Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Batin Adalah Sesuatu yang Aneh dan Menakjubkan

Posted by chanyan pada 2010/05/14

ajahn maha boa jadul

Wat Pah Ban Tad, Udonthani, Thailand, dibangun tahun 1956. Gambar menunjukkan kuti pertama acharn Maha Bua yang beratap ilalang dan berdinding bambu.

Ceramah dari Acariya Phra Maha Bua Nanasampanno, 8 Mei 1962, di Wat Bovoranives Vihara, Bangkok.
Diterjemahkan dari bahasa Thai dan dituturkan oleh: Hananto.

Pada awal melaksanakan latihan, seseorang tentu menemui kesulitan. Hal ini merupakan suatu kewajaran yang dialami umat awam maupun seorang pertapa [bhikkhu] yang benar-benar mempunyai semangat yang tinggi. Mereka menemui kesulitan dan hambatan yang kadang-kadang bisa membuat semangat menjadi kendor. Bisa pula membuat pikiran menjadi ragu, mampukah diri ini terbebas dari belitan kilesa yang setiap saat mengelilingi diri. Padahal, sebenarnya perasaan itu justru menjadi musuh yang tak diharapkan.

Kadang, seorang bhikkhu dhutanga tinggal jauh di dalam hutan yang berjarak enam atau tujuh kilometer dari pedesaan. Bangun pagi, pergi pindapata. Begitu kembali ke kuti lagi, matahari telah tinggi. Kesempatan itulah biasanya dipergunakan untuk memperhatikan dan mengawasi gerak pikiran. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Secara alamiah, pikiran selalu bergerak setiap saat. Bermacam-macam bentuk pikiran yang muncul. Karenanya, kita harus pandai-pandai mengamati dan mengawasinya sebagai usaha untuk meningkatkan sati [penyadaran]. Bila kita telah terbiasa dengan usaha ini, kekuatan sati akan mulai muncul dan semakin kuat dari saat ke saat.

luangtaPikiran amat sulit dikendalikan. Dialah yang justru suka mengendalikan kita. Bila kita membiarkannya sesuka hati, kita akan dibuat susah olehnya. Walaupun misalnya kita sedang berada di Vihara untuk berlatih, pikiran tetap sering sulit masuk dan berada di dalam ketenangan / keheningan. Namun, bisa pula, setelah dalam kesendirian dan tinggal di tempat yang menakutkan, ternyata pikiran dengan mudah bisa masuk ke dalam ketenangan. Di sana kita bisa tinggal tenang dengan penyadaran [sati] yang baik, dan kita bisa mengendalikan pikiran dengan baik. Tak ada perasaan kacau dan gelisah datang mengganggu. Yang ada hanyalah ketenangan dan keheningan yang menyejukkan.

Saat itu bisa kita gunakan untuk menganalisa dan mengurai phenomena Dhamma yang muncul dengan lancar, karena ketenangan samadhi yang muncul amat mendukung, siang dan malam.

Semakin kuat ketenangan samadhi dicapai, semakin kokoh pula batin kita.

teachingKita bisa merasa bahwa ketenangan batin bukanlah hanya satu lapis, tapi ada beberapa lapis. Dalam lapis pertama, ketenangan belum terasa begitu halus. Masuk ke dalam lapis kedua, terasa semakin halus. Mencapai lapis ketiga, kita tidak lagi merasakan apa-apa. Tidak merasakan adanya badan jasmani. Yang terasa hanya ketenangan dan keheningan serta kebahagiaan yang bersifat alami, penyadaran yang tinggi serta pengetahuan.

Pada saat batin telah menyatu begitu, tak bisa dikatakan dengan tepat, apakah sati [penyadaran] yang mengendalikan pikiran. Sati dan pengetahuan [rasa tahu] telah menjadi satu [manunggal]. Tak lagi jelas siapa mengendalikan siapa. Yang ada hanya ‘rasa tahu’! Badan jasmani tentu masih ada, namun keberadaannya tak lagi kita rasakan. Bila keberadaan badan jasmani tak lagi terasa, maka vedana pun tak lagi tersisa [muncul]. Tak ada sesuatu pun tersisa. Begitulah keadaan batin yang telah benar-benar hening. Kita bisa berlama-lama berada di dalam keadaan ini. Kadang-kadang tiga atau empat jam [bahkan lebih] batin tetap berada dalam keheningan.

Bila kita bandingkan keadaan batin sebelum dan selama berada di dalam keheningan, kita bisa tahu bahwa batin merupakan sesuatu yang amat aneh dan menakjubkan. Dukkha dan bahaya dari lingkaran kehidupan [vatta samsara] ini terasa semakin nyata. Pengembangan batin untuk menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, semakin terasa manfaatnya, membuat kita semakin bersemangat.

Di saat batin telah keluar dari ketenangan / keheningan, bila keadaan batin layak bagi perenungan, saat itulah sebagai saat yang baik untuk menganalisa dan mencari tahu tentang kebenaran alamiah dari badan jasmani. Seluruh bagian dari anggota badan jasmani haruslah kita analisa hingga tak ada lagi keterikatan [upadana] yang membebani – tahap demi tahap. Bila keterikatan ini berhasil kita cabut, keadaan selanjutnya merupakan keadaan yang hampa dan hening. Kalaupun masih ada sesuatu terjadi [muncul], kita hanya merasakan sebagai kemunculan sesuatu yang segera lenyap kembali – bagaikan kilatan petir di langit yang cerah. Hanya sekedar muncul dan segera lenyap kembali.

Keadaan ini merupakan kehampaan / keheningan batin yang alami. Merupakan kehampaan / keheningan badan jasmani pula. Namun, karena sifat badan jasmani yang kasar, penampakannya bisa muncul di dalam batin. Dengan kekuatan panna [kebijaksanaan] yang cukup, penampakan ini pun segera lenyap pula, tak tersisa. Walaupun penampakan itu sebagai gunung, rumah, ataupun pohon, tentu akan segara padam kembali. Yang tertinggal adalah kehampaan / keheningan alami dari batin.

Dengan kekuatan dan kepiawaian dari panna, kita mampu mengendalikan penampakan yang muncul, misalnya badan jasmani. Kita bisa membuat penampakan badan jasmani bertahan atau memisah-misahkannya, bisa pula membuatnya kecil atau pun besar. Namun, dengan kekuatan panna pula semuanya akan padam dengan segera – semuanya akan berubah menjadi akasa dhatu. Yang tertinggal adalah keheningan batin – yang bila kebijaksanaan kita belum memadai – bisa menyebabkan keterikatan pula.

Walau kehampaan / keheningan dan batin menjadi satu [manunggal], tapi keduanya adalah berbeda. Saat batin berada dalam keheningan yang dalam, vedana, sanna, sankhara, dan vinnana terlihat jelas. Sedangkan jasmani tidak lagi mengganggu [tidak muncul]. Saat itulah kita harus menganalisa dan merenungkan sesuai dengan hukum tilakkhana [anicca, dukkha, anatta]. Biasanya, perenungan terhadap vedana, sanna, sankhara, dan vinnana ini merupakan suatu hal yang amat menarik, membuat kita segera mengerti dan jelas akan sifat alamiahnya.

Penyelidikan dan pembuktian yang tekun dan terus menerus terhadap gerak batin, membuat kita tahu saat muncul, berlangsung lalu padamnya gerak pikiran tersebut. Kapan pun dan di mana pun kita berada, Dhamma dan batin akan terus berhubungan. Hubungan itu selalu mengarah pada pengetahuan tentang tilakkhana terhadap sesuatu yang berada di dalam diri ataupun di luar diri. Begitupun, tentang vedana, sanna, sankhara dan vinnana yang memang mutlak merupakan unsur bagian dalam.

Bila semua itu telah terlewati, tinggal masalah batin dengan batin yang juga merupakan masalah keterikatan [upadana]. Dengan sati-panna yang kuat dan bisa bekerja secara otomatis, segalanya akan segera terselesaikan dengan baik. Dikatakan sebagai panna otomatis, karena ia telah mau bekerja dengan sendirinya tanpa harus dipaksa lagi. Diibaratkan ketika kita baru belajar menulis, misalnya guru menyuruh menulis kata ‘anda’. Kita harus mengingat-ingat bagaimana bentuk huruf-hurufnya, lalu bagaimana urutannya supaya bisa membentuk kata ‘anda’. Tapi, bila kita telah terbiasa dan pandai menulis, tanpa harus banyak berpikir dan mengingat, kita bisa dengan cepat menulis apa yang kita mau.

Begitulah, pada awalnya, panna pun mengalami hal yang serupa. Harus dipaksa, dibimbing dan diarahkan dengan benar. Tanpa dipaksa, dibimbing dan diarahkan dengan benar oleh guru yang baik, proses otomatis itu tak akan bisa dicapai.

Badan jasmani ataupun sabhava dhamma lain yang muncul, bisa diibaratkan sebagai kertas tulis. Sanna [ingatan], kita ibaratkan sebagai garis yang terdapat di kertas tersebut. Sedangkan panna [kebijaksanaan] kita ibaratkan sebagai seorang yang sedang menulis. Agar mendapatkan hasil tulisan yang baik dan rapi, penulis haruslah menulis mengikuti garis lurus yang ada pada kertas tersebut.

Bila panna telah benar-benar ahli dan bekerja secara otomatis dalam segala posisi [berdiri, duduk, berjalan maupun berbaring], maka saat kita berada pada posisi apa pun, telah merupakan suatu usaha yang penuh arti dan akan segera nampak hasilnya. Sati-panna semacam ini, merupakan sesuatu yang sanggup melindungi diri. Dan, ‘pengetahuan’ pun akan segera muncul, bagaikan cahaya yang muncul dari api. Hal ini disebabkan, perenungan terhadap phenomena [sabhava dhamma] yang muncul, misalnya tubuh kita sendiri yang pada dasarnya tak terlepas dari hukum tilakkhana, telah merupakan magga [jalan] yang benar. Panna bekerja dengan penuh kekuatan, menganalisa badan jasmani hingga mampu melepas keterikatan terhadap badan jasmani, juga terhadap vedana, sanna, sankhara, dan vinnana.

Pada awalnya, kita menyangka bahwa baik dan buruknya sesuatu berada di tempat lain, yaitu pada sesuatu tersebut; bukan di dalam pikiran kita. Baik dan buruk terletak pada rupa, suara dan lain-lain. Kita memuji dan mencela pada sesuatu yang kita lihat. Padahal itu semua tidaklah benar. Itu semua dikarenakan panna kita masih tumpul, belum mengetahui dengan sebenarnya. Membuat kita terikat pada semua yang kita lihat dan kita rasa. Yang benar adalah, rupa, suara dan lain-lain hanyalah merupakan suatu phenomena [sabhava dhamma] yang menjadi sebab munculnya berbagai perasaan di dalam pikiran, yaitu suka, tidak suka dan lain-lain.

Di dalam merenungkan segala macam sabhava Dhamma, sebelum mampu melepaskan keterikatan padanya, misalnya terhadap badan jasmani, kita harus mampu mencapai tahap mengetahui kebenaran [kesunyataan] dari badan jasmani tersebut, hingga tidak ada lagi perasaan suka maupun tidak suka.

Jadi yang penting adalah ‘pengetahuan tentang kesunyataan’, yang menjadi dasar dari pelepasan keterikatan terhadap panca khandha [nama-rupa].

wallpaperPenolakan kebenaran sebagai bukan kebenaran adalah kilesa, tanha, atau avijja. Karenanya, kita harus melakukan penganalisaan dengan benar. Bila belum tahu dengan sebenarnya, itu namanya ‘pengetahuan’ yang masih di bawah kekuasaan avijja. Hal ini bisa diketahui pada saat batin memasuki tahap hampa / hening, pengetahuan ini akan muncul sebagai pengetahuan yang bersifat aneh dan menakjubkan. Karena sifatnya yang aneh dan menakjubkan ini, bisa membuat kita menyangka bahwa kita telah mencapai nibbana. Padahal, sebenarnya, keheningan dan pengetahuan serta perasaan yang muncul adalah suatu kondisi dari penganalisaan yang bekerja secara pulang balik dengan terus menerus, sehingga tahu bahaya dari pengetahuan yang belum benar. ‘Pengetahuan yang belum benar’ ini sifatnya sama dengan sabhava dhamma lainnya yang bisa menimbulkan keterikatan – kasar, menengah, maupun halus.

Bila kita telah mempunyai ‘pengetahuan yang benar’, maka kesemuanya bisa benar-benar dilepaskan. Dalam proses pelepasan ini, tidaklah sekedar melepas begitu saja, seperti yang kita duga. Tapi, ada suatu kondisi yang belum pernah kita rasa yang tak bisa diceritakan dengan kata-kata. Proses itu adalah proses di mana batin melepas diri [dari konsep atta], yang belum pernah kita alami sebelumnya. Perasaan ini sama sekali tak sama dengan saat batin sedang manunggal dan hening. Proses ini adalah proses batin sedang melepas bhava [kondisi kehidupan], memutus jati [kelahiran] dan memutus sammuti [keadaan maya]. Merupakan suatu hal yang benar-benar menakjubkan, tak ada bandingannya.

Itulah proses batin yang sedang membasmi kesesatan [micchaditthi]. Membuat kita sadar akan bahaya yang selalu mengancam di dalam kehidupan. Tahu akan bahaya dari patipada [cara / jalan] yang pernah kita lakukan, yang kadang benar, kadang salah. Kini kita tahu, bagaimana patipada yang benar hingga mencapai svakkhata dhamma [dhamma yang sempurna] dan niyyanika dhamma [dhamma yang bermanfaat] sejati.

Pada saat batin sedang menyelesaikan pekerjaannya, serasa tak ada sesuatu yang lain yang mengganggu dan menghambat, selain pikiran itu sendiri -yang menimbulkan persoalan dan membakar diri sendiri.

Yathabhutam nanadassanam, tahu dan mengerti sesuai dengan kesunyataan segala sabhava dhamma, membuat kita tidak lagi mencela atau memuji semua itu, termasuk tidak mencela dan memuji diri sendiri. Sammuti di dalam maupun di luar diri sudah tidak ada lagi. Batin yang telah mencapai tingkat ini disebut visuddhi citta, terbebas dari sammuti. Vimutti hanyalah sekedar nama, seperti nama-nama benda lainnya -tak kelihatan begitu penting. Namun, perlu diberi nama, sebagai nama sebuah tujuan yang layak dicapai. Bila telah mencapainya, tak ada persoalan dengan nama.

Yang penting adalah perasaan bahwa diri ini bodoh, pandai, suci, kotor dan lain-lain telah padam. Apa pun pemunculan yang berhubungan dengan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran hanyalah sekedar pemunculan. Batin sekedar tahu, tak menimbulkan beban dan kekhawatiran lagi. Bagaikan kesembuhan dari suatu perawatan luka yang membutuhkan obat setiap saat, hingga lukanya tertutup dengan baik dan sembuh. Dan akhirnya tidak memerlukan perawatan dan obat lagi.

***

Acharn Man BhuridattoDi awal munculnya Buddha Sasana di dunia ini, semua bhikkhu termasuk Sang Buddha sendiri, menjalani kehidupan sebagai bhikkhu dhutanga dan arannavasi. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, bertambahnya jumlah bhikkhu serta beraneka ragam kecenderungannya, Sang Buddha mengijinkan kehidupan kebhikkhuan selain dhutanga dan arannavasi [kehidupan bhikkhu hutan], yaitu kehidupan kebhikkhuan gamavasi [bhikkhu kota].

Acharn Man Bhuridatto adalah seorang pembangkit kembali kehidupan kebhikkhuan dhutanga/arannavasi di Thailand yang amat terkenal. Selama hidupnya, beliau tinggal di vihara-vihara hutan bahkan di tengah hutan lebat yang cukup jauh jaraknya dari pedesaan. Beliau tidak mempunyai tempat tinggal tetap, apalagi membangun atau mempunyai suatu vihara sendiri. Baru sepuluh tahun menjelang kematiannya, karena usia tua, beliau tinggal di vihara Suddhavasa, propinsi Sakun Nakon, Thailand timur laut, suatu vihara yang diketuai oleh muridnya sendiri.

Acharn Man menerapkan sistem yang keras dan semangat tinggi dalam menjalani kebhikkhuannya. Begitu pun terhadap murid-muridnya. Namun, beliau tidak menerapkan teknik tersendiri yang diharuskan pada murid-muridnya. Beliau benar-benar menerapkan cara-cara dan ajaran Sang Buddha. Beliau amat memperhatikan dan mengerti karakter murid-muridnya.

Acharn On Nanasiri, dianjurkan oleh beliau memakai obyek asubha karena Acharn On mempunyai kecenderungan kamaraga. Acharn Tet Desaransi dan Acharn Li Dhammadharo menggunakan anapanasati. Acharn Chob, Acharn Wen Succino dan Acharn Maha Bua menggunakan ‘Buddho’ [Buddhanussati].

Beliau tidak pernah menciptakan atau memakai ‘satu teknik bhavana’ yang harus dipakai oleh semua murid-muridnya. Murid-muridnya memakai teknik bhavana sesuai dengan kecenderungan masing-masing.

Jadi, amatlah salah, bila ada sementara orang yang memakai istilah ‘Teknik Meditasi Acharn Man’. Istilah itu sebaiknya diganti dengan ‘Teknik Meditasi Buddhis’! Orang yang mengatakan itu, pastilah orang yang tak mengerti tentang bagaimana Acharn Man mempraktekkan kebhikkhuannya. Karena, Acharn Man menggunakan cara-cara yang Sang Buddha ajarkan, begitu pun terhadap murid-muridnya.

Di saat beliau telah tinggal di vihara Suddhavasa, Acharn Maha Bua, seorang bhikkhu gamavasi terpelajar yang terketuk batinnya untuk menjadi bhikkhu arannavasi, datang dan tinggal bersama beliau selama delapan tahun hingga beliau meninggal.

Acharn Maha Bua Nanasampanno dilahirkan pada tanggal 12 Oktober 1912 di desa Ban Tad, Udon Thani, Thailand timur laut. Beliau upasampada pada th.1932. Selama delapan tahun beliau berada di Bangkok untuk belajar, diantaranya di Wat Boromnivas. Pedidikan formalnya, lulus Sekolah Dasar kelas tiga, saat itu tidak ada yang lebih tinggi dari kelas tiga. Lulus pendidikan Dhamma tiga tahun, dan pendidikan bahasa Pali hingga kelas tiga [ada sembilan tingkat]. Karenanya, berhak memakai sebutan ‘Maha’.

Kini, beliau berdiam di Wat Pah Ban Tad, propinsi Udon Thani, Thailand bagian timur laut.

Beliau adalah salah seorang murid angkatan menengah dari Acharn Man. Murid-murid Acharn Man angkatan tua kebanyakan telah meninggal dunia. Murid angkatan menengah pun telah banyak yang meninggal. Achariya Phra Maha Bua Nanasampanno yang juga dikenal dengan nama Acharn Maha Bua, adalah salah satu yang masih hidup saat ini. Selain itu ada pula yang lain, diantaranya, Acharn Chiak dan Acharn Gam Bong Tisso yang juga telah lanjut usia.

Vihara Wat Pah Ban Tad tempat beliau tinggal, merupakan vihara hutan yang sederhana di atas lahan hutan seluas kurang lebih 15 hektar, di desa Ban Tad kurang lebih 15 kilometer jaraknya dari kota Udon Thani. Wat pah Ban Tad termasuk vihara hutan yang tidak begitu luas, karena ada vihara hutan yang luasnya hingga ribuan hektar. Hutan seluas itu, biasanya adalah milik negara yang diserahkan [perawatannya] pada para bhikkhu hutan dan dimanfaatkan sebagai tempat patipatti Dhamma oleh bhikkhu-bhikkhu dhutanga. Dengan demikian, hutan tersebut akan benar-benar terawat karena tak satu orang pun berani menebang kayu atau merusak hutan. Mereka amat segan dan hormat pada pertapa-pertapa [bhikkhu] yang sedang menjalankan tugasnya dengan baik.

Pagar tembok setinggi dua meter mengelilingi Wat Pah Ban Tad yang terletak di tengah hamparan sawah penduduk yang amat luas pula.

Saat Wat Pah Ban Tad berdiri, kira-kira tahun 1956, di sekitarnya pun masih merupakan hutan lebat yang penuh dengan binatang, gajah, harimau, beruang, ular, maupun binatang jenis lain. Namun, bersamaan dengan berkembangnya penduduk, maka hutan lebat itu semakin lama semakin berkurang. Dan akhirnya, tinggallah Wat Pah Ban Tad sebagai vihara hutan hingga kini. Pohon-pohon besar serta binatang-binatang yang ada pun telah banyak yang punah. Tak terdapat lagi binatang-binatang besar seperti gajah, harimau, beruang. Yang ada hanyalah jenis ular berbisa maupun tidak, tupai berbagai jenis serta ayam hutan. Konon, belasan tahun yang lalu masih terlihat seekor ular king cobra sebesar pohon pinang, amat panjang, jinak, tidak seperti king cobra yang suka menyerang. Namun, telah lama pula menghilang entah kemana.

Di Wat Pah Ban Tad, tidak terdapat bangunan gedung. Semua kuti, termasuk kuti Acharn Maha Bua, dibuat dari kayu yang sederhana dan kebanyakan telah berumur tua. Banyak pula terdapat kuti yang memakai kain atau jubah bekas sebagai dinding. Di sana tidak terdapat aliran listrik. Para bhikkhu hanya memakai lilin sebagai penerangan. Begitupun tentang kebutuhan air. Setiap sore para bhikkhu memompa air untuk mengisi bak-bak penampungan air, termasuk kamar mandi dan kamar kecil. Untuk mengangkut air, mereka menggunakan kereta dorong sebagai layaknya seorang penjual air di Jakarta.

Setiap pagi dan sore para bhikkhu bersama-sama membagi tugas. Menyapu dan menggosok lantai Sala [yang juga merupakan bangunan kayu] dengan buah kepala yang dibelah [khusus untuk itu] hingga mengkilat, menyapu halaman Sala serta kuti masing-masing. Semua pekerjaan harus dikerjakan dengan cepat dan tepat. Hal ini, tentu saja membutuhkan semangat, keuletan dan kesabaran yang tinggi, yang ternyata amat berguna di dalam melakukan patipatti Dhamma. Namun, amatlah tidak menyenangkan bagi seorang pemalas dan cengeng.

Beliau tidak mengutamakan pembangunan phisik, namun mengutamakan pembangunan Dhamma di dalam batin. Hal yang tidak menyenangkan bagi seorang yang senang pada pembangunan sasana vathu [phisik] dan ketenaran duniawi.

Karenanya, cara yang beliau terapkan menimbulkan kontroversi di antara umat Buddha. Ada yang mengatakan cara itu baik, karena dianggap sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Mereka termasuk orang-orang yang ingin melestarikan dan melihat kemurnian ajaran Sang Buddha pada awal munculnya Buddha sasana. Mempraktekkan dhutanga dan arannavasi.

Ada pula yang mengatakan tidak baik, karena seolah-olah mengisolir diri dari duniawi. Terlalu kuno. Tidak mengikuti perkembangan jaman. Dan ternyata orang yang mencela ini ‘kebanyakan’ dari orang-orang yang senang pada pembangunan sasana vathu [fisik] dan ketenaran duniawi.

Namun, kini Wat Pah Ban Tad menjadi suatu vihara yang amat terkenal dan banyak dikunjungi umat Buddha yang ingin berdana mencari berkah kebajikan. Pencari-pencari berkah ini bukan saja berasal dari negara Thailand, tapi juga dari luar negeri, termasuk Indonesia.

Beliau tidak mencela kunjungan-kunjungan semacam ini, namun menyayangkan kamma [tindakan] yang tidak seimbang ini. Berkenaan dengan itu beliau pernah berkata:

“Kebanyakan umat Buddha hanya mau enaknya saja. Datang dari jauh, berdana, mengharap berkah, tapi tidak mau membersihkan batin dari kilesa. Ibarat seorang pegawai yang malas bekerja tapi mau gajinya.”

Beliau berkata tentang suatu kenyataan! Kebanyakan umat Buddha, bila mendengar bahwa ada bhikkhu yang baik, layak dianggap sebagai ladang yang subur, maka berbondong-bondonglah mereka ke sana. Ada yang ingin kaya, ada yang ingin sembuh dari penyakit, ada yang ingin jodoh dan lain sebagainya. Hanya itu! Sesudah berdana, yang pemabuk tetap sebagai pemabuk, yang penjudi tetap sebagai penjudi, yang penghasut tetap sebagai penghasut, yang pendendam tetap sebagai pendendam, yang pemarah tetap sebagai pemarah dan lain sebagainya. Padahal, seharusnya, selain berdana, sebagai seorang umat Buddha haruslah mempraktekkan patipatti Dhamma agar batin menjadi bersih. Batin tak akan menjadi bersih hanya karena berkah dari dana kebajikan.

Di dalam masa vassa, biasanya terdapat kurang lebih 45 orang bhikkhu yang tinggal di sana, sesuai dengan jumlah kuñi yang ada. Tapi, di luar masa vassa, jumlah bhikkhu yang tinggal akan membengkak hingga dua kali lipat. Hal ini disebabkan banyak bhikkhu yang ingin ‘menikmati’ belajar di vihara yang dianggap sebagai panutan kebhikkhuan dhutanga masa kini. Mereka rela tidur beramai-ramai di ruangan Sala yang tidak begitu luas.

Tentu saja pendatang-pendatang ini mempunyai maksud yang bermacam-macam. Ada yang memang ingin belajar, walau dalam waktu yang singkat. Ada pula yang hanya ingin dikenal dan terkenal, bahwa telah pernah ‘tinggal’ di sana, dan lain-lain. Jenis kedua ini sering menimbulkan masalah bagi Wat Pah Ban Tad, karena di luar, kadang-kadang mereka berbicara atau bercerita yang tidak benar tentang keadaan Wat Pah Ban Tad serta para bhikkhu yang tinggal lama di sana. Untuk mengenal sesuatu dengan baik, diperlukan waktu yang lama, tidak cukup dalam waktu yang singkat.

Acharn Maha Bua kini telah lanjut usia. Beliau tidak lagi mampu mengajar dan mengotrol secara langsung arus masuk dan keluarnya bhikkhu maupun umat di Wat Pah Ban Tad. Dan keadaannya pun kini tidak lagi ‘seseram’ dulu. Suasananya kelihatan begitu terang dan ceria dengan lapangan parkir yang amat luas.

Dhamma Sala dulu berkaki rendah dan kelihatan angker, para bhikkhu mengadakan kegiatan kebhikkhuan di atas Sala. Kini, Sala itu telah diangkat tinggi, dan para bhikkhu mengadakan kegiatannya di lantai bawah. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan karena meningkatnya jumlah pengunjung, baik bhikkhu maupun umat awam.

Hukum ketidakkekalan merayap dengan pasti. Tak lama lagi keberadaan Wat Pah Ban Tad, tentu tinggal sebagai monumen bagi generasi mendatang. Dan sebagai kenangan bagi orang-orang yang pernah ‘mengenyam’ pendidikan di Wat Pah Ban Tad. Karena, hasil dari pendidikan yang baik tidaklah layak untuk dilupakan. Sebagai bekal dan pedoman jalan hidup menuju kebaikan.

Namun, bila kita peka, Acharn Maha Bua di saat usia lanjutnya tetap ‘mengajar’ didukung ceramah-ceramahnya yang telah dibukukan menjadi beratus-ratus judul buku. Sejak tahun 1956 hingga kini, kecuali di saat sakit, setiap hari beliau ceramah untuk umat awam di atas Dhamma Sala. Ceramah khusus bagi para bhikkhu diadakan minimal dua minggu sekali. Namun, karena usia tua, ceramah khusus bagi para bhikkhu dihentikan kira-kira delapan tahun yang lalu. Karena, menurut beliau ceramah bagi bhikkhu memerlukan cara yang khusus.*

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, PANNA]

Iklan

Satu Tanggapan to “Batin Adalah Sesuatu yang Aneh dan Menakjubkan”

  1. lukas warsono said

    wuah…dr tulisan diatas bnyk bngt yg nambah pengetehuan saya..
    setahun yg lalu wkt hari katina saya mengujungi beliau dan sempat berdana..tp untuk riwayat nya saya baru tahu detainya sekarang..trims bro
    klo ada artikel2 yg mengenai ceramah atau buku2 ceramah lungta boleh bro contak2 saya trims..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: