Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Umat Buddha

Posted by chanyan pada 2010/05/11

Sleeping BuddhaSetiap manusia tentu mempunyai aturan main dalam menjalani hidupnya. Mulai dari aturan main untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat di lingkungan terbatas, masyarakat nasional, maupun internasional.

Semua aturan main dan tata cara kehidupan itu amatlah dipengaruhi oleh ajaran agama maupun kepercayaannya. Karenanya, sejak kemunculan manusia di bumi ini, bermunculan pula ajaran-ajaran dan paham agama maupun kepercayaan mengikuti perkembangan peradaban manusia. Iddhipada merupakan suatu jalan untuk mencapai keberhasilan.

Kini, ada beberapa agama besar yang mempunyai penganut yang berjumlah besar pula. Di antaranya adalah Agama Buddha, Hindu, Kristiani, Islam dan masih ada banyak lagi.

Dalam doktrin agama-agama tersebut terdapat banyak persamaan, tapi juga terdapat banyak perbedaan. Ada yang membagi masyarakatnya dalam kasta-kasta, ada yang tidak. Ada yang menjalani kehidupan kepertapaan, ada yang tidak.

Dalam Agama Buddha terdapat pula pembagian cara hidup. Tapi, itu bukanlah pembagian ke dalam kasta-kasta yang membeda-bedakan derajat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karena, dalam pandangan Agama Buddha, derajat manusia hanya ditentukan oleh tingkat keluhuran batin manusia itu sendiri. Bukan atas dasar keturunan, bukan pula kedudukan/pangkat, gelar, nama besar ataupun kekayaan yang dipunyai seseorang. Bila seseorang masih merasa silau, bangga, dan sombong atas keturunan, kedudukan / pangkaUmat Buddhat, gelar, nama besar, atau kekayaan yang dipunyai diri sendiri maupun orang lain, berarti ia masih belum mengerti ajaran Sang Buddha dengan benar. Karena, dengan begitu ia tentu akan berusaha mengejar dan mencapai keduniawian yang membuatnya bangga itu. Dan seseorang akan merasa silau (dan memuji) terhadap keturunan, kedudukan / pangkat, gelar, nama besar atau kekayaan yang dipunyai orang lain.

Dalam masyarakat Buddhis, Umat Buddha dibagi menjadi 4 (empat) macam cara hidup. Umat Buddha secara suka rela boleh memilih salah satu di antaranya.

Upasaka   : yaitu Umat Buddha laki-laki.
Upasika    : yaitu Umat Buddha perempuan.
Bhikkhu    : yaitu Umat Buddha laki-laki yang menjalani hidup kepertapaan.
Bhikkhuni : yaitu Umat Buddha perempuan yang menjalani hidup kepertapaan.

Untuk menjadi upasaka maupun upasika tidaklah sulit. Seorang laki-laki atau perempuan yang telah cukup umur (telah mempunyai pengertian dan kesadaran), dengan secara bersungguh-sungguh menguncarkan Vandana dan Tisarana, maka berarti ia telah menjadi upasaka / upasika yang sah. Lalu, mereka boleh memilih hendak menjalani 5 (lima) ke-sila-an ataukah 8 (delapan) ke-sila-an.

Untuk menjadi upasaka maupun upasika tidaklah perlu melalui pentahbisan secara formal. Namun, tidak pula dilarang bila mereka mengucapkan Vandana dan Tisarana di hadapan Buddha rupang atau seorang bhikkhu untuk memantapkan batinnya. Jadi, tidaklah benar bila ada orang yang berpandangan: ‘untuk menjadi upasaka haruslah di-visuddhi oleh seorang bhikkhu terlebih dahulu’. Tidak pula benar bila seseorang merasa takut di-visuddhi hanya karena tak mau ‘dibebani’ Sila, karena mereka berpendapat, hanya upasaka / upasika yang telah di-visuddhi-lah yang harus melaksanakan Sila. Pendapat yang sama sekali tidak benar!

Konon, kebiasaan ‘visuddhi‘ yang dibimbing oleh seorang bhikkhu (agar merasa mantap) dimulai di Negeri Gajah Putih, Thailand.

Pada zaman dahulu, bila seorang pemuda/pemudi hendak pergi keluar negeri (biasanya ke Eropa) untuk meneruskan sekolah/kuliah, dianjurkan oleh orangtuanya untuk ‘meminta’ Sila kepada seorang bhikkhu agar batinnya mantap dalam menjalani tugas belajarnya.

Begitupun, bila seorang tentara akan terjun ke medan perang. Mereka merasa perlu untuk ‘meminta’ Sila kepada seorang bhikkhu agar batinnya merasa mantap dalam berperang.

Dalam kehidupan normal sehari-hari, mereka tak mengenal istilah ‘visuddhi‘ upasaka maupun upasika. Di dalam sejarah kehidupan Sang Buddha pun tak pernah terjadi visuddhi upasaka/upasika oleh Sang Buddha maupun para siswa-Nya. Tapussa dan Bhallika, upasaka pertama dalam Buddha Sasana pun menyatakan dirinya sebagai upasaka tanpa dibimbing oleh Sang Buddha. Begitupun, Sudatta (Anathapindika), Visakha, Citta Gahapati maupun upasaka/upasika sesudahnya. Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya tak pernah mentahbiskan penganut-penganut baru seperti pemimpin-pemimpin agama lain mentahbiskan atau mempermandikan penganut-penganut barunya. Pentahbisan (upasampada) hanya dilakukan bila seorang Umat Buddha ingin menjalani kehidupan sebagai pertapa.

Lima kesilaan di dalam agama Buddha yaitu:

  1. Melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Melatih diri menghindari pencurian.
  3. Melatih diri menghindari perbuatan asusila.
  4. Melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.
  5. Melatih diri menghindari minuman dan makanan yang memabukkan.

Upasaka/upasika 5 (lima) Sila yang tekun, dianjurkan untuk melaksanakan 8 (delapan) Sila di hari-hari Uposatha. Biasanya mereka melaksanakan Uposatha Sila ini di vihara sambil melatih bhavana. Uposatha Sila tersebut terdiri dari Lima Sila dengan memperdalam butir ketiga menjadi: Melatih diri menghindari perbuatan tak suci (misalnya, persetubuhan dan bersentuhan dengan lawan jenis), serta ditambah dengan tiga latihan lagi, yaitu:

  1. Melatih diri menghindari makan setelah tengah hari.
  2. Melatih diri menghindari untuk tidak menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat tontonan, memakai bunga-bungaan, wangi-wangian dan alat kosmetik untuk tujuan menghias dan mempercantik diri.
  3. Melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan mewah.

Di negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk Agama Buddha, terdapat banyak upasaka dan upasika yang memilih melaksanakan 8 (delapan) Sila untuk jangka waktu yang tak terbatas. Misalnya di Thailand.

Di sana, upasaka 8 sila biasa disebut Pho Bha Khao yang artinya, orang laki-laki yang mengenakan pakaian putih. Bila ia masih seorang anak-anak, ia disebut Bha Khao Noi yang artinya, si kecil yang berpakaian putih. Mereka boleh saja membiarkan rambutnya panjang (terurai) atau menggundul kepalanya. Ada yang tinggal di vihara, ada pula yang mengikuti bhikkhu-bhikkhu pengembara (dhutanga) sebagai dayaka, sambil melatih bhavana dengan tekun. Jumlah mereka tidak sebanyak Upasika 8 Sila. Karena biasanya, sesudah cukup lama melaksanakan 8 Sila, mereka upasampada menjadi bhikkhu.

Sedangkan Upasika 8 Sila biasa disebut Mae Chi (Mae Ji) yang artinya wanita pertapa; atau Mae Khao yang artinya, wanita yang berpakaian putih. Mereka biasanya menggundul kepalanya, tapi ada pula yang tidak. Bila ia mengenakan baju putih dan rok/sarung (bawahan) berwarna hitam, maka ia akan disebut Mae Dam yang artinya Ibu Hitam. Memang, tidak ada ketentuan resmi bagi mereka dalam berpakaian maupun tentang rambut. Namun, mereka memilih kesederhanaan sesuai dengan sila yang dijalani.

Mereka boleh memilih tinggal di vihara atau di rumah. Boleh tinggal di vihara hutan atau belajar Teori Dhamma di tempat kursus / sekolah Agama Buddha. Terdapat banyak Mae Chi (begitu pula bhikkhu maupun upasaka / upasika biasa) yang mengikuti kursus Abhidhamma di Wat Maha That, Bangkok dan mampu menyelesaikan kursusnya. Bila tinggal di vihara, biasanya mereka membantu pekerjaan di dapur untuk menyiapkan makanan. Di waktu senggang mereka boleh mencangkul dan menanam sayur-sayuran di lahan vihara yang biasanya amat luas. Ada pula yang menjahit jubah dan perlengkapan kebhikkhuan. Ada pula yang tekun melatih bhavana, hingga konon mampu mencapai tingkat batin yang cukup tinggi.

Para upasaka dan upasika pun mampu mengembangkan batinnya melalui pelaksanaan Dhamma, karena kesempatan untuk itu terbentang luas di negeri Buddhis seperti Thailand. Mereka bisa memilih guru bhavana yang disukai, karena terdapat banyak bhikkhu-bhikkhu senior, guru bhavana yang memadai. Dalam saat-saat biasa [di luar masa vassa], kurang lebih ada lima persen penduduk Thailand tercatat sebagai bhikkhu. Jumlah itu bisa meningkat dua kali lipat di dalam masa vassa. Bagi pegawai negeri yang ingin upasampada menjadi bhikkhu [biasanya di dalam masa vassa], pemerintah memberikan/mengijinkan waktu selama empat bulan penuh dengan tetap mendapat gaji penuh. Kesempatan itu diberikan hanya sekali selama ia menjadi pegawai negeri. Hal yang tidak mungkin terjadi di Indonesia.

Itulah struktur umat awam di dalam Agama Buddha.

Namun, di Indonesia ada satu sebutan yang secara struktural tidak terdapat di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha maupun di dalam sejarah kehidupan Sang Buddha di dalam Tipitaka, yaitu sebutan Pandita.

Di Indonesia, Agama Buddha merupakan agama minoritas di antara penduduk yang mayoritas beragama Islam. Penduduk yang memeluk Agama Buddha tersebar hampir merata di seluruh propinsi-propinsi di negara ini. Kiranya, demi kelancaran urusan birokrasi, maka diperlukan sesuatu yang bisa menjembatani antara masyarakat Budhhis dengan pemerintah. Misalnya, untuk keperluan pernikahan, penyumpahan pegawai negri, wisuda sarjana-sarjana baru dan lain-lain. Maka, muncullah sebutan Pandita tersebut, yang fungsinya hampir sama (secara birokratif) dengan Pendeta Protestan, Pastur Katolik, Kadi / Kyai di dalam Islam dan lain-lain. Dan posisi itu memang diperlukan di Indonesia, karena seorang bhikkhu tidak diperkenankan (menurut vinaya) untuk menikahkan sepasang pengantin. Jadi, pandita tetap sebagai upasaka atau upasika di dalam struktur umat Buddha.

Di Negara Thai sebutan Pandita yang disingkat menjadi Thit diperuntukkan bagi seorang mantan bhikkhu. Namun sebenarnya, kata pandita berarti orang-orang bijaksana yang sering diperuntukkan bagi Sang Buddha dan para Arahat.

Di samping menjalani kehidupan sebagai perumah-tangga (umat awam), ada Umat Buddha yang memilih menjalani kehidupan sebagai pertapa. Pertapa di dalam ajaran Sang Buddha memang benar-benar pertapa yaitu seseorang yang melakukan ‘tapa’. Menjauhi, paling sedikit mengurangi keduniawian. Sampai-sampai mereka dilarang memelihara kumis, janggut maupun rambut yang dianggap sebagai mahkota bagi umat awam. Pakaiannya pun hanya merupakan selembar kain (yang biasa disebut civara) – bukan berbentuk jubah, baju, celana, rok ataupun kebaya.

Pertapa laki-laki disebut bhikkhu. Seorang upasaka (umat Buddha) yang telah dewasa (berumur 20 tahun atau lebih) bisa ditahbiskan menjadi bhikkhu. Pentahbisan bhikkhu disebut ‘upasampada‘.

Bila belum berumur dua puluh tahun, ia akan ditahbiskan menjadi samanera. Pentahbisan samanera disebut ‘pabbajja‘. Pentahbisan itu harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam kedisiplinan (vinaya). Bila tidak, ia tidak bisa dianggap sebagai bhikkhu atau samanera.

Tidak cacat dan lemah jasmani, hingga tak mampu mendukung hidup kebhikkhuannya (misalnya, pindapata dan mencuci jubah). Tidak berpenyakit menular. Bukanlah seorang banci. Bukan seorang narapidana atau penjahat. Dan beberapa syarat lain yang ditentukan dalam vinaya.

Kedisiplinan yang harus dilaksanakan oleh samanera sebanyak 10 (sepuluh) pasal ditambah 75 (tujuh puluh lima) sikkha (latihan). Tujuh puluh lima sikkha ini juga terdapat di dalam vinaya kebhikkhuan.

Sepuluh pasal kedisiplinan tersebut adalah:

  1. Bertekat melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Bertekat melatih diri menghindari pencurian.
  3. Bertekat melatih diri menghindari perbuatan tidak suci.
  4. Bertekat melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.
  5. Bertekat melatih diri menghindari minuman dan makanan yang memabukkan.
  6. Bertekat melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari.
  7. Bertekat melatih diri untuk tidak menari, menyanyi, bermain musik dan melihat segala macam tontonan/pertunjukan.
  8. Bertekat melatih diri menghindari pemakaian bunga-bungaan, wangi-wangian serta alat-alat penghias diri.
  9. Bertekat melatih diri untuk tidak menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tingi dan mewah.
  10. Bertekat melatih diri untuk menghindari menerima emas dan perak (uang).

Melihat susunan dasa sila tersebut di atas, kiranya hampir sama dengan delapan sila bagi upasaka/upasika, hanya ada pemisahan pada butir kedelapan dan penambahan pada butir kesepuluh. Hal itu semata-mata untuk penekanan makna, karena seorang samanera telah harus mengenakan civara dan menggundul kepala seperti seorang bhikkhu, serta tidak lagi diperkenankan menerima, memiliki dan menyimpan uang. Tapi, mereka masih boleh menggali/mencangkul tanah, berenang, berlari, menebang pohon, dan menyimpan serta memasak makanan sendiri.

Mereka sering membantu keperluan bhikkhu dan mulai belajar tentang kebhikkhuan, hingga ada yang telah mampu menghafal bhikkhu-patimokha dengan baik. Mereka pun mempunyai kesempatan berlatih bhavana dengan leluasa.

Kedisiplinan yang harus dilaksanakan oleh bhikkhu sebanyak 227 (dua ratus dua puluh tujuh) pasal yang diuncarkan setiap hari uposatha [bulan terang dan bulan gelap]. Namun, dalam pelaksanaannya mereka harus melaksanakan hampir atau lebih dari seribu pasal, terutama karena kedisiplinan yang dianggap ‘ringan’.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena kebhikkhuan adalah sebagai jalan pintas menuju tingkat batin yang paling tinggi (kesucian). Juga sebagai jalan pintas menuju kemerosotan batin (apaya bhumi), bila tak mematuhi Ajaran Sang Buddha tersebut. Sang Buddha menetapkan peraturan-peraturan itu disebabkan metta-citta beliau. Dan kedisiplinan (vinaya) inilah yang membedakan antara bhikkhu (pertapa) dan perumah-tangga dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. Karenanya, sebenarnya tidak ada jenis kedisiplinan yang patut dianggap ringan.

Sehubungan dengan itu, Sang Buddha menetapkan, seorang bhikkhu yang baru di-upasampada harus belajar vinaya di bawah bimbingan seorang guru (acariya) yang cukup ahli dalam hal itu, selama paling sedikit lima tahun. Selama itu, bhikkhu tersebut disebut navaka bhikkhu. Dan tidak boleh mengembara atau bervassa seorang diri.

Bila ia telah mampu menjaga dirinya sendiri dengan vinaya, maka ia boleh mengembara maupun ber-vassa seorang diri. Namun bila tidak, walaupun telah upasampada selama 60 tahun atau lebih, ia tetap harus di bawah pengawasan dan bimbingan seorang acariya. Dan dalam hal ini, gurunya itu boleh saja lebih muda vassanya daripada si murid.

Apabila ia bervassa dan mengembara seorang diri, berarti ia telah melanggar vinaya dukkata. Begitupun, seorang upajjhaya yang mengijinkan muridnya mengembara atau bervassa seorang diri – juga telah melanggar vinaya dukkata.

Upajjhaya adalah seorang bhikkhu senior yang telah layak meng-upasampada [mentahbis] seorang upasaka menjadi bhikkhu atau samanera (calon bhikkhu). Ia haruslah mempunyai kriteria khusus, yang pada garis besarnya mampu mendidik bhikkhu/samanera baru menjadi bhikkhu/samanera yang baik. Bila ia masih mempunyai perangai yang kurang patut, pemarah, pendendam, kasar apalagi kurang memahami Dhamma [apalagi miccha-ditthi] dan Vinaya, seharusnya ia tidak menjadi seorang upajjhaya. Karena, anak didiknya pun kemungkinan besar akan meniru perangainya yang buruk. Kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi, tanggung jawab upajjhaya adalah besar. Bukan sekedar gelar kebanggaan.

Mereka disebut sekha karena mereka masih harus belajar dan berlatih untuk mencapai tingkat abhipanna yang merupakan tingkat tertinggi. Tingkat terakhir (tertinggi) adalah asekha, dimana seseorang tak perlu lagi belajar dan berlatih. Asekha berarti tak perlu lagi belajar karena telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Asekha puggala berarti seorang yang telah lulus dalam menuntut ilmu tertinggi yang diajarkan Sang Buddha. Ia telah berhasil memutus sepuluh samyojana.

Namun, tugas mendidik tersebut, bisa pula dialihkan pada seorang guru [acariya], bila upajjhaya atau si murid menghendaki. Acariya pun, haruslah seorang bhikkhu senior yang mempunyai kemampuan mengajar. Bukan bhikkhu senior yang tidak melalui tahapan-tahapan belajar yang benar seperti yang telah diterangkan di atas.

Tidak seperti pabbajja samanera yang bisa dilakukan hanya oleh seorang upjjhaya, upasampada seorang bhikkhu haruslah dilakukan oleh sangha [dan seorang upajjhaya, kammavacacariya dan anusavanacariya].

Sangha yang boleh mentahbiskan harus berjumlah sepuluh orang bhikkhu atau lebih untuk daerah majjhima padesa [Jambudipa], dan lima orang bhikkhu atau lebih untuk di luar Jambudipa. Upasampada itu harus dilakukan di uposatha-gara yang telah sesuai dengan vinaya. Tak boleh ada seorang yang ‘bukan bhikkhu’ pun yang boleh duduk di dalam batas yang telah ditentukan. Hal ini perlu ditekankan, karena bisa saja seorang bhikkhu yang sebenarnya ‘bukan lagi seorang bhikkhu’ [karena parajika dan tak mengaku, misalnya], ikut dalam pentahbisan tersebut. Bhikkhu hasil dari pentahbisan tersebut, tentu tak bisa disebut sebagai bhikkhu yang sesuai dengan vinaya.

Bhikkhu, bukanlah sekedar seorang yang memakai/mengenakan jubah kebhikkhuan dan berkepala gundul. Bila demikian halnya, setiap orang bisa saja menggundul kepalanya lalu mengenakan jubah kuning, maka disebut bhikkhu. Bhikkhu, merupakan satu unit kesatuan antara penampilan fisik dan kepribadian [batin] seseorang yang telah menerima upasampada. Dan selanjutnya, berperilaku sebagai layaknya seorang pertapa. Mempunyai ‘tugas pokok’ membangun sasana, membangun vihara di batinnya.

Bila telah berhasil membangun Sasana Dhamma dan Vihara Dhamma di batinnya, segala sesuatu yang dibabarkannya tentu merupakan Dhamma yang asli, bukan Dhamma-patirupa [palsu]. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak pendek. Dhamma tidak langsung masuk ke batin, saat seseorang mengenakan jubah di hari upasampada.

Hanya seorang bhikkhu yang dengan sungguh-sungguh dan ‘mempunyai waktu’ untuk melaksanakan Dhamma Vinaya dengan baik akan mampu membangun Sasana Dhamma dan Vihara Dhamma di batinnya. Bila ia sibuk dengan pembangunan fisik dan sasana vatthu, amatlah mustahil ia bisa membangun sasana Dhamma dan vihara Dhamma di batinnya. Batinnya kosong dari Dhamma sejati, karena telah berada jauh dari jalan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Ia hanya akan terkenal dan tenar di bidang keduniawian.

Karenanya, di negeri-negeri Buddhis, seorang bhikkhu boleh mengajar Dhamma setelah ia menjadi bhikkhu senior dan mengerti Dhamma dengan baik. Terutama tentang patipatti [praktek] Dhamma. Dengan patipatti Dhamma inilah seseorang akan mampu membangun sasana dan vihara di batinnya. Pariyatti [teori] Dhamma adalah suatu pelajaran yang sulit, terlebih-lebih untuk melaksanakannya [patipatti]. Keduanya harus dilaksanakan dengan baik, maka hasil [pativedha] pun akan muncul dengan baik pula. Untuk itulah diperlukan waktu yang tidak pendek.

Bila seorang bhikkhu ‘tidak mempunyai waktu’ atau ‘tidak menyediakan waktu’ melaksanakan patipatti Dhamma dengan baik, amatlah mustahil ia akan mencapai pativedha Dhamma [hasil].

Seorang bhikkhu, dituntut kesadaran dan kejujurannya sesuai dengan vinaya yang telah disetujui untuk dipatuhi, demi kebaikan diri sendiri maupun orang lain. Bila tidak, hal itu akan mengantarnya ke alam apaya di kehidupan yang akan datang. Dan ia telah menelantarkan, bahkan menipu umat Buddha yang tetap percaya dan menganggapnya sebagai salah satu ladang yang subur bagi menanam kebajikan. Ia telah bertindak sebagai bhikkhu alajji [tak tahu malu]. Sang Buddha menyebutnya sebagai maha-cora : bandit besar yang menipu, mencuri dan merampok harta umat. Beliau memuji seorang bhikkhu yang dengan rela melepas jubah, bila memang merasa tak mampu lagi melaksanakan vinaya dengan baik.

Agama Buddha akan tetap berjaya, apabila seluruh jajaran yang ada ikut mengambil bagian dalam melestarikan ajaran Sang Buddha secara murni dan bersih. Untuk itu dituntut kerja sama yang baik antara semua unsur, upasaka, upasika, bhikkhu, dan samanera. [Dalam hal ini tak disebutkan bhikkhuni, karena bhikkhuni telah tiada keberadaannya]. Semua unsur diharapkan menjalankan tugas sesuai dengan posisinya. Saling membantu dengan saling memperingatkan dan rela untuk diperingatkan. Pengetahuan Dhamma vinaya yang memadai mutlak diperlukan untuk melaksanakan hal tersebut.

Dalam edisi terdahulu, telah ditulis tentang kemunculan, berlangsungnya dan kepunahan sangha bhikkhuni. Namun, untuk melengkapi tulisan ini agar sesuai dengan judul dan uraian yang telah mendahului, maka akan disinggung sedikit tentang bhikkhuni.

Walaupun pada kenyataannya sangha bhikkhuni telah punah beberapa ratus tahun berselang, namun ternyata masih ada yang belum bisa menerima hukum alam tentang kebenaran anicca itu.

Di Wat Tham Krabok, Thailand Tengah, pernah muncul suatu komunitas perempuan yang mengaku sebagai komunitas bhikkhuni. Mereka mentahbiskan diri sendiri, dengan alasan bahwa Sang Buddha pun mentahbiskan diri sendiri. Mereka mengenakan jubah warna hitam. Tidak sedikit pula umat yang datang memberi dukungan dan dana pada komunitas aneh itu. Namun, tak seorang umat Buddha pun [bhikkhu, samanera, upasaka dan upasika] yang mengerti Dhamma mengakui mereka sebagai bhikkhuni. Tentu saja komunitas aneh itu terisolir dan padam dengan sendirinya, karena berada di tempat yang penduduknya lebih mengerti Dhamma. Itu terjadi di Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

Kiranya, tidaklah aneh bila hal itu juga terjadi di Indonesia yang umat Buddha nya haus akan air Dhamma yang menyejukkan batin. Mereka berpikir, apa salahnya bila dibentuk suatu komunitas yang di jaman Sang Buddha memang ada? Kenapa pula melarang orang yang ingin berbuat baik? Bukankah melarang orang yang ingin berbuat baik adalah suatu perbuatan jelek? Bukankah itu melanggar hak azasi, karena menyangkut kehidupan seseorang?

Sebenarnya, tidak seorang baik pun, melarang orang lain berbuat kebaikan. Bahkan, ia akan ber-anumodana akan kebaikan yang telah diperbuat, serta mendukungnya.

Namun, masalahnya adalah, seperti telah diuraikan di atas, segala sesuatu ada aturan mainnya. Dan untuk melestarikan kejayaan Buddha Dhamma, kita sebaiknya saling memperingatkan dengan ketulusan hati tanpa perasaan iri dengki dan sebagainya.

Ibarat dalam suatu permainan, sepak bola misalnya, kita haruslah patuh pada peraturan persepakbolaan yang telah ditentukan. Seseorang tak bisa memakai peraturan bulu tangkis, misalnya. Bila seorang pemain melakukan kesalahan, pemain lain atau wasit akan menegurnya, walau perbuatannya itu demi ‘kebaikan’, yaitu demi kemenangan teamnya. Dan bila wasit telah meniup peluit tanda permainan ‘berakhir’, semua pemain pun harus mematuhinya. Bila tiba-tiba ada seorang pemain mengambil bola dan menendangnya masuk ke gawang, perbuatannya itu dianggap tidak sah, walau apa yang dilakukannya itu demi ‘kebaikan’, yaitu demi kemenangan timnya. Perbuatannya tidak sesuai dengan aturan main. Bahkan, ia akan disebut sebagai pemain yang tidak baik. Tidak tahu peraturan permainan dan tak tahu kedisiplinan.

Apalagi aturan main di dalam hidup keagamaan Buddha yang menyangkut kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

Bila ia tetap ngotot dan ingin terus bermain, ia akan dianggap sebagai orang aneh. Memang orang lain tak berhak melakukan apa pun terhadapnya. Itu adalah hak azasinya. Dalam hal ini, ia seharusnya menjaga agar perbuatannya itu tidak mengganggu komunitas lainnya. Namun, bila ia tetap membuat komunitas lain terganggu, komunitas lain pun tak bisa berbuat apa-apa. Juga tak bisa melapor ke polisi, karena hal itu tak bisa dianggap sebagai tindakan kriminal. Yang dituntut adalah kesadarannya.

Hal itu membuktikan suatu kewajaran bahwa sifat dari kilesa, upadana, tanha, dan sejenisnya memang amat ganas. Sebagai pengukuhan atas kebenaran dari hukum anicca itu sendiri. Agama Buddha telah lama terpecah-belah. Dhamma Vinaya pun telah banyak dimanipulasi oleh orang dalam [yang berkedok masih setia pada ajaran Sang Buddha] maupun orang luar [yang sengaja menyusup ke dalam]. Arah pada tahap kepudaran Buddha Dhamma semakin jelas, sesuai dengan hukum alam.

Namun, bagi orang yang mempunyai keyakinan penuh pada Dhamma, semua itu tidaklah membuat batinnya pudar. Sinar Dhamma tetap menerangi batinnya. Mereka akan mengutamakan perkembangan Dhamma di dalam batinnya daripada sibuk dengan sesuatu yang di luar jangkauannya di dunia yang maya dan hingar bingar ini.  (oleh: Hananto)*

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, SILA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: