Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

curhatan Yuk ( cY )

Posted by chanyan pada 2010/10/08

Beberapa hari yang lalu, saya membaca curhatan teman kita, N5. Tak lama berselang lalu disahut oleh kawan kita, Vn. Membaca tulisan N5, bagi saya seperti membaca renungan, entah renungan makan atau renungan apa, yang penting sesudahnya saya bisa tercenung-cenung nikmat sendirian. Dibalik kata-kata yg jauh dari formal, saya merasakan nuansa keprihatinan yang sangat dalam terhadap berbagai aspek sosial kebuddhisan, yang barangkali dianggap sepele. Topik yang mewarnai hampir semua tulisan yang dilukis N5 adalah bagaimana mempertahankan kemajuan yang sudah dicapai selama ini. Bukankah kata orang, mempertahankan jauh lebih sulit daripada merebut? Mengalahkan diri sendiri jauh lebih sulit daripada mengalahkan selaksa musuh bebuyutan? 

Seperti biasa gue banget, saya tak sanggup menahan diri untuk tidak ikut-ikutan curhat juga. Minggu lalu kebetulan saya ikut retreat Thich Nhat Hanh di Kinasih Resort, Bogor. Tempat milik keluarga Radius Prawiro yang luas ini sangat memadai menampung 900an peserta. Sejak pertama mendengar tentang retreat ini beberapa bulan yang lalu, saya skeptis bisa ber transformasi batin apalagi mencapai pencerahan, jika meditasi massal seperti ini, maka saya tidak memedulikan promosi retreat ini. Tetapi menjelang hari H, ada peserta yang cancel karena keperluan mendadak dan orang itu sepertinya important person, maka walaupun saya sebagai peserta pengganti daftarnya pada saat-saat terakhir dan bukan impoten, tetapi saya mendapatkan nomor kecil bertetangga dengan Hong Tjhin (DAAI TV) dan lain-lain, xixixi.

Satu hal yang tak pernah disangka-sangka akan saya temukan di retreat adalah adanya acara seperti judul tulisan ini, curhat !!!  Ajaran ini menegaskan bahwa sesama anggota keluarga harus curhat, gak boleh main diam-diam-an. Maka sekarang kita berlatih seperti di salah satu acara retreat itu, saya yang curhat dan anda yang membaca, jadi pendengar yang baik, menyimak tanpa menghakimi benar atau salah, dan anda tentu tidak akan dan tidak bisa memotong pembicaraan saya, atau memblokir apa yang hendak saya bicarakan, karena ini cuman tulisan xixixi…

Sebelumnya saya pernah membaca tulisan Sutra Wijaya bahwa sangha ada 4 macam: bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika. Waktu itu kirain dia lagi ngelindur jadi sy gak nanggepin. Rupanya memang ada pemahaman seperti itu. Bu Lenny Wongso yang asal klaten kemudian menjadi temannya motivator no.1 Indonesia, juga sama, mengaku baru tahu ada pemahaman seperti ini. Apakah Buddha Gotama menggolongkan sangha seperti ini? sepertinya sy belum pernah membaca spt itu di sutta.

Mudah-mudahan sy tidak salah memahami, hierarki komunitas yang ditawarkan di sini adalah seperti jaringan atau sel, bukan berupa garis. Sewaktu istirahat di sela-sela acara mindfullness walking, secara simbolis terbentuk formasi seperti sarang laba-laba, bukan sisi A dan sisi B. Tentu aja formasi itu terbentuk karena masternya mengundang orang-orang mendekat. Ketika mulai berjalan, tidak ada susunan formasi berdasarkan senioritas, atau pengelompokan cowok cewek, semuanya berjalan alami, juga tidak ada larangan atau himbauan supaya jangan jalan di depan si ina atau si inu. Suasananya sangat toleran, barangkali karena kata kuncinya toleran, maka dinamakan peace walk. Bagaimana bisa damai, jika tidak ada kerelaan untuk bertenggang-rasa? iya khan? makanya kalau mau damai, tidak boleh ada yang merasa paling hebat, paling benar, paling berkuasa. Kalau sy lihat peserta-peserta yg berasal dari luar negeri, sepertinya mereka lebih menikmati acara jalan pagi itu, berbeda dibanding peserta lokal seperti saya yang jalan seperti ngejar setoran, hehehe…

Pada mulanya, karena takut model peserta atau panitia sama seperti model saya gini (ngejar setoran, hehehe), maka saya gak terlalu antusias untuk daftar retreat. Gambaran saya, apa jadinya kalau 900an orang tumpah ruah dalam satu momen meditasi jalan, barangkali akan ada panitia yang bawa-bawa corong mikrofon seperti polantas yang berteriak-teriak, ambil jalur ini, ambil jalur itu, jangan cepat-cepat, jangan terlalu lambat, dsb. atau seperti acara pindapata waisak, xixixixi…

Karena hal-hal penampilan luar seperti inilah maka saya dulu antipati, dan kemudian kepincut ketika bhante pannyavaro dulu rajin keluar masuk kampus. Karena bagaimanapun, para intelek di kampus saat itu lebih beretika, lebih halus, drpd yg berteriak sekte non-sekte. Tetapi barangkali karena belakangan sudah tidak keluar masuk kampus, sehingga tokoh-tokoh inteleknya sekarang  merupakan sisa-sisa jaman revolusi dulu. Sementara pihak yang tadinya saya khawatirkan, malah justru dapat  tambahan darah segar para sarjana muda, mudah-mudahan tidak terjadi kebalikan dari era bhante pannya dulu.

Bagaimanapun juga, daripada saya alergi dg penyakit yg satu ini, meditasi makan sambil diberi petunjuk harus duduk sana duduk sini, yg satu bilang belum boleh makan, yg lain sudah mulai makan, maka seperti biasa gue banget, saya pindah ruangan aja, kabur ke tempat yg kebetulan banyak bule-bule dan anggota monastik, xixixixi… di situ aman, gak ada yg rajin ngatur-ngatur, hehehe…

Peserta-peserta lokal seperti saya memang sulit diatur dan aneh. Maka saya skeptis ketika tahu tempat duduk dibebaskan, tidak tertentu. Apa jadinya kalau tabiat saya sehari-hari di jalanan jakarta muncul pada saat meditasi duduk. Dan ternyata… memang terjadi, saya ketemu orang aneh yang menyerobot tempat yang sudah saya reserved dg menaruh bantal untuk acara relaksasi total (tidur). Barangkali bagi dia, saya juga dianggap lebih aneh lagi, untuk tidur sebentar aja koq pake booking-booking tempat segala, hehehe…jadi sama-sama aneh.

Kasus-kasus seperti ini juga terjadi dalam hal pendaftaran. Bagi peserta dari luar negeri, 1,5 jt rp untuk retreat 5 hari 4 malam, sungguh murah sekaleeee, tanpa terlalu mempertanyakan apa yang akan diperoleh dari retreat ini. Barangkali kalau tidak dibatasi, hanya berdasarkan kesanggupan membayar yang diprioritaskan, sy rasa orang lokal yg berpenghasilan rp akan kebagian tempat sangat sedikit, foreigner akan mayoritas. Sebaliknya, orang-orang lokal seperti saya, ekspektasinya suangat tinggi, kalau bisa mencapai pencerahan sebelum acara berakhir, sedangkan hal-hal lain tidak penting, bahkan kalau perlu tidur pake sleeping bag atau sarung di bawah pohon dan makan sehari sekali aja supaya murah, xixixixi. Tetapi  S.O.P nya barangkali tidak boleh demikian, jadi tetap harus terpenuhi tidur yang cukup di dalam ruangan, makan 3x sehari, maka dianggap 600rb cukup terjangkau. Maka panitia harus pinter2 mengatur soal subsidi silang ini, karena yg mensubsidi (1,5 jt) kapasitasnya terbatas sedangkan peminat yg mau disubsidi (600rb atau 400rb) membludak.

Untuk sementara ini saya menarik kesimpulan, menyelenggarakan acara meditasi akbar 5 hari seperti ini sungguh bukan perkara mudah. Tidak sesederhana mengatakan mereka mencari keuntungan. Tadinya saya menyangka, seperti layaknya seorang petinggi atau master atau sangharaja yang selalu didampingi “dayang-dayang” untuk ke-nyaman-an sang master, maka rombongan monastik yang besar hanya untuk menandakan kebesaran seorang master. Tetapi ternyata saya keliru. Sesungguhnya, rombongan itulah yang menjadi “panitia di belakang layar” yang mengendalikan hampir keseluruhan proses retreat, sibuknya luar biasa walaupun berpenampilan tenang, bekerja sampai larut malam. Sekaligus juga menceburkan diri membaur ke tengah-tengah peserta menjadi teladan mindfullness from one moment to another moment.

Tetapi … karena anda menjadi pendengar yang suaaangat baik, diam aja walaupun saya bercerita ngalor ngidul, akhirnya saya bingung sendiri, hehehe. Mengapa yang saya tulis outputnya jadi seperti ini yah, padahal yang mau saya curahkan masih belum keluar juga, seperti: apa kaitannya filosofi konsep 4 sangha, konsep sharing (curhat), formasi laba-laba, dengan strong emotion (unsur-unsur/dhatu), konsep anatta (emptiness tapi bukan nothinglessness), inter-being yg menjadi fokus utama, JMB-8, dan kedamaian.

Yah, udahlah, segitu dulu, kalau ada yang ngasih perhatian, nanti baru lanjut lagi deh curhatnya… besok.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: