Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Makhluk itu Seorang Bhikkhu

Posted by chanyan pada 2010/05/10

Oleh: Nanda Kesawa

Dinginnya udara yang menusuk tulang, seolah-olah melarangnya bangun pagi. Musim dingin kali ini memang benar-benar luar biasa dirasanya. Tulangnya terasa ngilu dan kaku untuk digerakkan.

Di musim panas maupun penghujan, bila semangatnya muncul, ia dengan ringan bangun pukul tiga dini hari. Duduk bhavana satu dua jam atau diselingi bhavana berjalan. Menyiapkan pata dan jubah, berangkat menuju Dhammasala dan menggosok lantai Sala yang terbuat dari kayu hingga mengkilat bersama-sama kawan bhikkhu yang lain; membuat badan hangat dan segar. Diteruskan menyapu dan membersihkan halaman Vihara. Perjalanan pindapata yang cukup jauh menuju desa, melewati hutan dan sawah, amat mengasyikkan.

Kedisiplinan di Vihara ini memang ditegakkan dengan baik dan ketat. Ia merasa senang karena bisa berlatih dengan sungguh-sungguh di bawah bimbingan Guru Acharn yang tekun dan ketat dalam vinaya. Ia berusaha mengerjakannya dengan baik.

Namun, musim dingin tahun ini terasa amat menyiksa dan menghambat kegiatannya. Padahal musim dingin baru saja mulai. Ia tak bisa membayangkan betapa dinginnya pada pertengahan dan menjelang berakhirnya musim dingin nanti.

Telah dua kali ia harus berpuasa karena tak pergi pindapata. Ia sadar itu adalah suatu kesalahan. Berpuasa, hanya karena takut kedinginan saat berjalan pindapata. Bukan, bukan hanya saat pindapata. Saat makan bersama di Sala. Saat mencuci pata, saat menyapu, saat mendengarkan Dhammadesana, saat duduk bhavana, saat jalan bhavana. Selalu kedinginan. Sangat dingin. Tak ingin rasanya berpisah dengan selimut walau di tengah hari bolong. Sinar matahari pun tak mampu menghangatkan tubuhnya.

Namun, kenapa bhikkhu-bhikkhu yang lain mampu bertahan? Mereka memang kelihatan menggigil kedinginan. Tapi, mereka tetap melaksanakan tugas sehari-hari dengan baik. Bahkan, diantara mereka, ada yang hanya memakai amsa saat menyapu halaman Sala.

“Udara dingin begini adalah saat yang baik untuk merenungkan dukkha vedana,” kata Than Chuan menjawab pertanyaannya.

Dukkha vedana,” pikirnya. “Selama ini aku hanya menikmati dukkha vedana, bukan merenungkannya.”

Ia ingat, Guru Acharn memang pernah menerangkan tentang vedananupassana satipatthana dalam Dhammadesana. Dan ia penah mencobanya. Namun, ia gagal. Batinnya tak mau berputar dengan lancar dalam pengembangan melalui satipatthana kammatthana. Pikirannya seperti buntu dan bebal, membuat ia sering jengkel dan sebal pada diri sendiri.

Ia tahu, perasaan jengkel dan sebal ini membuatnya semakin tak mampu mencapai sekedar ketenangan batin pun. Namun, batinnya tetap meronta tak bisa dikendalikan.

Pada malam hari ia sering berkeliling Vihara, mengintip kuti teman bhikkhu lainnya, sekedar ingin tahu apa yang sedang mereka kerjakan.

“Mereka amat rajin dan tekun,” pikirnya, sambil menunggui dan melihat dari jauh seorang bhikkhu yang sedang cankamana berjam-jam lamanya. Bahkan ia sering pula mengintip kedalam kuti seorang bhikkhu yang sedang duduk bhavana berjam-jam pula.

“Mereka rajin, mereka amat rajin,” hanya itu yang digumamkannya.

Akhirnya ia menjadi ahli dalam mengintip dan melihat dari jauh bhikkhu-bhikkhu yang sedang melakukan bhavana. Tapi, ia sendiri tidak melakukannya. Waktunya hanya terbuang sia-sia.

Ia ingin seperti bhikkhu Godhika, seorang bhikkhu di jaman Sang Buddha, telah menguasai jhana namun merosot beberapa kali. Dan akhirnya menggorok lehernya sendiri lalu merenungkan dukkha vedana, anicca, dukkha, anatta mampu mencapai kesucian arahat.

Namun, hingga kini ia belum mampu mengembalikan kekuatan batin yang dulu pernah dicapainya.

Kenangannya sering ngelantur ke masa lalu saat pertama kali ia melatih bhavana dengan objek tejo kasina. Memandangi sinar lilin berlama-lama. Mengingat dan mengenali sinar itu, lalu menutup mata. Membuka mata, mengingat kembali sinar itu. Menutup mata lagi, berusaha memunculkan bayangan sinar dalam mata batinnya. Berulang-ulang, berulang-ulang hingga matanya terasa sakit dan keluar air. Namun, ia tak merasa bosan hingga suatu saat sinar itu muncul di pintu batinnya, berbentuk bulat telur berwarna api, merah kekuningan, berbinar-binar amat indahnya. Tubuh dan batinnya serasa menyatu dalam sinar itu, melayang di dalam kebahagiaan yang tak terkira pada latar belakang yang hitam kelam. Ia berhasil memasuki jhana pertama melalui tejo kasina.

Semakin lama ia semakin lincah memasuki jhana-jhana, hingga jhana keempat. Membuat sinar itu menjadi banyak. Membuat besar maupun mengecilkannya, dan lain-lain. Sering ia bermain-main dan melompat-lompat dari jhana kesatu ke jhana ketiga, kembali ke jhana kedua dan seterusnya dengan tejo kasina. Bahkan ia mampu menengok teman bhikkhu yang tinggal di tempat lain dengan kekuatan adhittana-nya.

Tapi kini semuanya tingallah kenangan. Kekuatan batinnya merosot hingga titik paling dasar hanya karena keteguhan batinnya kurang terjaga dengan baik.

***

Suatu senja, saat matahari telah tenggelam di ufuk barat, ia melihat bhikkhu Suphot, temannya, berjalan tergesa-gesa ke arah barat sambil menengadahkan mukanya ke atas seolah mencari sesuatu. Bhikkhu Suphot, selama ini tengah melatih bhavana dengan objek matahari. Sepanjang hari ia memandangi matahari, sejak terbit hingga tenggelam di sore hari. Itu telah berlangsung berbulan-bulan, hingga ia mampu menatap matahari yang sedang bersinar penuh di tengah hari bolong sekalipun.

Kini, dilihatnya bhikkhu Suphot berjalan bergegas ke arah barat, masuk ke dalam hutan lebat, padahal hari telah mulai gelap. Ia ingin tahu apa yang akan dikerjakan bhikkhu Suphot. Maka, ia pun bangkit dan berjalan bergegas pula, mengejar temannya itu.

“Than Suphot, anda mau kemana? Hari telah gelap,” tegurnya.

Namun, bhikkhu Suphot tak menjawab sepatahpun walau ia bertanya berulang-ulang. Ia merasa tak sabar lagi melihat keanehan temannya itu, sebab tak biasanya Than Suphot berlaku seaneh itu. Diraihnya lengan bhikkhu Suphot sambil bertanya:

“Anda mau kemana? Jawablah pertanyaanku!”

“Jangan ceriwis! Lihatlah, matahariku sedang berjalan ke barat. Aku tak mau kehilangan dia,” jawab Than Suphot sambil menepiskan lengannya. Jalannya semakin cepat. Bahkan akhirnya ia berlari sambil kepalanya tetap mendongak ke atas.

“Hai, jangan berlari! Itu telah melanggar vinaya!” teriaknya memperingatkan.

Namun, bhikkhu Suphot tak mau mendengarnya lagi. Berlari lebih kencang lagi, meninggalkannya, lenyap di tikungan jalan setapak.

Dia terpana saat mendengar teriakan nyaring bhikkhu Suphot di malam yang senyap dan kelam itu. Dan lenyap sesaat kemudian.

Di depan sana memang ada sebuah jurang yang curam dan terjal menganga.

Penduduk desa menemukan tubuh bhikkhu Suphot telah meninggal dunia dengan tulang leher yang patah.

Bhikkhu Suphot yang malang. Sanna-vipalasa telah menghinggapinya, karena tak mendapatkan bimbingan yang benar.

Peristiwa itu tidak menimpa dirinya, tapi terasa amat mengguncang batinnya.

Bhikkhu Suphot adalah kawan yang setia dalam pengembaraan menembus hutan belantara dan rawan selama bertahun-tahun. Kuat dalam tekat dan semangat. Bhikkhu Suphot lah yang sering memacu semangatnya untuk rajin berlatih. Bhikkhu Suphot senang berlatih dan tinggal di tempat-tempat sunyi dan terpencil. Ia tak begitu suka tinggal berlama-lama di Vihara dengan guru-guru bhavana yang katanya membuang-buang waktu saja. Tapi, itu pula kekurangan bhikkhu Suphot. Ia kurang mendapat bimbingan yang menyebabkannya mengalami sanna-vipalasa berat.

Nimitta yang berwujud matahari tetap melekat di mata dan pikirannya tanpa bisa dikendalikannya. Ia tetap melihat wujud matahari walau ia menutup mata atau hari telah gelap. Celakanya, matahari itu seolah-olah berjalan karena ia tak mempunyai pengertian dan kemampuan untuk menguasai dan mengendalikannya. Akhirnya ia lah yang dikendalikan nimitta itu sehingga terjadilah peristiwa itu.

Peristiwa tragis yang menimpa temannya itu membuat semangatnya memudar. Ia seolah kehilangan pegangan. Muncul keraguan pada dirinya. Mampukah ia mengendalikan nimitta bulat telur yang indah itu untuk seterusnya? Atau sebaliknya, ia yang akan dikendalikan nimitta itu? Dan nasib Than Suphot juga menimpa dirinya? Ia berusaha menguatkan batinnya.

Namun, kenyataannya?

Sejak peristiwa itu, kadang-kadang ia terkejut begitu tejo-nimitta itu muncul di pintu batinnya, karena teringat Than Suphot. Kekuatan pengarahan batinnya mulai menurun.

“Celaka!” pikirnya.

Semakin lama kekuatan batinnya semakin menurun dengan ditandai tidak setiap saat ia mampu memunculkan si api bulat telur itu di batinnya.

Dan akhirnya, ia tak mampu lagi memasuki jhana pertama sekalipun. Setiap melihat sinar yang menyerupai tejo-nimitta batinnya terkejut ketakutan. Kekuatan batinnya telah merosot hingga titik paling dasar. Pikirannya sering kacau tak menentu. Sering melamun. Tak sanggup lagi melakukan bhavana dengan rajin seperti dulu. Padahal ia amat merindukan kemampuan batinnya yang dulu.

“Hari ini udara amat panas, membuatku sulit bhavana.”

“Kalau hari ini tak sedingin ini, tentu baik untuk bhavana.”

“Badanku amat capek dan lemas. Aku perlu istirahat.”

“Aduh, kenapa pinggang dan kakiku terasa sakit saat duduk bhavana begini?”

“Ah, kalaupun hari ini tak sempat bhavana, ‘kan masih ada hari esok.”

Ada-ada saja alasan untuk mengkandaskan usahanya berlatih bhavana. Sering ia berusaha memaksa diri dalam usaha mengembalikan masa lalu. Namun, sesering itu pula ia gagal.

“Aku harus mampu. Aku harus mampu. Aku akan keluar dari hutan ini dan mencari seorang guru yang bisa membimbingku.”

Maka, ia pun pergi meninggalkan kawasan hutan yang telah cukup lama dihuninya itu. Kembali mengembara dengan maksud mencari guru yang mampu membimbingnya.

Dalam perjalanan di masa pencarian itu, ia tetap mencoba dan berusaha membangun kembali puing-puing reruntuhan batinnya. Namun, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah membangun sesuatu di lahan yang penuh dengan reruntuhan. Reruntuhan itu semakin membuatnya sulit dan semakin mengotori batinnya sehingga sering membuatnya sesak dada. Ia sering mengumpat dan marah pada diri sendiri. Ia tidak lagi peduli pada kedisiplinan yang dulu begitu ketat ia laksanakan. Batinnya menjadi kasar kembali.

Kemudian, ia memastikan diri untuk menemui Guru Acharn di Vihara ini, setelah mendapat nasehat dan pandangan dari seorang bhikkhu yang bertemu di perjalanan.

Guru Acharn menasehatinya untuk bersabar dan tekun mengikuti segala kegiatan di Vihara bersama bhikkhu-bhikkhu yang lain.

“Anda harus bersabar. Adalah tak mungkin membangun sesuatu di atas puing-puing yang berserakan. Anda harus berusaha membersihkan lahan batin anda dari puing-puing kotor itu dengan kembali melaksanakan Vinaya dengan ketat dan sering merenungkan Dhamma. Tanpa usaha itu anda bisa terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam.”

Ia amat senang dan terkesan mendengar Dhamma-sakaccha di antara para bhikkhu di saat minum sore bersama. Than Chuan yang senang menganalisa dan merenungkan dukkha vedana dengan satipatthana kammatthana. Bagaimana memasuki jhana dengan lembutnya dan berdiam berlama-lama di sana dan diteruskan dengan penganalisaan yang kadang-kadang bisa semalam penuh dilakukan.

Than Vinay yang senang cankamana, berada dalam ketenangan dan kebahagiaan selama berjam-jam.

Than Somchay yang rajin melatih anapanasati. Pernah menyembuhkan diri sendiri ketika sakit parah dengan Dhammaosatha.

Lebih-lebih lagi di saat mendengar Dhammadesana diteruskan tanya jawab tentang bhavana. Serta mendengar kisah-kisah pengalaman guru-guru bhavana saat mengembara dan berlatih bhavana di hutan dan goa-goa yang menyeramkan.

Ia hanya bisa menjadi pendengar. Tak ada bahan untuk diceritakan. Tak ada sesuatu untuk ditanyakan.

Batinnya dipenuhi perasaan iri atas kemajuan teman-teman bhikkhu. Iri saat melihat dan menunggui seorang bhikkhu yang sedang cankamana berjam-jam pada malam hari. Iri saat mengintip seorang bhikkhu yang sedang duduk bhavana di dalam kuti. Iri saat melihat bhikkhu-bhikkhu lain mampu bertahan dalam udara dingin di musim dingin seperti ini.

Semakin lama perasaan iri itu semakin menguasai pikirannya dan berubah menjadi kejengkelan. Jengkel pada diri sendiri, jengkel pada teman-teman bhikkhu itu. Dan semakin lama berubah lagi menjadi kemarahan dan dendam. Marah pada diri sendiri, marah pada teman-teman bhikkhu.

“Buddho, Dhammo, Sangho. Aku tak mampu lagi menguasai batinku. Aku tak mampu membersihkan reruntuhan puing-puing itu. Batinku telah terjerumus ke dalam jurang yang dalam dan gelap.”

Batinnya telah terjerumus ke dalam jurang yang gelap. Amat gelap……..

Tiga hari kemudian, seorang pencari rebung hutan menemukan tubuh seorang bhikkhu menggantung diri di dahan pohon magahoni di tengah hutan, tak jauh dari Vihara itu. Tubuh bhikkhu itu telah mulai mengeluarkan bau yang menyengat.

***

Setelah diraut dan dihaluskan, kayu pohon Tao ternyata lebih kuat dan lebih indah daripada kayu pohon Lontar. Warna hitam dan garis-garis putihnya lebih jelas dan mengkilat. Namun, pengerjaannya begitu sulit karena kayunya begitu keras dan urat-uratnya tak beraturan.

Jari tangan bhikkhu Nando telah beberapa kali menjadi korban. Luka tertusuk serpihan kayu Tao itu. Namun, ia tak merasa bosan dan putus asa. Ia berusaha meraut dengan sabar dan telaten.

“Ini amat baik untuk melatih kesabaran dan keuletan,” pikirnya. Padahal ia harus meraut sebanyak dua ratus lima puluh jeruji sebesar lidi untuk dianyam menjadi sebuah kaki pata.

Telah sebulan ia mengerjakannya. Lengkap dua ratus lima puluh, bahkan lebih. Dan telah ia rangkai secara kasar, sebelum dibenahi.

Pohon Tao adalah sejenis pohon palem, sebesar pohon pinang. Bagian luar batangnya amat keras, sedangkan bagian dalamnya lunak. Karenanya, tak bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan maupun peralatan lainnya. Bhikkhu Nando mencoba memanfaatkan kayu pohon Tao karena tertarik akan kekerasan dan ketahanan serta keindahannya. Biasanya para bhikkhu membuat kaki pata dari bambu, dan membuat sikat gigi tradisional dari kayu pohon Kodha.

Mereka membuat kerajinan tangan itu di sela-sela kegiatan kebhikkhuan mereka. Dengan sabar dan telaten mereka mengerjakannya, hingga mendapatkan hasil yang halus dan indah. Karenanya, sering dianggap untuk melatih kesabaran.

Di musim dingin ini bhikkhu Nando berniat menyelesaikan kaki pata itu. Dan bisa dipakai saat mengadakan pengembaraan hingga menjelang musim hujan nanti. Ia berniat untuk menjalani masa vassa di Vihara ini lagi. Selain dekat dengan Guru Acharn yang baik, keadaan Vihara ini amat memadai pula.

Vihara ini dikelilingi hutan luas yang masih alami di tengah hamparan sawah penduduk yang amat luas pula. Diantara pohon-pohon besar yang rimbun, hidup ayam-ayam hutan yang masih liar. Tupai hitam, putih dan merah pun masih banyak terdapat di Vihara ini. Begitupun beberapa jenis ular yang berbisa maupun tidak. Namun, jarang terdengar penghuni Vihara ini dipatuk ular. Itu karena bhikkhu-bhikkhu penghuni Vihara ini mempunyai kewaspadaan yang baik. Hanya beberapa kali saja ada bhikkhu dipatuk ular berbisa dan terpaksa diangkut ke rumah sakit.

Malam kemarin, bhikkhu Nando melakukan cankamana hingga pukul satu dini hari. Ia merasa heran, dalam beberapa hari ini, saat melakukan cankamana, merasa seolah-olah ada orang yang menunggui dan mengawasi segala gerakannya. Ia telah berusaha memusatkan perhatiannya dan tak memperhatikan sekeliling. Namun, perasaan itu ada dalam batinnya. Ia tak mengerti apa maksud kekuatan itu mengusik batinnya.

Setelah merasa cukup, ia menghentikan cankamana dan mengirimkan metta pada semua makhluk, termasuk pada kekuatan yang mengusiknya itu.

Setelah mencuci kaki, ia pun naik ke kuti hendak melanjutkan tugasnya dengan duduk bhavana. Dengan tenang ia memulai duduk bhavana di dalam kuti yang hanya diterangi bias-bias sinar bulan tanggal tiga belas.

Namun, sebelum mencapai ketenangan dengan baik, batinnya merasa ada sesuatu yang datang mendekati kuti nya. Dan seketika muncullah sosok bayangan hitam duduk di atas kaki pata yang belum selesai dikerjakannya itu. Dalam perasaannya, bayangan itu memancarkan kekuatan jahat ke arahnya. Gelombang jahat itu terasa keras menggebu menerpa batinnya.

“Buddho, Dhammo, Sangho,” bhikkhu Nando segera memusatkan pikiran dan mengirim getaran metta membalas getaran jahat itu.

“Kita tak pernah mempunyai masalah. Saya harap anda tak mengusik diri saya,” bisik bhikkhu Nando.

Namun, bayangan itu berusaha bertahan walau kelihatan mulai bergetar. Setelah bertahan cukup lama, bayangan itu berubah menjadi seekor ular kobra. Kepalanya tegak bergetar dengan leher yang mengembang lebar, lidah menjulur-julur cepat serta mata melotot ganas. Melayang-layang di dalam kuti, berusaha menjangkau dan mematuk bhikkhu Nando.

“Rupanya kau tak mampu menerima kebajikan,” gumam bhikkhu Nando tetap duduk seraya lebih memusatkan kekuatan melindungi diri dan menyerang kobra itu.

Tiba-tiba kobra itu bergoyang-goyang, meliuk-liuk di udara dan akhirnya terpuruk jatuh menimpa kaki pata yang belum dibenahi. Kelihatan lemas, melata turun dari kuti yang hanya berdinding kain bekas itu.

Bhikkhu Nando terkejut saat batinnya melihat sosok bayangan berjubah kuning dengan tergesa-gesa meninggalkan kuti nya dengan mendesis-desis: “Aduh kapok, aduh, kapok, kapok…. Panas, panas…”

Ehmm… Makhluk itu seorang bhikkhu,” gumam bhikkhu Nando.

Beberapa hari kemudian bhikkhu Nando meceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada seorang bhikkhu yang telah lama tinggal di Vihara ini. Bhikkhu itu bercerita bahwa, tiga puluh lima tahun yang lalu, ada seorang bhikkhu yang menggantung diri karena kecewa terhadap kemerosotan batinnya, mati di hutan tak jauh dari Vihara ini.

Sebelum meninggal ia suka melihat dan mengawasi teman-teman bhikkhu yang sedang cankamana. Suka mengintip teman-teman bhikkhu yang sedang duduk bhavana di dalam kuti. Semua itu dilakukan karena perasaan iri. Rupanya kebiasaan itu terus dilakukannya sesudah ia meninggal. Bahkan perasaan iri dan dendamnya lebih besar dari pada sebelum meninggal. Ia suka menakut-nakuti bhikkhu yang sedang cankamana. Kadang ia masuk ke dalam impian seorang bhikkhu yang sedang tidur. Mengejar, berkelahi dan menebas-nebaskan parang. Esok harinya, bhikkhu yang ditebas parang dalam mimpi itu menjadi demam berat dan harus diangkut ke Rumah Sakit.

“Selama ini ia belum pernah terkena batunya. Mudah-mudahan ia benar-benar kapok setelah berhadapan dengan Than Nando,” kata bhikkhu itu mengakhiri ceritanya.

Bhikkhu Nando pun mengambil kaki pata dan menyelesaikannya baik-baik sambil dengan lirih menguncarkan paritta: “Buddho, Dhammo, Sangho…”

Catatan kaki:

  1. Pata : sejenis mangkuk besar, digunakan oleh bhikkhu untuk menerima dana makanan dari upasaka/upasika saat melakukan pindapata.
  2. Dhammasala : salah satu bangunan utama di Vihara yang digunakan untuk melakukan kegiatan kebhikkhuan seperti: makan, penguncaran vinaya, pertemuan resmi para bhikkhu, mendengarkan Dhammadesana dan lain-lain. Bisa pula digunakan oleh upasaka/upasika untuk kegiatan keagamaan.
  3. Pindapata : berjalan berkeliling desa untuk menerima dana makanan dari upasaka/upasika yang ingin berdana.
  4. Guru acharn : bahasa Thai yang berasal dari bahasa Pali guru dan acariya.
  5. Vinaya : kedisiplinan yang harus dipatuhi oleh para bhikkhu demi kemajuan batinnya.
  6. Dhammadesana : uraian Dhamma.
  7. Dukkha vedana : perasaan tidak menyenangkan (penderitaan, misalnya: sakit dll).
  8. Than : bahasa Thai sebagai panggilan/sebutan saling menghormat diantara para bhikkhu.
  9. Vedananupassana Satipatthana : perenungan terhadap vedana untuk meningkatkan kualitas sati.
  10. Satipatthana Kammatthana : bhavana untuk meningkatkan kualitas sati.
  11. Cankamana : bhavana dengan berjalan mondar-mandir, memusatkan perhatian pada gerak langkah kaki atau yang lain.
  12. Kuti : gubuk/bangunan tempat tinggal bhikkhu.
  13. Jhana : ketenangan dalam bhavana yang telah mencapai tingkat pencerapan.
  14. Tejo kasina : bentuk (gambaran) api sebagai objek bhavana.
  15. Adhitthana : kekuatan batin yang muncul dari kebulatan tekat.
  16. Sanna-Vipalasa : kesesatan batin yang disebabkan oleh kesalahan percerapan.
  17. Nimitta : gambaran (yang muncul saat melakukan bhavana)
  18. Dhamma-sakaccha : pembicaraan/wacana tentang Dhamma.
  19. Dhammaosatha : pengobatan terhadap suatu penyakit dengan kekuatan (perenungan) Dhamma maupun dengan kekuatan jhana.
  20. Amsa : pakaian dalam bagian atas, sejenis singlet, berupa selembar kain.

[Samma Ditthi, edisi 2, Nov 2000, KAMMA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: