Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Siluman Timur Tengah

Posted by chanyan pada 2010/05/19

Semilirnya angin senja di penghujung musim dingin masih terasa menusuk tulang. Cuaca cerah diselimuti kabut putih tipis membuat suasana senja itu semakin indah untuk dinikmati. Barisan bukit-bukit di seberang sana masih kelihatan menghijau, walau daun-daun pohon telah banyak berguguran. Sebelum berguguran, daun-daun itu mengeriput layu, lalu lepas dari tangkai, meluncur turun ke bawah disertai suara gemerisik, karena saling bergesekan, berebut saling mendahului untuk sampai ke tanah. Suara gemerisik itu bagaikan suara musik alam, tengara akan bergantinya musim. Musim dingin akan berlalu, musim panas akan menjelang.

Pada musim panas nanti, pohon-pohon akan kehilangan semua daun. Yang tinggal hanyalah ranting-ranting gundul yang menjulang ke langit, bagaikan kumpulan jari-jemari tangan yang menuntut  turunnya air hujan. Namun, langit tak lagi mengucurkan air walau setetes. Mereka harus puas dengan titik-titik embun dini hari, hingga datangnya musim hujan empat bulan mendatang.

Di awal musim panas, para petani mulai menyabit batang-batang gandum, jagung maupun padi yang usai dituai sebelumnya. Lalu, mereka membakarnya untuk persiapan musim tanam berikutnya, pada awal musim penghujan. Maka, api pun berkobarlah di ladang-ladang petani disertai gumpalan asap membubung ke angkasa. Suatu pemandangan yang kurang mengenakkan mata.

Tak lama kemudian, kebakaran hutan pun akan terjadi. Biasanya, para petani kurang baik dalam mengendalikan api di ladang mereka, hingga merembet ke tepian hutan maupun ke kaki bukit. Dan hiruk pikuk suara mereka terdengar di saat berusaha memadamkan api yang mulai mengancam hutan dan bukit-bukit. Namun, biasanya usaha mereka akan sia-sia, karena tumpukan daun-daun kering telah menanti, menyambut kobaran api yang membuatnya semakin mengganas. Mereka hanya bisa menyaksikan kobaran api yang semakin masuk ke hutan dan mendaki kaki-kaki bukit, tanpa mampu berbuat apa-apa lagi.

Kebakaran hutan akan terjadi, silih berganti sepanjang musim panas.

Pada malam hari, api yang berwarna kuning kemerahan kelihatan meliuk-liuk amat indah mendaki punggung bukit, ditingkahi suara letusan-letusan pohon dan batang bambu yang dimakan api, bagaikan suatu prosesi upacara keagamaan yang para pesertanya membawa lilin atau obor, diiringi oleh tetabuhan agamis yang bertalu-talu. Pemandangan indah itu bisa dinikmati setiap malam sepanjang musim panas pula. Namun, kebakaran tetaplah merupakan sesuatu yang merugikan, yang bisa meluluhlantakkan kelestarian dan kekayaan alam.

Bhikkhu Nando sedang duduk di sebuah batu besar di depan kuñi senja itu, saat ia teringat tentang kebakaran dan kerugian yang ditimbulkannya. Batinnya pernah terbakar oleh api dosa yang hampir saja memporakporandakan tatanan batinnya, bila ia tak segera sadar dan mampu memadamkannya.

Ia tersenyum kecil mengingat hal itu.

***

Senja itu, ia pergi ke Dhammasālā untuk minum bersama dua teman bhikkhu, setelah menyelesaikan tugas kebhikkhuan, menyapu dan membersihkan senāsana. Dilihatnya bhikkhu Mahā Thong dan bhikkhu Lhek telah duduk di sana. Wajah bhikkhu Lhek kelihatan tak seperti biasanya.

Begitu ia duduk, bhikkhu Lhek langsung membuka suara:

Than Nando, sore ini saya ingin mengajukan pertanyaan. Ini demi kepentingan kita  bersama. Saya harap Than Nando tak berkeberatan menjawabnya.”

“Silakan, Than Lhek. Ada persoalan apa rupanya, kok kelihatannya serius sekali!” sambut bhikkhu Nando berbasa-basi.

Than Mahā Thong menderita penyakit pencernaan. Para umat menasehati dan memberi empedu beruang yang telah direndam air garam sebagai obatnya. Than Mahā Thong telah memakannya sebagian, karena tak merasa ragu. Tapi, saya merasa ragu. Lalu, bagaimana menurut Than Nando?”

Bhikkhu Nando diam sejenak, memandang keduanya. Bhikkhu Mahā Thong kelihatan agak gusar, lalu berkata:

“Kenapa harus ragu?! Saya sakit dan saya makan obat. Apakah itu salah?”

“Tentu saja tak bersalah. Tapi, untuk itu tak seharusnya kita melanggar vinaya,” bhikkhu Nando menanggapi.

“Apakah Than Lhek masih ingat, binatang apa saja yang dilarang untuk dikonsumsi oleh seorang bhikkhu?” tanya Than Nando pada bhikkhu Lhek.

“Ya, saya ingat. Seorang bhikkhu dilarang untuk memakan daging harimau loreng, harimau hitam, harimau kuning, harimau tutul, singa, gajah, kuda, ular dan beruang,” jawab bhikkhu Lhek cepat.

“Apakah hanya dagingnya yang tak boleh dikonsumsi?” tanya bhikkhu Nando lagi.

Bhikkhu Lhek diam beberapa saat. Lalu……….

“Itulah yang saya ragu. Apakah hanya dagingnya saja yang tak boleh dimakan?” ia balik bertanya.

“Menurut yang saya tahu dan saya pelajari, seorang bhikkhu tak boleh mengkonsumsi semua bagian dari binatang-binatang itu, kecuali minyaknya hasil pengasapan,” bhikkhu Nando menjelaskan.

Than Nando tahu dari mana? Jangan mengada-ada pula,” sela bhikkhu Mahā Thong yang kelihatan makin gusar. Bhikkhu Mahā Thong adalah yang paling senior di antara mereka bertiga. Dan ia juga sebagai kepala Vihāra di vihāra baru itu. Bhikkhu Nando hanyalah sebagai wakil kepala Vihāra. Itu rupanya yang membuat ia cepat gusar dan merasa digurui. Tapi rupanya ia lupa, bahwa di antara para bhikkhu haruslah saling memperingatkan bila ada hal-hal yang kurang benar. Tidak hanya mengandalkan senioritas dan kedudukan.

Melihat itu, bhikkhu Nando segera mendinginkan suasana.

“Baiklah, saya minta maaf bila dianggap bersalah. Di antara kita tak ada lagi yang lebih senior, tapi kita masih beruntung karena kita mempunyai kitab Tipiṭaka lengkap. Untuk itu, saya harap Than Lhek mencari kebenaran di dalam Vinaya Piṭaka. Apakah Than Lhek merasa berkeberatan?”

“Saya tidak berkeberatan. Saya akan mencarinya,” kata bhikkhu Lhek bersemangat.

Maka bhikkhu Lhek pun bersibuk-sibuk, tenggelam di antara buku-buku tebal itu.

Beberapa hari kemudian, di saat minum sore bersama, bhikkhu Lhek datang dengan membawa sebuah buku tebal dan langsung membuka pembicaraan.

Than Nando benar! Seorang bhikkhu dilarang mengkonsumsi semua bagian tubuh dari binatang yang dilarang dalam vinaya, kecuali minyak hasil pengasapan.”

Wajah bhikkhu Mahā Thong kelihatan pasi dan diam. Bhikkhu Lhek diam. Bhikkhu Nando juga diam. Suasana hening beberapa saat.

“Kalau begitu, saya bersalah,” kata bhikkhu Mahā Thong memecah keheningan.

“Saya akan melakukan pengakuan bersalah sesuai dengan vinaya dan ber pavāraṇā kepada anda berdua, bila melihat saya melakukan kesalahan, harap anda berdua memperingatkan saya,” lanjut bhikkhu Mahā Thong. Bhikkhu Nando dan bhikkhu Lhek pun ber pavāraṇā serupa.

Sejak peristiwa itu, keadaan berlangsung seperti biasa dan tenang, hingga suatu saat bhikkhu Lhek melihat bhikkhu Mahā Thong melakukan sesuatu yang tak layak bagi seorang bhikkhu. Ia menggergaji sebatang pohon yang masih hidup bersama seorang umat dengan menggunakan gergaji panjang bertangkai ganda.

Sore harinya, bhikkhu Lhek menanyakan hal itu kepada bhikkhu Mahā Thong.

“Saya tak memotong pohon itu,” hanya itu jawab bhikkhu Mahā Thong.

“Tapi, saya melihat anda melakukannya bersama seorang umat,” kejar bhikkhu Lhek.

“Saya hanya memegang tangkai gergaji sebelah sini. Tapi umat memegang tangkai gergaji sebelah sana. Dialah yang memotong pohon itu, bukan saya!” kilah bhikkhu Mahā Thong bersikeras. Namun, jawaban itu membuat bhikkhu Lhek dan bhikkhu Nando tercengang.

“Baiklah. Bagaimana pendapat Than Nando?” bhikkhu Lhek berpaling kepada bhikkhu Nando.

“Ya…, menurut saya, seorang bhikkhu yang dengan sengaja memegang tangkai gergaji serta menggerakkannya, dan tahu dengan perbuatannya itu menyebabkan sebatang pohon terpotong, ia telah melakukan suatu kesalahan. Tapi, daripada kita bersitegang, kita minta penjelasan pada senior kita saja. Bukankah Āchārn Sakhon akan berkunjung ke mari besok?”

Ternyata, Āchārn Sakhon pun mengatakan bahwa bhikkhu Mahā Thong telah melakukan pelanggaran vinaya, serta menambahkan:

“Kita sebaiknya memang harus saling mengingatkan dan memperingatkan. Kalau kita saling tak peduli, sulit bagi kita untuk mencapai kemajuan.”

Namun, hari-hari selanjutnya, sikap bhikkhu Mahā Thong semakin aneh saja. Ia sering melakukan pelanggaran vinaya, yang bila diingatkan oleh bhikkhu Lhek maupun bhikkhu Nando selalu bersikeras membantah seraya menunjukkan senioritasnya. Dan yang sering menjadi sasaran adalah bhikkhu Nando, karena bhikkhu Lhek selalu minta pertimbangan-pertimbangan kepada bhikkhu Nando.

Suasana menjadi tidak nyaman lagi. Hubungan bhikkhu Mahā Thong dan bhikkhu Nando menjadi dingin. Persoalan yang tadinya tertutup di antara para bhikkhu, kini menjadi terbuka dan diketahui oleh para umat. Bhikkhu Nando merasa heran, kenapa pula para umat bisa mengetahui akan hal ini. Umat pendukung vihāra pun pecah. Sebagian besar menghendaki bhikkhu Mahā Thong pergi dari vihāra, karena sering melanggar vinaya. Mereka menghendaki bhikkhu Nando sebagai kepala Vihāra, karena mempunyai kesabaran yang baik dan layak sebagai panutan, walau sering keras dalam Dhamma. Namun, sebagian lagi tetap menghendaki bhikkhu Mahā Thong sebagai kepala Vihāra. Keadaan yang kacau ini membuat perasaan bhikkhu Nando menjadi semakin tak nyaman.

Keadaan semakin runyam, manakala bhikkhu Mahā Thong menyebar berita, bahwa bhikkhu Nando menginginkan jabatan Kepala Vihāra dengan menghasut para umat. Berita itu amat mengagetkan bhikkhu Nando. Ia sama sekali tak menyangka seniornya itu bisa berbuat sekeji itu. Suatu hal yang tak mungkin diinginkannya. Dan seharusnya bhikkhu Mahā Thong tahu akan hal itu.

 Ia sama sekali tak menginginkan kedudukan apa pun yang bersifat duniawi, termasuk kepala Vihāra. 

***

Telah bertahun-tahun ia meninggalkan kehidupan duniawi. Berguru dan mengembara ke berbagai pelosok negeri. Dari vihāra hutan ke vihāra hutan lainnya, dari satu hutan ke hutan yang lainnya. Pengalaman berguru dan pengembaraan kepertapaannya tidaklah sedikit. Hingga suatu saat, ia tiba dan beristirahat di sebuah pekuburan tua, di suatu desa di tepian hutan. Tempat itu amat hening dan tenang. Udaranya pun sejuk dan nyaman, amat sesuai untuk melatih bhāvanā.

Pada keesokan harinya, datanglah Kepala Desa disertai beberapa orang penduduk desa. Mereka mengharap bhikkhu Nando tinggal di sana lebih lama lagi. Mereka bermaksud hendak membangun sebuah vihāra di pekuburan tua itu, serta memintanya untuk menjadi kepala Vihāra. Mereka merasa yakin, bhikkhu Nando lah orangnya yang mampu membantu mereka, karena pada malam harinya Kepala Desa bermimpi melihat sinar melayang dan jatuh di pekuburan tua itu. Dan pagi harinya, mereka menemukan bhikkhu Nando berada di pekuburan tua itu.

Bhikkhu Nando merasa berkeberatan atas permintaan penduduk desa, karena ia tak ingin membuang-buang waktu dan ia berpikir masih banyak bhikkhu lain yang senang dalam hal bangun-membangun vihāra. Namun, para umat amat mengharap kesediaannya, karena telah tiga orang bhikkhu mencoba tinggal di pekuburan itu dan ketiganya tak mampu bertinggal lebih lama dari tiga hari.

Berkali-kali mereka mengharap bhikkhu Nando, hingga akhirnya ia menyanggupi dengan syarat, bila pembangunan vihāra telah rampung, ia akan meneruskan pengembaraan.

Maka, hari itu juga, para umat bergotong-royong membangun senāsana [kuṭi] sementara bagi bhikkhu Nando. Dalam dua tiga jam saja, berdirilah sebuah gubuk kecil sederhana beratapkan ilalang yang layak huni bagi seorang pertapa, dilengkapi sarana untuk caṇkamana [bhāvanā jalan].

Di gubuk kecil itu, ia mengharap mendapat ketenangan yang memadai dalam bhāvanā. Namun, bukan ketenangan seperti malam pertama yang ia dapat. Suara-suara lemparan batu di dinding kuṭi, suara menggeram, rintihan dan desahan-desahan selalu terdengar tiap malam. Namun, suara itu tak menghalanginya untuk melaksanakan tugas kepertapaannya. Itu rupanya yang membuat tiga orang bhikkhu sebelumnya, tak tahan tinggal berlama-lama di tempat itu.

Oleh penduduk desa, tempat ini memang dianggap angker dan menyeramkan. Setiap kali memasuki tempat itu, kepala mereka terasa berat dan terbebani, membuat mereka tak ingin berlama-lama berada di sana. Bila hari telah rembang petang, tak seorang pun dari penduduk desa berani melintasi pekuburan tua itu. Mereka lebih suka mengambil jalan memutar daripada harus melewati tempat itu. Desa yang terdekat adalah Desa Ban Weng yang berjarak kira-kira tiga kilometer. Dan pekuburan itu telah ada dua ratus tahun lebih, sebelum desa Ban Weng dibangun.

Penduduk desa mempunyai kebiasaan tidak segera membakar jenazah yang meninggal karena hal-hal yang kurang wajar, misalnya meninggal karena bunuh diri, dibunuh atau kecelakaan. Jenazah semacam itu akan mereka kuburkan selama paling sedikit satu tahun, sebelum dikremasi. Rupanya hal itu membuat adanya keterikatan pada paṭisandhi viññāṇa dari orang yang telah meninggal.

Bhikkhu Nando maklum akan hal itu. Setiap kali mengakhiri bhāvanā, ia selalu melimpahkan jasa baik serta memancarkan getaran mettā pada makhluk-makhluk di sekitar pekuburan tua itu, hingga akhirnya, hari-hari berikutnya keadaan terasa tenang. Tak ada gangguan-gangguan lagi. Suasana kelihatan terang, udara pun terasa nyaman dan ringan.

Namun, ketenangan ini ternyata tak berlangsung lama.

Hari itu, bertepatan dengan hari uposatha bulan gelap. Malam itu, setelah ber adhiṭṭhāna uposatha, bhikkhu Nando ber caṇkamana [meditasi jalan], dengan diterangi dua buah lilin. Dengan tenang dan teratur, ia berjalan mondar mandir dengan perhatian diarahkan  pada langkah-langkah kaki. Malam semakin larut, udara pun semakin terasa sejuk, membuat batin bhikkhu Nando segera mencapai ketenangan. Dengan ketenangan batin yang demikian, dengan lancarnya ia menganalisa pasal-pasal Dhamma. Ia merasakan kebahagiaan di dalam pengertian Dhamma berlama-lama, hingga suatu saat dirasakannya suasana sekitarnya berubah. Dengan mendadak, ia menghentikan langkahnya. Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan panjang meluncur dan menyambar muka bhikkhu Nando. Dengan cepat, ia kibaskan kain aṁsa yang sedari tadi dipegangnya untuk mengusir nyamuk, ke arah bayangan itu. Bayangan itu pun terjatuh.

Di depannya, teronggok seekor ular belang yang amat berbisa sebesar lengan orang dewasa. Kepalanya tegak dengan leher yang menjulur tinggi-tinggi. Mulutnya terbuka lebar-lebar dengan empat buah taring runcing dan mata yang bersinar kemilau diterpa sinar lilin yang tinggal secuil.

Bhikkhu Nando tetap berdiri di tempat, memancarkan mettā seraya berkata:

“Saudara, sebelum ini kita tak pernah bertemu dan saling mengganggu. Keberadaan saya di sini, hanyalah untuk menjalankan tugas kepertapaan. Bila saya dianggap bersalah, maafkanlah saya. Janganlah kita saling mendendam. Kini, pergilah dengan baik-baik. Semoga Anda berbahagia.”

Namun, si ular belang tak mau beranjak dari tempatnya. Bahkan, ia membuka mulut semakin lebar dan sinar matanya semakin tajam, memancarkan kekuatan jahat kepada bhikkhu Nando serta mencari kesempatan untuk menyerang.

“Rupanya kau tak mengerti bahasa Dhamma,” kata bhikkhu Nando.

Mata bhikkhu Nando pun tak lagi berkedip. Memandang tajam ke arah mata ular belang. Adu pandang itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya si ular belang menurunkan kepalanya, dan dengan pelan-pelan melata masuk ke dalam semak belukar. Dan bhikkhu Nando pun kembali ke kuṭi.

Setelah mencuci kaki serta melapnya hingga kering, ia pun naik ke kuṭi hendak meneruskan tugasnya dengan duduk bhāvanā. Di keheningan malam yang semakin dingin itu, bhikkhu Nando duduk bersila dengan badan tegak dan rileks. Perhatian diarahkan pada ujung hidung yang tersentuh oleh keluar masuknya udara napas. Ketenangan segera dicapai dengan mudah, karena ia memang telah terlatih dengan baik dalam bhāvanā. Ketenangan ini membuat batinnya semakin peka terhadap keadaan di dalam dan di luar tubuhnya. Ia merasakan ketenangan batinnya yang baik, telah siap untuk mengadakan penganalisaan Dhamma. Namun, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di luar sana. Ia menunggu apa yang akan terjadi.

Malam semakin kelam manakala segumpal awan hitam bergulung dan menutupi kuṭi bhikkhu Nando. Ia merasakan adanya kekuatan jahat berusaha menekan batin dan tubuhnya. Ia membiarkan keadaan itu terus berlangsung karena ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ia telah siap menerima kedatangan tamu jahat yang tak diundang.

Tiba-tiba terdengar angin puyuh bertiup dengan keras. Suaranya bersuit  dan berdesah-desah. Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan perempuan muda telah berdiri di hadapan bhikkhu Nando. Rambutnya ikal, hitam kelam panjang tergerai. Kulitnya pun kelihatan kelam dengan hidung mancung yang cenderung meruncing. Melihat ciri-cirinya, jelas sekali ia adalah seorang perempuan dari Timur Tengah. Perempuan itu berdiri dengan kedua tangan diangkat. Matanya melotot liar penuh dengan kemarahan. Mulutnya terbuka lebar mengeluarkan bau yang tak sedap dengan empat buah taring yang runcing, mengingatkan bhikkhu Nando pada taring ular belang yang hendak mencelakainya tadi. Kelihatannya, makhluk ini tak suka bila bhikkhu Nando berada di daerah kekuasaannya. Ia berusaha menakut-nakuti dan mengusir bhikkhu Nando.

Bhikkhu Nando tetap duduk di tempatnya. Ia berusaha memancarkan mettā serta pelimpahan jasa dengan berkata di dalam hati:

“Saudari, telah kukatakan padamu bahwa keberadaanku di sini hanyalah untuk melaksanakan  tugas-tugas kepertapaanku. Bukan untuk mengganggumu. Janganlah membuat kamma buruk dengan selalu menggangguku. Hal itu hanya akan membuatmu celaka. Kini, pergilah dengan baik-baik. Aku limpahkan semua jasa baik yang telah aku perbuat bagimu. Semoga kau berbahagia”.

Namun, yang terjadi tidaklah sesuai dengn harapan bhikkhu Nando. Perempuan itu kelihatan semakin ganas. Matanya semakin melotot menyala. Mulutnya mendesis-desis dan mengeluarkan bau busuk. Dengan tangan yang terangkat lebih tinggi, ia menerkam bhikkhu Nando. Sebagai seorang bhikkhu, ia tak mau dijamah oleh perempuan.

Buddho, Dhammo, Saṅgho. Rupanya kau benar-benar tak mengerti bahasa Dhamma. Kiranya kau dari aliran lain. Maafkan aku!”

Bhikkhu Nando tetap duduk serta menghimpun kekuatan batinnya untuk mengatasi serangan makhluk itu.

Dengan suara jeritan yang memilukan, perempuan itu terpental ke belakang. Tangannya menggapai-gapai bagaikan seorang yang dihempas ombak lautan yang ganas, semakin menjauh dan menjauh. Akhirnya, pemandangan dan jeritan itu lenyap tiada berbekas.

Suara kokok ayam terdengar di kejauhan, menandakan hari telah menjelang pagi. Berarti, malam itu bhikkhu Nando tak beristirahat sedetik pun.

Beberapa hari kemudian, ketika Kepala Desa datang ke vihāra, bhikkhu Nando bertanya:

“Apakah di pekuburan ini ada seorang perempuan Arab yang dikuburkan?”

“Perempuan Arab?… Hm…” Kepala Desa berpikir sejenak.

“Oh. Kejadian itu telah lama sekali berselang. Kata kakek buyut saya, ada keluarga Arab muslim yang anak gadisnya mati bunuh diri dan dikuburkan di sini. Sejak saat itu kuburan ini semakin menyeramkan saja. Penduduk desa memilih menghindari tempat ini bila hari telah senja. Ada apa rupanya, Acharn?”

“Tahukah Bapak, di mana tempat ia dikuburkan?” tanya bhikkhu Nando lagi.

“Kami tak tahu lagi, Acharn. Lagi pula keluarganya telah lama sekali pulang ke negerinya.”

Saat-saat selanjutnya berlangsung aman dan tenang. Tak ada lagi gangguan-gangguan terhadap bhikkhu Nando maupun umat yang berkunjung ke vihāra.

Sebulan sesudah kejadian itu, datanglah bhikkhu Mahā Thong dan bhikkhu Lhek. Karena bhikkhu Mahā Thong lebih senior daripada bhikkhu Nando dan pekerjaan vihāra hampir rampung, maka ia meminta bhikkhu Mahā Thong untuk menjadi kepala Vihāra. Dan bhikkhu Mahā Thong pun menyanggupinya.

Begitulah sebenarnya yang terjadi. Jadi, amatlah tidak patut bila bhikkhu Mahā Thong menyebarkan berita bahwa ia ingin menjadi kepala Vihāra, membuat keadaan semakin runyam.

Lebih parah lagi, batin bhikkhu Nando yang biasanya dengan mudah bisa memasuki ketenangan dalam bhāvanā, kini amat sulit memasuki samādhi. Bila batinnya mulai memasuki ketenangan, seolah ada sebuah noktah kelam yang menghalangi. Ia mencari penyebabnya. Ia terus menyelidiki, apa sebenarnya noktah kelam yang telah mengotori batinnya itu. Ia mulai membuka lembar-lembar batin yang semula telah tertata rapi dan bersih.

Empat penghambat batin, jelas tak membuat batinnya terganggu. Namun, setelah diteliti dengan cermat, ia tahu satu jenis penghambat batin telah bercokol dan mengotori batinnya. Byāpāda! Ternyata sebuah perasaan jengkel telah membuat batinnya carut marut. Tanpa ia sadari, selama ini ia merasa jengkel pada tindakan-tindakan bhikkhu Mahā Thong yang memfitnah dirinya. Kejengkelan yang begitu tak nyata bentuknya telah bisa membuat batinnya hampir porak poranda. Ia tak bisa membayangkan bila batinnya dikuasai oleh kemarahan, tentu akan lebih parah lagi. Api kemarahan memang lebih berbahaya daripada api biasa.

Dengan sabar ia berusaha mengikis perasaan jengkel yang ada pada batinnya dengan perenungan Dhamma. Berusaha mengembangkan mettā citta yang sejak lama telah ia latih dengan baik. Bhikkhu Mahā Thong adalah seorang manusia biasa seperti dirinya yang perlu dimaklumi dan dimaafkan. Ia berusaha terus mengembangkan mettā pada seniornya itu. Akhirnya ia berhasil dan batinnya pun bisa dikendalikan dengan baik seperti semula. 

***

Vihāra ini telah berdiri dengan sempurna. Sālā, senāsana  dan lain-lain telah lengkap walau sederhana, layak sebagai vihāra hutan. Ia merasa sudah waktunya untuk pergi meneruskan pengembaraan kepertapaannya.

Maka, pada suatu senja menjelang malam, ia pergi ke kuṭi bhikkhu Lhek hendak berpamitan. Ia sengaja mengambil jalan memutar yang berdekatan dengan kuṭi bhikkhu Mahā Thong. Ia berpikir, kalau dilihatnya bhikkhu Mahā Thong ada di teras kuṭi, ia pun akan  berbicara dengannya, walau selama ini bhikkhu Mahā Thong selalu berusaha menghindar. Namun, disana  ia melihat suatu pemandangan yang menarik perhatiannya. Bhikkhu Mahā Thong duduk bhāvanā di bawah sebatang pohon besar di samping kuṭi. Sesosok bayangan perempuan muda melayang-layang di atas kepala bhikkhu Mahā Thong. Sekali-sekali masuk ke tubuh bhikkhu Mahā Thong, lalu keluar lagi.

Bhikkhu Nando mengenali dengan baik sosok bayangan itu. Ia memandang dengan tajam pada bayangan itu. Tiba-tiba bayangan perempuan muda itu menengok dan memandang bhikkhu Nando. Matanya melotot dan mulutnya menyeringai ketakutan. Dengan cepat bayangan itu masuk ke tanah di samping bhikkhu Mahā Thong duduk.

“Oh, kau rupanya penyebab dari semua malapetaka ini,” gumam bhikkhu Nando.

Makhluk itu tak berhasil mencelakai dan menakut-nakuti bhikkhu Nando. Kini, ia memperalat bhikkhu Mahā Thong. Kasihan bhikkhu Mahā Thong.

Sesampai di kuṭi bhikkhu Lhek, bhikkhu Nando menyampaikan maksud kedatangannya serta menceritakan apa yang dilihatnya tadi.

“Lalu, apa rencana Than Nando terhadap makhluk itu?” tanya bhikkhu Lhek.

“Kita nasehatkan para umat untuk membakar sisa-sisa tulangnya agar tak ada lagi keterikatan pada tubuhnya,” jawab bhikkhu Nando.

Ternyata, setelah digali, yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan kecil tulang. Dan proses pembakaran sisa-sisa tulang itu berlangsung lancar, diiringi paritta penyaluran jasa kebajikan dari semua orang yang hadir.

Setelah segala sesuatunya  selesai dengan baik, bhikkhu Nando pun berpamitan pada semua sahadhammika guna meneruskan pengembaraan. Setelah mencangklongkan semua perlengkapan kebhikkhuannya di kedua pundaknya, dengan ketenangan dan kemantapan hati, bhikkhu Nando melangkahkan kaki serta dengan lirih menguncarkan paritta,

  • Karaṇīya matthakusalena
  • Yantaṁ santaṁ padaṁ abhisamecca
  • Sakko ujū ca suhujū ca
  • Suvaco cassa mudu anatimāni

……………………….

Catatan:

  • Byāpāda : perasaan marah, jengkel, dendam pada diri sendiri maupun pada orang lain.
  • Sahadhammika : saudara atau rekan se-Dhamma.

[Samma Ditthi, edisi 4, Juni 2002, KAMMA, Nanda Kesawa]

Iklan

Satu Tanggapan to “Siluman Timur Tengah”

  1. Herizal said

    Nice Job
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: