Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dhamma Sebagai Jalan Hidup (2)

Posted by chanyan pada 2010/05/13

B. Sammapadhana (4)

Setelah uraian tentang Satipatthana berakhir, maka tibalah saatnya diuraikan bab kedua dari Bodhipakkiyadhamma yaitu Sammappadhana. Sammappadhana mempunyai pengertian yang sama dengan samma-vayama yaitu usaha yang benar, sebagai usaha langsung menuju keadaan bebas dari dukkha. Batinlah sebagai landasan bagi pelaksanaan yang bertujuan membersihkan kekotoran dari batin itu sendiri. Membersihkan batin oleh batin. Membersihkan pikiran oleh pikiran. Cara itu bisa dilakukan dengan membiasakan diri hidup dalam lingkup kebenaran dan kebajikan. Mempelajari tentang kebenaran dan kebajikan. Kemudian melaksanakan kebenaran dan kebajikan itu. Dengan membiasakan diri hidup, mempelajari serta melaksanakan kebenaran dan kebajikan, diri sendiri akan mampu memperingatkan diri sendiri saat hendak tergelincir pada perbuatan jahat. Attana codayattanam : diri sendiri memperingatkan diri sendiri.

Ada 4 (empat) tahap dalam pelaksanaan untuk membersihkan diri sendiri dari perbuatan jahat.

  1. Samvarapadhana : usaha untuk membuat akusala-dhamma (kejelekan) tidak muncul dalam batin dengan cara pengendalian. Saat ini suasana batin sudah cukup kotor. Karenanya, tak perlu lagi menambah beban dengan memasukkan kekotoran baru ke dalam batin. Pencapaian tujuan untuk membersihkan batin tak akan didapat bila batin dipenuhi dengan kekotoran baru, sementara kekotoran lama masih bercokol. Namun, pembersihan batin akan lebih mudah dilakukan bila seseorang tidak menambah kekotoran baru. Dalam hal ini usaha agar sesuatu yang kotor tidak muncul di dalam batin adalah perlu dilakukan. Pengendalian yang baik terhadap mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran adalah satu-satunya jalan untuk itu.
  2. Pahanapadhana : usaha memberantas kekotoran yang terlanjur muncul di dalam batin. Bersamaan dengan usaha pengendalian, harus dilakukan pula pembasmian terhadap kekotoran yang terlanjur muncul. Pembasmian ini tak bisa dilakukan sebagai layaknya seseorang membakar sampah, karena kekotoran batin bukanlah sesuatu yang berbentuk (nyata). Tapi, dengan kesadaran bahwa kekotoran masih bercokol di dalam batin dan tidak membiarkannya merajalela sebagai penguasa, membuat kekotoran itu padam dengan sendirinya. Hal itu harus dibantu dengan memunculkan kebajikan di dalam batin (bhavanapadhana). Kebajikan (kusala-dhamma) dan kejelekan (akusala-dhamma) sifatnya selalu berlawanan. Bila kusala-dhamma muncul dan menguasai batin, maka akusala-dhamma akan terusir keluar. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, seseorang harus berusaha agar kusala-dhamma selalu bersemayam di dalam batinnya.
  3. Bhavanapadhana : usaha untuk memunculkan kebajikan (kusala-dhamma) yang belum muncul di dalam batin. Usaha ini bisa dilakukan dengan menghindarkan diri dari perbuatan jelek dengan selalu berusaha untuk berbuat kebajikan.
  4. Anurakkhanapadhana: usaha untuk mempertahankan dan melestarikan kusala-dhamma (kebajikan) yang telah ada di dalam batin dan tidak memberi kesempatan akusala-dhamma muncul. Selalu membiasakan diri hidup di dalam lingkungan Dhamma.

Bila dicermati uraian di atas, empat tahap pelaksanaan usaha membersihkan batin tersebut saling berhubungan satu sama lain. Keempatnya saling menyatu sebagai benteng yang tidak dapat ditembus oleh akusala-dhamma. Seseorang harus mampu membangun benteng pertahanan ini agar hidupnya tak dicemari oleh kekotoran batin. Sammappadhana disebut juga padhanasamvara yang saling melengkapi dengan dhamma lain, terutama dengan Iddhipada, dan merupakan cara yang tepat untuk mencapai kesucian batin.

C. Iddhipada (4)

Iddhipada merupakan suatu jalan untuk mencapai keberhasilan.

Tanpa dipadukan dengan jenis dhamma yang lain, iddhipada bersifat netral. Bisa membuat seseorang berhasil dalam mencapai kebaikan, bisa pula berhasil dalam kejahatan. Bila ia berpadu dengan kusala-dhamma, maka ia akan membuat seseorang mencapai kebahagiaan bahkan kesucian batin. Namun, bila ia berpadu dengan akusala-dhamma, ia akan membuat seseorang terjerumus ke dalam apaya (kesengsaraan).

Kata ‘iddhi‘ berarti di atas ukuran normal (superior). ‘Pada‘ berarti jalan/cara. Karenanya, Iddhipada diartikan sebagai jalan / cara menuju keberhasilan (keunggulan, superiority).

Misalnya, seseorang yang melaksanakan samatha bhavana dengan tekun dan didukung dengan iddhipada, maka ia akan bisa mencapai lokiya iddhividhi (kesaktian yang bersifat duniawi). Jalan itu akan membawa seseorang mencapai tahapan jhana hingga jhana keempat (bahkan jhana kedelapan). Jhana keempat merupakan landasan / dasar bagi semua jenis kesaktian.

Begitu pula bila dilanjutkan ke vipassana bhavana, tentu ia akan mampu mencapai lokuttara iddhividhi (lokuttara jhana), yaitu asavakkhayanana yang mampu menghancurkan belenggu-belenggu duniawi (samyojana) dan mencapai kesucian.

Kesaktian yang bersifat duniawi (lokiya iddhividhi), seperti bisa melayang di udara, berjalan di atas air, masuk (menyelam) ke dalam tanah, menghilang dan lain-lain belumlah terbebas dari dukkha dan kematian. Maka dari itu, Buddha-sasana mengajarkan yang lebih dari itu, yaitu kesaktian yang bersifat luar duniawi (lokuttara iddhividhi) yang mampu membebaskan diri dari dukkha dan kematian. Itulah kesaktian yang tiada bandingannya. Siapa pula yang tak mendambakan kebahagiaan dan kedamaian?

Ada 4 (empat) faktor iddhipada yang harus dikembangkan seseorang bagi keberhasilan usahanya.

  1. Chanda iddhipada : pelaksanaan usaha untuk mencapai keberhasilan dengan merasa senang, rela, gembira, dan puas terhadap usaha itu.
  2. Viriya iddhipada : pelaksanaan usaha untuk mencapai keberhasilan dengan mempunyai semangat yang tinggi tidak bermalas-malas dan loyo.
  3. Citta iddhipada : pelaksanaan usaha untuk mencapai keberhasilan dengan tekun dan ulet, tidak suka menunda-nunda atau menelantarkan usaha yang sedang dilakukan.
  4. Vimamsa iddhipada : pelaksanaan usaha untuk mencapai keberhasilan dengan selalu mengadakan penganalisaan (evaluasi) yang bijaksana terhadap usaha tersebut. Tidak hanya ‘asal bekerja’. Dengan demikian bisa tahu apa sebab kegagalan dan apa sebab keberhasilan. Meninggalkan cara yang salah dan menggunakan serta mengembangkan cara yang benar.

Mengetahui dan sadar saat kejenuhan dan kebosanan muncul. Dan tahu cara menghilangkan kejenuhan dan kebosanan dengan memunculkan kegembiraan dan kepuasan dalam pekerjaan yang sedang dilakukan (chanda). Mengetahui dan sadar saat kelengahan muncul. Dan tahu cara menghilangkannya dengan cara tidak meninggalkan dan menunda-nunda pekerjaan (citta). Mengetahui dan sadar saat kemalasan dan perasaan loyo menguasai diri. Dan tahu cara menimbulkan semangat dalam usaha (viriya).

Empat Iddhipada ini akan muncul dan berkembang dengan baik bila didukung oleh pengertian atau pandangan yang benar terhadap tujuan usaha tersebut. Dalam hal ini tujuan yang dimaksud adalah bebasnya diri dari dukkha, yaitu kebahagiaan Nibbana. Dan akan mencapai keberhasilan -bebas dari dukkha- bila Iddhipada ini berpadu dengan kusala-dhamma yang lain. Pelaksanaan Iddhipada ini haruslah berlangsung secara berkesinambungan dan saling mendukung. Seseorang akan senang hati, rela, tak menunda-nunda, dan bersemangat dalam bekerja, bila ia tahu dan mengerti tujuan / hasil usaha tersebut adalah sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan.

Seseorang tak akan menunda-nunda suatu pekerjaan, bila ia dengan senang hati dan bersemangat karena mengerti hasil usahanya adalah sesuatu yang membuat bahagia.

Seseorang akan bersemangat, bila ia dengan rela dan tak menunda-nunda pekerjaan karena ia mengerti bahwa usahanya itu adalah usaha kebajikan yang menghasilkan kebahagiaan.

Jadi pengertian (kebijaksanaan) yang benar adalah amat penting dalam hal ini, dan ketiga faktor terdahulu adalah pendukungnya. Karena adanya panna sebagai faktor terpenting, maka pelaksanaan ketiga faktor terdahulu tidak akan terlalu kendor dan tidak pula terlalu tegang / keras. Tetapi, akan tetap di dalam ukuran sedang-sedang (majjhima patipada).

Seorang bodoh tidak akan mempunyai daya penganalisaan (vicara) yang baik. Karenanya, ia tidak akan mampu mengembangkan Iddhipada. Seorang bodoh, walaupun beratus bahkan beribu kali melihat atau mendengar tentang (ajaran) kebaikan, ia tak akan mempunyai kepedulian sedikitpun. Ia akan memalingkan muka dan menghindar dari (ajaran) kebaikan.

Iddhipada akan berkembang dengan baik pada orang-orang bijaksana yang sering atau selalu mengadakan penganalisaan / perenungan Dhamma (Dhammavicaya). Jadi, harap dimengerti, bila Iddhipada belum muncul dan berkembang, itu berarti masih ada kekurangan dalam penganalisaan dan perenungan Dhamma. Dengan pendekatan dan pengenalan terhadap Dhamma, seseorang akan tahu manfaat dan sifat Dhamma yang sejuk, membuat batin tenang dan damai, penuh kebahagiaan. Ibarat seseorang yang sedang mencicipi makanan yang lezat, tentu ia akan tahu rasa nikmat makanan tersebut. Akankah ia mencampakkan makanan yang lezat itu?

D. Indriya (5)

Indriya merupakan sesuatu yang amat penting bagi kehidupan manusia. Bisa dibayangkan bila seseorang tidak mempunyai indriya yang lengkap misalnya: mata, hidung, telinga, mata dan lidah. Namun, dalam hal ini kita akan membahas indriya lain yang lebih penting dari pada yang disebut di atas, yaitu:

  1. Saddhindriya : keyakinan yang muncul di dalam batin, hasil dari perenungan tentang sebab dan akibat.
  2. Viriyindriya : semangat yang ada di dalam batin dalam berusaha menuju bebas dukkha. Hal ini identik dengan Sammappadhana.
  3. Satindriya : indriya sati yang kuat untuk mencapai samadhi yang kokoh. Hal ini identik dengan satipatthana.
  4. Sammadhindriya : kemantapan batin yang kokoh.
  5. Pannindriya : kebijaksanaan dalam Dhamma sebagai hasil dari perenungan yang didukung oleh kemantapan / ketenangan batin. Hal ini identik dengan sammaditthi dan sammasankappa.

Kelima indriya ini merupakan salah satu kesatuan yang amat diperlukan bagi praktisi-praktisi Dhamma yang sedang belajar dan berlatih demi mendapatkan penerangan dan menembus kesunyataan. Dengan kesatuan yang saling mendukung dan mengontrol ini, seorang praktisi akan tahu taraf kesempurnaan dari kesatuan tersebut. Bila ada salah satu indriya yang belum sempurna, indriya lain akan membantu menyempurnakannya. Demikian seterusnya hingga masing-masing indriya menjadi sempurna yang membuat kesatuan itu menjadi sempurna pula.

Kesempurnaan dari kesatuan tersebut, akan membuat seseorang berhasil menembus / mengerti Dhamma. Bebas dari dukkha, karena telah mengatasi avijja dan tanha. Kelima indriya ini benar-benar sebagai dhamma, sarana yang membuat batin dipenuhi oleh kusala-dhamma sebagai penguasa. Bagaimanapun, pannindriya merupakan indriya terpenting dibanding indriya lainnya. Karena, tanpa adanya pannindria yang kuat, indriya yang lain akan sulit mencapai kesempurnaan.

E. Bala (5)

Bala dan indriya mempunyai unsur yang sama. Hanya berbeda tentang cara kerjanya. Indriya menunjukkan bahwa kelima unsur itu merupakan penguasa untuk tercapainya tujuan baik. Sedangkan bala merupakan kekuatan bagi tercapainya tujuan baik. Penguasa yang kuat akan lebih memastikan bagi tercapainya tujuan baik. Seseorang yang melaksanakan Dhamma dengan baik akan tahu dengan jelas perbedaan fungsi antara keduanya. Namun, indriya dan bala bolehlah dianggap sama.

  1. Saddha bala : kekuatan keyakinan yang ada pada batin.
  2. Viriya bala : kekuatan semangat yang ada pada batin.
  3. Sati bala : kekuatan sati yang ada pada batin.
  4. Samadhi bala : kekuatan samadhi yang ada pada batin.
  5. Panna bala : kekuatan kebijaksanaan yang ada pada batin.

Kekuatan merupakan sesuatu yang amat penting dalam hal melakukan pekerjaan. Semakin baik kekuatan yang dimiliki, akan semakin cepat rampung pula tugas yang dikerjakan. Begitu pun, untuk mencapai tujuan mulia, seseorang haruslah mempunyai kekuatan batin selain mempunyai kekuatan fisik (tubuh).

Seseorang haruslah rajin dalam hal berlatih, menguatkan saddha, viriya, sati, samadhi, dan panna untuk mencapai tujuan mulia. Semakin baik kekuatan saddha, viriya, sati, samadhi, dan panna, maka akan semakin cepat pula tujuan mulia dicapai.

Dalam hal ini Sang Buddha, sebagai manusia paling bijaksana di dunia ini, telah memberi bekal yang baik pada kita. Beliau telah mengadakan penyelidikan-penyelidikan, penganalisaan-penganalisaan tentang dunia dan kehidupan ini. Yang akhirnya, menemukan kesunyataan dan diajarkan pada kita. Beliau telah berhasil dalam usahanya, karena Beliau berhasil membangun kekuatan saddha, viriya, sati, samadhi, dan panna.

Ilmu yang Beliau temukan adalah ilmu yang melebihi segala ilmu yang ada. Ilmu yang tertinggi dan tidak banyak orang yang mampu mencapainya. Namun, sebagai umat buddha, tak selayaknya kita berkecil hati karenanya. Sebaliknya, itu semua haruslah dianggap sebagai suatu tantangan bagi kita untuk mencapainya, walau tidak harus dalam kehidupan ini.

F. Bojjhanga (7)

Seperti telah disebutkan pada tulisan terdahulu, Dhamma satu dengan lainnya akan selalu berhubungan dan saling mendukung. Karenanya, tidaklah perlu diherankan bila pada kelompok Dhamma yang satu mungkin akan terdapat unsur-unsur / faktor-faktor yang sama dengan kelompok Dhamma yang lain. Seperti halnya dalam kelompok bojjhanga, juga terdapat unsur-unsur / faktor-faktor yang sama dengan kelompok indriya dan bala.

Bojjhanga terdiri dari tujuh unsur/faktor:

  1. Sati : perhatian yang peka. Sati terhadap phenomena yang muncul di dalam diri maupun di luar diri.
  2. Dhammavicaya : perenungan Dhamma tentang sebab dan akibat. Perenungan terhadap Dhamma yang muncul di dalam diri maupun di luar diri.
  3. Viriya : semangat yang baik dalam usaha menuju bebas dukkha. Di dalam badan jasmani yang bersemangat, batin pun bersemangat.
  4. Piti : perasaan ketergiuran terhadap hasil (sedikit ataupun banyak) usaha. Ketergiuran yang mengandung unsur vitakka dan vicara maupun tanpa vitakka dan vicara.
  5. Passadhi : perasaan hening. Keheningan yang terdapat pada badan jasmani maupun pada batin.
  6. Samadhi : kekokohan batin akibat dari konsentrasi yang baik. Samadhi yang mengandung vitakka dan vicara maupun yang tak mengandung vitakka dan vicara.
  7. Upekkha : keseimbangan batin karena batin telah berada dalam ketenangan yang baik. Keseimbangan batin terhadap keadaan di dalam maupun di luar diri.

Pada batin yang kondisinya semakin lembut / halus, ketujuh unsur itu juga akan semakin halus sifatnya.

Unsur Dhamma tersebut saling mendukung satu sama lain, dari sati sampai upekkha. Sati semakin kuat dengan mengadakan satipatthana. Bila sati telah menjadi kuat dengan ditandai munculnya samadhi, diteruskan dengan perenungan Dhamma (dhammavicaya) tentang hukum sebab dan akibat.

Pelaksanaan ini haruslah dilakukan terus-menerus hingga akhirnya mencapai tujuan. Inilah yang dinamakan viriya.

Hasil perenungan sebab dan akibat yang dilaksanakan dengan benar tidak mungkin akan menyesatkan, sesuai dengan tahapan yang benar pula. Piti (kegiuran) adalah salah satu tahapan yang akan muncul setelah perenungan dan penganalisaan yang benar dilakukan. Piti akan membuat perasaan sejuk dan segar di dalam batin maupun badan jasmani.

Munculnya piti (kegiuran) menyebabkan batin lebih tertarik pada obyek dan lebih bisa menangkap / mengikat obyek dengan baik. Keberadaan atau menyatunya batin pada obyek, obyek pada batin menyebabkan bentuk-bentuk pikiran tidak aktif lagi. Batin akan menjadi tenang karena tidak lagi diganggu oleh aksi bentuk-bentuk pikiran yang biasanya bergerak tanpa kendali. Ketenangan ini disebut passaddhi sambojjhanga. Dengan semakin berkembangnya passaddhi batin akan semakin kuat dalam berkonsentrasi dan menangkap obyek. Kekuatan yang menyebabkan batin menyatu dan menjadi tenang disebut samadhi, suatu keadaan yang membawa batin ke dalam keseimbangan dan kebahagiaan yang sulit untuk diterangkan.

Batin akan menjadi tenang dan cemerlang, mampu menganalisa dhamma (hidup dan kehidupan) sesuai dengan kesunyataan, karena batin telah berada dalam keseimbangan, tidak lagi terombang-ambing oleh emosi.

Sang Buddha menunjukkan dan mengajarkan ilmu kehidupan ini agar manusia mempunyai pengetahuan yang benar tentang kehidupan yang maya ini. Suatu perbuatan luhur yang tiada bandingnya, membuat manusia yang mampu melakukannya bebas dari jeratan vattha samsara (lingkaran dukkha kehidupan). Tak ada satu ilmu pun di dunia ini yang mampu melampaui manfaat (hasil) dari ilmu yang diajarkan Sang Buddha. Semoga lebih banyak lagi orang-orang yang yakin pada ajaran luhur nan sejati dari Sang Buddha agar dunia menjadi lebih damai dan sejahtera. Mempelajari Buddhisme tidak harus menjadi beragama Buddha.

Pelaksanaan bojjhanga sesuai dengan uraian di atas dibagi dalam lima tahap :

  1. Tingkat persiapan (vitakka dan vicara).
  2. Tingkat samatha (pencapaian samadhi).
  3. Tingkat vipassana (penganalisaan dan perenungan).
  4. Tingkat sekha (batin yang teguh dalam saddha dhamma).
  5. Tingkat asekha (pencapaian tertinggi, batin yang telah terbebas tidak lagi terjerat oleh keterikatan).

Di dalam hubungan antara unsur (Dhamma) yang saling mendukung ini, yang amat penting sebagai ‘penyebab’ adalah dhammavicaya. Seseorang sama sekali tak boleh melalaikan dhammavicaya ini untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Upekkha (keseimbangan batin) adalah salah satu hasil dari dhammavicaya. Upekkha adalah unsur yang penting sebagai sarana / penyebab dari nanadassana.

Tingkat persiapan dan tingkat samatha merupakan unsur samadhi di dalam bojjhanga. Batin yang mencapai samadhi menandakan bahwa batin telah mempunyai kekuatan yang memadai. Karenanya, samadhi tidak pula boleh diabaikan. Samadhi merupakan dasar kekuatan utama bagi pelaksanaan selanjutnya.

Upacara samadhi : kekuatan batin yang mampu menangkap / mengikat obyek luar terutama bentuk-bentuk nyata (rupa).

Appana samadhi : kekuatan batin yang mampu menangkap dan menguasai obyek dari luar maupun dalam dan tidak lagi terpengaruh oleh keadaan luar.

Seseorang yang mampu melaksanakan latihan tingkat persiapan dengan baik berarti ia berada di dalam upacara samadhi. Appana samadhi menandakan bahwa seseorang telah menyelesaikan tingkat samatha dengan baik. Keduanya sebagai sarana/penyebab bagi pelaksanaan vipassana bhavana.

Seseorang yang baru mampu mencapai upacara samadhi, hanya mampu melangkah pada tingkat awal pelaksanaan bojjhanga. Keadaan batin masih labil karena kurangnya unsur upekkha. Ia harus menyempurnakan keseimbangan batin (upekkha) yang ditandai dengan berhasilnya batin mencapai appana samadhi (jhana).

Tingkat vipassana merupakan tingkat di mana muncul suatu pengetahuan di dalam batin yang disebut nanadassana, sebagai suatu sarana dalam hal penganalisaan sebab dan akibat sesuai dengan kesunyataan. Pengetahuan (nanadassana) ini membuat batin mampu mengetahui penyebab-penyebab dukkha. Dan akan mampu pula memadamkan penyebab dukkha setahap demi setahap.

Tingkat sekha merupakan tingkat dimana seseorang mendapat hasil dari latihan yang dikerjakan. Mampu melihat / mengetahui pangkal dan ujung dari kemunculan dan kepadaman lingkaran kehidupan yang disebut paticcasamuppada. Tidak lagi ragu tentang kehidupan karena telah mengetahuinya dengan benar.

Praktisi-praktisi yang telah mencapai tingkat ini dibagi dalam tiga tingkatan.

  1. Sotapanna : yang telah berhasil masuk ke dalam arus nibbana dengan memutus tiga jenis belenggu pertama.
  2. Sakadagami : telah berhasil memutus tiga jenis belenggu pertama dan melemahkan dua jenis belenggu yang lain.
  3. Anagami : telah berhasil memutus lima jenis belenggu.

Mereka disebut sekha karena mereka masih harus belajar dan berlatih untuk mencapai tingkat abhipanna yang merupakan tingkat tertinggi. Tingkat terakhir (tertinggi) adalah asekha, dimana seseorang tak perlu lagi belajar dan berlatih. Asekha berarti tak perlu lagi belajar karena telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Asekha puggala berarti seorang yang telah lulus dalam menuntut ilmu tertinggi yang diajarkan Sang Buddha. Ia telah berhasil memutus sepuluh samyojana.

Dalam melaksanakan bojjhanga, yang perlu diperhatikan pengertian terhadap keadaan batin. Dengan pengertian ini seseorang bisa mencari dan menerapkan cara-cara yang sesuai dengan kondisi batin guna mendapat kemajuan dan keberhasilan.

Bila batin dalam keadaan kering, layu dan tak bersemangat, seseorang harus melaksanakan tiga unsur awal dari bojjhanga yaitu: dhammavicaya, viriya dan piti. Usahakan mengadakan perenungan Dhamma terus menerus sehingga unsur viriya dan piti muncul secara bertahap. Ketiganya bisa membuat batin segar dan bugar kembali, semangat pun muncul, siap melaksanakan tugas selanjutnya.

Sebaliknya, bila batin terlalu bugar dan bersemangat (sehingga menyebabkan kegelisahan), seseorang haruslah banyak melaksanakan tiga unsur lainnya untuk menetralisirnya, yaitu passadhi, samadhi dan upekkha. Dengan begitu badan jasmani dan batin menjadi hening, tidak lagi gelisah. Siap melanjutkan tugas selanjutnya. Batin yang terlalu kering dan tidak bugar merupakan unsur kemalasan dan keengganan untuk melakukan sesuatu. Sulit untuk melaksanakan konsentrasi dan penganalisaan. Batin yang terlalu bugar dan bersemangat merupakan unsur kegelisahan dan kekacauan. Juga sulit melakukan konsentrasi dan penganalisaan.

Jadi yang diperlukan adalah keadaan batin yang sedang-sedang. Tidak malas, tidak pula terlalu bersemangat. Seseorang harus berusaha membuat batin tidak terlalu kering dan tidak pula terlalu bersemangat. Keberhasilan dalam usaha ini juga menimbulkan kebahagiaan tersendiri di dalam batin. <bersambung> [oleh: Hananto]

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: