Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

DHUTANGA

Posted by chanyan pada 2010/05/20

Ajahn Chah

Sebagai umat Buddha, kita tentu pernah atau bahkan sering melihat atau bertemu dengan seorang bhikkhu. Bhikkhu, biasanya tinggal di dalam lingkungan vihāra, di sebuah bangunan yang biasa disebut kuṭi. Vihāra biasanya terdiri dari beberapa bangunan, di antaranya Dhamma sālā  dan kuṭi para bhikkhu. Namun, ada suatu bangunan yang tidak semua vihāra mempunyainya, yaitu uposatha gāra.

Di jaman ini mungkin kita berpikir, bangunan-bangunan itu biasanya dibangun secara mewah dan megah, luas serta mungkin saja dilengkapi dengan alat pengatur suhu udara yang begitu menyejukkan. Begitupun, kuṭi para bhikkhu. Sebuah gedung permanen, mewah serta mungkin dilengkapi juga dengan alat pengatur suhu udara, lemari pendingin, televisi, radio serta pesawat telepon kabel maupun handphone.

Bila bepergian, para bhikkhu akan menggunakan kendaraan roda empat yang biasanya cukup mewah dan nyaman. Bahkan konon ada yang memiliki mobil pribadi untuk memudahkan mobilitas. Untuk perjalanan jarak jauh dalam atau luar negeri, tentu pesawat terbang merupakan satu-satunya pilihan. Di Singapore ada bhikkhu yang mengendarai mobilnya sendiri, berbelanja bahan-bahan makanan di Mal serta memasak makanan untuk dirinya sendiri. Di Indonesia pun ada umat Buddha yang pernah melihat orang yang mengenakan atribut bhikkhu keluar masuk Mal  dan gedung bioskop. Sementara di Thailand, sebelum dilepas jubah, seorang bhikkhu yang cukup terkenal, diberitakan membeli pesawat terbang pribadi di Amerika dan Australia untuk bepergian  bila ia berkunjung di kedua negara itu.

Sesuai dengan hukum aniccaṁ, putaran waktu dan jaman akan mengubah segala sesuatu. Waktu dan jaman selalu menuntut perubahan-perubahan, tak peduli walau perubahan-perubahan itu menyebabkan kemerosotan dan kehancuran. Sementara orang menilai, perubahan menuju kemajuan duniawi adalah sesuatu yang indah. Maka, perubahan itu layak untuk dinikmati keindahannya. Keindahan yang sifatnya amat tergantung pada pribadi masing-masing orang.

Pada suatu saat nanti, umat Buddha tidak lagi bisa membedakan antara para bhikkhu (pertapa) dan umat Buddha awam (upāsaka-upāsikā), selain dari cara berpakaian. Bahkan pada saatnya nanti, konon cara berpakaian pun akan menyamai umat awam. Hanya, mereka akan mengenakan semacam selendang berwarna kuning sebagai tanda bahwa mereka adalah seorang bhikkhu. Apakah benar akan demikian? Entahlah!

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, di kala hutan belum begitu gundul, suhu udara belum begitu panas dan gersang, penduduk dunia pun belum begitu banyak jumlahnya, bhikkhu-bhikkhu masih mampu bertahan tinggal  di dalam kuṭi yang tanpa pengatur suhu udara. Masih merasa tabu untuk menonton televisi atau mendengar radio. Para umat Buddha pun belum menuntut ke up-to-date an para bhikkhu. Atau karena saat itu memang belum ada pesawat televisi, radio pun masih jarang. Mobil pun tak mampu mereka punyai. Apalagi pesawat terbang.  Para bhikkhu hidup di dalam kesederhanaan.

Saat itu, dalam menjalankan misinya di Indonesia, ada seorang bhikkhu yang tinggal  di sebuah kamar yang kurang penerangan dan pengap sebelum mendapatkan tempat yang cukup layak. Vihāra-vihāra pun masih amat sedikit jumlahnya. Kebanyakan dibangun secara darurat dan amat sederhana. Namun, kini keadaan telah amat berubah. Umat Buddha mulai sulit untuk menjumpai vihāra yang dibangun secara sederhana. Vihāra dibangun seakan berlomba dalam kemegahan. Para bhikkhu seakan dituntut untuk berlomba membangun vihāra-vihāra megah. Seolah keberhasilan seorang bhikkhu ditentukan oleh megah dan tidaknya atau banyak dan tidaknya vihāra yang dibangun.

Lalu, bagaimanakah kehidupan para bhikkhu di jaman Sang Buddha atau beberapa waktu setelah Beliau parinibbāna? Tentu saja kita tidak tahu secara pasti. Namun, kita bisa mengetahui dan menyimaknya di dalam kitab suci Tipiṭaka atau kitab-kitab kuno dan kisah-kisah yang dituturkan guru-guru kita. Oleh karena itu pula, tulisan ini dirangkum dari kitab suci Tipiṭaka, kitab-kitab lain dan juga dari penuturan guru-guru bhāvanā yang pernah didengar oleh penulis.

Pada kemunculan pertama bhikkhu-bhikkhu, Sang Buddha belum membuat peraturan-peraturan kebhikkhuan secara baku. Para siswa itu melakukan kehidupan dengan mencontoh cara hidup yang dilakukan oleh Sang Buddha. Mereka hidup dengan amat sederhana. Mereka tinggal di dalam hutan, di bawah keteduhan pohon. Atau di dalam taman kota / negara yang di masa itu tentu saja masih merupakan sebuah hutan, tidak semacam taman kota di masa kini. Jubah mereka dibuat dari kain bekas pembungkus mayat. Makan hanya satu kali dalam satu hari, setelah mendapatkan dāna makanan dari para umat di pagi hari. Bila mereka menderita penyakit, mereka mengkonsumsi obat-obat tradisional yang di antaranya terdiri dari air seni yang dicampur dengan semacam buah-buahan obat. Atau bahkan menggunakan buang air besar sebagai obat [mungkin sebagai obat luar]. Jadi pengobatan dengan air seni (urine) yang sekarang sedang gencar-gencarnya dipromosikan oleh sebagian ahli pengobatan tradisional, telah dilaksanakan oleh para bhikkhu di jaman Sang Buddha. Mereka mengutamakan untuk melaksanakan ajaran Sang Buddha, terutama pembersihan batin guna mencapai kesucian.

Kita bisa membayangkan, dengan melaksanakan kehidupan semacam itu, bisakah seseorang mempunyai badan yang gemuk atau gendut? Karenanya, hanya orang-orang yang mempunyai tekad dan niat yang tinggi saja yang rela menjalani kehidupan sebagai bhikkhu saat itu. Namun, setelah peminat kebhikkhuan bertambah banyak dan berbagai maksud dan tujuan mereka dalam menjalani kebhikkhuan, Sang Buddha menetapkan peraturan kebhikkhuan secara baku, yang disebut vinaya. Vinaya diterapkan bagi bhikkhu [juga bhikkhuṇī] secara umum. Namun, karena adanya perbedaan tingkat niat dan tekad siswa-siswa-Nya di dalam mencapai kesucian dan penyempurnaan pāramī, dengan bijaksananya Beliau tetap melestarikan cara-cara kehidupan awal  Beliau yang disebut dhutaṅga, bagi siswa-siswa-Nya. Dhutaṅga bukanlah merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan oleh setiap bhikkhu seperti halnya vinaya. Dhutaṅga hanya diperuntukkan bagi para bhikkhu yang menghendaki jalan pintas dalam melaksanakan ajaran Sang Buddha guna mencapai kesucian maupun guna menyempurnakan pāramī. Sebagai jalan pintas, pelaksanaan dhutaṅga tentu saja lebih berat dibandingkan dengan jalan biasa.

Lalu, bagaimanakah cara pelaksanaan praktek dhutaṅga itu? Ada 13 (tiga belas) cara yang harus dilakukan para bhikkhu yang berniat untuk melaksanakannya. Ketiga belas cara ini tidaklah harus dilaksanakan secara keseluruhan, namun boleh dipilih sebanyak mungkin sesuai dengan tingkat niat dan tekadnya. Yang mempunyai niat dan tekad dengan tingkat rendah, cukup melaksanakan satu atau dua cara saja dan dianggap paling mudah baginya. Lebih tinggi  lagi niat dan tekadnya, lebih banyak pula cara-cara yang dilaksanakan. Hasilnya? Tentu saja sesuai dengan tingkat niat dan tekad serta kemurnian batin masing-masing pelaksananya.

Nah, inilah ketiga belas (13) pasal dhutaṅga itu:

  1. Paṁsukūlikaṅga            : hanya mengenakan cīvara paṁsukūla.
  2. Tecīvarikaṅga                : hanya mengenakan [mempunyai hanya]  satu perangkat penutup tubuh yang terdiri 3 (tiga) cīvara.
  3. Piṇḍapātikaṅga                   : hanya mendapatkan makanan dengan cara melakukan piṇḍapāta.
  4. Sapadānacārikaṅga          : hanya melakukan piṇḍapāta secara berurutan / berbaris.
  5. Ekasanikaṅga                     : makan hanya satu kali dalam satu āsana (duduk) dalam satu hari.
  6. Pattapiṇḍikaṅga                 : makan hanya dengan pāta, tak memakai bājana lainnya.
  7. Khalupacchābhattikaṅga : tidak menerima makanan yang diberikan kemudian.
  8. Āraññikaṅga                       : bertinggal di hutan.
  9. Rukkhamulikaṅga             : bertinggal di bawah keteduhan pohon.
  10. Abbhokāsikaṅga                : bertinggal di tempat lapang dan terbuka.
  11. Sosānikaṅga                        : bertinggal di pekuburan.
  12. Yathāsanthatikaṅga          : bertinggal dan puas dengan apa yang disediakan [di mana pun].
  13. Nesajjikaṅga                       : tidak tidur.

Seperti yang telah disebutkan di atas, dhutaṅga bukanlah vinaya yang harus dilaksanakan oleh setiap bhikkhu secara umum. Jadi, pelanggaran pada pelaksanaan dhutaṅga tidak berarti pelangggaran sīla, namun si pelaku telah melanggar adhiṭṭhāna (tekad) nya sendiri. Yang berarti merupakan pelanggaran Dhamma yang sifatnya lebih halus daripada pelanggaran sīla.

Seorang bhikkhu yang tidak puas dengan kesederhanaan, hanya menurutkan keduniawian atau rakus, hanya menuruti selera mulut dan perut [terhadap makanan], hanya mencari keuntungan duniawi, ketenaran serta pujian, sebagai orang yang tak menghormati Dhamma, tentu tak layak untuk samādāna atau bertekad melaksanakan  dhutaṅga.  Sebab, hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri. Batinnya bahkan akan merosot dan tercela dalam kehidupan ini. Serta dalam kelahiran berikutnya ia akan terperosok ke dalam neraka, dan sesudahnya akan terlahir sebagai makhluk peta.

Namun, seorang bhikkhu yang puas dengan kesederhanaan, senang tinggal  dalam keheningan, mempunyai usaha dan semangat yang tinggi, tidak suka menonjolkan diri [sombong] dan berbohong [tentang tingkat batinnya], tidak hanya menuruti selera mulut dan perut [terhadap makanan], tidak mencari keuntungan duniawi, ketenaran dan pujian karena upasampadā  dengan saddhā yang tinggi, sebagai orang yang menghormat Dhamma serta ingin bebas dari kehidupan dan kematian, dia layak untuk samādāna / bertekad melaksanakan dhutaṅga. Dengan kerelaan dan semangat serta ketekunannya itu, ia akan mendapatkan hasil yang baik.  Seorang bhikkhu yang melaksanakan  dhutaṅga dengan baik dan bersih, akan mampu mencapai rūpa sāmapati (rūpa jhāna) maupun arūpa sāmapati (arūpa jhāna) yang memungkinkan mempunyai kekuatan supranormal [iddhividdhi (kesaktian), dibbasota (telinga dewa), dan lain-lain]. Ia akan disenangi dan dicintai oleh manusia dan para dewa. Dhamma akan berkembang memenuhi batinnya yang membuat ia berhasil mencapai lokuttara bhūmi.

Dhutaṅga guṇa (manfaat pelaksanaan dhutaṅga)

Pencapaian Dhamma tingkat tinggi tak akan dialami oleh bhikkhu yang tak melaksanakan  dhutaṅga secara baik dan bersih. Sama dengan tidak berkembangnya tumbuh-tumbuhan yang tidak mendapat siraman air.

  • Dhutaṅga sebagai dasar berkembangnya Dhamma tingkat tinggi.
  • Sebagai sarana bagi seorang samaṇa untuk membasmi kilesa.
  • Sebagai dasar bagi munculnya kekokohan batin (samādhi) karena sati berkembang dengan baik.
  • Sebagai sarana membasmi anak panah keraguan.
  • Sebagai sarana membasmi kehausan batin akan keduniawian (taṇhā).
  • Sebagai sarana yang membuat lancarnya paṭipatti Dhamma.
  • Sebagai sarana menyeberang dan bebas dari lautan kilesa.
  • Sebagai obat bagi penyembuhan batin dari penyakit kilesa.
  • Sebagai sarana bagi pencapaian kebahagiaan luhur, Nibbāna.
  • Sebagai sarana bagi padamnya segala macam jenis dukkha.
  • Sebagai sarana kelangsungan dan pelestarian kehidupan ke-samaṇa-an.
  • Sebagai sarana untuk memadamkan kejahatan (kejelekan) yang muncul  di batin.
  • Sebagai sarana bagi munculnya kehidupan ke-samaṇa-an.
  • Sebagai sarana bagi lancarnya pelaksanaan samatha dan vipassanā, hingga pencapaian Nibbāna.
  • Sebagai sarana bagi munculnya kebajikan di dalam batin.
  • Sebagai sarana bagi penembusan kesunyataan luhur, Ariya sacca.

Sang Buddha amat memuji pelaksanaan dhutaṅga bagi para bhikkhu, sebagai sesuatu yang tak layak diabaikan oleh para bhikkhu yang menghendaki pencapaian luhur dalam kehidupan ini maupun bagi penyempurnaan pāramī.

Pada masa Sang Buddha atau beberapa lama sesudah Beliau parinibbāna, terdapat amat banyak bhikkhu-bhikkhu pelaksana dhutaṅga. Namun, semakin lama jumlahnya semakin surut dan semakin surut. Itu semua dikarenakan oleh perubahan jaman dan perubahan cara berpikir umat Buddha khususnya dan manusia pada umumnya seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Di bawah ini, beberapa contoh siswa-siswa Sang Buddha yang melaksanakan dhutaṅga secara keras.

Bhikkhu Cakkhuphala, selain melaksanakan pasal-pasal dhutaṅga yang umum dilaksanakan oleh bhikkhu-bhikkhu dhutaṅga, ia juga melaksanakan nesajjikaṅga [praktek tidak tidur] selama tiga bulan pada suatu masa vassa. Pada saat itu, ia terjangkiti penyakit mata yang amat parah. Karena itu, oleh dokter yang merawatnya, dianjurkan untuk berbaring pada saat menetesi obat mata selain untuk beristirahat. Namun, ia menolak berbaring maupun tidur untuk beristirahat. Ia menetesi mata hanya dengan posisi duduk atau berdiri. Akhirnya, ia menjadi buta. Namun, bersamaan dengan itu pula, ia mencapai kesucian arahat. Ia tidak merasa menyesal dengan kebutaan matanya, karena ke-arahat-an itulah yang menjadi tujuannya, walau tak termasuk sebagai salah satu asītimahāsāvaka maupun etadagga dalam suatu bidang Dhamma.

Bhikkhu Nālaka adalah seorang kemenakan brāhmaṇa Asita, penasehat suku sakya. Brāhmaṇa Asita lah yang meramalkan bayi Siddhatta akan menjadi seorang Buddha bila ia tahbis menjadi pertapa dan akan menjadi seorang Rāja Cakkavatti bila sebagai perumah tangga. Namun, ia merasa hidupnya tak akan sempat menunggu sampai Pangeran Siddhatta dewasa. Maka, ia menasehati kemenakannya, Nālaka untuk mengikuti perjalanan hidup Pangeran Siddhatta.

Setelah Pangeran Siddhatta mencapai Kebuddhaan, ia menemui Sang Buddha dan mohon diberi pelajaran kepertapaan secara munī [salah satu praktek kepertapaan secara keras]. Sesudah itu ia masuk kembali ke dalam hutan di pegunungan Himalāya tempatnya bermukim. Di sana ia tinggal di bawah naungan sebatang pohon [rukkhamulikaṅga]. Dan setiap malam berakhir, ia berpindah ke pohon yang lain sambil melaksanakan bhāvanā dengan tekun. Akhirnya ia mencapai ke-arahat-an dan parinibbāna tujuh bulan kemudian. Ia termasuk sebagai salah satu asītimahāsāvaka.

Mahā Kassapa Thera merupakan contoh paling utama dalam melaksanakan  praktek dhutaṅga, walau ia ditahbiskan menjadi bhikkhu saat usia 80 tahun, usia uzur bagi orang kebanyakan. Ia mencapai kesucian arahat tujuh hari setelah tahbis menjadi bhikkhu, termasuk sebagai asītimahāsāvaka [siswa utama] dan etadagga [unggul] dalam pelaksanaan dhutaṅga.

Perannya bagi perkembangan dan pelestarian Buddha sāsanā amatlah besar. Begitu pula perannya dalam melestarikan praktek dhutaṅga. Segera sesudah Sang Buddha parinibbāna, ia melihat para bhikkhu mulai berbeda pendapat tentang Dhamma dan Vinaya yang diajarkan Sang Buddha. Maka, ia mengumpulkan para bhikkhu dan mengadakan saṅgāyanā (pertemuan / rapat) untuk melestarikan Dhamma – Vinaya ajaran Sang Buddha. Saṅgāyanā itu disponsori oleh Rāja Ajātasattu.

Ia parinibbāna  pada usia 120 tahun, tak berapa lama sesudah Sang Buddha parinibbāna. Selama hidup kebhikkhuannya, ia melaksanakan dhutaṅga dengan ketat. Sang Buddha pernah memberi kelonggaran dengan menyarankan untuk tidak terus melaksanakan dhutaṅga mengingat usia lanjutnya itu. Namun, ia menolak. Ketika Sang Buddha bertanya mengapa ia ingin terus melaksanakan dhutaṅga, Māha Kassapa menjawab bahwa dengan melaksanakan dhutaṅga, ia bisa merasa tenang dan bahagia. Ia memang senang  hidup dalam kesederhanaan menjauhi keduniawian, harta dan ketenaran. Lagi pula, ia ingin memberi contoh pada generasi penerus.

Ia berharap, bhikkhu-bhikkhu generasi selanjutnya juga tertarik melaksanakan dhutaṅga dalam menjalankan hidup kepertapaan, karena merupakan jalan pintas walau amat sulit pelaksanaannya.

Lalu, adakah bhikkhu-bhikkhu pelaksana dhutaṅga pada jaman sekarang? Tentu ada, walau jumlahnya tidak banyak! Di negara-negara Buddhis seperti Laos, Kamboja, Birma dan Thailand masih bisa dijumpai bhikkhu-bhikkhu pelaksana dhutaṅga, walau jumlahnya juga tidak banyak. Mereka biasanya tinggal di vihāra-vihāra hutan secara berkelompok. Ada juga yang tinggal sendiri-sendiri di gubuk dalam hutan atau di dalam gua di lereng bukit atau gunung. Karenanya, biasa disebut juga bhikkhu hutan.

Hutan adalah suatu kawasan yang tentunya banyak dihuni binatang yang buas maupun yang tidak. Juga dihuni oleh makhluk-makhluk yang tidak kasat mata. Karenanya, seorang bhikkhu hutan dituntut selalu waspada, penuh mettā dan mempunyai kekuatan samādhi yang memadai. Bila tidak, keselamatan dirinya tentu diragukan.

Di suatu kawasan hutan di Thailand, beberapa orang pemburu binatang menemukan selembar jubah bhikkhu tersangkut di ranting pohon, pāta dan perlengkapan kebhikkhuan lainnya berceceran di tanah tanpa menemukan pemiliknya. Ternyata, agak jauh dari tempat itu, para pemburu binatang itu menemukan sosok seorang bhikkhu yang telah tewas akibat dibunuh dan diinjak-injak seekor gajah tunggal.

Di hutan perbatasan Birma dan Thailand utara, seorang bhikkhu tewas ditembak sekelompok suku yang sedang berperang, karena diduga sebagai mata-mata lawan yang menyamar sebagai seorang bhikkhu.

Pernah pula seorang bhikkhu tersesat di dalam hutan, tertatih-tatih kehilangan kesadaran karena diganggu oleh makhluk tak kasat mata serta kelaparan, dalam keadaan yang amat menyedihkan sebelum diketemukan pencari tanaman sayur-sayuran  hutan. *

[Samma Ditthi, edisi 5, Oktober 2003, SILA, Hananto]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: