Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Pelecehan Terhadap Agama Buddha

Posted by chanyan pada 2010/05/02

Di kalangan umat Buddha, Sang Buddha Gotama adalah pendiri agama Buddha yang sangat dihormati dan dipuja. Beliau diyakini telah mencapai pencerahan agung dan menjadi seorang Buddha. Bagi umat Buddha, makna  kebuddhaan  memiliki  pengertian yang sangat tinggi dan mulia. Buddha adalah sebutan bagi seseorang yang telah sadar, seseorang yang telah  menaklukan kekuasaan lobha (keserakahan), kekuasaan dosa (kebencian) dan kekuasaan moha (kebodohan batin). 

Bertolak belakang dengan ungkapan di atas, belakangan ini, tampaknya ada orang yang sengaja menyalahgunakan  sebutan  Buddha dan bahkan telah melecehkan agama Buddha dan umat Buddha. Dalam harian Bali Post, tanggal 27 Desember 1999, dimuat berita tentang kecaman umat Buddha di Denpasar terhadap ulah pengusaha yang memberi  nama Buddha Bar sebagai nama tempat usaha sebuah bar-nya dan sekaligus memajang patung Buddha di depan  tempat  usahanya. 

Kasus pelecehan ini perlu kami angkat kembali karena masalah ini layak diketahui oleh umat Buddha sendiri. Berikut ini redaksi mengutip berita tersebut dari harian Bali Post dan juga memuat  tanggapan  Wient Hananto  dalam  surat  pembaca di harian tersebut. 

———— 

Pelecehan, Bar Pasang Patung Buddha 

Denpasar (Bali Post) – 

Beroperasinya sebuah bar di Jl. Dhyana Pura, Seminyak, Kuta, yang menggunakan nama Buddha Bar, diprotes  kalangan  umat  Buddha di Denpasar dan sekitarnya. Selain menggunakan nama Buddha, bar yang baru mulai beroperasi  Kamis  (23/12/1999)  lalu itu juga memasang patung Buddha besar di depan pintu masuk. 

“Ini sudah termasuk pelecehan. Masak bar yang dipakai tempat minum-minum dan mabuk-mabukan  memakai nama  Buddha.  Selain itu mereka malah memasang patung Buddha besar-besar di sana. Apa maksudnya?” ujar Sinatra, salah  seorang  umat Buddha yang tinggal di Kerobokan dengan nada kesal. 

Sinatra mengaku, sebagai umat Buddha merasa tersinggung karena tokoh yang dimuliakan justru  dijadikan nama  tempat  hura-hura. Apalagi ia mengaku melihat bagaimana para tamu atau wisatawan di sekitar patung Buddha yang dipajang di depan  bar itu. 

“Siapa tidak tersinggung. Saya yakin umat lain pasti juga akan marah jika tokoh yang dimuliakan dalam agama mereka  dipakai  nama bar, apalagi patungnya ikut dipasang di sana,” ujar Sinatra, pemilik Hotel Putri Duyung yang kebetulan  berlokasi  tak jauh dari tempat bar tersebut. 

“Boleh-boleh aja buka usaha, tetapi jangan sampai menyinggung umat beragama dong,” cetusnya sambil mengatakan, ia sudah  sempat menyampaikan keluhan kepada Diparda Bali. 

Dikatakan, berdasarkan informasi yang saya dapat dari Diparda, izin bar itu sendiri belum ada. Sebelumnya, bar yang dicat  dengan  warna dominan ungu dan bertuliskan warung tari itu bernama Sol Soteka, “Kalau sudah ganti nama, ganti  manajemen,   musti pakai izin baru. Ini izinnya sendiri tidak jelas,” tambah Sinatra. 

Sementara itu Ketua Walubi Bali Hindra Suarlim ketika dimintai konfirmasinya menyebutkan, sebelumnya ia juga sudah  mendengar  kabar beroperasinya bar yang menggunakan nama tokoh agama tersebut. “Sekarang saya sudah serahkan  masalah  ini kepada Walubi Badung untuk ditindaklanjuti,” ujar Hindra Suarlim. 

Sementara Ketua Walubi Badung Diyono Puji Hardjoko mengatakan, pihaknya sedang berencana  melakukan pendekatan  dengan  pemilik bar agar mau mengubah nama dan memindahkan patung Buddha yang ada di sana. Jika ternyata  tidak  ada   penyelesaian, barulah akan mengadukan permasalahan itu ke pihak berwenang, termasuk Depag maupun ke pemda. 

“Informasinya baru saya terima Sabtu lalu. Masalah ini tentu harus dirapatkan dulu oleh pengurus Walubi, dan tidak bisa  ditanggapi  secara emosional,” ujar Puji sambil menambahkan, pihaknya juga akan mengirimkan surat  keberatan kepada  pemilik  bar, yang tembusannya akan disampaikan kepada pihak terkait, termasuk ke DPRD. 

Puji juga mengatakan, apa dilakukan Buddha Bar memang sudah merupakan pelecehan. Karena bar itu memakai nama  Buddha,   sementara di dalamnya menjual minuman keras. “Ini jelah sudah bertentangan,” ujarnya. (adn) 

———— 

Surat Pembaca
Pelecehan terhadap Agama Buddha
 

Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Thailand dan umat Buddha Thailand, menuntut sebuah majalah porno Amerika yang memuat gambar patung Buddha yang sedang (maaf!) memegang kemaluan. Umat Buddha Thailand memenangkan  perkara  tersebut; yang mengakibatkan majalah porno tersebut harus meminta maaf melalui iklan di media massa dan membayar sejumlah besar uang. 

Perkara itu wajar dimenangkan oleh umat Buddha, karena merupakan pelecehan secara biadab dan keji terhadap  Umat  Buddha  Thailand, maupun Umat Buddha seluruh dunia. 

Rupanya, pelecehan terhadap agama Buddha terjadi pula di Bali, sebuah pulau wisata di Indonesia, yang terkenal di seluruh  dunia, seperti diberitakan oleh harian Bali Post tanggal 27 Desember 1999. 

Sebuah bar di Jl. Dhyana Pura, Seminyak, Kuta yang menggunakan nama “Buddha Bar” memajang patung Buddha di depan  pintu masuknya, diprotes kalangan umat Buddha di Denpasar dan sekitarnya. 

Bila berita itu memang benar, saya sebagai mantan seorang bhikkhu, merasa yakin dan pasti bahwa hal itu  merupakan  suatu  pelecehan yang biadab dan keji terhadap agama Buddha dan Umat Buddha di seluruh dunia, bukan hanya umat  Buddha  di Denpasar dan sekitarnya. Seluruh Umat Buddha di dunia pasti akan mengutuk perbuatan tersebut. 

Dengan ini saya mengimbau pada semua organisasi Buddhis yang berwenang untuk turun tangan  menyelesaikan perkara  pelecahan  tersebut dengan segera. Pemerintah pasti tak membiarkan hal itu begitu saja, demi saling hormat dan kerukunan  antarumat beragama. 

Kepada seluruh umat Buddha, terutama Umat Buddha Indonesia, saya imbau untuk tetap tenang dalam  menghadapi  pelecehan  dan usaha memecah belah atau mengacau ketenangan di kalangan umat Buddha. 

Sang Buddha mengajarkan “kesabaran”. Kita serahkan perkara ini kepada yang berwajib. 

Wient Hananto 

[Samma Ditthi, edisi 1,  Juni 2000, PUSPA RAGAM] 

Iklan

3 Tanggapan to “Pelecehan Terhadap Agama Buddha”

  1. Thomas said

    Sejujurnya, saya sangat prihatin dengan kondsi di Indonesia. Tak hanya sekedar pelecehan agama saja yang kerap terjadi, bahkan tindakan anarkis mengatasnamakan agama sering terjadi. Meskipun kemudian bayak disadari bahwa tindakan-tindakan semacam ini jika ditelaah lebih lanjut hanyalah kepentingan segelintir orang yang meminjam nama agama. Untuk kasus Budda Bar, mengapa orang harus membangun brand image dengan mengorbankan sesuatu yang dianggap sakral oleh sebuah agama? Rasanya langkah yang diambil sudahlah tepat. Saya sendiri seorang pengagum Budda meskipun bukan seorang beragama Budda. Kesabaran yang diteladankan oleh sang Budda merupakan contoh yang patut ditiru. Kita doakan saja semoga masalah ini segera selesai. Dan jangan kita menyimpan benci dan dendam.

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/14/membenci-itu-rugi/

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/07/memaafkan-adalah-kekuatan-yang-menyembuhkan/

  2. gerald said

    keterlaluan ..

  3. muhliscup said

    setan budha mah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: