Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dhamma Sebagai Jalan Hidup (1)

Posted by chanyan pada 2010/05/09

Oleh : Hananto
courtesy: Nithya
Kehidupan kita sebagai manusia, selayaknya dijalani sesuai dengan ajaran kebajikan (Dhamma) sehingga tidaklah sia-sia. Apabila kehidupan ini tidak dijalani sesuai dengan Dhamma, maka hidup ini dikatakan sia-sia, tanpa guna (mogha).

Hanya kehidupan manusia-manusia bijaksana sajalah yang dikatakan tidak sia-sia, karena seorang bijaksana tentu mempunyai Dhamma dalam dirinya. Sementara orang-orang bodoh hanya mempunyai pikiran keduniawian dan keangkuhan tertanam dalam dirinya.

Apa yang ada dalam pikiran adalah suatu awal perbuatan yang akan dilakukan manusia sebagai cara hidup. Dasar dari cara hidup yang dilakukan manusia di dunia ini bisa dibagi menjadi tiga macam:

  1. Lokadhipateyya               : manusia yang mempunyai cara hidup berdasarkan keduniawian.
  2. Attadhipateyya                : manusia yang mempunyai cara hidup berdasarkan kepentingan pribadi (mementingkan   diri sendiri).
  3. Dhammadhipateyya       : manusia yang mempunyai cara hidup berdasarkan Dhamma (kebajikan).

Lokadhipateyya :

Kehidupan manusia yang berdasarkan lokadhipateyya, berputar dan dipengaruhi oleh delapan lokadhamma, yaitu: keuntungan dan kerugian, kemajuan (kejayaan/tahta) dan kemerosotan (kehilangan kedudukan), pujian dan celaan, kegembiraan dan kesedihan.

Lokadhamma tersebut hanyalah merupakan sesuatu yang menyenangkan (ittharamana) dan sesuatu yang tak menyenangkan dan tak dikehendaki (anittharamana).

Kehidupan seperti ini menunjukkan bahwa batin tak mempunyai panutan sebagai cara membersihkan diri. Segala sesuatu yang dikerjakan hanyalah sekedar perbuatan, seperti kelakuan seorang bayi yang tak mengerti kebaikan dan kejelekan. Hidup hanya mengikuti arus duniawi.

Attadhipateyya :

Cara hidup manusia yang berdasarkan attadhipateyya, mempunyai pandangan bahwa diri sendirilah yang terpenting, karena merasa adanya ‘aku’ (diri). Ia mau melakukan sesuatu dengan rajin bila hal itu menguntungkan dirinya.

Atta di sini, seperti pengertian dalam kalimat ‘sabbe dhamma anatta’, yang menerangkan bahwa segala jenis dhamma adalah anatta.

Ketidaktahuan tentang ke-sunyataan-lah yang membuat seseorang mempunyai konsep pikir adanya atta dan membuat terikat pada ‘atta’ itu.

Namun, dengan pengertian benar, seseorang mampu menghancurkan konsep pikir tentang adanya atta. Dengan mengerti bahwa segala sesuatu tak mempunyai inti yang kekal, maka konsep adanya atta ini akan hapus dengan sendirinya. Tak lagi terikat pada atta.

Suatu pandangan tentang adanya atta (diri) ada dua macam:

  1. bhava-ditthi        :  pandangan adanya kehidupan yang kekal. Roh adalah kekal.
  2. vibhava-ditthi   :  pandangan tak adanya kehidupan kekal. Tak ada lagi kehidupan di masa yang akan datang. Sesudah mati lenyap tak ada kehidupan lagi. Yang dilakukan oleh pancakhanda adalah anatta, yang akhirnya beranggapan bahwa perbuatan baik maupun jelek tak mempunyai akibat apapun. Tak takut dalam melakukan segala tindakan. Pandangan ini disebut terlarut dan tersesat, karena pengertian ‘anatta’ yang salah.

Dhammadhipateyya :

Cara hidup manusia yang berdasarkan Dhammadhipateyya, mempunyai pandangan bahwa kehidupan ini sebaiknya dilaksanakan berdasarkan kebajikan (Dhamma).

Merupakan suatu ciri kehidupan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena, kehidupan yang dilaksanakan atas dasar kebajikan tentu bebas dari itikad buruk terhadap diri sendiri maupun orang lain. Merupakan suatu pemikiran luhur menuju kehidupan bebas dari dukkha.

Cara hidup semacam ini tentu jauh dari kehidupan jenis lokadhipateyya (terlarut keduniawian) dan attadhipateyya (yang mementingkan diri sendiri). Mempunyai pengertian dan kemampuan untuk menghindar dari lokadhamma.Tak terguncang dan terbuai dalam arus lokadhamma. Mengerti dengan benar tentang paham atta maupun anatta sehingga tidak tersesat dan terikat pada keduanya. Benar-benar hidup berdasarkan kebajikan.

Tulisan ini akan menerangkan tentang Dhammadipateyya. Karenanya, diberi judul ‘Dhamma Sebagai Jalan Hidup’. Hidup dalam Dhamma bisa terlaksana dengan baik bila seseorang melaksanakan Bodhipakkhiyadhamma.

Bodhipakkhiyadhamma

Sang Tathagata menguraikan dan mengajarkan cara atau jalan yang harus ditempuh menuju kehidupan bebas dari dukkha. Karena bila dilaksanakan dengan baik akan membuat seseorang mengerti dan mampu menembus kesunyataan. Suatu Dhamma yang membuat seseorang menjadi bijaksana. Membuat batin yang tadinya
gelap menjadi terang.

37 pasal Bodhipakkhiya-Dhamma tersebut adalah sebagai berikut:

  • Satipatthana (4 pasal)
  • Sammappadhana (4 pasal)
  • Iddhipada (4 pasal)
  • Indriya (5 pasal)
  • Bala (5 pasal)
  • Bojjhanga (7 pasal)
  • Magga (8 pasal)

Akan merupakan suatu kesulitan yang besar, bila seseorang berpikir harus melaksanakan Dhamma sebanyak itu dengan sempurna terlebih dahulu untuk mencapai tujuan.

Namun sebenarnya, 37 Bodhipakkhiyadhamma itu adalah majjhima patipada yang bila disarikan lagi menjadi sila, samadhi dan panna.

Dikembangkan dan dijabarkan menjadi 37 pasal Bodhipakkhiyadhamma, untuk membantu agar lebih mudah dimengerti dan dicerna. Bukannya untuk membuat takut dan bingung karena dihadapkan dengan begitu banyak pasal.

Bila telah mengerti tentang Bodhipakkhiyadhamma, berarti seseorang hanyalah melaksanakan Ti-sikkha saja, yaitu sila, samadhi dan panna.

Bila telah melaksanakan Ti-sikkha dengan baik, berarti Bodhipakkhiyadhamma yang tiga puluh tujuh pasal itu telah terselesaikan dengan baik pula.

Sila, samadhi dan panna mengacu pada badan jasmani, ucapan (mulut) dan pikiran.

Bila badan jasmani, ucapan dan pikiran dikuasai oleh kejelekan, tentu akan membuahkan derita (dukkha). Bila badan jasmani, ucapan dan pikiran dipenuhi oleh kebajikan, tentu akan membuahkan kebahagiaan (sukha). Penyebab dukkha maupun sukha adalah apa yang ada di dalam badan jasmani, ucapan dan pikiran.

Karenanya, Sang Buddha menasehati agar memasukkan penyebab sukha ke dalam badan jasmani, ucapan dan pikiran. Itu berarti telah mengusir penyebab dukkha.

Harap dimengerti bahwa keberadaan penyebab sukha tak mungkin sama dengan keberadaan penyebab dukkha. Bila salah satu penyebab masuk, maka penyebab lain tentu terusir ke luar. Karena alasan inilah dikatakan, sukha dan dukkha tergantung pada kondisi yang ada pada badan jasmani, ucapan dan pikiran. Penyebab dan akibat sukha maupun dukkha, berada pada badan jasmani, ucapan dan pikiran. Begitu pun masalah kebahagiaan luhur, Nibbana, tergantung pada badan jasmani, ucapan dan pikiran.

Sila mempunyai tugas mengendalikan badan jasmani dan ucapan. Membuat badan jasmani dan ucapan berada dalam jalur kebaikan setiap saat.

Samadhi mempunyai tugas mengendalikan dan mengarahkan pikiran. Membuat pikiran berada dalam jalur kebersihan/kesucian setiap saat.

Panna mempunyai tugas membasmi segala sesuatu yang menghalangi dan menghambat perkembangan sila dan samadhi.

Apabila sila dan samadhi telah berkembang dengan layak, sila dan samadhi akan berbalik membantu dan mendukung perkembangan panna. Panna akan berkembang terus menjadi suatu Dhamma (kebajikan) yang memenuhi badan jasmani, ucapan dan pikiran. Proses ini mengakibatkan roda Dhamma berputar dengan lancar menuju kehidupan bahagia yang luhur.

Di dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari, Bodhipakkhiya-dhamma merupakan satu-satunya jalan yang benar-benar murni dalam hal penyebab maupun akibat (hasil).

Seseorang yang melaksanakan Bodhipakkhiyadhamma dengan baik, tentu tak mempunyai itikad jelek terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain tercampur dalam pelaksanaannya.

Bahkan sebaliknya, tak ada perasaan memandang rendah orang lain. Mempunyai perasaan metta dan karuna terhadap semua makhluk. Ingin orang lain juga menjalankan kebajikan demi tercapainya kebahagiaan luhur, Nibbana.

Seseorang yang mengarahkan dirinya ke dalam jalan Dhamma, akan mempunyai metta yang luhur terhadap siapa pun. Karenanya, seseorang yang telah berhasil mencapai kebahagiaan dalam Dhamma tak akan bisa berpangku tangan saja.

Bagaimana mungkin bisa berpangku tangan apabila melihat sekelilingnya penuh dengan saudara sependeritaan di dunia ini mengeluh, berteriak dan menjerit duka diterpa kesedihan. Sementara yang lain ada yang tertawa, terbahak-bahak terbuai kesenangan, tanpa mengerti bahwa itu adalah kebahagiaan yang semu. Saling tak peduli satu sama lain. Bahkan ada yang saling mencelakakan. Bagaikan penumpang sebuah kapal yang pecah di tengah laut. Saling berhamburan menyelamatkan diri tanpa peduli lagi pada yang lain. Yang mati biarkan mati, yang hidup biarkan hidup. Padahal, yang hidup tentu akan merasa kelaparan dan kehausan dalam beberapa hari lagi. Dan tak berapa lama lagi mereka tentu kehilangan rasa kebajikan karenanya. Menunggu saat kematian bila tak ada penolong yang menyelamatkan mereka dari keganasan laut. Bukankah ini amat memprihatinkan?

Tak ada jenis pertolongan yang lebih berharga daripada menyadarkan dan menunjukkan pada mereka jalan yang benar menuju kebahagiaan sejati. Memberi mereka yang haus dengan air Dhamma. Memberi mereka yang lapar dengan makanan Dhamma. Memberi perlindungan pada mereka yang takut (karena kegelapan batin) dengan perlindungan (pengetahuan) Dhamma.

Seseorang yang membantu dan memberi pertolongan dengan penuh metta, tentu tak mengharap balas budi berupa apapun. Ia akan rela berkorban tanpa pamrih! Itulah hidup seorang yang telah berhasil mengalahkan diri sendiri.

A). Satipatthana (4)

Sati adalah satu-satunya syarat yang membuat seseorang bisa dikatakan sebagai manusia normal atau tidak. Bila seseorang tidak lagi mempunyai sati yang mampu mengendalikan diri secara normal, maka ia akan disebut sinting atau gila.  Selama seseorang masih mempunyai sati yang cukup kuat untuk mengendalikan diri dengan baik, maka ia masih disebut normal (tidak sinting atau gila).

Karenanya, sati merupakan sesuatu yang amat penting dalam hal untuk menyembuhkan ‘kegilaan’ dalam diri manusia. Yaitu dengan meningkatkan kemampuan dan kualitas sati setinggi mungkin. Kegilaan dan kesesatan batin disebabkan oleh kemampuan dan kualitas sati yang tak memadai. Bila kemampuan dan kualitas sati cukup memadai, maka kegilaan dan kesesatan batin akan berangsur lenyap sesuai dengan kondisi sati tersebut.

Sang Tathagata mengajarkan bahwa dengan mengembangkan sati menjadi kuat, merupakan satu-satunya cara bagi seseorang untuk mencapai tujuan akhir, Nibbana.  Satipatthana kammattana adalah salah satu cara untuk mengembangkan sati.

Pelaksanaan Satipatthana mempunyai beberapa tujuan:

  • Sattanam visuddhiya : demi pencapaian kesucian.
  • Sokaparidevanam samatikkaya : untuk terbebas dari penderitaan/kesedihan dan keluh kesah.
  • Dukkha-domanassanam : demi lenyapnya dukkha dan penderitaan batin.
  • Nayassa adhigamaya : untuk mencapai pengetahuan (kebijaksanaan).
  • Nibbanassa sacchikiriyaya : untuk membuktikan dan mencapai Nibbana.

Sebagai dasar bagi pengembangan sati melalui Satipatthana kammatthana, Sang Tathagata menunjukkan 4 (empat) landasan utama, yaitu:

  1. Kaya : badan jasmani, termasuk anggota tubuh bagian dalam dari diri sendiri maupun orang lain.
  2. Vedana : perasaan sukha, dukkha, bukan sukha bukan pula dukkha yang dirasa oleh diri sendiri  maupun orang lain.
  3. Citta : pikiran atau perasaan yang bereaksi mengikuti kebaikan dan kejelekan diri sendiri maupun orang lain.
  4. Dhamma : bentuk-bentuk Dhamma yang muncul. Kusala-dhamma maupun akusala-dhamma pada diri sendiri maupun orang lain.

Untuk melaksanakan perenungan terhadap empat landasan ini, bukan berarti harus merenungkan keempat-empatnya sekaligus. Tapi dengan memakai satu landasan saja berarti sudah menyangkut landasan yang lain, karena keempatnya saling berhubungan.

Namun bagaimanapun, harap dimengerti bahwa dalam melaksanakan Satipatthana ini, tujuan awalnya haruslah pada ketenangan batin (samatha) lebih dahulu. Teguh, konsentrasi pada salah satu landasan sampai mencapai ekaggata.

Satipatthana dalam tahap samatha haruslah mengandung 3 (tiga) unsur sebagai berikut:

  1. Atapi               : mempunyai usaha dan semangat yang kuat untuk membasmi kekotoran batin (kilesa).
  2. Sampajanna : mempunyai sampajanna (kesadaran diri) yang didukung pula oleh sati untuk membasmi kilesa.
  3. Satima             : sebagai orang yang mempunyai sati yang kuat yang didukung oleh uppekha.

Ketiganya merupakan ciri khusus dari samadhi yang kokoh, merupakan puncak dari samatha.

Satipatthana dalam tahap untuk mengembangkan kebijaksanaan dan pengetahuan terhadap kesunyataan, yang disebut nanadassana, haruslah disertai kemampuan membasmi 2 (dua) hal berikut ini :

  1. Abhijjha          : perasaan usil, ingin campur tangan urusan orang lain. Tamak dan iri, ingin memiliki harta milik orang lain.
  2. Domanassam : kegelapan dan kekeruhan batin.

Satipatthana adalah suatu cara untuk membebaskan diri dari dukkha dengan mengembangkan sati menjadi sempurna.

Menurut uraian di atas, maka jelaslah, ada 2 (dua) tahap satipatthana untuk mencapai tujuan utama itu :

  1. Konsentrasi yang kuat pada salah satu landasan tersebut, hingga batin mencapai ketenangan (samadhi) yang kokoh, sati berkembang menjadi kuat dan sempurna – sebagai samatha.
  2. Sati yang didukung (mengandung) ketenangan, merenungkan salah satu dari (landasan) satipatthana untuk mendapatkan pengetahuan dan menembus kesunyataan – sebagai vipassana.

Jadi bisa disimpulkan, pekerjaan awal disebut samatha. Memperkuat samadhi (ketenangan batin) sebagai fondasi bagi pekerjaan selanjutnya, yaitu perenungan dan penganalisaan (vipassana). Sebab, perenungan dan penganalisaan yang tanpa dilandasi ketenangan batin (samadhi) yang memadai, akan menghasilkan kegelisahan belaka.

Dengan sati dan sampajanna yang telah kuat dan murni, batin mengadakan penganalisaan terhadap 4 (empat) landasan, yaitu: kaya, vedana, citta dan dhamma untuk mendapat pengetahuan/pengertian kesunyataan landasan-landasan tersebut.

Caranya sebagai berikut:

Merenungkan landasan (misalnya, badan jasmani) diri sendiri.
Merenungkan landasan (misalnya, badan jasmani) orang lain.
Membandingkan landasan (misalnya, badan jasmani) diri sendiri dengan landasan (misalnya, badan jasmani) orang lain.

Sesudah merenungkan dan menganalisa badan jasmani diri sendiri hingga jelas dan mengerti benar-benar, lalu merenungkan dan menganalisa badan jasmani orang lain hingga jelas dan mengerti benar-benar pula. Bandingkan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan kebenaran yang ada pada diri orang lain hingga keduanya kelihatan sama. Mempunyai sifat-sifat yang sama, yaitu: anicca, dukkha dan anatta.

Dalam melaksanakan perenungan tersebut, sati haruslah kuat dalam menangkap objek hingga mampu menganalisa dan mengetahui sifat-sifat objek tersebut. Jangan sampai tergoyah mengikuti phenomena lain yang muncul. Sati hanyalah sekedar sati, bukan ‘aku’, bukan pula ‘milikku’. Jangan sampai berdiam dan ‘terikat’ oleh objek apapun. Jangan sampai mempunyai pandangan bahwa objek-objek itu adalah ‘aku’ atau ‘milikku’.

Itulah dasar-dasar yang harus dimengerti saat melaksanakan vipasana melalui Satipatthana kammatthana.

Pengertian terhadap Satipatthana

Di sini akan ditekankan kembali pengertian tentang satipatthana, karena bila dilihat sepintas lalu, begitu sulitnya pelaksanaan Satipatthana kammatthana ini.

Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, keempat landasan (kaya, vedana, citta, dhamma) saling berhubungan satu sama lain. Bukanlah sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Bila kita merenungkan dan tahu tentang kaya (badan jasmani), kita akan tahu tentang vedana. Tahu tentang vedana, tentu tahu tentang citta. Tahu tentang citta, tentu tahu tentang dhamma.

Badan jasmani sifatnya lebih kasar dibanding tiga landasan yang lain. Biasanya, akan lebih mudah memulai perenungan memakai objek badan jasmani (kayanupassana satipatthana).

Kiranya tidak begitu sulit bagi orang-orang yang mempunyai saddha dan panna yang baik untuk melaksanakan satipatthana kammatthana.

Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha adalah ajaran yang patut diikuti. Apabila manusia seperti kita tak mampu lagi mengikuti dan melaksanakan ajaran (Dhamma), Dhamma hanyalah sekedar Dhamma. Tak akan membuahkan hasil sebagai niyyanika, yaitu mengantar manusia menuju pembebasan dukkha.

Namun, pelaksana-pelaksana Dhamma telah banyak yang berhasil membebaskan diri dari belenggu dukkha. Sebagai bukti bahwa Dhamma bukanlah sesuatu yang mustahil dilaksanakan. Karenanya, tak selayaknyalah kita melangkah surut atau bermalas-malasan dalam melaksanakan ajaran sejati Sang Buddha.

Pengertian Samatha dalam Satipatthana

Untuk memudahkan pencapaian ketenangan (samadhi), bolehlah disarankan untuk memakai landasan jantung sebagai objek.

Jantung merupakan salah satu organ tubuh manusia yang mempunyai ‘kaitan yang erat’ dengan batin/pikiran. Contohnya, bila seseorang terkejut, maka ia akan merasa jantungnya berdebar atau deg-degan. Perasaan lega dan gembira juga dirasakan di arah jantung (dada), bukan di tempat lain.

Segala sesuatu yang terjadi di dalam pikiran akan membuat jantung juga bereaksi. Begitupun, bila samadhi mulai muncul dalam batin, akan dirasa mengumpul di arah jantung (dada), bukan di tempat lain.

Batinlah yang merasakan dan mengetahui bila ada vedana muncul. Kusala-dhamma dan akusala-dhamma muncul di batin. Karenanya, untuk mencapai ketenangan, sebenarnya merupakan suatu usaha untuk mengarahkan batin berada dalam batin. Untuk itulah seseorang harus berusaha memperkuat sati.

Keberhasilan membawa batin berada di dalam batin, itu menunjukkan bahwa batin telah mempunyai kekuatan yang memadai. Akan lebih mudah dalam melakukan penganalisaan.

Seseorang yang telah terlatih dalam pelaksanaan satipatthana, akan segera mampu menangkap objek lainnya, walau diawali dengan perenungan terhadap salah satu objek (landasan).

Dengan cepat dan mudah membasmi abhijjha dan domanassa. Dan dengan cepat pula bisa mencapai samma-samadhi.

Di dalam ketenangan (samadhi) yang kokoh ini, batin akan tahu bahwa sedang melakukan kebajikan, dengan sati dan sampajanna yang kuat. Batin akan tahu saat munculnya vedana. Tahu bahwa batin mulai jernih dan bersih. Tahu bahwa unsur penghambat kemajuan (nivarana) telah tersingkirkan. Tahu bahwa batin telah berada dalam batin.

Inilah jenis samadhi yang kokoh tak tergoyahkan. Siap memerangi kilesa-kilesa yang muncul dengan penganalisaan hingga mengetahui kesunyataan Dhamma.

Ketenangan batin semacam ini haruslah dicapai terlebih dahulu. Janganlah tergesa-gesa. Ketergesaan hanya akan menghasilkan kegagalan.

Pengertian Vipasana dalam Satipatthana.

Setelah berhasil mencapai ketenangan yang memadai, tibalah saatnya untuk melanjutkan pekerjaan. Yaitu, mengadakan penganalisaan terhadap empat landasan (kaya, vedana, citta dan dhamma) hingga mencapai pengertian benar.

Pengertian benar yang mampu membuat batin menjadi jernih dan terang adalah dengan merenungkan :

Sabbe sankhara anicca : segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.

Sabbe sankhara dukkha : segala sesuatu yang berkondisi adalah bersifat dukkha.

Sabbe dhamma anatta : segala jenis dhamma adalah anatta (tanpa ‘aku’).

Perenungan ini amatlah penting. Karenanya, seseorang harus mempunyai semangat, tekun dan ulet.

Badan jasmani adalah sasaran pertama yang harus dianalisa, karena badan jasmani sifatnya lebih kasar, menutupi bagian-bagian lain yang lebih halus.

Badan jasmani beserta organ-organnya adalah sesuatu yang tidak kekal. Dilahirkan (muncul), bekembang menjadi dewasa dan tua (berlangsung), akhirnya mati (padam). (Renungkan pula organ-organ tubuh lainnya, seperti kulit, daging, darah dan lain-lainnya).

Perenungan berulang-ulang yang didukung kekuatan samadhi yang kokoh akan membuat seseorang mampu melihat dengan jelas melalui mata batin, seperti melihat proses yang sesungguhnya. Terutama proses padamnya badan jasmani. Akan terlihat dengan jelas bagaimana proses pembusukan terjadi. Berupa mayat yang mulai membiru, membengkak dan mulai pecah, keluar cairan. Daging mulai membusuk bernanah, meleleh digerogoti berjuta-juta ulat serta lalat yang beterbangan mengelilingi. Menyusul habisnya onggokan daging busuk, maka tinggallah tulang belulang berwarna putih, yang akhirnya juga hancur menjadi seonggok tanah.

Mata batin yang mampu melihat proses ini dan merenungkannya, akan membuat seseorang mengerti dan memahami arti anicca, dukkha dan anatta yang sebenarnya. Menembus kesunyataan, karena telah munculnya panna cakkhu (mata kebijaksanaan).

Anicca, selalu berubah-ubah, tidak kekal. Dukkha, tak bisa bertahan lama, bersifat tidak menyenangkan. Anatta, bukanlah ‘diri’, tak bisa dikendalikan. Maka, ketiganya mempunyai arti yang sama, satu dengan lain. Karena, sesuatu yang berubah-ubah, tidak kekal berarti sifatnya dukkha dan tidak bisa bertahan lama. Juga tak bisa dikendalikan, harus begini atau harus begitu, karena tidak adanya ‘aku’ yang kekal. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, tentu sifatnya dukkha, tak bisa bertahan lama dan tentu akan berubah-ubah (tidak kekal).

Anicca, dukkha dan anatta mempunyai satu pengertian yang tak terpisahkan yang menjadi sifat dari segala sesuatu yang berkondisi. Muncul, berlangsung dan akhirnya padam.

Kaya (badan jasmani) adalah rupa-khandha. Vedana, citta adalah nama-khandha. Ketiganya adalah tempat bercokolnya nivarana (unsur-unsur penghambat kemajuan).

Nivarana ini akan merajalela menghambat segala gerak maju seseorang yang belum mampu menembus pengertian benar. Dan biasanya sifat nivarana ini amatlah ganas, sulit dibasmi dengan cepat. Perlu waktu dan kesabaran untuk menundukkannya.

Karenanya, seseorang haruslah melatih diri dengan melaksanakan SILA, kemudian samatha bhavana terlebih dahulu untuk melemahkan kekuatan nivarana. Kemudian dipadamkan sama sekali dengan vipasana bhavana yang menghasilkan panna cakkhu.

Bila seseorang telah mampu menembus kesunyataan dhamma seperti yang telah diterangkan diatas, maka nivarana ini akan padam. Padamnya nivarana ini karena seseorang telah tak terikat lagi pada badan jasmani, vedana maupun citta. Dengan kata lain, tidak ada tempat lagi untuk bercokolnya nivarana.

——————–

Kebijaksanaan berkembang karena pengolahan batin.
Kebijaksanaan memudar karena tak ada pengolahan batin.
Dengan memahami sebab perkembangan dan kepudarannya, seseorang hendaknya mengarahkan diri pada jalan yang membawa pada perkembangan kebijaksanaan.

[Dhammapada XX:281, LPD]

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: