Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Terlihat Hanya Terlihat

Posted by chanyan pada 2010/05/29

Dalam bahasa sehari-hari kita menyebut: mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran, sebagai enam indera ( indriya ). Indriya artinya mengatur. Misalnya, dalam melihat sesuatu, landasan mata ( cakkhu pasāda ) mengatur organ mata. Jika mata rusak, maka mata tidak dapat melihat objek (kesadaran-mata tidak muncul). Oleh karena itu Buddha mengatakan bahwa mata disebut sebagai indera mata ( cakkhundriya ). Begitu pula dengan indriya lainnya.

Menjaga keenam indera ( indrya ) disebut indriyasaṁvara sīla. Indriyasaṁvara sīla dan Pātimokkha Saṁvara Sīla, Ājīvapārisuddhi Sīla serta Paccayasannissita Sīla merupakan tuntunan khusus untuk para bhikkhu. Ketika Sang Bodhisatta, Petapa Sumedha, merenungkan Kesempurnaan Moralitas, Beliau berkata kepada diri-Nya sendiri:

  • Tath’eva vam catūsu bhūmīsu, sīlāni paripūraya
    • [Demikian pula, engkau harus sempurna dalam empat bidang sīla].

Namun tidak ada salahnya jika seorang perumah tangga menarik manfaat dari cara mengendalikan indera ala bhikkhu. Berikut ini adalah mengenai bagaimana menjaga enam indria, sebagai contoh pembahasan akan diketengahkan indria mata: ketika suatu objek terlihat dengan mata, seseorang harus sadar bahwa itu hanyalah sebuah objek yang terlihat. Seseorang tidak boleh menanggapinya bahkan secara umum dari apa yang terlihat, misalnya: “Ini perempuan”, “Ini laki-laki”, “Ini indah”, yang akan menyebabkan munculnya kekotoran batin ( kilesa ). Juga tidak boleh memerhatikan rincian ( anubyañjana ) sehubungan dengan tanda atau bayangan dari perempuan, atau laki-laki dan sebagainya, seperti bentuk tangan, lekuk kaki dan sebagainya, cara tersenyum, tertawa, berbicara, melihat ke samping dan sebagainya, yang dapat memunculkan kekotoran batin yang berulang-ulang. Sebagai illustrasi, mudah-mudahan 3 kisah di bawah ini dapat memperjelas apa yang dimaksud dengan ‘terlihat’. 

Kisah Thera Mahā Tissa

Thera Mahā Tissa tinggal di puncak gunung Cetiya. Suatu hari Thera Mahā Tissa pergi ke Anurādha untuk mengumpulkan dāna makanan. Kebetulan pada hari itu seorang perempuan bertengkar dengan suaminya hingga meninggalkan rumah, bermaksud kembali ke rumah orangtuanya. Ia mengenakan pakaian yang baik.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Thera Mahā Tissa, ia tertawa dengan merdu dan berpikir, “Aku akan memikatnya. Akan ku jadikan dia sebagai suamiku.”

Mendengar ada suara, Thera Maha Tissa menegakkan kepala untuk mengetahui apa itu. Melihat gigi orang yang tersenyum itu, Thera mengembangkan persepsi kejijikan (asubha saññā), dan saat merenungkan hal itu, Thera Maha Tissa mencapai kesucian Arahatta.

Sepeninggal perempuan itu, datanglah sang suami yang sedang mengejar istrinya itu, melihat Thera dia pun bertanya:

“Yang Mulia, apakah engkau melihat seorang perempuan dalam perjalanan?”

  • Nābhijānāmi itthi vā, puriso vā ito gato,
  • api ca aṭṭhisamghato, gacchatesa mahāpathe.
    • Dāyakā, aku tidak memerhatikan apakah ia laki-laki atau perempuan yang lewat.
    • Aku hanya melihat tulang-belulang yang melewati jalan ini.

Meskipun Thera melihat seseorang, ia hanya sekadar melihatnya, tetapi tidak mengetahui apakah orang itu perempuan, menarik hati atau tidak; sebaliknya, ia mengembangkan meditasi dan menjadi seorang Arahanta, peristiwa ini bisa dijadikan teladan yang baik.

Tanpa mengendalikan indria penglihatan, ketika seorang bhikkhu melihat sebuah objek yang menyenangkan, keserakahan (abhijjhā) akan muncul dalam dirinya; jika ia melihat objek yang tidak menyenangkan, ketidak-senangan ataupun kekecewaan (domanassa) akan muncul dalam dirinya. Oleh karena itu seseorang harus melatih pengendalian terhadap penglihatannya melalui perhatian murni (sati) untuk mencegah munculnya kondisi batin yang buruk.

Kisah ini menunjukkan bahwa ‘terlihat hanya terlihat’ tidaklah terlepas dari sīla, sehingga tidak dipahami secara keliru sebagai ‘Kalau suka liat cewe cakep, ya liat sajalah‘. Apalagi kalau sampai ada yang berprinsip, “rugi kalo gak liat”. Sungguh sebuah prinsip yang sangat berbahaya.

Kisah Thera Cittagutta

Dalam sebuah gua besar Kurandaka di Sri Lanka, terdapat sebuah lukisan indah yang menggambarkan kisah tujuh Buddha melepaskan keduniawian seperti Buddha Vipassī, dan lain-lain. Suatu ketika, datanglah beberapa orang bhikkhu berkunjung ke tempat itu. Setelah berkeliling dan melihat lukisan yang dipahatkan dengan begitu indah di dinding gua itu, seorang tamu berkata, “Yang Mulia, betapa indah lukisan di guamu ini!”

Thera Cittagutta menjawab, “Selama lebih dari enam puluh tahun, teman-teman, aku menetap di gua ini, dan aku tidak tahu apakah ada lukisan atau tidak. Hari ini, aku mengetahuinya melalui kalian yang memiliki pandangan yang tajam.” (Meskipun Thera Cittagutta telah menetap di sana selama lebih dari enam puluh tahun, ia tidak pernah sekalipun menatap gua itu.

Demikian juga di depan pintu gua itu terdapat sebatang pohon kayu besi besar. Thera juga tidak pernah melihat pohon itu. Tetapi dengan melihat kuntum-kuntum bunga yang berguguran di atas tanah setiap tahun, ia tahu saat itu adalah musim semi.)

Mendengar tentang pelaksanaan indriyasaṁvara sīla yang sedemikian ketat oleh Thera, Raja Mahāgama tertarik untuk bertemu dengan Thera Cittagutta. Raja mengirim utusan ke sana, menyampaikan keinginan raja untuk memberi hormat kepada Thera. Walau sudah mengirim utusan tiga kali, namun Thera Cittagutta tidak pernah datang. Akhirnya raja mencari akal lain, raja memerintahkan agar semua payudara dari semua perempuan di desa yang memiliki bayi dibungkus dan diikat, dengan perintah, “Selama Thera Cittagutta tidak datang, biarlah anak-anak tidak mendapat susu.”

Berkat welas asihnya terhadap anak-anak, Thera mendatangi Raja Mahāgama. Mengetahui Thera Cittagutta telah datang, raja berkata kepada abdinya, ”Pergi dan antarkan Thera ke bagian dalam istana. Aku ingin memohon sīla darinya.”

Di kamar dalam, raja memberi hormat kepada Thera dan mempersembahkan makanan, setelah itu ia berkata, “Yang Mulia, aku tidak dapat menerima sīla hari ini. Aku akan melakukannya besok.”

Sambil membawa mangkuk Thera, raja dan ratu memberi hormat kepada Thera dari jarak yang dekat. Thera Cittagutta memberikan berkah dengan berkata, “Semoga Raja berbahagia!”

Selama tujuh hari, entah raja atau ratu yang memberi hormat kepadanya, Thera selalu memberikan berkah dengan berkata, “Semoga Raja berbahagia!”

Teman-teman bhikkhu akhirnya bertanya kepadanya, “Yang Mulia, mengapa, entah raja atau ratu yang memberi hormat kepadamu, engkau selalu berkata, ‘Semoga Raja berbahagia’?”

Thera Cittagutta menjawab, “Teman-teman, aku tidak memerhatikan apakah itu adalah raja atau ratu.”

Pada akhir hari ketujuh, ketika raja mengetahui bahwa Thera tidak bahagia tinggal di sana, ia memperbolehkan Thera pergi. Ia kembali ke gua besar di Kurandaka. Saat malam hari ia keluar dan berjalan-jalan.

Dewa yang menetap di pohon kayu besi berdiri di sana memegang obor. Thera Cittagutta bermeditasi dengan begitu murni dan cemerlang sehingga menggembirakannya. Segera setelah lewat ‘jaga malam pertengahan’ ia mencapai kesucian Arahatta, menyebabkan seluruh gunung tersebut bergemuruh. [yang dimaksud ‘jaga malam pertengahan’ adalah antara pkl 22.00 – pkl 02.00] Kisah ini memberi pelajaran yang baik mengenai bagaimana indriyasaṁvara harus dilaksanakan.

Kisah Thera Mahā Mitta

Ibunda dari Thera Mahā Mitta sedang menderita sakit tumor payudara. Ia berkata kepada putrinya, yang juga telah menjadi seorang bhikkhunī, “Pergilah temui kakakmu. Ceritakan kepadanya tentang penyakitku dan mintalah obat.”

Ia pun pergi dan menemui kakaknya. 

Setelah mengetahui permasalahannya, Thera Mahā Mitta berkata kepada adiknya, “Aku tidak tahu tentang bagaimana mencari tanaman-tanaman obat dan meramu obat-obatan. Tetapi aku akan memberimu sejenis obat: ‘Sejak aku menjadi seorang petapa, aku belum pernah melanggar indriyasaṁvara sīla dengan melihat bentuk tubuh lawan jenis dengan pikiran penuh nafsu.’ Berkat kebenaran pernyataan ini semoga ibuku sembuh. Pulang dan ulangi kata-kata kebenaran yang baru saja kuucapkan dan usaplah tubuhnya.”

Adiknya pun pulang dan melapor kepada ibunya apa yang dikatakan oleh kakaknya dan melakukan sesuai dengan apa yang diinstruksikan. Saat itu juga, tumor yang diderita oleh ibu lenyap bagaikan segumpal buih yang pecah. Sang Ibunda bangkit dan mengucapkan kegembiraan, “Jika Sang Buddha masih hidup, tentu Beliau akan menepuk kepala seorang bhikkhu seperti putraku dengan tangannya yang berhiaskan jaring-jaring!”

Cara Thera Mahā Mitta mengendalikan indria agak berbeda dengan Thera sebelumnya, Cittagutta. Thera Cittagutta mengendalikan indrianya dengan mata menatap ke bawah sehingga tidak melihat objek apa pun bahkan secara tidak sengaja. Sedangkan Thera Mahā Mitta tidak dengan mata menatap ke bawah. Ia melihat benda-benda sebagaimana adanya. Bahkan saat ia melihat lawan jenis, ia mengendalikan indria matanya untuk mencegah munculnya nafsu.

Cara Yang Mulia Thera Cittagutta mengendalikan indrianya adalah bagaikan menutup pintu rumah rapat-rapat sehingga pencuri tidak bisa masuk. Cara yang Mulia Thera Mahā Mitta tidak menutup pintu, namun menjaga agar para pencuri tidak bisa masuk. Kedua jenis ini sungguh luar biasa dan layak ditiru.

Demikianlah sekilas pemahaman saya tentang ‘Terlihat Hanya Terlihat’, koreksi dan masukan yang berharga dari pembaca sangat saya harapkan. Sehubungan dengan pintu-pintu indria lainnya, pengendalian yang sama seyogyanya juga dijaga sehingga tidak ada kotoran yang muncul saat mendengar suara, mencium bau-bauan, mengecap rasa, menyentuh objek-objek sentuhan atau mengenali objek-objek pikiran.

[sumber: Riwayat Agung Para Buddha, Buku ketiga, hal.3301, 3312, 3313]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: