Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Dabba Mallaputta

Posted by chanyan pada 2010/06/05

Suatu masa di kota Haṁsāvatī, bakal Dabba Mallaputta mendengar khotbah Buddha padumuttara tentang seorang bhikkhu yang terbaik dalam menyediakan tempat tinggal bagi bhikkhu saṅgha. Setelah memberikan persembahan besar, ia bertekad di hadapan Buddha Padumuttara suatu saat akan menjadi seperti bhikkhu itu. Untuk mewujudkan impiannya, ia terus melakukan banyak kebajikan.

Setelah meninggal, ia terlahir bergantian di alam dewa dan manusia. Di masa akhir pengajaran Buddha Kassapa, ia terlahir sebagai seorang kaya yang kemudian menjalani hidup kebhikkhuan. Bersama dengan enam bhikkhu lainnya, mereka menyepi di sebuah puncak gunung yang terjal. Sesampainya di sana, mereka sepakat menghancurkan tangga yang mereka lalui sebelumnya. Ini berarti mereka akan berlatih disana sampai akhir hayat, tidak ada jalan mundur bagi mereka.

Dari ketujuh bhikkhu tersebut, yang tertua mencapai Kearahattaan pada hari kelima. Ia mengetahui bahwa ia telah menyelesaikan apa yang diperlukan dalam praktik mulia dan ia pergi ke Uttarakuru, Benua Utara dengan kekuatan batinnya untuk mengumpulkan dāna makanan. Setelah menerima makanan, ia kembali dan mempersembahkan kepada enam bhikkhu temannya dengan berkata, “Teman-teman, makanlah makanan ini. Biar aku yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan makanan. Kalian teruslah mengabdikan diri pada meditasi.”

Enam bhikkhu lainnya menjawab, “Teman, kita telah sepakat bahwa ia yang pertama menembus Dhamma Lokuttara tidak bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi mereka yang masih harus mencapai tujuan yang sama.”

Arahanta itu berkata, “Tidak, teman-teman, tak ada kesepakatan seperti itu.”

Kemudian bhikkhu lainnya berkata, “Yang Mulia, engkau telah mencapai Arahatta-Phala sesuai jasa masa lampaumu. Kami juga harus mengakhiri lingkaran saṁsāra yang penuh penderitaan semampu kami. Yang Mulia boleh pergi ke mana pun yang engkau suka.”

Bhikkhu tertua, karena tidak dapat membujuk enam bhikkhu lainnya untuk menerima makanan, ia memakan makannya di suatu tempat dan kemudian pergi dari sana.

Pada hari ketujuh, bhikkhu tertua kedua mencapai Anāgāmī-Phala. Ia pergi ke benua Utara dengan kekuatan batinnya dan kemudian mempersembahkan makanan kepada teman-temannya. Karena ditolak oleh teman-temannya, ia memakan makanannya dan kemudian pergi dari sana. Saat meninggal dunia, ia terlahir kembali di Alam Suci Brahmā (Anāgāmī). Ia menyadari bahwa teman-temannya berkeras mempertahankan salah satu pasal dhutaṅga yakni Piṇḍapātikaṅga (hanya mendapatkan makanan dengan cara melakukan piṇḍapāta), bukan disediakan.

Lima bhikkhu itu tidak mencapai Pengetahuan Jalan pada kehidupan itu. Setelah meninggal dunia mereka terlahir kembali di alam dewa dan alam manusia selama siklus dunia yang tidak terhitung banyaknya antara munculnya Buddha Kassapa dan Buddha Gotama.

Pada masa kehidupan Buddha Gotama, mereka terlahir kembali di berbagai negeri: (1) satu terlahir di Gandhāra, Kota Takkasīlā, sebagai keluarga kerajaan (kelak menjadi Raja Pukkusāti); (2) yang lain di wilayah Pabbateyya (juga disebut Majjhantika) sebagai putra seorang petapa pengembara perempuan (kelak menjadi Sabhiya si petapa pengembara); (3) Yang ketiga di Negeri Bāhiya dalam sebuah keluarga (dan kelak menjadi Thera Bāhiya Dārucīriya); (4) Yang keempat di dalam sebuah keluarga di Rājagaha (kelak dikenal sebagai Kumāra Kassapa); dan (5) Yang terakhir (yang kelak menjadi Yang Mulia Dabba) di Negeri Malla di Kota Anupiya dalam keluarga seorang pangeran Malla.

Ibu bakal Thera Dabba meninggal dunia saat menjelang melahirkan anaknya. Ketika jasadnya sedang dikremasikan di atas tumpukan kayu, rahimnya pecah karena panas, tetapi berkat jasa masa lampaunya, bayi itu terlempar ke atas dan jatuh di atas tumpukan rumput dabba, maka oleh neneknya bayi itu diberi nama Dabba.

Ketika Dabba berusia tujuh tahun, Buddha disertai oleh banyak bhikkhu tiba di Anupiya dalam perjalanan ke Negeri Malla, di sana Beliau menetap di hutan mangga Anupiya. Anak itu terpesona melihat Buddha dan meminta izin neneknya untuk menjadi bhikkhu. Neneknya mengizinkan dan membawa anak itu kepada Buddha dan memohon agar anak itu ditahbiskan.

Buddha menyuruh seorang bhikkhu yang berada di dekat Beliau untuk menahbiskan anak itu dengan berkata, “Tahbiskan anak ini menjadi seorang sāmaṇera.”

Bhikkhu itu kemudian mengajarkan kepada anak itu tentang bagaimana merenungkan kejijikan terhadap badan jasmani melalui lima bagian tubuh (yaitu: rambut, bulu badan, kuku, gigi, kulit). Karena mencukur rambut adalah langkah pertama untuk menjadikan anak itu menjadi seorang sāmaṇera, objek ini dianggap sebagai perenungan yang paling tepat sebagai petunjuk awal kepada anak itu. Dabba mengucapkan lima kata itu keras-keras sambil merenungkannya selagi kepalanya sedang dicukur.

Dabba kecil memiliki kondisi yang mendukung untuk mencapai Pencerahan. Terlebih lagi, ia telah bercita-cita untuk menjadi seorang bhikkhu yang terbaik pada seratus ribu siklus dunia yang lalu di hadapan Buddha Padumuttara. Karena itu, setelah cukuran pertama, ia mencapai Sotāpatti-Phala. Pada cukuran kedua ia mencapai Sakadāgāmī-Phala. Pada cukuran ketiga ia mencapai Anāgāmī-Phala. Dan saat kepalanya telah tercukur bersih, ia mencapai kesucian Arahatta. Selesainya pencukuran dan pencapaian Kearahattaan terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Setelah menghabiskan waktu yang diperlukan untuk membantu pencapaian Pencerahan oleh mereka yang layak terbebas dari saṁsāra, Buddha kembali ke Rājagaha dan menetap di Vihāra Veḷuvana. Sāmaṇera Dabba, yang sekarang adalah seorang Arahanta, juga menyertai Buddha.

Sesampainya di Rājagaha, Yang Mulia Dabba, masuk dalam kesunyian dan berpikir, “Tidak ada lagi yang harus kulakukan sehubungan dengan Kearahattaan. Lebih baik aku melayani Saṅgha dengan menyediakan tempat tinggal bagi mereka dan mengarahkan mereka ke para penyumbang makanan.”

Ia mengungkapkan gagasannya itu kepada Buddha. Buddha memujinya dan menugaskannya untuk tugas ganda:

(1)   mempersiapkan tempat tinggal bagi para anggota Saṅgha. Karenanya ia dikenal sebagai senāsana-paññāpaka sammuti.

(2)    mengarahkan anggota Saṅgha ke para penyumbangnya masing-masing untuk menerima dāna makanan. Karena ini, ia dikenal sebagai bhatt’uddesaka-sammuti.

Buddha senang melihat Dabba yang baru berusia tujuh tahun tetapi telah memiliki Empat Pengetahuan Analitis, Enam Kekuatan Batin, dan Tiga Pengetahuan. Oleh karena itu, walaupun masih di bawah umur, Buddha menaikkan Sāmaṇera Arahanta menjadi seorang bhikkhu.

[Selain Dabba, juga ada para Sāmaṇera Arahanta lainnya seperti Sāmaṇera Paṇḍita, Sāmaṇera Saṁkicca, Sāmaṇera Sopāka, Sāmaṇera Khadiravaniya (adik termuda Yang Mulia Sāriputta) yang ditingkatkan menjadi bhikkhu lengkap walaupun masih di bawah umur dua puluh tahun karena mereka telah mencapai Kesucian Arahatta. Meskipun muda dalam usia, para bhikkhu itu telah mencapai puncak kebhikkhuan, dan karena itu layak dipanggil dengan sebutan Thera]

Sejak itu, Yang Mulia Dabba bertugas mengatur tempat tinggal dan makanan (dari penyumbang kepada Saṅgha) bagi semua bhikkhu yang menetap di Rājagaha. Tugas ini ia lakukan dengan saksama. Tak pernah sekalipun ia melakukan kesalahan. Padahal tugas seperti ini biasanya dilakukan oleh seorang bhikkhu yang telah senior.

Maka tidaklah mengherankan jika dalam waktu singkat, bhikkhu muda Arahanta asal kerajaan Malla itu menjadi terkenal. Di mana-mana namanya menjadi buah bibir para bhikkhu. Tidak ada kekhawatiran, pokoknya tenang aja. Bhikkhu yang datang dari tempat jauh pasti terakomodasi dengan baik. Ia sangat memerhatikan keperluan para bhikkhu. Ia juga sangat terampil dalam mengelompokkan tempat tinggal. Bhikkhu-bhikkhu yang memiliki sifat dan watak yang sejenis diatur tinggal berdekatan. Bhikkhu yang sakit dibantu dengan kemampuan batinnya. Reputasinya ini menyebar ke segala penjuru.

Ruang lingkup tugas Yang Mulia Dabba meliputi delapan belas vihāra besar yang terletak di sekeliling Rājagaha. Kesemuanya selalu berada dalam keadaan rapi dan bersih, di dalam maupun di sekeliling vihāra. Ia tak pernah lupa membersihkan tempat duduk ataupun tempat tidur, meletakkan air minum atau pun air untuk mencuci bagi para bhikkhu.

Sering kali, para bhikkhu yang berkunjung tiba tengah malam. Dan favoritnya tinggal di tempat yang jauh seperti vihāra hutan mangga, vihāra hutan lindung Maddakucchi, dan lain-lain. Mereka menjadi terheran-heran saat mereka dapat memperolehnya dengan mudah, no problem. Dengan kekuatan batin, Yang Mulia Dabba menciptakan banyak tiruan dirinya pada saat yang bersamaan. Kemudian dengan jarinya, ia memancarkan cahaya dalam kegelapan berfungsi sebagai lampu penerang. Ia (atau tiruan-tiruan dari dirinya) mengantar tamu-tamunya ke tempat tinggal yang mereka inginkan. [cuplikan dari Vinaya Pārājika-kaṇḍa, bagian Duṭṭhadosa Sikkhāpada]

Mempertimbangkan pelayanan dari Yang Mulia Dabba kepada Saṅgha yang sangat memuaskan, maka pada suatu kesempatan Sang Buddha menyatakan di depan para bhikkhu:

“Etadaggaṁ bhikkhave mania Sāvakanaṁ bhikkhunaṁ senāsanpaññāpakanaṁ yadidaṁ Dabbo Mallaputto,”

[Para bhikkhu, di antara para siswa-Ku yang mampu menyediakan tempat tinggal bagi para Bhikkhu Saṅgha, Yang Mulia Dabba dari keluarga kerajaan Malla adalah yang terbaik]

Walaupun Yang Mulia Dabba adalah seeorang bhikkhu yang sungguh baik, ia pernah menjadi korban fitnah yang dilakukan oleh sekelompok bhikkhu jahat yang dipimpin oleh Bhikkhu Mettiya dan Bhikkhu Bhūmajaka. Peristiwa tidak menyenangkan ini adalah akibat dari perbuatan jahat masa lampaunya. Sembilan puluh satu siklus dunia sebelumnya, pada masa kehidupan Buddha Vipassī, ia pernah memfitnah seorang Arahanta. [Kisah lengkapnya baca Vinaya Pārājikakaṇḍa, bab Saṅghādisesa, bagian Duṭṭhadosa Sikkhāpada; dan Cūḷavagga, 4-Sathakkhandhaka, 2-Sati Vinaya]

Pada hari menjelang meninggal dunia, setelah piṇḍapata (mengumpulkan dāna makanan), Yang Mulia Dabba kembali ke Vihāra Veḷuvana. Setelah makan, ia mencuci kaki untuk menyejukkan, kemudian duduk di atas alas duduk kecil di tempat yang sepi, dan masuk ke dalam pencapaian Penghentian selama waktu yang telah ditentukan.

Setelah keluar dari pencerapan Jhāna selama waktu yang telah ia tentukan sebelumnya, ia meninjau umur kehidupannya dan mengetahui bahwa ia hanya memiliki sisa waktu hidup selama dua jam lebih sedikit (dua atau tiga muhutta). Ia berpikir bahwa tidaklah tepat jika ia meninggal dunia di tempat sepi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada Buddha dan para bhikkhu lainnya. Ia merasa wajib untuk mengucapkan selamat tinggal dan memperlihatkan kesaktiannya sebelum ia meninggal dunia, demi mereka yang salah paham terhadapnya (karena fitnah yang dilontarkan oleh Bhikkhu Mettiya dan Bhikkhu Bhūmajaka), sehingga mereka dapat melihat kualitas dirinya yang sesungguhnya. Maka ia menghadap Buddha, bersujud, dan duduk di tempat yang semestinya dan berkata, “O Sugata, waktuku untuk meninggal dunia telah tiba.”

Buddha melihat kelompok kehidupan Yang Mulia Dabba, dan mengetahui bahwa ia akan segera meninggal dunia. Beliau berkata: “Dabba, engkau tahu waktu kematianmu.”

Yang Mulia Dabba kemudian bersujud kepada Buddha, berjalan mengelilingi Bhagavā tiga kali dengan Bhagavā berada di sisi kanannya, berdiri di tempat yang semestinya dan berkata: “Yang Mulia, kita telah mengarungi dunia bersama-sama dalam berbagai kehidupan selama seratus ribu siklus dunia. Semua kebajikan yang kulakukan bertujuan untuk mencapai Kearahattaan. Tujuan itu sudah tercapai sekarang. Ini adalah terakhir kalinya aku melihat Bhagavā.”

Saat itu adalah saat yang sangat mengharukan. Sebagian bhikkhu yang masih awam, Sotāpanna, atau Sakadāgāmī merasa sedih, bahkan sebagian lainnya tak kuasa menahan tangis.

Sang Bhagavā mengetahui pikiran Yang Mulia Dabba, maka Sang Buddha berkata: “Dabba, kalau begitu, perlihatkanlah kesaktianmu kepada Kami dan Saṅgha.”

Setelah Buddha mengucapkan kata-kata itu, seketika itu banyak bhikkhu anggota Saṅgha muncul di tempat itu. Kemudian Yang Mulia Dabba memperlihatkan kesaktian khas para siswa Buddha seperti: ‘Dari satu menjadi banyak’,’Dari banyak menjadi satu’,’sekarang terlihat dan kemudian menghilang’, dan seterusnya.” Setelah itu ia bersujud lagi kepada Sang Buddha.

Kemudian Yang Mulia Dabba terbang ke angkasa dan menciptakan tanah di angkasa melalui pikirannya, tempat ia bersila dan bermeditasi dengan objek panas (tejo-kasiṇa) sebagai langkah persiapan. Setelah keluar dari Jhāna unsur panas tersebut, ia berkehendak tubuhnya akan terbakar. Kemudian ia memasuki Jhāna unsur panas (tejo dhātu) yang merupakan landasan bagi kekuatan batin.

Keluar dari Jhāna tersebut, proses-pikiran berkekuatan batin muncul dalam dirinya. Pada momen-pikiran pertama dari proses pikiran itu, seluruh tubuhnya terbakar, bagaikan api yang dapat menghancurkan dunia, sehingga tidak meninggalkan sisa jasmani, fenomena fisik yang berkondisi, dalam bentuk apa pun. Tidak ada debu apa pun yang terlihat. Kemudian kobaran api itu padam sesuai keinginan Yang Mulia Dabba. Di akhir proses pikiran berkekuatan batin itu, batinnya kembali ke kelompok kehidupan yang saat itu dikenali sebagai kematian. Dengan demikian berakhirlah kehidupan Yang Mulia Dabba yang telah meninggal dunia, mengakhiri dukkha, parinibbāna. [Kisah lengkap dari bagian meninggal dunia ini dapat dibaca dalam Komentar Udāna]

Demikianlah kisah Thera Dabba. [Sumber: Riwayat Agung Para Buddha, buku ketiga, hal.2673]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: