Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Mahapadesa

Posted by chanyan pada 2010/05/15

Kalika

Makanan dan minuman (air) mutlak diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia (makhluk), tak terkecuali bangsa, agama atau kepercayaannya.

Di dalam masyarakat Buddhis terdapat 2 (dua) cara dalam menjalankan kehidupan, yang boleh dipilih oleh penganutnya. Cara-cara kehidupan ini pula yang membedakan mereka di dalam mendapatkan, memperlakukan serta mengkonsumsi makanan dan minuman.

Cara hidup pertama, sebagai upasaka-upasika biasa, boleh mengkonsumsi semua jenis makanan dan minuman (yang sesuai dengan sila) tanpa ada batasan waktu. Mereka boleh makan atau minum kapan saja mereka mau; pagi hari, siang hari, sore hari, ataupun malam hari. Mereka mendapatkan makanan (dan kebutuhan hidup lainnya) dengan bekerja yang sesuai dengan norma agama serta boleh membuat / mengerjakan makanannya sendiri.

Cara hidup yang kedua adalah cara hidup kepertapaan yang tidak sebebas cara hidup pertama. Pelaksana hidup kepertapaan ini adalah para bhikkhu, samanera dan upasaka-upasika delapan sila. Namun, kedisiplinan cara hidup para bhikkhu adalah lebih ketat daripada yang lain. Karenanya, akan diuraikan kedisiplinan para bhikkhu terlebih dahulu, kemudian akan diterangkan pula perbedaan-perbedaan dengan yang lain.

Cara seorang bhikkhu (dan samanera) dalam mendapatkan makanan / minuman amatlah berbeda dengan umat Buddha lainnya. Karena mereka tidak diperkenankan bekerja mencari nafkah, maka mereka ‘menggantungkan’ diri pada kedermawanan umat Buddha lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, dengan membawa pata, mereka berkeliling kota atau desa untuk pindapata, mengumpulkan dana makanan dari umat Buddha. Pindapata ini merupakan cara yang mulia (utama) yang dipuji dan dianjurkan oleh Sang Buddha. Ini merupakan suatu bentuk kerja sama yang mulia pula antara upasaka-upasika dan para bhikkhu dalam Buddha sasana. Upasaka-upasika mendapat kesempatan berbuat kebajikan dengan mendukung kehidupan para bhikkhu yang sedang melaksanakan hidup kepertapaannya. Mendukung seseorang yang sedang melaksanakan Dhamma dengan baik, merupakan kebajikan luhur dan mulia.

Namun, bagi orang-orang yang kurang mengerti tentang agama Buddha, sering muncul pendapat-pendapat yang bernada sumbang tentang pindapata ini. Mereka menganggap para bhikkhu itu meminta-minta (mengemis) dengan membawa mangkuk. Mereka merasa malu melihat orang-orang yang dihormatinya berkeliling kota atau desa untuk mengemis. Dan celakanya, ada pula bhikkhu yang juga merasa malu dikatakan mengemis. Karenanya, ia pun merasa keberatan untuk melakukan pindapata. Tanpa bersusah-susah pindapata pun, makanan akan datang dengan sendirinya ke vihara. Lebih-lebih di tempat-tempat yang umat Buddha-nya ‘belum’ begitu banyak. Pindapata merupakan pekerjaan yang membuang-buang waktu. Akhirnya, kebiasaan menunggu makanan di vihara ini menjadi suatu tradisi yang layak dipertahankan.

Sang Buddha memang mengijinkan para bhikkhu menerima undangan makan di rumah umat. Beliau pun sering menerima undangan semacam itu pada saat-saat tertentu. Namun, pada hari-hari biasa, Beliau tetap melakukan pindapata. Ketika ditegur oleh Raja Suddhodana karena dianggap meminta-minta, Beliau mengatakan, pindapata merupakan suatu tradisi mulia para Buddha dan siswa-siswa-Nya. Pindapata bukanlah meminta-minta atau mengemis. Karenanya, tidaklah tepat bila para pertapa itu melalaikan cara yang mulia dan mengutamakan cara yang tidak mulia.

Lalu, bagaimanakah cara memperlakukan dana makanan dari upasaka-upasika?

Seorang bhikkhu, hanya boleh mengkonsumsi (makan / minum) makanan / minuman yang telah diserahkan padanya oleh seorang upasaka / upasika atau samanera dengan layak dan sopan. Diterima secara langsung dengan tangan, bila yang menyerahkan adalah seorang laki-laki. Diterima dengan perantaraan kain atau sesuatu yang layak, bila yang menyerahkan adalah seorang perempuan. Hal ini pun diterangkan dengan jelas di dalam Tipitaka. Jadi, tidaklah cukup bila makanan tersebut hanya diserahkan dengan kata-kata. Bila seorang bhikkhu memakan / meminum makanan / minuman yang belum diserahkan atau diserahkan secara salah, maka ia telah melanggar vinaya pacittiya setiap kali ia menelan makanan tersebut.

Mahapadesa, mengatur tentang layak (kappiya) dan tidak layak (akappiya) bagi seorang bhikkhu dalam memperlakukan dan mengkonsumsi makanan dan minuman.

Makanan dan minuman bagi para bhikkhu dibagi menjadi 4 (empat) kelompok sesuai dengan jenis dan waktu untuk mengkonsumsinya. Hal ini diterangkan di dalam Vinaya Pitaka jilid 5, Mahavagga 93/105.

  1. Yava kalika : makanan dan minuman yang setelah diterima oleh seorang bhikkhu, hanya boleh dikonsumsi sebelum tengah hari. Adapun contoh makanan dan minuman jenis ini adalah: nasi, sayur-mayur serta lauk-pauknya, roti, buah-buahan, susu dan lain-lain yang sejenis itu.
  2. Yama kalika : merupakan air buah (juice) yang telah disaring (menggunakan kain) dengan baik, sehingga terbebas dari daging buahnya. Di dalam membuatnya dicampur dengan air dingin atau air masak yang telah didinginkan (suhu normal) dan tidak boleh melalui proses pemanasan dengan api (pemanasan dengan sinar matahari, diperbolehkan), lalu ditambah dengan gula dan garam agar cita rasanya lebih nikmat. Seorang bhikkhu tak diperkenankan menambah gula atau garam sendiri, kendati dirasanya kurang nikmat. Pembuatan air buah ini harus dikerjakan oleh upasaka / upasika atau samanera, karena seorang bhikkhu tak diperkenankan membuat makanan/minuman sendiri. Dalam bahasa Pali minuman ini disebut atthapana. Buah yang boleh dibuat atthapana ini adalah jenis buah yang ukuran alamiahnya (umumnya) tak lebih dari kepalan tangan orang dewasa. Contohnya adalah: mangga, jambu, jeruk (kecuali jeruk Bali), linci, kelengkeng, rambutan, tomat dan lain-lain. Air buah ini, bila telah diterima oleh seorang bhikkhu, hanya boleh disimpan dan dikonsumsi dalam waktu 24 (dua puluh empat) jam atau satu hari satu malam.
  3. Sattaha kalika : makanan dan minuman yang bila telah diterima oleh seorang bhikkhu, hanya boleh disimpan dan dikonsumsi dalam waktu 7 (tujuh) hari. Contohnya adalah: keju cair (jernih), keju kental, air tebu, gula, sirup, madu.
  4. Yava jivika : merupakan jenis obat-obatan. Obat-obat modern ataupun obat tradisional. Obat modern telah banyak kita ketahui, yaitu yang biasa dibeli di apotek. Sedangkan obat tradisional, contohnya adalah: semua jenis rempah-rempah, misalnya: cengkeh, lengkuas, kunyit, jahe, cabe, merica dan lain-lain. Juga kulit pohon obat, akar-akaran yang mengandung obat, daun-daun obat, garam, kopi dan teh. Berbeda dengan makanan / minuman yang lain, untuk jenis yava jivika ini, seorang bhikkhu diperbolehkan menyimpan dan membuatnya sendiri. Yava jivika ini, bila telah diterima oleh seorang bhikkhu, boleh disimpan dan dikonsumsi selamanya (seumur hidup).

Lalu, bagaimanakah bila makanan atau minuman itu dicampur atau tercampur satu sama lain? Bila hal itu terjadi, maka umur makanan atau minuman tersebut mengikuti jenis makanan atau minuman yang berumur lebih pendek. Misalnya:

1. Makanan atau minuman jenis yama kalika dicampur dengan jenis yava kalika, maka makanan atau minuman tersebut hanya bisa disimpan dan dikosumsi sebagai layaknya jenis yava kalika, yaitu sebelum tengah hari.

2. Makanan atau minuman jenis sattaha kalika dicampur dengan jenis yava kalika, maka makanan atau minuman tersebut hanya boleh disimpan dan dikonsumsi sebagai layaknya jenis yava kalika, yaitu sebelum tengah hari.

3. Jenis yava jivika dicampur dengan jenis yava kalika, maka jenis makanan atau minuman tersebut hanya boleh disimpan dan dikonsumsi sebagai layaknya jenis yava kalika, yaitu sebelum tengah hari.

4. Makanan atau minuman jenis sattaha kalika dicampur dengan jenis yama kalika, maka ia hanya boleh disimpan dan dikonsumsi sebagai layaknya jenis yama kalika, yaitu dalam waktu 24 jam (sehari semalam).

5. Jenis yava jivika dicampur dengan jenis yama kalika, maka ia hanya boleh disimpan dan dikonsumsi sebagai layaknya jenis yama kalika, yaitu dalam waktu 24 jam (sehari semalam).

6. Jenis yava jivika dicampur dengan sattaha kalika, maka ia hanya boleh disimpan dan dikonsumsi sebagai layaknya jenis sattaha kalika, yaitu dalam waktu 7 hari.

Bila seorang bhikkhu mengkonsumsi makanan / minuman di luar batas waktu yang telah ditentukan, maka ia telah melanggar vinaya pacittiya, setiap kali ia menelan makanan atau minuman tersebut. Bila ia menyimpan makanan atau minuman di luar batas yang telah ditentukan, maka ia telah melanggar vinaya nissaggiya pacittiya, suatu jenis pelanggaran yang untuk pembersihannya harus didahului dengan melepas kepemilikannya terhadap sesuatu yang menyebabkan terjadinya pelanggaran itu.

Bagi samanera, kalika ini diatur di dalam dasa sila; juga upasaka-upasika 8 (delapan) sila yang tidak seketat vinaya bhikkhu seperti yang telah diterangkan diatas. Seorang samanera atau upasaka-upasika 8 sila, boleh menyimpan makanan melebihi batas waktu bagi seorang bhikkhu. Tapi, mereka harus memperhatikan kalika campuran dalam mengkonsumsinya.

Kappiya dan akappiya

Makanan yang disajikan kepada bhikkhu haruslah dalam keadaan ‘layak makan’ (kappiya) sesuai dengan yang ditentukan di dalam vinaya. Bila makanan itu dalam keadaan ‘belum layak makan’ (akappiya), seorang bhikkhu harus meminta pada seorang umat (lebih baik seorang upasaka) atau seorang samanera –sebagai kappiya karaka– untuk membuat makanan tersebut menjadi ‘layak makan’ (kappiya) bagi seorang bhikkhu.

Makanan yang mungkin belum / tidak layak makan (akappiya), ialah makanan mentah yang bila ditanam akan tumbuh, karena berbiji atau bisa tumbuh akar. Makanan tersebut contohnya:

  • Jenis buah-buahan : semangka, jeruk, jambu, rambutan, anggur dll. (walaupun disajikan dalam keadaan telah dikupas).
  • Jenis sayur-sayuran : kangkung mentah, taoge mentah dan sayuran lain yang bisa tumbuh akar.
  • Jenis obat-obatan : lengkuas, kunyit, jahe, temu lawak, kencur, cabe, bawang putih, merica dll.

Cara meminta agar umat atau samanera membuat makanan yang belum layak makan (akappiya) menjadi layak makan (kappiya) yaitu, seorang bhikkhu mengatakan:

Kappiyam karohi,” yang artinya : ”Buatlah (makanan) ini menjadi kappiya.”

Umat atau samanera, sambil memegang serta mengupas / memotes sedikit [buah-buahan] atau memetik / mematahkan [sayuran atau jenis obat-obatan], dan bersamaan dengan itu pula berkata:

Kappiyam, Bhante,” yang artinya : ”[Saya] telah membuatnya menjadi kappiya, Bhante.” Dalam melakukan kappiya, umat atau samanera boleh menggunakan tangan [kuku], boleh pula dengan menggunakan pisau.

Bila terdapat banyak makanan yang harus di kappiya, pada saat mengerjakannya, makanan yang di kappiya itu harus berhubungan langsung [saling melekat] satu sama lain, agar tak perlu melakukan kappiya satu persatu terhadap makanan-makanan tersebut.

Dengan perlakuan demikian, berarti makanan tersebut telah layak makan [kappiya], sehingga bhikkhu bisa memakannya dengan bebas, walaupun dengan sengaja atau tidak, telah menggigit pecah biji buah-buahan atau memakan sayur mentah [lalapan]. Bila makanan belum di kappiya, bila seorang bhikkhu menggigit pecah, makan lalapan atau umbi obat-abatan, ia telah melanggar vinaya pacittiya, karena dianggap telah membunuh tumbuh-tumbuhan. Bila ia tak meminta untuk membuat makanan menjadi kappiya, ia telah melanggar vinaya dukkata, karena kelengahannya. Dan, lalu bila ia menggigit pecah biji buah-buahan yang ia makan, maka ia telah melanggar vinaya dukkata dan pacittiya.

Kappiya dan akappiya ini tidak berlaku bagi samanera dan upasaka-upasika 8 sila.

Menyimpan, memasak makanan dan minuman

Telah sedikit disinggung bahwa seorang bhikkhu tidak diperbolehkan menyimpan dan memasak / mengerjakan makanan sendiri. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah makanan / minuman yang tergolong dalam kelompok yava kalika dan yama kalika. Sedangkan kelompok sattaha kalika dan yava jivika dimasukkan ke dalam obat-abatan yang boleh disimpan dan dikonsumsi sesuai dengan kalika nya.

Bila seorang bhikkhu menyimpan makanan [yava kalika dan yama kalika] di dalam kuti nya disebut antovuttha, maka ia telah melanggar vinaya dukkata. Seorang bhikkhu memasak makanan sendiri di dalan kuti disebut antopakka, ia telah melanggar vinaya dukkata. Seorang bhikkhu memasak makanan sendiri [walaupun di luar kuti] disebut samapakka, ia telah melanggar vinaya dukkata.

Setelah mengetahui tata cara para bhikkhu memperlakukan dan mengkonsumsi makanan dan minuman, para upasaka-upasika pun bisa berdana dengan benar pula.

Upasaka-upasika seyogyanya mendanakan makanan / minuman sesuai dengan jenis dan waktu [kalika] mengkonsumsinya [bagi bhikkhu]. Bila saatnya adalah waktu makan [kala] seyogyanya yang didanakan adalah jenis yava kalika. Bila sore hari adalah jenis yama kalika. Atau jenis sattaha kalika secukupnya, sesuai dengan batas waktu yang diijinkan. Jangan diserahkan dalam jumlah yang berlebihan; akan menyulitkan bhikkhu dalam menyimpannya. Sedangkan jenis yava jivika, boleh diberikan sewaktu-waktu.

Bila upasaka-upasika akan mendanakan makanan / minuman di luar waktu makan [vikala], misalnya untuk persediaan vihara, seyogyanya diserahkan kepada dayaka atau samanera agar merekalah yang mengatur sesuai dengan jenis dan waktu yang tepat.

Pengetahuan tersebut di atas tidak hanya wajib diketahui oleh para bhikkhu, namun perlu pula diketahui oleh para upasaka-upasika agar bisa mendukung praktek kepertapaan para bhikkhu dalam melaksanakan vinaya dengan benar dalam memperlakukan makanan.

Selanjutnya,  masih banyak pengetahuan tentang vinaya kebhikkhuan yang patut diketahui dan dimengerti oleh umat Buddha guna menjalin kerja sama yang baik, yang akan diuraikan pada kesempatan mendatang. Pengertian ini pula yang membuat umat Buddha bisa bertindak dengan bijaksana untuk mengembangkan panna selanjutnya. Berbuat kebajikan pada para bhikkhu, tidak hanya ‘asal berbuat’ yang cenderung dikendalikan oleh moha [kebodohan] dan fanatisme. Tahu mana yang benar dan tahu mana yang tidak benar. Tahu mana yang patut dan tahu mana yang tidak patut. Saddha yang dikendalikan oleh kebijaksanaan [panna] akan muncul dan berkembang, karena menyaksikan dan mengerti bahwa para pertapa melaksanakan vinaya dengan benar dan indah. Saddha berkembang terus, karena yakin bahwa pertapa tempat menanam kebajikan yang mereka hormati benar-benar sebagai:

Supatipanno puggala,

(orang yang berlaku dan bertindak baik)

Ujupatipanno puggala,

(orang yang berlaku dan bertindak lurus / jujur)

Nayapatipanno puggala,

(orang yang berlaku dan bertindak benar)

Samicipatipanno puggala,

(orang yang berlaku dan bertindak patut / layak)

Ahuneyyo pahuneyyo dakkhineyyo anjalikaraniyo puggala.

(orang yang patut menerima pemberian, tempat bernaung, berdana dan penghormatan). *[Hananto]

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, SILA]

Iklan

Satu Tanggapan to “Mahapadesa”

  1. Yang-Kung said

    Dengan semangat persaudaraan/kebersamaan manusia mampu menghadapi tantangan hidup dan meningkatkan mutu hidup.Dengan bermati raga kita bisa saling “asih-asah-asuh” dengan hidup penuh perhatian,pengertian dan pengampunan.

    salam rahayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: