Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Perawatan Batin (1)

Posted by chanyan pada 2010/05/06

Oleh : Hananto

Untuk menjaga dan memperkuat tubuh, seseorang harus memperhatikan dan merawat kesehatan tubuhnya dengan cara-cara yang benar. Mengkonsumsi jenis makanan yang bergizi dan teratur. Istirahat yang teratur dan cukup. Tidak lupa untuk olahraga dengan teratur pula. Kesemuanya ini akan lebih sempurna bila disertai sarana dan prasarana yang berupa pengetahuan tentang anatomi tubuh dan gizi serta materi yang cukup.

Begitu pun bila seseorang ingin menjaga dan memperkuat batin/pikiran. Seseorang harus memperhatikan dan merawat batin dengan cara-cara yang benar. Mempunyai pengetahuan yang memadai tentang anatomi dan gizi bagi batin/pikiran.

Di dalam agama Buddha disebutkan bahwa makhluk hidup termasuk manusia terdiri dari Rupa khandha (kaya, badan jasmani) dan Nama khandha (batin) yang tidak tampak oleh mata. Kedua khandha (kelompok) ini berbeda satu sama lain namun berada pada tempat yang sama, yaitu makhluk hidup. Bila kedua khandha ini terpisah (terurai), maka makhluk itu akan mati.

Rupa khandha terdiri dari zat padat (tanah), air, udara dan panas. Keempat unsur ini harus berada dalam keseimbangan keadaan yang tepat. Bila keseimbangan ini terganggu, maka kesehatan tubuh akan terganggu. Badan akan merasa sakit, demam (panas dingin), sakit kepala (pusing), nyeri dan lain-lain. Ketidakseimbangan ini bisa disebabkan oleh penyakit (infeksi mikro-organisme), terluka, memar akibat jatuh maupun pukulan, dan lain-lain. Bila penyakit ini dibiarkan, ada kemungkinan ia akan bertambah parah, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Nama khandha terdiri dari vedana (perasaan), sanna (pencerapan, ingatan), sankhara (bentuk-bentuk pikiran) dan vinnana (kesadaran). Keempat unsur ini juga harus berada di dalam keseimbangan keadaan yang tepat. Bila keseimbangan ini terganggu, maka batin/pikiran dikatakan sakit. Pikiran tidak sehat.

Pelupa, pemalas, penakut, judes, iri, merupakan penyakit pikiran yang dianggap ringan yang biasanya tidak memerlukan perawatan dokter. Namun, bisa mengganggu dan menghambat kemajuan diri sendiri.

Pemarah, keras kepala, pendendam, serakah, stress ringan, kegilaan merupakan penyakit pikiran tingkat menengah yang biasanya juga belum memerlukan dokter. Penyakit ini bisa mengganggu diri sendiri maupun orang lain.

Stress berat, sinting dan gila merupakan penyakit pikiran yang berat. Ada yang bisa sembuh, ada pula yang tidak walau telah dirawat di rumah sakit jiwa. Penyakit ini, selain mematikan kemajuan diri sendiri juga menjadi beban yang berat bagi keluarga dan masyarakat.

Penyakit pikiran yang ringan, bila dibiarkan tanpa perawatan dan perhatian, bisa semakin parah.

Dunia ini tak pernah kosong dari orang-orang sakit. Rumah sakit, ruang-ruang perawatan, ruang dokter praktek selalu dipenuhi oleh penderita-penderita setiap harinya. Namun, kebanyakan dari mereka itu adalah penderita-penderita penyakit jasmani. Hanya ada sedikit penderita-penderita penyakit jiwa/pikiran yang dirawat. Padahal, menurut uraian di atas, lebih banyak orang yang terkena penyakit pikiran dari pada penyakit jasmani.

Dunia ini dipenuhi oleh penderita-penderita penyakit pikiran, terutama dari tingkat ringan dan menengah. Mereka berkeliaran dengan bebasnya. Yang merasa ’senasib’ akan mengelompok. Yang tidak, akan saling mengganggu dan mencelakakan. Dari tingkat pimpinan perusahaan hingga buruh kasar. Dari tingkat pimpinan organisasi hingga para anggotanya. Dari tingkat pemimpin negara, hingga rakyat jelata.

Seorang direktur atau manager yang selalu menghambat kenaikan gaji atau pangkat bawahannya. Mempekerjakan pegawai tanpa berpikir tentang kepentingan pegawainya, atau melanggar hak-hak azasi pegawainya. Para pegawai yang saling jegal dan saling memfitnah demi mendapat pangkat dan keuntungan pribadi.

Seorang ketua organisasi yang menjadi angkuh dan sombong. Sewenang-wenang dalam mengendalikan organisasi. Lalu, menyelewengkan dana organisasi. Seseorang yang tak layak menjadi pimpinan, tapi masih tetap bercokol menjadi pimpinan tanpa tahu diri. Anggota organisasi yang sulit diatur.

Seorang pemimpin negara yang memerintah dengan sewenang-wenang hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya sehingga menyengsarakan rakyat. Anggota masyarakat yang senang melihat perpecahan dan kekacauan, menghasut serta mengadu-domba anggota masyarakat lainnya.

Itu semua sebagai contoh penyakit pikiran yang biasanya masih dianggap biasa. Penderita-penderitanya masih dianggap sebagai manusia normal, belum pantas untuk dirawat di rumah sakit jiwa. Padahal, sebenarnya tidak bisa dianggap biasa karena amat membahayakan lingkungan dan masyarakat.

Karenanya, secara keseluruhan, dunia ini tak pernah damai walau sedetik pun.

Untuk itulah seorang Sammasambuddha muncul di dunia ini untuk menolong manusia-manusia yang telah layak untuk sembuh. Juga bagi manusia-manusia yang peduli akan kesehatan jiwanya.

Penyakit pikiran ini, pada dasarnya, disebabkan oleh keliaran pikiran. Liar tak terkendali hingga tak mampu melihat ke arah kebajikan dan tak bisa diajak bekerja sama.

Sang Buddha mengajarkan dana untuk mulai memperkenalkan batin pada kebajikan agar ia mulai lunak dan luwes.

Bagaimana berdana yang benar dan baik. Sila membuat batin semakin terarah karena adanya batasan-batasan yang tak boleh dilanggar. Samadhi untuk menjinakkan batin bagai menjinakkan kuda hutan yang masih liar.

Samadhi merupakan salah satu jenis bhavana (pengembangan batin) untuk membuat pikiran menjadi tenang, mempersiapkan diri bagi pekerjaan selanjutnya, yaitu perawatan batin.

Itu prinsipnya. Namun, banyak praktisi-praktisi bhavana yang mengalami kesulitan dan gagal menjinakkan pikirannya sendiri. Menjadi jengkel, marah, bosan, lalu menghentikan usaha kebajikan ini.

Itu semua karena kurangnya pengertian dan kesabaran.

Usaha mengarahkan pikiran ke satu titik, ibarat menyapu sampah atau daun-daun kering di lapangan luas. Seseorang haruslah dengan sabar menyapu daun-daun dari pinggir lapangan menuju satu titik yang ditentukan, menjadi satu onggok sampah. Baru kemudian dibuang ke tempat sampah. Dalam menyapu itu pun ia harus memperhatikan keadaan dan cuaca. Bukanlah sekedar menyapu dan menyapu. Misalnya, bila angin sedang berhembus, seseorang tak bisa menyapu melawan angin. Haruslah menyapu searah hembusan angin dan menjaga agar sampah tak bertebaran.
Sebenarnya banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dipakai sebagai cara untuk melaksanakan bhavana.
Kesimpulannya, dalam melaksanakan bhavana, diperlukan kepekaan dalam mengamati dan mengenali sifat batin sendiri dan lingkungan di sekitar.

Dalam melaksanakan bhavana, seseorang tak bisa hanya sekedar duduk dan memaksa pikiran untuk konsentrasi tanpa pengertian yang benar. Pikiran hanya bisa diarahkan sesuai dengan sifat dan kecenderungannya.

Setiap manusia mempunyai sifat (watak) batin yang mungkin berbeda. Karenanya, akan lebih baik bila seseorang berusaha mengenali sifat batinnya terlebih dahulu, lalu memilih objek bhavana yang tepat bagi dirinya.

Ada 6 (enam) kelompok besar sifat (carita) yang biasanya mendominasi batin manusia.

1. raga-carita: orang yang mempunyai sifat tertarik pada kamaguõa/raga. Dikuasai oleh nafsu indriya. Senang keindahan, senang pada suara merdu, wangi-wangian, perhiasan dan pakaian yang indah-indah. Tak menyukai segala sesuatu yang jelek dan tak menyenangkan. Orang yang mempunyai kecenderungan ini hendaknya menggunakan objek bhavana yang berlawanan dengan sifatnya agar bisa menetralisir pikiran yang dikuasai oleh raga.

Objek bhavana yang sesuai baginya adalah: asubha, merenungkan segala sesuatu yang tidak indah dan menjijikkan.
Bila ia membiarkan sifat ini, ia tak akan mendapat kemajuan dalam melakukan bhavana, karena akan diganggu dan dihambat oleh kamachanda nivarana (nafsu indriya).

2. Dosa-carita: orang yang mempunyai sifat pembawaan mudah marah, pendendam, mudah jengkel dan panas hati. Dalam hal-hal kecil yang seharusnya tak perlu marah, tapi ia sudah marah.

Objek yang sesuai baginya adalah: dengan merenungkan brahmavihara (metta, karuna, mudita, upekkha), Buddha guna, Dhamma guna, Sangha guna. Sering mengadakan perenungan bahwa kemarahan bukanlah jalan bagi menuju kemajuan. Berlatih dan membiasakan diri untuk bersabar dan rendah hati.

Bila ia membiarkan sifat ini ia tak akan mendapat kemajuan dalam bhavana, karena akan diganggu oleh byapada nivaraõa, yaitu perasaan marah, jengkel pada diri sendiri maupun pada orang lain.

3. Moha-carita: orang yang sering mengalami kesulitan dalam berpikir. Pikirannya sering buntu dan bebal. Dalam kasus yang berat, orang yang mempunyai sifat ini, sulit untuk mencapai kedewasaan walau umurnya telah lanjut. Sulit untuk menentukan, mana kejelekan dan mana kebaikan.

Objek yang sesuai untuknya yaitu dengan menggunakan objek kasina, terutama tejo kasina. Tinggal di tempat yang lapang dan terang. Sering bergaul dengan orang-orang bijaksana untuk mendengar nasihat-nasihatnya.

Bila ia membiarkan sifat ini ia tak akan maju dalam bhavana, karena diganggu dan dihambat oleh Thina-middha nivarana, yaitu pikiran bebal, buntu dan malas. Tak mampu mengadakan pengenalan dan menangkap objek (vitakka dan vicara).

4. Saddha-carita: orang yang mempunyai sifat mudah percaya dan fanatik. Sifat ini juga mempunyai segi positif, bila bertemu dan bergaul dengan para bijaksana. Ia akan mendapat kemajuan karena mudah percaya dan mudah diajar. Seorang bijaksana tentu akan mengajar kebaikan dan kebijaksanaan.

Namun, bila ia tidak bergaul dengan para bijaksana, ia akan menjadi seorang yang mempunyai kefanatikan yang tinggi. Batinnya akan menjadi keras dan kasar, berani mati untuk sesuatu yang ia yakini. Sulit dalam mengembangkan panna. Kemajuan batinpun akan sulit dicapai.

Objek bhavana yang sesuai baginya adalah: anussati atau objek perenungan untuk mengembangkan panna, misalnya catudhatuva-vatthana (penganalisaan terhadap empat unsur).

Bila ia membiarkan sifat ini, ia tak akan mendapat kemajuan dalam bhavana, karena akan diganggu dan dihambat oleh thina-middha nivarana.

5. Buddhi-carita: orang yang mempunyai sifat dan bakat pintar. Mudah mengerti dalam belajar, karena suka berpikir. Biasanya mempunyai intelektualitas yang menonjol. Ia akan cepat mendapat kemajuan batin bila mendapat guru yang bijaksana.

Namun, bila ia tidak mendapatkan guru yang bijaksana, ia bisa menjadi orang yang sombong karena merasa lebih pandai dari orang lain. Bisa pula menjadi penjahat yang lihai dan licik.

Objek bhavana yang sesuai baginya ialah: anussati, terutama upasamanussati dan objek-objek untuk mengembangkan panna.

Bila ia membiarkan sifat ini tanpa pengarahan, ia akan sulit mendapat kemajuan dalam melaksanakan bhavana, karena akan diganggu dan dihambat oleh uddacca-kukkucca nivarana (kegelisahan karena pikiran tak mau berhenti).

6. Vitakka-carita: orang yang mempunyai sifat suka berpikir. Tapi, biasanya berpikir karena selalu ragu dan khawatir terhadap sesuatu. Sulit untuk percaya dan yakin. Namun, bila bertemu dan bergaul dengan para bijaksana, ia akan mendapat kemajuan karena mendapat pengarahan yang benar.

Objek bhavana yang sesuai baginya adalah objek yang tak memerlukan banyak pemikiran, misalnya kasina. anapanasati adalah objek yang paling sesuai baginya.

Bila ia membiarkan sifat ini, ia akan sulit mendapat kemajuan dalam melaksanakan bhavana karena sulit menghentikan pikiran yang selalu mengembara, karena tidak adanya kemantapan pikiran. Udhacca-kukkucca dan vicikicha nivarana selalu mengganggu dan menghambatnya.

Tiga jenis sifat terdahulu (Raga-carita, Dosa-carita dan Moha-carita) adalah akusala-cetasika yang menunjukkan sifat-sifat jelek. Tiga jenis lainnya (Saddha-carita, Buddhi-carita dan Vitakka-carita) adalah annasamana-cetasika yang menunjukkan sifat-sifat baik (kusala). Namun, kesemuanya memerlukan jalan dan cara yang baik dan tepat untuk bisa mencapai kemajuan dalam melaksanakan bhavana.

Tidak setiap orang bisa mengetahui sifat dirinya dengan tepat, karena keenam jenis sifat itu belum tentu menonjol dan dominan; membuat orang sulit untuk menandainya.

Namun, bukan berarti tidak ada objek bhavana yang sesuai bagi orang yang kesulitan menandai sifatnya sendiri.
Anapanasati kammatthana (bhavana dengan objek napas) amat sesuai dilaksanakan oleh semua orang, dengan sifat (carita) apapun. Objek napas adalah objek yang paling netral dan mudah dilakukan.

Sang Bodhisatta, semasa masih bocah, melakukan anapanasati kammatthana di bawah pohon jambu saat ikut ayahandanya melakukan upacara tahunan musim tanam diawal musim penghujan.

Iapun memulai dengan anapanasati kammatthana untuk mencapai Pencerahan Agung sebagai Sammasambuddha di bawah naungan pohon Bodhi. Menikmati kebahagiaan dalam Vihara Dhamma dengan anapanasati bhavana. Kemudian memasuki Maha Parinibbana dengan terlebih dahulu keluar masuk jhana dengan anapanasati pula.

Seseorang yang telah mahir dalam anapanasati bhavana, akan dengan mudah mengembangkan jhana melalui objek-objek lain, misalnya kasina.

Hampir seluruh bagian tubuh manusia mengandung dan dilalui unsur udara (O2). Namun, ada beberapa titik yang terasa nyata menerima sentuhan udara yang keluar masuk di dalam tubuh.

Titik-titik sentuh inilah yang layak dipilih oleh praktisi-praktisi bhavana pemula.
1. Di ujung (belahan) bibir atas.
2. Di sekitar lubang hidung.
3. Di ujung hidung.
4. Diantara kedua alis mata.
5. Di tengah-tengah organ otak.
6. Di langit-langit bagian dalam (belakang)
7. Di dada bagian tengah atau ulu hati.
8. Di perut (terasa kembang kempis).

Setelah mengetahui dengan jelas titik-titik sentuh tersebut, perlu diketahui pula persiapan sebelum melakukan bhavana dengan posisi duduk. Walau sebenarnya bhavana bisa dilakukan setiap saat, namun akan lebih baik bila ditentukan pula waktu-waktu khusus di setiap harinya.

Waktu formal yang baik adalah setelah bangun tidur di pagi hari antara pukul empat dan pukul enam, saat pagi masih senyap dan segar. Malam hari, sebelum pergi ke peraduan, antara pukul sembilan dan pukul sebelas, saat malam mulai hening.

Jangan lupa pula untuk membersihkan badan atau mandi dan sikat gigi. Hal ini kelihatan sepele, namun bagaimana pula kiranya saat kita sedang asyik duduk bhavana, hidung kita diganggu oleh bau keringat kita sendiri. Atau terganggu karena badan terasa lengket-lengket keringat. Atau terganggu oleh ulah sisa makanan yang terselip di antara gigi. Gangguan kecil, tapi bisa merusak konsentrasi kita, bukan?

Khusus di malam hari, sebelum duduk bhavana, jangan lupa tentang keamanan rumah. Pintu-pintu telah dikunci dengan baik. Kompor gas dan peralatan listrik telah berada dalam posisi yang aman. Jangan sampai kita terganggu karena adanya keraguan tentang pintu-pintu, kompor dan lain-lain, saat sedang duduk bhavana. Bisa membuat pikiran kita berlari-lari di antara pintu-pintu dan kompor.

Lalu, dimanakah sebaiknya kita melakukan bhavana?

Bila di rumah kita ada kamar altar khusus, di sanalah tempat terbaik untuk melakukan bhavana. Namun, bila tidak ada, kita bisa melakukannya dimanapun. Boleh di dalam ruangan, boleh juga di luar ruangan. Yang penting, tempat itu memenuhi syarat bagi pelaksanaan bhavana kita. Tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi dan menghambat pelaksanaan bhavana.

Bila semuanya telah dipersiapkan dan dimengerti dengan baik, maka kita boleh memulai bhavana dengan Namakkara gatha, penguncaran Vandana, Tisaraõa diteruskan dengan beberapa paritta yang dikuasai. Pembacaan paritta-paritta tersebut perlu dilakukan untuk membantu membawa pikiran menuju ke dalam ketenangan awal. Mengajak pikiran untuk mulai melupakan kesibukan-kesibukan sebelumnya.

Posisi formal dalam melakukan bhavana duduk adalah dengan duduk bersila, kaki kanan ditumpangkan di atas kaki kiri. Kedua telapak tangan yang menengadah diletakkan di pangkuan dengan posisi telapak tangan kanan diletakkan di atas telapak tangan kiri. Posisi badan dan kepala tegak lurus, tapi tidak perlu dipaksa sehingga menjadi tegang. Bila telah terbiasa dengan posisi ini, kita akan mampu duduk berlama-lama.

Sebelum memulai bhavana yang sesungguhnya yaitu mengkonsentrasikan pikiran terhadap objek, sebaiknya kita ber-adhitthana terlebih dahulu, misalnya dengan mengucapkan: “Semoga saya mendapatkan ketenangan dalam melaksanakan bhavana ini dan mampu menembus Dhamma dengan baik.”

Untuk menentukan titik mana yang lebih nyata dan mudah dirasa, kita boleh menghirup napas dalam-dalam (kuat-kuat) dan menghembuskannya kuat-kuat pula sebanyak tiga kali. Saat berbuat itu, coba perhatikan titik mana yang paling jelas dan nyata saat tersentuh udara napas. Kalau masih kurang jelas, ulangi tiga kali lagi. Sesudah itu bernapaslah dengan normal kembali seperti semula. Biarkan napas berlangsung secara alamiah.

Setelah mendapatkannya, pakailah titik itu sebagai landasan (objek) bagi perhatian kita. Perhatikan dan konsentrasikan pikiran pada landasan tersebut terus menerus, hendaknya dengan rileks-rileks saja. Jangan dipaksakan dan janganlah tegang. Bila dipaksakan, akan membuat pikiran dan tubuh menjadi tegang. Ini bisa mengakibatkan pusing atau sakit kepala, sesak dada, maupun sakitnya otot-otot badan. Membuat usaha kita gagal dengan cepat.

Dalam usaha ini diperlukan penyadaran pikiran kita terhadap objek. Ini disebut Sati. Dan kejelian serta kepekaan untuk selalu mengetahui apa yang sedang kita kerjakan. Ini disebut sampaja¤¤a. Bila penyadaran dan kepekaan (kejelian) kita menurun, maka kita akan kehilangan objek. Objek tak berhasil kita tangkap dan pikiranpun mengembara kemana-mana, alias melamun. Hal ini umum dan biasa terjadi pada praktisi-praktisi bhavana pemula. Karenanya, tak perlu dirisaukan benar. Memang begitulah sifat batin, karena disana terdapat unsur sankhara (bentuk-bentuk pikiran) yang secara alamiah selalu beraksi. Hanya bisa diatasi dengan cara menguatkan sati. Kini, kita sedang berlatih untuk menguatkan sati serta sampajanna. Kita tak perlu berkecil hati. Tugas kita adalah mengembalikan perhatian kita kembali pada objek semula. Juga dengan rileks-rileks saja, jangan dipaksa.

Bila pikiran tetap tak mau diarahkan ke objek semula, arahkan penyadaran kita pada gerak pikiran yang mengembara itu. Tapi, sekali-kali janganlah ‘diikuti’. Kata pepatah: “Jadilah penonton yang baik, jangan ikut bermain.” Sebab, bila kita ikut bermain, tentu akan capek dan kacau sendiri. Hanya dukkha yang didapat.

Ini juga termasuk latihan meningkatkan sati dan sampajanna, hanya saja belum sampai tahap ‘mampu mengendalikan pikiran’. Bila kita berhasil menjadi ‘penonton yang baik’, pikiran akan berhenti mengembara dengan sendirinya. Bagaikan seorang pencuri tertangkap tangan. Kemudian, kembalikan perhatian pada objek semula.

Berapa kalipun pikiran berulah, janganlah membuat kita bosan dan surut langkah. Ini perlu diperhatikan. Pengertian dan kesabaran mutlak diperlukan.

Semakin lama kita akan semakin mampu mengetahui sifat dan ciri-ciri objek napas yang kita pakai. Pengenalan ini amat penting, agar bisa dengan cepat menangkap objek. Tahap ini disebut vitakka (usaha menangkap objek) dan vicara (usaha mengenali sifat objek). Tahap ini harus dilatih dengan tekun dan sabar hingga kita mengenal dengan baik sifat dan ciri napas yang menyentuh titik yang kita perhatikan. Panjang, pendek, halus, kasar, hangat, sejuk dan lain-lain.
Bila kita mampu mengenali sifat dan ciri-ciri objek, maka pikiran kita akan lebih lama menyatu dengannya. Objek napas pada titik sentuh akan semakin terasa lebih halus dan lembut. Pikiran semakin tenang, karena aksi dari sankhara tidak terlalu ganas lagi. Maka, akan muncul perasaan gairah dan ketergiuran (Piti) dalam pikiran maupun tubuh kita.
Perasaan gairah dan ketergiuran ini ada yang keras dan nyata, ada pula yang lembut bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi yang sejuk. Tubuh terasa membesar atau meninggi. Bulu kuduk terasa berdiri atau seperti ada semut yang sedang berjalan di permukaan kulit. Reaksi yang keras ini bisa membuat kita terkejut dan ketakutan. Ini perlu pula dimengerti dan tak perlu menimbulkan perasaan ketakutan yang membuat kegagalan belaka.

Namun, pada umumnya Piti ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan. Kita harus mampu mencapai tahap ini. Sebab, ini merupakan suatu daya tarik yang amat diperlukan bagi praktisi bhavana. Ibarat menonton suatu pertunjukan. Kita akan menonton pertunjukan itu sampai selesai bila ia menarik dan menyenangkan hati kita. Tapi, bila pertunjukan itu tak menyenangkan dan membosankan, tentu kita berpikir lebih baik pulang, tidur di rumah.

Begitupun dalam melaksanakan bhavana. Bila bhavana itu tak mempunyai daya tarik, siapa pula yang ingin melaksanakan bhavana.

Praktisi bhavana yang mengakhiri bhavana-nya dengan terkantuk-kantuk, duduk sambil tidur, merupakan suatu contoh gagalnya pencapaian Piti. Begitu pula yang mengakhiri bhavana sambil mengomel-ngomel menyatakan kejengkelannya.

Banyak praktisi bhavana mengeluh bahwa pelaksanaan bhavana itu amat sulit dan membosankan. Sudah bertahun-tahun mencoba, tapi pikiran masih sulit dikendalikan. Sekali lagi, itu semua karena kurangnya pengertian dan kesabaran.

Seseorang haruslah mengerti bahwa memang begitulah sifat dari pikiran yang belum terlatih. Ada yang mengibaratkan pikiran sama seperti angin yang tak pernah berhenti berhembus. Ada pula yang mengibaratkan pikiran sama seperti sifat seekor monyet yang tak pernah berhenti menggaruk-garuk badannya yang penuh kutu. Ada pula yang mengibaratkan pikiran sama seperti seekor kuda liar yang selalu meronta saat merasa ada laso di lehernya.

Bila kita mengerti bahwa pikiran itu sulit dikendalikan, seharusnyalah lebih tekun berlatih. Dengan sabar mencari cara agar mencapai keberhasilan. Bukannya malah mundur dan menghentikan usaha yang berarti gagalnya pencapaian hasil yang baik. Karena, sebenarnya ada banyak cara untuk membantu membiasakan diri agar pikiran bisa dikendalikan.

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, SAMADHI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: