Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Payasi

Posted by chanyan pada 2010/06/16

Raja Muda (rājañña) Pāyāsi ditunjuk oleh Raja Pasenadi [Kosala]  sebagai penguasa Setavyā (Setabya). Pāyāsi adalah seorang panglima yang cakap. Ia memerintah dengan tegas. Hukum ditegakkan. Rakyat bekerja keras. Tidak ada pengangguran. Hak dan kewajiban seimbang. Daerah Setavyā juga diuntungkan dengan geografis yang berlimpah air, dan strategis, dilalui akses jalan raya utara – selatan, sebagai persinggahan pertama dari Sāvatthi ke Rājagaha. Maka tidaklah mengherankan jika Setavyā menjadi sebuah daerah makmur yang swasembada pangan dan sering dilalui para pedagang antar negara.

[Barangkali karena kondisi lingkungan yang sedemikian materialistis, maka sebagai efek sampingnya, terbentuklah seorang Pāyāsi yang mengagungkan keduniawian. Hanya percaya pada apa yang bisa dilihat, didengar dan dirasa saja. Tidak memercayai adanya dewa-dewi tetapi mendewakan harta kekayaan duniawi. Tidak mengakui adanya batin atau kesadaran karena kesadaran tidak bisa dilihat, didengar atau dicium. Tidak ada kehidupan setelah kematian, maka kebaikan atau kejahatan dianggap hanya berimplikasi pada kehidupan sekarang saja. Setelah meninggal, ya sudah, selesai, game-over, tak ada pengaruh apa-apa lagi. Paham demikian dalam Buddhisme merupakan salah satu Pandangan Keliru (Micchā-Diṭṭhi). Belakangan, paham materialisme / positivisme seperti ini kemudian terus berevolusi seiring jaman dan perkembangan tekhnologi, yang juga dianut oleh Lenin, Hegel, Engels, Darwin, Karl Marx yang dikenal sebagai Marxisme, tentunya dengan argumentasi dan data yang lebih canggih]

Suatu hari, dari teras atas istananya, Pāyāsi melihat orang berduyun-duyun ke arah utara, menuju hutan Simsapā (siṃsapāvana). Ia heran, mungkin juga kesal karena pergi berduyun-duyun berarti mereka telah mencuri waktu kerja.

Dari pengawalnya, ia diberitahu bahwa para penduduk hendak pergi mendengar khotbah Yang Mulia Kumāra Kassapa yang sedang berdiam di hutan Simsapā bersama rombongan 500-an bhikkhu. Berita yang tersebar dari mulut ke mulut mengatakan bahwa Y.M. Kumāra Kassapa adalah seorang bijaksana yang jarang-jarang melewati daerah mereka. Khotbah Y.M. Kumāra Kassapa sangat menarik hati pendengarnya. Beliau sangat cerdas dan memiliki jam terbang tinggi dalam kebhikkhuan. Dia adalah seorang arahat yang suci. Dia bisa menjawab pertanyaan yang sesulit apapun.

[Barangkali Pāyāsi tidak terlalu tertarik mendengar berita dari pengawalnya, tapi tentu saja Pāyāsi masih ingat siapa itu yang bernama Kumāra Kassapa, anak angkat Raja Pasenadi dulunya. Di satu sisi, Pāyāsi kurang senang dengan banyaknya orang yang meninggalkan waktu kerja, coba bayangkan, berapa besar kerugian negara seperti halnya pemogokan, tapi di sisi lain dia juga tidak berani mengutak-ngatik ‘kumis macan’, kalau kebetulan ‘macan’nya lagi bagus mood nya sewaktu dapat laporan, masih mending, senyum-senyum simpul, geli-geli enak, tapi kalau kebetulan lagi bad-mood, khan urusannya bisa jadi runyam. Maka Payasi memerintahkan pengawalnya agar menghentikan penduduk yang hendak ke sana, tunggu, biar dia yang memimpin barisan di depan. Nah, khan kelihatannya lebih sedap kalau-kalau sampai ada laporan yang masuk ke kuping bosnya, Raja Pasenadi. Dia sudah melakukan hal yang benar. Padahal tujuan sebenarnya bukan begitu]

“Suruh mereka berhenti, jangan berangkat dulu. Aku juga akan ke sana. Kumāra ini telah menyebarkan ajaran sesat, mempengaruhi orang-orang, benar-benar dungu orang yang mau dipengaruhi. Mana ada yang namanya kehidupan setelah kematian, dunia-dunia lain, dewa-dewi dan hantu, hare gene masih percaya tahyul.”

Tak lama kemudian, berangkatlah Pāyāsi diiringi rakyatnya memasuki hutan. Setelah bertegur sapa ala kadarnya dengan YM Kumāra, Pāyāsi duduk di satu sisi. Sementara rombongannya ada yang meniru sikap Pāyāsi dengan mengangguk sedikit lalu duduk, ada yang menyapa seperti bertemu kawan lama, dan ada juga yang tidak berkata sepatah katapun, langsung duduk. Tetapi ada juga yang berlutut, merangkapkan kedua tangan dan bersujud kepada YM Kumāra.

Setelah semuanya duduk, Pāyāsi mengajukan pertanyaan kepada YM Kumāra Kassapa. [adaptasi dari berbagai sumber terjemahan: Dīgha Nikāya, Pāyāsi Sutta]

Pāyāsi: Pertapa Kassapa, aku berpendapat bahwa konsekuensi perbuatan manusia di masa sekarang hanya akan berakibat pada kehidupan sekarang saja, tidak akan berbuah/berakibat pada kehidupan mendatang, karena aku percaya tidak ada lagi kehidupan setelah kematian, tiada dunia lain selain yang berada di bumi manusia ini. Aku pikir dewa dan hantu yang katanya berdiam di angkasa hanyalah mimpi anak-anak.

YM Kumāra: Oh, begitu yah rājañña. Pandangan anda sangat unik sekali. Aku belum pernah ketemu orang yang berpandangan seperti itu sebelumnya. Hmm, aku rasa aku harus bertanya sedikit untuk memperjelas maksud anda. Bagaimana pendapat anda, rājañña, Apakah matahari dan bulan [Candimasuriyā-upamā] berada di bumi ini, atau terpisah dari bumi ini? Apakah mereka manusia, ataukah suatu benda angkasa yang bukan manusia?

[Pada masa itu belum ada kesepakatan ilmiah untuk membedakan antara: bintang <matahari>, planet <bumi> dan satelit <bulan>. Disebut sebagai kesepakatan/konsensus karena tidak mutlak, misalnya sebelum tahun 2006, disepakati ada 9 planet yang mengitari matahari, tapi sekarang disepakati hanya 8 karena pluto tidak dianggap sebagai planet. Demikian juga dengan istilah: kehidupan, alam, dunia, bumi, di dalam perbincangan ini hendaknya tidak didefinisikan secara kaku atau sepotong-sepotong, mengingat Pāyāsi bukanlah seorang brahmana yang teoritis definitif, tetapi seorang panglima lapangan yang cenderung pragmatis. Barangkali karena itu, perumpamaan dan terminologi yang disampaikan YM Kumāra Kassapa juga disesuaikan dengan wawasan Pāyāsi dan penduduk yang hadir pada saat itu. Hal ini jangan diartikan sebagai standard baku ajaran Buddha, apalagi dipertentangkan dengan doktrin Buddhisme lainnya]

Pāyāsi: Mereka berada di luar bumi ini, Pertapa. Mereka adalah benda-benda luar angkasa dan bukan manusia.

YM Kumāra: Kalau begitu, rājañña. Mengapa anda berpendapat: ‘Tiada dunia lain selain yang berada di bumi manusia ini. Dewa dan hantu yang katanya berdiam di angkasa hanyalah mimpi anak-anak’ ?

Pāyāsi: Begini, Pertapa. Kawan-kawanku, juga keluarga dekat dan saudara-saudaraku yang terbiasa membunuh, mencuri, melakukan pelanggaran seksual, berbohong, menghina, berkata-kata kasar dan bergosip, yang pikirannya penuh dengan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, pada suatu hari sakit payah dan sangat menderita. Ketika aku mendengar ajalnya akan segera tiba, aku menjenguknya untuk menitipkan pesan :

“Saudaraku yang tercinta. Para pertapa dan bhikkhu percaya bahwa siapa yang suka membunuh (pāṇātipāta), mencuri (adinnādāna), melakukan perbuatan asusila (kāmesu micchācāra), berdusta (musāvāda), memfitnah (pisunavācā), suka bertengkar (pharusavācā) dan berbicara hal-hal yang tak berguna (samphappalāpa), yang pikirannya penuh keserakahan (abhijjhālū), kebencian (byāpannacittā) dan pandangan salah (micchādiṭṭhi), kelak ketika mati dan badan jasmaninya hancur, akan terlahir di alam sengsara, di tempat buruk, di tempat hukuman, di neraka. Sekarang engkau telah melakukan hal-hal ini. Jika apa yang dikatakan oleh para pertapa dan bhikkhu itu benar maka engkau akan terlahir di sana. Jika benar demikian, aku mohon dengan sangat agar engkau kembali sebentar ke dunia ini untuk memberi kabar kepadaku atau mengirim utusan untuk mengabariku: ‘Memang benar ada dewa dan hantu, ada alam lain, ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan, ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk.’

Saudaraku yang tercinta. Aku sepenuhnya percaya kepadamu. Apa yang engkau lihat sama juga seperti aku melihatnya sendiri. Mohon dengan sangat agar harapanku tidak sia-sia.

Saudaraku dengan hikmat berjanji: “Tentu saja aku tidak akan membuatmu kecewa”.

Tetapi kenyataannya, pertapa. Tak seorangpun pernah kembali untuk memberi kabar kepadaku. Mengirim utusan juga tidak, bahkan sekedar memberi kode pun tidak. Inilah salah satu sebab sehingga aku berpandangan demikian.

YM Kumāra: Sehubungan dengan hal ini, bagaimana menurut anda, Rājañña, misalkan suatu hari seorang penjahat [Cora-upamā] tertangkap basah dan dibawa kehadapan Anda berikut alat bukti. Kemudian Anda menjatuhkan hukuman penggal kepada penjahat itu. Andaikan penjahat itu memohon kepada algojo agar pelaksanaan hukuman ditunda dulu hingga ia sempat memberi kabar kepada kawan-kawannya dan keluarganya di tempat lain. Apakah menurut pendapat Anda, algojo itu mau menunda pelaksanaan hukuman orang itu ataukah ia segera melaksanakan hukuman mati ?

[Payasi harus mengakui bahwa algojo pasti tidak akan mengabulkan permohonan penjahat itu]

Rājañña, kalau seorang penjahat tidak diberi kesempatan oleh algojo di dunia ini, apakah kawan-kawan Anda yang terdiri dari pembunuh, pencuri, orang cabul, pendusta, pemfitnah dan yang suka omong kosong, pikirannya penuh dengan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin setelah kematian dan terlahir di alam sengsara dapat membujuk penjaga dengan mengatakan: ‘Mohon dengan hormat kepada Bapak Algojo agar sudi menunda dulu pelaksanaan hukuman kami hingga kami dapat memberi kabar kepada rājañña Pāyāsi di dunia, bahwa setelah meninggal dunia memang ada dunia lain (alam halus), perbuatan bisa berbuah/berakibat pada kehidupan mendatang…’ Apakah Anda berpendapat bahwa para algojo mau mengabulkan permintaan mereka?

[Karena Payasi kelihatannya masih belum dapat diyakinkan, maka YM Kassapa lalu menanyakan tentang kemungkinan masih ada sebab-sebab lain]

Pāyāsi: Sebaliknya, pertapa. Aku juga mempunyai kawan dan sanak-keluarga yang belum pernah membunuh makhluk-makhluk hidup dan selalu melaksanakan tata hidup yang saleh dan terpuji. Kepada mereka pun diminta untuk memberi kabar setelah mereka mati dan terlahir di alam bahagia, di alam surga.  Merekapun setuju, akan tetapi mereka tidak pernah kembali atau kirim berita.

YM Kumāra: Baiklah, Rājañña. Umpama ada orang yang terjatuh ke dalam jamban [jaman sekarang: septic tank] [Gūthakūpapurisa-upamā] dan Anda memerintahkan budak Anda untuk menariknya keluar dari jamban tersebut. Lalu orang itu disikat dan dicuci bersih, kemudian disiram tiga kali dengan minyak wangi, rambut serta janggutnya disisir rapi, diberi pakaian bagus dan dibawa ke sebuah istana di mana ia dapat menikmati kesenangan dari kelima indriyanya. Sekarang aku ingin bertanya : Apakah orang itu ingin kembali ke dalam jamban? Tentu tidak, bukan? Karena jamban itu kotor, berbau busuk, memualkan, mengerikan dan menjijikan.

Demikianlah, Rājañña. Biasanya para dewa menganggap manusia itu kotor, berbau, mengerikan, menjijikkan. Bagaimana mungkin sahabat-sahabat Anda yang menyukai kehidupan saleh dan sekarang terlahir di alam bahagia, alam surga, ingin kembali ke dunia untuk memberi kabar kepada Anda : ‘Memang benar terdapat suatu dunia lain (halus), memang benar terdapat kelahiran spontan ….’

Selain itu, kalau kita di dunia ini satu abad, di alam surga dari alam Tigapuluh Tiga Dewa [Tāvatiṁsādeva-upamā] berarti satu hari satu malam. Tiga puluh malam demikian itu merupakan satu bulan, dua belas bulan merupakan satu tahun; dan kehidupan di alam Tigapuluh Tiga Dewa tersebut berlangsung selama seribu tahun yang demikian itu.

Nah, kawan-kawan serta sanak keluarga Anda yang tidak pernah membunuh makhluk hidup, tidak pernah berdusta, … setelah badan jasmani mereka hancur terlahir di alam surga. Andaikan mereka berpikir: ‘Setelah kami berdiam di alam sorga ini untuk dua atau tiga hari dan menikmati dulu kesenangan kelima indriya kami, maka kami baru kembali ke dunia untuk memberitahu Pāyāsi bahwa memang benar terdapat sebuah dunia lain (halus), bahwa kelahiran kembali secara spontan memang benar adanya, menanam bibit serta memetik buah (hasil) dari perbuatan-perbuatan baik dan buruknya merupakan kenyataan.’ Apakah mereka dapat melaksanakan apa yang mereka pikir? Tentu tidak, bukan? Sebab kita semua pasti sudah meninggal dunia.

Pāyāsi: Tetapi, Pertapa, siapakah yang memberitahu Anda tentang adanya alam Tigapuluh Tiga Dewa dan bahwa mereka dapat hidup sampai sekian lama? Sungguh menyesal aku tidak bisa percaya pada apa yang Anda katakan jika tidak disertai bukti-bukti pendukung.

YM Kumāra: O, Rājañña, Anda mirip dengan seorang yang buta sejak lahir, seorang yang tidak dapat melihat benda-benda yang berwarna putih, biru, kuning, merah atau hijau; tidak dapat melihat apa yang sama dan apa yang tidak sama; tidak dapat melihat bintang-bintang, bulan dan matahari. Orang itu lalu bilang: ‘Aku tidak tahu tentang hal itu; aku tidak melihat apa-apa, tak ada bukti-bukti kuat yang mendukung, karena itu benda-benda tersebut tidak mungkin ada.’

Coba Anda pikir, apakah orang buta yang mengucapkan kata-kata tersebut di atas, mengatakan sesuatu yang benar? Tentu tidak, bukan? Begitu pula dengan keadaan Anda, Rājañña. Anda mirip dengan orang yang buta sejak lahir [Jaccandha-upamā]. Alam halus tidaklah dapat dilihat dengan mata biasa.

Para pertapa dan bhikkhu yang hidup menyepi dan melakukan meditasi untuk waktu yang lama, telah melatih mata batin mereka sehingga dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat dengan mata biasa. Dengan mata batin mereka dapat melihat dunia ini dan juga alam halus dan mereka yang terlahir kembali secara spontan.

[Payasi masih belum dapat diyakinkan dan memberi bantahan baru, bahwa melihat para pertapa dan bhikkhu yang saleh dan selalu mempunyai itikad baik; tetapi mereka memilih untuk tetap hidup dan tidak ingin cepat-cepat mati. Mereka tetap ingin menikmati hidup dan benci pada kematian]

Pāyāsi: Kalau para pertapa dan bhikkhu benar-benar tahu bahwa keadaan mereka setelah mati akan menjadi lebih baik, maka pastilah mereka segera minum racun atau bunuh diri dengan berbagai cara. Tetapi justru karena sangsi, apakah mereka kelak setelah meninggal akan terlahir di alam bahagia, alam surga, maka mereka memilih untuk hidup lebih lama di dunia ini dan tidak ingin cepat mati; mereka memilih hidup senang dan mengelak dari penderitaan. Inilah sebab lain sehingga aku percaya bahwa dunia halus tidak ada dan kelahiran kembali secara spontan tidak ada,…”

YM Kumāra: Ada perumpamaan dari seorang yang mempunyai dua orang istri. Istri pertama mempunyai anak laki-laki berumur duabelas tahun, sedang istri kedua sedang hamil [Gabbhinī-upamā] ketika suaminya meninggal dunia. Setelah ayahnya meninggal dunia, anak laki-laki itu menagih warisan kepada istri kedua dari mendiang ayahnya. Atas tagihan ini istri kedua mohon ditunda dulu sampai bayi yang sedang dikandungnya itu lahir. Kalau bayi itu seorang anak laki-laki, maka bayi laki-laki itu berhak atas sebagian warisan ayahnya. Kalau bayi itu perempuan, maka warisan itu seluruhnya akan menjadi milik si anak laki-laki dari istri pertama. Tetapi si anak laki-laki itu tak sabar menanti dan terus-menerus mendesak. Karena kesal, istri kedua itu lalu masuk ke kamarnya dan membedah perutnya sendiri untuk melihat apakah bayi yang sedang dikandungnya itu laki-laki atau perempuan. Dengan demikian tentu saja ia kehilangan nyawa bayinya, kehilangan nyawanya sendiri dan kehilangan bagian dari warisan mendiang suaminya.

Dengan cara yang sama, Rājañña, Anda akan mengalami malapetaka hanya karena keingintahuan Anda tentang alam halus. Para pertapa dan bhikkhu yang saleh dan mempunyai itikad baik tidak akan memetik buah yang belum matang. Lagi pula, lebih lama mereka hidup di dunia ini, lebih banyak yang dapat mereka manfaatkan dari hidup mereka untuk kepentingan para manusia dan para dewa. Ini merupakan bukti pula, Rājañña, bahwa memang terdapat dunia lain…

[Namun Payasi masih belum puas]

Pāyāsi: Aku pernah menghukum seorang penjahat yang dibakar sampai mati dalam sebuah tempayan besar yang ditutup rapat dan disegel. Sesudah itu dengan hati-hati tutup tempayan itu dibuka, namun tidak ada roh yang tampak keluar dari tempayan tersebut.

YM Kumāra: Apakah Rājañña pernah mimpi [Supīnaka-upamā] waktu tidur siang? Tentu pernah, bukan? Ketika tidur, anda pasti dijaga para pelayan yang mengipasi dan dayang-dayang yang menunggui. Apakah mereka pernah melihat roh Anda keluar dari badan Anda? Demikian pula, mana mungkin Anda dapat melihat roh yang masuk dan keluar dari orang yang sudah mati?

[Tetapi Pāyāsi masih memiliki alasan lain untuk membenarkan pandangannya]

Pāyāsi: Aku pernah menimbang seorang penjahat ketika masih hidup dan kemudian memerintah para algojo untuk menjerat leher penjahat itu sampai mati. Setelah mati mayatnya kembali ditimbang. Dan ternyata bahwa ketika masih hidup timbangannya lebih ringan dibandingkan dengan ketika sudah menjadi mayat. Karena itu maka dapat disimpulkan, bahwa tidak ada sesuatu yang hilang, bahkan rohpun tidak.

YM Kumāra: Pandangan demikian tidaklah benar, Rajañña. Bila sebuah bola besi dibakar sampai membara [Santatta-ayoguḷa-upamā], maka timbangannya akan berkurang dibandingkan ketika masih belum dibakar. Begitu pula bila seorang manusia masih hidup, masih berhawa panas dan memiliki kesadaran, ia lebih lentur dan lebih ringan dibandingkan sosok tubuh manusia yang telah mati, dingin dan tidak memiliki kesadaran lagi. Tubuh ini akan menjadi kaku dan berat.

Pāyāsi: Seorang penjahat dihukum mati tanpa merusak kulit, daging, sumsum atau tulang. Setelah mati, mayat itu dibaringkan terlentang, lalu ditelungkupkan, diguncang miring ke kiri ke kanan, ditegakkan, bahkan dijungkirbalikkan dengan kepala di bawah. Setelah itu digosok-gosok, dipukul dengan batu, disikat dengan kayu lalu dengan pisau. Namun yang hadir tak dapat melihat ada roh yang keluar dari mayat itu.

YM Kumāra: Ada sebuah kisah dari seorang peniup suling keong yang mengembara ke suatu negara asing, di mana para penduduknya belum pernah melihat orang meniup suling keong [Saṅkhadhama-upamā]. Ia meniup tiga kali lalu meletakkan keong itu disampingnya. Penduduk setempat berduyun-duyun datang untuk melihat keong tersebut. Mereka miringkan keong itu ke kiri, kemudian ke kanan; mereka menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengocok-ngocok, tetapi tidak ada suara yang keluar dari keong tersebut. Akhirnya sambil tertawa peniup suling itu mengambil keong tersebut dan meniup tiga kali. Para penduduk setempat sekarang tahu bahwa hanya dengan ditiup keong itu dapat mengeluarkan suara. Demikian pula halnya dengan tubuh manusia. Digabung dengan kehidupan, digabung dengan hawa panas, digabung dengan kesadaran, tubuh seorang manusia dapat duduk, berbaring, berdiri, berjalan, melihat bentuk-bentuk dengan mata, mendengar suara dengan telinga, mencium wewangian dengan hidung, menyentuh dengan jari tangan serta merasakan benda-benda dengan badan dan dapat memahami dengan pikiran. Tetapi kalau tubuh kosong dari kehidupan, hawanya tidak lagi panas dan tidak lagi bergabung dengan kesadaran, maka tubuh itu tidak lagi dapat berdiri, berjalan…. Ini merupakan bukti pula untuk Anda, bahwa seyogyanya Anda harus percaya bahwa ada dunia lain…

Pāyāsi:  Aku pernah membedah seorang penjahat dengan cara memotong kulitnya, dagingnya, tulangnya dan sumsumnya, tetapi lagi-lagi tidak ditemukan roh yang dicari.

YM Kumāra: Ada sebuah perumpamaan tentang seorang pemuja api [Aggikajaṭila-upamā] yang telah memungut seorang anak yatim piatu yang ditinggal kafilah. Ketika anak itu berumur duabelas tahun, pemuja api itu (yang juga seorang pertapa) ingin berkelana untuk beberapa waktu lamanya. Ia memesan kepada anak itu agar menjaga api, jangan sampai padam. Tetapi kalau padam ia harus menyalakan kembali dengan menggosok-gosok dua batang kayu terus-menerus hingga keluar api. Ketika pertapa itu sudah pergi, anak itu sepanjang hari terus-menerus bermain, sehingga api pujaan benar-benar padam. Anak itu ingat apa yang dikatakan ayah angkatnya, tetapi lupa cara menggunakan alat pemantik api tersebut. Batang kayu itu dipotong-potong menjadi potongan-potongan kecil dan kemudian ditumbuk dalam sebuah lumpang. Tentu saja dengan cara itu ia tidak dapat menyalakan api. Ketika ayah angkatnya pulang dan melihat api pemujaan padam, ia lalu mengambil dua batang kayu dan digosok-gosok terus-menerus hingga panas dan akhirnya keluar api.

Rajañña, begitu pula orang dungu mencari dunia halus dengan memakai cara yang salah seperti yang Anda lakukan hingga kini. O, Rajañña, lepaskanlah pandangan keliru agar Anda tidak tertimpa malapetaka dan penderitaan untuk waktu yang lama.

Pāyāsi: Meskipun pertapa Kassapa berkata demikian, namun aku tetap tidak dapat melepaskan pandangan ini. Raja Pasenadi dari Kosala dan semua raja tahu, bahwa Rājañña Pāyāsi sering propaganda pandangan ini. Bahwa tidak ada dunia lain (halus), tidak ada kelahiran kembali secara spontan dan tidak ada bibit atau buah (hasil) dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk. Kalau sekarang aku melepaskan pandangan ini setelah mempertahankannya sekian lama dengan gigih, tentu mereka akan mencemooh aku sebagai seorang yang bodoh. Selanjutnya mereka tidak akan menghargai pendapat-pendapatku lagi. Maka aku akan terus menganut pandanganku ini, agar tidak dicemooh orang [Kopenapi], agar harga diri tidak direndahkan orang [makkhenapi] dan supaya dianggap konsisten, tidak plin-plan [palāsenapi].

YM Kumāra: Kalau demikian halnya, rājañña, aku akan menceritakan lagi sebuah perumpamaan. Dari cerita ini banyak orang pintar dapat melihat dengan jelas arti dari suatu persoalan.
Pada suatu ketika serombongan kafilah yang terdiri dari seribuan kereta melakukan perjalanan dari Timur ke Barat. Kemanapun mereka pergi, bekal air, rumput, kayu dan makanan cepat terkuras. Karena rombongan besar itu merupakan gabungan dua pemimpin group [Dve satthavaha-upamā], maka suatu ketika, mereka sepakat untuk berpisah menjadi dua kloter. Persediaan air, rumput, kayu dan makanan dibagi rata. Rombongan kafilah pertama berangkat lebih dulu. Baru berjalan beberapa hari, mereka ketemu hantu jahat yang menyamar sebagai manusia. Kulitnya hitam, matanya merah, rambutnya awut-awutan dan dihias dengan bunga lotus. Pakaiannya basah dan ia mengendarai sebuah kereta bagus yang roda-rodanya basah dan penuh lumpur. Ketika ditanya dari mana, ia menjawab dalam perjalanan dilanda hujan lebat. Jalanan berlumpur. Air, rumput, dan kayu dapat dijumpai dalam jumlah yang berlimpah. Pemimpin kafilah itu lalu memerintahkan untuk membuang semua persediaan rumput, kayu dan air, agar dapat berjalan lebih cepat karena lebih ringan. Mereka melanjutkan perjalanan satu hari, dua hari … hingga enam hari. Tetapi mereka gagal menemukan rumput, kayu, apalagi air, sehingga pada hari ketujuh semuanya mati karena kehausan. Hantu jahat lalu datang makan daging mereka, sehingga dari mayat-mayat orang dan binatang yang tertinggal hanya tulang-belulang saja.

Beberapa hari setelah keberangkatan rombongan pertama, kafilah kedua pun menyusul melewati rute yang sama. Baru berjalan beberapa hari, hantu jahat yang sama, dengan menyamar sebagai manusia, kembali mencegat perjalanan kafilah yang kedua dan menuturkan kisah yang sama. Kemudian ia membujuk agar semua persediaan rumput, kayu dan air dibuang saja. Tetapi pemimpin rombongan kafilah kedua ini adalah seorang cerdas dan berpengetahuan luas yang tidak mau begitu saja percaya omongan orang yang tidak dikenal. Ia memerintahkan melanjutkan perjalanan dan jangan membuang persediaan kayu, rumput dan air meskipun menghambat laju perjalanan. Pada hari ketujuh mereka menjumpai bangkai kereta serta tulang-belulang yang porak poranda dari kloter pertama. Pemimpin rombongan lalu berkata : ‘Kafilah ini telah musnah, karena kebodohan dari pemimpinnya. Sekarang tukarlah barang-barang yang kurang berharga dari keretamu dengan barang-barang yang lebih berharga yang dapat diketemukan dari kafilah pertama dan kemudian marilah kita lanjutkan perjalanan kita.’ Akhirnya mereka tiba dengan selamat di tempat tujuan berkat pemimpin mereka yang pintar dan berpengetahuan luas.

Begitu pula, Rajañña, seperti pemimpin rombongan kafilah pertama yang melanjutkan perjalanan dengan membuang persediaan yang berharga, Anda telah menolak pandangan yang benar. Mereka yang berpikir bahwa mereka dapat memercayai segala sesuatu yang mereka dengar akan mengalami kehancuran seperti kelompok pedagang itu. Lepaskanlah pandangan keliru Anda, rājañña, lepaskanlah agar kelak Anda tidak mengalami celaka.

Pāyāsi: Meskipun pertapa Kassapa berkata demikian, namun aku tetap tidak mau melepaskan pandanganku tersebut untuk menjaga kewibawaan, untuk mencegah cemooh orang dan supaya dianggap konsisten.

YM Kumāra: Kalau begitu, dengarkan perumpamaan tentang seorang peternak babi yang dalam perjalanan pulang ke rumah dari suatu tempat melihat bongkahan besar kotoran yang sudah kering. [Gūthabharika-upamā] Ia pikir : “Kotoran ini merupakan makanan yang baik untuk babi-babiku.” Kemudian kotoran-kotoran kering itu dibawa pulang dengan cara dibungkus dan dipikul di atas pundak. Tetapi dalam perjalanan pulang ia ditimpa hujan lebat, pakaian dan badannya basah kuyup dan berlumuran kotoran. Orang kampung yang melihat kejadian tersebut mentertawakan peternak itu atas ketololannya. Peternak babi itu dengan marah menjawab : “Kamu sendiri yang tolol. Kotoran itu merupakan makanan yang baik untuk babiku!”

Dalam hal yang sama Anda mirip dengan orang yang memikul kotoran itu, Rajañña. Anda menganggap bermanfaat tetap mempertahankan dan melekat pada pandangan yang keliru. Pandangan keliru itu seperti kotoran yang anda pikul kemana-mana. Lepaskanlah, jangan biarkan pandangan keliru itu menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagimu untuk waktu yang lama. 

[Tetapi Pāyāsi tetap tidak mau melepaskan pandangannya yang keliru agar tidak dicemooh orang, untuk menjaga kewibawaannya dan supaya dianggap konsisten]

YM Kumāra: Ada sebuah kisah tentang dua orang pemain dadu [Akkhadhuttāka-upamā]. Salah seorang pemain setiap kali sebelum bermain memasukkan biji dadu ke dalam mulutnya dan ia selalu menang. Karena itu pemain kedua berkata kepadanya : “Kamu selalu menang. Marilah sekarang kita saling tukar biji dadu dulu.” Biji-biji dadu mereka ditukar. Pemain kedua lalu mengoleskan racun pada biji dadu tersebut. Kemudian mengajak pemain pertama untuk bermain dadu lagi. Biji-biji dadu mereka kembali ditukar. Seperti biasa ia memasukkan biji dadu itu sebelum bermain ke dalam mulutnya; dan tentu saja ia mati keracunan. Anda mirip dengan pemain dadu tersebut, tidak mau melepaskan kebiasaan buruk yang sudah terlanjur dianut. Lepaskanlah pandangan keliru, sehingga Anda kelak tidak mengalami celaka.

[Tetapi Pāyāsi tetap kukuh pada pendiriannya, sehingga YM Kumāra Kassapa menuturkan sebuah perumpamaan lagi]

YM Kumāra: Karena sesuatu sebab, suatu hari seluruh penduduk suatu kampung pergi mengungsi. Seorang penduduk kampung lain berkata kepada kawannya : “Hai kawan, mari kita mengunjungi kampung itu yang telah ditinggalkan. Barangkali kita akan menemukan sesuatu yang berharga di sana.” Berangkatlah kedua kawan tersebut ke kampung yang telah kosong itu. Di sana mereka menemukan setumpuk rami [Sāṇabharika-upamā]. Mereka masing-masing lalu membuat dua ikatan besar, masing-masing memikul sebuah ikatan dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Tidak lama kemudian mereka menemukan tumpukan kulit kayu. Orang yang pertama mengatakan kepada kawannya : “Hai, kawan, lebih baik kita buang saja ikatan rami yang kita bawa sekarang dan menukarnya dengan kulit kayu ini yang lebih berharga.” Tetapi kawannya menjawab, bahwa ia sudah puas dengan ikatan rami dan tidak ingin menukarnya dengan kulit kayu, karena tali rami bisa dipakai sebagai bahan untuk menenun pakaian. Setelah itu mereka menemukan mantel bulu, kain linnen. Mereka kemudian menemukan timah putih, tembaga, perak dan akhirnya emas. Setiap kali orang yang pertama menukar bawaannya dengan yang lebih berharga, kawannya dengan kukuh tetap saja memikul ikatan rami karena dianggapnya tali rami bermanfaat sebagai bahan pakaian. Akhirnya mereka tiba kembali di kampung tempat tinggal mereka. Orang yang memikul rami tidak disambut oleh istri, anak-anak dan kawan-kawan sekampung. Sebaliknya kawannya yang membawa pulang emas disambut dengan meriah oleh istrinya, anak-anaknya dan kawan-kawan sekampung, sehingga ia merasa bahagia sekali.

O, Rajañña, Anda mirip dengan si keras kepala yang memikul terus ikatan rami. Lepaskanlah pandangan keliru Anda dan janganlah menunggu hingga kelak mengakibatkan Anda celaka!

Akhirnya Pāyāsi mengaku, bahwa sejak mendengar perumpamaan pertama ia sudah merasa gembira dan mengerti, namun ia ingin mendengar lebih banyak penjelasan dan keterangan. Karena itulah ia bersikeras dan tetap ingin berdebat dengan YM Kumāra Kassapa.

“Mengagumkan, Bhante, mengagumkan sekali! Bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang telah roboh, atau memperlihatkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan lampu di waktu gelap gulita, sehingga yang punya mata dapat melihat. Demikian pula Dhamma yang telah dibabarkan oleh Bhante dalam berbagai cara. Karena itu aku ingin berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Mohon Bhante menerima diriku sebagai siswa mulai hari ini hingga akhir hayat. Berilah petunjuk demi kesejahteraan dan kebahagiaanku.”

Pāyāsi bermaksud memberikan persembahan besar dengan binatang-binatang korban, tapi YM Kumāra Kassapa meberikan petunjuk:

“Apabila persembahan (dāna) diberikan dengan membunuh sapi, kambing, babi dan mahkluk-mahkluk lain, dan para pemberi dāna memiliki pandangan salah, pikiran salah, ucapan salah, perbuatan salah, mata pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah, maka dana itu tidak bernilai tinggi, tidak menghasilkan kemajuan yang signifikan, tidak cemerlang dan tidak bercahaya. Seperti seorang petani yang membawa benih dan bajak, ingin menanam di tanah gersang yang belum dibersihkan dari semak belukar. Bibit itu akan rusak, kering oleh hembusan angin dan teriknya matahari, sedangkan hujan tidak turun untuk menyiram tanah yang kering itu. Apakah mungkin bibit itu bersemi dan petani mendapatkan hasil yang berlimpah?”

“Tidak mungkin, Bhante.”

“Sebaliknya, Rajañña. Apabila persembahan (dāna) diberikan dengan tidak membunuh binatang-binatang dan para pemberi dana memiliki pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar; persembahan (dāna) demikian itu membawa pahala besar, bercahaya, cemerlang dan bersinar hingga jauh. Seperti seorang petani yang menanam benih di tanah subur yang cukup hujan, bibit akan bersemi dan petani mendapat panen yang baik.”

Hari itu, pandangan keliru Pāyāsi telah diluruskan oleh Yang Mulia Kumāra Kassapa. Pāyāsi sudah tidak lagi menganut pandangan : tidak ada alam halus [natthi paro loko] , tidak ada kelahiran kembali secara spontan [natthi sattā opapātikā]  dan tidak ada bibit maupun buah/hasil dari perbuatan baik dan buruk [natthi sukaṭadukkaṭānaṃ kammānaṃ phalaṃ vipāko]

Petunjuk YM Kumāra Kassapa menginspirasi Pāyāsi untuk mulai menanam kebajikan. Namun karena sudah terlalu lama membiasakan diri dengan pandangan sebelumnya yang materialistik, maka ketika Pāyāsi hendak hidup benar menjalankan petunjuk YM Kumāra Kassapa, Pāyāsi memberikan dāna dengan kikuk, masih belum bisa melepaskan diri dari perhitungan untung rugi, mengharapkan pahala dari kebajikan yang akan dilakukan.

Entah karena Pāyāsi kurang memahami petunjuk singkat YM Kumāra soal dāna, hanya mengerti bagian ‘tidak mengorbankan hidup makhluk lain’ saja. Entah karena menganggap tidak penting bagian kedua mengenai: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar –yang penting berdana. Maka Pāyāsi pun berdana ala kadarnya kepada para pertapa, pengemis dan kaum miskin. Barang yang didanakan seperti makanan sisa, bubur yang sudah asam, pakaian kasar yang bolong sana bolong sini, pakaian bekas yang sudah tidak bisa lagi dijadikan keset di istananya.  Barangkali Pāyāsi berpikir, daripada dibuang percuma khan lebih baik ngasih ke orang lain, anggap aja sebagai tabungan untuk kehidupan berikutnya, iseng-iseng berhadiah.

Ketika petapa Uttara menerima barang-barang itu, ia bergumam: “Karena persembahan (dana) ini, saya telah terhubung dengan Rājañña Pāyāsi di kehidupan ini. Apakah mungkin kami berhubungan di kehidupan yang akan datang?”

Kata-kata itu sampai ke kuping Pāyāsi yang tentu saja kurang senang. [Barangkali dalam hati Pāyāsi ngedumel: Udah dibaikin, bukannya berterima kasih, malah ngeritik pemberi dāna, ngomong yang gak enak didengar]

“Mengapa engkau mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukankah kita melakukan perbuatan bajik supaya mendapat hasil? Apakah dana yang telah aku berikan, tidak akan menghasilkan pahala di kehidupan yang akan datang?”

“Dana yang tuanku berikan, yaitu bubur dan lain-lain diberikan karena tuanku sendiri tidak mau menyentuhnya walaupun dengan ujung kaki, apalagi memakannya. Begitu pula dengan kain yang diberikan. Tuanku bersikap baik dan lembut kepada kami, tetapi bagaimana mungkin kami dapat menggabungkan kebaikan dan kelembutan dengan keburukan dan kekasaran?” [Dengan kata lain, Petapa Uttara hendak memberi saran kepada Pāyāsi, kalau hendak berbuat baik alangkah baiknya jika tidak setengah hati]

Pāyāsi tersadar dengan teguran Uttara. Barangkali supaya tidak dicela orang lagi, maka Pāyāsi yang pragmatis lalu menyuruh Uttara sebagai pengatur persembahan (dāna) makanan dan pakaian yang layak, bahkan seperti makanan yang dimakan Pāyāsi sendiri. [bahasa gaulnya kira-kira: Daripada nantinya gue dianggap salah lagi, elu aja deh yang berdana]

Semenjak saat itu, yang melakukan persembahan kepada para petapa, Brahmana, para pengemis dan kaum miskin adalah Uttara. Barang-barang kebutuhan pokok yang didanakan tentu saja kebanyakan berasal dari Pāyāsi. Tetapi Uttara juga berbagi milik yang diperolehnya meskipun sedikit. Uttara melakukan kesemuanya dengan tulus ikhlas, dengan telaten, dengan senang hati. Barang yang mau didanakan, telah dipersiapkan sebelumnya. Pada saat berdana, Uttara menyerahkan dengan penuh hormat, dengan dua tangan. Berbeda dengan Pāyāsi yang tidak pedulian, barangkali Pāyāsi berprinsip: mau pake tangan kanan atau tangan kiri, yang penting ngasih.

Mungkin Pāyāsi sudah merasa cukup puas dengan pencapaiannya. Sudah hidup senang menjadi penguasa wilayah yang makmur, dan merasa telah memberikan persembahan yang cukup sebagai bekal untuk kehidupan yang akan datang. Maka setelah itu sampai akhir hayatnya, tidak ada catatan lagi mengenai sepak terjangnya di kehidupan ini.

Cerita lanjutan tentang Pāyāsi berasal dari Yang Mulia Gavampati yang sebelum kelahirannya sebagai manusia di era Sang Buddha, adalah penghuni di istana Serīssaka, salah satu alam cātumahārājikā (Surga Empat Raja Dewa), kadang-kadang disebut sebagai Yakkha Serīssaka. Dinamakan Serīssaka karena di jalan masuk istana itu banyak tumbuh pohon Serīssaka yang berbuah tiap lima puluh tahun sekali. Bakal YM Gavampati tinggal sendirian, maka istana itu kosong setelah ia terlahir sebagai manusia. Sebagai siswa arahat Sang Buddha yang memiliki abiñña, YM Gavampati kadang-kadang berkunjung ke sana untuk tidur siang.

Maka suatu ketika YM Gavampati bertemu dengan Pāyāsi yang menjadi penghuni baru istana Serīssaka.

YM Gavampati: Siapakah engkau, teman?

Pāyāsi: Yang Mulia, aku adalah Pangeran Pāyāsi.

YM Gavampati: Teman, bukankah engkau adalah orang yang mengatakan “Tidak ada alam lain, tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir spontan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik atau buruk”?

Pāyāsi: Betul, Yang Mulia, aku adalah orang yang mengatakan hal itu, tetapi aku telah berubah dari pandangan salah itu oleh Yang Mulia Kumāra-Kassapa.

YM Gavampati: Dan di manakah Brahmana muda Uttara yang bertanggung jawab dalam pembagian persembahanmu itu, terlahir kembali?

Pāyāsi: Yang Mulia, ia yang memberikan persembahan dengan tulus ikhlas (dānaṃ datvā sahatthā), dengan kedua tangannya  <telaten> (dānaṃ datvā cittīkataṃ), dan dengan perhatian yang layak <gembira> (dānaṃ datvā anapaviddhaṃ), terlahir kembali di antara Tiga-Puluh-Tiga Dewa (tāvatiṃsā). Yang Mulia, aku mohon, saat engkau kembali ke bumi, katakan kepada orang-orang tentang bagaimana Pangeran Pāyāsi dan Brahmana muda Uttara terlahir kembali.’

Menurut Khuddaka Nikaya, Vimānavatthu, vi.10 : Uttara terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga, di tengah-tengah Tiga-Puluh-Tiga Dewa (tāvatiṃsā), tinggal di istana Uttara (Uttaravimāna) yang sangat berbeda keadaannya dibanding alam cātumahārājikā. Dewa Uttara pernah muncul di hadapan YM Kumāra Kassapa untuk menunjukkan rasa gembira dan terima kasihnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: