Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Sagata Thera

Posted by chanyan pada 2010/05/05

Bhikkhu Sagata berasal dari keluarga brahmana di kota Savatthi. Setelah mendengar Dhammadesana Sang Buddha, muncul keyakinan terhadap Buddha sasana dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu.

Kisah mengenai bhikkhu Sagata tersebut, tertulis dalam Vinaya Pitaka jilid 2/574, juga pada Vinaya Pitaka jilid 5/1 Mahavagga.

Saat itu, Sang Buddha pergi mengembara (carika) melalui pedalaman Cetiya dan bermaksud meneruskan pengembaraan ke desa Pagar Indah.

Para pengembala, petani maupun pejalan kaki, saat melihat beliau, bergegas menghampiri dan berkata :

“Bhante, bhante jangan pergi ke desa Penghasil Mangga, karena di desa itu ada seekor naga yang besar dan berbisa. Kalau bhante melewati desa itu, kami khawatir bhante akan celaka.”

Sang Buddha menanggapinya dengan berdiam diri.

Setelah sampai di desa Pagar Indah, Beliau beristirahat di sana.

Sementara itu, bhikkhu Sagata, seorang bhikkhu puthujjana (belum mencapai kesucian) yang menguasai jhana ke delapan, juga sedang dalam perjalanan pengembaraan, memasuki desa Penghasil Mangga. Karena kelelahan, ia mencari tempat istirahat yang sesuai. Tak jauh di depan sana, dilihatnya sebuah padepokan pertapa Jatila. Maka, ia pun menuju ke sana langsung masuk ke gedung pemujaan api yang dihuni oleh seekor naga besar dan sakti.

Bhikkhu Sagata mengambil rumput-rumput kering yang ada di sana dan mengaturnya untuk duduk istirahat. Dengan tenang ia duduk bhavana dengan badan tegak, siap untuk istirahat dalam jhana.

Namun, rupanya sang naga merasa tak rela ditemani oleh seorang pertapa yang berlainan kepercayaan dengan pertapa-pertapa Jatila yang memuja api dan memujanya. Dengan ganasnya, ia menyemburkan asap berbisa menyerang bhikkhu Sagata yang sedang duduk bhavana. Bhikkhu Sagata pun segera menciptakan asap berbisa untuk melindungi diri dan menyerang sang naga. Rupanya asap sang naga tak mampu menahan serangan asap ciptaan bhikkhu Sagata, membuatnya sulit bernapas. Lalu, ia menyemburkan api yang amat panas dan juga berbisa.

Dengan cepat, bhikkhu Sagata masuk ke dalam Tejodhatukasina samapatti, menciptakan semburan api melawan semburan api sang naga. Naga berusaha melawan dan menghindar dari kejaran api ciptaan bhikkhu Sagata. Namun, ke arah manapun ia menghindar dan mengelak, api ciptaan bhikkhu Sagata terus mengejar dan memanggangnya, membuatnya kehabisan tenaga. Akhirnya, sang naga terpuruk tanpa daya. Dan api ciptaan bhikkhu Sagata pun padam.

Sesudah mengalahkan naga, bhikkhu Sagata meneruskan perjalanan dan bergabung dengan Sang Buddha di kota Kosambi.

Para warga Kosambi yang mengetahui dan mendengar kesaktian dan kehebatan bhikkhu Sagata, terheran-heran dibuatnya. Untuk menghormati bhikkhu Sagata, mereka ingin berdana makanan khusus pada bhikkhu Sagata. Tapi, mereka tak tahu hendak berdana makanan atau minuman jenis apa. Lalu, mereka bertanya pada para bhikkhu.

Dan bhikkhu Chabbaggiya pun menjawab:

“Kalau begitu, berdanalah sura (minuman beralkohol) jernih yang berwarna merah bagaikan kaki burung dara. Karena, jenis minuman itu sulit didapat, dan tentu merupakan sesuatu yang khusus. Jenis minuman itu sangat disukai oleh para bhikkhu. Itulah jenis minuman yang sesuai dengan yang anda maksud. ”

Para warga kota Kosambi pun menyiapkan sura jernih yang berwarna merah bagaikan kaki burung dara.

Begitu melihat bhikkhu Sagata berjalan pindapata keesokan harinya, mereka mengundang dan mempersilakan minum sura. Keluarga di setiap rumah yang dilalui bhikkhu Sagata, mengundang dan mempersilakan minum sura juga.

Maka, sesampai di pintu gerbang kota, bhikkhu Sagata pun jatuh terpuruk tak sadarkan diri karena mabuk kebanyakan minum sura.

Kebetulan saat itu, Sang Buddha bersama para bhikkhu sedang berjalan melewati gerbang kota hendak meninggalkan Kosambi. Melihat tubuh bhikkhu Sagata terpuruk di tanah, Sang Buddha memerintahkan para bhikkhu untuk mengangkatnya ke Vihara.

Sesampai di Vihara, para bhikkhu meletakkan tubuh bhikkhu Sagata dengan kepala menghadap ke arah Sang Buddha. Tapi, bhikkhu Sagata dengan tidak sadar membalikkan diri, mengarahkan kedua kakinya ke hadapan Sang Buddha.

Melihat itu, Sang Buddha bertanya kepada para bhikkhu:

“Wahai para bhikkhu, biasanya Sagata amat menghormat dan menaruh rasa segan pada Tathagata, bukan?”

“Ya, memang begitu, Bhante,” para bhikkhu menjawab.

“Tapi kini, adakah rasa hormat dan segan itu dalam diri Sagata?”

“Bhikkhu Sagata tidak lagi mempunyai rasa hormat dan segan, Bhante.”

“Beberapa hari yang lalu, Sagata telah bertarung dengan naga di desa Penghasil Mangga, bukan?”

“Ya, Bhante.”

“Para bhikkhu, kini mampukah Sagata bertarung dengan seekor ular air sekalipun?”

“Tentu tak mampu lagi, Bhante.”

“Wahai para bhikkhu, air (sura) yang bila diminum membuat seseorang masuk ke dalam visannibhava (keadaan tidak sadar) itu pantas diminum atau tidak?”

“Tidak pantas, Bhante.”

“Para bhikkhu, perbuatan Sagata tidak layak dan tidak pantas dilakukan. Bukan kelakuan yang baik bagi seorang samana. Mengapa pula Sagata meminum minuman yang memabukkan. Kelakuan Sagata itu tidak membuat masyarakat yang belum mempunyai keyakinan terhadap sasana menjadi yakin. Dan tidak membuat orang yang telah mempunyai keyakinan terhadap sasana menjadi lebih yakin.”

Setelah itu, Sang Buddha memberlakukan peraturan: bhikkhu dilarang meminum minuman yang memabukkan. Barang siapa yang meminumnya, melanggar vinaya pacittiya.

Setelah kejadian yang memalukan itu, bhikkhu Sagata merasa prihatin dan malu. Sejak saat itu, ia rajin dan bersemangat berlatih bhavana.

Tak lama kemudian, ia mencapai kesucian Arahat. Dan menjadi salah satu dari delapan puluh siswa utama (Asitimahasavaka) serta etadagga dalam Tejodhatu samapatti.

Sebelum bhikkhu Ananda menjadi bhikkhu pembantu (upathaka) tetap Sang Buddha, tugas membantu ini dilakukan secara bergantian oleh para bhikkhu. Salah satu diantaranya yaitu Sagata Thera.

Suatu kali, saat Sagata Thera bertugas sebagai pembantu Sang Buddha, sekelompok masyarakat menemuinya dan berkata:

“Bhante, kami mohon perkenan untuk menghadap Sang Buddha.”

Bhikkhu Sagata menjawab:

“Baiklah, kalau demikian harap anda sekalian menunggu di sini sebentar. Saya akan memberi tahu Sang Buddha terlebih dahulu.”

Setelah berkata ini, bhikkhu Sagata langsung masuk (menyelam) ke dalam batu di mana ia duduk dan muncul kembali tepat di hadapan Sang Buddha. Setelah menghormat dengan patut, ia melaporkan bahwa ada sekelompok masyarakat yang ingin menghadap.

Mendengar itu, Sang Buddha pun berkata:

“Kalau begitu, siapkan tempat duduk untuk Tathagata di tempat yang teduh di belakang Vihara.”

“Baik, Bhante,” lalu kembali masuk (menyelam) ke bumi dan muncul kembali di depan orang-orang yang sedang menunggu.

Melihat kesaktian bhikkhu Sagata itu, mereka memuji-muji dan menghormatnya.

Tak lama kemudian Sang Buddha pun keluar dan duduk di tempat yang telah disediakan. Orang-orang pun langsung menghampiri Sang Buddha. Dan setelah menghormat dengan patut, mereka pun duduk di hadapan Sang Buddha, namun perhatian mereka hanya tertuju pada Sagata Thera. Tidak tertuju pada Sang Buddha.

Sang Buddha tahu isi hati mereka. Maka, Beliau berkata kepada Sagata Thera:

“Kalau demikian, Sagata. Tunjukkanlah iddhipatihariya (kesaktian) yang tak dipunyai oleh manusia biasa.”

“Baiklah, Bhante,” kata bhikkhu Sagata.

Maka, bhikkhu Sagata pun melayang terbang ke udara. Berjalan-jalan, berdiri, duduk dan berbaring di angkasa. Kemudian, ia menciptakan asap dan api yang berkobar-kobar. Juga menghilang lalu muncul kembali.

Sesudah mempertunjukkan kesaktian yang membuat orang-orang terkagum-kagum itu, bhikkhu Sagata turun kembali ke bumi. Menghampiri Sang Buddha dan namakkara dengan hormatnya seraya berkata:

“Sang Tathagata adalah Guru saya. Saya adalah savaka (siswa) sang Tathagata.”

Maka, perhatian orang-orang itu pun beralih pada Sang Buddha seraya bergumam:

“Muridnya saja begitu sakti. Gurunya tentu lebih sakti lagi.”

Sang Buddha pun tahu mereka telah siap untuk menerima pembabaran Dhamma.

Sang Buddha membabarkan Anupubbikatha yaitu pembabaran Dhamma yang sifatnya berurutan mengenai danakatha, silakatha, saggakatha, kamadinavakatha serta nekkhammanisamsakatha.

Danakatha menerangkan tentang perlunya melaksanakan Dhamma untuk membasmi kekikiran, menolong orang yang memerlukan.

Silakatha menerangkan perlunya pelaksanaan sila agar pikiran dan jasmani menjauhi perbuatan jahat.

Saggakatha menerangkan tentang kebahagiaan surgawi akibat dari perbuatan bajik sesuai dengan Dhamma selama kehidupan di alam manusia; bila belum mampu mencapai Nibbana.

Kamadinavakatha menerangkan tentang kemerosotan batin akibat dari menuruti nafsu indria (duniawi).

Nekkhammanisamsakatha menerangkan tentang manfaat karena terbebas dari nafsu indria (duniawi) dengan cara melaksanakan brahmacariya dalam Dhamma Vinaya.

Pembabaran Anupubikatha ini bermanfaat bagi persiapan batin agar bisa menerima pembabaran Catur Ariya Sacca yang terdiri dari Dukkha Ariyasacca, kebenaran luhur tentang adanya dukkha. Dukkhasamudaya Ariyasacca, kebenaran luhur tentang penyebab dukkha. Dukkhanirodha Ariyasacca, kebenaran luhur tentang lenyapnya dukkha. Dukkhanirodhagaminipatipada Ariyasacca, kebenaran luhur tentang jalan menuju lenyapnya dukkha.

Setelah mendengar pembabaran Dhamma tersebut, banyak diantara mereka yang mampu menembus Dhamma, hilang keraguan tentang kebenaran luhur. Menjadi orang-orang yang teguh dengan keyakinan terhadap Dhamma, ajaran sang Tathagata.

Mereka lalu menyatakan diri sebagai upasaka/upasika yang berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Cukup sering Sang Buddha sendiri ataupun Beliau menyuruh siswa-siswa-Nya memperagakan iddhipatihariya (kesaktian) untuk menghancurkan ditthimana (kesombongan) atau kelengahan manusia yang menurut mata kebuddhaan-Nya patut ditolong.

Namun, kemudian masyarakat lebih menyenangi peragaan kesaktian dari pada peduli Dhamma. Maka, Sang Buddha melarang siswa-siswa Nya memamerkan kesaktian.

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, SAMADHI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: