Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dhamma Sebagai Jalan Hidup (4)

Posted by chanyan pada 2010/05/21

Saṁyojana bukanlah merupakan suatu benda yang berbentuk. Tetapi ia bersatu dan seolah merupakan jiwa dari benda-benda yang berbentuk. Manakala seseorang berhasil menganalisa dan menghancurkan persepsi salah terhadap benda-benda yang berbentuk [maupun yang tak berbentuk], maka saṁyojana pun ikut hancur bersama persepsi salah terhadap benda-benda tersebut. Benda-benda yang berbentuk itu pun bukanlah merupakan suatu penghalang atau belenggu batin. Namun, saṁyojana lah yang merupakan penghalang atau belenggu batin.

Saṁyojana merupakan akar tunggang dari semua penyebab, yang diwakili oleh dua hal yang menimbulkan dukkha.

  1. Avijjā : tak mengetahui tentang kebenaran.
  2. Taṇhā : keinginan yang mempengaruhi perasaan.

” Avijjā nivaraṇaṁ taṇhā saṁyojanaṁ’ “

avijjā bersifat sebagai nivaraṇa (penghalang), taṇhā bersifat sebagai saṁyojana (belenggu). Taṇhā merupakan gejala dari avijjā. Bila tak ada avijjā, taṇhā pun tak akan ada. Padamnya avijjā dan taṇhā merupakan terbebasnya batin dari belenggu, serta mampu menembus vimuttānuttariya (pembebasan akhir). Kebebasan ini muncul, karena batin mampu menghancurkan avijjā dan taṇhā dengan sempurna.

Pada saat mencapai Kebuddhaan, Sang Buddha berkata : “Visaṅkhāra gataṁ cittaṁ taṇhānaṁ khayamajjhagā”, batin ini telah mencapai visaṅkhāra (keadaan bebas dari kondisi), karena telah mencapai pembebasan dari segala keinginan (taṇhā).

Batin gelisah dan haus, terus berputar-putar disebabkan oleh karena keinginan (taṇhā). Manakala taṇhā telah pupus akibat dari padamnya avijjā, batin pun akan mampu mencapai kekokohan, tak lagi gelisah dan kehausan akan putaran dari roda kehidupan.

Ariya magga yang berunsur 8 (delapan) dan saṁyojana selalu berlawanan. Barangsiapa dikuasai oleh saṁyojana, ia tak akan menyukai ariya magga. Kesatuan dari sīla, samādhi dan paññā tak akan dipunyai olehnya. Ia cenderung akan memisah-misahkan ketiganya sesuai dengan kilesa nya, yaitu avijjā dan taṇhā. Mungkin saja ia hanya melaksanakan sīla secara fanatik hingga terbelit oleh sīlabbataparāmāsa. Mungkin saja ia hanya akan melatih samādhi dengan tekun dan tersesat ke dalam ketenangan yang dikiranya Nibbāna. Atau mungkin saja ia hanya melaksanakan pengembangan paññā hingga merasa dirinya telah menjadi paling pandai dan mencapai kesucian. Memaksa orang lain untuk melakukan apa yang telah dilakukannya.

Barangsiapa melaksanakan dan berlatih dalam ariya magga, kekuatan saṁyojana akan berkurang dalam dirinya, dan akan semakin lemah seiring dengan meningkatnya kekuatan magga. Hanya maggasamaggi, kekuatan dari kesatuan magga yang berunsur 8 (delapan), yang mampu menghancurkan saṁyojana, yang juga sebagai hancurnya avijjā. Avijjā akan berangsur lemah seiring dengan berkembangnya magga. Dan akan pupus sama sekali oleh kekuatan arahattamagga ñāṇaArahattamagga ñāṇa  merupakan tanda dari ariya magga yang telah mencapai kekuatan penuh.

Sīla, samādhi, paññā yang telah berpadu dan menyatu dengan kokoh sebagai maggasamaggi akan menghasilkan ñāṇadassanavisudhi. Kekuatan magga ini sama besar dengan kekuatan saṁyojana, namun saling berlawanan. Oleh karena itu, magga dan saṁyojana tak bisa berada di tempat yang sama. Bila magga telah berkembang penuh, maka saṁyojana pun akan padam dengan sepenuhnya pula.

Seseorang yang telah mencapai tingkat ini, pada batinnya akan muncul pengetahuan yang bersifat luar dunia [lokuttara ñāṇa], yaitu:

  1. Khaya ñāṇa        : tahu bahwa saṁyojana telah pupus.
  2. Anuppada ñāṇa : tahu bahwa saṁyojana tak akan timbul kembali.

Khaya ñāṇa disebut pula magga ñāṇa dan anuppada ñāṇa disebut pula phala ñāṇa.

Di dalam berbagai sūtta, ñāṇa-ñāṇa ini juga banyak disebut-sebut. Salah satunya ada di dalam anattalakkhana sūtta yang berbunyi: “Vimuttasmiṁ vimuttamiti ñāṇaṁ hoti”, yang artinya, di saat telah terbebas, kita tahu bahwa telah terbebas. Pengetahuan ini disebut magga ñāṇa atau khaya ñāṇa.

Kelanjutannya adalah : “Khīnājāti vusitaṁ brahmacariyaṁ, kataṁ karanīyaṁ nāparaṁ itthattāyāti pajānāti”, mengetahui dengan jelas, tak ada lagi kelahiran, perilaku sebagai brahma telah dilaksanakan dengan sepenuhnya, tugas telah diselesaikan dengan sempurna. Karenanya, tugas seperti ini tak perlu lagi dilakukan. Pengetahuan yang jelas seperti ini disebut phala ñāṇa.

Hanya praktisi-praktisi yang melaksanakan ajaran Sang Buddha dengan baik dan sempurna saja yang mampu mencapai hasil seperti disebut di atas. Setelah kemangkatan Sang Buddha hingga saat ini amat banyak ajaran Sang Buddha yang diselewengkan secara sengaja maupun tidak. Yang sesuai dengan Dhamma dikatakan bukanlah Dhamma, dan yang tidak sesuai dengan Dhamma dikatakan sebagai Dhamma. Oleh karena itu, umat Buddha harus mampu merenungkan dan membuktikan ajaran mana yang  murni dan mana yang tidak.

Dhamma Sang Buddha telah dibabarkan dengan sempurna, untuk kita laksanakan. Bila manusia-manusia seperti kita ini tak lagi mempunyai kemauan untuk mengikuti jejak-Nya, Dhamma hanyalah sekedar sebagai Dhamma. Tak akan bisa membawa kita menuju terbebasnya dari dukkha. Sedangkan manusia-manusia yang melaksanakan ajaran Sang Buddha telah banyak yang berhasil bebas dari dukkha. Itu sebagai bukti bahwa ajaran Sang Buddha bukanlah sesuatu yang mustahil untuk bisa dilaksanakan serta membawa hasil yang diharapkan oleh semua mahkluk, yaitu terbebas dari dukkha.

Kini, mari kita bicarakan bagaimana caranya untuk mendapatkan atau meningkatkan paññā Dhamma (kebijaksanaan Dhamma).

Paññā, menurut Buddha sāsanā terdapat 2 (dua) macam, yaitu lokiya paññā (kebijaksanaan tingkat duniawi) dan lokuttara paññā (paññā tingkat luar dunia). Kemunculan paññā ini tentu saja karena ada penyebabnya. Penyebab itu adalah sati (perhatian) dan samādhi (konsentrasi) yang baik dan benar. Tanpa adanya sati dan samādhi yang baik dan benar, paññā tak akan muncul apalagi berkembang. Para bijaksana tak akan membantah hal ini.

Keberhasilan dalam pengembangan paññā akan memunculkan saddhā-ñāṇa sampayuta, yaitu suatu keyakinan terhadap kemampuan diri yang didukung oleh pengetahuan yang benar. Bhāvanā (pengembangan kebijaksanaan) yang tanpa didukung oleh sati dan samādhi yang baik hanya akan menghasilkan pengetahuan semu yang akan menyebabkan kegelisahan.

Tahapan untuk mendapatkan paññā adalah dengan:

  • Suta : mendengar,
  • Cinta : berpikir,
  • Bhāvanā : pengembangan dari keduanya.

Pada awalnya, seseorang mendengar sesuatu lalu berpikir tentang apa yang telah didengarnya, kemudian mengembangkan (merenungkan) obyek tersebut hingga mempunyai pengetahuan yang lebih jelas daripada hanya dengan berpikir semata. Mendengar, berpikir dan mengembangkannya akan menghasilkan sesuatu yang benar-benar jelas dan bermanfaat.

Semasa Sang Buddha masih hidup, banyak siswa-siswa Beliau yang mendengar khotbah-Nya, dengan cepat mampu mencapai kebijaksanaan [paññā] luhur dan mencapai kesucian. Hal itu banyak disebut dalam sūtta-sūtta, diantaranya dalam Ādittapariyāya sūtta : “Evaṁ passaṁ bhikkhave sutvā ariya sāvako” [Wahai para bhikkhu, begitulah cara para siswa ariya mendengar]. Yang Beliau maksud adalah, mendengar dan mencapai kebijaksanaan luhur (abhipaññā).

Apakah proses mendengar itu hanya tergantung dari si pendengar saja? Tentu saja tidak! Si pembicara (penyampai) pun dituntut harus mempunyai paññā agar bisa diterima dan dimengerti oleh si pendengar. Di samping menggunakan mulut untuk berbicara, ia harus mengerahkan kekuatan batin agar apa yang disampaikannya itu bisa sampai dan diterima serta dimengerti oleh si pendengar.

Batin termasuk dalam viññāṇa dhātu. Batin inilah yang mampu mengirim dan menerima sesuatu melalui pintu-pintu batin, yaitu badan jasmani dan pikiran. Sang Buddha memahami benar pengetahuan ini dan memanfaatkan dengan baik pula. Beliau membabarkan Dhamma yang telah ditemukan-Nya dengan dukungan kekuatan batin yang sempurna serta berhasil dengan sempurna pula. Dan siswa-siswa Beliau menggunakan telinga untuk mendengar didukung oleh kekuatan batin yang berupa sati (perhatian) dan samādhi (kekokohan batin). Maka, mereka yang mempunyai sati dan samādhi yang baik akan mampu merenungkan, menganalisa dan mencerna dengan cepat pula. Mengembangkan paññā (kebijaksanaan) untuk mencapai keluhuran / kesucian. Demikianlah, bila antara pembicara dan pendengar tidak mengalami proses yang telah diterangkan di atas dengan benar, maka hasilnya pun tak akan memuaskan. Atau, bahkan bisa terjadi salah pengertian.

Ada 18 (delapan belas) unsur atau dhātu yang memungkinkan adanya hubungan antara internal dan eksternal manusia.

6 (enam) unsur atau dhātu yang merupakan pintu batin pada diri manusia:

  1. Cakkhu dhātu, yaitu mata.
  2. Sota dhātu, yaitu telinga.
  3. Ghāna dhātu, yaitu hidung.
  4. Jivhā dhātu, yaitu lidah.
  5. Kāya dhātu, yaitu badan jasmani [kulit].
  6. Mano dhātu, yaitu pikiran.

6 (enam) unsur atau dhātu yang merupakan obyek di luar diri manusia:

  1. Rūpa dhātu, yaitu bentuk.
  2. Sadda dhātu, yaitu suara.
  3. Gandha dhātu, yaitu bau.
  4. Rasa dhātu, yaitu rasa [bagi lidah].
  5. Phoṭṭhabba dhātu, yaitu sentuhan.
  6. Dhamma dhātu, yaitu perasaan [bagi pikiran].

6 (enam) unsur atau dhātu yang menghubungkan keduanya:

  1. Cakkhu viññāṇa dhātu : kesadaran saat melihat bentuk melalui mata.
  2. Sota viññāṇa dhātu       : kesadaran saat mendengar suara melalui telinga.
  3. Ghāna viññāṇa dhātu   : kesadaran saat mencium bau melalui hidung.
  4. Jivhā viññāṇa dhātu     : kesadaran saat mengecap rasa melalui lidah.
  5. Kāya viññāṇa dhātu     : kesadaran saat merasa sentuhan melalui kulit [ badan jasmani].
  6. Mano viññāṇa dhātu    : kesadaran saat muncul perasaan [kesan-kesan] melalui pikiran. 

Viññāṇa (kesadaran) merupakan suatu aliran kekuatan yang muncul sebagai penghubung antara unsur-unsur organ dalam diri manusia dengan unsur-unsur obyek yang berada di luar diri manusia. Perhubungan unsur-unsur dalam dan unsur-unsur luar disebut phassa. Perhubungan ini menyebabkan munculnya reaksi kesadaran batin untuk melakukan penganalisaan. Penganalisaan yang berkelanjutan dan mendalam pada proses hubungan unsur-unsur dalam, unsur-unsur luar serta kesadaran yang muncul akan mampu menghasilkan kebijaksanaan luhur (abhi paññā).

Batin merupakan pusat dari semua dhātu. Bila batin tak bekerja atau dalam keadaan lemah, semua dhātu juga akan menjadi lemah. Bila batin dalam keadaan kuat dan bekerja dengan kuat pula, semua dhātu pun akan menjadi kuat dan jelas. Karenanya, ketiga penyebab munculnya paññā yaitu mendengar (suta), berpikir (cinta) dan pengembangan (bhāvanā), semuanya tergantung dari keadaan batin. Jadi ilmu kebatinan ini merupakan ilmu yang paling utama dibanding ilmu-ilmu yang lain.

Guna mencapai tingkat batin yang tinggi dan luhur, haruslah dimulai dengan perbuatan-perbuatan (kamma) yang terkendali dengan baik (sucarita). Kāya sucarita (perbuatan baik yang dilakukan oleh badan jasmani), vacī sucarita (perbuatan baik yang dilakukan oleh mulut / ucapan), maupun mano sucarita (perbuatan baik yang dilakukan oleh pikiran). Dan perbuatan baik itu hanya bisa dicapai bila seseorang mengikuti cara-cara luhur yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu ariya magga berunsur delapan yang bila diringkas akan menjadi tisikkhā  : sīla, samādhi dan paññā.

Sīla adalah kebiasaan perilaku baik dan disiplin dari badan jasmani dan ucapan (mulut). Samādhi adalah kekokohan dari batin yang telah terlatih dengan baik. Paññā adalah pengertian tentang sebab dan akibat dari dukkha dan sukha dalam kehidupan ini. Menghindari munculnya penyebab dukkha yaitu ducarita serta mengembangkan sucarita (perilaku bajik), sebagai penyebab kebahagiaan (sukha).

[Samma Diṭṭhi, edisi 5, Okt 2003, PANNA]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: