Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Penangkal Kemarahan

Posted by chanyan pada 2010/05/08

Pembukaan konstitusi Unesco menyatakan:

That since wars begin in the minds of men, it is in the minds of men that the defences of peace must be constructed.

http://portal.unesco.org/en/ev.php-URL_ID=15244&URL_DO=DO_TOPIC&URL_SECTION=201.html

(Karena perang dimulai dari pikiran manusia, maka di dalam pikiran manusia jugalah harus dibangun upaya untuk melindungi perdamaian).

Demikian juga Santideva menulis: “Berapa banyakkah orang jahat yang dapat saya bunuh? Jumlah mereka tak terbatas seperti bintang di langit. Tapi jika pikiran yang penuh amarah dapat kita bunuh, maka semua musuh otomatis terbunuh.”

Maka kita semua tentu sepakat, kemarahan adalah kondisi pikiran yang tidak sehat, ibarat racun bagi pikiran, juga membahayakan kesehatan fisik seperti hipertensi, gangguan pencernaan, infeksi lambung, sulit b.a.b, dsb. Selain itu, tidak ada yang senang berlama-lama dekat dengan orang yang cepat naik pitam bukan?

Ada yang berargumentasi bahwa kemarahan kadang diperlukan sebagai landasan perbaikan. Misalnya, buruh marah karena digaji dibawah UMR, maka perusahaan kemudian meningkatkan kesejahteraan buruh. Masyarakat marah karena tempat keramat mau digusur, maka tidak jadi digusur, malah dibuatkan jalan terowongan ke tempat yang dimaksud. Umat Buddha tidak marah walau simbol-simbol agamanya dilecehkan, maka sudah setahunan Buddha Bar di Jakarta masih terus beroperasi, malah berencana akan buka cabang dikota-kota lain.

Seolah-olah ada hal-hal yang patut untuk dimarahi dan dijadikan sasaran amarah, bahkan tindakan yang destruktif sekalipun akibat kemarahan masih bisa dimaklumi. Padahal yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukanlah kemarahan, tetapi semangat dan usaha / daya upaya. Memang kesemuanya itu sama-sama mengandung unsur energi, namun yang paling mudah dilihat adalah bentuk-bentuk kemarahan. Maka secara pragmatis digeneralisir bahwa kemarahan bisa ditoleransi karena kadang membawa perubahan yang lebih baik. Sebuah generalisasi yang keliru.

Ada sebagian orang <kadang-kadang termasuk saya juga hehehe> menganggap bahwa kemarahan jangan ditekan, jangan ditahan, karena bisa merusak diri sendiri, ‘makan dalem’, maka harus disalurkan, diekspresikan untuk melepaskan ketegangan, biar gak bisulan. Tetapi sayangnya, pendekatan buddhisme tidak seperti itu. Sang Buddha tidak pernah menganjurkan atau memberi kelonggaran soal kemarahan ini. Beliau dengan tegas mengatakan, “Kebencian tak pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.”

Jadi, konkritnya kita harus bagaimana? Yang paling bagus, jangan sampai marah hehehe. Tapi tidak marah bukan berarti terima nasib atau terima karma yang kesannya apatis. Apakah mungkin orang yang belum suci tidak timbul perasaan marah? Tentu tidak khan. Oleh karena itu, ketika muncul kemarahan, sebaiknya jangan lama-lama. Semakin cepat sirna, semakin bagus. Setuju?

Kalau setuju, mari kita bahas cara-cara agar tidak marah berlama-lama.

1. Memiliki Perhatian Murni (Sati)

Perhatian Murni yang dimaksud adalah pikiran, kewaspadaan, mengerti dengan jelas apa yang sedang terjadi tepat pada saat terjadinya suatu kejadian.

Akui bahwa kita sedang marah. Hanya tahu bahwa kita akan marah. Tapi bukan dibiarkan, apalagi sampai diumbar, juga bukan ditekan, jaga pikiran jangan sampai berandai-andai. Perhatikan saja ke dalam seperti orang menonton acara lawak di tivi yang tidak lucu.

Jika sikon memungkinkan dan sanggup hanya mengamati awal munculnya perasaan marah, kemungkinan besar kemarahan itu akan segera melemah, memudar dan lenyap terurai. Mengapa begitu? Karena emosi marah adalah emosi orang yang ‘belum dewasa’, hehehe… coba lihat anak kecil, ada kalanya untuk hal yang sangat sepele, dia marah dan menangis. Gara-gara kalah ngomong dengan temannya, dia marah dan menangis meraung-raung. Semakin dibiarkan, semakin menjadi-jadi nangisnya. Tapi begitu didekati oleh pihak lain, diperhatikan, ditanya masalahnya apa, digendong, ingusnya di lap, dan ajaib… tidak disuruh berhenti, tidak dibenarkan atau disalahkan, tangisnya berhenti dengan sendirinya. Disitulah arti pentingnya perhatian, agak lebay dikit, kasih sayang.

Kata teman, Perhatian Murni bisa diperoleh dari latihan meditasi. Iya, setuju. Perlu diingat, meditasi adalah kata terjemahan dari meditation. Sejatinya di buddhisme bernama bhavana yang artinya mengolah/mengembangkan batin. Jadi, dengan latihan meditasi bisa mengembangkan batin dari seorang puthujjana (awam) menjadi ariya (suci), tentu saja prosesnya mencakup transformasi batin yang ‘belum dewasa’ menjadi ‘dewasa’. Dalam hal ini, Perhatian Murni merupakan satu komponen kecil dari meditasi.

2. Tetaplah tenang

Semakin hari semakin langka orang yang mampu bersikap tenang dan hening di dunia modern. Kata iklan, gak ada elu gak rame. Sepertinya kosakata tenang hanya sering dijumpai di iklan koran, Telah Meninggal Dengan Tenang… Padahal kalau dicermati, orang meninggal aja butuh ketenangan, apalagi yang hidup, yang sedang berjuang keras mencipta dan berkarya. Iya gak?

Maka, orang yang ahli dalam ketenangan merupakan skill yang sungguh berharga di masa mendatang. Emosi yang terjaga stabil, tenang dalam kegiatan sehari-hari, gak krasak-krusuk, penuh perhatian dan terarah, tentu lebih mudah meredakan kemarahan, mengurangi ketegangan dan kepanasan akibat global warning.:) J

3. Renungkan contoh-contoh mulia Sang Buddha

Sebagai murid kita tentu harus mengingat nasihat dan merenungkan sifat-sifat  Guru Junjungan kita. Sang buddha telah berkali-kali menunjukkan kesabaran yang luar biasa saat menghadapi provokasi yang keterlaluan. Beliau tidak pernah marah, tetapi sebaliknya memancarkan cinta-kasih (metta) bahkan kepada orang yang menindasnya. Beliau tidak pernah marah ketika Devadatta berkali-kali berusaha membunuh Beliau. Begitu pula saat Cinca memfitnah bahwa Beliau yang menghamilinya, atau ketika Beliau dituduh membunuh seorang pengembara wanita.

Tidak hanya di kehidupan terakhirNya, tetapi juga dalam kehidupan-kehidupan lampau sebagai Bodhisatta (calon Buddha), Beliau telah menunjukkan kesabaran dan ketabahan luar biasa. Di kitab Khantivadi-jataka (riwayat praktik kesabaran) diceritakan Raja Kalabu yang super kejam bertanya pada Sang Bodhisatta: “Pertapa, apakah yang anda ajarkan?”

“Aku mengajarkan kesabaran, Tuan”

“Apakah kesabaran itu?”

“Tidak marah ketika orang menyumpahi, memukul atau mencerca anda.”

Raja berkata: “Sekarang aku mau melihat sampai sejauh mana kesabaranmu.” Raja Kalabu lalu memanggil dan memerintahkan algojonya untuk mencambuk Bodhisatta.

“Pertapa, apakah yang anda ajarkan?”

Bodhisatta menjawab: “Aku mengajarkan kesabaran, Tuan, tetapi anda pikir kesabaran hanyalah sebatas kulit. Kesabaranku tidaklah sebatas kulit, tetapi tak dapat anda lihat, karena kesabaranku berakar kokoh di dalam hati.”

Raja yang marah kepada Bodhisatta karena cemburu terhadap perhatian yang diberikan oleh beberapa wanita istana kepada Bodhisatta, memerintahkan algojo untuk memotong tangan dan kaki Bodhisatta.

Raja kembali mengejek Bodhisatta, “Pertapa, apakah yang anda ajarkan?”

“Aku mengajarkan kesabaran, Tuan. Tetapi anda pikir kesabaran terletak pada tangan dan kakiku. Kesabaran tidaklah disitu; ia berakar kokoh di suatu tempat yang dalam.”

Raja memerintahkan: “Potong hidung dan telinganya.”

Ketika ditanya lagi oleh Raja, Sang Bodhisatta menjawab: “Aku mengajarkan kesabaran, Tuan. Tetapi janganlah berpikir bahwa kesabaran berada di hidung dan telingaku. Kesabaran berakar kokoh jauh di dalam hati.”

Raja berkata: “Anda bisa duduk dan memuji kesabaranmu.” Lalu menendang Bodhisatta tepat pada hatinya, kemudian pergi.

Panglima tertinggi kerajaan yang berada di sana, membersihkan darah dari tubuh Bodhisatta, membalut kaki dan tangan, telinga dan hidung Beliau, serta memohon ampun, “Pertapa, jika Anda mau murka, marahlah pada raja dan janganlah pada kerajaan.”

Bodhisatta menjawab bahwa ia tidak marah pada siapapun, bahkan pada raja yang telah merusak dirinya. Ia bahkan berkata, “Panjang umur bagi raja, orang seperti aku tidak akan marah.” Bodhisatta wafat hari itu, sedang raja, disebutkan ditelan Bumi karena kebengisannya dan bertumimbal lahir di Neraka Avici.

Kisah kesabaran dan ketulusan yang luar biasa, bukan? Bahkan di kehidupan terakhir Beliau, yang kita kenal sebagai Siddhattha Buddha Gotama, mengajar tentang Perumpamaan Gergaji. Sang Buddha mengatakan bahwa bahkan jika para perampok menggergaji atau memotong anggota badan kita, kita tidak hanya tidak boleh marah terhadap mereka, tetapi juga harus memancarkan cinta kasih, mengharapkan: “Semoga para perampok ini dan semua makhluk hidup berbahagia dan sejahtera.”

Tidak diragukan, ini adalah nasihat yang paling sulit dipraktekkan (apalagi buat saya hehehe), tetapi ini menekankan maksud: Tidak ada tempat bagi kemarahan dalam ajaran Sang buddha. Kita berusaha untuk mengisi hati kita dengan cinta kasih serta mencabut semua kemarahan. Dengan mengingat ini, mudah-mudahan, suatu saat kita akan bersikap lebih tenang-seimbang (upekkha) untuk memeriksa kemarahan kita ketika ia muncul.

4. Renungkan bahwa suatu saat kita semua akan mati

Kehidupan tidaklah pasti, tetapi kematian itu pasti. Alangkah baiknya kalau tiap pagi kita ingat bahwa: Sungguh singkat kehidupan manusia, serba terbatas dan cepat berlalu,  penuh dengan kesakitan dan penderitaan. Seseorang harus bijaksana memahami hal ini, lakukan perbuatan baik dan jalankan kehidupan suci, karena tidak ada makhluk hidup yang bebas dari kematian.

5. Renungkan kerugian bagi diri sendiri akibat kemarahan

Bila kita bisa menganggap kemarahan seperti perbuatan yang mencelakakan diri sendiri, seperti bunuh diri, barangkali kita tidak akan berani coba-coba untuk marah.

Di Kitab Visuddhi Magga disebutkan: “Jika engkau marah, mungkin ia akan menderita, mungkin pula tidak. Tetapi dengan merasakan kemarahanmu sendiri, pastilah engkau merasakan penderitaan.”

Dengan marah, anda seperti orang yang ingin memukul orang lain dengan mengambil bara api atau kotoran sehingga pertama anda sendiri harus terbakar atau berbau busuk dahulu. Adakah orang yang lebih dungu daripada orang marah?

6. Bercerminlah

Apakah kalau marah, tampang kita cukup menarik? hehehe..

7. Renungkan bahwa kita adalah pewaris perbuatan kita sendiri

Bila kita ingat kata-kata renungan: “Setiap makhluk memiliki perbuatan mereka sendiri. Aku adalah pewaris perbuatanku. Perbuatan adalah rahim darimana aku muncul. Aku berhubungan dengan perbuatanku. Perbuatanku adalah pelindungku. Apapun yang aku kerjakan, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisi.”

8. Ingat kebaikan-kebaikannya

Ketika akan marah, ingatlah sisi kebaikan orang itu. Ia mungkin pernah membantu kita sebelumnya.

9. Diamlah

Ketika akan marah, lebih diam seribu bahasa, baik di mulut maupun di pikiran.

10. Tidak seorang pun yang bebas dari kesalahan

Sang Buddha pernah berkata kepada bhikkhu Atula, “Inilah kebiasaan lama, Atula, tidak hanya saat ini saja mereka menyalahkan orang yang selalu diam, mereka menyalahkan orang yang banyak bicara, mereka menyalahkan orang yang berbicara secukupnya; tidak seorang pun di dunia yang bebas dari disalahkan.”

Kata-kata Sang buddha di atas, menurut saya, kita jangan marah jika dipersalahkan oleh orang lain, kemungkinan besar kita mempunyai kelemahan atau kekurangan, setidaknya dimata orang lain. Itu yang membuat ‘tidak seorang pun di dunia yang bebas dari disalahkan’.

Kata-kata Sang Buddha diatas hendaknya jangan dipakai oleh kita ataupun pengurus organisasi untuk melegitimasi kemarahan ketika dikritik atau diberi saran. Dianggap bahwa ‘orang yang menyalahkan’ adalah orang sirik, iseng atau kurang kerjaan, sehingga boleh dianggap angin lalu. Sungguh tidak tepat kalau kita menanggapi suatu saran/kritik yang dialamatkan kepada kita dengan mengutip kata-kata di atas. Sikap seperti itu hanya akan menambah kemarahan kita.

Dengan mengingat bahwa kita juga sering salah, maka suatu ketika kesalahan orang lain bukanlah sesuatu yang luar biasa, bukan hal yang cukup layak untuk membuat kita mencelakakan diri sendiri dengan marah.

11. Mengapa kita marah?

12. Siapakah sesungguhnya yang marah?

13. Renungkan bahwa kita semua pernah berhubungan

14. Maafkan.

15. Ingat manfaat cinta kasih

16. Berikan hadiah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: