Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dighavu Kumara

Posted by chanyan pada 2010/05/17

Saat itu terjadi pertengkaran di antara para bhikkhu di kota Kosambi. Hal itu disebabkan adanya perselisihan pendapat tentang pelaksanaan vinaya. Seorang bhikkhu menuduh bhikkhu lain telah melanggar vinaya. Sedangkan bhikkhu yang dituduh merasa tidak melanggar. Kedua belah pihak menghimpun teman. Maka, perselisihan dan pertengkaran antar kelompok pun tak bisa dihindari. Para bhikkhu dhammavadi (patuh pada ajaran) berusaha mendamaikannya, tapi kelompok bhikkhu adhammavadi (tidak patuh pada ajaran) yang bertengkar, melawannya. Karena merasa tak sanggup lagi untuk mendamaikan, maka mereka melapor pada Sang Buddha dan meminta beliau untuk mendamaikan pertengkaran itu.

Sang Buddha berusaha menasihati dengan berbagai cara, namun para bhikkhu yang bertengkar tak bisa menerimanya. Akhirnya, Sang Buddha menceritakan suatu kisah lampau sebagai usaha untuk memberi pengertian pada mereka (kisah ini terdapat pada Vinaya Pitaka, Mahavagga bagian ke 2, 5/242/252) :

Saat itu Negara Kasi yang beribu-kota Baranasi diperintah oleh Raja Brahmadata, seorang raja yang kuat dan perkasa dalam memegang tampuk pemerintahan. Ia adalah seorang yang ahli dalam berolah gerak politik, peperangan maupun perekonomian membuat negerinya kaya-raya dan kuat. Rakyat pun makmur hidupnya.

Untuk memperkuat pertahanan negara dan ambisi perluasan jajahan, Raja Brahmadata telah membangun pasukan tempur yang kuat dan besar. Pasukan berkuda, pasukan gajah maupun pasukan pejalan kaki selalu dilatih dengan baik agar bisa digerakkan setiap saat diperlukan. Begitupun perbekalan makanan maupun senjata bagi para prajurit. Gudang persenjataan selalu penuh dengan senjata-senjata yang diperlukan. Gudang makanan pun tak pernah kekurangan. Bahkan berkelimpahan.

Negara Kasi mempunyai kawasan yang luas karena sering mengadakan perluasan daerah dengan mengandalkan kekuatan militer. Namun, ketenangan dan kedamaian negeri Kosala sepertinya tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi. Mengapa?

Pada suatu hari, Raja Brahmadata yang perkasa memanggil para senapatinya. “Para Senapati, kiranya ada pekerjaan yang harus kita lakukan. Kalian tahu tentang Negeri Kosala, bukan?”

“Ya, Baginda. Kosala adalah negeri kecil yang tenang damai di bawah pemerintahan Raja Dighiti”, jawab para senapati.

“Benar! Negeri itulah yang saya maksud. Dan saya menginginkan negeri itu menjadi bagian dari negara kita. Karenanya, siapkan pasukan kita dengan baik. Kita akan segera berangkat berperang dan membuat Negeri Kosala menjadi bagian dari negara kita. Tangkaplah Raja Dighiti dan keluarganya. Penggallah kepalanya agar tak seorang pun bisa membalas dendam.”

Segera setelah itu, maka sibuklah para senapati mempersiapkan pasukan. Suasana hiruk-pikuk itu menyebar ke mana-mana. Dan akhirnya berita penyerbuan Negeri Kosala itu terdengar sampai ke telinga Raja Dighiti. Raja Dighiti yang bijaksana tapi tak mempunyai kekuatan militer yang memadai itu berpikir: “Kalau Raja Kasi itu menyerang negeri ini, dengan sekali pukul saja, maka luluh lantaklah Negeri Kosala ini. Itu berarti rakyatlah yang akan menjadi korban sia-sia. Aku tak ingin rakyatku menjadi korban sia-sia. Karenanya, akan aku perintahkan untuk tidak mengadakan perlawanan agar tak ada korban jatuh. Dan aku akan meninggalkan istana.”

Maka, setelah mengumpulkan para punggawa kerajaan dan memerintahkan untuk menyerah saja, Raja Dighiti dan permaisuri pun berpamitan untuk meninggalkan istana dengan menyamar sebagai rakyat biasa, diiringi perasaan sedih para punggawa dan rakyatnya.

Tanpa perlawanan apa pun Raja Brahmadata berhasil menduduki Negara Kosala. Namun, ia merasa geram karena tak berhasil menangkap Raja Dighiti. Ia pun  mengeluarkan perintah: “Carilah Raja Dighiti serta permaisuri dan tangkap. Bila berhasil tertangkap, araklah berkeliling ibukota lalu penggal kepalanya, potong tubuhnya menjadi empat.”

Maka, mulai saat itu Raja Dighiti dan permaisuri menjadi buronan di mata para punggawa Raja Brahmadata.

***

Dalam penyamarannya, Raja Dighiti dan permaisuri hidup di dalam kesengsaraan  karena harus menyembunyikan diri dari mata-mata kerajaan. Mereka menyamar sebagai pertapa paribajika dan tinggal bersama seorang tukang gerabah di pinggiran Kota Baranasi.

Tak berapa lama kemudian, permaisuri mengandung. Kebiasaan perempuan hamil sering mempunyai keinginan yang aneh-aneh. Begitupun permaisuri Raja Dighiti. Namun, keinginan yang satu ini terasa amat berat bagi Raja Dighiti untuk memenuhinya.

“Baginda, beberapa keinginan jabang bayi yang saya kandung ini telah Baginda penuhi dengan baik. Namun, masih ada satu yang diinginkan kandungan saya ini”, kata permaisuri pada suatu hari.

“Apakah keinginanmu itu, Dewi? Katakanlah. Tentu kanda akan memenuhinya.”

“Pada suatu pagi yang cerah, saya ingin menyaksikan olah krida pasukan tentara di medan laga dan meminum air cucian pedang perang. Alangkah inginnya hamba menyaksikan gerak pasukan di medan laga. Dan alangkah dahaganya hamba hendak meminum air cucian pedang perang. Saya mohon kanda sudi memenuhi keinginan hamba yang juga merupakan kehendak jabang bayi yang hamba kandung ini.”

Mendengar keinginan permaisurinya itu, Raja Dighiti terperangah dibuatnya.

“Dewi, kita sekarang tidak lagi tinggal di istana. Kanda bukan lagi seorang raja yang bertahta di singgasana kerajaan. Dan dinda pun tidak lagi duduk mendampingi kanda di singgasana. Kanda tidak lagi mempunyai pengawal apalagi pasukan tentara. Lalu, bagaimana pula kanda bisa menggelar olah krida pasukan walau sekedar hanya latihan? Dewi, renungkanlah. Kita tidak mempunyai pasukan lagi.”

Kemudian, lama mereka sama-sama terdiam.

Sebenarnya, permaisuri tahu dan sadar bahwa mereka tidak lagi mempunyai kekuasaan dan tentara. Namun, pengaruh dan ulah jabang bayi di dalam kandungannya itu tak bisa mengerti. Akhirnya, permaisuri hanya bisa menggumam:

“Kalau hamba tak bisa menyaksikan gelar pasukan dan meminum air cucian pedang perang, kiranya hamba akan mati karenanya…”

Kata-kata permaisuri ini membuat Raja Dighiti memeras otak dan berpikir, cara bagaimana ia bisa memenuhi permintaan permaisurinya yang dirasanya mustahil bisa terpenuhi itu.

Ia teringat sahabatnya di masa kanak-kanak. Seorang brahmana yang bijaksana, yang kini menjadi purohita (penasihat) Raja Brahmadata, musuhnya. Kiranya, ia akan terpaksa meminta pertolongan sahabatnya itu. Paling tidak meminta nasihatnya. Tapi, dengan begitu, apakah tidak akan membahayakan dirinya serta permaisuri? Apa yang terjadi bila sahabatnya itu berbalik memusuhinya?

Namun, rasanya tak ada seorang pun yang layak dipercaya selain sahabatnya itu. Terpaksa ia akan menemui sahabatnya itu secara sembunyi-sembunyi. Maka, di suatu malam yang kelam, Raja Dighiti pergi ke ibukota Baranasi dan menyelinap masuk ke puri Brahmana Purohita.

“Saya terpaksa datang menemui anda secara sembunyi-sembunyi begini guna meminta bantuan anda. Namun, saya khawatir anda berkeberatan untuk bertemu dengan saya”, kata Raja Dighiti segera setelah berjumpa dengan sahabatnya itu.

“Baginda Dighiti, sahabatku. Kita pernah berikrar untuk menjadi sahabat saat kita masih kanak-kanak. Bagaimana pula saya bisa menganggap Baginda sebagai musuh walau kita berada di pihak yang berbeda? Katakanlah, sahabatku. Apa yang perlu saya bantu, sejauh saya mampu membantunya.”

“Brahmana, sahabatku. Saat ini permaisuri saya sedang mengandung. Dan ia mempunyai keinginan yang teramat aneh, yaitu ingin menyaksikan gelar pasukan di medan laga dan ingin meminum air cucian pedang perang. Lalu, bagaimana saya bisa memenuhi keinginannya itu karena saya bukan lagi seorang raja. Sahabatku, untuk itulah saya datang menemui anda. Saya ingin meminta bantuan dan nasihat anda.”

Setelah merenung sejenak, Brahmana Purohita berkata: “Baginda, saya ingin bertemu dan melihat permaisuri agar saya bisa memastikan pertolongan apa yang harus saya lakukan.”

Keesokan malamnya, kembali Raja Dighiti pergi menemui Brahmana Purohita bersama permaisurinya. Begitu Brahmana purohita melihat permaisuri dan kandungannya, mata Brahmana bersinar cerah dan kemudian berkata : “Baginda, calon penguasa Kerajaan Kosala telah bersemayam di dalam kandungan permaisuri. Keinginan permaisuri akan terpenuhi. Jangan khawatir, saya akan mencari cara untuk itu.”

Keesokan harinya, Brahmana Purohita menghadap Raja Brahmadata dan berkata: “Baginda, menurut perhitungan saya, esok hari adalah hari yang baik untuk melatih pasukan kerajaan di medan laga dan mencuci pedang perang.”

Raja pun mengeluarkan perintah: “Wahai para Senapati, kerjakan apa yang dikatakan Brahmana!”

Singkat cerita, maka terpenuhilah keinginan permaisuri Raja Dighiti berkat seorang sahabat yang bijaksana dan waskita. Permaisuri melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dighavu Kumara. Walau di dalam kesederhanaan hidup, Dighavu Kumara berkembang dan tumbuh sehat dan sempurna.

Semakin tumbuh dan berkembang, Dighavu semakin mempunyai karisma yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan dan cerdas. Mempunyai kepribadian yang menonjol dan mempunyai banyak kelebihan di antara remaja lainnya. Hal ini membuat hati Raja Dighiti semakin resah dan khawatir penyamarannya akan terbongkar oleh mata-mata kerajaan. Bila hal itu terjadi, tentu mereka bertiga akan dibunuh oleh Raja Brahmadata. Karenanya, Raja Dighiti lalu mengirim Dighavu keluar kota dan tinggal di sana guna menuntut ilmu di suatu perguruan.

Raja Dighiti berpikir, kalaupun penyamarannya terbongkar, Dighavu akan selamat dari jangkauan tangan-tangan kerajaan. Benar saja. Pada suatu hari, bekas tukang potong rambut Raja Dighiti yang kini berbalik menjadi abdi setia Raja Brahmadata, mengenali Raja Dighiti yang sedang menyamar sebagai pertapa paribbajaka. Ia pun melapor pada Raja Brahmadata dengan harapan akan mendapat hadiah yang besar dari Raja.

“Baginda, hamba melihat Raja Dighiti menyamar sebagai seorang pertapa paribbajaka dan tinggal bersama seorang tukang gerabah di pinggiran Kota Baranasi ini.”

Mendengar itu Raja Brahmadata segera memanggil pengawalnya. “Pengawal, tangkap Raja Dighiti dan permaisurinya. Cepat…!”

Pengawal pun segera berangkat diiringi oleh tukang potong rambut sebagai penunjuk jalan. Dengan tidak mengalami kesulitan apapun, Raja Dighiti dan permaisurinya berhasil ditangkap dan dihadapkan pada Raja Brahmadata.

Setelah yakin bahwa yang tertangkap itu benar-benar asli Raja Dighiti serta permaisurinya, Raja Brahmadata pun menjatuhkan hukuman terhadap Raja Dighiti.

“Ikat dengan erat keduanya. Lalu, arak mereka berkeliling ibukota dengan diiringi tetabuhan yang hingar-bingar agar seluruh rakyat tahu bahwa musuh kerajaan telah tertangkap. Sesudah kalian arak keliling ibukota, bawa mereka ke lapangan kisas dan laksanakan hukuman pancung di sana.”

Raja Dighiti yang bijaksana namun tak berdaya serta permaisuri yang tak bersalah harus rela diikat erat-erat bagaikan penjahat, diarak oleh para prajurit diiringi tetabuhan yang hingar-bingar melalui jalan-jalan besar dan keluar masuk lorong-lorong kecil mengelilingi Kota Baranasi ditonton penduduk kota yang bersorak sorai.

Bersamaan dengan peristiwa itu, Dighavu sedang dalam perjalanan pulang guna menjenguk ayah bundanya yang telah cukup lama ditinggalkannya. Ia merasa heran mendengar suara tetabuhan yang amat hingar bingar yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia bertanya-tanya, ada apa gerangan? Maka, ia pun menuju ke tempat yang hingar-bingar itu. Namun, pemandangan yang ia saksikan membuat batinnya amat terkesiap. Dilihatnya ayah-bunda yang amat dicintanya, dalam keadaan terikat erat diarak bagaikan penjahat biadab. Darah seorang anak muda mana pula yang tidak akan mendidih menggelegak melihat pemandangan semacam itu.

Dengan segera ia berlari menuju ayah-bundanya yang sedang diarak dan disoraki ramai-ramai. Ia bermaksud membebaskan keduanya dan akan menghajar orang-orang itu yang berani-beraninya menganiaya dan akan mencelakai kedua orang tuanya.

Namun, Raja Dighiti yang melihat Dighavu hendak mendekat, tiba-tiba mencegah dengan berteriak:

“DIGHAVUUUU…, JANGAN MELIHAT SUATU PERSOALAN PANJANG ATAU PENDEK. DENDAM TAK AKAN PADAM OLEH DENDAM. PERASAAN DENDAM HANYA AKAN PADAM OLEH PERASAAN TIDAK MENDENDAM.DAM.DAM.DAM…”

Tiga kali Raja Dighiti berteriak demikian.

Mendengar itu Dighavu menahan langkahnya. Ia merenungkan kata-kata ayahandanya itu. Ia tahu ayahandanya adalah seorang bijaksana dan sabar. Kini, beliau dalam keadaan bahaya dan maut akan segera tiba. Namun, beliau tetap mengajarkan kebijaksanaan dan kesabaran. Alangkah mulianya hati ayah-bundanya itu. Ucapan itu merupakan pelajaran yang amat sulit dimengerti dan dilaksanakan.

Dighavu berusaha mengerahkan kekuatan kebijaksanaan agar mampu menerima dan mengerti pelajaran tingkat tinggi yang belum pernah didapatkan selama ini. Membiarkan kedua orangtuanya disiksa dan dibunuh, karena dendam tak akan padam oleh dendam. Dighavu adalah pewaris kebijaksanaan Raja Dighiti!

Sementara prajurit-prajurit yang bodoh itu berkata sesamanya: “Raja Dighiti telah menjadi gila karena kelaparan, kehausan, kepanasan dan keputus-asaan. Ia berteriak-teriak dan memanggil nama Dighavu. Siapa pula Dighavu itu ha,ha,ha…”

“Kami berdua tidak gila, pengawal. Orang bijaksana akan mengerti maknanya”, jawab Raja Dighiti yang tetap tabah menghadapi penderitaan yang berat itu.

Arak-arakan itu berlangsung dari pagi, siang yang terik hingga menjelang senja, barulah kedua narapidana itu dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman pancung.

Raja Dighiti dan permaisuri menerima hukum pancung dengan tegar. Tubuh mereka dipenggal menjadi empat dan diletakkan di dalam empat lubang yang dibuat sesuai dengan mata angin, dijaga oleh beberapa prajurit.

Malam harinya, Dighavu mendatangi penjaga dengan membawa sura (minuman beralkohol). Dijamunya para penjaga itu hingga mereka mabuk berat dan tertidur dibuatnya. Setelah para penjaga tertidur karena mabuk, Dighavu pun dengan cepat menyiapkan kayu bakar guna melaksanakan pembakaran jenazah ayah-bundanya secara sederhana dan layak.

Saat ia sedang melakukan penghormatan akhir terhadap jenazah ayah-bundanya dengan berjalan merangkapkan kedua tangan ber-anjali mengelilingi tempat pembakaran sebanyak tiga kali, Raja Brahmadata yang sedang duduk di tingkat atas istananya melihat hal itu.

“Ooooo… Orang itu pasti sanak atau saudaranya Raja Dighiti. Wah, bisa gawat ini! Sungguh menakutkan! Ia pasti akan menuntut balas. Mengapa tak ada seorang pun yang melapor bahwa Raja Dighiti masih mempunyai sanak saudara. Why? How could it be?” Hatinya mulai dihantui perasaan takut dan cemas akan pembalasan dendam dari orang itu.

Setelah menyelesaikan pembakaran jenazah ayah-bundanya, Dighavu segera menghindar dari ibukota dan masuk ke dalam hutan. Di sana ia melampiaskan kesedihan dengan menangis meraung sepuas-puasnya. Air matanya serasa tak mau berhenti mengalir. Terkenang oleh kasih-sayang, cinta-kasih dan perhatian yang dicurahkan kedua orangtuanya dalam membesarkan, merawat dan mendidik dirinya. Koq tega-teganya menyiksa orang tua sebaik itu.

Hari ini ia harus menyaksikan derita dan siksa yang dialami beliau berdua dengan mata kepala sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya ia membalas dendam pada pembunuh ayah bunda nya tercinta. Ingin rasanya ia meradang, menerjang, mengoyak-ngoyak tubuh Raja Brahmadata yang menyebabkan ayah-bundanya tewas dengan mengenaskan. Namun, ia teringat kembali kata-kata wasiat ayahandanya. Ia harus mengatur rencana. Langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Rencana yang harus rapi serapi-rapinya. Kalau tidak, sia-sialah pengorbanan ayahandanya.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia pun pergi ke Ibukota Baranasi, menuju ke arah kandang gajah kerajaan. Di sana ia menemui seorang hatthacariya (guru kesenian kerajinan tangan) yang tinggal berdekatan dengan istana dan kandang gajah kerajaan.

“Bapak, saya ingin belajar ilmu kesenian kerajinan tangan. Bolehkah saya belajar dari Bapak ?”

Hatthacariya itu merasa senang melihat penampilan dan sopan-santun anak muda (kumara) di hadapannya.

Kumara (anak muda), belajarlah apa yang kau kehendaki.” katanya.

Maka, sejak saat itu Dighavu tinggal bersama gurunya tak jauh dari istana.

Pada suatu malam menjelang subuh, langit cerah bertaburan bintang, ia bangun dari tidurnya. Ia keluar kamar sambil membawa bin (kecapi) yang selama ini selalu menemaninya di kala kesepian. Ia memetik bin sambil mengumandangkan bait demi bait yang amat merdu didengar. Ia memang amat piawai memetik bin seraya bernyanyi.

Saat itu Raja Brahmadata yang mulai membuka mata di peraduannya, terpesona mendengar kidung merdu yang disenandungkan oleh Dighavu dengan segenap perasaan.  Semakin lama, senandung dan petikan kecapi semakin merasuk sukma sang raja. Semangatnya serasa dibetot-betot seiring denting kecapi. Sang Raja amat tertarik karena ia belum pernah mendengar perpaduan petikan kecapi dan lagu yang begitu harmonisnya. Permainan yang tiada tanding tiada banding di seantero kerajaan.

Keesokan harinya ia memanggil abdi dalemnya. “Siapakah yang memetik bin serta bernyanyi semalam menjelang pagi?”

“Seorang pemuda murid Hatthacariya (guru kesenian kerajinan tangan) yang tinggal di dekat kandang gajah istana, Baginda.” jawab pengawal.

“Panggil dia dan suruh menghadap sambil membawa kecapinya”

Maka tak lama kemudian, muncullah seorang pemuda yang gagah, tampan dan santun. Sang Raja tambah tertarik.

“Kumara, kaukah yang memetik bin dan berkidung tadi malam?”

“Benar, Baginda”, jawab Sang Kumara.

“Sungguh bagus permainan bin dan lagu yang engkau nyanyikan, Kumara. Coba mainkan sekali lagi untukku.”

Dengan mengeluarkan seluruh keahliannya, Dighavu memainkan bin dan berkidung, disaksikan Raja yang seperti orang terhipnotis mendengar dan menikmatinya. Sang Raja benar-benar terbuai sampai merem melek.

“Kumara, aku minta kau bekerja padaku. Keberatankah engkau?” tanya sang Raja setelah Dighavu menyelesaikan permainannya.

“Saya tak berkeberatan, Baginda”, jawab Dighavu, karena memang itulah yang diharapkannya. Ibarat kata, pucuk dicinta ulam tiba.

Dighavu amat pandai mengambil hati dan menarik perhatian Raja. Setiap malam ia memetik bin dan berkidung menghibur Raja. Dalam waktu singkat, Dighavu segera menjadi menjadi orang penting di sana. Ia bisa keluar masuk istana kapanpun ia suka. Semakin lama, Raja semakin senang pada Dighavu. Tak lama berselang, ia pun diangkat menjadi asisten pribadi dan menjadi orang kepercayaan Raja.

Pada suatu hari, Raja ingin mengadakan perburuan binatang. “Kumara, perintahkan pada pengawal dan siapkan kereta untuk kita. Kita akan menghibur diri dengan berburu binatang di hutan.”

“Baik, Baginda”, jawab Dighavu yang segera melaksanakan perintah Raja.

Raja Brahmadata amat asyik menikmati peburuan kala itu, hingga ia tak sadar ketika Dighavu mengarahkan kereta mereka memisahkan diri dari rombongan pengawal, jauh masuk ke hutan yang amat lebat.

“Kumara, hentikan kereta. Rasanya perjalanan kita amat jauh. Aku merasa letih dan mengantuk. Kita beristirahat dahulu di sini.”

“Baik, Baginda”, kata Dighavu sambil menghentikan kereta.

Karena perasaan letih yang teramat sangat, tak lama kemudian Raja Brahmadata pun segera tertidur pulas. Sementara Dighavu duduk ber samadhi di bawah naungan sebuah pohon yang rindang.

Tiba-tiba terbersit pikiran dendam kesumat melintas di benaknya, “Raja Brahmadata inilah yang membuat ayah-bundaku menderita dan tewas menggenaskan setelah merampas seluruh harta dan kekayaan kami sebelumnya. Alangkah jahat dan kejinya orang ini. Kini, aku berhadapan langsung dengan musuh besar yang layak aku bunuh.”

Dighavu lalu menghunus pedang dan menghampiri sang Raja yang sedang tertidur pulas. Ia telah siap menebaskan pedang ke leher Sang Raja, ketika tiba-tiba terdengar gema suara ayahandanya di antara pepohonan :

“DIGHAVU-VU-VU…, JANGAN MELIHAT SUATU PERSOALAN PANJANG ATAU PENDEK.
DENDAM TAK AKAN PADAM OLEH DENDAM. PERASAAN DENDAM HANYA AKAN PADAM OLEH PERASAAN TIDAK MENDENDAM-DAM-DAM-DAM…”

Beberapa kali ia merenungkan hal ini. Ia termangu sejenak, dan akhirnya memasukkan kembali pedang ke sarungnya.

“Ayahandaku yang berhati mulia, sabar dan bijaksana. Hanya dengan mewarisi kemuliaan, kebijaksanaan dan kesabaran beliaulah, aku baru dapat dikatakan menghormati dan berbakti kepada beliau.”

Pewaris itu telah menerima hartanya yang termulia! Iapun beranjali menghormat ayah-bundanya.

Bertepatan dengan itu pula, tiba-tiba Raja Brahmadata terbangun dengan napas tersengal-sengal seolah-olah mengalami ketakutan yang amat sangat.

“Baginda, apa yang terjadi? Baginda kelihatan amat ketakutan”, tanya Dighavu.

“Kumara, dalam tidurku aku bermimpi. Mimpi yang amat menakutkan. Seorang anak muda, putra Raja Dighiti, bernama Dighavu telah menangkapku dan hendak menebaskan pedangnya ke leherku. Itulah yang membuatku terbangun dan ketakutan”, kata Sang Raja sambil mengatur napas yang masih tersengal-sengal.

Tiba-tiba Dighavu bangkit, menangkap kepala Raja Brahmadata serta menghunus pedangnya.

“RAJA BRAHMADATA, AKULAH Pangeran Dighavu, putra Raja Dighiti yang telah kau bunuh. Tidakkah layak bagimu bila sekarang aku membunuhmu ?”

Perasaan takut mati tiba-tiba saja memuncak di batin Raja Brahmadata. Ia sama sekali tak menyangka ajalnya akan tiba secepat ini. Orang yang biasanya ditakuti dimana-mana. Sungguh tragis akan berakhir seperti ini. Tanpa berpikir panjang ia pun segera menyembah-nyembah pada Dighavu Kumara.

“Pangeran Dighavu, aku mohon ampunilah aku. Jangan bunuh aku. Akan aku berikan apa pun yang kau minta. Berilah aku kehidupan.”

“Raja Brahmadata, kaulah yang seharusnya memberi kehidupan kepada saya. Bukan saya yang harus memberi kehidupan pada Baginda.”

“Baiklah, Pangeran Dighavu. Aku akan memberi kehidupan padamu dan kau pun memberi kehidupan padaku. Kita saling memberi kehidupan.”

“Anda adalah seorang bijaksana, Baginda. Kita telah saling memberi kehidupan. Berarti tak ada dendam lagi di antara kita. Kita telah bersahabat dan bersaudara.”

Kemudian, keduanya berangkulan dengan hangatnya. Api dendam telah padam oleh perasaan tidak mendendam.

“Baiklah, Dighavu. Kini tiba saatnya kita pulang ke istana”, ajak sang Raja kemudian.

Sesampai di istana Raja Brahamadata segera mengumpulkan para punggawa dan senapati.

“Wahai, para senapati. Seandainya kalian bertemu dengan Pangeran Dighavu, putra Raja Dighiti, apa yang akan kalian lakukan?”, tanya Raja Brahmadata pada para senapatinya.

“Tentu akan kami tangkap, Baginda. Akan kami ikat dengan erat. Kami potong kakinya, kami potong tangannya, telinganya, hidungnya. Dan akhirnya kami penggal kepalanya karena ia adalah musuh kerajaan”, jawab para senapati bersemangat.

“Senapati, pemuda yang selama ini menjadi kepercayaanku dan kini duduk di sampingku inilah Pangeran Dighavu, putra Raja Dighiti. Tapi, tak seorang pun boleh menyentuhnya apalagi membunuhnya. Ia telah memberi kehidupan padaku dan aku pun telah memberi kehidupan padanya. Kami telah saling memberi kehidupan. Kami akan saling menjaga satu sama lain. Beliau akan bertahta di Kerajaan Kosala sebagai pewaris ayahandanya.”

Dan, Pangeran Dighavu pun kemudian bertahta sebagai Raja Kosala mengantikan Raja Dighiti, ayahandanya. Hidup tenteram, damai bertetangga dengan Kerajaan Kasi yang diperintah oleh Raja Brahmadata.

Setelah selesai menceritakan kisah tersebut, Sang Buddha berkata pada para bhikkhu itu :

“Wahai, para bhikkhu, khanti (kesabaran), soracca (rendah hati dan lemah lembut) telah tumbuh dengan baik di dalam batin para raja yang penuh dengan kekuasaan dan kekuatan senjata. Mereka mampu memadamkan dendam dengan perasaan tidak mendendam. Karenanya, kalian sebagai bhikkhu yang telah upasampada di dalam Buddha Sasana yang telah Tathagata babarkan, hendaknya mempunyai kesabaran, rendah hati dan keheningan batin agar Dhamma-Vinaya ini selalu indah. Maka, sudahilah pertengkaran kalian dan janganlah saling mendendam”.

Sang Buddha melanjutkan nasihat-Nya berulang kali.

Namun, kelompok bhikkhu adhammavadi itu menjawab nasihat-nasihat Sang Buddha dengan kata-kata yang melawan, berulang kali pula:

“Sang Bhagava adalah pemilik Dhamma. Silakan Sang Tahtagata berdiam dalam kebahagiaan Dhamma. Sedangkan kami akan tetap berselisih dan bertengkar dalam menyelesaikan persoalan kami ini.”

Sang Buddha pun berpikir: “Kelompok bhikkhu ini memang benar-benar keras kepala. Amat sulit untuk diberi pengertian. Benar-benar sebagai manusia yang tak berguna (mogha purisa).”

Kemudian, Sang Buddha bangkit dari duduknya dan meninggalkan kelompok bhikkhu yang keras kepala itu.*** (Hananto)

[Samma Ditthi, edisi 3, Apr 2001, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: