Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Perawatan Batin (2)

Posted by chanyan pada 2010/05/12

Sebelum kita meneruskan dengan uraian selanjutnya, mari kita cermati apa saja yang menjadi penghambat pikiran sejak awal pelaksanaan bhavana hingga tingkat lanjut. Hal ini amat penting diketahui oleh setiap praktisi.

Hambatan atau halangan yang biasanya mengganggu dan membuat gagalnya pelaksanaan bhavana, pada garis besarnya dibagi atas 5 [lima] faktor.

Pikiran dikuasai oleh nafsu indriawi [nafsu duniawi], misalnya keinginan pada sesuatu yang indah, molek, tampan, dan lain sebagainya. Terutama nafsu terhadap lawan jenis. Ini dinamakan kama-chanda nivarana.

Pikiran dikuasai oleh perasaan marah atau jengkel. Marah atau jengkel pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Ini dinamakan byapada nivarana.

Pikiran dikuasai oleh perasaan malas, lesu tak bergairah, mengantuk, atau loyo. Ini dinamakan thina-middha nivarana.

Pikiran dikuasai oleh perasaan gelisah, tak tenang. Ini dinamakan uddacca-kukkucca nivarana.

Pikiran dikuasai oleh perasaan ragu, tak mempunyai keyakinan diri. Ragu terhadap kemampuan sendiri. Ragu terhadap apa yang sedang dikerjakan. Terutama ragu terhadap ajaran Sang Buddha. Dengan kata lain, kurang mempunyai keyakinan terhadap sasana. Ini dinamakan vicikiccha nivarana.

Kelima faktor tersebut di atas dinamakan panca-nivarana, yang mutlak merupakan kilesa. Bila salah satu saja di antara nivarana tersebut muncul dan menguasai pikiran, jangan harap pikiran bisa menjadi tenang.

Kapan saja kita lengah, bentuk-bentuk pikiran secara alamiah maupun karena pengaruh nivarana, akan beraksi dengan sendirinya. Bila kita tak segera menyadarinya, ia akan tetap beraksi dan mengembara ke masa lampau maupun ke masa yang akan datang. Ia akan merangkai berbagai macam cerita dan kisah. Kisah suka maupun kisah duka, membuat batin terombang-ambing tak menentu di antara sedih, gembira, marah, jengkel dan lain sebagainya. Karenanya, kita harus pandai-pandai memberi umpan sebelum benar-benar mampu menguasainya dengan baik.

Cara melawan atau menaklukkan nivarana akan diuraikan kemudian. Kini, akan diuraikan cara yang sederhana namun efektif dalam menggiring dan memberi umpan pada pikiran agar lebih mudah untuk dikendalikan.

Hal itu bisa dilakukan dengan berusaha selalu menyadari setiap gerak pikiran maupun gerak tubuh. Gerakan tubuh yang dimaksud adalah gerakan tubuh yang alami, yang sewajarnya, bukan yang dibuat-buat. Karena, bila terbiasa dengan yang dibuat-buat, maka akan mengalami kesulitan dalam menyadari gerak tubuh yang sewajarnya.

Saat berjalan, kita sadar bahwa sedang berjalan. Saat sedang duduk, kita sadar bahwa sedang duduk. Saat berbaring, kita sadar bahwa sedang berbaring. Setiap gerakan anggota tubuh, saat sedang mengerjakan sesuatu, kita pun menyadarinya. Tidak satu pun gerakan tubuh yang terlewatkan untuk disadari dan diketahui.

Begitupun, tentang gerak pikiran. Bila bentuk-bentuk pikiran sedang muncul, kita tahu bahwa bentuk pikiran sedang muncul. Bila pikiran sedang mengingat sesuatu, kita pun tahu. Bila pikiran sedang berduka atau bersuka, kita pun tahu. Tidak satu pun gerak pikiran yang terlepas dari pengamatan dan penyadaran kita. Dengan melakukan penyadaran terhadap gerak tubuh dan gerak pikiran secara terus menerus, sati [penyadaran] akan semakin kuat setahap demi setahap. Hal ini akan lebih memudahkan timbulnya ketenangan saat duduk bhavana.

Tapi, bila itu masih sulit dilakukan, kita bisa juga memberi kesibukan yang terencana pada pikiran, misalnya dengan menguncarkan Buddho…Buddho [boleh juga Dhammo atau Sangho] terus menerus setiap ada kesempatan. Penguncaran itu tentu saja bisa dihentikan bila sedang melakukan suatu pekerjaan. Lalu, penyadaran dialihkan pada kegiatan yang sedang dilakukan. Saat pekerjaan telah selesai, kembali penguncaran dilakukan. Demikian terus menerus, sejak bangun tidur di pagi hari hingga terlelap tidur di malam hari. Kelihatanya sibuk, bukan? Namun, sebenarnya, tidak! Karena, kalau pun kita tidak memberi kesibukan yang terencana seperti itu, pikiran dengan sendirinya mencari kesibukan sendiri. Melompat ke sana dan melompat ke mari. Menjalin berbagai macam cerita dan kisah, yang biasanya sering membuat kita susah. Jadi, apa salahnya bila kita beri kesibukan yang terencana, demi menjinakkan dan mengendalikannya agar bisa tenang.

Walaupun kelihatan sederhana, pada awalnya usaha ini agak sulit dilaksanakan. Bagi pemula, biasanya, setelah beberapa saat melakukan penguncaran, bisa saja ‘Buddho’ akan hilang dari pikiran dan terlupakan. Setelah beberapa lama, baru ingat kembali. Membuktikan betapa sulitnya pikiran itu diatur. Namun, bila dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, kiranya tak ada sesuatu pun yang tak bisa dikerjakan. Pada saatnya nanti, pikiran akan menguncarkan ‘Buddho’ secara otomatis setiap saat, tanpa disuruh lagi.

Bila usaha ini dilakukan terus-menerus, sati (penyadaran) akan semakin kuat dan pikiran pun akan menjadi semakin jinak. Tidak lagi liar dan mengembara ke sana ke mari. Keadaan ini membuat batin semakin cepat bisa menangkap obyek saat melakukan bhavana duduk, yang berarti tahap vitakka dan vicara berlangsung dengan mulus. Biasanya tahap inilah yang paling sulit dilalui oleh praktisi pemula maupun praktisi-praktisi yang telah lama melakukan bhavana, namun sering menemui kegagalan.

Jadi sebenarnya, bhavana haruslah dilakukan setiap saat dengan posisi apa pun di dalam kehidupan sehari-hari. Karena, memang begitulah yang diajarkan oleh Sang Buddha. Hasil tidak akan bisa dicapai secara optimal bila hanya dilakukan dalam posisi serta waktu tertentu dan jarang dilakukan. Apalagi hanya dalam paket mingguan atau sepuluh harian. Ini haruslah dimengerti dan dipahami benar-benar. Sang Buddha mengajarkan untuk mengembangkan sati di setiap saat, selama hidup. Karena, hanya dengan begitu pikiran bisa terkendali dengan baik.

Penguncaran Buddho…Buddho, banyak membantu praktisi bhavana untuk menjinakkan pikiran serta meningkatkan saddha terhadap Sang Buddha [karena selalu mengingat Sang Buddha dan ajaran-Nya serta Sangha, pelaksana-pelaksana Dhamma yang telah mencapai kesucian]. Dengan mengingat Sang Buddha dan penuh ‘keyakinan’, batin menjadi kokoh tak mudah terganggu dan terpengaruh oleh hal-hal yang jelek, misalnya makhluk-makhluk halus yang iseng, ilmu hitam ataupun binatang buas dan binatang berbisa. Juga tidak mudah terpengaruh atau terseret ke dalam pergaulan sesat dan tak sehat yang banyak berkembang di masyarakat.

Setelah melewati tahap awal, yaitu menangkap dan mengenali objek [vitakka dan vicara], biasanya tahap selanjutnya akan lebih mudah dicapai.

Piti, sebagai tahap sesudah tahap awal, seperti yang telah diterangkan di atas, merupakan suatu tahap yang harus dicapai agar kita menjadi tertarik dan lebih bersemangat dalam usaha mencapai tahap selanjutnya, yang biasanya lebih sulit.

Untuk mencapai tahap selanjutnya, seseorang harus tetap menjaga kenetralan batin terhadap apapun [termasuk nimitta / penampakan] yang mungkin muncul. Juga tidak terpengaruh dan terikat pada piti yang bisa menghambat kemajuan batin. Tugas utama adalah tetap berkonsentrasi pada objek [nafas]. Piti, hanyalah merupakan suatu keadaan yang muncul disebabkan pelaksanaan bhavana yang benar [bila pelaksanaan bhavana tidak benar, piti tidak akan muncul]. Jadi itu bukanlah tujuan yang sebenarnya dari bhavana.

Bila seseorang mampu mempertahankan kondisi pikiran seperti di atas [tetap konsentrasi, rileks / tidak tegang, tidak terburu-buru, tidak ingin ini/itu], akan muncul perasaan bahagia [sukha], yang merupakan kebahagiaan awal di dalam batin.

Piti, merupakan suatu daya tarik bagi praktisi bhavana, namun sukha mempunyai daya tarik yang lebih. Bahkan, kebahagiaan yang dirasa di dalam tahap sukha ini, terasa lebih dibanding kebahagiaan duniawi lainnya. Karenanya, kebahagiaan yang muncul ini bisa membuat keterikatan pula. Membuat seseorang merasa amat puas terhadap apa yang telah dicapai. Ia akan merindukan kondisi tersebut, membuat seseorang terhambat untuk maju. Bahkan, pada sementara kasus, seseorang menyangka bahwa ia telah mencapai tahap jhana [pencerapan]. Bila demikian halnya, ia akan berhenti sampai di situ dan tak akan bisa mencapai tahap jhana yang sebenarnya.

Namun, bila praktisi bhavana mampu mempertahankan sati, tetap menjaga ketenangan, konsentrasi pada objek, pikiran akan memusat dan menyatu dengan objek. Itu dinamakan ekaggataramana. Batin yang telah mencapai kondisi itu, dinamakan ekaggata citta.

Pada awalnya, pemusatan pikiran yang dicapai belumlah begitu kuat. Kadang muncul, kadang lepas. Keadaan ini dinamakan upacara samadhi. Biasanya, pada tahap itu, muncul pula nimitta [penampakan] pada mano dvara [pintu pikiran] – dinamakan uggaha nimitta. Nimitta bisa berupa berbagai macam bentuk. Berupa sinar, dewa-dewi, mayat yang menjijikan, makhluk yang menakutkan dan lain sebagainya. Bagi praktisi bhavana yang batinnya kurang kuat dalam kebijaksanaan, nimitta tersebut merupakan musuh dan penghambat. Ia bisa menghentikan bhavana karena terkejut, bisa lari ketakutan, bisa pula menjadi gila. Bisa pula ia akan merasa sebagai seorang yang super, karena telah bertemu dengan dewa ini atau dewa itu. Ini yang disebut sanna vipalasa [sesat karena salah persepsi].

Bila batin seorang praktisi cukup kuat dan cukup bijaksana, ia akan mencari cara untuk mengatasinya. Dengan cara tak memperhatikan nimitta tersebut, dengan pengertian bahwa nimitta hanyalah sekedar nimitta – hanya sekedar penampakkan – bukan yang lain. Bukan benda, bukan makhluk. Tak patut dilekati ataupun dibenci. Ia akan tetap berkonsentrasi pada objek, maka nimitta pun akan segera lenyap dan pikiran bisa menyatu dengan obyek.

Atau bisa pula, justru dengan menangkap nimitta tersebut sebagai objek dan berusaha menguasainya dengan kuat, hingga mampu mengendalikan nimitta tersebut sesuai dengan kehendaknya. Membuatnya menjadi besar, kecil, memperbanyak, memisah-misahkannya, membuatnya hilang dan muncul kembali dan lain sebagainya. Bila ia berhasil dalam usahanya itu, nimitta tersebut dinamakan patibhaga nimitta. Ia bisa tenang, kembali pada obyek, membuat pikiran menyatu pada objek.

Pencapaian 5 [lima] kondisi [vitakka, vicara, piti, sukha dan ekaggata] secara lengkap dan sempurna, disebut pencapaian jhana pertama.

[note: uggaha nimitta muncul pada upacara samadhi. Merupakan penampakan tetap yang belum benar-benar dikuasai oleh praktisi bhavana. Dan penampakannya pun tak berlangsung lama. Sedangkan patibhaga nimitta, adalah nimitta yang telah berhasil dikuasai oleh praktisi bhavana pada tahap appana samadhi].

Bila kita perhatikan dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa setiap tahap bhavana selalu mengandung gangguan dan hambatan. Begitupun, pada tahap bhavana selanjutnya. Karenanya, praktisi diharap tetap mempertahankan kenetralan, ketenangan, rileks / tidak tegang, tidak terlalu berharap. Tidak kalah pentingnya adalah bijaksana dan tidak takut terhadap bentuk-bentuk apa pun yang mungkin akan muncul dalam pelaksanaan bhavana. Seorang praktisi bhavana yang pikirannya masih dipengaruhi oleh perasaan takut, amatlah sulit untuk mengembangkan bhavana tingkat lanjut. Karena, walaupun tidak semua praktisi bhavana akan selalu menemui nimitta yang menakutkan atau menjijikkan, namun biasanya nimitta yang muncul sering membuat praktisi bhavana terkejut. Dan ini membuat pikiran tak akan mampu untuk berkonsentrasi lebih lanjut. Kalaupun ia akan meneruskan bhavana, ia harus memulainya dari awal lagi.

Kalaupun terjadi hal yang demikian, praktisi bhavana diharap tidak merasa kecewa dan kecil hati lalu menghentikan usaha. Namun, sebaliknya, hal itu haruslah dianggap sebagai pelajaran untuk meningkatkan kebijaksanaan yang bisa membuat praktisi bhavana menemukan cara untuk mengatasi segala macam hambatan dan halangan. Selain sebagai guru yang baik, pengalaman [buruk maupun baik, kegagalan maupun keberhasilan] merupakan harta yang tak ternilai harganya, serta amat berguna sebagai bekal dalam mengajar generasi selanjutnya. Guru yang baik adalah guru yang mempunyai banyak pengalaman.

Setelah seseorang mampu mencapai jhana tingkat pertama, tidak dianjurkan untuk segera meningkat ke jhana tingkat kedua. Namun, dianjurkan untuk terus melatih jhana pertama hingga benar-benar mahir, baru boleh meningkat ke jhana kedua. Bila hal ini diabaikan, ada kemungkinan jhana pertama yang telah dicapai akan merosot dan padam. Karena, pada tahap ini praktisi dituntut untuk mempertajam kebijaksanaan agar mampu melepas kondisi-kondisi / faktor-faktor awal yang ada pada jhana pertama. [Hal ini berlaku pula pada peralihan jhana-jhana selanjutnya].

Bila praktisi yang telah ahli dalam jhana pertama, dengan kebijaksanaannya, mampu melepas vitakka dan vicara serta mempertahankan piti, sukha, dan ekaggata maka berarti ia berhasil memasuki jhana kedua. Namun, bila ia tak mampu melakukannya, maka ia tetap berada pada jhana pertama. Atau, bahkan, bila faktor-faktor jhana pertama padam, maka padam pula lah jhana pertama, pada saat itu.

Bila praktisi yang telah ahli dalam jhana kedua, dengan kebilaksanaannya, mampu melepas unsur piti serta mempertahankan sukha dan ekaggata, maka berarti ia berhasil memasuki jhana ketiga. Namun, bila ia tak mampu melakukannya, maka ia tetap berada pada jhana kedua. Atau, bahkan, bila kondisi-kondisi jhana kedua padam, maka padam pula lah jhana kedua, pada saat itu.

Bila praktisi yang telah ahli dalan jhana ketiga, dengan kebijaksanaannya, mampu melepas sukha serta mempertahankan ekaggata [saat itu akan muncul upekkha yang juga harus dipertahankan], maka berarti ia berhasil memasuki jhana keempat. Namun, bila ia tak mampu melakukannya, maka ia tetap berada dalam jhana ketiga. Atau, bahkan, bila kondisi-kondisi jhana ketiga padam, maka padam pula lah jhana ketiga, pada saat itu.

Namun, sebenarnya, bila praktisi benar-benar telah ahli dalam satu tingkat jhana, saat ia akan meningkat ke jhana yang lebih tinggi, unsur-unsur yang ‘harus’ dilepas akan terlepas dengan sendirinya secara lembut dan lancar. Karenanya, tidak seharusnya seorang praktisi membiarkan dirinya ‘terlalu terikat’ pada pengetahuan teori yang dikuasainya saat melakukan bhavana, karena hal itu akan menghambat kemajuan. Teori dan praktek, pada prinsipnya memang sama, namun berbeda dalam hal pengalaman [sesuatu yang dialami oleh batin saat melakukan bhavana].

Praktisi diharap melatih diri hingga benar-benar ahli di setiap tingkat jhana, agar jhana tersebut tak mudah merosot atau padam. Dengan keahliannya itu pula, ia bisa tinggal berlama-lama di dalam suatu tingkat jhana sesuai dengan kemauannya. Ia bisa dengan cepat masuk ke tingkat jhana yang dikehendaki, walau tidak secara berurutan. Ini dinamakan olah jhana yang mahir [vasi].

Olah jhana sama dengan olah batin tingkat tinggi yang membuat batin teguh dan kokoh, mempunyai penyadaran [sati] yang tinggi. Orang-orang semacam ini tak mungkin bisa dipengaruhi atau dimasuki oleh makhluk halus dari lain dimensi, begitupun oleh ilmu hitam. Bandingkan dengan orang yang lemah sati, dengan mudah dipengaruhi atau dimasuki oleh makhluk halus, seperti dukun/paranormal yang sengaja menyediakan diri menjadi medium [perewangan], dengan dalih menolong orang lain.

Dengan sering berolah batin tingkat tinggi dan berada di dalam ketenangan, membuat proses perubahan [kasar maupun halus] dari badan jasmani seolah-olah diperlambat, karena badan jasmani pun ikut tenang. Kiranya, karena hal itulah, maka praktisi-praktisi yang demikian kelihatan awet muda dan tahan menghadapi hempasan-hempasan duniawi. Batin terawat dengan baik, badan jasmani pun terawat dengan baik, karena keduanya memang saling mempengaruhi.

Tentu saja, bukan hanya karena mahir dalam bhavana saja seseorang akan kelihatan awet muda. Dengan hidup makmur tak kekurangan sesuatu, makanan yang baik dan tenang, seseorang bisa juga kelihatan awet muda. Namun, biasanya orang-orang demikian tidak akan tahan menghadapi hempasan duniawi yang berat. Ia akan kelihatan awet muda saat masih berjaya. Namun, akan segera kelihatan layu saat terpuruk. Dan stroke atau post power syndrome pun mudah menghinggapinya.

Jadi, alangkah baiknya bila umat Buddha tidak mengabaikan perawatan batin yang telah diajarkan Sang Buddha.

Kini akan diuraikan cara untuk mengatasi penghambat kemajuan batin [nivarana] agar seseorang bisa lebih mudah mencapai ketenangan tingkat awal maupun tingkat lanjut [jhana].

Pada dasarnya, pikiran mempunyai dua sisi yang berlawanan, yaitu kebaikan dan kejelekan. Keduanya akan berusaha saling mengalahkan. Bila pihak kebaikan yang menang, maka kejelekan akan terusir keluar dari pikiran. Bila kejelekan yang menang, maka kebaikan tak mungkin bisa bertahan.

Begitupun halnya dengan ketenangan [jhana] sebagai kebaikan dan nivarana [penghambat kemajuan batin] sebagai kejelekan. Unsur-unsur keduanya tidak bisa tinggal secara bersamaan di dalam batin / pikiran. Secara alamiah, keduanya akan saling beradu dan saling berusaha mengalahkan.

Vitakka [unsur jhana] berlawanan dengan thina-middha nivarana [kemalasan].

Bila pikiran dikuasai oleh perasaan malas, lesu, mengantuk dan sejenisnya, tentu seseorang akan sulit untuk melaksanakan bhavana, karena tak mungkin bisa menangkap objek bhavana yang telah ditentukan. Ia hanya ingin duduk bengong bermalas-malasan, atau bahkan ingin tidur. Bila hal itu terjadi, praktisi bhavana harus menggunakan pasal-pasal Dhamma yang bisa menyenangkan dan menggairahkan lalu mengadakan penganalisaan atau perenungan hingga rasa malas dan mengantuk hilang. Setelah bergairah kembali, baru melanjutkan bhavana kembali.

Hal yang perlu diperhatikan adalah, seorang praktisi bhavana harus melatih diri agar peka di dalam membedakan perasaan malas dan perasaan mengantuk / lelah yang membuat badan memang perlu istirahat. Perasaan malas [kemalasan], merupakan salah satu unsur kilesa yang bisa saja muncul sebagai perasaan mengantuk dan lelah. Bila praktisi menuruti atau dikuasai kilesa jenis ini, tentu saja ia akan enggan melakukan bhavana. Ia harus melawannya dengan berbagai cara bila ia ingin mendapat kemajuan. Namun, bila badan jasmani memang lelah dan memerlukan istirahat, sepatutnyalah ia mengambil waktu untuk istirahat.

Vicara [unsur jhana] berlawanan dengan vicikiccha nivarana [keragu-raguan].

Bila pikiran dikuasai oleh perasaan ragu-ragu terhadap suatu hal [terutama pada ajaran Sang Buddha], tak ada kepastian, tentu praktisi tidak akan bisa mendapat ketenangan. Bila hal ini terjadi, praktisi harus berusaha merenungkan dan menganalisa hal-hal yang membuat keraguan muncul, hingga ia mendapat suatu keyakinan / kepastian akan hal itu. Memunculkan dan menguatkan saddha perlu dilakukan, karena saddha bisa membuat kuatnya viriya [semangat].

Piti [unsur jhana] berlawanan dengan byapada nivarana [kemarahan, kejengkelan].

Perasaan marah atau jengkel membuat pikiran panas, kering dan gersang yang membuat seseorang tak mungkin bisa tenang. Bila hal ini terjadi, seseorang haruslah mengadakan perenungan tentang kerugian yang diakibatkan oleh kemarahan. Tidak ada suatu keuntungan pun yang disebabkan oleh kemarahan dan kejengkelan. Bila ia bisa mengerti dengan baik dan kemarahan hilang, maka pikiran pun menjadi ringan, sejuk, dan menyenangkan. Piti pun tidak sulit untuk dicapai. Jadi, bila seseorang telah mencapai tahap piti, ia harus berusaha agar terhindar dari gangguan byapada nivarana.

Sukha [unsur jhana] berlawanan dengan udhacca-kukkucca nivarana [kegelisahan].

Sifat sukha adalah ringan dan lega, tidak membuat pikiran sesak dan terbebani, sarat dengan perasan bahagia. Amat berlawanan dengan sifat udhacca-kukkucca yang membuat pikiran kalut, gelisah tak menentu bagaikan riak air sungai yang dangkal. Berderai-derai tiada ketenangan dan keheningan.

Bila hal ini terjadi, praktisi harus berusaha menenangkan pikiran dan membuat posisi badan jasmani menjadi rileks, tidak tegang, lemas tiada menanggung beban. Usaha ini akan membuat pikiran dan badan jasmani terasa ringan bagaikan seorang yang berhasil memecahkan persoalan berat. Pikiran terasa lega dan bahagia.

Bila tahap sukha telah dicapai, praktisi harus berusaha agar kegelisahan tidak datang mengganggu.

Ekaggata atau samadhi [unsur jhana] berlawanan dengan kamachanda nivarana [nafsu].

Batin yang berada di dalam samadhi atau ekaggata mempunyai sifat yang tenang, kokoh, tegar dan hening tak terganggu oleh goncangan-goncangan. Sesuatu yang mampu mengguncang samadhi atau ekaggata yang mulai muncul adalah nafsu duniawi, terutama raga [nafsu terhadap lawan jenis].

Bila hal ini terjadi, praktisi harus segera memperkuat sati [penyadaran] serta upekkha. Ekaggata atau samadhi merupakan tanda [unsur] munculnya upekkha [yang belum begitu kuat]. Upekkha akan mencapai kekuatan penuh pada jhana ke empat. Karenanya, hanya dengan menguatkan sati dan upekkha, batin akan bisa segera masuk ke dalam jhana.

Kamachanda atau kama raga akan padam dalam jhana pertama oleh kekuatan ekaggata yang didukung mulai munculnya upekkha.

Sukha viragata loke kamanam samatikkamo

(padamnya kamaraga merupakan suatu kebahagiaan). [oleh: Hananto]*

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, SAMADHI]

Iklan

Satu Tanggapan to “Perawatan Batin (2)”

  1. faruq said

    lagi males baca mas….
    pertamanya ya… salam kenal.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: