Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dhamma Sebagai Jalan Hidup (3)

Posted by chanyan pada 2010/05/18

G. MAGGA (8)

Secara umum Magga berarti jalan. Namun, di sini yang dimaksud Magga adalah jalan mulia yang membawa kita kepada tujuan mulia pula. Jalan atau cara menuju kemuliaan tersebut, bila diuraikan secara lebih rinci dan luas, mempunyai 37 (tiga puluh tujuh) unsur Dhamma, yaitu yang tercantum di dalam Bodhipakkhiyadhamma. Delapan unsur Magga [yang termasuk di dalam uraian rinci] tersebut merupakan uraian yang lebih ringkas. Bila delapan unsur Magga tersebut diringkas lagi, akan menjadi Tisikkhā yang hanya mempunyai 3 (tiga) unsur, yaitu: sīla, samādhi dan paññā.

Selanjutnya akan diuraikan tentang 8 (delapan) unsur Magga dan juga hubungannya dengan Tisikkhā.

  1. Sammā-diṭṭhi            : pandangan benar.
  2. Sammā-saṅkappo  : pikiran benar.
  3. Sammā-vācā            : ucapan benar.
  4. Sammā-kammanto : perbuatan benar.
  5. Sammā-ājivo            : mata pencaharian benar.
  6. Sammā-vāyāmo      : usaha benar.
  7. Sammā-sati              : penyadaran benar.
  8. Sammā-samādhi     : perhatian terpusat [konsentrasi] benar.
  • Sammādiṭṭhi dan sammāsaṅkappo merupakan kelompok paññā (kebijaksanaan).
  • Sammāvācā, sammākammanta dan sammā-ājīva merupakan kelompok sīla (kedisiplinan).
  • Sammāvāyāma, sammāsati dan sammāsamādhi merupakan kelompok samādhi [konsentrasi benar yang membuat batin tenang].

Sīla, samādhi dan paññā disebut pula Tisikkhā yang berarti tiga hal yang harus dipelajari atau dilatih.

Seseorang yang dengan baik dan tekun melaksanakan tiga latihan ini, akan mampu membuat dirinya mencapai tujuan mulia yang menjadi dambaan setiap umat Buddha.

Sila, samādhi, paññā menjadi penyebab bersihnya batin seseorang dari āsava, sesuai dengan kata Sang Buddha:

“Sīla paribhāvito samādhi mahāpphalo hoti mahānisaṁso, samādhi paribhāvita paññā mahāpphala hoti mahānisaṁsa, paññā paribhāvitaṁ cittaṁ sammādeva āsavehi vimmuccati”.

[Samādhi yang dikembangkan dan didukung oleh sīla akan mencapai hasil yang besar dan kokoh, paññā yang dikembangkan dan didukung oleh samādhi akan mencapai hasil yang besar dan tajam, batin yang dikembangkan dan didukung oleh paññā akan mampu membebaskan diri dari āsava (kekotoran batin)].

Hal ini menunjukkan pada kita, bahwa seseorang haruslah melaksanakan sīla dengan baik untuk bisa mencapai sammāsamādhi yang kokoh.

Hanya dengan landasan sammāsamādhi yang kokoh seseorang bisa / mampu mengadakan perenungan yang baik untuk mendapatkan paññā yang baik dan tajam. Dan paññā yang baik dan tajam inilah yang mampu membebaskan batin dari kungkungan āsava (kekotoran batin). Tanpa melalui proses yang benar ini, tak mungkin batin menjadi bersih.

Kata-kata sīla, samādhi dan paññā ini telah muncul sejak Sang Buddha mengajarkannya dua ribu tahun lebih yang lalu. Namun, kiranya terdengar kurang merdu dan mengesankan bagi kebanyakan umat Buddha. Mereka terbiasa mengucapkan sīla, samādhi, paññā tapi dalam prakteknya mereka cenderung memotong-motong dan memisah-misahkan ketiganya. Padahal ketiganya tidak boleh dipotong-potong dan dipisah-pisahkan bila ingin mendapatkan hasil yang baik. Karena ketiganya merupakan satu kesatuan.

Mereka banyak yang mengabaikan unsur sīla (kedisiplinan) dan samādhi (ketenangan batin, konsentrasi), karena hanya terkesan pada kalimat: “Paññā paribhavitaṁ cittaṁ samadeva āsavehi vimuccati”. [Batin yang dikembangkan dan didukung oleh panna akan mampu terbebas dari āsava (kekotoran batin)].

Maka bermunculanlah jenis-jenis ‘meditasi vipassanā’ yang mengacu atau mengutamakan pengembangan paññā tanpa mengembangkan sīla dan samādhi yang kokoh. Kalaupun ada usaha untuk mengembangkan sīla dan samādhi, hanya dikerjakan secara asal-asalan atau sepintas lalu. Kesemuanya itu disebabkan oleh adanya taṇhā, ingin segera mencapai kesucian tanpa mau bersusah payah. Suatu hal yang tak mungkin membawa hasil seperti yang diharapkan!

PAÑÑĀ KHANDHA (Kelompok Paññā)

Di dalam Tisikkhā, sīla disebut lebih dahulu. Namun di dalam Magga berunsur delapan, paññā disebut lebih dahulu. Maka di sini akan diuraikan tentang kelompok paññā [sammādiṭṭhi dan sammāsaṅkappa] terlebih dahulu dan yang lain akan menyusul.

Sammādiṭṭhi berarti pandangan benar atau berpandangan secara benar. Sammādiṭṭhi mempunyai 4 (empat) unsur:

  1. Dukkha ñāṇaṁ                                                        : tahu tentang adanya dukkha.
  2. Dukkha samudaye ñāṇaṁ                                    : tahu penyebab munculnya dukkha.
  3. Dukkha nirodha ñāṇaṁ                                         : tahu tentang padamnya dukkha.
  4. Dukkha nirodha gāminiyā paṭipadāya ñāṇaṁ : tahu tentang paṭipadā (jalan / cara) menuju padamnya dukkha.

Kata diṭṭhi berarti pandangan. Ñāṇaṁ berarti tahu (mempunyai pengetahuan). Diṭṭhi merupakan ciri / gejala dari ñāṇaṁ. Ñāṇaṁ  merupakan ekspresi dari diṭṭhi.

Keempat unsur Dhamma tersebut di atas merupakan sifat dari ñāṇaṁ, disebut pula cattāri-ariya-saccāni (empat kesunyataan mulia). Bila seseorang mempunyai pengetahuan tentang empat kebenaran / kesunyataan Dhamma tersebut dan tahu dengan jelas sesuai dengan kebenaran, maka orang tersebut dikatakan mempunyai pandangan yang benar [ sammādiṭṭhi ].

Sammāsaṅkappa berarti pikiran benar atau berpikir secara benar.

Sammāsaṅkappa mempunyai 3 (tiga) unsur:

  1. Nekkhama saṅkappa : berpikir tentang nekkhama, yaitu menjauhkan diri dari pikiran yang tidak bersih (nafsu inderawi).
  2. Abyāpāda saṅkappa  : berpikir menjauhi kemarahan.
  3. Avihiṁsā saṅkappa    : berpikir menjauhi kejahatan dan kekerasan.

Cara berpikir di dalam 3 (tiga) unsur Dhamma ini disebut sebagai berpikir secara benar, sesuai dengan pandangan yang benar. Karenanya juga disebut sammādiṭṭhi.

Seperti yang telah pernah diterangkan, bahwa semua unsur Dhamma selalu berhubungan dan saling mendukung satu sama yang lain. Dhamma merupakan satu kesatuan. Begitupun dengan 8 (delapan) unsur Dhamma di dalam Ariya Magga ini. Pengertian yang benar ini harus dipahami atau ditanamkan sejak awal. Pengertian yang benar sejak awal akan mendukung dan menjamin pengertian yang benar selanjutnya terhadap Dhamma.

Pengertian atau kebijaksanaan disebut pula paññā. Paññā ada 2 (dua) macam, yaitu:

  1. Lokiya paññā       : paññā tingkat duniawi.
  2. Lokuttara paññā : paññā tingkat luar duniawi.

Dan masing-masing mempunyai 2 (dua) tingkat pula.

  1. Saññā  paññā : paññā yang muncul disebabkan oleh ingatan.
  2. Ñāṇa  paññā   : paññā yang muncul disebabkan oleh pengetahuan.

Saññā paññā muncul karena mendengar atau belajar dengan baik hingga tertanam dalam ingatan (saññā). Karenanya, disebut pula suta maya paññā.

Ñāṇa paññā  muncul karena perenungan atau penganalisaan terhadap vijjā (ilmu pengetahuan) dan melaksanakannya dengan baik dan benar sehingga muncul sebagai paññā (kebijaksanaan) dan ñāṇa (pengetahuan). Karenanya, disebut pula bhāvanā maya paññā.

Mano gati (ide) yang dipelajari, dipraktekkan dan dikembangkan [bahkan mungkin menghasilkan penemuan-penemuan baru] melalui tahap saññā paññā dan ñāṇa paññā merupakan lokiya paññā pada tingkat yang masih kasar (awal). Kekuatan batin / pikiran yang diperlukan adalah khaṇika samādhi.

Lokiya paññā tingkat tinggi dan halus adalah pencapaian jhāna [appanā samādhi]. Jhāna merupakan ñāṇa paññā tingkat duniawi sebagai syarat untuk mencapai lokuttara paññā, sesuai dengan kata Sang Buddha:

“Natthi jhānaṁ apaññāssa, natthi paññā ajhāniyoyamhi, jhānanca paññānca nibbānasseva santike”.

[Jhāna tak akan terdapat pada orang yang tak mempunyai paññā, paññā tak akan terdapat pada orang yang tak mempunyai jhāna, bila jhāna dan paññā terdapat pada seseorang, maka dikatakan ia telah dekat dengan nibbāna].

Hal itu menunjukkan pada kita bahwa paññā muncul karena adanya dukungan perhatian dan konsentrasi terpusat yang kuat. Tanpa perhatian dan konsentrasi terpusat yang kuat [jhāna], paññā tak akan muncul dan berkembang. Begitupun, jhāna tak akan muncul dan berkembang bila seseorang tak mempunyai paññā yang kuat dan memadai. Keduanya saling bergantungan dan berkembang sesuai dengan tahapannya.

Jhāna (konsentrasi terpusat yang kuat) bisa menghasilkan kekuatan batin yang melebihi manusia biasa, misalnya:

  1. Iddhividhi                              : mempunyai kesaktian.
  2. Dibbasota                              : mempunyai telinga dewa.
  3. Cettopariyañāṇaṁ              : mampu membaca pikiran orang lain.
  4. Pubbenivāsānusatiñāṇaṁ : mampu mengetahui kehidupan lampau.
  5. Dibbacakkhu                         : mempunyai mata dewa.

Selain pencapaian 5 (lima) kekuatan batin ( abhiññā ) tersebut, dengan landasan perhatian terpusat serta penganalisaan, akan muncul vipassanāñāṇa, yaitu mengetahui dengan benar dan terang tentang segala sesuatu yang berkondisi [ saṅkhāra ]. Vipassanāñāṇa inilah yang membuat batin tak lagi terbelenggu oleh keterikatan ( upadāna ) dan tentu saja membuat batin bersih, suci, bebas dari kilesa. Pengetahuan itu disebut āsavakkhayañāṇa. 5 (lima) jenis abhiññā terdahulu, disebut sebagai kesaktian tingkat duniawi. Dan jenis yang terakhir, yaitu āsavakkhayañāṇa, disebut sebagai kesaktian tingkat lokuttara.

Pengetahuan yang telah dikuasai dan berhasil membuat batin seseorang bersih, terbebas dari kilesa, merupakan satu-satunya ñāṇapaññā tingkat lokuttara. Tidak banyak orang yang mampu menguasai ñāṇapaññā jenis ini. Sedangkan saññāpaññā lokuttara, baru merupakan ingatan pada disiplin ilmu Dhamma yang bisa mengantar pada ñāṇapaññā lokuttara. Banyak orang yang mampu memiliki (mengingat) disiplin ilmu jenis ini. Tapi kebanyakan dari mereka merasa sulit dan berat untuk mewujudkan ilmu tersebut menjadi suatu kenyataan, yaitu menjadi ñāṇapaññā lokuttara. Akibatnya,  mereka terhenti pada tingkat lokiya sama dengan saññāpaññā lokiya yang biasa dipunyai oleh sarjana-sarjana, ilmuwan-ilmuwan duniawi lainnya. Hanya orang-orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, serta berusaha dengan semangat (viriya), kesabaran (khanti) yang didukung oleh keyakinan (saddhā) yang tinggi pula, yang mungkin mampu mencapai ñāṇapaññā lokuttara.

Bila ditinjau dari segi vijjā (ilmu) yang muncul dari paññā, ada 3 (tiga) jenis, yaitu:

  1. Pubbenivāsañāṇa   : mengetahui kehidupan-kehidupan lampau.
  2. Cutūpapātañāṇa     : mengetahui kematian dan kelahiran (tumimbal lahir) makhluk-makhluk sesuai dengan kammanya.
  3. Āsavakkhayañāṇa : mengetahui cara dan saat melenyapkan āsava (kekotoran batin).

Perbedaan antara lokiya paññā dan lokuttara paññā.

3 (tiga) karakter Dhamma yang tetap berlaku di dunia ini adalah:

  1. Sabbe saṅkhāra aniccā   : segala sesuatu yang berkondisi adalah labil.
  2. Sabbe saṅkhāra dukkhā : segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha.
  3. Sabbe dhammā anattā    : semua jenis dhamma adalah anattā (tanpa inti / roh).

Di dalam Dhammaniyama Sūtta, Sang Buddha menyatakan, bahwa seorang Buddha muncul atau tidak, keberadaan unsur dhamma ( dhammadhātu ) serta karakter-karakternya tetap berlangsung. Unsur dhamma (dhammadhātu) itu tak akan diketahui bila tak seorang pun menyelidiki dan membuktikannya. Ia akan tetap menjadi suatu misteri bagi manusia.

Setelah Sang Buddha muncul, maka misteri itu terungkaplah. Hal itu terjadi karena Sang Buddha telah berhasil menyelidiki dan menganalisanya. Yathābhūtañāṇa dassana, mengetahui dan melihat sesuai dengan kenyataan, atau yaṁ ñāṇaṁ taṁ dassanaṁ, sesuai yang diketahui, begitupun yang dilihat atau ñāṇanca dassananca ñāṇadassanaṁ, tahu dan juga melihat, tidak hanya tahu. Itu merupakan cara yang lengkap dan sempurna, yang bisa mendapatkan hasil yang jelas, terang dan pasti. Ñāṇadassana merupakan suatu sarana pembuktian yang penting terhadap segala unsur dhamma. Bila tak ada kekuatan ñāṇadassana, tak seorang pun mampu menyingkap misteri dhamma.

Para ilmuwan modern melakukan percobaan-percobaan, penyelidikan-penyelidikan dan pembuktian-pembuktian di laboratorium modern, kemudian menyimpulkan sesuai dengan yang mereka temui, yaitu diakuinya hukum ketidak-kekalan. Segala sesuatu selalu berubah. Dan kemudian ada pula yang menyimpulkan bahwa segala sesuatu tanpa inti, yang berakhir dengan suatu kelenyapan [ suññaṁ ], seolah-olah sama dengan yang diajarkan oleh Sang Buddha. Namun, sebenarnya sama sekali tak sama dengan ajaran Sang Buddha. Suññata diṭṭhi, segala sesuatu akan lenyap (padam) semacam itu, bukannya ajaran anattā nya Sang Buddha. Karena lenyap atau padam menurut suññata diṭṭhi amatlah berbeda dengan lenyap (padam, tanpa diri) menurut pengertian anattā.

Menurut Buddha sāsanā, segala sesuatu [yang muncul] tentu ada penyebabnya. Bila penyebabnya padam, maka sesuatu itu pun padam. Kepadaman ini harus dimengerti dengan benar. Dikatakan nissato, bukanlah makhluk; nijjīvo, bukanlah roh; suñño, bukan apa-apa – harus dimengerti dengan benar.

‘Kepadaman’ itu tak akan terjadi, bila masih ada paṭisandhi viññāṇa [penyebab tumimbal lahir] yang keberadaannya disebabkan oleh avijjā dan taṅhā. Jadi, bila masih terdapat avijjā dan taṅhā [pada suatu makhluk], maka proses tumimbal lahir pun masih akan terjadi. Hal ini amat berbeda dengan pandangan suññata diṭṭhi dari sementara ilmuwan modern yang menyatakan bahwa sesudah kematian tak terdapat kehidupan lagi. Dunia (dimensi) lain tak ada, hanya satu kehidupan lalu lenyap.

Mereka telah beberapa kali mengadakan penyelidikan, penelitian dan pembuktian tentang viññāṇa, namun tak berhasil. Karenanya mereka berkesimpulan, bahwa ‘segala sesuatu’ akan padam, yang bila dilihat sepintas lalu akan sama dengan anattā.

Yang dimaksud dengan ‘segala sesuatu’ dalam Buddha sāsanā ada 2 (dua) macam.

  1. Saṅkhata dhamma   : segala sesuatu yang keberadaannya bergantung pada adanya penyebab [berkondisi].
  2. Asaṅkhata dhamma : [segala] sesuatu yang keberadaannya tidak berubah-ubah menurut kondisi.

Karena itu pula, anattā pun dibagi menjadi 2 (dua) macam menurut keberadaan kedua jenis dhamma tersebut di atas. Saṅkhata dhamma adalah anattā, asaṅkhata dhamma pun sebagai anattā. Yang dimaksud anattà di sini adalah tidak ada attā (diri, jiwa, roh, atman). Buddha sāsanā berpandangan, bahwa tidak ada attā (diri, roh, atman) pada segala sesuatu. Segala sesuatu hanyalah sekedar ada (berada).

Sang Buddha mengatakan:

“Yadaniccaṁ taṁ dukkhaṁ, yaṁ dukkhaṁ taṁ anattā, yadanattā taṁ netaṁ mama nesohamasmi na meso attāti”.

[Segala sesuatu yang tak kekal adalah dukkha, segala sesuatu yang bersifat dukkha adalah tanpa diri, mereka bukanlah milik kita, bukan kita, bukan diri kita].

Yang dimaksud adalah 3 (tiga) sifat umum dari segala sesuatu yang berkondisi, yaitu saṅkhāra dhamma: berubah-ubah, tidak kekal sesuai dengan penyebabnya.

Asaṅkhata dhamma, yang tidak berubah-ubah, tidak aniccaṁ dan tidak dukkhaṁ, tapi anattā. Walaupun tidak berubah-ubah dan tidak dukkha, tapi tetap dalam hukum anattā, yaitu bukanlah diri, roh ataupun atman.

Pengembangan batin di dalam Buddha sāsanā  ada 2 (dua) macam.

  1. Samatha bhāvanā : membuat batin  tenang, reda dari kegalauan.
  2. Vipassanā bhāvanā : membuat batin bijaksana [mengerti].

Kedua jenis pengembangan batin ini bertujuan untuk membuat batin terbebas, mencapai pengertian tentang aniccaṁ, dukkhaṁ dan anattā dari segala sesuatu.

Praktisi samatha bhāvanā hanya mampu mengetahui segala sesuatu adalah aniccaṁ (berubah-ubah) dan dukkhaṁ (menyedihkan karena tak mampu bertahan lama). Sementara anattā adalah sesuatu yang amat halus dan sulit dimengerti, hanya bisa dilihat secara kasar oleh mereka. Untuk mengerti anattā diperlukan paññā dan ñāṇa tingkat tinggi melalui vipassanā bhāvanā.

Seseorang yang melihat anattā dalam tingkat lokiya, sama dengan yang diketahui oleh praktisi vipassanā sebagai saṅkhārupekkhā ñāṇa, karena ia melihat dengan kekuatan ñāṇadassana. Ia mampu melihat dengan jelas dan jernih sifat saṅkhāra yang dukkha [memprihatinkan].

Manakala kekacauan dan kegalauan masih berlangsung, maka kekacauan dan kegalauan segala sesuatu yang berkondisi pun akan tetap berlangsung. Kekacauan ini tentu saja tak akan menghasilkan kebahagiaan. Namun, bagaimanapun, ketenangan berawal dari kekacauan, dengan munculnya pengertian yang benar tentang kekacauan itu sendiri. Dengan mengetahui kesunyataan tentang keadaan yang kacau ini, batin akan berhenti kacau lalu  berkonsentrasi serta mengadakan penganalisaan terhadapnya. Sejauh mana kekuatan konsentrasi berlangsung, sejauh itu pula kesunyataan akan muncul dan diketahui. Tiga sifat umum dari segala sesuatu yang selalu berubah, menyedihkan akan muncul secara bertahap. Berubah, menuju kepadaman. Bila seseorang menyaksikan kepadaman secara mutlak dengan ‘pengetahuan’nya, maka kebenaran (kesunyataan) tentang attā atau roh (diri, atman) akan dimengarti dan dipahami dengan jelas olehnya. Yaitu, tentang tidak adanya attā atau roh (diri, atman) pada segala sesuatu. Pengetahuan ini muncul berkat kekuatan ñāṇadassana dalam membuktikan proses kemunculan, kelangsungan dan kepadaman suatu objek yang ternyata tanpa attā atau roh (diri, atman). Namun, pengetahuan ini masih dikategorikan sebagai abhipaññā lokiya (paññā tingkat tinggi yang masih bersifat duniawi).

Telah diterangkan di atas bahwa, anattālakkhana terdapat pada kedua dhammadhātu, yaitu saṅkhata dhamma dan asaṅkhata dhamma. Kebenaran pada dhammadhātu jenis pertama telah terlihat jelas oleh seseorang yang telah mencapai abhipaññā lokiya. Namun, pengetahuan anattā pada dhammadhātu jenis kedua, yang merupakan dhātu yang amat halus serta luhur, hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang telah mencapai abhipaññā lokuttara. Dan untuk mempunyai pengetahuan tentang anattā tingkat lokutara ini, terlebih dahulu telah mencapai abhipaññā tingkat lokiya. Dengan kata lain, seseorang yang belum mencapai abhipaññā  tingkat lokiya, tak mungkin mampu mencapai abhipaññā tingkat lokuttara.

Dhammadhātu jenis pertama disebut juga saṅkhāra, yang berarti sesuatu yang berkondisi atau keberadaannya tergantung dari sesuatu yang lain. Dan dhammadhātu yang kedua disebut visaṅkhāra, yang berarti tak berkondisi atau keberadaannya tak tergantung oleh sesuatu yang lain. Saṅkhāra dan visaṅkhāra, attā dan anattā, anattā lokiya dan anattā lokuttara merupakan dua hal yang berpasangan. Ketiga pasangan tersebut mempunyai sisi yang saling menutup dan membuka. Pengetahuan tentang ketiga pasangan tersebut merupakan suatu misteri yang amat pelik dan menarik. Namun bukanlah sesuatu yang di luar jangkauan bagi orang-orang yang mempunyai semangat, kesungguhan dan kesabaran dalam mempelajari dan menyelidikinya.

Visaṅkhāra atau dengan nama lain asaṅkhata dhātu mempunyai sifat anattā jenis kedua, bisa diketahui atau dibuktikan dengan jelas dan terang dengan kekuatan ñāṇadassanavisuddhi, yaitu pengetahuan yang lengkap dan menyeluruh. Seseorang yang telah mencapai pengetahuan yang demikian, disebut ariya puggala, yang berarti seseorang yang telah terbebas dari musuh.

Ilmu dan pengetahuan ini merupakan milik pribadi yang tiada bandingannya. Diri sendirilah yang tahu dan menentukan bahwa dirinya telah mencapai ilmu / pengetahuan yang tertinggi ini. Ia tak memerlukan orang lain untuk memutuskan hal ini. Dan ia tak memerlukan pengakuan orang lain, maupun yang berupa ijazah atau sertifikat seperti ilmu-ilmu duniawi yang memerlukan ijazah atau sertifikat sebagai bentuk pengakuan dari orang lain yang dibangga-banggakan!

Anattā lokiya dan anattā lokuttara, dipandang dari sisi keadaan yang tak ada attā atau roh adalah sama, namun berbeda sifat dan gejalanya. Yaitu, anattā lokiya bersifat saṅkhāra (berubah-ubah) dan anattā lokuttara yang bersifat visaṅkhāra yang tak berubah-ubah. Bila seseorang berhasil menyelidiki / menganalisa saṅkhāra secara  tuntas, secara otomatis ia akan mengetahui sifat-sifat visaṅkhāra, sebab saṅkhāra merupakan sesuatu yang menutupi visaṅkhāra, bagaikan kulit pohon yang menutupi keberadaan kayu. Bila kulitnya terkelupas, maka kayu pun akan terlihat.

Selain kekuatan ñāṇadassana yang mampu membuat seseorang mengerti tentang visaṅkhāra, ada satu jenis ñāṇa (pengetahuan) lain yang mampu untuk itu, yaitu gotrabhuñāṇa, yang artinya pengetahuan yang telah mumpuni. Ia merupakan pengetahuan khusus. Bukanlah jenis lokiya, bukan pula jenis lokuttrara. Muncul di saat seseorang melakukan penyelidikan / penganalisaan yang matang dan mendekati kepastian. Ibarat seorang pemburu yang sedang membidikkan senapan pada sasaran. Ia merasa telah pasti bahwa bidikannya telah tepat, tapi ia belum menarik pelatuk senapannya. Tinggal menunggu saat yang tepat saja.

Gotrabhuñāṇa ini mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:

  • Saṅkhārupekkhāñāṇa, mengawasi dengan keseimbangan terhadap saṅkhāra.
  • Anulomikañāṇa, mengawasi sesuai dengan hukum sebab akibat yang muncul.
  • Upacāra, kekuatan pengawasan terhadap visaṅkhāra.
  • Gotrabhuñāṇa, kekuatan pengawasan telah mampu mengetahui anattā lokiya maupun lokuttara.

Seseorang yang telah mampu mencapai gotrabhuñāṇa telah dipastikan akan mencapai ñāṇadassanavisuddhi. Bila diibaratkan orang yang sedang melangkah, salah satu kaki telah berada di seberang sana [lokuttara], namun satu kaki masih berada di seberang sini [lokiya]. Ia tahu bahwa lokuttara jauh lebih baik dan menguntungkan daripada lokiya. Karenanya, ia tak akan ragu dan merasa menyesal untuk meninggalkan lokiya. Ia merasa pasti untuk menuju lokuttara.

Ñāṇadassanavisuddhi merupakan ujung jalan yang mengantar pada saṅkhārupekkhāñāṇa, pengertian tentang sebab akibat yang didukung oleh ñāṇadassanavisuddhi merupakan kondisi munculnya pengetahuan yang terang dan cemerlang, mampu membasmi keraguan. Kesungguhan hati dalam penganalisaan terhadap sesuatu yang belum dimengerti disebut samuccheda. Kebebasan batin sebagai hasilnya disebut samuccheda vimutti. Penghancuran belenggu [ saṁyojana ] yang mengikat batin disebut samuccheda pahāna.

Praktisi-praktisi Dhamma yang telah mampu mencapai abhipaññā lokuttara dibagi menjadi 4 (empat) jenjang.

  1. Sotāpanna.
  2. Sakadāgāmi.
  3. Anāgāmi.
  4. Arahanta [arahat, arahatta].

Keempat jenis ariya puggala ini telah mencapai lokuttara paññā. Namun kesempurnaannya berbeda sesuai dengan jenjang pencapaiannya.

Jenjang sotāpanna lebih lemah dibanding dengan sakadāgāmi. Jenjang sakadāgāmi lebih lemah dibanding anāgāmi. Anāgami lebih lemah dibanding arahatta. Jenjang arahatta merupakan jenjang tertinggi di antara keempatnya. Ia telah mencapai kebebasan, kedamaian dan kebahagiaan tertinggi, karena telah mampu memutus dan membasmi saṁyojana (belenggu) secara sempurna dengan kekuatan maggasāmaggi [ maggasāmanggi ].

Saṁyojana yang membuat batin menjadi suram dan keruh, tak mampu melihat dan mengerti tetang kesunyataan adalah:

  1. Sakkāyadiṭṭhi            : pengertian yang salah terhadap badan jasmani.
  2. Vicikicchā                  : keraguan terhadap ajaran luhur [Buddha, Dhamma, Saṅgha].
  3. Sīlabbataparāmāsa : pengertian yang salah terhadap kedisiplinan dan tradisi.
  4. Kāmarāga                 : selera / napsu terhadap kenikmatan inderawi [duniawi].
  5. Paṭigha                       : perasaan kecil hati dan kebencian.
  6. Rūparāga                  : ketertarikan terhadap alam berbentuk.
  7. Arūparāga                : ketertarikan pada alam tak berbentuk.
  8. Māna                         : tinggi hati, kesombongan.
  9. Uddhacca                 : kegelisahan [yang halus sifatnya, berbeda dengan uddhacca nīvaraṇa].
  10. Avijjā                         : tidak tahu dengan benar [yang halus sifatnya, berbeda dengan avijjā yang biasa disebut sehari-hari].

Seorang sotāpanna berhasil memutuskan 3 (tiga) belenggu awal, yaitu sakkāyadiṭṭhi, vicikicchā dan sīlabbataparāmāsa.

Seorang sakadāgāmi berhasil memutuskan 3 (tiga) belenggu awal serta melemahkan 2 (dua) belenggu berikutnya, yaitu kāmarāga dan paṭigha.

Seorang anāgāmi berhasil memutuskan dengan sempurna 5 (lima) belenggu, yaitu 3 (tiga) belenggu awal serta 2 (dua) belenggu berikutnya.

Seorang arahanta [ arahat ] berhasil memutuskan dengan sempurna semua jenis belenggu yang berjumlah 10 (sepuluh) tersebut.

Sepuluh jenis saṁyojana ini merupakan belenggu yang membuat batin bagaikan dipenjara dan menderita dalam daur kehidupan dan kematian yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Lima jenis terdahulu disebut orambhāgiya-saṁyojana yang artinya belenggu tingkat rendah, sedangkan lima jenis selanjutnya disebut uddhambhāgiya-saṁyojana, yang artinya belenggu tingkat tinggi.

Kedua kelompok saṁyojana ini amat menentukan bagi tingkat kehidupan makhluk. Bila orambhāgiya-saṁyojana lebih kuat dan dominan, maka ia akan terlahir dalam alam yang rendah, misalnya neraka, peta, binatang, asurakāya dan lain-lain. Bila uddhambhāgiya-saṁyojana lebih kuat dan dominan, maka ia akan terlahir pada kehidupan tingkat tinggi, misalnya manusia, dewa dan brahma.  [Oleh: Hananto]

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: