Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Perawatan Batin (4)

Posted by chanyan pada 2010/05/21

Setelah membaca uraian sebelumnya, mungkin ada yang berpikir, kalau semua orang bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha seperti yang telah diterangkan di atas, tentu dunia ini aman tak ada perbedaan pendapat, pertengkaran maupun peperangan. Ya, memang begitu. Akan tetapi, mampukah semua orang di dunia ini melaksanakan ajaran luhur itu? Ajaran Sang Buddha bukanlah ajaran yang mudah untuk dilaksanakan. Di antara umat Buddha sendiri pun tak banyak yang mampu atau rela melaksanakan dengan baik. Ada yang menguasai teori dengan baik, tetapi tak baik dalam pelaksanaan. Ada yang rajin di dalam pelaksanaan, tetapi teori yang dikuasai amburadul. Ada pula yang kurang atau salah di dalam menguasai teori sehingga prakteknya pun semakin amburadul. Maka, masyarakat Buddhis pun akan amburadul  dibuatnya. Apalagi masyarakat dunia.

Namun, bila kita benar-benar mengakui bahwa Sang Buddha adalah guru kita, tak selayaknya kita membiarkan diri dan batin kita terjerumus ke dalam keadaan yang amburadul itu. Kita harus memulainya dari dalam diri kita masing-masing.

Dari waktu ke waktu, dari jaman ke jaman. Dunia ini tetap saja dipenuhi oleh kekacauan. Dunia ini tak pernah sepi oleh kekacauan. Kalau tidak di belahan sana, maka muncullah kekacauan di belahan sini. Atau sebaliknya. Bahkan, pada saat-saat tertentu, dunia menjadi teramat kacau dan mengerikan. Tipu-menipu, umpat-mengumpat, caci-mencaci, bentrokan dan peperangan antar negara, antar suku, antar agama, antar kelompok bahkan antar pribadi terjadi di mana-mana. Semua itu karena kebanyakan dari umat manusia telah kehilangan rasa welas asih dan kesadaran kemanusiaannya.

Untuk menjaga agar diri kita tak terjerumus ke dalamnya, kita harus tetap menjaga dan mengembangkan perasaan welas asih di dalam batin. Bila perasaan welas asih itu telah memudar, kita harus membangkitkannya kembali sebelum terlambat.

Mengapa pula kita harus mengembangkan perasaan welas asih [mettā] terhadap sesama? Apa pula hubungannya dengan keadaan dunia yang penuh dengan perselisihan dan pertengkaran ini?

Welas asih [mettā] adalah suatu perasaan yang bersifat luhur yang sering sulit untuk muncul secara benar dan murni. Biasanya muncul hanya sebagian kecil saja dan dikotori oleh perasaan ketidak-adilan. Ia muncul sebagai perasaan belas kasihan yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap berada pada pihaknya. Atau bisa juga pada obyek yang netral. Namun, bila obyek yang tadinya dianggap netral itu ternyata berada pada pihak yang berlawanan, maka perasaan belas kasihan itu akan berubah menjadi ketidaksenangan yang akan berkembang menjadi kebencian. Perasaan ketidaksenangan yang telah berubah menjadi kebencian merupakan bibit dari perselisihan, pertengkaran atau peperangan terbuka bila ada pemicunya. Karena, ia merupakan api kemarahan yang siap berkobar mengoyak ketenteraman dan ketenangan makhluk lain.

Seorang yang dikuasai perasaan ini [yang bisa juga menjadi sifat / karakter] amat sensitif dan emosional. Ia mudah tersinggung. Bila ada sesuatu yang tak menyenangkan hatinya, ia akan marah. Ingin pendapatnya selalu dianggap benar. Bila ada yang menyanggah atau mempunyai pendapat yang berbeda dengannya, ia merasa diserang dan siap berperang. Hidup orang semacam ini tentu penuh dengan dukkha.

Amat berbeda dengan orang yang mengembangkan welas asih [mettā] yang bersifat luhur. Welas asih [mettā] tidak hanya mengandung unsur belas kasihan, namun juga dibarengi dengan perasaan pengharapan agar semua makhluk berbahagia dan mendapat kemajuan. Karenanya, perasaan ini berlangsung secara adil dan tak memihak. Ia tak merasa mempunyai lawan, walau ada yang memusuhinya, karena merasa dirinya sama dengan orang lain. Bila ada yang mengkritik, ia akan berterima kasih dan dijadikannya sebagai suatu masukan yang layak dipertimbangkan. Bila ada yang mencela atau mencaci, ia akan diam berada dalam keseimbangan batin. Ia akan bertindak begitu karena ia selalu mengembangkan pengetahuan dan pandangan benar setiap saat. Diri ini hanya terdiri dari daging dan tulang serta unsur-unsur lain yang teronggok dan menyatu sebagai makhluk hidup. Semua unsur-unsur itu labil, semu, tidak dalam kekuasaan diri. Mereka berubah-ubah sesuai dengan kondisi. Dan akhirnya hanya terurai kembali menjadi usur-unsur dasar.

Tak sesuatu pun layak dilekati atau dianggap sebagai suatu pihak. Sebenarnya diri ini memang tak ada. Yang ada hanyalah suatu konsep yang salah terhadap diri. Layakkah ada perasaan senang atau tidak senang terhadap makhluk atau orang lain?

Jadi, jelaslah, sebenarnya hanya dengan mempraktekkan dan mengembangkan perasaan welas asih yang luhur [mettā] ini kita terbebas dari kancah kegalauan dan kekacauan dunia. Untuk itu Sang Buddha mengajarkan sīla, samādhi dan paññā.

Dengan melaksanakan sīla secara baik, kita telah melatih dan membiasakan diri dalam perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan norma-norma kewelas-asihan. Tidak membunuh atau menyiksa makhluk [orang] lain, berarti kita menyayangi dan welas asih terhadap makhluk [orang] lain yang tentu juga menyayangi kebebasan dan nyawanya. Timbal baliknya, batin kita tenang terbebas dari kemarahan dan kejengkelan [juga keserakahan] serta jerat hukum. Yang berarti pula, kita telah menyayangi dan welas asih terhadap diri sendiri.

Tidak mencuri, berarti kita telah menyayangi dan welas asih terhadap orang lain yang memang membutuhkan harta bendanya guna mendukung kelangsungan hidupnya. Yang berarti pula, kita telah menyayangi dan welas asih terhadap diri sendiri karena terhindar dari keserakahan dan jerat hukum [polisi dan penjara].

Tidak berbuat asusila [perselingkuhan maupun perilaku seks yang tak layak], berarti kita telah menyayangi dan welas asih terhadap orang lain dengan tidak mengganggu ketenteraman keluarganya. Yang berarti pula, kita menyayangi dan welas asih terhadap diri sendiri karena diri sendiri pun tenang, tenteram dan terbebas dari penyakit kelamin [siphilis, aids dan lain-lain].

Tidak berbohong dan menipu, berarti kita menyayangi dan welas asih terhadap orang lain, karena tidak membuat kecewa atau kerugian terhadap orang lain. Yang berarti pula, telah menyayangi diri sendiri terbebas dari kejengkelan orang lain dan jerat hukum.

Tidak minum atau makan sesuatu yang memabukkan atau melemahkan sati [penyadaran], berarti kita telah menyayangi dan welas asih pada orang lain dan masyarakat, karena mereka terbebas dari gangguan kita saat mabuk, sakaw dan lemah penyadaran yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak layak. Yang berarti pula, kita telah menyayangi dan welas asih pada diri sendiri karena bisa terus mengembangkan sati [penyadaran] yang memang amat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari maupun di dalam usaha menuju peningkatan batin yang luhur.

Sīla merupakan dasar yang amat diperlukan bagi pengembangan batin menuju keluhuran. Karena, dengan pelaksanaan sīla, kita telah memulai melatih diri dalam mengembangkan kedisiplinan, perhatian dan ketelitian untuk mencapai kekokohan dan keteguhan batin [samādhi]. Dan samādhi ini pula yang membuat batin kita teguh tak mudah goyah atau terguncang dalam menghadapi sesuatu.

Pengertian yang muncul karena dukungan sīla dan samādhi akan mampu membedakan kejelekan / kejahatan dan kebajikan dengan jelas dan terang. Memilih untuk melaksanakan kebajikan sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Ini akan memunculkan perasaan welas asih yang luhur [mettā] serta kesadaran kemanusiaan yang murni.

Bila kita telah mencapai tahapan ini, kita bisa tenang bahagia walau harus hidup di tengah kegalauan atau kekacauan dunia. Walau kita dimusuhi dan dicaci banyak orang. Karena, seperti kata para bijaksana: “Orang gila hidup di lingkungan orang-orang waras, tentu disebut orang gila. Namun, orang waras yang hidup dilingkungan orang-orang gila juga disebut orang gila [oleh mereka yang gila itu].”

Perlukah kita emosional atau terpengaruh akan kegilaan dunia?* [selesai]

[Samma Ditthi, edisi 5, Okt 2003, SAMADHI]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: