Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Darubhandaka

Posted by chanyan pada 2010/05/26

Terdapat seorang miskin yang menetap di Mahāgāma, Sri Lanka, yang mencari nafkah dengan menjual kayu bakar. Namanya Tissa, tetapi karena mata pencahariannya adalah menjual kayu bakar, maka ia dikenal sebagai Dārubhaṇḍaka Tissa (Tissa yang hanya memiliki kayu bakar sebagai harta).

Suatu hari ia berbicara dengan istrinya, “Kehidupan kita sangat sederhana, malang, dan rendah; walaupun Buddha telah mengajarkan manfaat dari nibaddha dāna, pelaksanaan kewajiban memberikan secara rutin, kita tidak mampu melatih praktik demikian. Tetapi kita dapat melakukan satu hal; kita dapat memulai memberikan dāna makanan secara rutin dua kali setiap bulan, dan pada saat kita lebih mampu lagi, kita akan melakukan persembahan makanan yang lebih tinggi dengan menggunakan kupon ( salākabhatta ).” Istrinya menyetujui usulnya dan mereka mulai memberikan dāna makanan keesokan paginya.

Sungguh menggembirakan bagi para bhikkhu yang menerima banyak makanan baik. Beberapa bhikkhu muda dan para sāmaṇera menerima dāna makanan yang buruk yang dipersembahkan oleh keluarga Dārubhaṇḍaka, mereka membuangnya di hadapan mereka. Sang istri melaporkan kepada suaminya, “Mereka membuang makanan persembahan kita,” tetapi ia tidak pernah berpikiran buruk atas kejadian ini.

Kemudian Dārubhaṇḍaka Tissa berdiskusi dengan istrinya. “Kita begitu miskin sehingga kita tidak mampu mempersembahkan makanan yang dapat menyenangkan para mulia. Apa yang harus kita lakukan untuk memuaskan mereka?”

“Mereka yang memiliki anak-anak tidaklah miskin,” jawab istri untuk menghibur dan memberikan dukungan dan menasihatinya untuk memperkerjakan putri mereka sebagai pembantu rumah tangga, dan dengan uang yang diperoleh, mereka akan membeli sapi perah. Dārubhaṇḍaka menerima nasihat istrinya; ia mendapatkan dua belas keping uang dan membeli seekor sapi. Karena kemurnian niat baik mereka, sapi itu menghasilkan banyak susu.

Susu yang mereka ambil pada malam hari dijadikan keju dan mentega. Susu yang diambil pada pagi hari digunakan istrinya untuk membuat bubur susu dan setelah ditambah keju dan mentega, mereka mempersembahkannya kepada Saṅgha. Demikianlah, mereka mampu memberikan persembahan makanan yang diterima dengan baik oleh Saṅgha. Sejak saat itu salākabhatta dari Dārubhaṇḍaka hanya tersedia bagi para mulia yang memiliki pencapaian yang tinggi.

Suatu hari Dārubhaṇḍaka berkata kepada istrinya, “Berkat putri kita, kita selamat dari hinaan. Kita telah mencapai posisi di mana para mulia menerima persembahan makanan kita dengan penuh kepuasan. Sekarang, jangan lupa tugas rutin memberikan persembahan makanan selama aku tidak ada. Aku akan mencari pekerjaan; aku akan kembali setelah menebus anak kita dari perbudakan.” Kemudian ia pergi bekerja selama enam bulan di pabrik gula dan berhasil mengumpulkan dua belas keping uang untuk menebus putrinya.

Berangkat pulang pada suatu pagi, ia melihat di depannya ada Yang Mulia Tissa yang sedang dalam perjalanan untuk melakukan puja bakti di Pagoda Mahāgāma. Bhikkhu ini adalah orang yang melatih praktik keras piṇḍindapāta, yaitu, ia hanya memakan makanan yang dipersembahkan kepadanya ketika ia pergi mengumpulkan dāna makanan.

Dārubhaṇḍaka berjalan cepat untuk mengejar bhikhhu dan berjalan beriringan dengannya, mendengarkan khotbahnya tentang Dhamma. Mendekati sebuah desa, Dārubhaṇḍaka melihat seorang laki-laki keluar dengan membawa sebungkus nasi di tangannya. Ia menawarkan orang itu satu keping uang untuk menjual nasi bungkus itu kepadanya.

Orang itu yang menyadari pasti ada alasan khusus dengan menawarkan satu keping uang untuk mekanan yang bahkan tidak bernilai seperenam belasnya, menolak untuk menjualnya dengan harga satu keping uang. Dārubhaṇḍaka menaikkan tawarannya menjadi dua, kemudian tiga keping uang dan seterusnya hingga ia menawarkan semua uang yang ia miliki, tetapi orang itu tetap menolak tawaran itu (karena berpikir bahwa Dārubhaṇḍaka masih memiliki uang).

Akhirnya, Dārubhaṇḍaka menjelaskan kepada orang itu, “Aku tidak memiliki uang lagi selain dua belas keping ini. Aku pasti memberikan lebih jika aku memilikinya. Aku membeli makanan ini bukan untuk diriku; karena ingin mempersembahkan makanan, aku memohon kepada seorang bhikkhu agar menungguku di bawah pohon. Makanan ini akan dipersembahkan kepada bhikkhu itu. Mohon jual kepadaku nasi bungkus ini dengan harga dua belas keping uang ini. Engkau juga akan mendapatkan jasa dengan melakukan hal itu.”

Orang itu akhirnya setuju untuk menjual nasi bungkusnya dan Dārubhaṇḍaka menyerahkannya dengan penuh kegembiraan kepada bhikkhu yang sedang menunggu itu. Mengambil mangkuk dari bhikkhu itu, Dārubhaṇḍaka memindahkan nasi itu dari bungkusnya ke dalam mangkuk itu. Tetapi Yang Mulia Thera hanya menerima setengah dari makanan itu.

Dārubhaṇḍaka memohon kepada bhikkhu, “Yang Mulia, makanan ini hanya cukup untuk satu orang. Aku tidak akan memakannya sedikit pun. Aku membeli makanan ini khusus untukmu. Berkat welas asihmu kepadaku, sudilah Yang Mulia menerima semua makanan ini.”

Atas permohonan ini, Yang Mulia mengizinkannya mempersembahkan semua makanan dalam bungkusan itu.

Setelah Thera selesai makan, mereka melakukan perjalanan bersama-sama dan bhikkhu itu bertanya kepada Dārubhaṇḍaka tentang dirinya. Dārubhaṇḍaka menceritakan segalanya dengan jujur tentang dirinya kepada bhikkhu.

Sang Thera merasa takjub atas bakti yang ditunjukkan oleh Dārubhaṇḍaka dan berpikir, “Orang ini telah melakukan dukkara dāna, persembahan yang sulit dilakukan. Setelah memakan makanan yang dipersembahkan olehnya dengan susah payah, aku sangat berhutang kepadanya dan aku harus menunjukkan terima kasih sebagai balasan. Jika aku menemukan tempat yang layak, aku akan berusaha keras untuk mencapai Kearahattaan dalam satu kali duduk. Biarpun kulitku, dagingku, dan darahku mengering. Aku tidak akan mengubah posisiku hingga aku mencapai tujuan.”

Saat mereka tiba di Mahàgàma, mereka berpisah.

Sesampainya di Vihāra Tissa Mahāvihāra, Thera mendapatkan satu ruangan untuk dirinya, di mana ia mengerahkan usaha kerasnya, bertekad untuk tidak berpindah dari tempat itu hingga ia telah melenyapkan semua kotoran dan menjadi seorang Arahanta. Bahkan tidak pergi mengumpulkan dāna makanan, ia dengan teguh berusaha, hingga pagi pada hari ketujuh ia menjadi seorang Arahanta yang menguasai Empat Pengetahuan Analitis ( Patisambhidā ).

Kemudian ia berpikir, “Tubuhku sangat lemah. Aku ingin tahu apakah aku dapat hidup lebih lama.” Ia menyadari melalui kekuatan batinnya bahwa fenomena nāma rūpa yang merupakan tubuh hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ia merapikan kamarnya dan mengambil mangkuk dan jubahnya kemudian pergi ke ruang pertemuan di tengah vihāra dan menabuh genderang untuk mengumpulkan para bhikkhu.

Ketika semua bhikkhu telah berkumpul, Thera kepala bertanya siapa yang memanggil untuk berkumpul. Yang Mulia Tissa yang berlatih keras dengan mempraktikkan hanya memakan yang diperoleh dari perjalanan mengumpulkan dāna makanan, menjawab, “Aku yang menabuh genderang, Yang Mulia.”

“Dan mengapa engkau melakukan itu?”

“Aku tidak memiliki tujuan lain, tetapi jika ada anggota Saṅgha yang meragukanku dalam pencapaian Jalan dan Buah, aku ingin agar mereka bertanya kepadaku.”

Thera kepala memberitahunya bahwa tidak ada pertanyaan. Ia kemudian bertanya kepada Yang Mulia Tissa mengapa berlatih begitu keras bahkan hingga mengorbankan nyawanya untuk mencapai itu. Ia menceritakan segala yang telah terjadi dan memberitahukan bahwa ia akan meninggal dunia pada hari itu juga. Kemudian ia berkata, “Semoga papan tempat jasadku terbaring tetap tidak bergerak hingga penyumbang makananku, Dārubhaṇḍaka, datang dan mengangkatnya dengan kedua tangannya,” dan kemudian ia meninggal dunia pada hari itu juga.

Kemudian Raja Kākavaṇḍatissa datang dan memerintahkan orangnya untuk meletakkan jasad itu di atas papan dan membawanya ke tumpukan kayu bakar di tanah pemakaman, tetapi mereka tidak mampu mengangkatnya. Mengetahui alasannya, raja memanggil Dārubhaṇḍaka, memberinya pakaian yang baik dan memintanya untuk mengangkat papan jenazah itu.

Kitab menjelaskan kisah lengkap tentang bagaimana Dārubhaṇḍaka mengangkat papan jenazah itu dengan mudah ke atas kepalanya dan bagaimana, setelah ia mengangkatnya, papan jenazah itu melayang di udara dan berjalan sendiri ke tumpukan kayu pemakaman.

Dāna yang dilakukan oleh Dārubhaṇḍaka yang melibatkan pengorbanan tanpa ragu atas dua belas keping uang yang ia perlukan untuk menebus putrinya dari perbudakan dan yang memerlukan enam bulan untuk mengumpulkannya adalah sungguh sangat sulit untuk dilakukan dan karena itu disebut dukkara dāna.

[Sumber: Riwayat Agung Para Buddha, buku ke-3, hal.3206]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: