Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

About

Lahir di taman Lumbini. Putra tunggal dari Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya. Ber-istri-kan Puteri Yasodhara, mempunyai seorang putra yang diberi nama Rahula (artinya belenggu).

Meninggalkan istana seorang diri pada usia 29 untuk mencari obat yang bisa mengatasi : tua, sakit dan kematian. Sempat belajar dari Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta sampai tamat, tapi belum menemukan yang dicita-citakan.

Setelah berusaha sendiri melatih penyiksaan diri selama 6 tahun sampai hampir mati karena berhari-hari tidak makan, akhirnya menyadari cara ekstrim seperti itu bukanlah jalan yang benar. Ketika sedang merenung, terdengar suara nyanyian dari rombongan gadis desa yang hendak ke kota:

“Bila dawai kecapi ditala terlalu longgar, suaranya tak akan muncul. Bila dawai ditala terlalu kencang, dawai akan putus. Bila dawai ditala tidak terlalu longgar dan tidak terlalu kencang, kecapi akan menghasilkan suara yang merdu.”

Mencapai Pencerahan Sempurna (enlightenment) pada usia 35 tahun di bawah pohon Bodhi (Pali: assattha; Latin: Ficus religiosa) di Hutan Gaya. Saat itu bulan purnama di bulan Vesakha (biasanya bulan Mei).

Menerima 5 orang pertapa bekas teman seperjuangan menyiksa diri dahulu (Kondanna, Vappa, Bhaddiya, Mahanama dan Assaji) sebagai murid-murid pertama. Khotbah pertama dikenal sebagai Dhamma-cakka-pavattana Sutta (Khotbah mengenai Pemutaran Roda Dhamma) di Taman Rusa Isipatana. Khotbah itu berisi ajaran agar menghindari 2 ekstrem, yaitu pemanjaan diri dan penyiksaan diri. Yang harus dilatih adalah Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor. Kejadian itu sekarang diperingati sebagai Hari Asadha karena di bulan Asalha (biasanya bulan Juli).

Dalam waktu yang sangat singkat, telah ada 1250 orang bhikkhu dari berbagai kota yang telah mencapai tingkat kesucian arahat. Mereka kemudian berkumpul bersama-sama di vihara Veluvana tanpa janjian terlebih dahulu. Pertemuan itu kemudian diperingati sebagai Hari Magha Puja karena di bulan Magha (sekitar bulan Februari).

Di pertemuan itu disebutkan tentang Ovada Patimokkha:

“Kesabaran adalah latihan moral yang paling unggul. Nibbana sungguh luhur. Ia yang masih melukai makhluk lain, bukanlah pabbajito. Ia yang merugikan makhluk lain, bukanlah seorang pertapa.

Tidak melakukan segala kejahatan, Meningkatkan kebajikan, Menyucikan pikiran, Inilah ajaran semua Buddha.”

Setelah 45 tahun membabarkan Dhamma, pesan terakhir sebelum Parinibbana (meninggal dunia & tidak terlahir kembali) pada usia 80 tahun di Kusinara, adalah: “Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur. Berjuanglah dengan penuh kesadaran.”

Iya betuuuuul…, itulah sekilas riwayat hidup Guru Agung junjungan saya, Siddhattha Buddha Gotama.

Iklan
 
%d blogger menyukai ini: