Chan Yan

………… just a simple indonesian personal interest weblog

Archive for the ‘Sila’ Category

VINAYA

Posted by chanyan pada 2010/05/20

VINAYA [Kedisiplinan atau tata tertib bagi para bhikkhu] – Bagian 1

Umat Buddha tentu telah sering mendengar  atau membaca istilah tisikkhā. Ti berarti tiga, sikkhā berarti latihan. Tisikkhā berarti tiga hal yang harus dilatih atau dilaksanakan oleh umat Buddha untuk mencapai tujuan akhir Buddha sāsanā. Tiga hal yang dimaksud terdiri dari sīla, samādhi dan paññā. Dalam tulisan ini kita akan membahas butir pertama dari tisikkhā, yaitu sīla. Sīla untuk umat awam disebut pañca sīla atau lima ke-sīla-an. Di samping itu ada pula aṭṭha sīla atau 8 (delapan) ke-sila-an. Kedua jenis ke-sila-an itu telah umum diketahui oleh umat Buddha. Karena, untuk bisa disebut sebagai umat Buddha, seseorang harus berusaha melatih diri dalam melaksanakan pañca sīla. Bahkan, ada pula yang telah berusaha melaksanakan aṭṭha sīla pada waktu-waktu tertentu.

Namun, sīla bagi umat Buddha yang menjalani hidup kepertapaan [bhikkhu], amat jarang diketahui dengan baik oleh umat awam. Bahkan, seorang bhikkhu pun, terutama bhikkhu baru, belum tentu menguasai ke-sila-an yang harus dipatuhinya. Hal itu disebabkan, banyaknya jumlah sīla serta rumitnya pelaksanaannya. Bhikkhu yang telah lama tahbis pun tak mungkin bisa menguasai ke-sila-annya dengan baik, bila ia tak peduli pada kebhikkhuannya, serta terlarut dan terbuai keduniawian. Dan hal itu amat banyak terjadi dari masa ke masa. Oleh karena itu, sejak jaman Sang Buddha hingga kini pun dibutuhkan kerja sama yang baik antara sesama bhikkhu maupun antara upāsaka-upāsikā dan bhikkhu di dalam saling memperingatkan dan menjaga ke-sila-an demi tercapainya kemajuan bersama.

Tulisan ini akan menguraikan vinaya kebhikkhuan, sejak ditahbis menjadi bhikkhu hingga pelaksanaan keseharian selama menjadi bhikkhu, walaupun tidak secara amat rinci, untuk menambah pengetahuan kita bersama.

Tulisan ini diambil  dan dirangkum dari Vinaya Piṭaka, Sattapabbapubbasikkhā dan Pubbasikkhā vaṇṇanā, tulisan Phra Amarābhirakkhita, serta buku Buddhamanta, sebuah buku mengenang 50 tahun meninggalnya Phra Ācharn Man Bhuridatto yang lebih dikenal dengan sebutan Luang Pu Man.

 ***

BAB 1

Segera setelah seseorang di upasampadā menjadi bhikkhu, bhikkhu upajjhāya akan memberikan wejangan awalnya. Wejangan itu disebut anusāsana.

Tujuan anusāsana adalah:

  • Agar bhikkhu baru mengetahui dan mengerti perbedaan antara kehidupan kepertapaan dan kehidupan perumah tangga.
  • Agar bhikkhu baru mengetahui dan mengerti segala sesuatu yang sama sekali dilarang untuk dilakukan serta segala sesuatu yang harus   dilakukan di dalam menjalani hidup kepertapaannya.

Anusāsana ini terdiri dari 8 (delapan) hal, yaitu:

  • Nissaya, sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang bhikkhu untuk kelangsungan kehidupannya, ada 4 (empat) hal.
  • Akaranīya kicca, sesuatu yang tidak boleh dilakukan, juga ada 4 (empat) hal.

Nissaya

Nissaya adalah sesuatu yang harus dilakukan di dalam menjalani hidup kepertapaan.

1.       Piṇḍapāta : Untuk memenuhi kehidupannya tentang makanan, seorang bhikkhu harus melakukan piṇḍapāta. Seorang bhikkhu tidak diperbolehkan bekerja mencari nafkah, misalnya  dengan bertani, berjualan, menjadi pegawai atau pekerjaan lain yang menghasilkan uang bagi dirinya. Mereka hidup tergantung dari kedermawanan perumah tangga yang men-dāna-kan makanan bagi para bhikkhu. Para bhikkhu makan hanya satu kali saja dalam sehari yaitu sebelum tengah hari. Sang Buddha  memuji pelaksanaan piṇḍapāta sebagai cara yang bersih dan mulia bagi para bhikkhu. Namun, sekali-sekali mereka diijinkan untuk memenuhi undangan makan di rumah perumah tangga.

Seumur hidup-Nya, Sang Buddha selalu melakukan piṇḍapāta [kecuali sedang memenuhi undangan makan di rumah umat], seperti dijelaskan di Tipiṭaka tentang kegiatan Sang Buddha sehari-hari, yaitu:

  • a.      Pubbaṇhe piṇḍapātañca, pada pagi hari Beliau pergi piṇḍapāta.
  • b.      Sāyaṇhe dhammadesanaṁ, pada sore hari Beliau membabarkan Dhamma untuk para umat.
  • c.      Padose bhikkhu ovādaṁ, pada malam hari Beliau mengajar Dhamma pada para bhikkhu.
  • d.      Aḍḍharatte devapañhanaṁ, pada tengah malam Beliau menjawab pertanyaan para dewa.
  • e.      Paccusseva gate kale bhabbābhabbe vilokanaṁ, pada saat menjelang pagi, dengan mata Ke-buddha-an-Nya, Beliau melihat ke seluruh jagat adakah makhluk yang layak ditolong untuk menembus Dhamma. Sesudah itu Beliau beristirahat selama dua jam, sebelum kembali melakukan kegiatan keseharian-Nya. [Pada perkembangan selanjutnya, ada bhikkhu yang makan dua kali dalam satu hari]. 

2.        Mengenakan cīvara (jubah) paṁsukūla : cīvara paṁsukūla adalah cīvara yang terbuat dari kain-kain yang telah dibuang oleh pemiliknya di tempat-tempat pembuangan sampah. Kain-kain itu bisa pula didapat dari pembungkus mayat di pekuburan. Para bhikkhu boleh mengambil kain pembungkus itu, bila mayat telah terluka karena pembusukan, digigit binatang atau penyebab lainnya. Mereka mencuci kain tersebut, menjahitnya menjadi jubah lalu diwarnai sesuai dengan ketentuan vinaya. [Pada perkembangan selanjutnya, Sang Buddha mengijinkan jubah yang diberikan oleh umat awam untuk dikenakan para bhikkhu]. 

3.       Bertinggal  di bawah keteduhan sebatang pohon: pada awal Kebuddhaan, para bhikkhu tinggal di hutan atau di bawah pohon. Hutan merupakan suatu tempat yang hening dan sepi, amat sesuai bagi pelaksanaan bhāvanā. Karena itulah Sang Buddha amat memuji hutan sebagai tempat tinggal para bhikkhu yang serius dalam paṭipatti Dhamma. Sang Buddha pun mencapai Pencerahan Agung di bawah keteduhan sebatang pohon. Pada perkembangan selanjutnya, para umat mendānakan tempat tinggal berupa kuṭi [di dalam lingkungan vihāra]. Kuṭi seorang bhikkhu biasanya amat sederhana. Kuṭi Sang Buddha yang disebut Gandha kuṭi, konon juga jauh dari sebutan mewah.  

4.       Obat penyembuh penyakit: terdiri dari air seni si penderita sendiri. Pada jaman Sang Buddha, obat modern belumlah ada. Para bhikkhu menggunakan obat tradisional bila menderita suatu penyakit. Obat itu biasanya terdiri dari rendaman air seni dan buah-buah obat. Buah-buah obat yang biasa direndam dengan air seni antara lain, buah semo [buah ini tidak ditemukan [?] di Indonesia] dan buah makkham pom [di Indonesia dinamakan buah malaka]. Pada masa kini, hanya sedikit bhikkhu yang mengkonsumsi air seni sebagai obat. Sebaliknya, masyarakat umum mulai mengerti dan mengkonsumsi air seni sebagai obat penyembuh penyakit maupun sebagai obat awet muda juga sebagai obat kecantikan.

Empat nissaya tersebut merupakan kebutuhan [paccaya] pokok yang amat penting bagi kehidupan kebhikkhuan, karenanya disebut pula 4 (empat) paccaya. Bila salah satu dari paccaya tersebut tak terpenuhi, maka kelangsungan hidup kebhikkhuannya akan terganggu.

Uraian tersebut di atas, menunjukkan betapa sederhananya jenis-jenis kebutuhan pokok kebhikkhuan yang diajarkan oleh bhikkhu upajjhāya kepada bhikkhu yang baru ditahbis. Namun, amat bertentangan dengan yang kita lihat pada kehidupan sementara bhikkhu jaman sekarang yang penuh dengan kemewahan.

Pada jaman Sang Buddha, para bhikkhu hidup secara sederhana. Mereka mengutamakan usaha pembangunan dan pengembangan batin. Sang Buddha mengajarkan dan memuji hidup dalam kesederhanaan guna melatih batin melepas keterikatan pada keduniawian [kemewahan] serta menguak kemelut dan kabut kilesa yang mengotori batin sejak masa yang tak terhitung lamanya. Seseorang yang tak mampu dan tak mau hidup di dalam kesederhanaan tak akan mampu membebaskan diri dari keterikatan dunia; bagaikan orang yang tak mampu membebaskan diri dari gulungan gelombang ganas di tengah samudera luas.

Singkatnya, kesederhanaan hidup yang diajarkan pada para bhikkhu tersebut bertujuan agar:

  • Para bhikkhu tidak sibuk tentang kebutuhan hidup sehari-hari.
  • Para bhikkhu bisa membasmi keserakahan.
  • Para bhikkhu bisa melaksanakan pañipatti Dhamma dengan sepenuh hati.

Akaranīya kicca

Akaranīya kicca adalah sesuatu yang tak boleh dilakukan oleh seorang bhikkhu. Ini pun terdiri dari 4 (empat) hal:

  1. Melakukan hubungan kelamin.
  2. Mencuri.
  3. Membunuh [manusia].
  4. Berbohong tentang kekuatan batin yang tidak dipunyainya.

Empat hal tersebut di atas sama sekali dilarang dilakukan oleh seorang bhikkhu. Maka dari itu, bhikkhu upajjhāya segera mengajarkan / memberitahukannya segera setelah seseorang di upasampadā menjadi bhikkhu.

Bila seorang bhikkhu telah melakukan hubungan kelamin, berarti ia telah terlepas dari keberadaannya sebagai bhikkhu dan tak bisa lagi menjadi bhikkhu di dalam kehidupannya yang sekarang. Hubungan kelamin merupakan musuh dari kehidupan brahmacariya.

Bila seorang bhikkhu melakukan suatu perbuatan mencuri, ia harus lepas dari keberadaannya sebagai seorang bhikkhu. Mencuri merupakan suatu perbuatan yang tak layak dilakukan oleh orang yang bertujuan menyucikan batin. Ia tak mempunyai kepedulian pada penderitaan si pemilik barang. Ia hanya berpikir tentang keuntungan diri sendiri.

Keberadaan seorang bhikkhu juga lepas, bila ia melakukan pembunuhan terhadap seorang manusia. Ia tak mempunyai perasaan welas asih [mettā]. Ia mempunyai sifat yang kejam dan biadab, amat bertentangan dengan sifat seorang pertapa yang mengutamakan kehidupan di dalam Dhamma yang penuh welas asih.

Begitupun, bila seorang bhikkhu yang telah berbohong tentang kemampuan batin yang tak dipunyainya. Ia tak bisa lagi disebut sebagai seorang bhikkhu.

Seorang bhikkhu yang telah melakukan salah satu atau lebih kesalahan-kesalahan tersebut di atas, harus rela melepas kebhikkhuannya. Ia tak boleh untuk tetap berada di dalam kebhikkhuan dan berpikir akan menebus kesalahannya dengan berbuat kebaikan yang dianggap bisa menghapus kesalahannya itu. Bila ia tetap berada di dalam kebhikkhuan, ia akan merupakan racun dan mengotori kemurnian dari bhikkhu yang lain. Mengotori pesamuan para bhikkhu [Saṅgha]. Yang berarti mengotori Buddha sāsanā. Sang Buddha menyebutnya sebagai salah satu mahā coraṁ dan alajji, bandit besar yang dengan tak tahu malu telah dengan sengaja menipu dan merampok harta umat Buddha lainnya. Setelah meninggal, ia akan terperosok ke dalam apāya bhūmi [alam menyedihkan] dalam waktu yang tak terhitung pula lamanya. Ia tak akan berkembang di dalam Buddha sāsanā. Ia tidak akan bisa mengembangkan tingkat batinnya, bagaikan seorang manusia yang dipenggal kepalanya. Bagaikan sehelai daun yang telah tanggal dari tangkainya. Bagaikan sebuah batu yang terbelah menjadi dua. Bagaikan sebatang pohon lontar yang di potong pucuknya. Demikianlah Sang Buddha mengibaratkannya.

TISIKKHĀ

Telah diterangkan pada awal tulisan ini, tisikkhā adalah 3 (tiga) hal yang harus dilatih dan dilaksanakan oleh seorang bhikkhu [juga upāsaka-upāsikā dan sāmaṇera]. Tiga hal tersebut adalah sīla, samādhi dan paññā. Pengendalian dengan baik terhadap kāya (badan jasmani) dan vācā (ucapan) disebut sīla (tata tertib). Pengendalian dengan baik dan kokoh terhadap batin disebut samādhi (ketenangan batin). Pengetahuan yang jelas dan terang terhadap saṅkhāra [sesuatu yang berkondisi] disebut paññā (kebijaksanaan).

Sīla berguna untuk membasmi kilesa yang bersifat kasar yang biasanya dilakukan oleh kāya (badan jasmani) dan vācā (ucapan). Pelanggaran terhadap sīla yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha disebut vītikakama. Samādhi berguna untuk membasmi kilesa jenis menengah yang disebut pariyuṭṭhāna (batin yang tidak tenang). Paññā berguna untuk membasmi kilesa yang bersifat halus yaitu anusaya (kecenderungan yang tersembunyi di dasar batin).

VINAYA MERUPAKAN  SĪLA SIKKHĀ

Vinaya atau sīla bagi para bhikkhu berjumlah 227 (dua ratus dua puluh tujuh) pasal. Bagi bhikkhuṇī berjumlah 331 (tiga ratus tiga puluh satu) pasal. Sīla bagi sāmaṇera berjumlah 10 (sepuluh) pasal ditambah dengan 75 (tujuh puluh lima) latihan. Sementara bagi upāsaka-upāsikā sebanyak 5 (lima) dan 8 (delapan) sīla. Kesemuanya ini disebut sīla sikkhā , yaitu peraturan atau tata-tertib yang harus dilatih / dipelajari serta dilaksanakan. Dan sīla sikkhā ini merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari tisikkhā.

Tisikkhā merupakan akar tunggang bagi Buddha sāsanā. Pelaksanaan tisikkhā yang baik oleh segenap umat Buddha [bhikkhu, sāmaṇera, upāsaka-upāsikā] merupakan tanda dari kejayaan Buddha sāsanā. Bila umat Buddha tidak lagi melatih tisikkhā dengan baik berarti Buddha sāsanā telah memudar. Kepudaran Buddha sāsanā akan dimulai dari paññā, kemudian samādhi. Dan sīla merupakan benteng terakhir bagi keruntuhan Buddha sāsanā.

Hal ini juga berlaku bagi keberadaan Buddha sāsanā di dalam batin seseorang. Seseorang bisa menilai kejayaan atau kemerosotan Buddha sāsanā [Dhamma] di dalam batinnya sendiri dengan merenungkan bagaimana pelaksanaan dirinya terhadap tisikkhā. Bila ia melaksanakan tisikkhā dengan baik, berarti batinnya dipenuhi dengan nuansa Dhamma. Buddha sāsanā berjaya di dalam batinnya. Ia adalah seorang Buddhis yang baik. Bila ia melaksanakan tisikkhā secara asal-asalan saja berarti Dhamma telah memudar di dalam batinnya. Apalagi bila ia tak lagi melaksanakan sīla dengan baik, maka ia bukanlah seorang Budhhis yang baik [bila tak ingin dikatakan bukan lagi seorang Buddhis].

MANFAAT DARI PELAKSANAAN VINAYA

Bagi seorang bhikkhu, melaksanakan vinaya dengan baik akan mendapat manfaat sebagai berikut:

  • Batinnya tak diganggu oleh vippatisāra [kegelisahan akibat dari penyesalan yang mendalam].
  • Batinnya akan merasa sejuk dan tenteram, karena merasa telah melaksanakan  suatu kebajikan yang indah dan mulia serta tak akan mendapat celaan dari para bijaksana.
  • Mendapat pujian dan dukungan dari para bijaksana. Dan bila hendak bertemu atau berkumpul dengan para bijaksana yang mempunyai vinaya yang bersih, ia mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, tidak merasa ragu dan takut.

TUJUAN DARI PELAKSANAAN VINAYA

Tujuan dari pelaksanaan vinaya ada 8 (delapan) hal.

  1. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak kejam.
  2. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak melakukan mata pencaharian yang salah.
  3. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak berperilaku kasar.
  4. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak berperilaku salah.
  5. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak melakukan sesuatu yang salah.
  6. Mencegah seorang bhikkhu agar tidak bertindak main-main atau asal-asalan.
  7. Melestarikan kebiasaan baik masyarakat pada saat itu.
  8. Masyarakat pun tidak mencela pasamuan para bhikkhu.

ALASAN SANG BUDDHA MENETAPKAN VINAYA

Sang Buddha mempunyai alasan dan tujuan sebagai berikut di dalam menetapkan vinaya:

  1. Saṅghasuṭṭatāya : untuk kebaikan Saṅgha.
  2. Saṅghaphāsutāya : untuk kebaikan anggota Saṅgha.
  3. Dumaṁkunaṁ puggalanaṁ niggahāya : untuk mengubah dan memperbaiki sifat-sifat keras kepala dari para bhikkhu.
  4. Pessanaṁ bhikkhunaṁ phāsuvihāraya : agar bhikkhu yang mempunyai vinaya yang baik bisa tinggal dengan bahagia.
  5. Diṭṭhadhammikanaṁ āsavānaṁ saṁvarāya : agar para bhikkhu bisa waspada dan berhati-hati terhadap āsava yang muncul pada saat ini.
  6. Samparāyikānaṁ āsavānaṁ paṭighātāya : untuk membasmi āsava yang akan muncul kemudian.
  7. Appasannānaṁ pasādāya : membuat orang-orang yang belum mempunyai keyakinan pada Buddha sāsanā menjadi yakin [saddhā].
  8. Pasannānaṁ bhiyyo bhāvāya : membuat semakin berkembangnya keyakinan orang-orang yang telah mempunyai keyakinan terhadap Buddha sāsanā.
  9. Sadhammaṭṭhitiyā : untuk melestarikan saddhamma [Buddha sāsanā].
  10. Vinayanuggahāya : untuk melestarikan tata tertib yang mulia dan luhur [vinaya].

Setelah mencermati alasan-alasan Sang Buddha di dalam menetapkan vinaya tersebut di atas, maka kita bisa tahu betapa pentingnya vinaya itu bagi kemajuan batin serta menjaga keberadaan dan kejayaan Buddha sāsanā di muka bumi ini. Bila seorang bhikkhu telah mengabaikan vinaya, berarti ia telah mempunyai andil  di dalam ikut merongrong dan menghancurkan sāsanā.

ĀPATI

Āpati adalah suatu perbuatan melanggar vinaya yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha. Penyebab yang membuat seorang bhikkhu melanggar vinaya ada 6 (enam) hal:

  1. Melanggar karena seorang bhikkhu tidak mempunyai rasa malu.
  2. Melanggar karena kurangnya pengetahuan tentang vinaya, sehingga ia tak tahu bahwa perbuatannya merupakan suatu pelanggaran.
  3. Merasa ragu apakah perbuatannya itu salah atau tidak, tapi ia tetap melakukan perbuatan itu.
  4. Melanggar karena melakukan sesuatu yang dikiranya patut, tapi sebenarnya tidak patut untuk dilakukan.
  5. Melanggar karena melakukan sesuatu yang dikiranya tidak patut, tapi sebenarnya patut untuk dilakukan.
  6. Melanggar karena lengah dalam penyadaran.

TINGKATAN ĀPATI

Ada beberapa tingkatan āpati yang dibedakan dari berat atau ringannya kadar pelanggarannya.

  1. Āpati (pelanggaran) yang berat membuat seorang bhikkhu harus lepas jubah.
  2. Āpati menengah yang mengharuskan seorang bhikkhu melakukan pengasingan [penyepian] untuk membebaskan diri dari āpati tersebut.
  3. Āpati ringan yang mengharuskan seorang bhikkhu mengutarakan kesalahannya dan penyesalan atas apa yang telah diperbuatnya di hadapan seorang bhikkhu lainnya.

Āpati yang disebut terdahulu merupakan āpati yang berat dan tak bisa diperbaiki [dibebaskan], disebut atekicchā. Dan dua jenis yang disebut belakangan disebut satekicchā, yang masih bisa diperbaiki [dibebaskan] setelah melalui tata cara yang ditetapkan di dalam vinaya.

Namun, mengingat alasan dan tujuan Sang Buddha di dalam menetapkan vinaya, seorang bhikkhu amatlah tak layak untuk menganggap ringan, menyepelekan atau mengabaikan vinaya, betapapun ringannya sifat pelanggarannya.

PEMBAGIAN JENIS ĀPATI

Di dalam vinaya kebhikkhuan, Āpati [pelanggaran] dibagi menjadi 7 (tujuh) jenis: 1. Pārājika, 2. Saṅghadisesa, 3. Thullaccaya, 4. Pacittīya, 5. Paṭidesanīya, 6. Dukkaṭa, 7. Dubbhāsita.

  1. Pārājika, merupakan āpati berat yang sifatnya atekicchā [tidak bisa diperbaiki].
  2. Saṅghadisesa, merupakan āpati berat [menurut tingkatan āpati disebut sebagai āpati menengah] namun bersifat satekicchā, masih bisa diperbaiki, diselesaikan dengan bantuan Saṅgha.
  3. Thullaccaya, pacittīya, paṭidesanīya, dukkaṭa, dan dubbhāsita merupakan āpati ringan yang juga bersifat satekicchā [bisa diperbaiki] dengan cara mengutarakan dan menyatakan penyesalan di hadapan bhikkhu lain.

APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA SEORANG BHIKKHU MELAKUKAN PELANGGARAN

  1. Seorang bhikkhu yang telah melakukan pelanggaran terhadap vinaya harus mematuhi tata cara pembersihan atau harus rela melepas jubah bila ia telah melakukan pelanggaran yang sifatnya atekicchā [pārājika].
  2. Bhikkhu lain mempunyai kewajiban mengingatkan atau menegur seorang bhikkhu yang telah melakukan pelanggaran.
  3. Pasamuan para bhikkhu [Saṅgha] mempunyai kewajiban menegakkan vinaya dan memberi bantuan terhadap pelaksanaan pembersihan terhadap bhikkhu yang telah melanggar vinaya saṅghadisesa.

 

BAB 2

 Vinaya yang tercantum di dalam pāṭimokkha berjumlah 227 (dua ratus dua puluh tujuh) pasal, namun ada pula jenis tata tertib yang tidak tercantum di dalam pāṭimokkha. Karenanya, jumlah tata tertib yang ditetapkan oleh Sang Buddha sebenarnya lebih dari 227 pasal. Bila dihitung secara keseluruhan akan mencapai 1000 (seribu) pasal, bahkan mungkin lebih.

Di sini akan diuraikan vinaya yang tercantum di dalam pāṭimokkha sesuai dengan jenisnya. Bila ada kesempatan, akan diuraikan pula vinaya yang tak tercantum di dalam pāṭimokkha yang berguna bagi pelaksanaan sehari-hari yang perlu diketahui oleh para bhikkhu maupun upāsaka-upāsikā.

PĀRĀJIKA

Pārājika berjumlah 4 (empat) pasal:

  1. Seorang bhikkhu yang telah melakukan hubungan kelamin, telah melanggar vinaya pārājika.
  2. Seorang bhikkhu yang telah melakukan pencurian terhadap benda seharga 5 (lima) masaka atau lebih, telah melanggar vinaya pārājika.
  3. Seorang bhikkhu yang telah melakukan pembunuhan terhadap manusia, telah melanggar vinaya pārājika.
  4. Seorang bhikkhu yang telah berbohong tentang kekuatan batin [kesaktian] yang tidak dipunyainya, telah melanggar vinaya pārājika.

SAṄGHADISESA

Saṅghadisesa mempunyai 13 (tiga belas) pasal:

  1. Seorang bhikkhu yang melakukan masturbasi, telah melangggar vinaya saṅghadisesa.
  2. Seorang bhikkhu yang dikuasai nafsu, menyentuh anggota tubuh perempuan [walau ujung rambut sekalipun], telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  3. Seorang bhikkhu yang dikuasai nafsu, berbicara tentang organ tubuh perempuan dengan seorang perempuan, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  4. Seorang bhikkhu yang dikuasai nafsu, merayu seorang perempuan, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  5. Seorang bhikkhu yang menjadi perantara hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  6. Seorang bhikkhu yang membangun kuṭi bagi dirinya sendiri, harus sesuai dengan ukuran yang diijinkan, yaitu panjang 12 (dua belas) jengkal [Sang Buddha] dan lebar 7 (tujuh) jengkal [Sang Buddha] dan harus diketahui serta disetujui oleh Saṅgha. Bila ia tidak mendapat persetujuan Saṅgha atau melebihi ukuran, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  7. Bila kuṭi tersebut dibangun oleh dāyaka, boleh melebihi ukuran yang ditentukan, tapi lokasinya harus ditentukan oleh Saṅgha. Bila tidak, ia telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  8. Seorang bhikkhu yang karena marah, menuduh bhikkhu lain telah melanggar vinaya pārājika [tanpa dasar yang benar], telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  9. Seorang bhikkhu yang karena marah, menuduh dan berusaha agar bhikkhu lain melanggar vinaya pārājika, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  10. Seorang bhikkhu yang berusaha memecah belah Saṅgha, telah diperingatkan oleh bhikkhu lain, dan Saṅgha memperingatkan untuk menghentikan usahanya, tapi ia tak mendengarkan, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  11. Seorang bhikkhu yang mengikuti usaha bhikkhu yang memecah belah Saṅgha, telah diperingatkan oleh bhikkhu lain dan Saṅgha telah memperingatkan untuk menghentikan perbuatannya tapi ia tak mau mendengar, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  12. Seorang bhikkhu yang sulit diajar dan diarahkan, telah diperingatkan oleh bhikkhu lain dan Saṅgha juga telah memperingatkan, tapi ia membantah, telah melanggar vinaya saṅghadisesa.
  13. Seorang bhikkhu yang berbuat jahat dan merugikan umat, dan Saṅgha telah mengusirnya dari vihāra, tapi ia justru mencela Saṅgha dan bhikkhu lain telah memperingatkan serta Saṅgha pun telah memperingatkan, tapi ia membantah, telah melanggar vinaya saṅghadisesa. (Oleh: Hananto)

[Samma Diṭṭhi, edisi 5, Okt 2003, SILA]

Iklan

Posted in Sila | Leave a Comment »