Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Bahiya Daruciriya (c)

Posted by chanyan pada 2010/06/03

Bāhiya Dārucīriya merupakan salah satu siswa yang tercepat dalam merealisasikan tingkat kesucian arahat setelah diberi ‘hanya sedikit’ petunjuk oleh Sang Buddha. Karena petunjuk yang diberikan sangat singkat, mungkin bermanfaat jika kita menelusuri beberapa pertanyaan sbb:

1.      Mengapa Bāhiya Dārucirīya menemui Sang Buddha Gotama?

Bahiya ketika itu tinggal di kota Suppāraka. Ia dihormati oleh penduduk di situ dan dianggap sebagai seorang suci yang sedang praktik secara keras. Karena diperlakukan demikian, maka ia pun ikut-ikutan percaya bahwa dirinya merupakan seorang arahat. Namun ia ditegur oleh satu dewa anāgāmī dari alam brahma sudhāvāssa. Dewa ini dulunya adalah orang kedua (yang terakhir mencapai Pengetahuan Jalan) diantara tujuh bhikkhu yang bertekad mencapai Pengetahuan Jalan tanpa memedulikan kematian, di suatu puncak gunung tinggi dan curam di kehidupan lampau mereka di akhir masa Buddha Kassapa.

Dewa ini menyayangkan Bāhiya Dārucirīya yang sekarang berlagak sebagai arahat palsu. Padahal di kehidupan lampaunya adalah seorang bhikkhu yang memegang teguh prinsip-prinsip sīla (moralitas), bahkan menolak makanan yang dikumpulkan oleh Arahat temannya (yang pertama mencapai Pengetahuan Jalan diantara tujuh bhikkhu). Kala itu, Bāhiya Dārucirīya termasuk satu diantara lima lainnya yang tetap menjalankan prinsip dhutaṅga secara ketat, dimana salahsatu ‘pasal’nya adalah Piṇḍapātikaṅga (hanya mendapatkan makanan dengan cara melakukan piṇḍapāta). Walaupun mereka berlima pada kehidupan itu tidak berhasil mencapai Pengetahuan Jalan, namun mereka lebih rela mati daripada melanggar tekad Piṇḍapātikaṅga.

Karena prihatin dengan perilaku Bāhiya sekarang, maka Dewa ini menegur: “O, Bāhiya,

  • Engkau bukan seorang Arahanta
  • Engkau belum mencapai Arahatta-Magga
  • Engkau bahkan belum memulai latihan menuju Kearahattaan.
  • Engkau belum melakukan sedikit pun praktik benar untuk mencapai Kearahattaan. Buddha sekarang telah muncul di dunia ini, dan sedang berdiam di Vihāra Jetavana di Sāvatthī. Aku harap engkau pergi dan menjumpai Bhagavā.”

Jadi yang melatarbelakangi Bāhiya menemui Sang Buddha Gotama adalah karena teguran / saran dari satu Dewa alam brahma, bukan terjadi secara kebetulan. Bahiya sendiri bertekad untuk menjadi arahat dalam kehidupan terakhirnya itu.

2.      Sang Buddha Gotama memberikan khotbah / petunjuk setelah Bāhiya memohon ketiga kalinya, mengapa Sang Buddha menolak memberikan khotbah sampai dua kali ?

Setelah memberikan saran, dewa kembali ke alam brahma, sedangkan Bāhiya segera bergegas menuju  Sāvatthī. Jarak Suppāraka – Sāvatthī sejauh 120 yojana ditempuh tergesa-gesa tanpa istirahat sampai bertemu Sang Buddha. Hal ini tentu membuat fisik Bāhiya sangat letih.

Setelah melihat sosok Sang Buddha Yang Tiada Banding, ia terpesona, “Ah, betapa lamanya waktu berlalu sebelum aku berkesempatan melihat Bhagavā!” Batinnya dipenuhi oleh kegembiraan dan kepuasan yang amat sangat, matanya tidak berkedip dan terpaku pada sosok Buddha.

Sang Buddha adalah Yang Maha Tahu. Ketika Sang Tathāgata menjawab:

Bāhiya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membabarkan Dhamma, sebab Tathāgata sedang melakukan piṇḍapāta.”

bukanlah merujuk pada kondisi Buddha yang seolah-olah tidak siap memberikan khotbah, tetapi yang dimaksud adalah kondisi si penerima pesan Buddha yaitu Bahiya. Selama 45 tahun membabarkan Dhamma, Sang Buddha belum pernah sekalipun menolak (baca: tidak ketika diminta) memberikan khotbah. Patut diingat, orang biasa (bahkan seorang Arahanta) tidak mampu untuk dapat mengetahui matangnya indria seseorang secara tepat. Tetapi Sang Buddha mengetahui bahwa indria Bāhiya pada saat itu belum cukup matang untuk menerima pesan Buddha. Jika dipaksakan akan sia-sia karena tidak akan dipahaminya. Untuk itu, Sang Buddha menolak dua kali, dengan maksud untuk menenangkan batin Bāhiya terlebih dahulu yang sedang dipenuhi oleh kegembiraan (sukha) dan kepuasan (piti), hingga pada tahap seimbang (upekkha), disamping memberi waktu istirahat bagi jasmani/fisik Bāhiya.

3. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari petunjuk Sang Buddha kepada Bāhiya Dārucirīya ?

Bāhiya Dārucīriya adalah seseorang yang lebih tepat diberikan penjelasan singkat (sakhittaruciṁ-puggala). Karena itu Sang Buddha menjelaskan enam objek indria tanpa menyebutkan keenamnya secara terperinci, tetapi menggabungkan penyebutan tiga objek indria (bau, rasa dan objek sentuhan) sebagai ‘objek-objek nyata/tercerap’ (pali: mutta, english: sensed), sehingga indria disebutkan dalam empat kelompok, yakni: diṭṭha, suta, mutta, dan viññāta. (english: seen, heard, sensed, cognized). Tetapi jumlah indria tetap ada enam, jangan diartikan bahwa indria hanya ada empat.

(1) Diṭṭhe diṭṭhamattaṁ bhavissati, (2)…

[(1) Dalam melihat objek-objek terlihat, menyadari hanya ada yang terlihat, (2)…]

Empat kelompok indria merupakan fenomena berkondisi. Artinya, masing-masing tidaklah berdiri sendiri, tetapi berhubungan.

  • kesadaran mata (cakku) muncul dalam melihat objek-objek terlihat (rūpa),
  • kesadaran telinga (sota) muncul dalam mendengar suara (sadda),
  • kesadaran hidung (ghāna) muncul dalam mencium bau (gandha), kesadaran lidah (jivhā) muncul dalam mengecap rasa (rasa), kesadaran jasmani (kāya) muncul dalam sentuhan (phoṭṭhabba),
  • kesadaran pikiran (mano) muncul dalam mengenali kesan / objek-objek pikiran (dhamma), yakni: pikiran & gagasan.

Dalam berhubungan dengan objek-objek indria, HANYA ADA kesadaran, tidak ada keserakahan – kebencian – kebodohan.

Artinya, Sang Buddha memberi petunjuk kepada Bāhiya agar berlatih / berusaha dengan tekun untuk tidak membiarkan keserakahan, kebencian dan kebodohan merasuki impuls momen-pikiran yang mengikuti lima-pintu indria dan proses-pintu-pikiran. yang muncul seketika saat munculnya lima jenis kesadaran-indria itu. Dalam setiap tahap, tidak ada keserakahan, kebencian atau kebodohan, namun hanya menyadari saja, tidak memberi penilaian. Karena dengan memberi penilaian kepada objek-objek indria tersebut, secara alami akan menimbulkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Beliau ingin Bāhiya memahami konsep keliru seperti: “ini kekal”, “ini bahagia” atau “ini memiliki inti” yang cenderung merasuki pikiran yang tidak terjaga sehubungan dengan empat kelompok objek-indria tersebut. Dengan berpandangan benar mengenai  fenomena berkondisi dari empat kelompok objek-indria sebagai tidak kekal, menyedihkan, buruk dan tidak memiliki inti, maka akan muncul Pandangan Terang di mana kesadaran hanya diikuti impuls tidak serakah, tidak membenci dan tidak bodoh. Dengan kata lain, Proses-pikiran netral pada tahap kesadaran-indria dan memandang sebagaimana adanya.

Dengan demikian, akan menjadi seorang yang: tidak memiliki keserakahan (yang menganggap “ini milikku”), tidak memiliki konsep ‘aku’ (karena keangkuhan), tidak mempertahankan konsep ‘diriku’ (karena pandangan salah tentang diri).

[sumber: Riwayat Agung Para Buddha, buku ketiga, hal.2686]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: