Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Sangha Bhikkhuni

Posted by chanyan pada 2010/05/04

Oleh: Hananto

Dalam masyarakat Buddhis, kita mengenal adanya bhikkhu. Yaitu, seseorang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Mereka mengenakan jubah pertapa dan menggundul kepalanya. Semua dari mereka itu berjenis kelamin laki-laki. Lalu, adakah wanita yang menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa? Dulu, pertapa wanita yang biasa disebut sebagai bhikkhuni, memang ada. Namun, seiring dengan perjalanan sejarah dan kebenaran dari hukum anicca, pertapa wanita yang disebut bhikkhuni itu tidak lagi ada di dunia ini. Bhikkhuni pertama dalam Buddha Sasana ialah bhikkhuni Mahapajapati Gotami. Ia adalah putri Raja Suppabuddha dari Kerajaan Koliya. Ia adalah adik putri Siri Mahamaya, ibu Pangeran Siddhatta. Setelah Putri Mahamaya meninggal dunia, Mahapajapati Gotami menjadi ibu tiri Sang Pangeran. Ialah yang merawat dan membesarkan Pangeran Siddhatta.

Tulisan di bawah ini mengisahkan asal mula bagaimana Sangha Bhikkhuni terbentuk dan apa pula sebab kepunahannya.

Setelah Pangeran Siddhatta mencapai Kebuddhaan, banyak pangeran dan kerabat kerajaan Suku Sakya upasampada menjadi bhikkhu. Mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga, menyebabkan istri-istri mereka menjadi janda. Padahal, tidak sedikit diantaranya yang mempunyai istri lebih dari satu.

Selama itu, mereka belum berpikir untuk upasampada menjadi bhikkhuni. Namun, setelah Raja Suddhodana meninggal dunia, permaisuri Mahapajapati Gotami mengajak mereka menghadap Sang Buddha, mohon diupasampada menjadi bhikkhuni. Mereka berbuat itu karena berpikir bahwa tak ada gunanya lagi meneruskan kehidupan sebagai perumah tangga, karena mereka tak ingin mencari suami baru. Mereka adalah wanita-wanita bajik yang setia terhadap suami.

Kisah upasampada bhikkhuni tersebut tertulis dalam kitab Vinaya Pitaka jilid ketujuh Culavagga mulai dari bab 513 sebagai berikut:

(513) Saat itu Sang Buddha berdiam di Vihara Nigrodharama di Kota Kapilavastu. Lalu, datang Permaisuri Mahapajapati Gotami menghadap Beliau. Setelah menghormat dan mengambil tempat yang layak, ia berkata:

“Bhante, Saya mohon Bhante berkenan memberi upasampada pada para wanita (yang keluar dari kehidupan berumah tangga) menjadi pabbajita dalam Dhamma Vinaya yang Tathagata telah babarkan.”

Namun, Sang Buddha menolak dengan berkata:

“Wahai Gotami, janganlah merasa senang bahwa para wanita meninggalkan kehidupan berumah tangga dan upasampada sebagai pabbajita dalam Dhamma Vinaya yang Tathagata telah babarkan.”

Tiga kali Putri Mahapajapati Gotami mengulang permohonannya. Namun, Sang Buddha tetap menolak dengan jawaban yang sama.

Maka, Mahapajapati Gotami merasa berkecil hati dan kecewa. Dengan berlinang air mata ia menghormat dan berpamitan pada Sang Buddha.

(514) Kemudian, Sang Buddha mengadakan carika (pengembaraan) meninggalkan Kapilavastu menuju Kota Vesali dan beristirahat di Kutagarasala dalam Hutan Mahavana.

Ternyata, Putri Mahapajapati Gotami mengikuti perjalanan Sang Buddha itu. Kali ini permaisuri telah mencukur rambutnya hingga gundul serta mengenakan jubah pertapa dengan disertai para janda Suku Sakya yang suaminya telah upasampada menjadi bhikkhu.

Dengan telapak kaki yang telah membengkak karena perjalanan jauh dan badan penuh debu serta air mata berlinang karena kecewa, Sang Putri berdiri di balik pintu gerbang Sala.

Demi melihat itu, Bhikkhu Ananda datang menghampiri dan bertanya:

“Wahai Ibu Gotami, mengapakah Ibu sampai berlinang air mata dengan telapak kaki membengkak dan mengenakan jubah pertapa yang penuh debu?”

Sang Putri menjawab:

“Ya, Ayasma Ananda, Saya berbuat begini karena Sang Tathagata telah menolak memberi upasampada pada wanita sebagai pabbajita dalam Dhamma Vinaya.”

Mendengar itu, Bhikkhu Ananda berkata:

“Kalau demikian halnya, tunggulah Ibu disini. Saya akan menghadap Sang Buddha untuk memohon agar beliau mengijinkan wanita upasampada dalam Dhamma Vinaya.”

(515) Maka, Bhikkhu Ananda pun masuk menemui Sang Buddha. Setelah menghormat dan mengambil tempat yang layak, ia berkata:

“Bhante, Permaisuri Mahapajapati Gotami dengan kedua telapak kaki membengkak, badan penuh debu, berduka, kecewa, dengan air mata berlinang berdiri di luar karena Sang Tathagata tidak mengijinkan wanita upasampada sebagai pabbajita. Saya mohon ijinkanlah wanita upasampada sebagai pabbajita dalam Dhamma Vinaya yang Tathagata telah babarkan.”

Namun, Sang Buddha menolak dengan berkata:

“Ananda, janganlah merasa senang bahwa wanita meninggalkan kehidupan berumah tangga dan upasampada menjadi pabbajita dalam Dhamma Vinaya yang Tathagata telah babarkan.”

Bhikkhu Ananda mengulang permohonannya sebanyak tiga kali. Namun, Sang Buddha menolak dengan jawaban yang sama. Maka, Bhikkhu Ananda berpikir, bagaimana caranya agar Sang Buddha berkenan mengijinkannya. Lalu, mengajukan pertanyaan dengan cara lain:

“Bhante, apabila seorang wanita meninggalkan kehidupan berumah tangga dan upasampada sebagai pabbajita, apakah ia mampu mencapai penerangan Dhamma, sotapattiphala, sakadagamiphala, anagamiphala maupun arahattaphala?”

“Ananda, apabila seorang wanita meninggalkan kehidupan berumah tangga dan upasampada sebagai pabbajita, ia akan mampu mencapai penerangan Dhamma, sotapattiphala, sakadagamiphala, anagamiphala maupun arahattaphala.”

“Ibu Mahapajapati Gotami adalah seorang wanita yang amat berjasa terhadap Sang Tathagata. Beliau telah merawat Sang Tathagata, memberi air susunya sendiri. Beliau telah membesarkan Sang Tathagata dengan penuh kasih sayang. Mengingat itu semua, Saya mohon Sang Tathagata berkenan memberi upasampada pada beliau.”

(516) “Ananda, bila Putri Mahapajapati Gotami mau menerima 8 (delapan) garudhamma, maka berarti ia telah upasampada sebagai pabbajita (bhikkhuni). Apakah garudhamma itu, Ananda?

1.    Bhikkhuni, walau telah upasampada selama seratus tahun, harus menghormat (namakkara), bangun menyambut dengan hormat pada seorang bhikkhu walau baru upasampada pada hari itu. Bhikkhuni harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

2.    Bhikkhuni, tidak boleh bervassa di suatu tempat yang tidak ada bhikkhunya. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

3.    Bhikkhuni, harus menanyakan hari uposatha dan mendengar ajaran Dhamma dari Sangha bhikkhu setiap tengah bulan. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

4.    Bhikkhuni, setelah melaksanakan vassa, harus melakukan pavarana dalam Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

5.    Bhikkhuni, yang melakukan pelanggaran berat harus melakukan manata (pembersihan diri) pada Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

6.    Bhikkhuni, harus diupasampada dalam Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni, setelah dua tahun sebagai sikkhamana. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

7.    Bhikkhuni, tidak boleh berkata kasar pada seorang bhikkhu. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

8.    Bhikkhuni, tidak boleh mengajar bhikkhu. Tapi, bhikkhu boleh mengajar bhikkhuni. Harus menghormat peraturan ini dan tidak melanggarnya seumur hidup.

“Ananda, delapan garudhamma inilah merupakan upasampada bagi Putri Mahapajapati Gotami.”

(517) Setelah mendengar itu semua, Bhikkhu Ananda pergi menemui Mahapajapati Gotami untuk mengajukan syarat-syarat upasampada bagi putri.

Dan, ternyata Sang Putri menerima delapan syarat berat tersebut.

“Ayasma Ananda, saya menerima delapan garudhamma yang diajukan Tathagata. Tidak akan melanggarnya seumur hidup. Ibarat seorang remaja putri yang senang bersolek. Setelah mandi bersih-bersih, menerima Bunga Padma dan untaian melati yang harum dengan kedua belah tangan terbuka, dijunjung di atas kepala dengan perasaan hormat dan terima kasih.”

Setelah itu, Bhikkhu Ananda masuk kembali menghadap Sang Buddha dan mengatakan bahwa Putri telah upasampada karena telah menerima delapan garudhamma.

Dan Sang Buddha menanggapinya:

“Ananda, bila wanita tidak meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk upasampada sebagai bhikkhuni, Sasana akan berlangsung lama di dunia ini. Tapi, kini wanita telah upasampada sebagai bhikkhuni, maka Sasana tak akan bertahan lama di dunia ini. Ibarat suatu keluarga yang mempunyai banyak anggota perempuan, sedikit laki-laki, amat sulit untuk mempertahankan diri dari serangan perampok ganas. Untuk itu, ibarat seorang laki-laki membuat tanggul di sekitar kolam air sebagai penghalang agar air tak mengalir keluar, begitupun Tathagata mengharuskan delapan garudhamma tak boleh dilanggar seumur hidup oleh bhikkhuni.”

(519) Saat itu, Bhikkhuni Mahapajapati Gotami menghadap Sang Buddha. Setelah menghormat dan mengambil tempat yang layak, ia bertanya:

“Bhante, selanjutnya apa yang harus saya perbuat terhadap para wanita yang mengikuti saya?”

Sang Buddha menjawab dengan Dhammatika (penjelasan Dhamma). Lalu, memerintahkan para bhikkhu untuk meng-upasampada para wanita itu menjadi bhikkhuni, setelah Bhikkhuni Mahapajapati Gotami berpamitan pergi.

Maka, para bhikkhu pun melaksanakan upasampada para wanita pengikut Putri Gotami atas perintah Sang Buddha.

(520) Setelah itu para bhikkhuni baru itu berkata:

“Kami telah diupasampada oleh para bhikkhu. Tapi, Ibu Gotami belum di upasampada oleh para bhikkhu.”

Mendengar itu Bhikkhuni Mahapajapati Gotami menjadi ragu dan bertanya pada Ayasma Ananda. Bhikkhu Ananda pun menghadap Sang Buddha, menanyakan hal itu. Dalam hal ini Sang Buddha menegaskan kembali:

“Wahai Ananda, Putri Mahapajapati Gotami telah menerima delapan garudhamma. Saat itulah ia telah upasampada menjadi seorang bhikkhuni.”

Bila kita cermati sejarah munculnya Sangha bhikkhuni, maka bisa diambil kesimpulan, ada beberapa tahap perubahan cara upasampada bhikkhuni.

Pertama, dilakukan sendiri oleh Sang Buddha dengan memberikan garudhamma kepada Putri Mahapajapati Gotami. Upasampada ini dilakukan secara khusus hanya pada Putri Mahapajapati Gotami. Upasampada ini disebut Atthagarudhammapatiggahanupasampada. Sang Buddha tidak pernah lagi melakukannya pada wanita lain.

Kedua, dilakukan oleh para bhikkhu atas perintah Sang Buddha. Upasampada ini dilakukan hanya pada para wanita pengikut Putri Mahapajapati Gotami. Tidak dilakukan pada wanita lain sesudahnya.

Ketiga, setelah Sangha bhikkhuni terbentuk (dipimpin oleh Bhikkhuni Mahapajapati Gotami), upasampada yang dinamakan Atthavacikaupasampada dilakukan pada dua Sangha yaitu, Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni, sesuai dengan garudhamma yang harus dipatuhi oleh bhikkhuni seumur hidup. Upasampada ini dilakukan semasa Sang Buddha masih hidup hingga Sang Buddha Parinibbana dan sesudahnya. Sang Buddha tak pernah mengijinkan upasampada dengan cara lain.

Bila terjadi upasampada dengan cara lain, itu berarti telah melanggar ketentuan yang telah Sang Buddha tetapkan. Telah melanggar vinaya. Hasilnya, tentu saja bukanlah sebagai bhikkhuni seperti yang diterangkan dalam Tipitaka (Pali) bagian Vinaya Pitaka, Culavagga.

Begitupun Sangha Bhikkhu. Dalam perjalanannya, sejak kemunculannya, Sangha Bhikkhu mengalami beberapa tahap perubahan cara upasampada.

Pada awalnya, diupasampada oleh Sang Buddha sendiri dengan mengucapkan “Ehi bhikkhu, svakkhato dhammo cara brahmacariyam sammadukkhassa antakiriyaya”. ‘Datanglah wahai bhikkhu, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, laksanakan kehidupan suci untuk mengakhiri dukkha’. Disebut Ehi bhikkhu upasampada dan hanya dilakukan oleh Sang Buddha sendiri. Tidak oleh bhikkhu lainnya.

Kedua, upasampada yang dilakukan oleh seorang upajjhaya dengan menguncarkan Tisarana. Upasampada ini disebut “Tisaranagaman-upasampada“.

Ketiga, upasampada yang dilakukan oleh Sangha (dengan seorang upajjhaya, kammavacacariya dan anusavanacariya) dengan natticatutthakammavaca. Upasampada ini disebut “natticatutthakamma upasampada“. Cara ini dilakukan hingga saat ini. Sang Buddha tak mengijinkan upasampada dengan cara lain.

Bila terjadi upasampada dengan cara lain, itu berarti telah melanggar ketentuan yang Sang Buddha tetapkan. Telah melanggar vinaya. Hasilnya, tentu saja tidak bisa disebut sebagai ‘bhikkhu’ seperti yang telah diterangkan dalam TiPitaka (Pali) bagian Vinaya Pitaka.

Vinaya (kedisiplinan) bagi para bhikkhu maupun bhikkhuni diberlakukan oleh Sang Buddha seiring dengan perjalanan sejarah dan hukum ketidak-kekalan.

Kemunculan seorang Buddha di dunia ini bukanlah secara kebetulan.

Seorang Bodhisatta harus menunggu cukup lama di sorga Tusita hingga keadaan di dunia ini memenuhi syarat bagi kemunculan seorang Buddha, terutama kualitas batin manusia-manusianya.

Pada saat itulah Bodhisatta turun (terlahir) di dunia. Dan “dengan mudahnya” mencapai penerangan sempurna sebagai Samma-sambuddha dan ‘mentahbiskan’ dirinya sendiri menjadi seorang pertapa (bhikkhu) pertama dalam Buddha Sasana. ‘Dengan mudahnya’ Beliau meng-upasampada murid-murid-Nya dengan hanya mengucapkan: “Ehi bhikkhu” yang artinya “datanglah wahai bhikkhu”. Para savaka (murid) itu ‘dengan mudahnya’ mencapai kesucian arahat, anagami, sakadagami ataupun sotapanna. Bahkan, tidak sedikit yang mampu mencapai kesucian arahat sebelum di-upasampada menjadi bhikkhu.

Begitupun savaka-savaka perumah tangga. Cukup banyak yang ‘dengan mudahnya’ mencapai kesucian.

Semua berlangsung ‘dengan mudahnya’! Karena, saat itu manusia-manusia berjenis batin sempurna (ugghatitannu dan vipacitannu) bermunculan bertemu ‘nasib’ dengan seorang Sammasambuddha, diiringi oleh manusia-manusia berjenis batin neyya (masih mampu menerima ajaran) dan tentu saja oleh manusia-manusia padaparama (tak mampu menerima ajaran) sebagai bagian yang terbesar / terbanyak.

Saat itu, belum diberlakukan kedisiplinan (vinaya) terhadap para bhikkhu. Mereka boleh saja berbuat sesuka hatinya. Namun, tentu saja perbuatan mereka itu sesuai dengan kualitas batinnya yang luhur. Mereka memang tidak perlu dikenai pembatasan-pembatasan.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu; bagaikan musim buah yang ‘pasti’ tak akan berlangsung lama (terus menerus), karena masuknya orang-orang yang berjenis batin neyya dan padaparama ke dalam jajaran Sangha, serta lain-lain alasan sesuai dengan keperluan yang diketahui melalui mata Kebuddhaan-Nya, maka Sang Buddha mulai memberlakukan kedisiplinan kebhikkhuan (vinaya). Vinaya inipun mengalami perubahan-perubahan hingga mencapai titik sempurna, dan diberlakukan hingga kini dan selanjutnya.

Bagi para Arahat melaksanakan vinaya adalah sebagai penghormatan terhadap Dhamma dan memberi contoh pada yang lain. Bagi yang lain, melaksanakan vinaya adalah sebagai kelengkapan wajib untuk mencapai tingkat batin yang lebih tinggi, disamping samadhi dan panna.

Begitupun terhadap upasampada bhikkhu dan bhikkhuni yang memang termasuk dalam vinaya, mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keperluan yang dilihat melalui mata Kebuddhaan-Nya (bukan mata para siswa Arahat lainnya, apalagi mata siswa puthujjana). Sang Buddha ‘terpaksa repot-repot’ merubah cara upasampada. Yang lama (yang sederhana dan mudah) tidak diberlakukan lagi, diganti dengan yang baru (yang bertele-tele tapi relevan bagi masanya).

Dan akhirnya, tersimpulkan, natticatuttakammaupasampada sebagai upasampada bhikkhu, dan atthavacikaupasampada sebagai upasampada bhikkhuni. Kedua upasampada inilah yang relevan dilakukan hingga punahnya Buddha Sasana dari muka bumi ini kelak.

Sangha bhikkhuni telah punah mendahului Sangha bhikkhu. Tak mungkin lagi dilakukan upasampada terhadap wanita untuk menjadi bhikkhuni.

Kalau hanya berdasarkan kejadian-kejadian pada awal munculnya Buddha Sasana saja, tanpa mengindahkan perubahan-perubahan yang diberlakukan oleh Sang Buddha, seseorang boleh saja meng-upasampada diri sendiri menjadi bhikkhu. Karena, Pangeran Siddhatta pun meng-upasampada diri-Nya sendiri. Atau setiap bhikkhu boleh melakukan upasampada dengan Tisaranagamanupasampada. Atau menciptakan tata cara upasampada sendiri.

Dan, seorang wanita pun boleh saja menemui bhikkhu (hasil upasampada Sangha maupun yang meng-upasampada dirinya sendiri), minta di-upasampada menjadi bhikkhuni. Atau, lebih mudahnya lagi, dengan menyatakan diri menerima garudhamma seperti Puteri Mahapajapati Gotami. Atau menciptakan tata cara upasampada sendiri.

Untuk menjadi bhikkhu/bhikkhuni, seseorang tak perlu ‘repot-repot’ melalui tata cara upasampada yang ‘bertele-tele’. Dan tak perlu lagi mengindahkan kata Sang Guru. Maka, bertebaranlah bhikkhu dan bhikkhuni ‘swasta’ menghiasi Buddha Sasana ‘swasta’ di dunia ini.

Pada saat Asoka Maharaja berjaya, ia mengirim Dhammaduta ke Sri Lanka juga ke Asia Tenggara dan daerah-daerah lain. Dhammaduta yang pergi ke Asia Tenggara dan daerah lain tidak disertai oleh Sangha bhikkhuni. Karenanya, tidak pernah terdapat bhikkhuni di sana.

Mahinda Thera beserta Sangha Bhikkhu dan Sanghamitta Theri beserta Sangha Bhikkhuni meng-upasampada pria dan wanita Sri Lanka yang berminat.

Sangha Bhikkhuni sempat berjaya di sana. Namun, kemudian memudar dan akhirnya punah karena tak ada lagi wanita yang berminat upasampada menjadi bhikkhuni. Itulah saat terakhir keberadaan Sangha Bhikkhuni di muka bumi ini. Itu pula kenyataan yang terjadi.

Sangha Bhikkhuni telah punah dari muka bumi ini, bagaikan bibit (biji) suatu tanaman yang telah lapuk. Bisakah dikembangkan lagi?

Mengapa pula harus mengingkari Hukum Tilakkhana?

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, SILA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: