Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Menjelang Menjadi Samana (2)

Posted by chanyan pada 2010/05/08

Oleh : Luang Pho Jah SubhaddoAjahn Chah
Vat Nhong Pah Phong
Ubol Rajathani
Thailand

(Diterjemahkan oleh: Hananto)

—————

… Bila kita membiasakan diri melaksanakan sila, membiasakan diri melaksanakan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, berarti kita berlatih mengendalikan pikiran maupun jasmani dari kebiasaan buruk tanpa kedisiplinan menuju kebiasaan baik yang penuh kedisiplinan dan ketertiban. Maka, akan muncul suatu kekuatan pengarahan (pengendalian) yang semakin lama akan semakin kokoh. Kekuatan ini disebut samadhi dalam tingkat awal. Kita harus mampu mencapai tingkat ini terlebih dahulu. Bila kita terus kembangkan latihan ini, maka akan muncul suatu pengertian bahwa perbuatan baik akan membawa manfaat (sukha) dan perbuatan jelek akan membawa derita (dukkha). Munculnya pengertian ini akan ditandai dengan: bila suatu saat muncul pikiran jelek, batin akan merasa tak nyaman. Dan ada keinginan untuk mengakhiri pikiran jelek tersebut. Kekuatan pengertian ini disebut panna dalam tingkat awal.

(Note : kekuatan pengarahan/pengendalian (samadhi) tingkat awal ini, bila dilatih secara formal dan tekun akan mampu mencapai tingkat jhana. Begitupun, pengertian (panna) bila dilatih dengan tekun akan mampu mencapai penerangan sempurna.)

Selanjutnya, bila ada phenomena yang muncul, kita akan mengerti apakah itu baik ataukah buruk. Kita akan mampu menganalisa saat mata melihat suatu bentuk, telinga mendengar suara, hidung mencium bau, lidah mencicip rasa, badan merasakan rabaan, pikiran diterpa emosi. Kita mampu mengetahui dengan jelas reaksi yang timbul. Kadang merasa suka kadang merasa tak suka, ragu, bingung, dan lain-lain.

Sila, samadhi dan panna akan membentuk menjadi satu kesatuan yang saling mendukung. Batin akan tertarik dan terikat pada kebaikan, takut berbuat kejahatan. Takut dan khawatir samadhi akan merosot. Batin akan takut dan terkejut melihat kejahatan dan men-jauh daripadanya. Muncul perasaan bersemangat, rajin dan cinta pada latihan. Sering pula ingin menyendiri, menjauh dari keramaian. Kelihatan ekstrim ! Bila kalian mengalami hal ini, biarkanlah dulu, daripada terbakar emosi duniawi. Tetaplah teguh dalam pelaksanaan sila, ketenangan samadhi dan perenungan (panna) demi menyempurnakan dasa-parami, dari tingkat upaparami hingga mencapai paramattha-parami.

Kesemuanya berawal dari sesuatu yang kasar, yang kemudian menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. Dari satu materi yang berubah menjadi (seolah-olah) materi yang berbeda. Padahal, kesempurnaan itu muncul dari ketidaksempurnaan itu sendiri, bukan dari yang lain.Yang tadinya tak tahu malu (ahiri) menjadi tahu malu (hiri). Yang tadinya tidak takut berbuat jahat (an-ottapa) menjadi takut berbuat jahat (ottapa) – walau tidak ada yang melihat. Penuh pengendalian terhadap pikiran dan badan jasmani dengan sila, samadhi dan panna.

Laksanakanlah terus menerus sesuai dengan tingkat batin kalian.

Jangan berkecil hati bila tingkat batin kalian masih kasar. Dengan ketekunan, rajin dan ulet, kalian akan merasakan semakin lama batin akan semakin halus dan peka. Kedisiplinan akan semakin baik, samadhi akan semakin mantap. Tapi, jangan tergesa merasa bahwa itu adalah pencapaian jhana. Pengertian akan semakin halus dan peka. Akan merasakan suatu kebahagiaan tersendiri walau bukan kebahagiaan tingkat tinggi. Kebahagiaan dan kelembutan batin seorang puthujjana yang sebelumnya tidak pernah melatih diri dalam kedisiplinan yang ketat. Tidak pernah melaksanakan bhavana. Tingkat kebahagiaan ini cukup membuatnya benar-benar bahagia. Bagi seseorang yang belum pernah mencapai ketenangan dalam bhavana, kebahagiaan ini bisa membuatnya terbuai dan berbangga. Ibarat uang sebanyak satu-dua juta rupiah amatlah berarti bagi orang miskin. Tapi, tidaklah berarti banyak bagi seorang milyuner. Karenanya, jangan cepat puas dan berbangga lalu menghentikan usaha.

Laksanakanlah latihan-latihan ini dalam keseharian hingga menjadi patipada (way of life) yang menyatu dengan batin. Ini berarti kita berjalan pada jalur sila, samadhi dan panna. Hingga sila, samadhi dan panna tidak terputus, tidak terpisahkan satu sama lain. Hingga sila, samadhi dan panna mempunyai arti dan nilai yang sama. Bila sila berkembang maju, maka samadhi pun berkembang maju, maka panna pun berkembang maju. Bila kita telah mampu melaksanakannya, berarti kita telah berada pada sammapatipada (jalan hidup yang benar).

Jalan ini harus kita pertahankan, karena pada kenyataannya cukup sulit untuk mempertahankannya.

Sila, samadhi dan panna yang berkembang maju dan semakin halus ini berawal dari sumber yang sama. Ibarat pohon kelapa yang menghisap air tanah yang kotor melalui akar-akar serabutnya, sampai ke buah kelapa menjadi air yang bersih, harum dan manis. Dari air tanah yang kotor (kasar), melalui materi-materi yang kasar pula (pohon) sebagai penyaring (proses) menjadi air yang bersih, harum dan manis. Bisa pula menjadi santan yang sedap. Begitupun proses yang terjadi pada batin kita. Sila, samadhi dan panna pada awalnya berasal dari batin yang kasar yang belum biasa terkendali. Melalui jalan (cara) yang kasar yaitu, latihan-latihan yang kadang membuat kita merasa menderita. Serta melalui perenungan-perenungan, penganalisaan yang benar. Batin akan menjadi semakin halus dan berkembang maju.

Saat batin menangkap suatu fenomena yang muncul, akan timbul reaksi. Perenungan dan penganalisaan akan bekerja. Menyelidiki apakah sesuatu itu baik atau buruk. Apakah perbuatan yang sedang kita lakukan benar atau tidak. Maka, muncul kesimpulan. Bila kita memilih berbuat kebajikan, berarti unsur sila berkembang yang didukung dan membuat samadhi berkembang pula. Sebab, pikiran telah terarah dan terkendali dengan baik. Juga, tentu didukung dan membuat panna pun berkembang. Sebab, telah muncul pengertian yang benar. Semua itu merupakan reaksi dari batin dan sesuatu yang mempengaruhinya (phenomena). Phenomena mempengaruhi batin melalui badan jasmani. Badan jasmani merupakan pintu dari batin/pikiran. Batin dan badan jasmani saling mempengaruhi. Namun, pikiranlah yang mengendalikan badan jasmani. Badan jasmani berbuat dan bertindak karena pikiran.

Bila suatu phenomena muncul (misalnya suatu benda) diterima oleh pikiran bukan lagi sebagai benda, tapi sebagai gambaran benda yang lalu menimbulkan emosi. Perasaan suka, tidak suka atau netral yang membuat batin terombang-ambing mengikutinya.

Namun, sebenarnya batin mempunyai sifat alamiahnya sendiri. Batin tidak mencari dan tidak mempunyai persoalan dengan siapa dan sesuatupun. Sama dengan secarik kertas atau bendera yang diikatkan pada ujung sebatang kayu atau tiang bendera. Atau sama dengan daun-daun yang menempel di dahan dan ranting sebatang pohon. Mereka berkibar dan bergoyang hanya bila tertiup angin. Sifat almiah mereka adalah diam, hening, tenang tanpa gerak. Mereka tidak berbuat sesuatu terhadap siapapun. Namun, mereka akan bergerak dan mungkin saling bergesek satu sama lain, saling membentur satu sama lain, bahkan membentur benda-benda lain karena tertiup angin. Semakin kencang angin berhembus, semakin keras pula reaksinya.

Begitupun alamiah batin kita ini. Tak ada sukha atau dukkha. Tak ada cinta atau benci. Tidak pula membuat orang lain celaka. Tinggal dan berada pada keadaan alamiahnya sendiri. Jernih cemerlang dan hening. Begitulah sifat alamiah batin yang sebenarnya.

Kita mempelajari, berlatih dan melaksanakan ajaran (Dhamma) untuk menyelidiki, menganalisa hingga mengetahui dan sampai pada batin yang sejati, yang hening, jernih dan cemerlang. Batin yang hening, jernih dan cemerlang tidak dipengaruhi emosi. Tidak berlari kesana kemari mengikuti perasaan senang, tidak senang, dendam, benci, kecewa, bangga dan lain-lain. Batin yang hening, jernih dan cemerlang sebagai si ‘tahu’ yang hanya mengetahui tanpa terpengaruh oleh phenomena-phenomena yang muncul. Merdeka, bebas dari segala macam ikatan. Benar-benar mandiri tanpa ketergantungan.

Batin bisa mencapai keadaan ini sebagai hasil dari penganalisaan dan penyelidikan yang benar dan cermat sehingga tahu bahwa phenomena yang muncul mempunyai karakternya sendiri yang tidak berbuat apapun terhadap siapapun. Sukha dan dukkha muncul dengan karakternya sendiri. Begitulah sifat sukha, begitulah sifat dukkha. Bukan sesuatu yang lain. Hanya sekedar sukha. Hanya sekedar dukkha. Muncul dan kemudian padam. Tak seorangpun sebagai pemilik sukha maupun dukkha. Bukan pula milik kita yang harus kita pertahankan. Karenanya, batin tak perlu mengambil persoalan sukha maupun dukkha. Pun, batin bukanlah perasaan sukha, bukan pula dukkha. Sukha dan dukkha hanyalah suatu perasaan (vedana). Begitupun halnya dengan panca-khandha yang lain.

Sebelumnya, batin dikuasai oleh lobha, dosa dan moha. Inilah awal dari segalanya. Begitu melihat sesuatu, langsung diterima, tanpa pengertian, tanpa penganalisaan. Sukha pun mau, dukkha pun mau. Batin terlarut dan terbuai mengikuti emosi. Terus berkeliaran, mengembara tiada henti. Tersesat di antara kegelapan duniawi. Itu semua karena batin belum hening, belum cemerlang. Kecepatan pengertian masih kalah dengan kecepatan nafsu duniawi. Maka, batin terombang-ambing mengikuti nafsu duniawi yang memang bersifat mengombang-ambing. Bila mengalami kebahagiaan maka terlarut di dalam kegembiraan. Bila mengalami derita, maka terlarut di dalam kesedihan. Melekat pada duniawi. Terbelit dalam lingkaran kehidupan dan kematian, tiada henti.

Namun, bila kita melaksanakan ajaran dengan menganalisa dan menyelidiki kasunyataan luhur, maka hasilnya tentu seperti yang telah disebutkan tadi. Batin menjadi bebas, mandiri karena tidak lagi terbelenggu. Tidak lagi merasa menderita, marah, jengkel bila ada orang yang mencela atau mencaci. Karena, tidak lagi merasa: ‘aku’ dicaci, ‘aku’ dicela. Tidak lagi berbangga dan lupa diri bila dipuji dan disanjung. Karena, tidak lagi merasa: ‘aku’ dipuji, ‘aku’ disanjung. Suara cacian maupun sanjungan hanyalah sekedar suara. Sekedar sesuatu yang berbunyi seperti bunyi-bunyi yang lain, walau kita mengerti arti dari suara tersebut. Tahu artinya, tapi tidak mampu mengusik batin. Maka, terbebaslah kita dari goncangan emosi.

Semua ini melalui proses yang panjang. Dari tahap kasar sampai batin menjadi halus dan peka. Mengerti sifat dari semua elemen – muncul dan padam kembali.

Batin yang telah mengerti tapi belum mampu ‘menembus’ kesunyataan luhur dinamakan ‘gotrabhucitta’. Akan menyeberang tapi belum mampu. Ibarat kaki kanan telah berada di seberang sana, namun kaki kiri masih di seberang sini. Belum berhasil menyeberang, tapi tahu dengan jelas bahwa seberang sana memang ada. Gotrapuggala ini akan rajin dan bersemangat dalam menyempurnakan parami untuk mencapai Nibbana citta, karena merasa jalan yang ditempuh adalah benar dan telah dekat tujuan.

Jalan menuju kesana memang ada. Kita tak perlu merasa bimbang agar batin kita pun mantap dalam melaksanakan ajaran. Keraguan bukanlah jalan yang benar. Kekecewaan (yang membawa dukkha) bukanlah jalan yang benar. Begitupun perasaan puas dan berbangga diri (yang membawa sukha) bukanlah jalan yang benar. Berjalanlah di tengah, diantara keduanya agar tak melekat pada sukha maupun dukkha. Bila suatu saat dukkha ataupun sukha datang mempengaruhi kita, sadarilah bahwa itu hanyalah perasaan sukha, hanya perasaan dukkha – bukan sesuatu yang lain. Bukan sesuatu yang perlu dilekati. Kemelekatan pada sukha bukanlah sesuatu yang patut dipuji dan dibanggakan. Kemelekatan pada dukkha bukan pula sesuatu yang patut dicela dan membuat kecewa. Pujian dan celaan, kebanggaan dan kekecewaan mempunyai nilai yang sama – anicca, dukkha, anatta.

Berusahalah selalu berjalan di tengah – diantaranya – terlepas dari sisi kiri maupun kanan. Renungkan dan selidiki hingga tahu kesunyataan segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) di dunia ini dengan jelas. Itu yang dinamakan Lokavidu. Pada tahap ini batin tentu akan bisa menerima kenyataan yang ada.

Saat batin merasakan dukkha maupun sukha tak akan tersesat dan terbuai.

Kalaupun belum mampu memadamkan secara keseluruhan, batin mulai bisa mengikis kemelekatan dan mulai mampu meredam kilesa – sebagai yogavacara yang sedang dalam perjalanan menuju kesamanaan yang benar-benar hening dari kilesa.

Mengerti dan mampu masuk ke dalam keheningan dan kebahagiaan samadhi. Mengerti dan mampu masuk ke dalam keheningan dan kebahagiaan panna. Keheningan dan kebahagiaan samadhi amat berbeda dengan keheningan dan kebahagiaan panna (pengertian). Ini harap dimengerti.

Keheningan dalam samadhi bisa membuat seseorang terbuai. Keheningan samadhi muncul karena batin mampu memutus hubungan dengan sesuatu yang mempengaruhinya (aramana).

Seseorang yang hanya mampu mencapai samadhi, mungkin akan takut pada celaan dan pujian. Mungkin akan takut pada rupa, suara, rasa, rabaan atau emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Samadhi semacam ini hanya akan membawa dukkha.

Sang Buddha tak mengajarkan samadhi semacam ini.

Bila batin telah mampu mencapai samadhi (ketenangan) yang memadai, lakukan pekerjaan selanjutnya yaitu mengadakan perenungan dan penganalisaan terhadap segala sesuatu yang biasanya membuat batin bergerak mengikutinya. Dengan bermodalkan samadhi itulah kita mengadakan penganalisaan terhadap rupa, suara, bau, rasa, rabaan maupun segala sesuatu di dunia ini. Semuanya anicca, dukkha dan anatta. Bila telah mengerti Dhamma semacam ini batin akan merasa hening dan bahagia. Inilah perbedaan hening dalam samadhi dan hening karena panna. Berbeda namun saling bergantungan, karena tanpa panna pun samadhi tak akan muncul – merupakan roda Dhamma.

Bila batin telah hening karena panna, ia tidak akan takut pada rupa, suara, bau, rasa, rabaan maupun dhammaramana. Tidak akan takut akan benturan-benturan duniawi. Phenomena-phenomena yang muncul hanyalah sebagai phenomena. Rupa hanyalah sekedar rupa. Suara hanyalah sekedar suara. Bau hanyalah sekedar bau dan seterusnya. Muncul untuk kemudian padam kembali. Muncul dan padam kembali. Mengerti dengan jelas. Maka, batin mampu meletakkan beban. Kekuatan ini dinamakan kekuatan vipassana.

Berlatihlah hingga kalian berhasil menjadi samana!


Sebagai seorang bhikkhu dhutanga yang sering mengembara dari vihara hutan satu ke vihara hutan lainnya, dari satu hutan ke hutan lainnya, Luang Pho Jah mempunyai banyak sekali pengalaman yang patut diteladani oleh praktisi-praktisi Dhamma yang bersungguh-sungguh.

Dengan tidak bermaksud mengurangi rasa hormat pada Luang Pho Jah (Than Acharn Jah Subhaddo), penulis akan memakai kata ‘dia’ atau ‘ia’ sebagai kata ganti orang ketiga bagi Luang Pho Jah. Hal ini semata-mata untuk memudahkan penulisan dan sesuai dengan kaidah penulisan sebuah cerita.

Beberapa kejadian yang ia katakan sulit dilupakan, diantaranya adalah, pertemuan dan pergaulannya dengan Than Acharn Man Bhuridatto yang hanya empat hari itu. Ia merasa amat terkesan akan kharisma Than Acharn Man, gurunya itu.

Sebelum pertemuan itu, selama sembilan tahun masa kebhikkhuannya, Than Acharn Jah merasa ragu akan praktek kebhikkhuannya, terutama tentang vinaya. Ia masih sering terpengaruh melihat cukup banyak bhikkhu yang berperilaku tak sesuai dengan vinaya. Tapi, setelah mendapat penjelasan dan pengarahan dari Than Acharn Man, ia merasa mantap dan bersemangat kembali. Ia amat menghormat Than Acharn Man dan menganggapnya sebagai seorang guru yang amat berjasa bagi kelanjutan hidup kebhikkhuannya. Karena, Than Acharn Man selalu menekankan pelaksanaan vinaya secara ketat dan pelaksanaan Dhamma secara murni. Hanya dengan begitu seseorang bisa mencapai penerangan Dhamma.

Bagi umat Buddha Thailand, Than Acharn Man dianggap sebagai seorang pionir kebangkitan kembali kebhikkhuan dhutanga. Mereka biasa menyebut Than Acharn Man sebagai Luang Pu (kakek yang mulia), menunjukkan keeratan dan rasa hormat mereka. Begitupun terhadap Than Acharn Jah dan bhikkhu-bhikkhu usia lanjut lain yang patut dihormat, mereka memanggilnya dengan Luang Pu atau Luang Pho (bapa yang mulia).

Sebagai pedoman pelaksanaan vinaya, murid-murid Than Acharn Man biasa menggunakan sebuah buku ikhtisar vinaya, ringkasan dari Vinaya Pitaka (Pali) yang berjudul Sattapabbapubbasikha dan Pubbasikhavannana, ditulis oleh Phra Amarabhirakhita. Hal ini amat membantu untuk terus menambah pengetahuan vinaya yang begitu rumit, karena tak mungkin membawa kitab Vinaya Pitaka yang delapan jilid tebal-tebal itu kemana-mana.

Menurut Than Acharn Jah, Than Acharn Man sering datang dan mengajarnya melalui bhavana walau sejak pertemuan itu, mereka tak pernah lagi bertemu.

Pada suatu saat, Than Acharn Jah mengembara di dalam hutan. Tiba-tiba datanglah segerombolan serigala hutan yang ganas mengepungnya, padahal tak ada lagi tempat berlindung. Dengan segera ia duduk samadhi masuk ke dalam ketenangan. Dalam samadhi-nya itu ia melihat Than Acharn Man datang membawa tongkat kayu dan mengusir kawanan serigala itu sambil berkata:

“Pergi, pergi sana, serigala! Jangan mengganggu anakku yang sedang menjalankan tugasnya. Kalian akan celaka bila mengganggunya.” Maka kawanan serigala itu pun lari lintang pukang ketakutan. Setelah ia membuka mata, ternyata kawanan serigala itu memang benar-benar telah tiada. Dan, ia pun tak melihat Luang Pu Man (Than Acharn Man) di sana.

***

Seperti disebutkan di awal tulisan ini, Than Acharn Jah adalah seorang bhikkhu dhutanga yang amat ketat dalam melaksanakan vinaya. Namun, pada awal kebhikkhuannya, ia berada dalam lingkungan bhikkhu yang longgar dalam melaksanakan vinaya. Misalnya, mereka dengan bebasnya menyimpan, memiliki maupun memegang uang. Than Acharn Jah pun mempunyai sebuah dompet yang berisi uang saat itu.

Ia pernah belajar tentang teori-teori Dhamma pada awal kebhikkhuannya. Dan, iapun pernah belajar bahasa Pali walau hanya pada tingkat awal. Ia tahu, bagi seorang bhikkhu tidak diperbolehkan menyimpan, memiliki ataupun memegang uang. Ia perlu waktu cukup lama merenungkan dan menganalisa hal ini.

“Sang Buddha menetapkan seorang bhikkhu tidak layak menyimpan maupun memegang uang. Kalau saya tetap menyimpan dan memegang uang, apa bedanya dengan seorang perumah tangga. Dan apa gunanya saya menjadi seorang bhikkhu,” pikirnya.

Maka, ia pun mengambil dompetnya yang berisi uang itu dan dibuangnya ke dalam hutan yang lebat. Dan bertekad, sejak saat itu tidak akan menyimpan, memiliki atau pun memegang uang lagi.

Seorang kawan bhikkhu yang melihat perbuatan Than Acharn Jah itu bertanya:

“Apa yang anda buang tadi?”

“Dompet uang saya,” jawab Than Acharn Jah.

“Kenapa tidak diberikan pada saya saja?” tanya kawannya.

“Kalau anda menghendaki, ambillah sendiri,” jawabnya.

Saat ia telah tinggal di Wat Nong Pah Phong, ada seorang bhikkhu yang ingin tinggal dan belajar padanya, tapi minta kelonggaran untuk tetap menyimpan dan memegang uang. Than Acharn Jah menjawab:

“Bila anda ingin tinggal bersama saya, anda harus mematuhi peraturan di sini yang sesuai dengan vinaya.”

Bhikkhu pendatang itu menjawab:

“Saya menyimpan dan memegang uang, tapi pikiran saya tak melekat pada uang itu. Jadi, ijinkanlah saya tinggal dan belajar pada Than Acharn.”

“Baiklah, anda boleh tinggal di sini, bila anda telah mencicipi segumpal garam tapi tidak lagi merasakan asinnya garam itu.”

Akhirnya, bhikkhu pendatang itu pun pergi. Dia lebih sayang pada uangnya daripada sayang pada Dhamma.

***

Suatu saat, dia beristirahat di sebuah kuburan dalam pengembaraannya bersama seorang upasaka delapan sila. Pada hari itu, datang pula serombongan penduduk desa yang membawa mayat dan dikremasi secara tradisional di pekuburan itu. Inilah suatu kesempatan yang amat baik untuk melatih bhavana dengan obyek asubha.

Maka, mereka berdua memutuskan untuk bermalam di pekuburan itu.

Senja hari, setelah melihat pembakaran mayat sebagai obyek bhavana malam harinya, mereka menyiapkan tempat istirahat berupa payung khusus kebhikkhuan (yang dilengkapi dengan semacam kelambu kain) yang saling berjauhan satu sama lain.

Pada malam yang gelap itu, setelah istirahat sejenak, Than Acharn Jah mulai duduk bhavana di dalam payung kebhikkhuannya. Setelah cukup lama merenungkan asubha, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di kejauhan. Suara langkah kaki itu terdengar amat berat. Than Acharn Jah berpikir, mungkin seorang penduduk desa kembali ke pekuburan untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Tapi, kenapa harus malam hari? Apakah tak bisa menunggu sampai esok hari?

Than Acharn Jah tetap duduk mengadakan perenungan dan penganalisaan di dalam ketenangan dan berusaha tidak terpengaruh keadaan di luar.

Namun, setelah cukup lama suara langkah kaki itu mondar mandir di arah tempat pembakaran mayat, suara itu terdengar menuju ke tempatnya. Semakin dekat suara itu, terdengar semakin berat. Ia yakin suara itu bukanlah suara telapak kaki manusia. Kerbau? Kerbau siapa pula yang berkeliaran di malam hari? Lagi pula suara itu pun masih terlalu berat untuk telapak kaki seekor kerbau.

Suara itu berdentam-dentam bagaikan suara langkah kaki raksasa.

Setelah dekat dengan tempat Than Acharn Jah duduk, suara langkah kaki itu berhenti. Dalam perasaannya, ‘makhluk’ itu sedang memandang dan memperhatikan dirinya yang sedang duduk bhavana. Jarak antara mereka hanya dibatasi oleh secarik kain kelambu saja. Ia bertanya-tanya, apa yang akan diperbuat oleh ‘makhluk’ itu selanjutnya. Sedikit rasa takut mulai muncul mengganggu batinnya, membuatnya tak mampu mengumpulkan tenaga konsentrasi untuk masuk ke dalam ketenangan.

Cukup lama dirasanya ‘makhluk’ itu berdiri di depannya, suara kaki itu pun berbalik meninggalkannya, kembali ke tempat pembakaran mayat. Ia merasa agak lega.

Namun, tak lama kemudian, suara itu kembali menuju ke arahnya. Tetap berat berdentam-dentam. Dan berhenti di depannya. Ia tak tahu apa yang dilakukan ‘makhluk’ itu di depannya. Namun, ia merasa seolah-olah napas ‘makhluk’ itu menderu-deru menghembus payungnya. Than Acharn Jah semakin takut dibuatnya. Badannya menggigil dan keringat dingin mulai keluar. Ia merasa ingin buang air kecil tapi ia tak berani keluar dari payungnya.

Rasa takut telah memenuhi relung batinnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Untunglah ‘makhluk’ itu segera pergi meninggalkannya setelah dirasa begitu lama menterornya.

Tapi, ia tak mampu menghapus bayangan dalam pikirannya sendiri. Dengan tak sengaja, ia membayangkan bagaimana bentuk ‘makhluk’ itu. Dan takut kalau-kalau ‘makhluk’ itu akan datang kembali.

Benar saja! Suara langkah kaki itu datang kembali ke arahnya. Setiap dentam suara langkah itu semakin dekat, degup jantungnya pun semakin keras pula. Perasaan ketakutannya telah sampai pada titik teratas ketika ‘makhluk’ itu berada tepat di depannya. Degup jantungnya semakin kencang tak terkendali. Keringat dingin semakin membanjir membasahi tubuhnya.Tak pernah ia merasa ketakutan yang amat sangat semacam ini sebelumnya. Kandung kemihnya pun telah terasa akan pecah pula. Ia merasa amat tersiksa lahir dan batin.

Ketika ia merasa siksaan rasa takut itu hampir tak terkendalikan lagi, ia segera menguncarkan Vandana di dalam hati. Dan ia pun mulai merenung:

“Aku adalah seorang bhikkhu yang sedang berlatih bhavana. Telah kutinggalkan kehidupan duniawi yang bebas. Bertahun-tahun aku telah mengembara di hutan belantara maupun di pedalaman. Kini aku sedang dalam pengembaraan yang mungkin saja penuh dengan bahaya. Bahkan, mungkin kematian sedang menghadangku di depan sana. Entah kapan, aku pun pasti akan mati. Kematian adalah sesuatu yang teramat biasa bagi semua makhluk hidup. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Tapi, kini aku merasa ketakutan! Apa sebenarnya yang aku takutkan. Ya, apa yang sebenarnya aku takutkan? Tak sesuatu pun yang perlu aku takutkan…….”

Than Acharn Jah terus melakukan perenungan tentang dukkha dan kematian. Tak tahu berapa lama ia melakukan perenungan itu. Tiba-tiba batinnya menjadi tenang. Rasa takut itu telah padam. Sebersit cahaya temaram muncul di batinnya. Ia merasakan suatu kebahagiaan yang mendalam. Batinnya telah masuk kedalam ketenangan samadhi yang dalam, tidak lagi terpengaruh keadaan luar.

Ia tetap berada dalam ketenangan samadhi, hingga akhirnya terdengar suara kokok ayam di kejauhan. Perlahan-lahan ia membuka mata. Sinar temaram mentari pagi telah mengusir kegelapan malam.

Ia pun bersiap-siap hendak masuk ke kampung melakukan pindapata. Tapi, perasaan ingin buang air kecil kembali mengganggunya. Ia terkejut melihat buang air kecilnya merah bercampur darah segar disertai rasa nyeri. Rupanya terlalu lama ia menahannya.

Saat berjalan pindapata di desa, ada sesuatu yang biasanya tak pernah terjadi. Banyak anjing yang menggonggong dan mengikutinya. Seolah-olah ada sesuatu yang mengikutinya dan membuat anjing-anjing terangsang menggonggong dan mengikutinya.

***

Than Acharn Jah, dengan gaya bicaranya yang bebas, sederhana, lugas dan mudah dimengerti amat menarik pendengarnya walau pendidikan formalnya hanyalah Sekolah Dasar di desa kelahirannya. Ini semua karena kekuatan Dhamma yang ada dalam dirinya, hasil dari latihan dan praktek Dhamma-Vinaya yang keras dan terarah. Hal ini membuktikan bahwa untuk mencapai pengertian Dhamma, tidak tergantung pada intelektualitas duniawi, namun tergantung dari bagaimana pelaksanaan Dhamma yang telah dilakukan seseorang.

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: