Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Perawatan Batin (3)

Posted by chanyan pada 2010/05/16

Meditation PathSetelah mengetahui bagaimana pasangan unsur-unsur yang saling berlawanan itu bekerja, praktisi bhavana bisa mencari cara untuk melemahkan dan membasmi unsur-unsur penghalang yang negatif (nivarana) dan mempertahankan serta menumbuhkembangkan unsur-unsur positif agar batin mencapai ketenangan yang kokoh (baca: jhana).

Bagaimanapun, cara di atas bukanlah satu-satunya cara, akan tetapi haruslah didukung oleh unsur-unsur kusala dhamma lain, misalnya: 4 (empat) iddhipada yang mengandung unsur panna, yaitu vimamsa. Tanpa dukungan unsur panna, pelaksanaan samatha bhavana pun tidak mungkin mencapai hasil yang baik. Selanjutnya, panna harus tetap dikembangkan dalam pelaksanaan vipassana bhavana, hingga akhirnya berubah menjadi nana (pengetahuan) yang membuat batin mampu membasmi kilesa. Inilah keistimewaan dari ajaran Sang Buddha. Unsur panna harus selalu mengedepan. Begitupun, dalam menerima ajaran, Sang Buddha selalu menganjurkan untuk merenungkan dan menganalisa ajaran, bukan sekedar menerima ajaran secara fanatik.

Namun, hal ini juga merupakan suatu ‘kelemahan’ (ajaran Sang Buddha) bagi orang yang kurang ‘bijaksana’. Karena anjuran Sang Buddha itu, mereka lalu menggunakan panna [kebijaksanaan] untuk menganalisa ajaran. Dan celakanya, hasil dari penganalisaan itu berbeda satu sama lain. Perbedaan ini tentu saja merupakan bibit dari pertentangan bahkan perpecahan, karena masing-masing merasa yakin terhadap kebenaran hasil penganalisaannya. Akhirnya, bukan kesembuhan batin yang mereka dapat, melainkan penyakit batin semakin parah karena terinfeksi kekotoran batin yang semakin menumpuk.

Kekotoran batin bak kotoran (sampah) pasar atau sampah dapur yang bila dibiarkan akan semakin menggunung dan semakin membusuk, merupakan polusi yang mengganggu masyarakat sekitarnya. Namun, sampah pasar atau sampah dapur bisa berproses dan berubah menjadi pupuk yang amat berguna bagi tanaman. Sebaliknya, kekotoran (sampah) yang terdapat di dalam batin, bila dibiarkan menumpuk dan menggunung, tak akan bisa berproses dan berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ia akan semakin meracuni diri sendiri dan orang lain. Bahkan bisa meracuni dan menghancurkan dunia. Persaingan, saling menjegal, cacian, kejengkelan, kemarahan serta pikiran-pikiran negatif lainnya merupakan hal yang biasa dalam suatu pertentangan. Pertentangan internal maupun eksternal. Suasana pertentangan dan kegalauan merupakan suasana yang sama sekali tidak menguntungkan bagi seseorang yang sedang melakukan perawatan batin.

Lalu, bila keadaan sudah menjadi demikian, apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita bisa tetap melakukan perawatan batin?

Dalam hal ini, tentu saja kita harus menggunakan panna kembali. Akan tetapi, samma-panna lah yang harus kita manfaatkan. Sammapanna adalah sammaditthi dan sammasankappa. Kita haruslah merenungkan, apa manfaat dari pertentangan itu. Apakah dengan pertentangan itu kita mendapat manfaat, kebaikan dan kemajuan batin? Atau, bahkan hanya menimbulkan kerugian serta kemerosotan batin? Kalau hanya menimbulkan kerugian dan kemerosotan batin, tidaklah layak kita terpengaruh atau ikut berkecimpung dalam kancah pertentangan itu. Kita boleh saja melontarkan pendapat dan pandangan-pandangan benar kepada mereka. Akan tetapi, bila mereka tidak menerima atau tidak mendengar pendapat dan pandangan kita, kita tak perlu terpengaruh, marah atau jengkel karenanya. Anggaplah hal itu sebagai tugas kemanusiaan yang patut kita lakukan! Kita harus menghadapinya dengan pengertian dan keseimbangan batin [upekkha].

Sebaliknya, kita perlu mengutamakan pengembangan metta pada mereka maupun pada diri sendiri. Hanya dengan pengembangan metta [beserta unsur brahma vihara lainnya : karuna, mudita dan upekkha], seseorang bisa dan mampu mengatasi kegalauan yang bersifat internal maupun eksternal.

Kita ambil contoh ketika Sang Buddha menghadapi suasana galau akibat pertikaian dan pertentangan antara para bhikkhu di Kosambi. Sang Buddha dengan perasaan metta dan karuna memberi nasehat-nasehat serta contoh-contoh pada para bhikkhu agar mereka menghentikan dan menyudahi perselisihan. Ketika para bhikkhu tak mau mendengar dan menerima nasehat Sang Buddha, Beliau memilih menghindar. Dan dengan perasaan upekkha tinggal menyendiri di dalam hutan.

Atau ketika Beliau difitnah oleh kumpulan pertapa lain yang merasa iri akan keberhasilan dan ketenaran Beliau. Dengan perasaan upekkha dan bijaksana, Beliau membiarkan fitnah-fitnah itu berlangsung hingga padam dengan sendirinya. Beliau tidak membalas fitnah dengan kemarahan. Beliau hanya mengatakan tentang kebenaran dan kebaikan dengan penuh metta.

Karenanya, bagi kita umat Buddha, pengembangan metta [serta karuna, mudita dan upekkha] amatlah penting dan terpuji. Metta harus dilatih dan dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tak cukup hanya dengan berkata atau melafalkan: “Semoga semua makhluk hidup berbahagia,” namun dalam kenyataan hidup, ia melakukan fitnah terhadap orang yang tak disukai. Atau membiarkan batinnya dikuasai dendam, kemarahan, iri hati atau dengki, bahkan keserakahan. Perasaan-perasaan negatif itu bukanlah merupakan tanda dari batin yang telah harmonis. Seorang yang telah mempunyai batin yang harmonis, akan dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain, tidak pendendam apalagi memfitnah orang lain.

Lalu, bagaimana kaitan antara metta, karuna, mudita dan upekkha dalam brahma vihara?

Salah satu contoh di dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kita melihat suatu kecelakaan lalu-lintas. Bila kita mempunyai perasaan metta, maka muncul perasaan belas kasihan (karuna) terhadap korban kecelakaan tersebut dan turun tangan menolongnya. [Bila karuna tak muncul, berarti kita tak mempunyai metta]. Kita bawa si korban ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang layak. Bila korban tersebut berhasil diselamatkan dan sehat kembali, kita ikut merasa senang dan bahagia atas pulihnya kesehatan orang tersebut tanpa perasaan negatif. Itulah yang dinamakan mudita. Namun, bila korban tersebut tak berhasil diselamatkan, kita memaklumi akan buah kamma yang harus diterima si korban, maka perasaan itu disebut upekkha (keseimbangan batin).

Akan tetapi, bila si korban telah sehat lalu kita merasa menjadi pahlawan serta ingin dipuji : “Kalau bukan saya yang menolong, tentu ia telah meninggal”, berarti unsur mudita dan upekkha tak muncul di dalam batin. Begitupun, bila si korban meninggal lalu kita bersedih dan menyalahkan diri sendiri atau menyesali, berarti unsur upekkha pun tak muncul. Rangkaian brahma vihara pun terputus.

Kediaman dalam brahma haruslah mempunyai 4 (empat) unsur : metta, karuna, mudita dan upekkha yang lengkap dan saling berhubungan serta saling mendukung. Bilamana kesatuan dari keempat unsur itu tak lengkap atau terputus, maka seseorang tak bisa berada dan tinggal di dalam kediaman brahma [brahma vihara]. Itulah salah satu contoh dari sifat kesatuan Dhamma yang tak dapat dipisah-pisahkan.

Bhavana formal untuk pengembangan metta disebut Metta bhavana. Di dalam melaksanakan metta bhavana ini pun diperlukan unsur-unsur brahma vihara lainnya agar metta bisa berkembang di dalam batin. Bila muncul bentuk-bentuk pikiran yang bertentangan dengan karuna, mudita atau upekkha, maka metta tak akan muncul di dalam batin. Dan ketenangan batin pun tak akan tercapai. Praktisi metta bhavana yang serius akan bisa membuktikan hal ini.

Walaupun ia menguncarkan atau melafalkan metta pada diri sendiri, pada keluarga, pada teman, pada semua makhluk yang berada di sebelah, sebelah kanan, sebelah depan, sebelah belakang, atas, bawah dan seluruh jagat raya, bila muncul perasaan yang berlawanan dengan karuna, mudita atau upekkha, ia akan gagal mencapai ketenangan.

Perasaan yang berlawanan dengan karuna akan menimbulkan perasaan kejam atau jahat, tanpa belas kasihan yang merupakan unsur dari byapada nivarana. Perasaan yang berlawanan dengan mudita, akan menimbulkan rasa iri, dengki, tidak puas dan tidak rela yang juga merupakan unsur byapada nivarana. Perasaan yang berlawanan dengan upekkha akan menimbulkan perasaan yang tidak tenang, gelisah yang merupakan unsur dari uddacca-kukkucca nivarana. Bisa juga muncul sebagai keraguan (vicikiccha nivarana). Sebaliknya, upekkha yang muncul tanpa pengertian akan menimbulkan perasaan malas, mengantuk dan pikiran bebal [thina-middha nivarana] yang tidak membantu munculnya metta.

Semua unsur yang muncul harus dilandasi oleh pengertian [panna].

Perasaan kejam, jahat, tanpa welas asih mungkin akan muncul saat seseorang mengingat atau terbayang pada orang yang tak disukai, apalagi pada orang yang dianggap musuh. Penghambat itu akan hilang dengan perenungan / penganalisaan terhadap kerugian yang ditimbulkan oleh perasaan negatif itu, serta manfaat yang ditimbulkan oleh perasaan yang positif.

Perasaan welas asih yang salah [bukan unsur brahma vihara] muncul, bila seseorang secara emosional memikirkan orang yang disayang mengalami penderitaan. Namun, bila orang yang tak disukai mengalami penderitaan, perasaan kasihan tak akan muncul. Bahkan perasaan senanglah yang muncul –merupakan perasaan kejam dan jahat (byapada nivarana). Perasaan welas asih yang salah ini bisa pula muncul menjadi perasaan cinta terhadap lawan jenis atau nafsu sex [kama chanda nivarana].

Perasaan ikut berbahagia (mudita) yang salah akan muncul, bila orang yang disukai mendapat kebahagiaan. Namun, bila orang yang tak disukai mendapat kebahagiaan, akan muncul rasa iri dan dengki.

Karenanya, metta [beserta karuna, mudita dan upekkha] haruslah dilaksanakan dan dilatih di dalam kehidupan sehari-hari agar terbiasa, tertanam, tumbuh dan berkembang secara alamiah di dalam batin. Hasil dari pelaksanaan sehari-hari [serta metta bhavana secara formal] ini amat berbeda dengan hasil dari kursus-kursus psikologi menejemen atau kursus-kursus peningkatan kepribadian yang sedang marak dewasa ini. Kursus-kursus semacam ini berguna bagi peningkatan penampilan diri agar lebih percaya diri dan disenangi orang lain atau agar mampu menjadi pimpinan suatu perusahaan yang berwibawa di mata anak buahnya.

Namun, metta adalah perasaan kasih sayang yang bersifat universal terhadap semua makhluk, tanpa pandang bulu. BUKAN HANYA untuk disenangi masyarakat atau untuk menjadi pimpinan di suatu perusahaan. Sang Buddha yang telah berhasil mengembangkan metta secara sempurna, masih tidak disukai bahkan dibenci banyak orang. Dan, ternyata siswa Beliau, termasuk yang telah mencapai kesucian, amat sedikit jumlahnya dibanding dengan [hanya] penduduk India saat itu. Apalagi dibanding dengan penduduk dunia. Itu membuktikan bahwa tidak banyak makhluk, terutama manusia yang mampu menerima pancaran metta. Dan itu juga membuktikan bahwa orang yang telah mengembangkan metta dengan baik, belum tentu selalu disukai orang lain. Penampilan dan keadaan luar tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur. Karena, metta secara khusus adalah untuk pengembangan diri pribadi guna mencapai keluhuran batin. Bila ia tak disukai orang, ia pun tetap mempunyai metta terhadap semua makhluk, termasuk terhadap orang yang tidak menyukainya, karena ia mempunyai perasaan upekkha yang menyertainya. Ia akan mampu hidup di dalam keadaan apapun. Ia akan tetap merasa tenang di dalam penderitaan fisik, kemiskinan, cacian atau fitnahan.

Seperti yang Sang Buddha katakan, hal ini bisa dibuktikan oleh praktisi-praktisi yang serius. Seseorang yang telah mampu dan telah membuktikan hal ini, akan mempunyai saddha yang tinggi terhadap Tiratana. Tetap akan berjalan pada jalur Dhamma yang murni, walau mendapat tekanan dan goncangan. Tidak pula terbuai bila mendapat kebahagiaan. Tidak mencampur adukan ajaran Sang Buddha dengan ajaran lain yang akan mengotori kemurnian ajaran Sang Buddha, karena mempunyai keyakinan penuh bahwa hanya ajaran Sang Buddha yang mampu membawanya pada keluhuran batin. (bersambung) [*Hananto]

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, SAMADHI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: