Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Kentut Mencerahkan

Posted by chanyan pada 2010/05/27

Su Dong Po adalah seorang siswa yang sedang tekun mempelajari ajaran Buddha. Otaknya encer, wataknya jenaka, dan jiwanya puitis. Ia sungguh-sungguh mempraktikkan metode zen dengan disiplin diri yang tinggi. Dia kerapkali terlibat dalam diskusi Dhamma yang intens dengan sahabat karibnya, Zen Master Fo Yin, meskipun mereka tinggal berseberangan dipisahkan oleh sungai yang lebar.

Suatu ketika, Su Dong Po merasa nyaman dan damai melihat, mendengar, dan terlarut dalam suasana sekeliling yang begitu indah, maka inspirasi itu dituangkan ke dalam tulisan berbentuk puisi : 

稽  首  天  中  天  ,
毫  光  照  大  千  ;
八  风  吹  不  动  ,
端  坐  紫  金  莲  。

Dengan penuh bakti ku bersujud kepada Yang Maha Sempurna Pengenal Segenap Alam Semesta
Seberkas sinar telah merasuki jiwa mencerahkan seisi jagat raya
Angin delapan penjuru tiada lagi sanggup membuatku tak bergeming
Tegar kokoh berdiam dalam keluhuran damai di atas teratai ungu gemerlap

Angin delapan penjuru yang dimaksud adalah: untung – rugi, terkenal – tidak dikenal, terpuji – tercela, senang & susah. Atau dikenal juga dengan istilah 8 kondisi dunia ( Lokadhamma ) yang mewarnai setiap detak kehidupan manusia pada umumnya. Su Dong Po hendak menggambarkan bahwa ia sudah mencapai tataran spiritual yang lebih tinggi, dimana sudah tidak terpengaruh lagi dengan 8 kondisi lokadhamma.

Terkesan dengan puisi yang dianggap tepat melukiskan keadaan dirinya saat itu, Su Dong Po bermaksud hendak berbagi penemuannya itu dengan temannya, Zen Master Fo Yin. Dia yakin Master Fo Yin yang berperangai halus juga akan terkesan dengan puisinya. Maka Su Dong Po menyuruh kurir untuk segera mengantarkan puisi itu ke seberang sungai.

Ketika membaca puisi itu, Zen Master Fo Yin langsung bisa mengerti bahwa puisi itu merupakan suatu bentuk penghormatan kepada Buddha, sekaligus pernyataan kemajuan batin dari si penulis. Sambil tersenyum simpul, Zen Master menulis kata “kentut” di atas lembaran puisi itu dan mengembalikannya kepada kurir.

Su Dong Po dengan penuh antusias menerima kembali puisinya dari kurir, mengharapkan suatu komentar penghargaan atas puisinya. Setidaknya sebuah ungkapan setuju yang berarti telah mendapatkan konfirmasi dari sahabatnya tentang kemajuan batinnya. Tentu saja ia kaget setengah mati ketika membaca “kentut”. Seketika itu meledaklah kemarahannya. “Berani-beraninya dia menghina saya seperti ini? Apa yang telah terjadi dengan bhiksu tua jelek itu? Dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!”

Dengan penuh kejengkelan, dia buru-buru keluar dari rumahnya, memesan sebuah perahu untuk mengantarkannya ke pantai seberang secepat mungkin. Dia ingin segera menemui Fo Yin dan menerima permohonan maaf.

Tetapi sesampainya di sana, pintu rumah Fo Yin dalam keadaan tertutup. Di pintu tertempel sehelai kertas untuk Su Dong Po. Di kertas itu tertulis 2 baris tulisan:

八   风   吹   不   动   ,
一   屁   弹   过   江   。

  • Angin delapan penjuru tiada lagi sanggup membuatku tak bergeming
  • Satu kentut membuatku terpental sampai ke pantai seberang

Su Dong Po diam terhenyak membaca tulisan itu, kepalanya seperti diguyur air sedingin es. Fo Yin telah mengantisipasi kunjungan yang diperkirakan akan penuh emosi. Dan benar. Setelah membaca tulisan itu, Su Dong Po segera menyadari kebodohannya. Jika memang benar dia telah mencapai kemajuan batin, telah berhasil mengatasi 8 kondisi lokadhamma, bagaimana dia bisa kena diprovokasi dengan begitu mudahnya?

Dengan hanya sedikit goresan tinta, Fo Yin telah memberi petunjuk kepada Su Dong Po bahwa kemajuan batin seperti yang dianggapnya tidaklah benar. Jika tidak, Su Dong Po tentu akan tetap berada dalam kesalahan pandangan, menganggap diri sendiri paling hebat karena telah mencapai kemajuan batin padahal belum. Dengan tertunduk malu tapi telah lebih bijaksana, Su Dong Po diam-diam ngeloyor pulang.

Kejadian ini telah memberi pelajaran yang sangat berharga kepada Su Dong Po. Sejak saat itu, dia menjadi seorang yang rendah hati, tidak suka sesumbar, dan tidak lagi membual tentang kebajikan yang belum dilakukan ataupun melebih-lebihkan jasa yang telah diperbuatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: