Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

bukan CurhAtan deCh

Posted by chanyan pada 2010/10/12

Apakah seorang pemimpin (leader) merupakan bawaan lahir, ataukah hasil pelatihan? Maksud pertanyaan ini semata-mata hanyalah ekspresi keheranan saya yang tentu saja tidak perlu dicarikan jawaban, hanya saja biar kelihatan berbobot, gaya bertanyanya saya tulis seperti layaknya gaya seorang pakar manejemen atau seperti seorang motivator kelas dunia, xixixixi. Padahal saya cuma heran aja, kenapa dalam menyikapi suatu peristiwa yang sangat sederhana seperti curhat, tanggapan setiap orang ternyata berbeda-beda. Saya yang seperti biasa gue banget, selalu curhat dalam posisi sebagai seorang rakyat jelata yang terpinggirkan. Sementara kawan yang lain, walaupun posisinya dalam hal ini tidak lebih baik dari saya yg berstatus peserta vip, juga melakukan curhat tetapi nadanya seperti seorang pemimpin yang dizolimi umat.

Daripada nanti pemimpin negara ini tambah rajin curhat soal keselamatannya yang terancam oleh teroris atau curhat soal main gitar yang gak penting-penting amat, mendingan saya  bikin judul : bukan curhatan dech, hehehe…

Kenapa begitu? walaupun tak tertulis dan tak dibakukan, seperti halnya aturan-aturan di zen buddhism, di antara berbagai hal yang  tampaknya  tidak teratur,  terdapat kesesuaian yang harmoni dari saling terkaitan antara elemen yang satu dengan yang lain. Begitu juga curhat. Walaupun tidak dibuatkan standar & prosedur,  curhat juga ada aturannya. Ketika yang satu berbicara, yang lainnya menyimak, mencoba memahami, mendengar, barangkali seperti orang yang sedang mendengar presentasi peluang bisnis tambang emas di zona rahasia, tidak ada satupun yang menentang, menghakimi, dan ikut-ikutan curhat gak mau kalah, bahwa gali pasir lebih untung, misalnya hehehe . Lagian, kalau semuanya saling berbicara, yang penting bisa mengeluarkan unek-unek, melakukan pelampiasan, maka tak ubahnya  seperti ajang caci maki. Walaupun saya bukan seorang instruktur, tapi bisa dipastikan, curhat bukanlah dimaksudkan seperti itu.

Anggota-anggota rombongan plumvilage yang turut mengiringi bhante Thich Nhat Hanh, bukanlah orang-orang sembarangan. Banyak juga yang sudah berlatih puluhan tahun. Di dalam gedung, mereka tidak tampak menonjol karena larut dalam ketenangan bersama peserta. Kedalaman jiwa mereka baru sempat saya cermati ketika berjalan bersama di pagi hari. Sekali dua kali tanpa sengaja saya membalap jalan beberapa murid senior seperti sister Chan Kong, dll yang saya tidak tahu namanya, karena saya mencari my darling yg terpisah, namun mereka asyik berjalan dengan kaki dan langkah kecil mereka masing-masing, tidak ada yang mengerling atau mendelik ke arah saya, sepertinya mereka tidak tahu kalau senioritasnya terlangkahi oleh saya yg pada saat itu sedang cemas terpisah dengan my darling di keramaian.

Dan seperti biasa gue banget, sambil berjalan  pikiran saya berspekulasi liar, siapa yang akan menjadi pewaris dharma dari master Thay? Soalnya khan Thay sudah berusia sangat lanjut. Dan hebatnya, atmosfir persaingan diantara para suksesor itu tidak  kentara bagi saya. Semuanya berjalan sebagaimana seharusnya. Pelayan dan asisten pribadi tetap melakukan tugasnya mengiringi dan melayani kebutuhan sang master, seolah-olah satu-satunya tujuan hidup didunia ini adalah membantu membawakan barang-barang pribadi master yang tidak seberapa banyak, dan menawarkan segelas teh. Tidak pernah terlihat, umat bule atau murid-murid lainnya berebut jasa melakukan itu, seperti halnya saya kalau ketemu anggota sangha, seolah-olah mereka bukan manusia, dipandang sebagai objek untuk menanam jasa kebaikan yang tiada taranya bagi kesejahteraan saya nantinya, serbuuuu…

Barangkali karena domain tempat tinggal Thay di benua bule, maka problem-problem khas asia seperti penyakit-penyakit saya yang over acting memperlakukan anggota sangha, tidak mencuat. Sebaliknya Thay melarutkan diri dengan memakai bahasa inggris sebagai bahasa utama. Chanting dalam bahasa inggris, nyanyian dalam bahasa inggris, ceramah dalam bahasa inggris, bahkan menulis kaligrafi, termasuk sutra hati, juga dalam bahasa inggris. Dari satu sisi ini, saya merasa Thay  lebih bebas di dalam menjalankan kehidupan monastik daripada rekan-rekannya yang di Indonesia.  🙂

Mengenai interbeing (saling keterikatan), setelah mendengar langsung dengan kuping saya sendiri, ditambah mencerap bagaimana ekspresi dari Thay ketika menjelaskan topik itu, kebingungan saya jadi sedikit surut. Agak sulit bagi saya untuk memahami sebelumnya ketika membaca kalimat : di dalam sekuntum bunga terlihat awan,  matahari, hujan, dll. Atau kalimat: di dalam badan saya ini juga hadir orang tua dan nenek moyang saya.

Selama ini saya terbiasa melihat sesuatu secara parsial. Kalaupun mau diuraikan, umumnya dianalisa sebagai 4 unsur utama. Hampir tidak pernah saya mendengar para tokoh buddhis yang selalu menempatkan paticca-samupada dalam semua topik utama pembahasan. Paticca-samupada diberi makna, dibatasi hanya sebagai 12 rantai sebab musabab yang saling bergantungan. Seingat saya, belumlah umum tokoh-tokoh intelektual theravada mengangkat topik  Samyutta Nikaya, Bab.12, sutta ke-44 : Loka sutta, yang didalamnya terkandung penjelasan asal mula dan lenyapnya dunia: “Dengan bergantung pada mata dan bentuk, maka muncullah kesadaran-mata. Pertemuan dari ketiga ini adalah kontak. Dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan [muncul];  … Ini, para bhikkhu, adalah asal-mula dunia.”

“… dengan perasaan sebagai kondisi, maka keinginan. Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan yang sama itu, maka lenyap pula kemelekatan;…  Inilah para bhikkhu, berlalunya (lenyapnya) dunia.”  (Ayaṃ kho bhikkhave lokassa atthaṅgamo’ti )

Saya teringat dengan sutta ini ketika melihat Thay di atas panggung asyik menatap setangkai bunga mawar putih di hadapannya seperti layaknya saya memandang my darling waktu pacaran dulu, asyik sekali khan melihat orang yang sedang jatuh cinta, kata orang, dunia hanya milik mereka berdua, karena hidup dengan begitu total, begitu menyatu, begitu menikmati saat demi saat, tidak ada keterburu-buruan, tidak ada kecemasan. Maka Thay menjelaskan interbeing dg kalimat, melihat makro kosmos di dalam setangkai bunga, dan melihat mikro kosmos di awan. Itulah interbeing. Bisakah ada bunga kalau tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada matahari? Ketika memaku, tangan kiri memegang paku dan tangan kanan mamantek dengan palu. Keduanya saling berkaitan, saling membutuhkan. Ketika tanpa sengaja tangan kiri terpalu oleh tangan kanan, apakah tangan kiri marah kepada tangan kanan? apakah tangan kanan bergembira, rasain elu tangan kiri? Menurut Thay lebih lanjut, Theravada dan Mahayana adalah seperti tangan kiri dan tangan kanan dari badan yang sama.

[ini secuil lanjutan curhat khemaren, 12-10-10]

 

Iklan

3 Tanggapan to “bukan CurhAtan deCh”

  1. Maria Cage said

    Finally someone know what they are talking about. Great post.

  2. Maria Cage said

    I love reading your blog. Thank you!

  3. Good to know! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: