Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Perempuan Bisa

Posted by chanyan pada 2010/05/30

Ada sebuah kisah yang dulu pernah hangat diperbincangkan. Kisah yang dimaksud adalah Sulasā Jātaka dari Aṭṭhaka Nipāta.

Pada jaman dahulu kala, di Vārāṇasī hiduplah seorang pelacur kelas tinggi bernama Sulasā. Suatu hari, ia menyelamatkan nyawa seorang perampok bernama Suttaka yang akan dihukum mati. Mereka kemudian menikah. Setelah hidup bersama, nafsu keserakahan Suttaka bukannya semakin surut, malah semakin menjadi-jadi. Dahulu ia merampok karena hidupnya serba kekurangan. Namun sekarang setelah hidupnya tidak kekurangan, dirasakannya masih belum berkecukupan. 

Tidak terlalu lama berselang, karena ingin menguasai seluruh harta benda Sulasā, si perampok bermaksud membunuh Sulasā, istrinya. Ia membujuk istrinya untuk mengenakan perhiasan-perhiasannya yang sangat berharga dan bersama-sama hendak mengunjungi suatu tempat. Namun di tengah perjalanan, di puncak sebuah gunung, ia minta beristirahat dan menyuruh istrinya agar melepaskan semua perhiasannya. Dia bermaksud hendak membunuhnya dengan melemparkan tubuh Sulasā ke jurang.

Namun Sulasa berpikir, “Ia pasti akan membunuhku. Aku harus menyerangnya lebih dulu.  Aku akan menang jika aku menggunakan muslihat.”

Maka ia memohon sambil terisak-isak, “Suamiku…, meskipun engkau mau membunuhku, aku tetap mencintaimu, aku sungguh seorang perempuan yang tak berdaya. Menjelang kematianku, izinkanlah aku memberi hormat kepadamu dari empat penjuru, depan, belakang, kiri, dan kanan.”

Tanpa mencurigai muslihatnya, si perampok mengizinkan istrinya melakukan hal itu. Sewaktu memberi hormat kepada si perampok, yang sedang berdiri di tepi tebing, dari depan dan samping, ketika ia berada di belakangnya, ia memutuskan untuk membunuh suaminya dengan mendorong sekuat-kuatnya hingga Suttaka jatuh dari tebing dan mati.

Bodhisatta (Calon Buddha) yang ketika itu terlahir sebagai dewa yang menetap di gunung tersebut berkata,

Na hi sabbesu ṭhānesu puriso hoti paṇḍito, itipi paṇḍito hoti tattha tattha vicakkhaṇā

[Tidak selalu laki-laki lebih bijaksana; perempuan juga bisa bijaksana dan berpandangan jauh].

***

Nah, disinilah letak permasalahannya. Ada yang mempertanyakan, apakah tepat bagi Bodhisatta dewa untuk memuji Sulasa sebagai seorang bijaksana. Alasannya, NIAT Sulasa untuk membunuh si perampok merupakan niat yang tidak baik, buktinya berakibat dilakukannya perbuatan buruk, yaitu membunuh. Hal ini pasti tidak berhubungan dengan paññā cetasika.

Dalam menjawab persoalan ini, ada yang menjawab bahwa pengetahuan Sulasa bukanlah paññā sejati. Dari tiga jenis pengetahuan, yaitu: pengetahuan melalui persepsi (saññā), pengetahuan melalui kesadaran (viññāṇa), dan pengetahuan melalui kebijaksanaan (paññā). Pengetahuan Sulasa hanyalah pengetahuan melalui kesadaran saja, dengan kata lain, melalui imajinasi. Pengetahuan yang melalui kesadaran (viññāṇa) itulah yang di dalam kasus Sulasā ini dianggap sebagai paññā.

Ada lagi jawaban lain yang lebih tegas, bahwa dari dua sudut pandang: pandangan salah (micchā diṭṭhi) dan pandangan benar (sammā diṭṭhi). Sulasā akhirnya menyadari kesalahan sudut pandangnya [salah menilai Suttaka]. Bodhisatta dewa menganggap hal itu [menyadari micchā diṭṭhi] sebagai paññā, bukan memuji Sulasā karena kualitas kebijaksanaannya [sammā diṭṭhi]. Dengan demikian tidak bertentangan dengan Abhidhammā.

Kedua jawaban ini, menganggap kesadaran (viññāṇa) dan pandangan (diṭṭhi) sebagai kebijaksanaan (paññā) bertentangan dengan prinsip-prinsip Abhidhammā, adalah sangat keliru.

Pengetahuan Sulasā bahwa ia harus menang melawan si perampok jika ia menggunakan muslihat adalah pengetahuan sejati, oleh karena itu, merupakan kebijaksanaan. Kita tidak perlu meragukan apakah kebijaksanaan (paññā) dapat berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan jahat.

Misalnya, seseorang tidak ada salahnya jika sekedar memiliki pengetahuan tentang minuman beralkohol, seperti: minuman mana yang mengandung alkohol yang lebih banyak dan mana yang lebih sedikit, berapa harganya, apa yang terjadi jika seseorang meminumnya, dan sebagainya. Padahal kita tahu bahwa minuman beralkohol tidak seharusnya didekati karena potensial mengarah kepada perbuatan tidak bermoral. Hal ini menjadi tidak bermoral hanya jika seseorang mulai berpikir untuk meminumnya.

Demikian pula, seseorang boleh mempelajari berbagai pandangan dan kepercayaan di dunia ini tanpa terkecuali, membedakan antara mana yang benar dan pantas, dan mana yang sesat. Dengan demikian, mempelajari dan mengetahui tentang pandangan dan kepercayaan tersebut sebagaimana adanya, benar atau sesat, sama sekali tidak ada salahnya. Hanya jika seseorang secara keliru menganggap sebuah pandangan sesat sebagai pandangan benar, maka itu adalah kesalahan.

Jadi dalam kasus Sulasa, mengetahui bahwa “aku akan menang jika aku menggunakan muslihat” adalah mengetahui dengan benar; itu adalah mengetahui melalui kebijaksanaan dan karenanya tidak salah.

Tetapi ketika ia memutuskan untuk membunuh suaminya dengan menggunakan muslihat, perbuatannya menjadi suatu kejahatan, tidak bermoral. Hanya sehubungan dengan pengetahuan benar yang muncul pertama kali dalam dirinya sebelum perbuatan membunuh yang dipuji oleh Bodhisatta dewa dengan mengatakan ia bijaksana.

Seperti telah dijelaskan di atas, kita harus membedakan dengan jelas antara pengetahuan mengenai kejahatan di satu pihak dan tindakan kejahatan seperti membunuh di pihak lain. Jika seseorang mempertahankan kepercayaan bahwa pengetahuan tentang kejahatan adalah bukan kebijaksanaan sejati, maka ia akan melakukan kesalahan dengan berpikir bahwa Kemahatahuan Buddha sendiri tidak bebas dari cacat.

Melalui kebijaksanaan tertinggi, Buddha mengetahui segalanya yang perlu diketahui, segala sesuatu yang bermoral maupun tidak bermoral; itulah sebabnya disebut Maha Tahu. Jika Kebijaksanaan sejati harus tidak ada hubungannya dengan hal-hal jahat, maka Buddha tidak memiliki pengetahuan apa pun mengenai hal-hal jahat. Sesungguhnya, Kebijaksanaan Buddha adalah amat luas, tidak terbatas, maka disebut Yang Maha Tahu.

Singkatnya, Buddha mengetahui segalanya, baik maupun jahat. Tetapi Beliau telah mencabut semua kekotoran tersembunyi; Beliau tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan kejahatan, apalagi melakukannya dalam tindakan. Karena itu, dengan merenungkan kualitas-kualitas mengetahui segalanya tentang kejahatan, Beliau telah meninggalkan semua yang perlu ditinggalkan dan menghindari diri dari perbuatan jahat. Sudah sepatutnyalah kalau kita mengembangkan keyakinan kepada Buddha.

Sebagai kesimpulan dari tulisan di atas, harus dimengerti bahwa dalam kisah Sulasa, Sang dewa Gunung memuji Sulasa sebagai orang yang bijaksana karena ia memang memiliki Kebijaksanaan. Tulisan ini lengkapnya berjudul “Perempuan Juga Bisa Bijaksana”. [sumber: Riwayat Agung Para Buddha, buku ketiga, hal.3343]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: