Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Sabhiya Kaccana

Posted by chanyan pada 2010/06/08

Entah karena bakal Sabhiya Thera di masa Buddha Kakusandha ‘hanya’ berdana sepasang sandal, bukan kebajikan-kebajikan besar seperti lainnya yang spektakuler, atau karena apa, tapi yang jelas kisah Sabhiya Thera tidak begitu populer dibanding siswa-siswa Buddha Gotama lainnya. Padahal, seperti enam teman lainnya, Sabhiya Thera akhirnya juga menjadi seorang arahat.

Enam teman yang dimaksud adalah teman seperjuangan di akhir masa ajaran Buddha Kassapa. Dikisahkan mereka bertujuh pergi ke puncak gunung yang sangat jauh dari keramaian. Mereka berikrar untuk mencapai pembebasan dengan menjalankan ajaran dengan penuh keyakinan. Yang tertua berhasil mencapai kearahatan di hari kelima. Satunya lagi mencapai tingkat kesucian Anāgāmi di hari ketujuh, setelah meninggal dari kehidupan itu terlahir di alam brahma Suddhavasa dan mencapai kesucian arahat di sana. Sedangkan lima lainnya tidak berhasil mencapai kesucian. Namun mereka tetap berlatih sampai meninggal di gunung terjal itu.

Mereka kemudian terlahir di alam dewa dan manusia selama waktu yang sangat lama hingga di masa Buddha Gotama mereka terlahir sebagai: (1) satu terlahir di Gandhāra, Kota Takkasīlā, sebagai keluarga kerajaan (kelak menjadi Raja Pukkusāti); (2) yang lain di wilayah Pabbateyya (juga disebut Majjhantika) sebagai putra seorang petapa pengembara perempuan (kelak menjadi Sabhiya si petapa pengembara); (3) Yang ketiga di Negeri Bāhiya dalam sebuah keluarga (dan kelak menjadi Thera Bāhiya Dārucīriya); (4) Yang keempat di dalam sebuah keluarga di Rājagaha (kelak dikenal sebagai Kumāra Kassapa); dan (5) Yang terakhir (yang kelak menjadi Yang Mulia Dabba) di Negeri Malla di Kota Anupiya dalam keluarga seorang pangeran Malla.

Ibu Sabhiya adalah putri bangsawan, bukan dari kasta brahmana. Barangkali orangtuanya ingin lebih dihormati lagi oleh masyarakat, maka  anaknya disuruh belajar etika dan filosofi dari para petapa (paribbajika). Untuk itu orangtuanya merelakan dia turut mengembara bersama satu kelompok paribbajika. Namun sayang, suatu hari dia tergoda sehingga hamil.

Karena dianggap merepotkan anggota lain yang ingin serius bertapa, maka dengan terpaksa kelompok paribbajika itu lebih memilih meneruskan misi pengembaraan mereka. Ibu Sabhiya berkelana sendirian dengan tidak terburu-buru. Sabhiya lahir di tempat terbuka (sabhāyam). Dari kata sabhāyam itu kemudian dijadikan nama Sabhiya.

Berkat didikan filosofis ibunya, ketika besar Sabhiya menjadi seorang paribbajika yang terkenal dalam hal dialektika, semacam debat filsafat. Dia mendirikan perguruan bagi anak-anak bangsawan di pinggir kota. Sampai suatu hari ia didatangi oleh satu dewa alam brahma yang merupakan teman bhikkhunya di kehidupan lampau ketika sama-sama bertapa di puncak gunung di akhir masa Buddha Kassapa. Dewa inilah yang juga pernah mendatangi Bāhiya Dārucīriya dan Kumāra Kassapa.

Karena dewa ini menyadari karakter sabhiya yang narsis, bangga dengan intelektualnya, dewa ini tidak menjelaskan permasalahan secara terang. Dewa ini menitipkan 20 pertanyaan sebagai bekal untuk memilih guru. Yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah yang layak dijadikan Guru.

Maka dimulailah pengembaraan Sabhiya mencari orang yang bisa menjawab pertanyaannya. Guru-guru spiritual terkemuka yang rata-rata usianya sudah uzur didatangi satu per satu. Mulai dari Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesa-kambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, dan guru Jain Nataputta (Mahavira), tetapi tak satu pun dari mereka dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Tidak jarang mereka marah-marah untuk menutupi kemaluannya. Bahkan ada yang sewot dengan menyerang balik.

Hampir saja Sabhiya putusasa. Apalagi kalau mengingat kehidupannya yang sudah mapan, nyaman dan menyenangkan. Disaat seperti itu, tiba-tiba ia teringat cerita-cerita orang bahwa ada seorang suci yang masih muda bernama Gotama. Tapi kemudian ia ragu sendiri, apa mungkin seorang yang masih muda mempunyai pengetahuan melebihi para Guru Besar yang telah ia datangi? Keraguan itu ditepisnya sendiri. Ia pikir, “Orang suci harus dihormati karena kekuatan dan keagungannya, bukan karena usianya”. Maka akhirnya ia memutuskan untuk pergi menjumpai Gotama, orang suci itu.

Maka mulailah ia mengarahkan perjalanannya mencari Buddha Gotama. Suatu hari ia tiba di Rajagaha. Di sana, di Hutan Bambu di dekat tempat pemberian makan tupai, ia menemukan Sang Buddha. Setelah menyapa Beliau dengan sopan, dia memberi hormat dan kemudian duduk di satu sisi. Dia berbicara dalam syair pada Sang Guru : [di re-format dari Sn.3.6]

Sabhiya: Saya telah datang kepadamu, dengan penuh kebingungan dan keraguan. Amat besar keinginan saya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Saya mohon Tuan menjawab semuanya dan menjelaskan setiap jawaban kepada saya satu demi satu.

Buddha: Engkau telah datang dari jauh, Sabhiya, dengan pertanyaan-pertanyaan yang amat ingin kau dapatkan jawabannya. Akan kujawab semuanya sekaligus dan akan kujelaskan setiap jawaban kepadamu satu demi satu. Tanyakanlah kepadaku apa pun yang kamu inginkan, Sabhiya. Akan kujelaskan hingga segala kebingunganmu terhapus.

[Dalam hati Sabhiya takjub, ‘Wow, Luar biasa, sungguh mengherankan. Para pertapa dan brahmana lain bahkan tidak mengizinkan aku mengajukan pertanyaan, sebaliknya pertapa Gotama mengizinkan aku untuk mengajukannya.’ Dia merasa gembira, amat senang dan bersemangat]

Sabhiya: Yang Mulia, apa yang harus dilakukan agar dapat disebut seorang bhikkhu? Apakah artinya menjadi lemah lembut? Apakah artinya mengendalikan diri? Dan apakah artinya menjadi Buddha atau tercerahkan? Saya mohon penjelasan untuk empat hal ini, Yang Mulia.

Buddha: Sabhiya, seorang bhikkhu adalah orang yang telah menciptakan jalan untuk dirinya sendiri, dan lewat jalan itu dia telah mencapai ketenangan sempurna, dengan mengatasi keraguan. Sesudah memutus ada dan tiada, dia menyempurnakan kehidupan spiritual dan telah menghancurkan tumimbal lahir. Dia selalu tenang seimbang dan penuh kewaspadaan. Dia tidak menyakiti siapa pun, di mana pun. Seorang pertapa adalah orang yang telah menyeberang ke Nibbana. Dia tidak bingung. Dia tidak memiliki jejak kejahatan. Orang semacam inilah yang disebut lemah lembut: Dia telah menyeberangi lautan samsara. Dia yang inderanya telah berkembang berkenaan dengan segenap dunia, baik internal maupun eksternal; dengan pemahaman yang menembus alam ini dan alam lain, dia yang telah berkembang dan terkendali akan menunggu saat kematian dengan tenang-seimbang. Dia yang telah meneliti dengan cermat seluruh pikiran dan lingkaran keberadaan, yang terdiri dari kelahiran dan kematian, orang yang murni, tanpa noda, tanpa debu, yang telah mencapai hancurnya kelahiran disebut Buddha (yang tercerahkan).

[Sabhiya sangat gembira mendengar kata-kata ini dan melanjutkan rangkaian pertanyaan ke-2]

Sabhiya: Apa yang harus dilakukan agar menjadi brahmana? Apakah artinya meninggalkan keduniawian, menjadi orang suci, menjadi samana? Apakah artinya menjadi murni? dan siapa yang dapat disebut pahlawan? Tolong jelaskanlah hal-hal ini kepadaku, Yang Mulia.’

Buddha: Seorang brahmana adalah orang yang –setelah menghindari semua kejahatan– menjadi tanpa noda, baik, mantap dan tenang. Dengan mengatasi siklus kehidupan dia menjadi sempurna. Dia tidak melekat dan kokoh. Orang suci adalah orang yang telah menenangkan dirinya, orang yang telah meninggalkan perbuatan jasa yang berpahala atau tidak. Mengetahui dunia ini dan dunia lain, dia tak ternoda dan telah mengatasi kelahiran dan kematian. Karena telah menghancurkan semua kejahatan yang berhubungan dengan segenap dunia, baik di dalam maupun di luar, dan mengenai manusia dan dewa, dia tidak lagi sibuk dengan buah-buah pikir konseptual. Dia disebut telah murni. Orang yang hidup di dunia ini tanpa melakukan kesalahan, orang yang telah melepas ikatan semua belenggu dan rantai, orang yang tidak bergantung pada apa pun di mana pun, yang terbebas, disebut pahlawan yang mantap.

[Merasa amat gembira mendapat jawaban-jawaban ini, Sabhiya melanjutkan rangkaian pertanyaan ke-3]

Sabhiya: Siapakah yang dianggap pemenang dunia oleh mereka yang sudah tercerahkan? Apakah arti terampil? Apakah arti memiliki pemahaman? dan siapakah orang yang pantas disebut bijaksana? Tolong jelaskanlah hal-hal ini kepada saya.

Buddha: Engkau menanyakan siapa pemenang dunia itu. Ada tiga dunia: dunia manusia, dunia dewa dan dunia makhluk Brahma. Pemenang dunia memeriksa dan memahami ketiga dunia ini. Dia telah mencabut keluar akar dari rantai-rantai yang mengikatnya pada dunia-dunia ini dan dia telah bebas. Inilah keadaan yang disebut pemenang dunia. Engkau menanyakan apa terampil itu. Ada tiga jenis harta atau simpanan: harta yang disimpan oleh manusia, harta yang disimpan oleh dewa, dan harta yang disimpan oleh makhluk-Brahma. Orang yang terampil memeriksa dan memahami ketiga harta ini. Dia telah mencabut keluar akar ikatan terhadap simpanan-simpanan ini dan dia telah bebas. Inilah keadaan yang disebut terampil. Orang yang memiliki pemahaman adalah orang yang telah melihat inderanya sendiri. Dia telah memahami bagaimana indera itu bekerja, baik di dalam pikiran maupun di dunia luar. Dia melihat dengan jernih, dia telah melampaui ‘hitam dan putih’ dan telah kokoh. Dan apakah orang bijaksana? Orang bijaksana mengetahui cara untuk membedakan yang baik dari yang buruk berkenaan dengan dunia di dalam dan di luar. Baik dewa maupun manusia menghormatinya: dia telah memutus semua rantai dan pengikat.

[Merasa amat gembira mendapat jawaban-jawaban ini, Sabhiya melanjutkan rangkaian pertanyaan ke-4]

Sabhiya: Apakah yang harus dicapai agar dapat menjadi orang yang berpengetahuan? Dengan apakah orang bisa memiliki pandangan terang? Bagaimanakah orang bisa menjadi bersemangat? Dan apakah arti terdidik sempurna? Tolong jelaskanlah hal-hal ini, Yang Mulia.

Buddha: Ketika orang telah melihat pengetahuan dan memahami semua hal yang diketahui oleh pendeta dan orang-orang suci, maka semua kerinduan dan keinginan akan sensasi pun lenyap. Setelah melampaui semua pengetahuan, dia menjadi orang yang berpengetahuan. Dengan memahami obsesi nama-dan-rupa (kepribadian psiko – fisik), akar penyakit –baik internal maupun eksternal– dia terbebas dari ikatan terhadap segala akar penyakit. Karena alasan inilah dia disebut orang yang kokoh, yang memiliki pandangan terang. Di sini dia bebas dari semua kejahatan dan telah mengatasi kesengsaraan neraka, karena itu dia penuh semangat. Dia rajin, penuh semangat, mantap. Engkau bertanya tentang manusia yang terdidik sempurna, manusia dengan kelahiran agung: Yang terdidik sempurna mematahkan semua rantai. Ada rantai, tali dan ikatan –baik di dalam maupun di luar. Keagungan berarti mematahkan itu semua. Ini berarti mencabut akar semua itu dan menjadi terbebas. Inilah keadaan yang disebut terdidik sempurna.

[Merasa amat gembira dan penuh suka cita mendapat jawaban jawaban ini, Sabhiya menanyakan rangkaian pertanyaan ke-5 kepada Sang Buddha]

Sabhiya: Apa yang harus dilakukan agar bisa menjadi orang terpelajar? Apakah artinya menjadi seorang ariya, orang dengan kelahiran mulia? Apakah orang yang mempunyai tindakan sempurna itu? Dan siapakah yang pantas disebut Kelana? Saya mohon Tuan menjelaskan hal-hal ini kepada saya.

Buddha: Setelah mendengarkan semua pandangan, dengan kebijaksanaan dia mengetahui apa yang dicela dan apa yang tanpa cela. Dia telah menang, terbebas dan berada di luar kebingungan dan gangguan. Dia adalah orang yang terpelajar. Orang bijaksana telah memutus kekotoran batin dan kemelekatan. Dia tidak akan masuk ke rahim mana pun juga. Dia telah terbebas dari tiga dorongan [keserakahan, kebencian dan kebodohan batin] dan dia tidak masuk ke lumpur pikiran konseptual. Dia disebut manusia dengan kelahiran agung. Karena orang yang memiliki tindakan yang sempurna telah hidup dan bertindak secara benar, dengan terampil dia menangkap Hal-hal Sebagaimana Adanya. Dia tidak memiliki kemelekatan di mana pun; dia telah bebas, dia tidak memiliki kebencian di dalam dirinya: inilah tindakan yang sempurna. Dan engkau bertanya tentang seorang Kelana. Bilamana engkau mengerti tindakan mana yang menyakitkan dan bilamana engkau meninggalkan tindakan-tindakan itu dan tidak berada dalam tindakan-tindakan itu, atau di atasnya atau di bawahnya atau di luarnya atau di antaranya atau di mana pun juga di dekat tindakan-tindakan itu, maka engkau adalah seorang Kelana. Bilamana engkau berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah kehilangan kekuatan untuk memahami, maka engkau adalah seorang Kelana. Bilamana engkau menghilangkan kebencian, nafsu keinginan, kegelapan batin dan kesombonganmu, dan bila engkau mengakhiri rasa individualitas psiko-fisikmu, maka engkau telah mencapai sukses, dan dengan demikian engkau adalah seorang Kelana.

Sabhiya si kelana bergetar hatinya mendengar kata-kata Sang Buddha. Dengan penuh suka cita dan kegembiraan, dia bangkit dari tempat duduknya. Dengan tangan berlipat dan bahu terbuka, dia berkata kepada Sang Buddha dalam syair:

Yang Mulia, Yang Bijaksana, Engkau telah menyingkirkan enam puluh tiga opini [tradisional] yang menyebabkan perselisihan, kesimpulan para pertapa yang hanya sekadar adat dan ide spekulatif. Tuan telah meyeberangi banjir dan telah mencapai seberang!

Engkau telah sampai ke titik penderitaan yang paling jauh, dan kemudian melampauinya. Yang Mulia, Engkau adalah Manusia Tak Ternilai. Pada hemat saya, bagi Engkau tidak ada lagi dorongan-dorongan dari dalam. Engkau bersinar dengan pemahaman, memancarkan kebijaksanaan, mengakhiri penderitaan dan membawa saya ke seberang!

Engkau melihat apa yang sedang saya cari, Engkau tahu apa yang saya ragukan, dan Engkau membawa saya ke seberang! Sungguh pencapaian yang luar biasa! Ketinggian yang luar biasa! Yang tertinggi dalam kebijaksanaan. Saya tidak bisa memberikan apa pun kecuali salut, tidak bisa memberikan apa pun kecuali rasa hormat kepada sumber kekuatan yang lemah lembut, saudara matahari!

Engkau telah menjernihkan semua keraguanku dengan penglihatan sempurna-Mu. Jadi inilah kebijaksanaan, inilah Pencerahan Sempurna! Seperti inilah rasanya bila tak ada lagi yang menghalangi jalan.

Semua kekuatiran telah lenyap, gangguan telah terpatahkan. Dan sebagai gantinya, engkau memiliki segala yang tenang, terkendali, kokoh dan tepat.

Ketika Engkau berbicara, para dewa bersuka cita; ketika mereka mendengar-Mu, mereka bergembira. Engkau adalah pahlawan di antara para pahlawan dan sumber kekuatan di antara yang kuat!

Tak ada satu pun yang seperti Engkau di mana pun di dunia ini. Engkaulah makhluk yang terbaik dan termulia! Saya salut kepada-Mu dan saya menghormati-Mu!

Engkau adalah Sang Buddha, Yang Tercerahkan, Master, Guru. Engkau adalah kebijaksanaan yang menaklukkan Mara. Engkau telah mematahkan bias-bias dari dalam, penimbangan dari dalam. Engkau telah menyeberang dan membawa kami, kami semua, bersamamu.

Dengan berakhirnya faktor-faktor tumimbal lahir dan hancurnya dorongan-dorongan, Engkau telah berada di akhir kemelekatan. Engkau adalah singa di hutan belantara, yang tak menakutkan apa pun dan tak takut pada apa pun.

Engkau bagaikan bunga teratai di danau! Kebaikan dan kejahatan menggelinding darimu, tidak berpengaruh, bagaikan tetes-tetes air menggelinding jatuh dari kelopak bunga teratai. Biarlah saya menghormat kaki seorang penakluk: Saya, Sabhiya si pemuja, menghormat di kaki Gurunya!

Maka Sabhiya si kelana membungkuk dengan hormat di kaki Sang Buddha dan berkata: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! Sebagaimana orang menegakkan apa yang telah terjungkir balik, atau mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau memberikan sinar penerangan di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula Kebenaran telah dijelaskan oleh Yang Mulia Gotama dengan berbagai cara. Oleh karenanya, saya berlindung pada Beliau, pada Dhamma-Nya dan Sangha-Nya. Saya ingin memasuki kehidupan tanpa-rumah, dan menerima pentahbisan lebih tinggi di dekat Yang Mulia Gotama.’

Kemudian Sabhiya si kelana menerima pentahbisan sebagai Samanera dan menerima pentahbisan lebih tinggi di dekat Sang Buddha.

Di kemudian hari, dengan menjalani kehidupan menyendiri, dengan rajin dan penuh semangat dan dengan kemauan yang mantap, dalam waktu singkat Sabhiya secara harmonis memahami, mengalami dan mencapai kesempurnaan tertinggi dari kehidupan suci di mana putra-putra keluarga yang baik meninggalkan kehidupan berumah-tangga, dan menempuh kehidupan tak-berumah. Tumimbal lahir telah diakhiri; kehidupan yang suci telah dijalani: apa yang harus dilakukan telah dilakukan dan tidak ada lagi yang harus dilakukan di dalam keberadaan dunia ini: Sabhiya si kelana telah menjadi salah satu Arahat.

Sebelum mencapai kearahatan, Sabhiya pernah diajak Bhante Anuruddha memenuhi undangan makan di rumah Pañcakanga, tukang kayu. Di situ sifat lamanya sebagai seorang intelektual paribbajika masih kelihatan. [Majjhima Nikaya, Bagian Ketiga (Suññatavagga) 127: Anuruddha sutta]

Namun, tiga tahun sejak menjadi siswa Sang Buddha, ada catatan pembicaraan dengan Vacchagotta, si kelana [SN 44.11]. Dari jawabannya, sepertinya sudah menjadi seorang bijaksana. Namun harus ditelusuri lebih lanjut di Theragatha Atthakatha, mengapa disitu Sabhiya dipanggil sebagai Kaccāna (emas).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: