Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Bhikkhuni Uppalavanna

Posted by chanyan pada 2010/05/11

kuti di hutanSalah satu kisah tentang Bhikkhuni Uppalavanna terdapat pada kitab Vinaya Pitaka Maha Vibanga 45/31, Civara vagga bagian 5. Kisah ini menjadi penyebab bagi ditetapkannya salah satu bagian dari vinaya nissaggiya pacittiya oleh Sang Buddha. Nissaggiya pacittiya adalah suatu peraturan kebhikkhuan yang mengharuskan seorang bhikkhu melakukan pengakuan dihadapan seorang bhikkhu lain serta melepas hak / kepemilikannya terhadap barang yang menyebabkan terjadinya pelanggaran itu.

Kala itu Sang Buddha berdiam di Veluvana, taman kerajaan tempat memberi makan tupai, di Rajagaha. Bertepatan dengan itu pula Bhikkhuni Uppalavanna berdiam di kota Savatthi.

Pada pagi di suatu hari, Bhikkhuni Uppalavanna memakai civara dengan rapi, menyiapkan pata dan pergi ke kota Savatthi untuk pindapata, menerima dana makanan.

Dan segera setelah menyelesaikan makan, di siang hari, ia pergi ke hutan Andhavana untuk istirahat siang. Setelah tiba di hutan Andhavana ia mencari tempat yang sesuai di bawah naungan sebuah pohon yang rindang dan duduk samadhi untuk istirahat siang.

(Sang Buddha dan para siswa-siswaNya tidak selalu makan di Vihara. Namun, lebih sering makan di bawah kerindangan pohon dalam hutan maupun taman kerajaan yang sepi setelah mendapat dana makanan. Beliau dan para siswa-siswa-Nya makan hanya satu kali dalam satu hari. Pada tengah hari, beliau maupun para siswa-siswa-Nya melakukan istirahat siang dengan duduk bhavana masuk ke dalam ketenangan samadhi (jhana) yang penuh dengan kewaspadaan, bukan dengan tidur dalam kelengahan).

Alkisah, saat itu sekelompok penjahat, setelah mencuri dan menyembelih seekor kerbau, juga masuk ke hutan Andhavana. Mereka mencari tempat yang sesuai dan mulai memasak daging kerbau hendak berpesta pora, sementara pemimpin mereka berjalan berkeliling melihat keadaan sekitar. Dalam perjalanannya, pemimpin kelompok penjahat itu melihat Bhikkhuni Uppalavanna sedang duduk istirahat di bawah kerindangan sebuah pohon. Ia berpikir, bila anak buahnya melihat seorang perempuan, tentu mereka akan mengganggunya. Maka, iapun menghindar ke jalan yang lain.

Nampaknya, kepala kelompok penjahat itu masih mempunyai pikiran yang baik. Setelah anak buahnya selesai memasak daging kerbau itu, ia memilih daging yang dianggapnya terbaik. Dibungkusnya daging itu dengan daun dan pergi ke tempat Bhikkhuni Uppalavanna duduk samadhi. Bungkusan daging itu ia gantungkan pada dahan sebuah pohon yang berdekatan dengan Bhikkhuni Uppalavanna duduk dan berkata pelan:

“Dengan tulus saya persembahkan daging ini. Kepada samana (pertapa) yang melihat bungkusan daging ini, saya persilakan mengambilnya.” Dan ia pun segera pergi. Bersamaan dengan itu pula, Bhikkhuni Uppalavanna keluar dari samadhi dan mendengar apa yang diucapkan pemimpin kelompok penjahat itu. Iapun mengambil bungkusan daging itu dan dibawa ke kuti-nya.

Pada keesokan harinya, setelah mempersiapkan daging yang didapatnya kemarin, Bhikkhuni Uppalavanna terbang melayang dan turun tepat di Veluvana Arama hendak menemui Sang Buddha untuk mempersembahkan daging kerbau yang didapat dari kepala penjahat.

(Pada saat itu belum ditetapkan peraturan seorang bhikkhu / bhikkhuni dilarang memasak dan menyimpan makanan lewat tengah hari atau sampai keesokan harinya).

Pagi itu, Sang Buddha sedang pergi pindapata. Hanya ada bhikkhu Udayi yang tinggal di Vihara.

(Bhikkhu Udayi adalah sosok seorang bhikkhu yang sering menimbulkan masalah dengan kelakuan-kelakuannya yang ceroboh. Beberapa pasal vinaya ditetapkan oleh Sang Buddha, mengambil contoh dari kecerobohan bhikkhu Udayi).

Maka, bhikkhuni Upallavanna menghampiri bhikkhu Udayi dan bertanya:

“Bhante, kini Sang Buddha berada di mana?”

Bhikkhu Udayi pun menjawab:

“Adikku, kini Sang Buddha tidak ada di tempat. Beliau sedang pergi pindapata.”

“Bila demikian halnya, tolong bhante persembahkan daging ini kepada Sang Buddha nanti.”

“Baiklah, adikku. Tentu Sang Buddha akan merasa senang hati dan merasa puas dengan persembahanmu ini. Begitu pula, bila kau persembahkan antaravasaka-mu kepadaku, aku pun akan merasa senang dan puas dengan persembahanmu itu,” kata bhikkhu Udayi kemudian.

“Bhante, sebenarnyalah, kami para bhikkhuni mempunyai keberuntungan yang kecil. Antaravasaka yang saya pakai ini adalah lembar terakhir yang melengkapi lima lembar civara yang saya punyai. Karenanya, saya tak bisa memberikannya pada bhante.”

(Secara umum jubah bhikkhu / bhikkhuni disebut civara. Ada tiga jenis civara bagi bhikkhu. Civara bawah disebut antaravasaka. Cãvara luar disebut uttarasangga. Civara musim dingin (perangkap) disebut sangghati. Namun, bhikkhuni mempunyai dua jenis civara lagi bagi keperluan pribadinya. Yaitu, kain pembalut dada dan kain untuk mandi).

“Adikku, ibarat seorang pengail, ia harus memasang umpan di mata kailnya untuk mendapatkan ikan. Begitupun kau. Agar mendapatkan berkah yang besar dengan persembahan daging ini pada Sang Buddha, kaupun harus rela memberikan antaravasaka mu padaku.”

Karena bhikkhu Udayi terus memaksa, maka Bhikkhuni Uppalavanna pun akhirnya memberikan antaravasaka-nya pada bhikkhu Udayi dan segera kembali ke Vihara-nya.

Sesampai di Vihara, para bhikkhuni lain menyambut dan menerima pata serta civara bhikkhuni Uppalavanna. Karena tak melihat antaravasaka bhikkhuni Uppalavanna, maka para bhikkhuni pun bertanya:

“Bhante, dimanakah antaravasaka bhante?”

Bhikkhuni Uppalavanna pun menceritakan apa yang telah terjadi.

Mendengar itu para bhikkhuni mencela perbuatan bhikkhu Udayi yang dengan tega meminta civara seorang bhikkhuni.

“Mengapa pula bhikkhu Udayi menerima civara dari tangan seorang bhikkhuni. Kami para bhikkhuni mempunyai keberuntungan yang kecil.”

Lalu, mereka pun memberitahukan hal itu kepada para bhikkhu. Dan para bhikkhu pun mencela perbuatan bhikkhu Udayi lalu melaporkannya pada Sang Buddha.

Sang Buddha segera memerintahkan para bhikkhu untuk berkumpul dan menanyakan kebenaran kejadian yang menimpa bhikkhuni Uppalavanna. Sang Buddha bertanya pada bhikkhu Udayi.

“Wahai Udayi, benarkah engkau telah meminta dan menerima sebuah civara dari tangan seorang bhikkhuni?”

“Benar, Bhante,” jawab bhikkhu Udayi.

Sang Buddha mencela perbuatan Bhikkhu Udayi serta menetapkan vinaya nissaggiya pacittiya bagi para bhikkhu. Nissagiya pacittiya terdiri dari 30 pasal.

***

Bhikkhuni Upalavanna adalah putri seorang hartawan di kota Savatthi yang makmur. Ia adalah seorang gadis yang amat cantik. Berkulit cemerlang bagaikan warna bunga teratai biru ungu.

Banyak Raja di Jambudwipa yang mendambakannya sebagai permaisuri, membuat ayahandanya kebingungan, merasa khawatir dan serba salah untuk menolak atau menerima lamaran-lamaran itu.

Sebagai cara untuk keluar dari persoalan itu, ayahandanya menawarkan untuk upasampada sebagai bhikkhuni saja. Dan ternyata tawaran itu disambut baik oleh Uppalavanna yang memang mempunyai saddha terhadap Buddhasasana.

Suatu kali, Bhikkhuni Uppalavanna menyulut lilin di uposatha gara. Ia merasa tertarik akan keindahan nyala lilin itu dan kemudian menjadikannya sebagai objek bhavana. Dengan objek tejo kasina itulah ia berhasil mencapai kesucian Arahat dan mempunyai kesaktian yang luar biasa. Ia mencapai Kearahatan tak sampai setengah bulan sesudah di-upasampada. Sang Buddha menyatakannya sebagai seorang bhikkhuni etadagga dalam hal kesaktian.

Selain etadagga dalam hal kesaktian, ahli dalam dibasotadhatu, cetopariyanana, pubbenivasanana dan lain-lain, juga sebagai aggasavika sebelah kiri dari Sang Thatagata. Sementara, aggasavaka sebelah kiri adalah bhikkhu Moggallana yang juga etadagga dalam hal kesaktian.

Dengan kekuatan pubbenivasanana yang dipunyainya, ia pernah bercerita tentang kehidupan masa lampaunya.

Pada seratus ribu kappa yang lalu, saat Padumuttara Samma-sambuddha muncul di bumi, ia terlahir sebagai putri naga sakti yang bernama Vimala dan tinggal di suatu kerajaan naga yang dipimpin oleh Nagaraja Mahoraga yang mempunyai saddha terhadap Buddha sasana.

Pada suatu hari, Nagaraja Mahoraga mengundang Sang Buddha beserta para savaka Nya untuk menerima dana makanan di istana kerajaan.

Begitu melihat Sang Buddha, putri naga Vimala merasa tertarik dan kagum akan sinar aura yang mengelilingi tubuh Sang Buddha. Ia tetap menatap Sang Buddha hingga beliau menyelesaikan makan dan memberi anumodana katha.

Sang Buddha tahu pemikiran naga Vimala. Beliau memerintahkan bhikkhuni aggasavika beliau untuk memperagakan kesaktiannya. Bhikkhuni itu pun dengan ahlinya memperagakan berbagai macam kesaktian di hadapan putri naga Vimala, membuat ia merasa amat terkagum-kagum. Karena, walau ia juga sebagai naga yang sakti, tapi rasanya ia tak mampu menandingi kesaktian bhikkhuni itu.

Terdorong oleh rasa tertarik dan kagumnya itu, ia pun bertanya pada Sang Buddha:

“Bhante, bhikkhuni itu teramat sakti. Bagaimanakah caranya untuk bisa begitu?”

“Wahai Nimala. Bhikkhuni itu adalah murid Sang Tathagata. Ia teramat sakti karena mengikuti ajaran yang Tathagata berikan.”

Mendengar itu Vimala merasakan piti dan semakin saddha pada Sang Buddha.

“Saya pun ingin mempunyai kesaktian seperti bhikkhuni itu di kehidupan yang akan datang.”

Keesokan harinya ia mengundang Sang Buddha beserta para savaka-Nya untuk menerima dana makanan. Ia jamu Sang Buddha dengan tangannya sendiri dengan perasaan piti dan saddha yang memenuhi batinnya. Kemudian, ia pun ber-adhitthana :

“Semoga saya mempunyai kesaktian dan menjadi aggasavika seperti bhikkhuni itu.” Lalu, ia mempersembahkan puja bunga teratai yang sangat indah, yang di kalangan para naga disebut bunga aruna dan ber-adhitthana : “Semoga warna tubuhku kelak bagaikan bunga aruna yang indah ini.” Dan Sang Buddha pun memberkahinya.

Sesudah meninggal, ia terlahir di sorga Tavatimsa. Lalu, terlahir sebagai manusia dan sempat bertemu dengan Vipassi Sammasambuddha sembilan puluh satu kappa yang lalu. Berdana pada Sang Buddha Vipassi dan ber-adhitthana agar mempunyai kulit seperti bunga teratai yang indah.

Pada jaman Sang Buddha Kassapa, ia terlahir sebagai putri Raja Kiki di kota Baranasi yang makmur. Saat itu ia bernama Samanagutta. Setelah mendengar Dhamma desana timbul saddha dan ingin di-upasampada, tapi ayahandanya tak mengijinkan. Karena merasa kecewa, ia bersama saudari-saudarinya, hidup secara brahmacari selama dua puluh ribu tahun dan berbakti pada Sang Buddha.

Pada jaman Sang Buddha Gotama muncul di dunia ini, putri Samangutta terlahir sebagai Uppalavanna Theri. Dan saudari-saudarinya terlahir sebagai Khema Theri, Patacara Theri, Kisagotami Theri, Dhammadinna Theri dan Upasika Visakha.

Di samping kebahagiaan yang banyak dialami oleh Uppalavanna Theri di kehidupan lampau maupun di kehidupan sekarang, ia pernah mengalami hal yang amat tidak menyenangkan di kehidupannya yang terakhir.

Karena kecantikannya, rupanya ada seorang pemuda yang tergila-gila padanya dan selalu mencari kesempatan. Pada suatu pagi, saat Bhikkhuni Uppalavanna pergi pindapata, pemuda itu masuk ke kuti dan bersembunyi di dalamnya.

Setelah melakukan pindapata, Bhikkhuni Uppalavanna kembali ke kuti nya, mencuci kaki, naik ke kuti dan duduk di tempat tidur. Saat itulah, tiba-tiba pemuda itu menyerang Bhikkhuni Uppalavanna dan memperkosanya. Amat tragis.

Namun, sebagai seorang arahat, ia mempunyai batin yang tenang dan hening.

Berbuat akusala kamma, apalagi terhadap seorang yang telah mencapai kesucian, merupakan suatu perbuatan yang amat terkutuk dan keji. Si pelaku tentu tak akan bisa menghindar untuk terlahir di alam apaya yang kelam dan penuh penderitaan kelak.  (oleh: Hananto)

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, SILA]

Iklan

Satu Tanggapan to “Bhikkhuni Uppalavanna”

  1. Dirmawan Tjung said

    Sdr. Hananto …minta izin buat share artikel Buddhis tersebut ya..Anumodana dan Dhammadana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: