Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Satu Kemenangan

Posted by chanyan pada 2010/05/15

“Mengapa mereka tak datang? Aku khan sudah bilang sama mereka bahwa kakekku meninggal dan aku minta mereka untuk membaca paritta saat kremasi, tiga hari yang lalu. Nyatanya……?!”, pikirku kecewa. Sangat kecewa, lebih-lebih karena alasan mereka tak bisa kuterima, saat kutemui keesokan harinya.

Lupa? Bah! Bisa-bisanya mereka lupa pada momen penting bagiku. Kematian kakekku, Kakek Acun, yang baik dan suka memberi dana, baik pada vihara maupun pada anak-anak remaja saat kerja bakti.

Kakek Acun yang senang bercanda, bersenda gurau, tertawa bersamaku dan teman-teman vihara-ku. Kakek Acun yang suka menghibur saat gagasan kaum muda ditolak mentah-mentah oleh kaum tua yang berkuasa di vihara -merasa memiliki vihara sebagai hak pribadi, bukan hak umum- membuat kaum muda patah semangat.

Apakah perbuatan-perbuatan baiknya itu dapat diabaikan dengan alasan lupa? Bah! Dan lagi, aku juga salah satu dari mereka. Salah satu aktivis vihara yang aktif dan cukup mampu. Aku dan mereka saling mengenal dekat. Tapi…? Kuhembuskan napasku pelan-pelan.

Kuputar kembali rekaman memoriku tentang kegiatan-kegiatan di vihara. Saat kubawakan seminar, sukses sebagai ketua bidang, saat kubina paduan suara dengan telaten, saat aku menjadi MC di setiap pemberkatan pernikahan, saat kubacakan paritta di tempat kematian bersama teman-teman vihara. Nyatanya, semua itu tiada arti.

Kuhapus tetes air mata yang mengalir di pipiku. Sakit hati ini! Kematian Kakek Acun yang selalu peduli pada kegiatan vihara, diantar doa oleh orang beragama lain. Teman-teman bibiku yang beragama lain, yang datang untuk ikut berduka-cita, mengambil inisiatif untuk mengiring doa karena teman-temanku belum juga datang sampai saat acara yang ditetapkan tiba. Dan mereka memang tak datang!

Kugigit bibir bawahku. Masih dapat kurasakan betapa malunya aku saat itu. Malu pada kakek Acun, malu pada mama, papa, adik, dan saudara-saudaraku yang lain agama. Apakah aku harus berganti agama?? Tampaknya, rasa kekeluargaan umat agama lain lebih tinggi dari umat Buddha. Kuingat, beberapa senior vihara-ku yang berganti agama karena hal yang sama.

Apakah demikian mudah aku berubah haluan? Tidakkah terlalu cepat aku memutuskan dan menyimpulkan sesuatu? Adakah yang salah padaku? Kukejapkan mataku yang lelah karena kurang tidur memikirkan masalah yang kuanggap sangat memalukan, mengecewakan dan menyakitkan ini.

Apakah cukup alasanku untuk pindah agama? Aku memang terlahir dalam keluarga ‘Buddhis Tradisi’. Sejak aku mengenal Agama Buddha, aku rajin mengikuti kebaktian minggu dan membaca buku-buku Dhamma. Akhirnya, aku dapat memperkenalkannya sedikit demi sedikit pada keluargaku yang masih ‘Buddhis Tradisi’ -yang masih tersisa. Mereka banyak yang telah berpindah haluan tanpa terlebih dahulu mempelajari Agama Buddha yang sebenarnya. Selama ini, aku merasa lebih berbahagia daripada sebelum mengenal Agama Buddha. Merasa lebih percaya diri, karena kegiatan-kegiatanku di vihara yang mengharuskanku mempunyai kepercayaan diri yang kuat. Hidupku menjadi lebih tenteram dan sabar berkat ajaran Sang Buddha, terutama tentang Hukum Kamma.

Hukum Kamma! Apakah ini merupakan sebagian buah kamma burukku dan keluargaku? Pantaskah kukorbankan semua kebaikan yang telah kudapat dari Buddha Sasana hanya karena mereka lupa dan mengabaikan diriku? Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Serasa terkuak dalam benakku.

Semua makhluk,
Memiliki kamma-nya sendiri,
Mewarisi kamma-nya sendiri,
Lahir dari kamma-nya sendiri,
Berhubungan dengan kamma-nya sendiri,
Apapun kamma yang diperbuatnya,
Baik atau buruk,
Itulah yang akan diwarisinya.

Aku teringat cerita seorang bhikkhu tentang seorang upasaka di Jawa yang sering berdana makanan. Saat kematiannya, bertepatan dengan masa kathina, sehingga pembacaan paritta di rumahnya dilakukan oleh empat orang bhikkhu. Begitupun saat kremasinya, pada keesokan harinya.

Sang Buddha mengatakan, tidaklah pantas bagi seseorang yang mengerti Dhamma, menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Bila orang lain menghina, mencela atau menyakiti kita, maka sedihlah yang didapat. Dan, bila orang lain memuji, menyayang, dan memperhatikan kita barulah merasa bahagia. Dengan kata lain, tiap saat batin kita selalu berubah antara bahagia dan sedih karena belum tentu orang lain akan selalu memuji atau selalu mencela kita. Dan kita berada dalam masyarakat yang siap memuji atau mencela kita.

“Duh, capek sekali pikiran kita jika selalu mengikuti alur perasaan yang tak menentu ini,” pikirku. Aku teringat sabda Sang Buddha : “Jadikanlah dirimu sebagai pulau bagi dirimu sendiri.”

“Suatu perbuatan, baik ataupun buruk, pasti akan selalu mengikuti si pembuat ke mana pun ia pergi, kapan pun dan di mana pun ia berada. Bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.”

Ya, tidak pantas bagiku, yang mengaku sebagai siswa Sang Buddha, menggantungkan kebahagiaanku pada orang lain, termasuk teman bahkan orangtuaku sendiri. Aku yang berbuat, maka akulah yang menerima akibatnya, cepat ataupun lambat. Tak perlu mempercepat buah yang belum masak. Masam rasanya. Bila telah tiba saatnya, maka buah yang manis itu akan dapat kita rasakan juga.

Walau aku adalah seorang aktivis vihara, tak sepatutnya terlalu menuntut orang lain berbuat menurut kehendakku saja. Bila mereka memperhatikan dan berbuat baik padaku, aku akan senang dan berterima kasih. Bila mereka mengecewakanku, biarlah! Mereka sendiri yang akan menerima akibatnya. Tak perlu aku merasa kecewa atau membenci mereka yang berarti akan menambah dukkha saja. Ya, untuk apa menggantungkan kebahagiaan pada makhluk lain bila kita mampu membangun kebahagiaan dengan usaha sendiri. Tak ada alasanku untuk beralih agama!!

Kukejapkan mataku yang kini terasa berbinar ceria. Kubiarkan tetes air mata bahagia bergulir di pipiku. Kini aku tahu, bagaimana rasanya bisa melepas beban yang menghimpit batinku. Segala jenis beban adalah derita. Dhamma benar-benar indah bila kita mampu mengertinya dengan benar. Satu kemenangan telah kuraih.  (Eng Han)

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, KAMMA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: