluar dari penjara, dengan mudahnya ia mendapat pekerjaan  sebagai  sekretaris seorang pengacara terkenal yang membelanya saat ia diadili dulu, sementara beribu-ribu orang berdemontrasi karena dilanda badai PHK dan lebih dari dua puluh juta orang tak mempunyai pekerjaan sejak bertahun-tahun. Maka, banyak orang merasa iri atas keberuntungannya itu. Juga mengira ia telah sadar, lalu menempuh  kehidupan  bahagia seperti sebelum menjadi ratu ekstasi.

Tapi, apa yang terjadi kemudian?

Beberapa waktu yang lalu, koran-koran kembali memberitakan tentang ditangkapnya ratu ekstasi itu untuk yang kedua  kalinya,  dalam kasus yang sama yaitu narkoba. Masyarakat benar-benar dibuat tercengang mendengar berita tersebut.

Itu hanya salah satu berita tentang kasus narkoba. Selain itu banyak lagi kasus-kasus pemuda-pemudi  kambuhan  korban  narkotika.  Sembuh, kambuh lagi. Sembuh dan kambuh lagi.

Ah, begitu tampan dan cantiknyakah kau, narkoba? Begitu erat dan mesranyakah pelukanmu, sehingga banyak dara  cantik  dan pemuda harapan bangsa, sulit bahkan tak mampu melepaskan diri darimu? Dan mengapa kebanyakan kaum  muda  harapan bangsa yang menjadi mangsamu? Mengapa tak kau renggut saja nyawa semua generasi tua yang korup, penyengsara bangsa?

Benarkah generasi muda adalah generasi yang bersalah hingga merekalah yang kau pilih untuk kau musnahkan?

Rasanya, bukan itu jawabnya.

Generasi muda adalah generasi yang masih labil dan lemah. Mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang  dan  pengarahan.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab dalam memberi perhatian, kasih sayang dan pengarahan? Tentu saja, para orang tualah  yang berkewajiban untuk itu. Tapi, apa saja kerja para orang tua selama ini hingga banyak anak-anak muda lepas  dari  perhatian mereka hingga ke luar jalur?

Inilah yang perlu dicermati!

Keluarga adalah lembaga perdana bagi pendidikan yang mendasari dan mewarnai batin anak-anak hingga mereka dewasa. Namun, bila orang tua lengah dalam memberi perhatian, batin mereka dengan mudahnya akan terimbas  warna-warna  buruk yang didapat dari pergaulan yang salah dalam masyarakat.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang mempunyai pengetahuan duniawi dan pengetahuan agama yang memadai, dalam  keluarga yang tenang dan bahagia. Juga tak kalah pentingnya adalah pandai membagi waktu.

Pengetahuan duniawi, bukan berarti ia haruslah seorang sarjana dari salah satu disiplin ilmu. Tapi, di samping mempunyai  tingkat pendidikan yang cukup, ia haruslah sebagai orang yang peka terhadap anak dan perkembangan masyarakat.

Seorang sarjana hukum dan pengacara terkenal seperti Henry Yosodiningrat pun masih kebobolan. Anaknya mengkonsumsi  narkotik,  hingga bapaknya kebakaran jenggot. Turun tangan sendiri, berperang melawan bandit-bandit pengedar narkoba, mengandalkan  kepalan tangannya yang keras.

Seorang jenderal TNI pun kebobolan. Konon, seorang anaknya ditangkap polisi karena kedapatan  menyimpan salah satu  jenis  narkoba.

Mempunyai pengetahuan agama, bukan berarti dia harus sebagai seorang sarjana ilmu agama atau sebagai pemuka  agama  yang  dihormati masyarakat, dan diundang ke sana kemari untuk memberi ceramah (hingga menjadi angkuh!). Bukan  pula  harus sebagai ketua suatu perkumpulan (besar) keagamaan yang dipilih masyarakat karena kekayaannya (lalu  menjadi  sewenang-wenang). Orang semacam itu pun anaknya bisa menjadi budak narkoba kambuhan!

Di samping mempunyai pengetahuan agama yang cukup, ia juga harus melaksanakan pengetahuan yang ia punyai itu  dengan  sebaik-baiknya. Tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak mencampuradukkan keduanya. Penuh  welas  asih,  pemaaf dan tidak mengumbar dendam kesumat dengan selalu curiga dan mencari kesalahan orang lain, mengabaikan  kesalahan  diri sendiri. Tak suka menghasut, menyebar gosip, isu-isu dan intrik-intrik yang membuat resahnya masyarakat. Orang yang suka menghasut, menyebar gosip, isu-isu dan intrik-intrik, tak layak disebut mempunyai  pengetahuan  agama yang cukup, walau dirinya sebagai pemuka agama.

Keluarga tenang dan bahagia artinya, walau tidak kaya raya, tapi diantara anggota keluarga selalu ada saling pengertian, saling menyayangi, selalu rukun, tidak sering cekcok.

Pandai membagi waktu dalam arti, tahu kapan harus bekerja mencari nafkah, kapan harus pergi berorganisasi dan bermasyarakat.  Kapan pula harus berkumpul dan berada di tengah-tengah keluarga, membina keharmonisan dan mendidik  anak-anak. Mencari nafkah adalah bagian yang penting bagi memenuhi kebutuhan materi keluarga. Tapi, materi  bukanlah satu-satunya syarat untuk mencapai kebahagiaan hingga melupakan keluarga. Begitupun, dalam  berorganisasi. Seseorang tak seharusnya terbuai, lupa diri, hanya karena menduduki posisi terhormat, tersanjung lalu  melupakan  keluarga dan anak-anak. Tahu-tahu anaknya telah menjadi korban narkoba kambuhan.

Seseorang seharusnya dengan bijaksana membagi waktu dalam keseimbangan yang tepat agar tidak mengorbankan  sesuatu  yang menjadi tanggung jawabnya.

Bila syarat-syarat kebaikan tersebut dipenuhi, niscaya anak-anak pun tak akan terjerumus ke dalam lembah hitam  narkoba  atau kejahatan yang lain.

Dan keluarga itu merupakan keluarga bahagia sejati.

[Samma Ditthi, edisi 1, Juni 2000, PUSPA RAGAM]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: