Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Sila vs Aids

Posted by chanyan pada 2010/05/16

Penyakit Aids baru dikenal manusia secara luas sekitar 20-30 tahun yang lalu. Konon, virus HIV yang menyebabkan penyakit Aids itu ditemukan di benua Afrika. Pada awalnya, penyakit itu hanya menjangkiti golongan tertentu, yaitu komunitas homosexual. Karenanya, masyarakat biasa tidak begitu merasa khawatir akan bahaya penularannya.

Seperti telah diketahui, cara penularan virus HIV adalah melalui kontak langsung, di antaranya dengan hubungan seks dan melalui jarum suntik yang terkontaminasi dengan virus tersebut. Ia menyerang fungsi kekebalan tubuh, sehingga tubuh tidak bisa lagi memproduksi antibodi terhadap serangan kuman, selemah apa pun kuman itu. Keganasan penyakit Aids telah disejajarkan dengan kanker ganas yang juga tak terobati hingga kini.

Salah satu korban Aids yang terkenal adalah bintang film terkenal dari Hollywood, yaitu Rock Hudson. Si ganteng yang dikenal sebagai seorang homo itu meninggal dunia di tahun delapan puluhan, karena digerogoti virus HIV. Menjelang akhir hayatnya, ia benar-benar kehilangan ketampanannya yang dulu menjadi kebanggaan dan dipuja penggemarnya. Yang tinggal hanyalah kulit dibungkus daging yang hampir mengering sama sekali. Dan salah satu korban terkenal dari Indonesia adalah peragawan cakep Frans Daromes yang juga  meninggal pada tahun delapan puluhan. Ia juga dikenal sebagai seorang homosexual.

Namun, kiranya tidak semua kaum homosexual itu anti perempuan. Maka, mereka menularkannya pada perempuan, dalam hal ini tentu saja pada para pelacur, pada awalnya. Sejak saat itu, kesimaharajalelaan penyakit Aids tidak lagi bisa dibendung. Penduduk dunia menjadi cemas dibuatnya. Lebih-lebih lagi obat pembunuh virus itu sampai kini belum ditemukan. Entah telah berapa milyar dollar dihabiskan untuk meriset obat anti Aids. Tapi, ada pula yang mengatakan mampu mengobati penyakit Aids, yaitu siapa lagi kalau bukan para paranormal sakti dan sebagian ‘ahli’ meditasi. Memang, kesempitan ini menjadi suatu kesempatan bagi mereka untuk unjuk diri dengan iklannya yang katanya mampu mengobati penderita dari jarak dekat, bahkan juga dari jarak jauh.

Menurut radio BBC Inggris, virus HIV telah menjangkiti satu juta orang penduduk negeri tirai bambu, China yang komunis itu. Diperkirakan jumlah itu akan meningkat pesat hingga sepuluh juta orang di tahun 2005 nanti. Kepesatan penularan itu disebabkan karena maraknya pelacuran, penggunaan obat-obat narkotika [terutama yang metode suntik] dan proses donor darah yang kurang mengindahkan faktor suci hama di negeri itu.

Diberitakan pula, di seluruh dunia ada 22 [dua puluh dua] juta orang yang telah meninggal akibat penyakit ini. Korban terbanyak terdapat di benua Afrika. Di sana ada 16 [enam belas] juta orang telah meninggal dunia. Dikhawatirkan, penduduk benua itu akan mengalami kepunahan dalam waktu tak lama lagi, bila tak segera bisa diatasi. Amat mengerikan!

Tapi, virus HIV itu tak peduli pada para periset yang sedang sibuk, apa lagi pada para paranormal sakti maupun pada para ‘ahli’ meditasi. Ia dengan tenangnya [tapi rakus] mengganyang manusia dari segala lapisan. Yang benar, tentu tidak semua lapisan, karena masih ada lapisan yang mungkin tak terjangkau olehnya, yaitu orang-orang yang bisa menjaga diri dengan pandangan benarnya.

Pandangan benar? Apakah agama Buddha mempunyai pandangan benar dalam hal ini? Ya, tentu; walau ada sementara orang [mudah-mudahan tidak banyak!] yang berpandangan tidak benar, sehingga membuka lowongan bagi penularan penyakit Aids khususnya, penyakit kelamin pada umumnya. Pandangan benar ini amat penting. Tanpa adanya pandangan benar [sammaditthi], seseorang bisa dikatakan lengah atau bahkan sesat [micchaditthi].

Pandangan benar mana pula yang dengan ‘tegas’ mampu menghindarkan seseorang dari penularan virus HIV? Tentu saja pandangan benar terhadap silaSila yang berkenaan dengan penyakit ini adalah sila ketiga, kamesumicchacara veramani dan sila kelima, suramerayamajja pamadatthana veramani.

Kebanyakan umat Buddha mengartikan ‘kamesumicchacara veramani’ sebagai ‘menghindarkan diri dari perselingkuhan’. Hanya ‘perselingkuhan’! Nah, di sinilah letak  kelengahannya. Kalau hanya diartikan sebagai perselingkuhan, berarti hubungan sex pranikah, pelacuran [menjadi pelacur dan pelanggannya], homosexual, lesbianisme, sadisme, masochisme, hubungan kelamin dengan binatang dan penyimpangan-penyimpangan perilaku sex lainnya serta menjadi bintang film blue tidaklah melanggar sila.

Bahkan, ada penceramah [Dhammaduta: upasaka maupun bhikkhu] yang dengan tegas mengatakan bahwa hubungan kelamin dengan pelacur tidaklah melanggar sila, ‘hanya’ melanggar Dhamma, karena pelacur adalah milik umum! Ada pula yang mengatakan, persyaratan pelanggaran sila ketiga ‘hanya’ berlaku untuk pasangan hidup orang lain, atau saudara kandung sendiri, atau anak yang masih di bawah perwalian atau belum dewasa.

Penulis pun pernah mendengar dengan telinga sendiri, seorang pemuka Buddhis [dan tentu saja juga sebagai Dhammaduta] mengatakan hal yang sama. Melakukan hubungan kelamin dengan seorang pelacur tidaklah melanggar sila, karena katanya pelacur adalah milik umum [adakah persyaratan bagi seseorang untuk dikatakan sebagai milik umum?] dan dianggap sebagai orang yang mandiri [dari mana bisa diketahui bahwa seorang pelacur adalah seorang yang mandiri?]. Karenanya, dianggap ‘hanya’ melanggar Dhamma.

Biasanya, pelanggaran Dhamma dianggap sebagai pelanggaran ‘kecil’, dan tidak begitu ‘ditakuti’ oleh umat Buddha [mungkin sama halnya dengan seorang bhikkhu yang menganggap pelanggaran-kecil bila berenang, menonton pertunjukan, tari-tarian, menyanyi, menyimpan makanan atau menerima / memegang uang]. Merupakan suatu kesalahan pandangan, menganggap yang tidak patut sebagai patut. Menganggap sila sebagai bukan sila.

Suatu bentuk kelengahan, mengumbar hawa nafsu, membiarkan sati lemah. Padahal, sila itu berguna bagi pengembangan sati. Dan sati adalah syarat mutlak bagi pencapaian samadhi. Samadhi adalah syarat mutlak bagi pengembangan panna. Panna itulah yang membuat batin terbebas dari asava [kekotoran batin], karena munculnya nana.

Dengan memasukkan pelacuran [menjadi pelacur dan pelanggannya] dan hubungan sex selain perselingkuhan  ke dalam ‘tidak melanggar sila’, berarti telah memutus rangkaian Dhamma, yaitu Ariya Magga, jalan menuju kesucian. Kalau jalannya saja telah diputus, bagaimana pula bisa sampai pada tujuan??

Dan pula, kalau demikian halnya, agama Buddha ini adalah agama yang jelek, karena dengan sengaja maupun tidak, telah memberi kesempatan terhadap penularan penyakit Aids khususnya, dan penyakit kelamin pada umumnya dengan memposisikan hubungan sex selain perselingkuhan ke dalam ‘hanya’ pelanggaran Dhamma.

  • Kamesu, artinya hubungan kelamin.
  • Miccha, artinya  salah, keliru, tidak benar, yang berlawanan arti dengan samma.
  • Cara, artinya perilaku, perbuatan.
  • Veramani, artinya menghindarkan diri.

Jadi, kamesumicchacara veramani, artinya menghindarkan diri dari perilaku hubungan kelamin yang salah, yang keliru, yang tidak benar! Bukan ‘hanya’ perselingkuhan! Tapi, termasuk juga di dalamnya: hubungan sex pranikah, homosexual, lesbian, sadisme, masochisme, berhubungan kelamin dengan binatang dan penyimpangan-penyimpangan perilaku sex lainnya serta menjadi bintang film blue.

Penulis memang bukanlah seorang yang ahli dalam bahasa Pali, tapi Penulis setuju dengan terjemahan Cunda J. Supandi dalam bukunya ‘Tata Bahasa Pàli’, dan bhikkhu Prayud Payutto, seorang bhikkhu senior terpelajar dari Thailand dalam bukunya ‘Kamus Dhamma’ [dalam bahasa Thai] yang menerjemahkan hal yang sama dengan penulis, walau mereka tak merinci jenis hubungan kelamin yang salah, yang keliru dan yang tidak benar itu.

Namun, Penulis mempunyai keyakinan [saddha] penuh, bahwa yang dimaksud Sang Buddha dengan hubungan kelamin yang salah, yang keliru dan yang tidak benar adalah hubungan kelamin yang tak layak dilakukan oleh manusia-manusia beradab dan bermoral, sebagai yang telah diuraikan di atas.

Sang Buddha tak akan membimbing, mengarahkan dan menjaga umat-Nya dengan sila yang rapuh, compang-camping, lubang sana, lubang sini bagaikan selembar baju rombeng dan usang, atau bagaikan pagar rumah rapuh yang tak mampu melindungi barang-barang yang ada di dalamnya. Beliau pasti membimbing, mengarahkan dan menjaga umat-Nya dengan sila yang tegas, jelas dan kokoh agar mampu mencapai tujuan luhur.

Sebagai umat Buddha, sepatutnya kita mempunyai kejelian di dalam menangkap suatu ajaran agar tidak terkesan bahwa agama Buddha adalah agama yang rapuh dan kontroversial.

Inilah pandangan benar dalam mengartikan sila ketiga dari Panca Sila Buddhis.

Sila kelima menyebutkan: suramerayamajja pamadatthana veramani.

  • Sura, artinya cairan hasil penyulingan [yang beralkohol], minuman keras.
  • Meraya, artinya cairan hasil peragian, rendaman [buah-buahan, bunga] yang menjadi    alkohol.
  • Majja, artinya minuman keras dan anggur beralkohol [kedua jenis minuman tersebut di atas].
  • Pamada, artinya lengah, lalai, sati menjadi lemah.
  • Thana, artinya kondisi, keadaan.
  • Veramani, artinya menghindarkan diri.

Bila diartikan menurut terjemahan di atas, suramerayamajja pamadatthana veramani artinya, menghindarkan diri dari [minum] minuman keras yang beralkohol, yang membuat kondisi sati lemah.

Namun, dalam hal ini, ternyata umat Buddha mengartikannya secara ‘bijaksana’, tidak seperti mengartikan sila ketiga. Dalam hal ini, umat Buddha dengan ‘bijaksana’ memasukkan narkoba [morphin, heroin, ecstasy, ganja dan sejenisnya] sebagai barang  yang terlarang, padahal narkoba bukanlah jenis minuman keras beralkohol. [Ataukah mereka lebih takut pada alkohol dan narkoba daripada penyakit Aids dan penyakit kelamin lainnya?]

Karena, bila hanya mengikuti terjemahan secara kaku, salah dan tidak bijaksana, maka benda-benda seperti narkoba [morphin, heroin, ecstasy, ganja dan sejenisnya] tak termasuk yang dilarang dalam sila kelima. Heroin dan morphin bukanlah jenis minuman keras beralkohol. Cara mengkonsumsinya pun tak harus secara oral [diminum], tapi bisa disuntikkan [ini sebagai salah satu cara penularan penyakit Aids]. Ecstasy, bukan pula sebagai minuman keras beralkohol. Ia berupa pil yang ditelan. Ganja, dihisap seperti rokok atau dengan alat penghisap khusus. Mereka bukanlah minuman keras beralkohol. Namun yang jelas, mereka bahkan lebih ganas dan berbahaya di dalam membuat lemahnya sati.

Di samping hubungan kelamin dengan penderita Aids, penularan virus HIV juga amat merebak di antara pengguna narkoba jenis suntik, karena jarum suntik yang tak steril dipakai secara bergantian dengan penderita Aids.

Dengan dimasukkannya semua jenis barang yang melemahkan sati serta cara mengkonsumsinya, terutama jenis suntik sebagai benda terlarang di dalam sila kelima, maka kemungkinan penularan virus HIV bisa dihindari atau ditekan menjadi sekecil mungkin [karena alat-alat kedokteran pun tak bisa dijamin 100% kesucihamaannya, begitu pula kelengahan dan kecelakaan kerja medis].

Lalu, bagaimana tentang rokok yang sering menimbulkan penilaian kontroversi dalam menyikapinya?

Sepanjang sejarah, sejak diketemukan dan dikonsumsinya rokok [tembakau] oleh manusia, tidak ditemukan data-data bahwa rokok bisa membuat manusia mabuk dan lemah sati [penyadaran] seperti halnya alkohol dan narkoba. Rokok sama sekali tak menimbulkan ketagihan ‘yang sebenarnya’. Ia hanya mempengaruhi manusia secara psikologis, sehingga membuat si perokok menjadi ketagihan dan ketergantungan ‘semu’ terhadap rokok. Penulis katakan sebagai ketagihan dan ketergantungan ‘semu’, karena sebenarnya untuk menghentikan kebiasaan merokok tidaklah sulit sama sekali. Atau, tidak sesulit menghentikan [mengobati] ketagihan dan ketergantungan ‘yang sebenarnya’ terhadap alkohol dan narkoba. Ia hanya memerlukan ‘sedikit’ kemauan dan ketetapan hati [sacca]. Seorang yang sedang ‘ketagihan’ rokok tak pernah sampai mengalami sakaw [penyakit ketagihan dan ketergantungan] seperti pada pemakai narkoba yang perlu perawatan khusus dan panjang.

Aspek psikologis lainnya adalah, oleh sementara kalangan, rokok dianggap sebagai sarana pergaulan di dalam masyarakat. Juga dianggap bisa meningkatkan ‘gaya’ dan penampilan diri, sehingga meningkatkan kepercayaan diri. Dianggap sebagai pelarian bagi orang  yang sering gugup dan kurang percaya diri. Sebagai teman saat belajar atau bekerja, atau untuk menimbulkan inspirasi, dan lain-lain. Ada pula, seorang perokok yang mengatakan,  “Lebih baik berpisah dengan istri daripada berpisah dengan rokok!” Kiranya, itu hanyalah sebuah omong kosong belaka. Semua itu hanyalah pengaruh psikologis yang dibesar-besarkan semata.

Lalu, bagaimana sebaiknya bagi umat Buddha [upasaka / upasika, bhikkhu, samanera] menyikapi hal ini?

Dulu, belumlah diketahui, bahwa rokok bisa membuat kesehatan manusia terganggu, bahkan ‘bisa’ menyebabkan [memperparah] penyakit jantung, kanker, tekanan darah tinggi dan beberapa penyakit lainnya. Karenanya, pada jaman dulu, kebiasaan merokok bisa diterima dengan baik oleh masyarakat umum. Namun, setelah diketahuinya hal-hal yang merugikan kesehatan tersebut, kebiasaan merokok banyak dicela oleh masyarakat yang peduli pada kesehatan.

Lagi pula, kebiasaan merokok ini hanyalah membuang-buang waktu dan membuang-buang uang. Suatu pemborosan yang tercela pula. Ini disebut ‘lokavajja’, sesuatu yang dicela oleh masyarakat. Kesimpulannya, merokok tidaklah melanggar sila kelima, namun tak layak dilakukan oleh umat Buddha.

Sebagai umat Buddha, terutama para bhikkhu dan samanera, sudah selayaknya memberi contoh kebaikan pada orang lain dengan menghindari sesuatu yang dicela masyarakat. Selama ini, bhikkhu dan samanera dianggap sebagai seseorang yang patut diteladani oleh umat Buddha lainnya. Mereka selayaknya membuat dirinya benar-benar patut diteladani. Mengerti mana yang layak, mana pula yang tak layak.

Namun, pengertian tentang layak dan tak layak ini pun patut dipunyai oleh umat Buddha lainnya demi menggalang kelancaran pelaksanaan Dhamma di antara umat Buddha secara keseluruhan. Hal ini perlu dipertegas, karena selama ini ada kesan bahwa umat Buddha menaruh perasaan antipati terhadap seorang bhikkhu / samanera yang menghisap rokok. Namun sebaliknya, tak peduli pada bhikkhu / samanera yang menonton/menyaksikan pertunjukan di TV [sepak bola, film silat dan lain-lain] yang jelas-jelas merupakan pelanggaran vinaya. Bahkan, ada yang berdana pesawat televisi kepada bhikkhu idolanya. Atau berdana ‘sesuatu’ yang membuat para ‘pertapa’ terseret menjauhi dunia kepertapaannya, terlarut dan bergelimang keduniawian. (Hananto)

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, SILA]

Iklan

2 Tanggapan to “Sila vs Aids”

  1. wirajhana said

    Dear Chanyan,
    saya cuma mo ngasi opini aja bahwa Ternyata “Kamesu” itu ternyata punya arti luas:

    * Arti dari Sanskrit [sumber: Vedabase]:kāmeṣu — in sense enjoyment;to material enjoyment; in the material world, where lusty desires predominate;in sense gratification; in objects of selfish desires;
    * Kamesu Satta Sutta [Ud.7.3 dan Ud.7.4]: memuat cakupan arti “Kamesu” yang ternyata bukan sekedar seksual
    * Ulasan wisdomquartely, disebutkan bahwa pengertian fisik itu justru berasal dari ide a susila-nya nasrani

    Dengan mengartikan dan mempublikasikan bahwa KAMESU MICCHACARA = METHUNA SAMACARA [hubungan kelamin] merupakan sebuah blunder turun temurun!

    “Kamesu” itu meliputi 6 indria [mata, telinga, sentuh kulit, sentuh lidah, penciuman, pikiran] dan obyeknya pun dari 6 indera untuk pikiran adalah ide2 tentang segala sesuatu yang membuat hasrat keinginan yang menggila yang dilakukan dengan cara tidak lazim

    Silakan juga baca PEMBUKTIAN yang ditulis dalam, “Big Blunders in Dhamma Interpretation“, Profesor Dhammavihari Thera
    The first outpouring of this blunder, clearly presented in black and white was, as far as we recollect, in Buddhist Ethics by Venerable Hammelewa Saddhatissa. Allen and Unwin, London. 1970. This is his presentation on page 106.

    “We now return to the interpretation of the precept as with kama in the Locative plural form kamesu. In such form the precept signifies abstinence from all indulgences in the five sensuous objects, namely visible object, sound or audible object, olfactory object, sap or gustative object, and body impression or tactile object.

    Kamesu micchacara is therefore `wrong or evil conduct with regard to the five sensual organs’. In many places in Pali literature, the fifth factor of kama, that is body impression, has been interpreted as ` unlawful sexual intercourse’; it seems that it would be the most blameworthy of the five kamas.

    In representing kamesu micchacara as relating only to sexual intercourse the grammatical form of kama has been ignored; to achieve complete obsrvance of the precept, one must therefore desist from the five forms of self indulgence, both directly and indirectly.” Who misleads whom, generation after generation?Terihat jelas sudah bahwa sila ketiga pancasila itu BUKAN “Methuna sama cara veramani sikkhapadam samādiyāmi” NAMUN “Kāmesu micchācāra veramani sikkhapadam samādiyāmi”

  2. chanyan said

    sebenarnya ini utk SP, tapi font pali tdk muncul di sana, jadi nitip disini dulu.
    —————

    ini kalau para sifu sdh kena guyon emang heboh, tapi dibalik itu ada mutiara2 yg bisa kita nikmati kemilaunya hehehe… cuman sy menyayangkan aja kalau ada satu dua teman yg gak bisa ngikutin, mudah2an tulisan sy ini bisa sedikit membantu, mudah2an ndak bikin tambah bingung neh hehehe.

    sifu N5 pastilah bukan org baru dg suasana buddhisme, shg berani ngeritik master Wira yg menuliskan kata dlm bahasa pali “kāmerasu”.
    Di dalam bahasa pali memang lazim sebuah kata ditasrifkan/diturunkan dari kata dasar. Istilahnya case/kasus, utk menunjukkan kedudukan/fungsi kata, apakah sbg subjek, obyek, predikat, keterangan dll.

    Yg sedang dibahas disini adalah case/kasus ke-7 (sattami) yg diinggriskan dg nama Locative, diindonesiakan jadi lokatif. Lokatif adalah kasus tentang kedudukan suatu kata benda sebagai : tempat, waktu kejadian, alasan, motif, penguasaan dll. Biasa diterjemahkan sebagai: di, pada, atau ketika.

    Rumusnya: (utk tunggal) kata dasar +e atau +mhi atau +smiṁ.
    (sedangkan utk jamak) kata dasar +esu.

    contoh:
    pāda : kaki, telapak
    pādesu : di telapak-telapak kaki

    [entah kenapa, master wira menulis kāmerasu, hehehe… mungkin jarinya kepleset. setau sy, di bahasa pali tidak ada +asu, yg ada +esu. kecuali kalau kata dasar āsu yg artinya cepat. cmiiw bos]

    Soal kāmesu ini master wira pernah ksh masukan di blog , tapi saat itu masuk sbg spam, dan baru sy ketahui ketika sedang ngerjain yg lain. kebetulan ini ada kesempatan utk nanggapin krn topiknya hampir sama.

    memang betul, kalau cari di kamus, gak bakal nemu kata kāmesu, krn itu adalah bentukan dari kata kāma.
    kāma + esu = kāmesu.

    kamus panjika ed.2007 :
    kāmo (kāma) : keinginan, kehendak, hawa napsu, kesenangan terhadap obyek, keinginan akan kesenangan, kesenangan, keinginan besar, napsu, birahi. [ed.1997 hanya diartikan sbg napsu indera]

    yg dekat2 dg kata kāma ini, kita semua sudah tau beberapa kata spt:

    kāmarāga : hawa napsu, napsu indera.
    kāmataṇhā : keinginan atas napsu indera; thirst after sensual pleasure.
    kāmini (kāmini) : wanita yang sangat menarik.
    kāmino (kāmina) : penuh gairah, bernapsu.
    kāmakāmo (kāmakāma) : sangat cinta, keinginan akan kesenangan.
    kāmaguno (kāmaguna) : unsur pokok hawa nafsu akan kesenangan, kenikmatan nafsu indera.
    kāmacchando (kāmachanda) : kesenangan dan kepuasan dari nafsu indera.
    kāmatā (kāmatā) : keinginan, ketamakan.
    kāmado (kāmada) : memberi kesenangan.
    kāmano (kāmana), kāmayitā (kāmayitr), kāmi (kāmi) : penuh gairah, bernafsu.

    menurut sy, memang tidak salah kalau Profesor Dhammavihari Thera mengartikan sila ke-3 pañcasīla buddhis, bukan hanya soal seksual aja, tapi diterjemahkan secara HARAFIAH, meliputi keseluruhan indera. profesor gitu lho, thera lagi, percaya aja deh, hehehe.

    tapi perlu juga kita ingat, master wira, utk perumah tangga, selain 5 sīla juga ada 8 sīla yg memerinci: nacca (tarian), gīta (nyanyian), vādita (musik), visūka (tontonan), dassanā (menonton), mālāgandha (untaian bunga), vilepana (kosmetik) dll. Dan sila ke-3 bukan lagi kāmesu…, tapi menjadi abrahmacariyā.

    brahma = makhluk dewa Brahma.
    cariya = keadaan, hidup, berprilaku.
    Brahmacariya = hidup suci atau berprilaku seperti Brahma, selibat, tidak kawin.
    Abrahmacariya = berprilaku tidak seperti Brahma, kawin.

    Barangkali karena kedua pertimbangan diatas (indera yg lain diperinci di sīla 6-8 & soal kawin), maka kāmesu diartikan sbg prilaku yg berhubungan dg seksual saja, terjemahan BEBASnya: perbuatan asusila.

    Pertanyaan selanjutnya, kenapa memakai kata “kāmesu” & “abrahmacariya”, kenapa bukan ‘methuna’ yg artinya : sexual intercourse; coupling ?

    Jawaban pastinya sy ndak tau. Tapi kalau pakai kata ‘methuna’ berarti yg ngambil sīla gak boleh nikah dong, seperti yg dimaksud oleh Methuna Sutta, Aṅguttara Nikāya 7.47/4.
    Aṭṭhasīla biasanya dijalankan hanya pada hari-hari tertentu saja. 2x atau 4x dalam sebulan. Selain itu yah biasa aja dalam kehidupan berumahtangga, ngerti dong maksudnya hehehe…

    Sedangkan menjadi petapa atau perumah tangga yg kawin dan punya anak atau kawin tapi ndak mau punya anak atau jomblo terusss sekalipun, adalah pilihan yg sebebas-bebasnya dari masing-masing individu. Tdk pernah ada larangan atau pengucilan atau intimidasi di dalam buddhisme.

    mudah2an yg baca gak nambah mumet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: