Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Haruskah Kita Takut pada Kematian?

Posted by chanyan pada 2010/05/12

“Badan saya terasa amat panas, suster. Tak tahan lagi saya rasanya” keluh lelaki itu.

Kamar itu ber AC, cukup sejuk. Tapi, ia mengeluh kepanasan. Kelihatan amat gelisah. Sebentar-sebentar membalikkan badannya yang kelihatan gemuk.

Bila dilihat sepintas lalu, tak seorang pun menyangka bahwa ia sedang menderita suatu penyakit. Namun, badan yang kelihatan gemuk itu, sebenarnya adalah bengkak. Ia menderita penyakit gagal ginjal. Kadar ureum di dalam darahnya amat tinggi, karena ginjalnya tak berfungsi lagi untuk membuang kelebihan ureum melalui air seni. Ureum masuk ke dalam peredaran darah secara berlebihan, meracuni darah dan seluruh tubuh, terutama jantung.

Sore harinya, badan gemuk itu terbujur diam dan tenang tiada gerak.

Sementara itu, pintu ruang gawat darurat terbuka. Sebuah kereta dorong keluar. Di atasnya, sesosok tubuh yang dibalut kain perban putih menutupi seluruh tubuhnya yang hangus, didorong oleh beberapa orang perawat menuju kamar isolasi.

“Panas… panas, ooh …panas sekali,” sebuah teriakan yang memilukan.

Ia seorang kapten kapal tanker yang meledak dan terbakar di pelabuhan Rumbai, Pekanbaru. Seluruh anak buahnya telah lebih dahulu menyelamatkan diri. Menyusul, ia pun melompat ke sungai Siak yang telah dicemari minyak mentah yang tumpah dari kapalnya. Ia berusaha menyelam dan berenang di bawah air, menjauhi diri dari kobaran api. Tapi apa lacur. begitu ia muncul ke permukaan air, kobaran api tetap menyambutnya. Ia pun menggelepar-gelepar terpanggang hidup-hidup di air yang telah penuh dengan genangan minyak mentah yang telah terbakar pula.

Regu penolong berhasil mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit. Namun, tubuhnya telah hangus terbakar.

Malam itu, dua jenasah memasuki kamar mayat yang remang-remang dan dingin, menambah jumlah jenasah yang mendahului berada di sana.

Kematian! Setiap detik pasti terjadi kematian yang menimpa makhluk di dunia ini. Manusia ataupun binatang. Setiap saat manusia selalu diintai maut. Mati karena ketuaan, penyakit, kecelakaan, pembunuhan maupun bunuh diri. Peristiwa kematian telah terjadi dan akan terjadi dalam kurun waktu dan hitungan yang tak bisa diperkirakan.

Seandainya ada seorang yang duduk menunggu di suatu tempat yang merupakan batas kehidupan dan kematian, dan ia mempunyai kemampuan melihat patisadhi-vinnana, maka dalam setiap harinya, ia akan menyaksikan suatu eksodus yang tiada hentinya, dari dunia kehidupan menuju ke dunia kematian.

Telah menjadi hukum alam, manusia dilahirkan, dewasa, tua, dan akhirnya mati. Siapa pun juga tak akan mungkin mampu menghindari kematian. Manusia dilahirkan, hidup, bagaikan narapidana mati yang hanya menunggu saat tibanya pelaksanaan hukuman. Pelaksanaan hukuman mati ini jauh lebih pasti daripada vonis yang dijatuhkan oleh hakim di pengadilan, karena tak seorang pun akan bisa melarikan diri atau menghindarinya.

Namun, sebenarnya kematian yang terjadi atas diri manusia bukanlah merupakan suatu hukuman, tapi merupakan suatu proses dari kamma dan buahnya. Selama seseorang masih berada di dalam [lingkaran] vatta samsara, selama itu pula ia akan mengalami proses itu.

Di jaman dahulu, manusia lebih bisa menerima penderitaan ataupun kematian. Hal itu mungkin dikarenakan keterbatasan sarana usaha untuk menghindari penderitaan maupun kematian. Bila merasa panas, mereka puas hanya dengan berkipas-kipas, karena tidak ada AC. Dalam mengadakan perjalanan jauh, mereka hanya berjalan kaki atau menggunakan kereta berkuda, karena tidak ada kendaraan bermotor.

Begitupun, bila sakit. Mereka hanya menggunakan obat-obat tradisional yang biasanya terdiri dari tumbuh-tumbuhan, karena tak ada obat-obat modern. Bila dirasa tidak mampu lagi mengatasinya, mereka ataupun keluarganya akan rela menerima kematian, walau tentu saja tetap bersedih. Memang ada yang ingin mempertahankan kehidupannya, seperti yang terjadi pada seorang raja China kuno, tapi hanya sedikit sekali.

Namun, seiring dengan kemajuan jaman, ketahanan manusia dalam menghadapi penderitaan semakin rapuh. Mereka tak tahan berjalan jauh, hingga untuk menjaga kesehatan, mereka harus ‘menyediakan’ waktu untuk berjoging. Alat-alat olah raga pun beraneka ragamnya. Bila udara panas, mereka akan membeli AC, minimal kipas angin untuk kamarnya. Mobil pribadi pun tersedia untuk mengantar kepergian yang diinginkan. Untuk yang kurang mampu, telah tersedia angkutan umum yang akan mengantar ke tempat tujuan.

Mereka tidak lagi menghargai obat-obat tradisional. Obat-obat modern yang konon telah melalui percobaan terhadap binatang maupun manusia, sebelum dipasarkan, telah tersedia untuk dikonsumsi. Entah telah makan berapa banyak korban untuk mengadakan percobaan itu.

Alat-alat kesehatan pun beraneka pula ragamnya. Pisau bedah yang tajamnya luar biasa, mungkin lebih tajam dari kampak atau pedang algojo pelaksana hukum pancung jaman dulu. Tang [penjepit], gunting, jarum suntik dan lain-lain. Mesin pemacu jantung, mesin pencuci darah dan mesin-mesin lain yang penuh dengan slang-slang plastik. Semua itu dipergunakan untuk membongkar pasang organ tubuh manusia yang dianggap rusak, seperti layaknya membongkar pasang onderdil-onderdil mesin mobil.

Jantung yang dianggap rusak diusahakan untuk diganti dengan yang masih baik yang diambil dari orang lain. Dan mereka sedang berusaha mencari jantung binatang yang dianggap cocok bagi manusia.

Darah yang telah dikotori oleh zat ureum [atau zat racun lainnya] dicuci melalui mesin pencuci darah [haemodyalisis machine], bagaikan mencuci air laut yang tercemari genangan minyak mentah yang bocor dari kapal tanker.

Di ruang-ruang gawat darurat, bisa dilihat sosok manusia yang tubuhnya dipenuhi slang-slang dan dikelilingi berbagai macam mesin.

Semua itu merupakan usaha untuk mempertahankan atau memperpanjang kehidupan [keberadaan] manusia lebih lama lagi. Usaha yang memakan biaya yang tidak sedikit, tapi hasilnya kurang seimbang dan kurang memadai. Banyak jenis penyakit yang tak terjangkau oleh kehebatan teknologi modern. Kehebatan teknologi modern masih kalah cepat oleh kehebatan kuman penyakit pembunuh manusia. Ia selalu selangkah lebih di depan dari kehebatan teknologi penyembuhan, walau manusia tetap berusaha untuk menang.

Beberapa jenis penyakit, seperti kanker, virus modern, yaitu si penyebab aids tetap menghantui kehidupan manusia. Dan yang pasti, semakin hebat usaha manusia unuk mengalahkannya, akan semakin hebat pula kekuatan penyakit dalam membunuh manusia. Karena, penyakit adalah ‘salah satu’ dari penyebab kematian manusia [maupun makhluk lain]. Penyebab lain yang tak mungkin dibasmi adalah, ketuaan, kecelakaan, peperangan dan bunuh diri. Semua itu bersumber dari batin/pikiran manusia yang belum terbebas dari kilesa yang menyebabkan masih tetap berada di dalam lingkaran kehidupan dan kematian.

Berbeda dengan aids, beberapa jenis kanker, menyebabkan rasa kesakitan yang luar biasa sebelum manusia terbunuh olehnya. Sering penderita merasakan kesakitan di luar batas ketahanannya, hingga ia berusaha untuk membunuh diri agar terbebas dari rasa sakit.

Kasus-kasus ini mengundang berbagai pendapat. Ada yang berpendapat untuk memberi kebebasan memilih pada penderita untuk mengakhiri hidupnya dengan dibantu oleh seorang dokter [sebagai pembunuh]. Beberapa dokter telah melakukannya. Pilihan ini dianggap sebagai hak azasi seseorang untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Memilih hidup atau mati.

Ada pula yang berpendapat, tugas seorang dokter adalah untuk menolong penderita sembuh dari penyakitnya, bukan untuk membunuhnya. Ini pun akan mengundang suatu persoalan. Bila telah tidak mampu lagi menyembuhkannya, apa yang harus dilakukannya? Mencabut alat-alat [slang oksigen, jarum infus, misalnya], atau membiarkannya sampai si penderita mati dengan sendirinya? Kalau mencabutnya, tentu disebut membunuh karena menyebabkan penderita meninggal. Bila membiarkannya, akan dikatakan memperpanjang penderitaan, tidak mempunyai perikemanusiaan.

Seperti persoalan duniawi lainnya, persoalan itu tidak akan mencapai titik temu yang memuaskan bagi semua pihak. Tidak akan selesai sepanjang masa.

Bagi umat Buddha, yang terpenting adalah, merenungkan dan menganalisa tentang apa sebenarnya kematian itu. Karena, bila belum mengerti, kematian bisa dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang tak layak untuk dibicarakan. Seorang yang sering membicarakan tentang kematian dianggap sebagai seorang yang pesimistis. Padahal, dengan selalu menyadari dan merenungkan bahwa kematian selalu siap menjemput, kita akan semakin mengerti dan bisa menerima bila suatu saat kematian datang menjemput.

Namun, bila menganggap kematian adalah suatu yang tabu untuk dibicarakan dan direnungkan, maka kita tak terbiasa dan tak akan bisa mengerti apa sebenarnya kematian itu.

Dalam keadaan sehat atau dalam keadaan aman, seseorang tidak akan peduli dan tidak akan merasa takut akan kematian. Ia bisa dengan gagahnya mengatakan: “Saya tidak pernah takut menghadapi apapun, termasuk kematian”.

Namun, persoalan akan menjadi lain bila ia menghadapi marabahaya yang mengundang maut. Seseorang mungkin saja akan kehilangan pegangan dan jurus kebanggaan yang pernah dipelajari sebelumnya. Ia bisa terkencing di tempat karena ketakutan dan lupa bahwa ia tak takut mati.

Sang Buddha mengajarkan jurus-jurus perenungan terhadap kematian agar kita terbiasa dengan jurus itu dan akan bisa dengan tenang menghadapi kematian bagaimanapun jenis dan caranya. Kayagatasati adalah salah satu cara perenungan untuk mengerti kebenaran tentang badan jasmani. Dengan mengerti kebenaran dari badan jasmani, seseorang akan bisa melepaskan rasa keterikatan terhadap badan jasmani. Dengan tidak adanya keterikatan terhadap badan jasmani, maka kepadaman badan jasmani [kematian] bukanlah merupakan suatu yang menakutkan lagi.

  • Ayam kho me kayo, Uddham padatala,

[badan jasmani kita ini, bagian atas mulai dari telapak kaki ke atas]

  • Adho kesamatthaka, Tacapariyanto,

[bagian bawah mulai dari ujung rambut ke bawah, keseluruhannya terbungkus oleh kulit]

  • Puro nanappakarassa asucino, Atthi imasmim kaye,

[penuh oleh sesuatu yang kotor, terdapat di dalam tubuh ini]

  • Kesa, Loma, Nakha, Danta, Taco, Mamsam, Naharu, Atthi,

[adalah rambut, bulu-bulu tubuh, kuku, gigi, kulit, daging, otot, tulang]

  • Atthiminjam, Vakkam, Hadayam, Yakanam, Kilomakam, Pihakam, Papphasam, Antam,

[sumsum tulang, limpa, jantung, hati, jaringan otot, ginjal, paru-paru, usus besar]

  • Antagunam, Udariyam, Karisam, Matthake, Pittam, Semham, Pubbo, Lohitam,

[usus kecil, makanan baru, makanan lama, otak, air empedu, dahak, nanah, darah]

  • Sedo, Medo, Assu, Vasa, Khelho, Singhanika, Lasika, Muttam

[keringat, lemak, air mata, lemak cair, air ludah, ingus, cairan sendi tulang, air kencing]

  • Evamayam me kayo, Uddham padatala,

[beginilah adanya tubuh kita ini, mulai dari telapak kaki ke atas]

  • Adho kesamatthaka, Tacapariyanto,

[mulai dari ujung rambut ke bawah, keseluruhannya terbungkus oleh kulit]

  • Puro nanappakarassa asucino.

[dipenuhi oleh sesuatu yang kotor]

Kayagatasati yang selalu direnungkan dengan baik dan rajin akan membuat batin seseorang mengerti akan keadaan badan jasmani yang sebenarnya. Badan jasmani yang oleh sementara orang dibangga-banggakan ketampanannya, kecantikannya, keelokannya hingga membuat si pemilik maupun orang lain terbuai. Pada kenyataannya hanyalah onggokan barang-barang yang kotor bahkan busuk belaka.

Tubuh ini harus dirawat terus menerus dengan sarana dan prasarana yang beraneka macam. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setiap hari harus dicuci dengan sabun, dengan cream atau dengan cara lain agar tubuh menjadi bersih harum dan sedap dipandang mata. Siapa pula yang tidak tertarik dan senang melihat artis-artis cantik dan tampan di layar TV maupun Film? Bahkan ada yang sampai tergila-gila, memuja, dan mengidolakan mereka. Meniru segala apa yang diperbuat dan dipakai oleh sang idola, tanpa mempertimbangkan serasi atau tidak untuk dirinya.

Namun, tubuh ini, bila tidak dibersihkan barang satu dua hari saja ia akan mengeluarkan bau yang kurang sedap yang semakin lama akan semakin bertambah pula. Bau tak sedap itu keluar karena adanya kotoran dari luar maupun dari dalam tubuh. Sisa-sisa [limbah] dari proses metabolisme tubuh merupakan suatu penyebab bau yang tak sedap, di samping tubuh ini memang terdiri dari sesuatu yang kotor diselubungi oleh kulit yang tipis dan rapuh. Kulit tipis dan rapuh yang sewaktu masih muda dibanggakan karena masih sehat, mulus dan kencang. Yang akan semakin kendor dan keriput dimakan oleh ketuaan. Merupakan suatu proses alamiah yang wajar, tak mungkin bisa dipertahankan.

Karena sesungguhnya, dunia di mana kita tinggal ini, tak berbuat sesuatu pun terhadap siapa pun. Tak sesuatu pun yang patut membuat kita heran dan merasa aneh. Tak sesuatu pun yang patut membuat kita menangis dan tertawa. Sebab semua yang terjadi adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Kita bisa mengatakan biasa, tapi tak bisa melihatnya sebagai sesuatu yang biasa.

Namun, bila kita tahu dan mengerti Dhamma secara berkesinambungan, tak ada sesuatu pun yang merupakan sesuatu. Hanyalah muncul dan tenggelam, sesuai dengan alamiahnya. Kita pun akan tenang dan hening.

Tenang, hening, karena kita menilainya sebagai sesuatu yang biasa. Begitupun, kehidupan dan kematian, akan mempunyai nilai yang sama. Bila kita telah mempuyai pengertian yang benar tentang kematian, masih perlukah kita merasa takut akan kematian? (oleh: Hananto)

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, PANNA]

Iklan

Satu Tanggapan to “Haruskah Kita Takut pada Kematian?”

  1. wenfu said

    Sangat Baik pengetahuan tentang kematian sehingga dgn pengertian ini akan timbul daya tahan
    yg kuat dalam menjalani kehidupan ini>
    Semoga semua mahluk berbahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: