Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Kumara Kassapa

Posted by chanyan pada 2010/06/04

Di masa kehidupan  Buddha Padumuttara, Bakal  Kumāra  Kassapa Thera terlahir  dalam  sebuah  keluarga  kaya  di kota Haṁsāvatī. Suatu  hari  di vihāra, ia tertarik  dengan  pernyataan  Buddha Padumuttara  tentang  seorang  bhikkhu  yang terbaik  dalam  hal memberikan  khotbah  dengan  menggunakan  perumpamaan. Setelah  memberikan  persembahan  besar,  ia pun  bertekad  di hadapan Buddha  padumuttara,  bahwa  suatu  masa  nanti  akan  menjadi seperti bhikkhu  itu. Orang  kaya  itu  terus  melakukan  kebajikan seumur  hidupnya.

Setelah  meninggal, ia terlahir  kembali  di alam  dewa  dan alam manusia bergantian, tidak  pernah  terlahir  di alam  sengsara  selama waktu  yang  tak terhingga  lamanya.  Di masa menjelang  lenyapnya  ajaran Buddha Kassapa, ia  bersama  enam  bhikkhu lainnya pergi ke puncak gunung  yang curam  dan berusaha  mencapai  pencerahan. Satu  dari  tujuh  bhikkhu  itu  berhasil mencapai  tingkat  arahat.  Satu  lagi  mencapai  tingkat  anāgāmī  dan setelah  meninggal  terlahir  di alam  brahma  suddhāvāsa. Sedang  lima  lainnya  belum  berhasil  mencapai  kesucian, meninggal  di puncak  gunung  itu  dan  terlahir  di alam  dewa.

Di masa Buddha Gotama, mereka  berlima  terlahir  kembali  sebagai  manusia, yaitu  sebagai  Bāhiya Darucīriya, Dabba MallaputtaKumāra  Kassapa, Sabhiya  dan  Pukkusāti.

Ibu  Kumāra  Kassapa adalah  putri  seorang  pedagang  yang semula  sangat  ingin  menjadi  seorang  petapa, namun  ia dinikahkan oleh  orangtuanya  dengan  putra  seorang  kaya  raya. Setelah  tinggal  bersama  suaminya, ia  memohon  pada suaminya  agar  mengijinkannya  menjadi  bhikkhunī,  dan  disetujui.

Ia kemudian  bergabung  dalam  perkumpulan  bhikkhunī  dibawah  asuhan  Yang  Mulia  Devadatta.  Ternyata  semakin  hari  perutnya  semakin  membesar. Para bhikkhunī  melaporkan  hal  itu  kepada  Y.M. Devadatta  yang kemudian  mengusirnya  dari  komunitas  itu.

Bhikkhunī muda itu kemudian pindah ke komunitas bhikkhunī lain, yang melaporkan hal itu kepada Buddha Gotama. Sang Buddha menyerahkan kasus ini kepada Y.M. Upāli yang segera membentuk tim pencari fakta yang terdiri dari para wanita terhormat di sāvatthī, termasuk visākkhā.

Para perempuan terhormat menyimpulkan bahwa kehamilan itu terjadi saat masih sebagai umat awam. Berdasarkan itu, Y.M. Upāli  memutuskan  bahwa  ia adalah  seorang  bhikkhunī  yang bersih. Sang Buddha memuji  Y.M. Upāli  atas  keputusan  yang  kontroversi  itu.

Setelah bayi laki-laki yang dikandung Bhikkhunī lahir, bayi itu dititipkan kepada Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala yang membesarkan anak itu seperti layaknya seorang pangeran. Anak itu diberi nama Kassapa. Saat berumur tujuh tahun, anak itu  dikirim  ke vihāra  untuk  ditahbiskan  sebagai  seorang  sāmaṇera. [kisah  lengkapnya  bisa  baca  di Ekaka  Nipāta, Nigrodhamiga  Jātaka]

Untuk membedakan dengan sāmaṇera lain yang sudah lebih dulu bernama Kassapa, maka anak ini dinamakan Kumāra Kassapa, yang berarti Anak Kassapa atau Pangeran Kassapa.

Kumāra  Kassapa sangat  tekun  mempelajari  sabda-sabda  Sang Buddha dan mempraktikkan  Dhamma. Ia sudah mulai berlatih  Vipassana  Bhavana  sejak  ditahbiskan  menjadi  sāmaṇera.

Suatu  hari  ketika  Sang Buddha sedang  berdiam  di Vihāra  Jetavana  di  Sāvatthī,  Kumāra  Kassapa menetap  di Hutan Andhavana yang jaraknya  tidak  terlalu  jauh. Saat  itu  datanglah  Mahābrahmā  Anāgāmī  dari  alam  suddhāvāsa  yang dulunya  merupakan  salah  satu  dari  tujuh  bhikkhu  yang  berlatih  di  gunung  curam  pada  akhir  masa  Buddha  Kassapa.

Dewa  yang datang  di tengah  malam  dengan  segala  gemerlap  kemegahannya  ini  bermaksud  membantu  Kumāra  Kassapa  dalam  latihan  Pandangan  Terang. Dewa ini jugalah yang pernah mendatangi Bahiya Daruciriya dan Sabhiya, Asyik  juga  yah kalau  punya  teman  dewa  yang  masih  ingat  dengan  kita. Dewa  ini  menyiapkan  lima  belas  teka-teki  berbentuk  cerita:

“Bhikkhu, tanyakan kepada Buddha jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Perhatikanlah jawaban yang diberikan oleh Buddha. Dengan pengecualian Buddha, para siswa Buddha, dan orang lain yang pernah mendengar jawaban itu dariku, aku tidak melihat ada makhluk lain di dunia ini dalam berbagai alam kehidupan, yaitu: para dewa, Māra, brahmā, dan umat manusia termasuk para petapa, brahmana, raja dan manusia lainnya, yang mampu menjawab pertanyaan ini dengan benar.”

“Gundukan rumah semut ini, berasap pada malam hari; terbakar pada siang hari. Guru brahmana itu berkata kepada muridnya yang bijaksana: ‘Peganglah pedang itu, dan Gali dengan tekun.’

Si murid bijaksana melakukan sesuai perintah gurunya dan menemukan sebuah gerendel pintu. Lalu ia melaporkan kepada gurunya, ‘Guru, ada gerendel pintu.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, singkirkan gerendel pintu itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid bijaksana itu melakukan perintah gurunya dan menemukan seekor kodok. Ia melaporkan kepada gurunya: ‘Guru, ada kodok yang menggembung (uddhumāyika).’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, singkirkan kodok menggembung itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid bijaksana itu melakukan perintah gurunya dan menemukan persimpangan jalan. Ia melaporkan kepada gurunya: ‘Guru, ada persimpangan.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, tinggalkan persimpangan itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid bijaksana itu melakukan perintah gurunya dan menemukan saringan air untuk menyaring pasir. Ia melaporkan kepada gurunya: ‘Guru, ada saringan air untuk menyaring pasir.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, singkirkan saringan air itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid  bijaksana  itu  melakukan  perintah  gurunya  dan  menemukan  seekor  kura-kura. Ia  melaporkan  kepada gurunya: ‘Guru, ada seekor kura-kura.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, singkirkan kura-kura itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid bijaksana itu melakukan perintah gurunya dan menemukan sebilah pisau dan papan pemotong. Ia melapor kepada gurunya : ‘Guru, ada pisau dan papan pemotong.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: “Murid bijaksana, singkirkan pisau dan papan pemotong itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid  bijaksana  itu  melakukan  perintah  gurunya  dan  menemukan  segumpal  daging. Ia melaporkan  kepada  gurunya: ‘Guru, ada segumpal daging.’

Guru brahmana kemudian berkata kepada muridnya: ‘Murid bijaksana, singkirkan segumpal daging itu. Pegang pedangmu dan teruslah menggali.’

Murid  bijaksana  itu  melakukan  perintah  gurunya  dan  menemukan  seekor  nāga. Ia melaporkan kepada gurunya: ‘Guru, ada  seekor  nāga.’

Guru brahmana itu kemudian berkata kepada murid bijaksana itu: ‘Biarkan nāga itu. Jangan mengusiknya. Hormati dia.’”

Setelah mengatakan hal itu, brahmā itu lenyap dari sana. Keesokan paginya, Kumāra Kassapa menghadap Sang Buddha, bersujud dan menceritakan pertemuan dengan dewa brahmā malam sebelumnya. Sang Buddha memberi jawaban sebagai berikut:

(1) ‘gundukan rumah semut’ adalah tubuh ini.

[Tubuh ini diumpamakan sebagai ‘gundukan rumah semut’ karena dari gundukan rumah semut keluar ular, tikus, kadal, semut. Demikian  pula  tubuh  ini  mengeluarkan  segala  jenis  kotoran  melalui  sembilan  lubang  (ada alasan lainnya yang menjelaskan perumpamaan ini. Baca Komentar Mahā Vagga)]

(2) maksud dari: ‘berasap pada malam hari’ adalah seseorang pada malam hari merenungkan apa yang telah dilakukan pada siang hari.

[termasuk hal-hal yang dipikirkan pada malam hari untuk dilakukan pada keesokan harinya]

(3) maksud dari: ‘terbakar pada siang hari’ adalah seseorang melakukan secara fisik, ucapan, dan pikiran apa yang telah dipikirkan sepanjang malam.

[perbuatan fisik, ucapan, dan pikiran yang dilakukan pada siang hari seperti yang dipikirkan pada malam sebelumnya]

(4) ‘Guru Brahmana’ adalah sebutan untuk Tathāgata (Buddha).

(5) ‘murid bijaksana’ adalah seorang bhikkhu yang masih berlatih untuk mencapai Kearahattaan sesuai Tiga Latihan.

(6) ‘pedang’ adalah sebutan untuk pengetahuan, baik lokiya maupun Lokuttara.

(7) ‘menggali dengan tekun’ artinya adalah usaha terus-menerus.

(8) ‘gerendel pintu’ adalah sebutan  untuk  kebodohan. ‘Singkirkan gerendel pintu itu’ maksudnya adalah singkirkan  kebodohan. ‘Murid bijaksana, peganglah  pedang  itu dan galilah  terus’ artinya ‘berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk menyingkirkan kebodohan’.

[seperti  pintu di gerbang  kota yang menutup  jalan  para penduduk, demikian  pula  kebodohan menutup  munculnya Pengetahuan  menuju  Nibbāna]

(9) ‘kodok menggembung’ adalah sebutan untuk kemarahan. ‘Singkirkan kodok menggembung itu’ artinya ‘singkirkan kemarahan’. Murid  bijaksana, ‘peganglah pedang itu dan galilah terus’ artinya ‘berusahalah dengan tekun  gunakan pengetahuan untuk mengatasi kemarahan’.

[‘Kodok yang menggembung’ menunjukkan kemarahan yang menggembungkan dirinya saat diserang. Ia dapat meledak karena kemarahan dan jatuh terjengkang, tidak mampu bergerak, dan jatuh menjadi mangsa burung gagak atau musuh lainnya. Demikian  pula, saat  kemarahan  mulai  muncul, seseorang  menjadi  kacau. Jika  seseorang  cukup  waspada, ia dapat mengekangnya dengan perenungan bijaksana. Jika tidak dilawan, kemarahan akan terlihat pada ekspresinya, dan jika  masih  tidak  dilawan, hal  itu  akan  menimbulkan  kata-kata jahat  seperti  kutukan  atau  kata-kata kasar. Jika  kemarahan  dibiarkan  berkembang, seseorang  akan  mulai  memikirkan  perbuatan  yang mengerikan. Pada  titik  itu, ia akan melihat sekeliling apakah ada orang yang memihak kepadanya atau memihak lawan. Kemudian ia akan berkelahi, dan jika  ia tidak  menahan  diri, ia akan  mulai  mencari  senjata  untuk  menyerang  pihak  lawan. Jika  tidak  ada  pengendalian  diri  yang efektif, ia akan  cenderung  melakukan  penyerangan. Dalam  kasus  terburuk, dapat  menyebabkan  pembunuhan,  apakah  di pihak  lawan,  atau  diri  sendiri, atau  keduanya.

Bagaikan  kodok  menggembung  yang tidak  mampu  bergerak, terbaring, dan menjadi  santapan  burung  gagak  dan musuh  lainnya, demikian  pula  seseorang  yang dipengaruhi  oleh  kemarahan  tidak  dapat  berkonsentrasi  dalam  meditasi dan pengetahuannya  menjadi  terhalang. Tanpa  pengetahuan, ia akan menjadi  korban  segala  jenis  Māra  (kejahatan) dan menjadi budak dari nalurinya]

(10) ‘persimpangan jalan’ adalah sebutan untuk keraguan (vicikiccha). ‘Tinggalkan persimpangan itu’ artinya berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk mengatasi keraguan.

[Ketika seorang pengembara yang membawa barang berharga tiba di persimpangan jalan dan menghabiskan banyak waktu di sana, tanpa  mampu  memilih  jalan  mana  yang harus  diambil, ia mengundang  banyak  perampok  yang akan menghancurkannya. Demikian  pula  jika  seorang  bhikkhu, yang telah mendapatkan  instruksi  dari gurunya  mengenai metode  dasar  dalam  meditasi  dan telah  memulai  latihan, meragukan  kebenaran  Tiga  Permata, ia  tidak  akan  mampu bermeditasi. Karena  ia duduk  dengan  pikiran  yang  diganggu  oleh keraguan, ia  kalah  oleh kekotoran, Māra dan kekuatan jahat lainnya]

(11) ‘saringan air’ untuk menyaring pasir adalah sebutan untuk lima rintangan (nīvarana) yang menghalangi jalan menuju Jhāna dan Pengetahuan  Jalan, yaitu: (i) nafsu  indria (kāmacchanda), (ii) niat  buruk (vyāpāda), (iii) kemalasan  dan kelembaman (thina-middha), (iv) kegelisahan dan penyesalan (uddhacca-kukkucca), (v) keraguan (vicikicchā). ‘Singkirkan saringan air’ artinya, ‘berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk mengatasi lima rintangan.’

[Ketika seseorang menuangkan air ke dalam saringan air untuk menyaring pasir, air akan mengalir ke dalam saringan dengan bebas. Jangankan secangkir air yang dituangkan, bahkan seratus kendi pun, air itu akan tetap utuh. Demikian pula, dalam batin seorang meditator yang memiliki lima rintangan, tidak ada jasa kebajikan tertinggal]

(12) ‘kura-kura’ adalah sebutan untuk lima objek kemelekatan (upādāna), yaitu: (i) kelompok jasmani (rūpakkhandha) yang pasti mengalami perubahan, (ii) kelompok perasaan (vedanākkhandha) yang mampu merasakan, (iii) kelompok pencerapan (saññākkhandha) yang memiliki sifat mengenali, (iv) kelompok aktivitas kehendak (saṅkhārakkhandha) yang membantu dalam  membentuk  semua  perbuatan, (v) kelompok  kesadaran (viññāṇakkhandha) yang memiliki  sifat  mengetahui. ‘Singkirkan kura-kura itu’ artinya ‘berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk menyingkirkan lima kelompok yang merupakan objek kemelekatan.’

[Bagaikan seekor kura-kura yang memiliki lima tonjolan—kepala dan empat kakinya—demikian pula semua fenomena berkondisi di bawah mata pengetahuan terbagi dalam lima kelompok yang merupakan objek keserakahan]

(13) ‘pisau’ dan ‘papan pemotong’ adalah sebutan  untuk  lima  jenis kenikmatan  indria  yang  muncul  dengan indah, menyenangkan dan menarik dan yang menyebabkan  munculnya  kemelekatan indria terhadapnya, yaitu: (i) objek terlihat (rūparammaṇa) yang dikenali  oleh  kesadaran-mata (cakkhu-viññāṇa), (ii) suara (saddā-rammaṇa) yang dikenali  oleh kesadaran-telinga (sota-viññāṇa), (iii) bau-bauan (gandhā-rammaṇa) yang dikenali oleh kesadaran-hidung (ghāna-viññāṇa), (iv) rasa (rasā-rammaṇa) yang dikenali oleh kesadaran lidah (jivhā-viññāṇa), (v) objek-objek kasar (phoṭṭhabbā-rammaṇa) yang dikenali  oleh  kesadaran-badan (kāya-viññāṇa). ‘Singkirkan pisau dan papan pemotong itu’ artinya, ‘berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk menyingkirkan lima jenis kenikmatan indria.’

[Daging dicincang dengan menggunakan pisau di atas papan pemotong. Kenikmatan indria: kotoran, mencari objek-objek indria. Kotoran diumpamakan sebagai ‘pisau’, objek-objek indria diumpamakan sebagai ‘papan pemotong’]

(14) ‘segumpal daging’ adalah sebutan untuk kemelekatan atau keserakahan (nandīrāgataṇhā) ‘Singkirkan segumpal daging itu’ artinya ‘berusahalah dengan tekun dengan pengetahuan untuk menyingkirkan kemelekatan atau keserakahan indria.’

[Segumpal daging dicari oleh setiap orang, tinggi atau rendah, raja atau rakyat jelata, mereka menyukainya, demikian pula burung-burung dan binatang buas. Semua kesulitan berasal dari mengejar segumpal daging. Demikian pula, kemelekatan indria  atau  keserakahan  adalah  sumber  semua  penderitaan. Tetapi  kebenaran  ini  terselubung  oleh  kebodohan. Keserakahan atau kemelekatan indria memikat semua makhluk ke dalam lingkaran kelahiran kembali yang berputar tanpa welas asih. Penjelasan lain, segumpal daging melekat pada tempat di mana ia berada. Demikian pula kemelekatan indria cenderung  mengikat  makhluk-makhluk  pada  lingkaran  kelahiran  kembali  yang mereka  puja, tanpa  menyadari  sifat  bahayanya]

(15) ‘nāga’ adalah sebutan untuk Arahanta. Engkau dianjurkan untuk membiarkan Arahanta itu tanpa mengusiknya. Engkau juga dianjurkan untuk menghormati Arahanta.”

[Seorang Arahanta disebut ‘nāga’ karena seorang Arahanta tidak disesatkan oleh empat faktor yang menyesatkan, yaitu: kegemaran  atau  kesukaan, kebencian, ketakutan, dan kebodohan. (Chandādīhi na gacchantīti nāgā, Komentar  Mahā  Vagga).

Penjelasan  lain, seorang  Arahanta  tidak  pernah  kembali  kepada  kotoran  yang  telah  disingkirkan  dalam (empat) tingkat  penyucian. ( Tena tena maggena pahīne kilese na āgacchantī ti nāgā )

Pengertian lainnya, Arahanta tidak mampu melakukan kejahatan apa pun ( Ñāṇappakārakaṁ āguṁ na karontī nāgā )

Dalam memberi hormat kepada Buddha, Nāga, Arahanta, yang bebas dari racun moral, Kitab Komentar memberikan cara penghormatan berikut:

  • Buddho bodhāya deset, danto yo damathāya ca;
  • samathāya santo dhammaṁ, tiṇṇova taraṇāya ca,
  • nibbuto Nibbānatthāya, taṁ lokasaraṇaṁ name.

Buddha, Yang mencapai  Pencerahan  Sempurna, pelindung  di tiga  alam, Arahanta  (Nāga), setelah  menembus  Empat  Kebenaran Mulia oleh diri-Nya sendiri  dan  berkeinginan untuk  mencerahkan  orang  lain  yang layak  dicerahkan  seperti  diri-Nya; setelah  menjinakkan  diri-Nya  dalam  hal  enam  indria  dan berkeinginan  untuk  menjinakkan  orang lain yang layak  juga  dijinakkan  seperti  diri-Nya, setelah  mencapai  kedamaian  oleh  diri-Nya  sendiri  dan berkeinginan  agar orang lain yang layak  juga  mencapai  kedamaian  seperti  diri-Nya,  setelah  menyeberang  ke pantai  seberang  dari  lautan  saṁsāra  dan berkeinginan  agar orang lain yang layak  juga  menyeberang  ke pantai  seberang  seperti  diri-Nya; setelah  memadamkan  api  kotoran  pada  empat  tahap  dan berkeinginan  agar orang lain yang layak  juga memadamkan  api kotoran  seperti  diri-Nya;  demi  welas  asih-Nya menjelaskan Dhamma Agung kepada para dewa dan manusia selama empat puluh lima tahun. Kepada-Nya, Buddha, Nāga, pelindung  di tiga  alam, aku  bersujud  secara  fisik, ucapan, dan pikiran  dengan  segala kerendahan hati  dengan  kedua  tangan  dirangkapkan.”]

Menurut kitab Komentar, Khotbah Gundukan Rumah Semut atau Vammika Sutta adalah pelajaran meditasi bagi Yang Mulia Kumāra Kassapa (Iti idaṁ suttaṁ therassa kammaṭṭhānaṁ ahosi)

Yang Mulia Kumāra Kassapa memelajari jawaban Buddha atas lima belas teka-teki tersebut, kemudian memasuki kesunyian Hutan Andhavana, bermeditasi dengan tekun dan tidak lama kemudian ia mencapai Kearahattaan.

Sejak saat ia menjadi seorang bhikkhu, Yang Mulia Kumāra Kassapa dalam khotbah-khotbahnya kepada empat kelompok siswa — para bhikkhu, bhikkhunī, umat  awam  laki-laki, dan umat  awam  perempuan — selalu menggunakan  berbagai perumpamaan dan kiasan.

Salah  satu  khotbah  beliau  yang terkenal  adalah  khotbah  kepada  pangeran  Pāyasi  yang  berpandangan  salah  dengan menggunakan   empat  belas  perumpamaan,  yang  dikenal  sebagai  Pāyāsirājañña  Sutta.  Sang Buddha pernah menyatakan:

“Etadaggaṁ bhikkhave mama sāvakānaṁ bhikkhūnaṁ cittakathikānaṁ yadidaṁ Kumāra Kassapo,”

[Para bhikkhu, di antara para bhikkhu siswa-Ku yang menggunakan perumpamaan dalam khotbahnya, Bhikkhu Kumāra Kassapa adalah yang terbaik] (Dīgha Nikāya Mahā Vagga, Payasi Sutta)

Demikian sekilas kisah Thera Kumāra Kassapa dari sumber: Riwayat Agung Para Buddha, buku ketiga, hal.2699.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: