Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Bahiya Daruciriya

Posted by chanyan pada 2010/05/19

Pada saat Sang Buddha Padumutara muncul di dunia, Bāhiya terlahir sebagai seorang manusia berkasta brāhmaṇa. Brāhmaṇa menaruh saddhā yang baik terhadap Buddha sāsanā. Karenanya, ia sering mendengarkan pembabaran Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Saat Sang Buddha berbicara tentang siswa-Nya yang mampu dengan cepat menembus / mencapai Dhamma, ia merasa amat tertarik. Dan ia pun ingin seperti siswa Sang Buddha tersebut. Maka, ia pun mempersembahkan dāna makanan selama tujuh hari kepada Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya serta ber adhiṭṭhāna agar mampu menembus Dhamma dengan cepat. Sang Buddha Padumutara memberkahi tekadnya itu. Beliau menyatakan, bahwa ia akan mencapai apa yang dicita-citakan, sesuai dengan adhiṭṭhāna nya, pada masa Sang Buddha Gotama dengan nama Bāhiya Dārucīriya.

Sesudah kehidupan itu, karena perbuatan bajiknya, ia terlahir pada alam-alam bahagia.

Pada akhir dari sāsanā Kassapa Sammāsambuddha, ia terlahir sebagai manusia yang juga mempunyai saddhā pada Buddha sāsanā. Karenanya, ia upasampadā menjadi bhikkhu. Pada saat itu sāsanā telah amat merosot. Upāsaka-upāsikā maupun para bhikkhu-bhikkhuṇī  tidak lagi mempedulikan Dhamma Vinaya. Walaupun Dhamma sejati masih bisa ditemui, namun kebanyakan umat Buddha [upāsaka-upāsikā maupun para bhikkhu] tak lagi berminat untuk melaksanakannya. Mereka lebih senang berasyik-masyuk menikmati keduniawian.

Bhikkhu Bāhiya merasa kecewa melihat keadaan itu. Namun, saddhā terhadap sāsanā tetap berkobar-kobar dalam batinnya. Ia merasa tak bisa melaksanakan Dhamma Vinaya pada lingkungan yang demikian. Sedikit atau banyak, cepat atau lambat ia tentu akan terpengaruh dan tertulari praktek-praktek salah dari lingkungan adhamma tersebut. Ia tak mau dan tak ingin terpengaruh dan tertulari oleh mereka. Maka, ia mencoba mencari teman bhikkhu yang sehaluan untuk membicarakan apa yang sebaiknya dilakukan. Ia menemukan enam orang bhikkhu yang sependapat dengannya. Mereka memutuskan untuk menghindari masyarakat yang telah berpaling dari Dhamma, dan mengasingkan diri ke puncak gunung yang tak bisa dijangkau manusia lain. Mereka ber adhiṭṭhāna untuk melakukan paṭipatti Dhamma hingga berhasil mencapai kesucian. Bila tak berhasil, mereka rela mati kelaparan karena keadaan tempat mereka tinggal memang tidak memungkinkan untuk melakukan piṇḍapāta.

Beberapa hari kemudian, walau dalam keadaan kelaparan, seorang dari ketujuh bhikkhu itu berhasil mencapai kesucian arahat. Arahat Thera parinibbāna pada hari itu juga. Beberapa hari kemudian, seorang bhikkhu berhasil mencapai kesucian anāgāmī. Dan Anāgāmī Thera pun meninggal pada hari itu, terlahir di alam Suddhāvāsa. Sementara sisanya, lima orang bhikkhu termasuk Bāhiya meninggal dunia karena kelaparan.

Pada masa Gotama Sammāsambuddha, ia terlahir sebagai manusia bernama Bāhiya. [Dan empat orang bhikkhu rekannya terlahir sebagai Dabba Mallaputta, Kumāra Kassapa, Sabhiya dan Pukkusāti. Keempat orang ini kemudian upasampadā menjadi bhikkhu. Bhikkhu Dabba Mallaputta mencapai kesucian arahat, termasuk asītimahāsāvaka serta etadagga dalam membagi senāsana. Bhikkhu Kumāra Kassapa mencapai kesucian arahat, termasuk asītimahāsāvaka serta etadagga dalam membabarkan Dhamma secara mendalam dan indah. Bhikkhu Sabhiya mencapai kesucian arahat dan termasuk asītimahāsāvaka. Sedangkan Bhikkhu Pukkusāti mencapai kesucian anāgāmī. Segera setelah mencapai kesucian anāgāmī tersebut, ia meninggal ditanduk oleh seekor kerbau betina yang baru melahirkan. Ia terlahir di alam Suddhāvāsa, akan mencapai kesucian arahat dan parinibbāna di sana].

Bāhiya bertinggal di kota Bhārukaccha yang makmur. Ia membangun hidupnya dengan berdagang antar pulau. Dengan rajin ia mengumpulkan keuntungan yang didapat hingga mampu membeli sebuah kapal yang cukup besar guna mengembangkan perdagangan antar benua. Namun, mengarungi samudra yang luas bukannya membawa keuntungan duniawi baginya. Pada suatu hari, ia mengalami musibah yang membuat hidupnya berubah sama sekali.

Di dalam pelayaran di tengah samudra luas, kapalnya dihempas badai dan pecah dihantam oleh seekor naga besar yang ganas. Semua anak buahnya meninggal dunia. Barang dagangannya pun tak tersisa lagi. Ia berusaha menyelamatkan diri, berenang dengan pertolongan kayu serpihan kapalnya yang pecah. Berhari-hari ia terapung-apung di tengah samudra luas tanpa bekal makanan dan minuman. Hanya kamma baiknya yang membawanya menepi ke pantai Suppāraka. Terdampar di sana dengan keadaan yang amat menyedihkan. Badannya kurus kering. Pakaiannya pun compang-camping, tak cukup untuk menutupi tubuhnya secara layak. Ia benar-benar hampir telanjang. Setelah siuman dari pingsannya serta cukup istirahat, dengan tertatih-tatih ia masuk ke desa untuk mencari makanan.

Melihat orang aneh yang baru dilihat, kurus, hampir dalam keadaan telanjang dan sinar mata yang sayu, penduduk desa justru mengira ia adalah seorang pertapa arahat. Rupanya penduduk desa itu mempunyai perasaan fanatik terhadap pertapa yang berpenampilan aneh dan nyentrik. Mereka menghormat dan memuja Bāhiya dengan segala macam persembahan. Menghidangkan makanan dan minuman yang lezat-lezat. Tentu saja Bāhiya tak mampu menghabiskan banyak makanan dan minuman, karena perut dan ususnya telah mengempis akibat derita yang dialami di tengah lautan. Hal ini berlangsung berhari-hari, yang membuat penduduk desa semakin yakin bahwa ia adalah seorang arahat. Bāhiya pun, yang mengalami hempasan dan guncangan derita, kiranya kesadarannya terganggu pula. Karena penghormatan dan pemujaan terhadap dirinya itu, pada suatu saat yang hening ia berpikir:

“Kiranya aku telah mencapai kesucian arahat. Benar, aku adalah seorang arahat. Kalau tidak, mana mungkin penduduk desa ini memberi persembahan yang berlebihan padaku.” Keadaan ini terus berlangsung, hingga Bāhiya pun semakin yakin dengan pandangan sesatnya dan mengira dirinya memang seorang arahat.

Saat itulah kawan bhikkhu di masa lampau, yang telah mencapai kesucian anāgāmī dan berada di alam suddhāvāsa, datang menghampiri seraya mengingatkannya:

“Wahai Bāhiya, ketahuilah, Anda sama sekali bukanlah seorang arahat, ataupun seorang yang sedang dalam perjalanan menuju ke-arahat-an.”

Bāhiya pun tercengang mendengar kata-kata dewa Brahma Anāgāmī itu.

“Kalau demikian, adakah orang yang telah mencapai kesucian arahat, atau orang yang sedang melaksanakan jalan ke-arahat-an?” tanyanya pula.

Sang dewa menjawab:

Bāhiya, kalau Anda berjalan ke arah utara, di sana ada sebuah kota yang bernama Sāvatthī. Sang Bhagavā yang telah mencapai Sammāsambuddha kini bertinggal di kota itu, di Vihāra Jetavana milik Anāthapiṇḍika. Bàhiya, Sang Bhagavā itulah yang benar-benar telah mencapai ke-Buddha-an, mengajarkan Dhamma, jalan menuju ke-arahat-an.” [Dewa ini juga pernah mendatangi Sabhiya dan Kumara Kassapa]

Mendengar keterangan dewa sahabatnya itu, muncullah kesadaran Bāhiya. Ia merasa amat malu akan pemikirannya yang sesat, dan berniat untuk menemui Sang Bhagavā. Maka, ia pun meninggalkan pantai Suppāraka dan segera pergi menuju Vihāra Jetavana di kota Sāvatthī.

Di vihāra itu ia melihat para bhikkhu sedang caṇkamana. Ia menghampiri salah satu dari mereka dan bertanya:

Bhante, saat ini Sang Bhagavā yang telah mencapai Sammāsambuddha sedang berada di mana? Saya Bāhiya, ingin bertemu dengan Beliau.”

“Wahai Bāhiya, Sang Bhagavā kini sedang pergi piṇḍapāta ke kota Sāvatthī.”

Bāhiya dengan bergegas pergi menuju kota Sāvatthī, dan di sana ia melihat Sang Buddha sedang piṇḍapāta. Pada pandangannya, Beliau kelihatan amat berwibawa dan agung. Sungguh amat menarik perhatian. Mempunyai indriya yang hening dan terkendali. Mempunyai batin yang hening dan terkendali. Mempunyai jasmani yang hening dan terkendali. Hasil dari latihan yang telah mencapai keluhuran.

Dengan segera Bāhiya menghampiri Sang Buddha. Dan dengan batin yang dipenuhi saddhā serta piti, ia namakkāra di hadapan Sang Buddha.

 “Duhai Sang Bhagavā, saya mohon Bhante sudi membabarkan Dhamma bagi kebahagiaan Saya. Duhai Sang Sugata, sudilah membabarkan Dhamma bagi kebahagiaan Saya.”

Mendengar itu, Sang Tathāgata menjawab:

Bāhiya, saat ini bukanlah waktu yang tepat, sebab Tathāgata sedang melakukan piṇḍapāta.”

Tapi Bāhiya menekankan permohonannya:

“Bhante, Saya tidak tahu bahaya yang sedang mengancam hidup saya di masa mendatang. Karenanya, mohon Sang Tathāgata sudi membabarkan Dhamma bagi saya. Sudilah Sang Sugata membabarkan Dhamma pada Saya.”

Sang Buddha mengulangi jawaban-Nya sebanyak tiga kali. Bāhiya pun bersikeras mengulangi permohonannya sebanyak tiga kali.

Akhirnya, Sang Buddha pun berkenan membabarkan Dhamma pada Bāhiya.

“Baiklah, Bāhiya. Belajarlah merenungkan dan menganalisa, bahwa bila engkau melihat sesuatu, itu hanyalah sekedar melihat. Bila sedang mendengar, itu hanyalah sekedar mendengar. Bila tahu, hanya sekedar tahu. Saat mengerti dengan jelas, hanyalah sekedar mengerti. Engkau tidak berada pada kala itu. Engkau tak berada di dunia ini. Engkau tak berada di dunia mendatang. Juga tak berada di antara keduanya. Inilah yang disebut akhir dari dukkha.”

Pada akhir dari pembabaran Dhamma yang disampaikan secara singkat oleh Sang Buddha itu, batin Bāhiya Dārucīriya terbebas dari āsava.

Setelah membabarkan Dhamma pada Bāhiya, Sang Buddha pun meneruskan perjalanan piṇḍapāta-Nya.

Sepeninggal Sang Buddha itu, seekor kerbau betina yang baru melahirkan anak menubruk dan menanduk Bāhiya hingga ia meninggal dunia. Nasibnya sama dengan sahabatnya, bhikkhu Pukkusāti yang juga meninggal ditanduk seekor kerbau betina. Konon, musuh Bāhiya pada kehidupan lampau, masuk ke dalam tubuh kerbau betina itu guna membalas dendam.

Ketika Sang Buddha telah menyelesaikan piṇḍapāta dan akan keluar dari kota Sāvatthī bersama para bhikkhu, Beliau melihat tubuh Bāhiya yang terpuruk di tanah. Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, angkatlah jasad Bāhiya dan adakan pembakaran jenasah secara layak. Sesudah itu bangunlah sebuah stupa bagi sisa jasadnya. Para bhikkhu, Bāhiya telah melaksanakan Dhamma seperti halnya kalian.”

Maka, para bhikkhu pun melaksanakan perintah Sang Buddha dengan baik. Sesudah prosesi itu rampung, para bhikkhu menghadap Sang Buddha dan berkata:

“Bhante, kami telah melaksanakan  pembakaran jasad Bāhiya dengan baik serta telah membuat stupa yang indah untuknya. Kami ingin tahu, bagaimanakah kehidupan Bāhiya? Di manakah ia terlahir?”

“Wahai para bhikkhu, Bāhiya Dārucīriya adalah seorang paṇḍita (bijaksana). Ia telah melaksanakan  Dhamma dengan patut. Ia tak menyulitkan Tathāgata. Bāhiya Dārucīriya telah parinibbāna.”

Bāhiya Dārucīriya Thera belum sempat upasampadā secara formal, tapi Sang Buddha menyatakan, bahwa ia telah dianggap sebagai bhikkhu dan termasuk dalam asītimahāsāvaka serta mencapai etadagga dalam menembus Dhamma secara cepat. Bāhiya Dārucīriya Thera telah tercapai tekadnya (adhiṭṭhāna), menembus Dhamma secara cepat, karena mempunyai kebijaksanaan (paññā) yang luar biasa tajam.]*** [Disusun dan dituturkan oleh : Hananto]

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, PANNA]

Iklan

4 Tanggapan to “Bahiya Daruciriya”

  1. <>

    Ini terjemahan yg menyimpang dari teks asli Bahiya-sutta, sehingga dengan demikian makna sutta itu menjadi rusak dan terbalik. Lihat terjemahan Thanissaro Bhikkhu:

    “Then, Bahiya, you should train yourself thus: In reference to the seen, there will be only the seen. …”

    (“Maka Bahiya, berlatihlah begini: dalam kaitan dengan yang terlihat hanya ada yang terlihat …”)

    Dalam sutta ini, Buddha tidak mengajar Bahiya agar ia “merenung” dan “menganalisis” (berpikir). Justru ketika melihat sesuatu, Buddha mengingatkan Bahiya bahwa hanya ada yg terlihat. Maksudnya, jangan bereaksi dengan merenung, menganalisis, melekat, menolak dsb.

    ***

    Selanjutnya, di sini tertulis:

    “… Engkau tidak berada pada kala itu. Engkau tak berada di dunia ini. Engkau tak berada di dunia mendatang. Juga tak berada di antara keduanya. ….”

    Bandingkan dengan terjemahan Thanissaro Bhikkhu:

    “then, Bahiya, there is no you in terms of that. When there is no you in terms of that, there is no you there. When there is no you there, you are neither here nor yonder nor between the two. ….”

    (“Maka, Bahiya, tidak ada kamu dalam kaitan dengan itu … tidak ada kamu di situ. Kamu tidak ada di sini atau di sana atau di antara keduanya. …”)

    Maksudnya, KAMU TIDAK ADA LAGI. Itulah akhir dukkha (nibbana).

    Hudoyo

  2. Terima kasih kembali. Saya baru membaca Bahiya Daruciriya(b)

    Hudoyo

  3. Tuntunan [vipassana] kepada Bahiya ini diulangi lagi oleh Buddha kepada Malunkyaputta, seorang bhikkhu tua, yg setelah mendengar khotbah itu memerlukan beberapa lama untuk berlatih sehingga menjadi arahat. (Lihat: MALUNKYAPUTTA-SUTTA)

    Kemudian tuntunan yg esensinya persis sama dengan Bahiya-sutta & Malunkyaputta-sutta diajarkan oleh Buddha kepada 500 bhikkhu dalam MULAPARIYAYA-SUTTA (Majjhima Nikaya, 1). Di situ pada dasarnya Buddha mengajarkan kepada ke-500 bhikkhu itu, agar ketika muncul (a) yg terlihat, (b) yg terdengar, (c) yg tercerap [dengan ketiga indra yg lain], (d) yg dikenal (dengan batin – vinnatam), maka hendaknya:

    (1) jangan terjadi konseptualisasi (mannati) tentang itu — artinya: jangan dipikir-pikir;

    (2) jangan sampai timbul pemikiran aku/atta;

    (3) jangan sampai timbul pemikiran aku memisahkan diri dari objek;

    (4) jangan sampai timbul pemikiran aku ingin memiliki objek;

    (5) jangan sampai aku bersenang hati dengan objek.

    Itulah prinsip vipassana murni, yang saya adopsi dalam Meditasi Mengenal Diri (MMD).

    Hudoyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: