Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Raja Pukkusati

Posted by chanyan pada 2010/06/07

Ada sebuah film yang sangat keren yang belum diproduksi sampai saat ini. Salah satu scene dari kisah nyata ini menggambarkan dua manusia yang sedang melewati malam di dalam sebuah gubuk sederhana. Keduanya sedang tercerap dalam samadhi jhana keempat. Keduanya lahir sebagai manusia di dalam lingkungan kasta ksatria (raja). Yang seorang adalah raja Pukkusati yang baru melepaskan keduniawian. Satunya lagi adalah Sidhattha ‘Buddha’ Gotama.

Raja Pukkusati adalah penguasa wilayah utara, negeri Takkasila (Taxila) dengan ibukotanya Gandhara. Setelah masa Raja Pukkusati, kota itu pernah menjadi pusat kebudayaan bangsa-bangsa yang sangat maju.  Dari tempat itu muncul tokoh-tokoh seperti Chandragupta dan cucunya, Raja Ashoka, Menander (Raja Milinda dalam Milinda Panha yang pernah berdiskusi dengan Bhante Nagasena). Bahkan Padmasambhava, pendiri Tibetan Buddhism diyakini lahir di sana. Kota itu sekarang dikenal dengan nama Kandahar, Afganistan.

Di masa akhir ajaran Buddha Kassapa, bakal raja Pukkusati bersama enam bhikkhu lainnya memisahkan diri dari hidup keduniawian yang pada saat itu sudah menjauh dari Buddha Sasana. Mereka berikrar untuk hidup sesuai dengan moralitas menuju pembebasan sejati. Satu yang tertua berhasil mencapai kesucian Arahat. Satunya lagi mencapai tingkat Anāgāmi. Sedangkan lima lainnya tidak berhasil. Mereka tetap mempertahankan kehidupan dhutaṅga yang keras, dimana salah satu pasalnya adalah Piṇḍapātikaṅga (hanya mendapatkan makanan dengan cara melakukan piṇḍapāta), bukan disediakan. Sedangkan posisi mereka berada jauh dari penduduk dan tangga turun sudah mereka hancurkan, akibatnya mereka berlima meninggal di gunung terjal itu. Mereka kemudian terlahir di alam dewa dan alam manusia bergantian untuk waktu yang lama sekali.

Pada masa kehidupan Buddha Gotama, mereka terlahir kembali di berbagai negeri: (1) satu terlahir di Gandhāra, Kota Takkasīlā, sebagai keluarga kerajaan (kelak menjadi Raja Pukkusāti); (2) yang lain di wilayah Pabbateyya (juga disebut Majjhantika) sebagai putra seorang petapa pengembara perempuan (kelak menjadi Sabhiya si petapa pengembara); (3) Yang ketiga di Negeri Bāhiya dalam sebuah keluarga (dan kelak menjadi Thera Bāhiya Dārucīriya); (4) Yang keempat di dalam sebuah keluarga di Rājagaha (kelak dikenal sebagai Thera Kumāra Kassapa); dan (5) Yang terakhir (yang kelak menjadi Thera Dabba Mallaputta) di Negeri Malla di Kota Anupiya dalam keluarga seorang pangeran Malla.

Standing Buddha, Gandhara (1st–2nd century), Tokyo National Museum

Standing Buddha, Gandhara (1st–2nd century), Tokyo National Museum

Ketika Raja Pukkusāti berkuasa di Kota Takkasilā di sebelah utara, penguasa di Wilayah Tengah (Majjhima-Desa) adalah Raja Bimbisāra yang memerintah Kota Rājagaha di Negeri Magadha.

Suatu hari para pedagang Takkasilā datang ke Rājagaha membawa barang-barang untuk dijual. Mereka membawa hadiah dan menghadap Raja Bimbisāra. Mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dan berdiri memberi hormat kepada raja. Raja bertanya di mana mereka tinggal dan mereka menjawab bahwa mereka menetap di Takkasilā.

Setelah bertanya-tanya lebih jauh mengenai situasi politik, kesejahteraan, dan keadaan kota mereka, raja menanyakan nama raja mereka. Para pedagang menjawab bahwa raja mereka bernama Pukkusāti. Apakah raja mereka itu melaksanakan sepuluh kewajiban raja. Mereka menjawab, “Tuanku, raja kami memenuhi sepuluh kewajiban. Ia memajukan kesejahteraan rakyat melalui hal-hal pendukung (saṅgaha-Dhamma) seperti sassa-medha, purisa-medha, sammāpāsa, dan vācapeyya. Ia bersikap seperti seorang bapak bangsa, membahagiakan rakyatnya bagai orangtua yang menimang anak di pangkuannya.”

(1) Sassa-medha: kebijaksanaan sehubungan dengan hasil panen. Mengumpulkan pajak tanah hanya sebesar sepersepuluh dari hasil panen.

(2) Purisa-medha: kebijaksanaan sehubungan dengan para pegawai dan pasukan. Hadiah diberikan setiap setengah tahun.

(3) Sammāpāsa: mengayomi rakyat miskin. Memberikan pinjaman uang, seribu atau dua ribu tanpa dikenakan bunga selama tiga tahun.

(4) Vācapeyya: kata-kata yang penuh kasih sayang. Menggunakan kata-kata seperti ‘anak muda’, ‘paman’, dan sebagainya dalam berbicara dengan orang-orang sesuai umur mereka.

Raja Bimbisāra sangat tertarik dengan cara pemerintahan Takkasilā. Ia mencaritahu lebih lanjut, “Berapakah umur raja kalian?” Para pedagang itu menjawab dan ternyata kedua raja itu kebetulan berumur sama.

Kemudian raja berkata kepada para pedagang itu, “Teman-teman, raja kalian adalah orang yang baik, ia sebaya denganku. Dapatkah kalian mengusahakan agar raja kalian menjadi temanku?”

Ketika mereka memberikan jawaban positif, Raja Bimbisāra membebaskan para pedagang itu dari kewajiban pajak, menyediakan tempat tinggal serta makanan bagi mereka dan mengakhiri percakapan dengan meminta mereka untuk menghadap kembali sebelum mereka meninggalkan kota itu.

Sesuai instruksi raja, para pedagang itu menghadap Raja Bimbisāra pada malam sebelum keberangkatan mereka. Raja berkata, “Teman-teman, semoga perjalanan pulang kalian menyenangkan. Tolong sampaikan salamku kepada raja kalian, tanyakan tentang kesehatannya dan katakan kepadanya bahwa aku ingin bersahabat dengannya.”

“Baiklah,” jawab para pedagang itu dan mereka pulang ke Takkasilā. Sesampainya di Takkasilā, mereka menyimpan barang-barang mereka, dan pergi menjumpai raja mereka setelah makan pagi. Raja bertanya, “Ke mana saja kalian? Aku tidak melihat kalian beberapa hari ini.”

Para pedagang itu melaporkan semuanya kepada raja mereka. Kemudian raja dengan gembira berkata, “Baik sekali! Karena kalian, aku memiliki seorang sahabat dan sekutu di Wilayah Tengah.”

Beberapa waktu kemudian, para pedagang Rājagaha pergi ke Takkasilā untuk berdagang. Mereka menghadap Raja Pukkusāti dengan membawa hadiah. Ketika raja mengetahui bahwa mereka datang dari Rājagaha, kota kerajaan teman barunya, ia berkata, “Kalian adalah tamu dari Rājagaha, kota kerajaan teman dan sekutuku, Raja Bimbisāra.” Raja Pukkusāti tak lupa menanyakan tentang kesehatan temannya.

Raja Pukkusāti kemudian membuat pengumuman diiringi tabuhan genderang, “Sejak hari ini, semua pedagang yang datang dari kerajaan temanku Raja Bimbisāra, baik yang berjalan kaki maupun yang mengendarai kereta akan disediakan tempat tinggal dan makanan dari lumbung istana. Mereka akan dibebaskan dari pajak. Tidak ada yang boleh mengganggu mereka.” Raja Bimbisāra juga melakukan hal yang sama di kotanya.

Sekembalinya para pedagang ke kota Rājagaha, Raja Bimbisāra mengirim pesan kepada Raja Pukkusāti yang berisi:

“Teman, batu mulia seperti batu delima, mutiara, dan lain-lain, biasanya dihasilkan oleh negeri-negeri perbatasan. Jika engkau menemukan batu-batu mulia berharga yang menarik, mohon beritahukan kepadaku.”

Raja Pukkusāti sebaliknya mengirim pesan belasan yang berisi:

“Temanku, Wilayah Tengah adalah wilayah yang kaya. Jika muncul batu mulia berharga dari jenis yang lain, mohon beritahukan kepadaku.”

Selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, kedua raja itu menjalin persahabatan tanpa pernah bertemu muka.

Standing Bodhisattva or Bodhisattva Maitreya from Gandhara. 3rd century AD Grey schist. Musée des beaux-arts de Montréal

Hubungan mereka semakin hari semakin akrab meskipun belum pernah bertemu muka. Pada suatu ketika, kedua raja itu sepakat untuk saling berbagi berita mengenai harta terpendam mereka. Suatu benda yang layak untuk dijadikan hadiah pertama kali muncul dari pihak Raja Pukkusāti. Raja itu mendapatkan delapan helai kain lima warna yang tak ternilai. “Kain-kain ini berkualitas tinggi,” pikir raja itu. “Aku akan mengirimkannya sebagai hadiah kepada temanku Raja Bimbisāra.”

Kemudian ia membuat delapan kotak dari kayu cendana yang dihaluskan. Masing-masing kotak diisi dengan sehelai kain. Masing-masing kotak kemudian dibalut dengan getah pohon karet hingga menyerupai bola. Masing-masing bola dibungkus dengan kain putih dan dimasukkan ke dalam kotak yang dibungkus lagi dengan kain biasa dan disegel.

“Serahkan ini kepada temanku Raja Bimbisāra,” raja menyuruh para menterinya untuk mengirimkan kotak-kotak itu kepada temannya. Ia juga melampirkan sepucuk surat yang mengatakan, “Aku ingin agar temanku membuka kotak ini dan melihat hadiah ini bersama para menteri dan pejabat di tengah-tengah kota.”

Para menteri Gandhara kemudian pergi ke Rājagaha untuk menyampaikan hadiah dari raja Pukkusāti. Membaca pesan itu, Raja Bimbisāra memerintahkan agar semua menteri dan pejabatnya berkumpul. Di tengah-tengah kota, raja duduk di atas singgasana permata di bawah payung putih kerajaan. Kemudian ia membuka kain penutup dan membuka peti itu.

Ketika ia membuka paket itu dan melihat delapan buah bola getah karet, ia berpikir, “Oh, temanku Raja Pukkusāti mengirim dadu karet ini sebagai hadiah, ia pasti telah keliru menganggapku sebagai seorang penjudi, seorang pemain dadu.”

Ia mengambil bola itu, menimbang-nimbang beratnya dengan telapak tangan. Tanpa sengaja bola itu terjatuh menggelinding ke kaki singgasana, balutan karet itu terlepas dari kotak cendana didalamnya. Ia membuka kotak harum itu dengan kuku jari tangannya dan melihat kain berharga itu, ia segera memerintahkan agar tujuh peti lainnya dibuka juga. Mereka melihat dengan mata mereka sendiri bahwa semua kotak berisi kain yang tak ternilai itu.

Ketika kain itu dibentangkan dan diukur, mereka melihat warna-warni dan sentuhan yang indah, masing-masing berukuran panjang enam belas lengan dan lebar delapan lengan. Menyaksikan harta yang tak ternilai itu, orang-orang bertepuk tangan dan melemparkan penutup kepala mereka. Mereka bergembira dan berkata, “Raja kita dan temannya Raja Pukkusāti belum pernah bertemu, namun raja itu mengirimkan hadiah yang tak ternilai. Sangatlah tepat berteman dengan raja seperti itu.”

Raja Bimbisāra menaksir nilai dari tiap-tiap helai kain itu dan mengetahui bahwa semuanya bernilai sangat tinggi. Ia mempersembahkan empat helai kepada Buddha Gotama dan menyimpan empat sisanya di dalam istananya.

Kemudian Raja Bimbisāra berpikir, “Sebuah hadiah balasan harus melebihi hadiah yang diterima. Temanku Raja Pukkusāti telah mengirimkan hadiah yang tak ternilai kepadaku. Hadiah apakah yang harus kukirimkan kepadanya sebagai balasan?”

Tentu timbul pertanyaan di dalam hati kita, “Apakah tidak ada harta yang lebih baik daripada delapan helai kain itu di Rājagaha?” Sebenarnya bukan tidak ada. Raja Bimbisāra adalah seorang raja besar. Oleh karena itu, tidak mungkin tidak ada yang lebih baik dari delapan helai kain itu. Apalagi sejak saat ia mencapai Sotāpanna, semua permata duniawi tidak lagi menyenangkan hati raja. Hanya Tiga Permata dalam bentuk Buddha, Dhamma, dan Saṅgha yang menyenangkan. Oleh karena itu, dalam memilih benda berharga sebagai hadiah balasan, raja mempertimbangkan sebagai berikut:

“Di dunia ini, permata (ratana) ada dua jenis, yang hidup (saviññāṇaka) dan yang mati (aviññāṇaka). Dari kedua jenis ini, benda mati seperti emas, perak atau benda-benda berharga lainnya hanya berfungsi sebagai hiasan bagi yang hidup. Oleh karena itu, permata hidup adalah lebih berharga.”

“Permata hidup juga ada dua jenis, manusia dan binatang. Binatang seperti gajah, kuda atau binatang lainnya bertugas untuk bekerja membantu manusia. Oleh karena itu permata manusia adalah lebih berharga.”

“Permata manusia juga ada dua jenis, laki-laki dan perempuan. Perempuan, bahkan jika ia adalah permaisuri seorang raja dunia, ia hanyalah bertugas melayani laki-laki. Oleh karena itu, permata laki-laki adalah lebih berharga.”

“Permata laki-laki juga ada dua jenis, perumah tangga (āgāriya) yang mencari nafkah untuk keluarganya dan petapa (anāgāriya) yang tidak mencari nafkah untuk keluarganya. Perumah tangga, meskipun ia adalah raja dunia, yang teragung dari kelompok perumah tangga, harus memberi hormat kepada seorang sāmaṇera yang baru ditahbiskan. Oleh karena itu permata petapa adalah lebih berharga.”

“Permata petapa juga ada dua jenis, mereka yang masih dalam tahap belajar (sekkha), orang awam atau orang yang baru mencapai ‘tingkat rendah’; dan seorang Yang Tak Kembali lagi (asekha), seorang Arahanta. Bahkan seratus ribu orang yang masih dalam tahap belajar, mereka tidak sebanding dengan seorang Yang Tak Kembali lagi, seorang Arahanta, dalam hal kesucian. Oleh karena itu, mereka Yang Tak Kembali lagi adalah lebih berharga.”

“Permata Yang Tak Kembali juga ada dua jenis, Buddha dan para siswa-Nya. Bahkan seratus ribu siswa tidak sebanding dengan seorang Buddha dalam hal kesucian. Oleh karena itu, permata Buddha adalah lebih berharga.”

“Permata Buddha juga ada dua jenis, Buddha kecil (Pacceka Buddha) dan Buddha Yang MahaTahu (Sabbaññū Buddha) atau Yang Mencapai Pencerahan Sempurna (Sammāsambuddha). Bahkan seratus ribu Pacceka Buddha tidak sebanding dengan seorang Sammāsambuddha. Oleh karena itu Buddha Yang MahaTahu adalah lebih berharga.”

“Sesungguhnya, di dunia makhluk-makhluk hidup ini beserta alam dewa dan brahmā, tidak ada permata yang dapat menandingi Buddha Yang MahaTahu. Oleh karena itu, aku akan mengirimkan permata istimewa ini kepada temanku Raja Pukkusāti.”

Dengan pikiran demikian, Raja Bimbisāra bertanya kepada para menteri Takkasilā apakah mereka pernah melihat Tiga Permata: Buddha, Dhamma, dan Saṅgha di negeri mereka. Para menteri itu menjawab bahwa mendengar pun mereka belum pernah, apalagi melihatnya. Raja sangat gembira karena sekarang ia berkesempatan mengirimkan hadiah yang tidak ada di Takkasilā.

Kemudian raja berpikir, “Aku dapat meminta Buddha untuk berkunjung ke Takkasilā, kota kerajaan temanku Raja Pukkusāti demi kemajuan spiritual penduduk di sana. Tetapi bukanlah kebiasaan Buddha bermalam di daerah perbatasan. Jadi tidak mungkin Buddha pergi ke sana.”

“Atau barangkali aku dapat memohon untuk mengirim para Siswa Utama dan para Arahanta seperti Yang Mulia Sāriputta, YM Moggallāna dll ke sana? Akan tetapi, begitu aku mendengar mengenai keberadaan mereka di daerah perbatasan, aku biasanya mengutus orang-orangku untuk segera menjemput mereka ke sini dengan cara apa pun dan melayani kebutuhan mereka. Jadi tidak mungkin jika sekarang aku malah mengirim para Thera itu pergi dari sini.”

Setelah menimbang dengan seksama, akhirnya Raja Bimbisāra sampai pada kesimpulan, “Aku akan mengirim pesan yang fungsinya sama seperti kunjungan Buddha dan para Thera ke Takkasilā.”

Sang Raja kemudian menyiapkan sehelai kain emas, empat lengan panjangnya dan setengah lengan lebarnya, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Pada hari ia akan menulis di kain emas itu, ia mencuci rambutnya pada pagi hari, mandi, bertekad menjalani Delapan Sīla dan setelah makan pagi, ia tidak menghias dirinya dengan bunga dan tidak memakai wewangian. Kemudian ia mengambil bubuk merah dalam cangkir emas, ia menutup semua pintu di bawah dan naik ke tingkat atas. Agar cukup terang, ia membuka jendela di sebelah timur, dan duduk sendirian di dalam kamar. Kemudian raja Bimbisāra menulis di atas kain emas tersebut:

“Telah muncul di dunia ini, guru yang layak dipuja (Arahaṁ), yang telah mencapai Pencerahan Sempurna (Sammāsambuddha), memiliki pengetahuan dan perbuatan yang terpuji (Vijjā-caraṇa-sampanna), Petapa Mulia (Sugata), yang mengetahui seluruh alam (Lokavidū), pembimbing manusia yang tiada taranya (Anuttaro-purisa-damma-sārathi), guru para dewa dan manusia (Satthā-devamanussānaṁ), yang sadar (Buddha), yang patut dimuliakan (Bhagavā).”

Demikianlah raja pertama-tama menuliskan beberapa ciri mulia Buddha. Kemudian ia menjelaskan bagaimana Bodhisatta melatih Sepuluh Kesempurnaan (Pāramī); bagaimana Beliau setelah meninggal dunia dari Alam Dewa Tusita, Beliau masuk ke rahim ibu-Nya, bagaimana saat itu terjadi tiga puluh dua keajaiban yang terlihat oleh seluruh dunia dengan jelas, bagaimana keajaiban-keajaiban terjadi saat Beliau masuk ke dalam kandungan, bagaimana Beliau mempraktikkan pertapaan dan berusaha mencapai Pencerahan Sempurna; bagaimana Beliau, duduk di atas Singgasana Aparājita dan mencapai KemahaTahuan di atas Singgasana Aparājita itu, bagaimana Beliau mencapai kekuatan adi-alami yang luar biasa sehingga Beliau mampu menembus seluruh semesta. Akhirnya, Raja Bimbisāra menulis bahwa di seluruh alam dewa dan brahmā, tidak ada permata (ratana) selain Buddha-ratana yang memiliki ciri-ciri mulia tersebut. Raja selanjutnya menuliskan ciri-ciri lain dari Buddha dalam syair berikut:

  • Yaṁ kiñci vittaṁ idha vā huraṁ vā.
  • saggesu vā yaṁ ratanaṁ paṇītaṁ
  • na no samaṁ atthi Tathāgatena;
  • idampi Buddhe ratanaṁ paṇītaṁ
  • etena saccena suvatthi hotu.

Kemudian untuk memuji Dhamma-ratana, raja menuliskan enam ciri mulianya, yaitu, “Ajaran Buddha telah dibabarkan dengan sempurna (svākkhāta), hasilnya dapat dibuktikan dalam kehidupan ini juga (sandiṭṭhika), bermanfaat langsung (akālika), mengundang makhluk-makhluk untuk ‘datang dan melihat’ (ehipassika), layak dipelajari (opaneyyika) dan layak dilaksanakan oleh para bijaksana (paccattaṁ-vedittabba viññūhi). Raja juga menyebutkan ciri-ciri istimewa seperti Tiga Puluh Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (Bodhipakkhiya Dhamma) yaitu: Empat Landasan Perhatian Murni (Satipaṭṭhāna), empat usaha benar (sammappadhāna), empat jalan menuju pencapaian kekuatan adialami (iddhipada), lima indria (indriya), lima kekuatan (bala), Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (bojjhaṅga) dan Jalan Delapan Faktor (maggaṅga).

Kemudian Raja menjelaskan ciri-ciri mulia Dhamma sebagai berikut:

  • Yaṁ buddhaseṭṭho parivaññaī suciṁ
  • samādhimanantarikaññamāhu;
  • samāhinā tena samo na vijjati,
  • idampi dhamme ratanaṁ paṇītaṁ
  • etena saccena suvatthi hotu

Kemudian Raja memuji Saṅgha-ratana dengan menuliskan sembilan ciri-ciri mulia, empat yang pertama adalah “Para siswa Buddha bertindak-tanduk baik (supaṭipannatā), jujur (ujupaṭipannatā), perbuatan mereka mengarah menuju Nibbāna (nāyapaṭipannatā); karena perbuatannya, mereka layak diberi penghormatan (sāmīcipaṭipannatā); dengan memiliki sifat-sifat ini (yang menjadi penyebab), mereka layak diberi persembahan yang dibawa dari jauh (Āhuneyyo), layak diberikan tempat bernaung (Pāhuneyyo), layak diberi persembahan yang baik (dakhineyya), layak diberi penghormatan (añjali-karaṇīya), dan mereka adalah lahan yang terbaik bagi makhluk-makhluk untuk menanam benih kebajikan (anuttara-puññakkhetta lokassa). Raja melanjutkan tulisannya:

“Para anggota keluarga yang berasal dari kelahiran yang tinggi dan berperilaku baik, mendengar sabda Buddha dan melepaskan keduniawian untuk menjadi bhikkhu. Beberapa melakukannya dengan meninggalkan kemewahan seorang raja, beberapa lainnya meninggalkan kemewahan seorang pangeran mahkota, beberapa lainnya lagi meninggalkan kemewahan seorang jenderal, dan seterusnya. Setelah menjadi bhikkhu, mereka menjalani kehidupan mulia.”

Setelah kata-kata pengantar ini, sehubungan dengan kehidupan mulia, raja menuliskan sesuatu mengenai moralitas rendah (cūḷā-sīla), moralitas menengah (majjhima-sīla), moralitas tinggi (mahā-sīla), dan lain-lain, seperti yang terdapat pada Brahmajāla Sutta. Ia juga menuliskan tentang pengendalian enam indria, melatih perhatian dengan tekun (sati-sampajañña), kepuasan terhadap empat kebutuhan hidup, sembilan jenis tempat tinggal yang layak untuk berlatih meditasi, mengatasi lima rintangan (nīvaraṇa), mempersiapkan objek-objek meditasi (kasiṇa) untuk melatih pikiran, pengembangan Jhāna dan kekuatan adialami, tiga puluh delapan jenis meditasi, dan seterusnya, semuanya menuju pencapaian Kearahattaan.

Setelah menjelaskan secara terperinci enam belas jenis perhatian terhadap pernapasan (ānāpānasati) sebagai objek meditasi, raja memuji para siswa Buddha di dalam Saṅgha:

  • Ye puggalā aṭṭhasataṁ pasaṭṭhā
  • cattāri etāni yugāni honti.
  • te dakkhiṇeyyā sugatassa sāvakā
  • etesu dinnāni mahapphalāni.
  • idampi Saṅgha ratanaṁ paṇītaṁ
  • etena saccena suvatthi hotu.

Sang raja menambahkan, “Ajaran Buddha beserta Tiga Latihan-Nya (sikkhā) adalah indah pada permulaan, indah pada pertengahan, dan indah pada akhirnya. Ajaran Sang Buddha pasti mengarah menuju Pembebasan dari saṁsāra. Temanku, Pukkusāti, aku ingin mengajakmu untuk melepaskan keduniawian dan menjadi bhikkhu jika engkau bisa.”

Raja Bimbisāra kemudian menggulung kain emas itu, membungkusnya dengan kain berkualitas baik, selanjutnya menyimpannya di dalam kotak kayu cendana. Kotak kayu cendana itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kotak emas. Kotak emas dimasukkan ke dalam kotak perak. Kotak perak dimasukkan ke dalam kotak batu delima. Kotak batu delima dimasukkan ke dalam kotak batu koral. Kotak batu koral dimasukkan ke dalam peti batu delima jingga. Peti batu delima jingga dimasukkan ke dalam peti batu delima lurik (masāragalla). Peti batu delima lurik dimasukkan ke dalam peti kristal. Peti kristal dimasukkan ke dalam peti gading. Peti gading dimasukkan ke dalam peti sepuluh permata. Peti sepuluh permata dimasukkan ke dalam peti bambu.

Kemudian diulang, Peti bambu dimasukkan ke dalam kotak cendana. Kotak cendana dimasukkan ke dalam kotak emas, kotak perak, kotak batu delima, kotak koral, kotak batu delima jingga, kotak batu delima lurik, kotak kristal, kotak gading, kotak sepuluh permata, dan kotak bambu berturut-turut, satu kotak di dalam kotak lainnya.

Diulang sekali lagi, kotak bambu itu dimasukkan ke dalam peti kayu cendana, peti kayu cendana dimasukkan ke dalam peti emas, kemudian seperti sebelumnya, ke dalam peti perak, peti batu delima, peti koral, peti batu delima jingga, peti batu delima lurik, peti kristal, peti gading, peti sepuluh permata, dan peti bambu berturut-turut.

Peti bambu terluar akhirnya dibungkus dengan sehelai kain berkualitas baik, dan menyegelnya dengan stempel kerajaan. Raja Bimbisāra memerintahkan para menterinya: “Hiaslah jalan-jalan dalam wilayah kekuasaanku, semua jalan harus memiliki lebar delapan usabha, dua bagian masing-masing dua usabha lebarnya di kedua sisi jalan harus diratakan, dan bagian tengah yang lebarnya empat usabha harus dihias dengan hiasan kerajaan.” (1 usabha = 20 yaṭṭhi, 1 yaṭṭhi = 7 ratanaṃ, 1 ratanaṃ = 2 vadatthi, 1 vadatthi = 12 aṅgulaṃ, 1 aṅgulaṃ = 1 inchi. Dengan demikian 1 usabha = 280 kaki.)

Kemudian raja mempersiapkan tempat duduk di atas seekor gajah istana yang dihiasi, menaunginya dengan sebuah payung putih, menyapu jalan-jalan di kota dan memerciknya dengan air. Bendera dan umbul-umbul, dan spanduk dipasang di mana-mana. Di kedua sisi jalan, pepohonan dihias dengan rapi, kendi-kendi berisi air, bunga-bunga harum dan indah. Utusan-utusan dikirim ke semua kepala daerah untuk menyampaikan pesan: “Kalian harus memberi hormat kepada hadiah kerajaan saat ia melintasi wilayah kalian.”

Megah dengan segala tanda-tanda kebesaran, dan disertai oleh para menterinya, raja berangkat, membawa hadiah suci menuju perbatasan diiringi upacara yang megah dan berbagai alunan musik. Diam-diam ia memberitahu wakilnya yang bertanggung jawab menyerahkan hadiah itu,

“Aku ingin temanku menerima hadiah ini tidak di depan permaisurinya tetapi di teras atas istananya.”

Sang raja memuliakan hadiah sucinya dengan hormat dan menganggap perjalanannya sebagai perjalanan mengunjungi Buddha di daerah perbatasan. Kemudian ia kembali ke Kota Rājagaha.

Para gubernur dan walikota memperbaiki jalan-jalan dengan cara yang sama dan mengirimkan hadiah suci itu dari satu tempat ke tempat lainnya.

Raja Pukkusāti juga membersihkan jalan-jalan dari perbatasan hingga ke dalam kota, menghias kota dengan menerima hadiah suci itu dengan penuh kemegahan.

Hadiah suci itu secara ajaib tiba di Takkasilā bertepatan dengan hari uposatha. Sang menteri yang membawa hadiah itu menyampaikan pesan kepada raja yang ia terima secara lisan dari Raja Bimbisāra.

Mendengar pesan itu, Raja Pukkusāti melakukan pengaturan untuk memberikan kenyamanan para tamu dan mengambil sendiri hadiah itu dan pergi ke lantai atas istananya. Ia menempatkan penjaga di pintu untuk mencegah orang masuk ke dalam istana, kemudian ia membuka jendela, menempatkan hadiah itu di tempat yang tinggi dan kemudian ia duduk di tempat yang lebih rendah. Kemudian ia membuka segel kerajaan dan kain penutup bagian luar dan seteleh membuka kotak itu satu demi satu, ia melihat kotak kayu cendana yang terletak paling dalam. Ia menarik kesimpulan, “Hadiah ini dibungkus dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan hadiah-hadiah duniawi lainnya. Ini pasti sebuah ratana yang telah muncul di Wilayah Tengah dan sangat layak diperhatikan.”

Kemudian raja membuka peti harum itu, membuka segel kerajaan dan memegang kain berkualitas baik itu di kedua sisinya, ia membuka gulungan itu dengan hati-hati dan melihat gulungan emas. Ia terheran menatap tulisan indah itu, huruf-hurufnya sempurna membentuk tulisan tangan yang indah. Raja membaca huruf demi huruf dalam pesan itu.

Saat ia membaca ciri-ciri mulia Buddha yang dimulai dengan: “Telah muncul di dunia ini, Buddha…” ia merasakan kegembiraan luar biasa sehingga bulu di sembilan puluh sembilan ribu pori-porinya berdiri. Ia bahkan lupa saat itu ia sedang dalam posisi berdiri ataukah duduk. Ia sangat bersyukur saat ia berpikir mengenai kesempatan yang ia miliki. Ia berterima kasih kepada temannya Raja Bimbisāra, karena memberinya kesempatan untuk mendengarkan pesan mengenai Buddha-ratana yang sangat sulit terdengar bahkan dalam masa jutaan kappa.

Karena tidak sanggup membaca lebih lanjut. Raja Pukkusāti duduk sambil merenung hingga kegembiraannya berangsur-angsur berkurang. Kemudian ia melanjutkan membaca ciri-ciri mulia Dhamma yang dimulai dengan svākkhāta. Raja mengalami kegembiraan seperti sebelumnya. Duduk merenung hingga kegembiraannya berangsur-angsur berkurang, ia membaca ciri-ciri kemuliaan Saṅgha yang dimulai dengan Suppaṭipanna dan sekali lagi ia mengalami kegembiraan seperti sebelumnya.

Kemudian raja membaca bagian terakhir dari gulungan kain emas itu yang menjelaskan tentang meditasi dengan objek perhatian terhadap pernapasan. Ia bermeditasi sesuai instruksi dari tulisan itu dan mencapai Jhāna Rūpāvacara penuh. Ia melewatkan waktunya menikmati kebahagiaan Jhāna tanpa mengizinkan siapa pun datang menghadapnya kecuali seorang pelayan muda. Demikianlah ia melewatkan waktunya selama setengah bulan (lima belas hari).

Penduduk kota berkumpul di halaman istana dan menunggu kemunculan raja dengan berkata:

“Sang raja berhenti memeriksa pasukan atau menikmati hiburan sejak saat ia menerima hadiah kerajaan. Ia juga berhenti memberikan keputusan-keputusan kerajaan. Kami ingin raja memperlihatkan hadiah kerajaan yang dikirimkan oleh temannya Raja Bimbisāra. Beberapa raja berniat mencaplok sebuah negeri dengan memikat penguasanya dengan hadiah-hadiah. Apakah yang sedang dilakukan oleh raja kita sekarang?”

Ketika raja mendengar teriakan-teriakan itu, ia merenungkan apakah ia akan tetap bekerja demi kesejahteraan negerinya atau mengikuti ajaran Buddha. Akhirnya ia memutuskan, “Tidak ada perhitungan matematis yang dapat menghitung banyaknya kelahiran yang telah kualami sebagai seorang penguasa dari sebuah kerajaan. Oleh karena itu aku akan berlatih mempraktikkan ajaran Buddha.”

Dengan pikiran demikian, ia mengambil pedang yang diletakkan di dekat tempat tidurnya, memotong rambutnya, membuka jendela dan melemparkan gulungan rambutnya beserta pengikat rambutnya yang terbuat dari batu delima ke tengah-tengah kerumunan, dan berkata, “Orang-orangku! Ambillah gulungan rambutku dan perlakukan ia sebagai raja.”

Para penduduk menerima gulungan rambut beserta pengikat rambut batu delima dan berkata dengan sedih, “O Raja Besar, apakah semua raja yang menerima hadiah dari temannya seperti engkau?” Rambut Raja Pukkusāti panjangnya selebar dua jari tangan seperti rambut Bodhisatta pada malam Beliau melepaskan keduniawian.

Kemudian raja menyuruh pelayan mudanya pergi ke pasar untuk membeli dua helai jubah celup dan sebuah mangkuk tanah. Kemudian ia berkata, “Aku mempersembahkan kebhikkhuanku kepada Yang Mulia Buddha yang layak mendapat penghormatan di dunia ini,”

Dengan mengenakan sehelai jubah sebagai jubah bawah dan sehelai lainnya sebagai jubah atas, dengan mangkuk tergantung di bahu kirinya dan sebatang tongkat di satu tangan, ia melangkah dua atau tiga kali di luar istana untuk melihat apakah ia sudah terlihat layak seperti seorang bhikkhu. Ia gembira mengetahui bahwa ia pantas menjadi bhikkhu. Kemudian ia membuka pintu utama dan melangkah turun dari istananya.

Para penari dan orang-orang lainnya yang menunggu berturut-turut di tiga pintu melihat Bhikkhu Pukkusāti turun melewati mereka, tetapi mereka tidak mengenali raja. Mereka menduga bahwa seorang Pacceka Buddha telah datang untuk memberikan khotbah kepada raja. Setelah sekian lama, akhirnya mereka naik ke tingkat tertinggi istana itu dan secara saksama memeriksa tempat duduk raja, mereka baru menyadari bahwa raja telah pergi. Mereka seketika menangis bagaikan orang-orang yang terperangkap di dalam perahu yang tenggelam di tengah lautan. Berita kepergian raja segera menjadi buah bibir seantero kerajaan.

Ketika Bhikkhu Pukkusāti sampai di gerbang luar, semua penduduk dan pasukan mengelilinginya dan menangis sedih. Para menteri berkata kepada Pukkusāti:

“Raja Besar! Raja-raja di Wilayah Tengah sangat licik. Engkau sebaiknya pergi hanya setelah mengirim utusan dan menyelidiki untuk memastikan apakah Buddha-ratana telah benar-benar muncul di dunia ini atau tidak. Sementara itu, engkau sebaiknya kembali ke istana.”

Tetapi Bhikkhu Pukkusāti tetap pergi sambil berkata, “Teman-teman, aku memercayai temanku, Raja Bimbisāra. Temanku Raja Bimbisāra tidak pernah berkata bohong kepadaku. Engkau pergilah.” Namun para menteri dan para penduduk tetap mengikuti raja.

Pukkusāti kemudian membuat tanda di atas tanah dengan tongkatnya dan bertanya kepada para penduduk, “Milik siapakah negeri ini?” mereka menjawab, “Raja Besar, ini adalah negerimu.” Kemudian bhikkhu itu berkata, “Siapa yang menghancurkan tanda ini harus dihukum dengan kuasa dari raja.”

[Dalam Mahājanaka Jātaka, Ratu Sīvalidevī tidak berani menghapus garis yang digambar di tanah oleh Bodhisatta, Raja Mahā Janaka. Maka dengan cerdik ia bergulingan di tanah mengakibatkan garis itu terhapus dan kemudian mengikuti raja. Para penduduk juga mengikuti melalui jalan yang telah dibuka oleh ratu. Tetapi dalam hal garis yang digambar oleh Raja Pukkusāti, para penduduk tidak berani melewatinya dan hanya bisa menangis memandangi garis itu]

Raja Pukkusāti pergi sendirian tanpa mengajak seorang pun pelayan atau budak yang akan menyediakan sikat atau air untuk mencuci muka sepanjang perjalanannya. Ia berjalan sendirian, menyadari kenyataan bahwa “Guruku, Buddha melepaskan keduniawian (saat masih seorang Bodhisatta) dan pergi sendirian untuk menjadi bhikkhu.”

Tergerak untuk mengikuti sejauh mungkin teladan yang diberikan oleh Buddha dan mengingat bahwa Buddha tidak pernah menggunakan kendaraan, ia bahkan tidak memakai sandal dan bahkan tidak menggunakan payung yang terbuat dari daun sekalipun. Para penduduk memanjat pohon, tembok-tembok kota, menara-menara atau tangga-tangga yang terletak di tembok atau benteng, dan lain-lain untuk melihat kepergian raja mereka.

Raja Pukkusāti berpikir, “Aku harus melakukan perjalanan ini, tetapi aku tidak mampu melakukan perjalanan ini sendirian.” Maka ia mengikuti serombongan pedagang. Karena ia berjalan kaki di atas tanah yang kasar di bawah terik matahari, telapak kakinya pecah dan luka, menyebabkan sakit dan penderitaan luar biasa. Saat rombongan pedagang itu berhenti dan mendirikan kemah dari dahan-dahan dan daun-daunan, Pukkusāti juga berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon. Ia memasuki Jhāna Keempat melalui meditasi pernapasan, melenyapkan kelelahannya dan melewatkan waktunya dalam kebahagiaan Jhāna.

Keesokan paginya, ia membersihkan badannya dan kembali mengikuti rombongan pedagang itu. Ketika tiba waktunya makan pagi, para pedagang itu mengambil mangkuknya dan memberinya makanan. Kadang-kadang makanannya belum cukup matang, kadang-kadang terlalu lunak, kadang-kadang kasar berpasir, kadang-kadang terlalu asin, dan kadang-kadang hambar. Bhikkhu itu tidak peduli apakah makanannya lunak atau keras, kasar atau lembut, asin atau hambar, ia memakannya bagaikan memakan makanan surgawi.

Demikianlah akhirnya ia tiba di kota Sāvatthī, setelah melakukan perjalanan sejauh seratus sembilan puluh dua yojanā. Meskipun rombongan pedagang itu melewati Vihāra Jetavana di kota, ia tidak pernah berpikir untuk bertanya di mana Buddha berada. Hal ini karena (1) hormatnya kepada Buddha dan (2) pesan dari Raja Bimbisāra.

(1) Sepanjang perjalanannya, Pukkusāti memusatkan pikirannya ke arah Buddha tanpa memikirkan hal-hal lainnya. Saat mendekati Jetavana, dengan penuh hormat kepada Buddha, ia bahkan tidak pernah bertanya-tanya di manakah Buddha berdiam. Mempertanyakan keberadaan Buddha tidak pernah muncul dalam dirinya.

(2) Pesan dari Raja Bimbisāra yang mengatakan bahwa “Buddha muncul di dunia ini.” Dari pesan itu Pukkusāti yakin bahwa Buddha berdiam di Rājagaha. Maka walaupun ia melewati Vihāra Jetavana, ia tidak menanyakan tempat kediaman Buddha dan terus melanjutkan perjalanannya. Akhirnya tibalah ia di Rājagaha, empat puluh lima yojanā jauhnya dari Sāvatthī.

Sesampainya di Rājagaha, matahari telah terbenam. Pukkusāti melihat banyak vihāra dan menyimpulkan pesan Raja Bimbisāra bahwa Buddha berdiam di Rājagaha. Ia bertanya kepada para penduduk di vihāra mana Buddha menetap. Para penduduk bertanya dari mana ia datang dan mendengar bahwa ia datang dari utara, mereka berkata, “Yang Mulia, engkau berjalan terlalu jauh. Buddha Gotama menetap di Sāvatthī, empat puluh lima yojanā jauhnya dari Rājagaha ke arah dari mana engkau datang.”

Bhikkhu itu berpikir, “Sekarang, sudah terlalu larut. Aku tidak dapat mengunjungi Buddha hari ini. Aku akan melewatkan malam ini di sini dan menjumpai Buddha besok.”

Ia bertanya kepada para penduduk, di mana tempat untuk para petapa yang datang ke Rājagaha setelah matahari terbenam. Para penduduk menunjukkan sebuah gubuk kecil milik seorang pembuat tembikar sebagai tempat peristirahatan bagi bhikkhu-bhikkhu yang berkunjung. Dengan izin si pembuat tembikar, bhikkhu itu memasuki gubuk untuk melewatkan malam itu.

Pada dini hari itu, ketika Sang Buddha memeriksa dunia makhluk-makhluk hidup dan melihat Pukkusāti, Sang Buddha berpikir:

“Orang ini yang berasal dari keluarga baik, membaca pesan yang dikirim oleh temannya Raja Bimbisāra dan setelah meninggalkan wilayah kekuasaannya Takkasilā, yang luasnya seratus yojanā, ia menjadi bhikkhu untuk-Ku. Hari ini ia akan tiba di Rājagaha setelah berjalan sejauh seratus sembilan puluh dua yojanā dan bermaksud untuk menempuh empat puluh lima yojanā lagi kembali menuju Sāvatthī.”

“Jika Aku tidak menjumpainya, ia akan melewati malam ini dan meninggal dunia tanpa mencapai tiga tingkat Buah yang pertama. Jika Aku menjumpainya, ia akan menembus tiga tingkat Buah pertama di dalam Jalan Mulia dan terbebaskan. Aku telah mengembangkan dan melatih Kesempurnaan selama berkappa-kappa karena welas asih kepada makhluk-makhluk. Sekarang Aku akan pergi menjumpainya demi kemajuan spiritualnya.”

Maka pagi-pagi sekali Buddha membersihkan badan-Nya dan memasuki Sāvatthī bersama para bhikkhu untuk mengumpulkan dāna makanan. Siang harinya Beliau beristirahat sejenak di dalam Kuṭī Harum dan berpikir:

“Orang ini yang berasal dari keluarga baik telah melakukan sesuatu untuk-Ku yang sangat sulit dilakukan oleh orang-orang lain. Setelah meninggalkan kekuasaannya, Takkasilā yang luasnya seratus yojanā, ia pergi sendirian tanpa didampingi oleh seorang pelayan untuk menyediakan air pencuci mukanya.”

Buddha memikirkan jerih payah bhikkhu itu dan tanpa mengajak Yang Mulia Sāriputta atau Moggallāna atau siswa lainnya, Beliau meninggalkan Sāvatthī seorang diri, membawa mangkuk dan jubah-Nya sendiri.

Buddha tidak terbang di angkasa atau memperpendek jarak perjalanan itu, tetapi Beliau berjalan kaki karena mengetahui bahwa demi diri-Nya bhikkhu itu tidak mengendarai kereta kuda atau gajah atau tandu emas, tetapi ia datang bertelanjang kaki tanpa sandal atau payung.

Dengan kemegahan seorang Buddha lengkap dengan tanda-tanda istimewa-Nya dan enam berkas sinar tubuh-Nya, dan lain-lain, yang menyelubungi Beliau bagaikan awan menyelimuti bulan, Buddha melakukan perjalanan sepanjang sore hari itu (kira-kira enam jam) dan menempuh jarak sejauh empat puluh lima yojanā, Ia tiba di gubuk si pembuat tembikar saat matahari terbenam persis sesaat setelah Bhikkhu Pukkusāti memasuki gubuk itu. Buddha datang dengan menyembunyikan kemuliaan-Nya agar bhikkhu itu dapat beristirahat dengan nyaman. Seseorang yang kelelahan tidak dapat menembus Dhamma.

Ketika Buddha tiba di dekat gubuk si pembuat tembikar, Beliau tidak memasukinya seperti layaknya seorang Buddha Yang MahaTahu, melainkan Ia berdiri di pintu masuk dan meminta izin kepada bhikkhu itu untuk beristirahat di sana. Pukkusāti menganggap Buddha adalah seorang bhikkhu biasa dan dengan senang hati memberikan izin kepada-Nya dengan berkata, “Temanku, gubuk ini sangat tenang. Tidak sempit. Engkau boleh tinggal dengan nyaman sesuka-Mu di sini.”

(Bagaimana mungkin Bhikkhu Pukkusāti yang telah meninggalkan kekuasaannya di Negeri Takkasilā yang luasnya seratus yojanā enggan berbagi akomodasi yang ia peroleh di dalam sebuah gubuk dengan seorang bhikkhu lain? Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Tentu saja ada juga segelintir bhikkhu dungu dan sombong (mogha purisa) yang sangat kikir dan ingin menguasai tempat tinggal (āvāsa-macchariya) untuk dirinya sendiri tanpa memedulikan bhikkhu lainnya)

Buddha yang sangat halus dan lembut meninggalkan Kuṭī Harum yang seperti istana surgawi dan memasuki gubuk si pembuat tembikar yang kotor dan menjijikkan, penuh dengan debu, pecahan kendi, jerami, dan kotoran ayam dan babi. Di sini, di tengah-tengah kotoran itu, Buddha membuat alas tidur dari rumput, menghamparkan jubah dan duduk dengan tenang seolah-olah berada di dalam kamar yang harum oleh dupa surgawi.

Demikianlah kedua orang yang berasal dari keluarga khattiya itu, yang memiliki jasa kebajikan masa lampau, yang meninggalkan kemewahan istana untuk menjadi bhikkhu, yang memiliki kulit keemasan, yang telah mencapai tingkatan yang teramat dalam, Buddha dan Pukkusāti, keduanya duduk di dalam gubuk si pembuat tembikar, menyebabkan gubuk itu terlihat sangat indah bagaikan gua kristal tempat tinggal dua raja singa.

Buddha tidak pernah berpikir, “Aku sangat haus dan Aku telah melakukan perjalanan sejauh empat puluh lima yojanā sepanjang sore (selama enam jam). Sekarang Aku akan berbaring ke arah kanan untuk melenyapkan kelelahan-Ku.” Tanpa berpikir demikian, Buddha memasuki Jhāna Keempat dari Buah (Phala Samāpatti) sambil duduk.

Demikian pula, Bhikkhu Pukkusāti tidak berpikir untuk berbaring sejenak melenyapkan kelelahannya dari berjalan dengan kaki telanjang sejauh seratus sembilan puluh dua yojanā. Ia juga memasuki Jhāna Keempat dengan objek pernapasan sambil duduk.

(Di sini, tujuan kunjungan Buddha adalah mengajarkan kepada Pukkusāti, tetapi mengapa Beliau memasuki Jhāna Keempat, bukannya mengajari bhikkhu tersebut? Buddha tidak mengajarkannya segera karena saat itu bhikkhu tersebut masih letih dan lelah. Ia tidak akan dapat menghargai ajaran itu. Oleh karena itu Buddha menunggu sampai kelelahannya lenyap. Ada berpendapat bahwa Rājagaha adalah kota kerajaan yang berpenduduk padat dengan angkasa yang dipenuhi dengan sepuluh jenis suara, bahwa Buddha menunda khotbah-Nya hingga tengah malam saat kota telah benar-benar sunyi dan tenang. Pendapat ini kurang tepat, karena tentu saja Buddha secara adialami dapat mengalahkan bahkan suara yang menjangkau hingga alam brahmā. Dengan kata lain, Beliau dapat membuat suara itu tidak terdengar oleh para bhikkhu. Sesungguhnya, Buddha menunggu hingga tengah malam agar para bhikkhu memulihkan diri dari kelelahan.)

Buddha meninggalkan Sāvatthī pada siang hari, berjalan kaki menuju Rājagaha yang jauhnya empat puluh lima yojanā, sampai di gubuk pembuat tembikar saat matahari terbenam, memasuki gubuk itu atas izin bhikkhu tersebut dan tenggelam dalam Phala Samāpatti selama enam jam. Keluar dari Jhāna saat tengah malam, Beliau membuka kedua mata-Nya, yang memiliki lima jenis kepekaan, bagaikan membuka jendela istana emas. Kemudian Beliau melihat Bhikkhu Pukkusāti duduk tenggelam dalam Jhāna Keempat (melalui objek pernapasan) bagaikan patung emas, tanpa adanya gerakan tangan, kaki atau kepala, tenang dan tidak terganggu bagaikan tiang pintu yang kokoh. Buddha berpikir bahwa posisi bhikkhu itu sangat mengesankan dan memutuskan untuk memulai percakapan.

Dari keempat posisi tubuh, yaitu: berjalan, berdiri, berbaring, dan duduk, tiga posisi pertama kurang terhormat. Tangan, kaki, dan kepala seorang bhikkhu yang sedang berjalan selalu bergerak. Tubuh seorang bhikkhu yang sedang berdiri cenderung kaku. Posisi berbaring juga tidak menyenangkan. Sesungguhnya, hanya posisi duduk dari seorang bhikkhu yang setelah menyapu tempat meditasinya pada sore hari, menghamparkan alas duduknya, membersihkan tangan dan kaki, duduk bersila merupakan posisi yang terhormat. Bhikkhu Pukkusāti duduk bersila dalam Jhāna Keempat melalui meditasi pernapasan yang menyenangkan Buddha.

(Buddha mengetahui bahwa Pukkusāti menjadi bhikkhu untuk menghormati-Nya. Tetapi Ia memutuskan untuk menanyainya, karena jika tidak begitu, maka tidak akan ada percakapan. Tidak ada percakapan artinya tidak ada khotbah yang disampaikan. Maka Beliau memulai percakapan dengan tujuan sebagai pengantar menuju pembabaran khotbah).

Buddha bertanya kepada bhikkhu itu kepada siapakah ia mengabdikan kehidupan suci yang ia jalani, siapakah gurunya dan ajaran siapakah yang ia jalankan. Bhikkhu itu menjawab bahwa ia mengabdikan hidupnya kepada Buddha dan seterusnya.

Kemudian, Buddha bertanya lagi di manakah Yang Termulia, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna berdiam. Bhikkhu Pukkusāti menjawab, “Temanku, ada sebuah kota di wilayah utara. Yang Termulia, yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, sekarang menetap di kota itu.”

Ketika Buddha bertanya apakah ia pernah bertemu dengan Buddha, dan jika bertemu dengan-Nya sekarang apakah ia dapat mengenali-Nya, Pukkusāti menjawab bahwa ia belum pernah betemu dengan Beliau dan ia tidak akan mengenali-Nya jika ia bertemu dengan-Nya sekarang.

[Di sini, semua orang mengenali Buddha dari kemuliaannya. Hal ini tidaklah mengherankan. Tetapi, adalah sulit bagi banyak orang untuk mengenali Buddha yang sedang dalam samaran sebagai seorang bhikkhu biasa yang sedang mengumpulkan dāna makanan, dan menyembunyikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, Bhikkhu Pukkusāti menjawab dengan jujur bahwa ia tidak akan dapat mengenali Buddha. Ia tidak mengetahui meskipun ia berada di gubuk yang sama dengan Buddha]

Mengetahui bahwa kelelahan bhikkhu itu telah lenyap, Buddha memutuskan untuk membabarkan khotbah kepada raja “yang telah mengabdikan kebhikkhuannya untuk-Ku”.

Buddha berkata, “Bhikkhu, Aku akan mengajari-mu. Dengarkanlah ajaran-Ku. Ingatlah dengan baik. Aku akan mengajarkan Dhamma dengan saksama kepadamu.” [Hingga saat ini Bhikkhu Pukkusāti masih belum menyadari bahwa temannya adalah Buddha]

Pukkusāti telah meninggalkan kerajaannya setelah membaca pesan dari temannya, Raja Bimbisāra. Dan menjadi bhikkhu agar dapat mendengarkan Dhamma yang manis dari Buddha. Ia telah melakukan perjalanan yang sangat jauh tanpa bertemu dengan siapa pun yang peduli mengajarkannya. Oleh karena itu, mengapa ia harus menolak pengajaran dari temannya? Bagaikan orang yang kehausan, ia sangat ingin meminum air Dhamma. Maka dengan senang hati ia setuju untuk mendengarkan ajaran itu. Ringkasan dari petunjuk Buddha kepada raja Pukkusāti ( Dhātuvibhaṅga Sutta ) sebagai berikut:

“Bhikkhu, Seseorang atau makhluk terdiri dari enam unsur, enam organ indria, delapan belas pikiran, empat jenis pendukung. Ia yang hidup mengandalkan empat pendukung ini adalah bebas dari arus keangkuhan yang lahir dari khayalan diri, ketika arus keangkuhan lenyap dari dalam diri seorang bhikkhu, ia dikatakan telah melenyapkan āsava atau kotoran batin. (1) ia harus penuh perhatian terhadap Pengetahuan Vipassanā (Pandangan Cerah), (2) ia harus mengatakan Kebenaran, (3) ia harus berusaha meninggalkan kotoran moral, (4) ia harus melatih Dhamma hanya untuk memadamkan kotoran batin.”

Setelah menyebutkan dasar-dasar Dhamma ini, Buddha menjelaskan satu demi satu secara terperinci. (Dhātuvibhaṅga Sutta dari Majjhima-Nikāya).

Ketika Buddha menjelaskan Dhamma yang pertama, yaitu perhatian terhadap Pengetahuan Vipassanā, Buddha membabarkan hingga ke tingkat kesucian Arahatta dan Pukkusāti berhasil mencapai tiga tingkat Buah pertama karena kebajikan masa lampaunya dan menjadi seorang Ariya (seorang mulia) dengan tingkat kesucian Anāgāmī.

Misalnya, sewaktu seorang raja sedang memakan makanan yang terdiri dari berbagai rasa di dalam mangkuk emas, ia akan mengambil nasi sebanyak yang sebanding dengan ukuran mulutnya. Ketika seorang pangeran kecil yang duduk di pangkuannya, ingin makan, raja akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dari nasi yang diambil untuk dimakannya. Anak itu akan memakan sejumlah yang sebanding dengan ukuran mulutnya. Sedangkan sisanya akan dimakan oleh raja itu atau dikembalikan ke dalam mangkuk emas. Demikian pula, Buddha, Raja Dhamma, membabarkan Dhamma yang mengarah kepada Kearahattaan, khotbah yang sesuai dengan kekuatan intelektualnya dan berdasarkan kebajikan masa lampaunya. Bhikkhu Pukkusāti hanya dapat mengkonsumsi tiga perempat makanan Dhamma itu, yang adalah Jalan, dan menjadi Anāgāmī Ariya.

Pukkusāti tidak meragukan Dhamma sebelum mencapai kesucian Anāgāmī-Phala dan saat ia mendengarkan khotbah Buddha mengenai kelompok-kelompok kehidupan, organ-organ indria, unsur-unsur atau bentukan-bentukan pikiran, dan seterusnya. Tetapi ia masih ragu apakah manusia cerdas yang terlihat seperti seorang biasa dan yang sedang mengajarinya itu adalah seorang Buddha karena ia mendengar bahwa Buddha sering bepergian ke beberapa tempat dengan menyamar. Namun demikian, setelah ia mencapai Buah Anāgāmī, ia sama sekali tidak meragukan bahwa gurunya itu adalah Buddha.

Sebelum ia mengenali Buddha, ia memanggil Buddha dengan sebutan “Temanku!”, ia belum meminta maaf atas kekeliruannya karena Buddha masih membabarkan khotbah-Nya yang berurutan, dan bhikkhu itu belum berkesempatan untuk meminta maaf.

Pada akhir khotbah tersebut terjadi percakapan antara Buddha dan Bhikkhu Pukkusāti.

Pukkusāti: “Yang Mulia, guru para dewa dan manusia, telah datang ke sini karena welas asih terhadapku! Buddha yang membabarkan Dhamma yang sempurna telah datang ke sini karena welas asih terhadapku! Yang Mulia, yang memahami semua Dhamma telah datang ke sini karena welas asih terhadapku.” (Sambil mengucapkan kata-kata gembira, ia bangkit dan meletakkan kepalanya di kaki Buddha dan menambahkan) “Buddha Yang Agung! Karena kebodohanku, aku telah melakukan kesalahan. Aku telah menganggap bahwa Engkau layak kupanggil “temanku” (dan aku memang telah keliru memanggil-Mu demikian). Buddha Yang Agung, mohon maafkan aku atas kekeliruan ini yang harus kukendalikan pada masa mendatang.”

Buddha: “Bhikkhu, Karena ketidaktahuanmu, engkau telah melakukan kekeliruan. Engkau menganggap-Ku layak dipanggil sebagai “teman” (dan engkau memang memanggil-Ku demikian). Bhikkhu, Aku memaafkan engkau atas kekeliruan ini karena engkau mengakuinya dan memperbaikinya. Kelak engkau harus mengendalikan dirimu. Penebusan dan pengendalian diri demikian berguna bagi kesejahteraan mereka yang menjalani ajaran Buddha.”

Pukkusāti: “Buddha Yang Agung, izinkan aku menerima penahbisan dari-Mu.”

Buddha: “Apakah engkau memiliki mangkuk dan jubah(-mu sendiri)?”

Pukkusāti: “Tidak, Buddha Yang Mulia, aku tidak memilikinya.”

Buddha: “Bhikkhu, para Buddha tidak menahbiskan mereka yang tidak memiliki mangkuk dan jubah.”

Yang Mulia Pukkusāti sangat gembira atas ajaran Buddha. Ia mengungkapkan penghargaannya, bangkit dari duduknya, memberi hormat kepada Buddha dan pergi mencari mangkuk dan jubahnya.

[Catatan: mengapa Pukkusati tidak menerima mangkuk dan jubah yang diciptakan secara gaib untuk para bhikkhu yang ditahbiskan dengan cara sederhana dengan mengucapkan “Datanglah, Bhikkhu!” ? Ada yang berpendapat bahwa ia tidak menerimanya karena ia tidak pernah mempersembahkan delapan kebutuhan bhikkhu dalam kehidupan lampaunya. Penjelasan ini kurang tepat. Seseorang yang telah memberikan persembahan dan yang memiliki cita-cita besar, tidak mungkin tidak pernah memberikan delapan kebutuhan bhikkhu. Sesungguhnya, mangkuk dan jubah yang diciptakan secara gaib hanya diberikan kepada para bhikkhu dalam kehidupan terakhir mereka. Pukkusāti masih akan terlahir kembali. Oleh karena itu ia tidak mendapat barang-barang kebutuhan yang diciptakan secara gaib tersebut]

[Buddha tidak mencarikan mangkuk dan jubah untuk menahbiskan Pukkusāti karena Ia tidak akan berkesempatan untuk menahbiskannya. Kematian Pukkusāti akan terjadi sebentar lagi dan ia bagaikan brahmā yang mampir sebentar di gubuk si pembuat tembikar. Oleh karena itu Buddha tidak mencarikan mangkuk dan jubah untuknya]

Pukkusāti pergi mencari mangkuk dan jubahnya setelah fajar. Fajar menyingsing saat Buddha mengakhiri khotbah-Nya dan enam berkas sinar tubuh Buddha memancar.

Buddha memancarkan enam berkas sinar segera setelah khotbah-Nya berakhir. Seluruh gubuk itu menjadi terang benderang. Enam berkas sinar itu memancar berkelompok, seolah-olah menyelimuti segala penjuru dengan kain emas atau mencerahkan segala penjuru dengan bunga-bunga beraneka warna. Buddha bertekad agar diri-Nya terlihat oleh para penduduk kota dan ketika para penduduk melihat Buddha, mereka menyebarkan berita akan keberadaan Buddha di dalam gubuk dan melaporkannya kepada Raja Bimbisāra.

Ketika Raja Bimbisāra mendengar laporan itu, ia mendatangi gubuk si pembuat tembikar dan setelah memberi hormat, ia bertanya kepada Buddha mengenai kapan Beliau tiba. Buddha menjawab bahwa Ia tiba saat matahari terbenam kemarin. Raja kemudian bertanya tentang tujuan kunjungan-Nya. Kemudian Buddha berkata:

“Raja Besar, temanmu Raja Pukkusāti membaca pesanmu dan setelah melepaskan keduniawian untuk menjadi bhikkhu, ia melakukan perjalanan untuk menemui-Ku, tetapi setelah berjalan dengan sia-sia sejauh empat puluh lima yojanā melewati Savatthī, ia memasuki gubuk si pembuat tembikar dan duduk di sana.”

“Demi kemajuan spiritualnya, Aku datang berjalan kaki dan membabarkan khotbah kepadanya. Pukkusāti sekarang telah mencapai Buah dari tiga tingkat kesucian pertama dan menjadi seorang Anāgāmī Ariya.”

Mendengar hal ini, raja terkejut dan bertanya kepada Buddha di mana temannya berada. Buddha menjawab bahwa ia sedang mencari mangkuk dan jubahnya untuk penahbisan. Raja Bimbisāra bergegas berjalan ke arah ke mana temannya pergi mencari mangkuk dan jubah. Buddha kembali melalui angkasa ke Kuṭī Harum di Vihāra Jetavana.

Dalam mencari mangkuk dan jubah, Pukkusāti tidak mendatangi temannya Raja Bimbisāra atau para pedagang yang pernah berkunjung ke Takkasilā. Ia menganggap bahwa tidaklah layak baginya mencari ke sana kemari, dengan membeda-bedakan yang baik dan yang buruk bagaikan burung. Ia memutuskan untuk tidak mencari kain di kota besar, melainkan di tepi sungai, tanah pekuburan, tumpukan sampah atau jalan-jalan kecil. Maka ia mencoba mencari serpihan-serpihan kain di tumpukan sampah di pedesaan.

Selagi Pukkusāti sedang mencari-cari, seekor sapi gila (yang adalah musuhnya dalam kehidupan lampau) menabrak dan melukai dengan tanduknya. Dalam keadaan lemah dan lapar, Pukkusāti meninggal dunia saat dilemparkan ke angkasa. Ketika jatuh ke atas tanah, ia berbaring di atas tumpukan sampah bagaikan patung emas. Setelah meninggal dunia, ia terlahir kembali di Alam Brahmā Avihā dan tak lama sesudahnya, ia menjadi Brahmā Arahanta setelah mencapai Kearahattaan.

Menurut Sagāthavagga Saṁyutta (Sutta kesepuluh dari Aditta Vagga dan Sutta keempat dari Nanatitthiya Vagga) ada tujuh orang yang mencapai Kearahattaan segera setelah kematian spontan mereka (upapital) di Alam Brahmā Avihā. Mereka adalah (1) Upaka, (2) Palagaṇḍa, (3) Pukkusāti, (4) Bhaddiya, (5) Khaṇḍadeva, (6) Bāhuraggi, dan (7) Siṅgiya.

Raja Bimbisāra berpikir, “Temanku Raja Pukkusāti meninggalkan kerajaannya setelah membaca pesanku dan melakukan perjalanan yang jauh dan sulit. Ia telah melakukan apa yang sulit dilakukan oleh orang-orang biasa. Aku akan memberikan penghormatan kepada temanku dengan cara yang sama seperti penghormatan kepada para bhikkhu.” Ia menyebar orang-orangnya ke segala penjuru kota untuk mencari Raja Pukkusāti. Orang-orang itu menemukan raja itu terbaring mati bagaikan patung emas di atas tumpukan sampah. Mereka kembali dan melaporkan hal itu kepada Raja Bimbisāra.

Raja Bimbisāra pergi ke sana dan berdukacita atas kematian temannya, ia berkata: “Kami tidak berkesempatan memberikan penghormatan kepada teman kami sewaktu masih hidup. Sekarang ia telah meninggal dunia tanpa seorang pun yang menolongnya.”

Raja membawa jasad temannya menggunakan sebuah dipan kecil, meletakkannya di tempat yang layak dan karena tidak mengetahui bagaimana menghormati seorang bhikkhu yang telah meninggal dunia, ia memanggil petugas pemandi jenazah, memakaikan pakaian putih bersih dan menghiasnya bagaikan seorang raja.

Kemudian jenazah itu ditempatkan di atas sebuah tandu dan dihormati dengan semua jenis alat musik dan bunga-bunga harum, dibawa ke luar kota dan dikremasi dengan menggunakan kayu-kayu api harum. Tulang-belulangnya kemudian dikumpulkan dan disemayamkan di dalam sebuah cetiya.

Beberapa waktu kemudian, banyak bhikkhu di Sāvatthī mengunjungi Buddha. Mereka memberi hormat kepada Guru dan duduk di tempat yang layak, mereka berkata: “Buddha Yang Agung, Engkau telah membabarkan Dhamma kepada Pukkusāti. Orang itu telah meninggal dunia sekarang. Di manakah ia terlahir kembali?”

Kemudian Buddha menjawab, “Para bhikkhu, Pukkusāti adalah orang yang bijaksana. Ia melatih meditasi Vipassanā (Pandangan Cerah) sesuai Dhamma yang halus. Ia tidak menyulitkan Aku dalam hal Dhamma. Karena patahnya lima belenggu yang membawa ke alam-alam indria yang lebih rendah, ia terlahir kembali di Alam Brahmā Avihā dan akan mencapai kesucian Arahatta di Alam Brahmā Suddhāvāsa itu (Avihā adalah salah satu dari lima Alam Suddhāvāsa). Ia tidak mungkin kembali lagi ke alam-alam indria yang lebih rendah dari Alam Avihā itu.”

Demikianlah kisah Raja Pukkusāti. [Sumber: Riwayat Agung Para Buddha, Buku kedua, hal.1754]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: